CAST

Park Chanyeol (25)

Byun Baekhyun (19)

.

.

.

Kepulan asap rokok terlihat samar keluar dari bibir pria yang tengah duduk sembari menatap langit yang akan menjadi gelap dari jendela besar kediamannya. Kerutan pada dahinya terlihat semakin dalam ketika kedua alisnya yang telah beruban menyatu di pangkal hidungnya. Ketukan dari luar membuyarkan pikirannya yang sempat tengah berlarian kemana-mana. Seorang pria bersetelan jas hitam masuk lalu membungkuk memberi hormat padanya.

"Sir,"

Pria tua itu hanya mengangguk, menunggu anak buahnya berbicara.

"Berita ini telah tersebar sampai di media Korea. Namun, Richard Park masih berada di Forks dan tidak menunjukan tanda-tanda akan kembali ke Korea dalam waktu dekat "

Pria itu mendecih lirih sebelum mematikan cerutu rokok setelah menghembuskan kepulan asap rokok terakhirnya.

"Kau bisa kembali, tetap awasi mereka semua"

"Baik Sir, lalu kapan kami bisa melakukannya ?"

Pria tua itu melirik anak buahnya dari ekor matanya.

"Just.. wait. Not now. No while his son still far away from his lovely husband. If we do it now, it will be no fun, and I don't like it. Don't you agree with me ?"

"Yes Sir. Kalau begitu saya akan kembali"

Pria tua itu mengangguk dan memutar kembali pandangannya kepada langit yang telah menggelap. Tidak lebih gelap dari hatinya, lukanya yang masih pilu namun diselimuti amarah dan menjadikan hatinya sekeras batu.

"Tunggu saja Park, tunggu hari itu akan datang "

.

.

.

Kemarin, berita tentang keluarnya Chanyeol dari gedung apartemen Rachel Yoo tersebar begitu cepat hingga mencapai media Korea. Chanyeol tengah membaca email-email yang masuk dari laptopnya ketika Minho datang dan mengabarkan berita yang dianggap Chanyeol murahan itu. Hari ini sebuah pernyataan baru keluar dari beberapa media. Mengatakan bahwa Chanyeol dan Rachel Yoo pernah dalam mata kuliah yang sama dan merupakan teman yang cukup dekat dahulu.

".. kita tidak bisa menyangkal bahwa mereka di pertemukan kembali di project yang sama dan hubungan mereka akan kembali terjalin dan tidak menutup kemungkinan kedalam tahap yang lebih serius- what the fuck ?! ", amarahnya meledak diakhir Chanyeol membaca headlines koran digenggaman tangannya yang telah kusut dibeberapa sisi akibat rematan jari Chanyeol.

Kemudian Chanyeol melempar koran itu begitu keras di atas meja. Penatnya telah menjadi satu di akhir hari dan omong kosong seperti ini bukanlah hal yang Chanyeol inginkan.

"Apakah omong kosong ini telah sampai di Korea ?"

"Siang tadi media korea telah menyiarkannya" jawab Minho.

"Sial",melemparkan punggungnya di sofa dan memejamkan matanya. Terlalu lelah dengan hal-hal tak masuk akal yang menyeret namanya.

"Beberapa media korea mengabarkan bahwa anda dan Nyonya Rachel merupakan sepasang kekasih dahulunya"

Chanyeol terkekeh lirih setelahnya, dan Minho tahu bahwa atasannya itu tengah menahan emosinya.

"Berapa media yang terlibat kerjasama dengan kita dan menyebar hal murahan itu ? "

Dengan cepat Minho menggerakkan jarinya diatas layar persegi panjang yang setia dia bawa kemana-mana.

"Tiga diantaranya, lalu dua perusahaan yang masih dalam proses persetujuan juga kesepakatan dalam pembagian saham yang masih belum selesai"

"Batalkan dua perusahaan itu sekarang. Lalu putus kerjasama kita dengan tiga perusahaan lainnya. Aku tidak membutuhkan orang-orang yang berani menyeret namaku untuk bahan omong kosong mereka" ucap Chanyeol kelewat dingin. Minho dapat merasakan bagaimana emosi Chanyeol menguar memenuhi udara sekitarnya.

"Tapi tidakkah kita dapat memanfaatkan mereka untuk meluruskan hal ini ?"

"Tidak, aku tidak membutuhkan mereka untuk meluruskan hal ini. Sejak awal mereka datang kepadaku agar perusahaan kecil mereka bisa berkembang, dan bukan omong kosong ini timbal balik yang kuinginkan. Kerjakan saja perintahku"

"Baik Tuan"

"Kau bisa pergi"

Chanyeol bisa melihat sekertarisnya itu ragu untuk melangkah pergi. Ada sesuatu yang ingin dia katakan. Chanyeol masih diam, tidak peduli sebenarnya.

"Presdir"

Chanyeol hanya mengangkat alisnya, menunggu Minho melanjutkan.

