Takkan selamanya tangan ini menggenggam milikmu, mengukuhkan keberadaanku di sampingmu. Takkan selamanya kesempatan ini selalu kuraih, karena suatu saat pautan kisah ini akan kembali memisah. Hanyalah waktu dan keteguhan, sauh diri ini untuk menghadapi hampa yang menganga. Untuk berhenti mencari jejak hadirmu, yang ku tahu takkan kembali pada rengkuhan ini.

Proved Me Wrong

By: Koyuki17

© Boboiboy Monsta Studio

Epilog : Canon in D

Dua manik safir menatap figur anak muda itu, sedikit terkesima mengingat bagaimana dulu sosok di hadapannya ini hanyalah anak laki-laki yang melangkah tanpa arah di malam bersalju beberapa belas tahun yang lalu. Sebuah kunci perak Taufan sodorkan, namun kembali ia bertanya untuk meyakinkan.

"Fang, apa kau yakin ingin ke sana hari ini?"

Sebuah anggukan menjadi jawaban, pemuda beriris violet itu menatap Taufan dengan sebuah determinasi. Diraihnya kunci itu, beserta kepastian untuk pergi. Lalu sebuah tangan akrab itu menepuk punggung Fang pelan, jemari yang biasanya usil itu mengelus helai rambut gelapnya.

"Hati-hati kalau begitu, besok aku dan kak Hali akan mampir..."

Setelah malam dimana mereka melepaskan kepergian Boboiboy, Fang mulai mandiri dan merambah dunia musiknya lebih jauh dan jauh lagi. Sekalipun mereka bertiga (dirinya, Halilintar dan Taufan) berada dalam hubungan yang lebih sulit untuk dijelaskan, mereka tak pernah absen untuk seridaknya saling mengirim kabar.

Fang mungkin bukanlah anak beruntung yang mendapatkan kesempatan untuk merasakan bagaimana tumbuh besar di antara sosok seorang ayah dan ibu. Namun sebuah keluarga kecil dan tanpa ikatan darah ini begitu lekat dan menempa dirinya hingga menjadi seperti sekarang. Walaupun kembali ia menelan pahitnya kehilangan, tapi ia mulai mengerti sedikit makna dari sebuah perpisahan.

"Aku pergi dulu kak..." Sembari tersenyum, Fang pun pamit dan beranjak.

.

.

.

Pintu yang sedikit berat itu perlahan terbuka, satu derak engselnya seketika memecah keheningan di rumah mungil itu. Sosok pemuda bertubuh tinggi dengan rambut agak berantakan melintasi ambang pintu. Langkahnya sedikit tersela karena atensinya beralih pada ruangan yang ada di hadapannya. Walaupun hanya semburat cahaya tipis dari taman di seberang jalan yang sampai, hal ini tak menjadi rintang bagi iris violetnya untuk mengetahui apa saja yang berada di ruangan ini.

Fang ingat betul rak sepatu di samping kanan pintu, Susunan kursi yang membentuk bujur sangkar yang terletak sekitar dua meter di depannya. Bayangan sofa dan meja kecil di ruang tengah pun tak luput dari ingatannya, begitupun siluet meja makan kecil di dekat dapur.

Angin malam memaksa Fang untuk lekas menutup pintu, membiarkan gelap sementara menguasai visinya. Namun tak perlu barang semenit hingga jemarinya menemukan saklar lampu, dan dalam sekejap cahaya putih merebak. Kedua matanya sedikit mengerjap, berusaha menyesuaikan dengan benderang yang ada. Kini segala sesuatu di hadapan Fang terlihat begitu jelasnya, lalu ia pun meletakkan tasnya di karpet dan duduk terhenyak di sofa. Sebuah napas panjang dihembuskannya.

'Hei, aku sudah pulang...' Senyum sendu menyerta karena Fang tahu bahwa takkan ada yang menyahut, hanyalah sunyi yang menyambut.

Arloji pada pergelangan tangan Fang menunjukkan jam tujuh lebih sebelas dan tepat pada tanggal tiga belas Maret. Lalu ia pun membayangkan bagaimana beberapa tahun lalu mereka berkumpul di sini dan merayakan ulang tahun Boboiboy. Seolah hanya mimpi semata, kini hanyalah tersisa gaung samar dari keributan bersama semua sahabat mereka itu.