"Hari ini beberapa wartawan datang di kampus Tuan Baekhyun"

Chanyeol telah menduganya.

"Lancang. Apa yang dikatakan Baekhyun ?",desis Chanyeol namun masih dengan intonasi yang begitu tenang. Cukup membuat Minho tahu bahwa tuannya itu bisa saja meledakkan kepala orang kapan saja.

"Tuan Baekhyun menolak memberi komentar dan beliau melewatkan salah satu kelasnya hari ini karena wartawan telah berkumpul didepan gedung kelasnya"

"Apakah dia baik-baik saja ?"

"Mereka menjaga Tuan Baekhyun dengan baik"

Chanyeol mengangguk.

"Ada lagi ?"

"Tidak Tuan"

"Kau bisa pergi. Kita masih memiliki rapat besok pagi"

"Baik tuan, saya undur diri"

Chanyeol menghela napas begitu keras, tepat setelah Minho menutup pintu ruangannya. Kepalanya pening sampai ingin meledak. Sejak berita itu keluar, Chanyeol tidak berhenti memikirkan bagaimana pria mungilnya itu akan menghadapinya. Chanyeol tahu bahwa Baekhyun tentu sedih karena berita ini. Hanya saja yang membuat kepala Chanyeol ingin meledak adalah karena dear-nya itu berbohong padanya.

Flashback

"Halo Baekhyun ?"

"Chanyeol ? aku merindukanmu !"

Chanyeol tersenyum begitu lebar ketika mendengar pekikan bahagia pria mungilnya di seberang. Beban penat dipundaknya akibat pekerjaan terasa hilang seketika.

"Aku juga merindukanmu- dan baby"

Chanyeol bisa menduga bahwa sipit Baekhyun sedang melengkung ketika mendengar kekehan lirihnya diseberang sana.

"Jika rindu cepat pulang Chanyeol.." ,rengek Baekhyun.

"Akan kuusahakan. Bagaimana dengan harimu ?"

"…"

"Baekhyun ?"

Chanyeol mengeryit ketika tak ada sahutan dari Baekhyun.

"Baekhyun ? kau mendengarku ?"

"Ah ya, aku mendengarmu"

Tidak, Chanyeol tahu bahwa Baekhyun tengah memikirkan sesuatu.

"Baekhyun,"

"Aku mengikuti kelas seperti biasa Chanyeol. Ke perpustakaan, ke cafe bersama Kyungsoo sambil mengerjakan tugas"

"Apa aku bisa mempercayaimu ? tidak ada sesuatu yang terjadi hari ?"

"Tak ada sesuatu yang terjadi Chanyeol. Hei, Jun disini"

Baekhyun mengalihkan topik pembicaraan mereka, dan Chanyeol meyadarinya.

"Dan kenapa Jun bisa disana ?"

"Dia mengantarkan kue beras buatan ibu untukku. Kau ingin berbicara dengannya ?"

"Jun ? Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja"

"Mulutmu sangat manis Park"

"Bibirmu tidak kalah manis, begitu lembut"

"Oh Tuhan, aku tutup sekarang"

"Baekhyun,"

"Hm ?"

"Aku mencintaimu"

"…"

"…"

"Aku lebih mencintaimu Chanyeol-" , panggilan berakhir tepat setelah Baekhyun mengatakannya.

Chanyeol menatap layar smartphonenya begitu sangsi. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Baekhyun darinya.

Flashback End

Namun Chanyeol tidak menyangka bahwa Baekhyun akan berbohong padanya. Tidak, Baekhyun tidak sedang berbohong. Dia hanya tidak ingin memberitahukan hal ini dengan alasan yang belum Chanyeol ketahui. Karena Chanyeol tahu bagaimana Baekhyun selalu jujur padanya, semenjak pria mungilnya itu tahu bahwa Chanyeol tidak menyukai orang yang membohonginya.

"Apa yang sedang kau pikirkan Baekhyun ?"

.

.

.

"Hyung kenapa dikulkasmu begitu banyak ice cream ?" pekik Jun ketika melihat tumpukan cup ice cream didepan matanya.

"Hyung aku boleh mengambilnya satu ?"

Jun mengeryit ketika tidak mendengar jawaban dari kakak iparnya. Menutup kulkas setelah mengambil dua cup ice cream didalamnya. Lupakan ucapan Jun ketika hanya ingin mengambil satu ice cream. Kemudian Jun melangkah menghampiri Baekhyun di ruang tengah. Jun bisa melihat fokus pandangan Baekhyun pada koran ditangannya. Jun sedikit membungkuk, melirik apa yang tengah dibaca kakak iparnya itu. Helaan napas terdengar dari mulut Jun ketika tahu bahwa kakak iparnya itu tengah membaca berita tentang hyungnya dan wanita yang tidak Jun kenal. Pada akhirnya Jun meraih paksa koran itu lalu melemparnya asal diatas meja.

"Hyung jangan dibaca" ucap Jun.

Mengabaikannya, Baekhyun kembali mengambil koran itu ketika tangan Jun menghentikannya, meraihnya dengan sigap dan menyembunyikan dibelakang punggungnya.

"Jun,"

"Demi kebaikan Hyung. Jangan membaca omong kosong ini"

"Kebaikanku ? Jun jangan berbicara seolah kau tahu mana kebaikanku. Aku bahkan tidak mengerti"

Nada suara Baekhyun begitu putus asa, dan Jun tidak sampai hati mendengarnya.

"Hyung, semakin hyung memikirkannya, hal ini akan membuat hyung stress,dan mungkin akan mempengaruhi kandungan hyung juga"

"Jun kau tidak mengerti. Bagaimana bisa aku menghentikan pikiranku untuk tidak meliar kemana-mana sedang Chanyeol berada jauh dariku. Aku tidak berdaya disini karena terus memikirkan siapa wanita ini. Kau mengenalnya ?"

Jun menggeleng, dan Baekhyun ingin menangis rasanya.

"Hyung, kau percaya Chanyeol hyung ?"

Baekhyun menggegat bibir diantara giginya, merasakan panas dimatanya yang ingin meledak.

"Aku percaya padanya" ucap Baekhyun.

"Hyung, aku menghabiskan separuh lebih hidupku bersamanya. Aku menyaksikan bagaimana dia memperlakukan orang-orang, dan aku tahu bahwa Chanyeol hyung benar-benar mencintaimu"

Pada akhirnya sungai kecil mengalir diatas kulit pipi Baekhyun. Emosinya tidak dapat dia tahan lebih lama lagi. Jauh didalam hatinya Baekhyun tahu jika Chanyeol mencintainya, tapi entah kenapa emosinya benar-benar tidak karuan. Chanyeol belum mengklarifikasi atau mengatakan apapun padanya. Juga, Baekhyun hanya begitu munafik untuk mengatakan apa yang dirasakannya pada Chanyeol.

Ikut merasa sedih karena melihat kakak iparnya menangis, Jun segera menyodorkan selembar tissue kepada Baekhyun

"Sudah menghubungi Chanyeol hyung ?"

Baekhyun mengangguk sambil menyeka air matanya yang entah kenapa tidak juga berhenti.

"Tadi, kami sempat berbicara ditelepon. Tapi Chanyeol tidak membahas apapun tentang berita itu"

"Maafkan Chanyeol hyung. Terkadang dia menganggap beberapa hal memang tidak penting untuknya. Tapi hyung, aku yakin Chanyeol hyung peduli" ucap Jun.

Baekhyun mengangguk mencoba tetap berpikir positif. Chanyeol bisa jadi tidak peduli, tapi dia tidak bermaksud menyakitinya, Baekhyun tahu itu.

"Kau makan malam disini ?"

Jun yang sedang asyik menikmati ice cream itu berhenti.

"Boleh ?"

"Tentu saja"

"Terimakasih hyung. Nanti kalau sudah jadi, akan kukirimkan foto masakan hyung ke Chanyeol hyung. Hahahaha"

Baekhyun terkekeh mendengar adik iparnya yang ingin menggoda hyungnya itu.

"Baik-" ucapan Baekhyun terpotong karena dering panggilan dari smartphone Jun. Kontak nama 'Hyung' tertera di layar smartphonenya setelah Jun mengeluarkan dari saku jaketnya dengan malas.

"Siapa ?" tanya Baekhyun.

"Hanya teman" ucap Jun sebisa mungkin untuk tidak terlihat berbohong didepan Baekhyun.

"Baiklah, aku akan memasak di dapur sebentar. Tunggulah"

"Baik Hyung !"

Selepas Baekhyun pergi, Jun segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan Hyungnya.

"Wae ?"

"Perhatikan bicaramu"

"Astaga. Maafkan aku, ada apa ?"

"Kau bersama Baekhyun ?"

"Ya, ada apa ?"

"apa yang sedang dia lakukan ?"

"Seriously ? kenapa Hyung tidak bertanya sendiri pada Baek hyung ?"

"Jawab saja"

"Baek hyung sedang memasak makan malam"

"Hm"

"Hanya itu yang ingin hyung tanyakan ?"

"Apakah Baekhyun tahu berita sampah itu ?"

"Hyung demi Tuhan, tentu saja Baek hyung tahu. Seluruh media korea bahkan menyiarkannya"

"Dia tidak mengatakan apapun padaku"

"Baek hyung baru saja menangis tadi"

"Sial"

"Ya, sial. Dia juga mengatakan bahwa hyung tidak mengatakan apapun tentang berita itu. Aku menduga kau menganggap hal itu tidak penting"

"Kau tahu aku dengan baik, Jun"

"Aku harap hyung segera mengatasi berita sampah itu. Ibu khawatir berita ini akan membuat Baek hyung stress dan mempengaruhi kandungannya juga, makanya aku disuruh ibu kesini tadi. Sekedar untuk melihat apakah baek hyung baik-baik saja. Nyatanya tidak"

Jun bisa mendengar helaan napas sarat kelelahan diseberang sana.