Ini adalah kepulangan Fang setelah lebih dari setahun lamanya, setelah ia mencari lebih banyak pengalaman dalam dunia komposisi musik. Fang kini semakin jelas menatap mimpi yang menjadi kompas baginya melangkah, begitupun dengan segala halang rintang yang bukan main-main lagi. Namun tak sekalipun ia berpikiran untuk berhenti, tidak sebelum ia memperdengarkan lebih banyak komposisi lagunya.

-PmW-

Fang sempat melirik sebuah ranjang dimana dulu sepasang manik mata Boboiboy selalu menjadi penonton yang tak pernah absen. Ketika rival bertopi oranyenya itu selalu menjadi orang yang pertama kali mendengar lagu demi lagu yang semakin mahir dimainkan oleh jemarinya. Lalu atensi Fang kembali pada piano di hadapannya. Dan duduklah ia di kursi yang semakin terasa sempit. Apakah secepat itu tubuhnya bertambah besar ya?

"Maaf ya, telah meninggalkanmu di sini..." Jemari Fang menghapus lapisan debu pada kayu yang menutupi dereran tuts berwarna monokrom itu.

Akrab sudah masa kecilnya dengan piano tua di kamarnya ini, yang menyertai bagaimana kemampuannya kian berkembang. Bagaimana rangkaian nada miliknya pertama kali mengemuka dan menjadi komposisi pertama yang diciptakannya. Sudah setahun Fang tak menyentuh piano ini, dan sekarang ia pun langsung berniat untuk melepaskan nostalgia dan membawakan beberapa lagu untuk sekedar mengisi waktu.

Aksa selalu menjadi lagu yang pertama ketika Fang mulai menjamah piano, dimanapun ia berada. Sebuah lagu yang pertama kali menuai hasil yang memuaskannya. Mengingatkan Fang pada ingatan di bawah pohon beech itu, ketika sebuah janji tertuntaskan. Ketika satu masa depan dipandangi Fang lekat-lekat.

Biarlah angan memeluk rindu

Biarlah luka terbias waktu

Kumandangkan suara, walau tak lagi bisa

Ingatlah padanya, helaian asa

Bisikan janji pengikat arti

Antara kita, gemintanglah saksi

Berulangkali senandung itu mengemuka, menjadi poros bagi Fang untuk sekali lagi menguatkan diri. Kala ia hampir melanggar janjinya dan semua beban bertumpu pada benaknya. Fang mengingat penggalan lagu Aksa yang didengarnya dari Boboiboy.

.

.

.

Dalam satu jam berikutnya, Fang memainkan acak lagu dan komposisi nada yang terlintas di benaknya. Sebuah senandung samar terdengar, membuatnya berhenti sejenak dan beranjak. Manik violet itu memandang ke luar jendela lalu melihat bagaimana salju kembali turun dan membawa ingatan atas sebuah pertemuan dan perpisahan. Kembali ia merangkai lagu, senandung kekanakan ia suarakan sembari mengingat bagaimana dulu Boboiboy menyanyikannya.

Seolah mengalir, ingatan tentang Boboiboy tercurah pada relung benaknya. Ketika mereka menghabiskan waktu dan tertawa bersama, melakukan hal-hal yang menyenangkan sampai gila bersama sahabat-sahabat mereka. Ketika mereka berdebat dan kadang bertengkar karena hal yang kekanakan. Tentang bagaimana rivalitas mereka berakhir dengan skor seri tapi anehnya hasil ini tak mengecewakan kedua belah pihak dan mereka tertawa bersama.

Lalu intuisinya membawa Fang untuk memanggil rangkaian lagu lainnya: Canon in D major.

Komposisi lagu karya Pachelbel mungkin yang dikenal karena kerap menyertai acara pernikahan, yang didengar oleh dan dimainkan berulang kali oleh pemain musik klasik sampai bosannya. Namun bagi Boboiboy, nada-nada itu telah menjadi favoritnya, setelah Fang untuk pertama kali memainkannya. Sebuah lagu yang membuatnya terkesima, dan suara asal-asalannya mulai menyenandungkan irama lagu.

Jemari Fang kini mulai memanggil penggalan lagu Canon, membawanya untuk sekali lagi meretas sunyi. Dalam benak pemuda berkacamata ini, masih terukir jelas bagaimana manik hazel itu senang ketika tempo lagu semakin cepat setelah bagian awal lagu bertempo pelan terdengar.

Fang mengingat lagi bagaimana pada kelulusan dulu ia membawakan lagu ini. Atau sebelumnya, ketika ia memainkan lagu ini di ruangan musik untuk meyakinkan Boboiboy bahwa ia takkan berhenti bermain piano.