"Aku tahu, kalau begitu kututup"

"Hm, selamat malam hyung"

Jun mengakhiri panggilannya dengan ucapan selamat malam. Hanya sekedar menunjukan rasa hormatnya pada Chanyeol. Jun tidak mengerti jika sudah seperti ini. Dia tentu mengenal hyungnya dengan baik. Terlampau acuh pada semua hal yang dianggapnya tidak penting. Sedangkan Baekhyun dilain sisi, kakak iparnya itu cenderung menutupi perasaannya, memendamnya sendiri. Lebih kepada ragu sebenarnya.

"Jun kau suka pedas tidak ?!" teriak Baekhyun dari arah dapur memecahkan lamunan.

"tidak ! hyung aku tidak suka pedas !"

Tawa Baekhyun meledak ketika melihat Jun yang berlari menghampirinya. Takut-takut jika Baekhyun menambah bubuk cabe didalam masakannya. Baekhyun tidak mengerti, Jun sudah sebesar ini dan masih tidak suka pedas ?. Astaga.

.

.

.

Baekhyun menghitung hari. Ini adalah hari keempat sejak hatinya terasa begitu hampa karena merindukan kehadiran Chanyeol disisinya. Suasanya hatinya sudah buruk sejak lusa lalu. Beberapa media Korea tidak lagi membicarakan berita itu. Namun masih ada beberapa wartawan yang terkadang bersikeras mencoba menghampiri Baekhyun dan memaksanya berbicara. Hal itu juga mempengaruhi nafsu makannya. Bibi Yoon selalu uring-uringan setiap Baekhyun menolak sarapan pagi. Dia hanya akan bersedia meminum susu dan vitamin dengan dalih bahwa bayinya tidak boleh sakit. Kemudian bibi Yoon akan mengerang begitu frustasi setelahnya. Tidak mengerti jalan pikir tuannya. Kondisi Baekhyun yang tidak bisa dikatakan baik dari hari-kehari sampai pada telinga ibunya. Prihatin kepada bungsunya yang sedih, hari ini Nyonya Byun memutuskan mengunjungi Baekhyun.

Baekhyun sedang menatap langit-langit kamarnya begitu bosan ketika suara bel menyapa gendang telinganya. Dengan malas Baekhyun beranjak turun dari ranjangnya. Terlihat Bibi Yoon telah membuka pintu terlebih dahulu ketika Baekhyun sedang menuruni tangga. Dia melihat figur wanita yang amat dicintainya itu.

"Tuan, nyonya Byun datang berkunjung"

"Eomma ?!" pekik Bekhyun sedikit terkejut mendapati eommanya datang.

"Hei hei hei.. jangan berlari. Baekhyun astaga, kau sedang mengandung sayang" ucap Nyonya Byun sedikit horor ketika melihat bayi besarnya itu berlari menuruni tangga untuk menghampirinya.

"Eomma kenapa tidak memberitahuku jika ingin kesini ?"

"Jadi eomma tidak boleh kesini sesuka eomma ?" goda ibunya sehingga Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

"Aku tidak mengatakannya !"

Nyonya Byun tertawa ketika melihat bibir anak bungsunya yang telah mengerucut itu.

"Kulihat kau sangat bosan disini. Tidak ada kelas ?"

Baekhyun menggeleng pelan dengan beningnya yang kembali mendung.

"Hanya satu kelas. Aku tidak bisa datang, wartawan masih disana. Aku selalu pusing ketika mereka mengerumuniku"

Mendengarnya membuat Nyonya Byun meraih tangan anaknya. Menepuknya beberapa kali, berharap akan membuat perasaan Baekhyun lebih baik. Berita tentang menantunya itu sampai ditelinganya kemarin. Besannya, ibu Chanyeol juga sempat berbicara dengannya kemarin di telepon tentang keadaan Baekhyun. Mereka berdua tentu khawatir. Terlebih Chanyeol terlihat belum juga mengambil tindakan tentang berita-berita itu.

Hati nyonya Byun bertambah sedih ketika anaknya bergumam bahwa dia baik-baik saja.

"Bagaimana kalau kita berbelanja ?" tawar Nyonya Byun.

"Huh ?"

"Berbelanja untuk buah hatimu. Bagaimana ?"

Seketika senyum itu merekah diantara lekuk pipinya.

"Aku mau !"

"Baiklah, eomma tunggu disini, kau gantilah baju"

"Ah, tapi nanti saat belanja jangan banyak-banyak ya" ucap Baekhyun.

Nyonya Byun mengeryit, tidak mengerti.

"Kenapa ?"

"Aku mau mengajak Chanyeol berbelanja juga jika dia sudah pulang nanti"

Oh my.. Senyum tipis tekembang di bibir Nyonya Byun ketika mendengarnya.

"Baiklah.. eomma mengerti. Ayo, ganti baju"

Baekhyun mengangguk lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

"Astaga, Park Baekhyun jangan berlari !!"

Nyonya Byun mengelus dadanya saat anaknya itu hanya berlalu pergi mengacuhkannya.

"Aku tidak percaya sebentar lagi aku akan menjadi nenek. Bagaimana bisa bayi besarku itu sedang mengandung bayi didalam perutnya. Oh Tuhan, tolong selalu jaga anak juga cucuku"

.

.

.

"Siapa mereka ?" tanya eomma Baekhyun sambil melirik tiga pria yang selalu mengikutinya. Juga, saat mereka pergi dari penthouse tadi juga diikuti oleh satu mobil hitam.

"Sangyeon, Shinwan, Juyeon. Hanya..Chanyeol menyuruh mereka untuk menjagaku"

"Pengawalmu ?" Nyonya Byun mencoba memperjelas.

Baekhyun memiringkan kepalanya ketika melihat beanie berwarna biru muda yang menarik pandangannya.

"Semacam itu, mungkin" jawab Baekhyun sedikit bergumam, menjawab eommanya terlampau lirih.

"Kau akan membelinya ?"

Baekhyun mengangguk seadanya lalu memasukkan beanie dengan hiasan pelaut dibagian depan itu kedalam keranjang belanja.

.

.

.

Mereka tengah berada didepan kasir, menunggu sang pegawai menghitung barang-barang perlengkapan bayi yang mereka beli. Dengan Baekhyun yang membeli lima beanie berwarna-warni, pakaian, juga beberapa kaos kaki untuk bayi dengan motif karakter-karakter avenger. Sedangkan Eomma Byun lebih memilih membeli keranjang bayi, beberapa lampu hias untuk kamar impian cucunya kata Baekhyun.

"Belum ketahuan jenis kelaminnya ya ?" tanya Nyonya Byun.

Baekhyun menggeleng.

"Belum bisa, umurnya masih begitu muda"

"Berencana untuk mencari tahu jika kandunganmu sudah cukup lama ?" Tanya Nyonya Byun sekali lagi.

Baekhyun terkekeh menyadari eommanya yang terlihat begitu penasaran mengenai jenis kelamin cucunya itu.

"Aku akan memikirkannya" ucap Baekhyun.

Baekhyun sedang membalas beberapa pesan dari teman-temannya ketika telinganya mendengar samar orang-orang membicarakannya.

"Bukankah itu suami Presdir Park ?""Kau yakin ?""Kau melihat beritanya ? Presdir Park dan seseorang bernama Rachel ?""Bukankah kau tadi mengatakan dia suami presdir ? lalu siapa Rachel ?""Kau tidak melihat beritanya ya ? Mereka dikabarkan dekat kembali""Eh.. jinja ? ouh, aku kasihan padanya. Aku dengar presdir tidak mengatakan apa-apa tentang berita itu""Kan ? bukankah seharusnya dia harus segera mengklarifikasi ?""Kupikir wanita bernama Rachel itu lumayan cantik""Hey, berkacalah. Dia sungguh jauh diatasmu"

Baekhyun mengepalkan genggaman tangan dalam saku mantelnya begitu kuat. Sedang lengannya telah dielus oleh eommanya. Matanya begitu panas, sedangkan kepalanya begitu pening mendengar ocehan orang-orang disekitarnya.

"Baekhyun.."

"Eomma, aku akan menunggu eomma di mobil, hm ?"

Seolah mengerti melalui sorot mata anaknya, Nyonya Byun mengangguk mengiyakan. Kemudian Baekhyun melenggang pergi setelah sebelumnya menyuruh salah satu pengawalnya untuk menjaga eommanya. Dia ingin segera pergi dari orang-orang itu. Hatinya sudah cukup sakit, ia tak ingin memperparah dengan mendengarkan omong kosong mereka.

.

.

.

Baekhyun tengah mengaduk susu kehamilannya ketika mendengar lagi-lagi suara bel dari penthousenya. Kali ini siapa lagi ?. Eommanya telah pulang satu jam yang lalu karena ada janji temu bersama temannya. Dengan langkah malas meninggalkan dapur, Baekhyun berjalan kedepan melihat siapa yang mengganggunya kali ini. Wartawan ? Tidak mungkin. Karena pengawalnya pasti akan langsung mengusir mereka. Baekhyun menyalakan layar intercom.

"Surprise !!" pekik Kyungsoo dan Younghoon bersamaan. Baekhyun mengerjap beberapa kali, terlalu terkejut.

"Kalian ? bagaimana bisa ada disini ?"

"dua hari kita tidak bisa bertemu karena para wartawan sialan itu, kau tidak merindukanku ?" ucap Kyungsoo mengawali.

"Bisakah kami masuk ?" ucap Hoon sambil menenteng dua kotak pizza. Baekhyun tersenyum lebar.