Ekor mata Fang tiba-tiba saja menangkap hal yang ganjil, namun ia tak bisa melepaskan atensinya dari Canon yang dimainkannya. Telinganya kembali menangkap sebuah senandung yang gagal dipastikannya barusan. Walau samar, Fang mulai menyadari sebuah kehadiran di sampingnya, yang memuncakkan rasa rindu. Atas waktu-waktu panjang yang dilaluinya di sini, bersama dengan seseorang yang mampu memberikan arti atas hidup yang nyaris dibuangnya.

Boboiboy seolah duduk di sana, seperti yang biasa dilakukannya ketika Fang memainkan sebuah lagu yang mendapat atensi penuh rivalnya itu. Boboiboy kembali bersenandung, ikut memberikan warna pada nada dari lagu yang berkumandang saat ini. Barulah pada bagian akhir lagu, kata-kata Boboiboy kini menemukan sebuah makna.

Ku ada di sini, selalu bersama

Arungi waktu, lukiskan mimpi

Biar kenangan tersisa, tak lagi bersua

Dengarlah suara ini yang 'kan menggapaimu

.

Fang takkan pernah tahu, bahwa pada saat ia membawakan lagu ini pada acara kelulusan dulu, Boboiboy ikut bernyanyi pelan. Namun sebuah senandung ini, kata-kata yang memeluk nada ini barulah terdengar sekarang. Ketika Fang merangkai kembali nada beberapa tahun setelah malam bersalju itu.

Perlahan, kehadiran Boboiboy semakin menipis dan membuat Fang semakin ingin mencuri pandang ke sampingnya. Suara itu pun melepaskan untai akhir, lalu akhirnya Fang menangkap kilasan sosok itu. Mungkin saja ia bermimpi, mungkin saja keinginannya untuk bertemu kembali dengan Boboiboy mewujudkan sosok ini dalam khayalnya.

Fang tak pernah menyadari seulas senyum itu, yang menjadi bagian dari kesehariannya dulu. Senyum yang begitu ramah, yang seringkali tak disadarinya. Tangan kanannya sempat meraih bahunya, dan memberikan sebuah isyarat dengan anggukan pelan. Ingin sekali Fang meraih sosok rivalnya itu. lalu sebelum tangannya mampu meraih sosok itu, namun suasana kamar yang sepi kembali menyentakkan sadarnya. Barulah disadari sosok samar di sampingnya menghilang sepenuhnya.

Fang memutuskan bahwa cukup sudah ia memainkan piano itu, kembali ia menatap langit yang kembali berwarna kelam di luar sana. Pelita mungil telah menggantung di angkasa. Sinarnya mengecup iris violet Fang dengan lembut sementara benaknya mulai mengingat kembali arti gemintang baginya. Simbol atas eksistensi orang-orang yang bisa ditemuinya lagi, namun gema hadir mereka seringkali muncul dan berganti. Dari sebuah gurat luka, menjadi poros bagi setiap langkahnya.

.

.

.

Telah kutemukan malam ini

Kristal langit yang mengingatkanku padamu

Pada cemerlang kedua netra milikmu

Pada secercah kesempatan yang kau beri

Pada nada-nada yang kau lantunkan malam itu

.

Hei kawan, apa suaraku masih terdengar?

Jika dinginnya malam mengusikmu

Carilah sang sabit malam

Lalu rebahlah dalam dekapnya

Dapatkah kau rasakan hangat dan rindu?

Seperti rengkuhanku padamu di malam itu

.

~Fang

~FIN~

A/N:

Sampai juga akhirnya, inilah epilog yang menutup rangkaian cerita pada ff ini. Mungkin cukup panjang sebelum bisa mengakiri ff ini, dengan segala keterbatasan saya selama menulis m(_ _)m

Sekali lagi, terimakasih bagi para pembaca yang sampai sekarang sempat mampir maupun memberikan review dll, (^^)/

Terimakasih untuk review dari alyakk (semoga tak kapok dengan ff saya ini,, hehe). Terimakasih juga untuk Meltavi untuk review yang tak pernah disangka-sangka dan saya baca dengan sangat senang. Pendapat dan review pembaca sekalian setelah membaca ff ini menjadi masukan bagi saya yang terbilang masih baru dalam menulis ff.

Dengan berakhirnya cerita ini, semoga bisa sedikit meninggalkan kesan. Akhir kata, Selamat tahun baru! Sampai jumpa di kesempatan dan ff lainnya~ ^^