"Tentu saja" ucap Baekhyun kemudian segera membuka pintu penthousenya.

Persetan dengan Chanyeol yang kurang setuju dengan orang lain memasuki tempatnya. Dia sedang sedih dan teman-temannya disini. Adakah yang lebih membuat Baekhyun bahagia ? Tidak.

Baekhyun terkikik ketika Younghoon tidak juga menutup mulutnya ketika memasuki penthousenya dan Chanyeol.

"Soo, coba pukul aku ?" ucap Hoon setelah meletakkan dua kotak pizza diatas meja. Sedangkan Kyungsoo mengerutkan dahinya terlihat bingung dengan permintaan Younghoon.

"Huh ?"

"Aish ! pukul saja !"

Kesal juga bingung karena Younghoon, Kyungsoo memberi pukulan begitu keras pada lengan Younghoon sampai anak itu memekik kesakitan.

"Hei, itu terlalu keras !"

"Kau yang menyuruhku !. Lagipula kenapa menyuruhku memukulmu tiba-tiba, huh ?"

"Aku tidak menyangka menginjakan kakiku disini. Apakah Chanyeol-ssi tinggal disini atau tinggal dirumahnya ?" tanya Youghoon.

Baekhyun tersenyum geli karena sikap berlebihan Younghoon.

"Kami tinggal disini" ucap Baekhyun sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas susunya, kemudian segera kembali menghampiri Kyungsoo dan Younghoon di ruang tamu.

"Kau dengar itu Soo ? Woah.. daebak daebak. Itu berarti kita sedang berada di kediaman Presdir Park !"

"Bukankah dia berlebihan ?", bisik Kyungsoo kepada Baekhyun. Baekhyun terkekeh dengan hanya menggelengkan kepalanya karena sikap Younghoon yang memang dirasa berlebihan.

"Hoon, jujur padaku. Kau fans Park Chanyeol ?" tanya Kyungsoo.

"Hell no !"

"Lalu ?"

"Bukan seperti itu.. Hanya saja, aku yakin tidak banyak orang yang bisa memasuki kediaman seorang Presdir Park. Baekhyun ?"

"Hm ?" gumam Baekhyun masih sibuk menegak susunya.

"Yang kukatakan benar, bukan ?" desak Younghoon.

"Jika yang kau maksud selain keluarga, sekertaris Chanyeol, dan bibi Yoon. Maka ya, kalian yang pertama" jawab Baekhyun setelah mengelap sisa susu dari sudut bibirnya.

"See ?", dan Kyungsoo hanya memutar matanya malas.

"Ah ya, ada cafe yang menjual smoothie didekat kampus yang baru buka hari ini. Aku dan Hoon iseng ingin mencobanya dan rasanya enak. Karena kami akan kesini, aku membelikanmu satu" Ucap Kyungsoo.

"Benarkah ?"

Kyungsoo mengangguk.

"Ini rasa strawberry, benar ?" ucap Kyungsoo sambil menyodorkan segelas cup smoothie berwarna merah muda itu kemudian Baekhyun bergumam terimakasih.

"Oh ya Baek, kau berani juga. Hari ini kau melewatkan kelas Luhan gyosunim" ucap Younghoon sambil mencomot satu potong pizza.

"Benarkah ?" tanya Kyungsoo.

"Anehnya beliau tidak menanyakanmu dikelas tadi"

Baekhyun menghela napasnya.

"Terpaksa. Kudengar masih ada beberapa wartawan di kampus"

"Ah ya, kau benar" sahut Kyungsoo tiba-tiba ikut merasa sedih.

"Kau baik ?" lirih Kyungsoo.

Baekhyun mengangguk pelan, perutnya selalu melilit juga teggorokannya seperti tercekat jika teringat berita yang menyangkut Chanyeol dan wanita asing itu.

"Baek, aku tahu ini sudah bukan tempat kami untuk ikut campur urusan rumah tanggamu. Tapi kami disini selalu disisimu, oke ?"

Kyungsoo mengeryit ketika mendengar ucapan Younghoon yang tiba-tiba terdengar gentle itu. Tangannya mengusap-usap punggung Baekhyun ketika sahabatnya itu menunduk. Jari-jari tangannya meremat masing-masing lututnya. Menahan mati-matian emosi yang menyakiti hatinya.

Baekhyun lelah, dia tidak cukup tidur dengan baik beberapa hari terakhir ini. Memang benar Chanyeol selalu mengucapkan kalimat penuh cinta sebelum Baekhyun memejamkan matanya diakhir hari, namun di jam 2 pagi ia akan terbangun, memuntahkan makan malamnya dan berakhir menangis diatas lantai kamar mandi yang dingin dengan lengan yang bergetar bertumpu diatas closet berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Dokter Lim datang dua hari yang lalu, berbicara tentang stress dan kandungan. Namun Baekhyun seperti mendadak tuli. Alasan hanya kelelahan adalah jawaban yang Baekhyun ucapkan sebelum dokter Lim menghela napasnya dan memutuskan untuk pulang setelah memberikan beberapa pil berisi nutrisi untuk bayinya.

Kyungsoo segera membawa Baekhyun kepelukannya ketika jejak penuh airmata telah mengalir dipipi sahabatnya.

"Kyungsoo.." ucap Baekhyun sambil terisak hingga Kyungsoo tidak sampai hati mendengar rintihannya.

Younghoon yang melihatnya ikut menepuk punggung Baekhyun, mencoba memberikannya ketegaran.

"Menangislah, aku disini" ucap Kyungsoo dan Baekhyun berakhir terisak begitu keras.

"Aku harus bagaimana Kyung.. Katakan aku harus bagaimana"

Perlahan Kyungsoo melepaskan pelukannya. Menyeka sungai kecil yang masih senantiasa mengalir dari kedua sabit didepannya.

"Aku tidak tahu bagaimana sebuah rumah tangga berjalan karena aku belum menikah. Tapi, komunikasi, bicarakan hal ini dengan Chanyeol-ssi. Dia tidak bisa membiarkanmu mendengarkan berita yang belum tentu kau tahu kebenarannya. Tanyakan perihal siapa wanita itu. Kau tidak bisa menanggung ini sendiri Baek. Jika saja kau mengenal wanita itu, mungkin kau bisa menegaskan pada dia bahwa Park Chanyeol adalah milikmu. Aku tahu kau kuat Baekhyun, dan aku tahu kau bisa mengatasi hal ini. Baekhyun yang kukenal adalah seorang percaya diri dan tidak mudah menyerah dan cengeng seperti ini !"

"Aw ! kenapa kau cubit hidungku ?!" pekik Baekhyun.

Kyungsoo tertawa ketika melihat wajah marah Baekhyun. Kemudian terdengar suara tepuk tangan Younghoon dan membuat mereka berdua menoleh bersamaan.

"Kau keren Soo !" ucap Younghoon sambil mengangkat kedua jempol tangannya, disusul dengan dengusan Kyungsoo.

Mengabaikan Younghoon, Kyungsoo kembali menoleh kepada Baekhyun. Menarik kedua tangannya dan menepuk punggung tangannya beberapa kali.

"Ingat, jangan kau tahan sendiri, mengerti ? Aku ikut sedih jika kau sedih Baek"

Baekhyun mengangguk sambil bergumam terimakasih kepada Kyungsoo. Hatinya sedikit lega setelah meledak dipelukan sahabatnya tadi. Hari ini telah begitu berat bagi Baekhyun. Perkataan orang-orang di mall tadi sedikit banyak mempengaruhi suasana hatinya. Lagipula apa yang bisa diharapkan jika sampai saat ini saja Chanyeol tidak mengatakan apapun terkait berita itu.

.

.

.

Tengah malam Baekhyun terbangun dengan pening di kepalanya tidak juga pergi. Merutuki dirinya sendiri, Baekhyun berpikir tidak seharusnya dia menangis tadi sehingga membuat kepalanya sakit seperti ini. Mengerang lirih, Baekhyun memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuruni tangga untuk menuju dapur.

Tepat saat Baekhyun sampai di dapur, bibi Yoon menghampirinya.

"Tuan, anda belum tidur ?"

"Aku terbangun. Lalu bibi sendiri ?"

"Ah, saya juga. Apakah anda akan membuat sesuatu ?"

"Ya,"

"Kalau begitu biarkan-"

"Tidak", Baekhyun memotongnya. "Aku bisa membuatnya sendiri. Lagipula ini hanya seduhan madu dengan lemon"

"Sungguh ?"

Baekhyun mengangguk. Tapi kemudian bibi Yoon melangkah dan mengambil madu juga kotak plastik dengan irisan lemon didalamnya dari kulkas. Baekhyun akan memprotes lagi namun urung setelah bibi Yoon mengatakan bahwa dia tidak membantu Baekhyun, hanya mengambilkan bahannya saja. Karenanya Baekhyun hanya menghela napas dan mengucap terimakasih setelahnya.

Tangannya meraih termos, namun tidak ada air saat Baekhyun menuangkannya. Terpaksa, Baekhyun harus memasak air terlebih dahulu. Sambil menunggu air panas, Baekhyun menyalakan smartphonenya. Ada dua pesan Line dari Kyungsoo.

Baek, kau harus melihat ini.

Pesan berikutnya adalah sebuah link. Baekhyun akan membukanya ketika mendengar bunyi bahwa airnya telah panas. Meletakkan smartphonenya, Baekhyun segera mematikan kompornya. Menuangkan beberapa sendok madu kedalam mug, juga memasukan dua irisan lemon. Terakhir menuangkan air yang telah panas. Baekhyun meraih sendok untuk mengaduknya. Tangan kirinya kembali meraih smartphonenya. Membuka link yang sebelumnya dikirim Kyungsoo. Tangan kanannya masih mengaduk ketika video itu terus berputar dengan tulisan loading. Namun gerakan tangannya dengan otomatis berhenti ketika layar smartphonenya menampilkan wajah wanita yang kini begitu familiar dalam sela-sela lamunannya, atau muncul ketika Baekhyun terbangun di tengah malam disertai perih yang melanda hatinya. Nafas Baekhyun seakan ditarik ketika wanita itu mulai berbicara, namun kali ini tidak sendiri. Phoenix tajam favoritnya itu kini turut berada disamping wanita itu. Kenapa Chanyeol bersama wanita itu ? Apa dia masih bermimpi saat ini ?.

"I have heard a number of things circulating in the public about us. Apart from that all I just can say that we are in good relationship then or now (saya telah mendengar beberapa hal yang beredar di publik mengenai kami. Disamping itu semua saya hanya bisa mengatakan bahwa kami dalam hubungan yang baik. Dulu ataupun sekarang)" ucap wanita itu dengan senyum yang diulas begitu manis hingga Baekhyun ingin merobek bibirnya. Kemudian mereka membicarakan proyek yang sama sekali tidak menarik bagi Baekhyun. Tepat saat salah satu wartawan bertanya kepada Chanyeol perihal bagaimana tanggapannya mengenai hubungan khusunya dengan Rachel Yoo, Baekhyun tercekat. Tangannya dingin seketika, telinganya ingin tuli saat itu juga.

"I don't think private matters should be public consumption, especially this is only cooperation (saya kira urusan pribadi tidak seharusnya menjadi konsumsi publik, terlebih ini hanya kerjasama)" , adalah yang diucapkan Chanyeol. Ambigu adalah satu hal yang bisa dipikirkan Baekhyun. Chanyeol tidak menjawab pertanyaan dari wartawan itu, batin Baekhyun.

" That's right what Richard said, so if later both Richard and I are caught together. Don't magnify it because it's also our personal matter (itu benar apa yang dikatakan Richard, jadi jika nanti baik Richard maupun aku sedang kedapatan berdua. Jangan membesarkan hal itu karena itu juga merupakan urusan pribadi kami)"

Baekhyun menekan amarahnya ketika melihat lengan wanita itu melingkar dilengan Chanyeol dan pergi meninggalkan wartawan berjalan masuk kedalam gedung perusahaan. Baekhyun tidak bodoh untuk mengerti setiap hal yang keluar dari bibir wanita itu hingga membencinya sampai ke tulang adalah hal yang dapat dipikirkan Baekhyun. Dia juga tidak dapat menghentikan perasaan kecewa dalam hatinya karena Chanyeol.

Baekhyun merasa lemas untuk beberapa saat ketika peningnya bertambah buruk. Bermaksud untuk bertumpu pada konter dapun namun Baekhyun berakhir memekik kesakitan saat dirinya jatuh diikuti dengan air panas dari mug yang tanpa sengaja mengenai punggung tangannya karena tersenggol tangannya.

Baekhyun masih merintih sambil memegang perutnya ketika terdengar langkah tergesa-gesa seseorang.

"Tuan !"

"Oh astaga, apakah anda baik-baik saja ? Dimana yang sakit ?"

"Tuan Baekhyun ? Tuan- sebentar saya akan memanggilkan pengawal" Ucap bibi Yoon kemudian segera berlari menuju kamarnya untuk menelpon pengawal yang ditugaskan Tuannya untuk menjaga Baekhyun.

Selepas bibi Yoon pergi, Baekhyun masih mengelus perutnya. Tangannya melepuh, dia tahu itu. Tapi tidak lebih dari hatinya yang terbakar karena wanita itu.

"Murahan", desis Baekhyun begitu tajam. Perihnya sudah mati rasa sehingga kini hanya amarah yang memenuhi hatinya.

Tak lama kemudian Shinwan datang dan mengangkat tubuh Baekhyun setelah sebelumnya meminta ijin kepada Baekhyun.

Perlahan Shinwan menurunkan Baekhyun diatas ranjang. Tepat sebelum Shinwan pergi, Baekhyun memanggilnya sehingga langkahnya terhenti dan berbalik menghadap tuannya.

"Apa yang ditugaskan Chanyeol pada kalian ?" tanya Baekhyun begitu tiba-tiba. Shinwan mengeryit tapi tetap menjawabnya.

"Untuk menjaga dan melakukan perintah yang anda berikan"

"Jadi kalian akan melakukan perintah yang kuberikan ?"

"Ya, tuan"

"Baik, kupegang apa yang kau katakan. Jadi, jangan sampai Chanyeol tahu tentang apa yang terjadi hari ini. Katakan juga pada bibi Yoon"

"Tapi-"

"Aku bukan orang yang suka mengancam tapi, aku bisa membuatmu kehilangan pekerjaanmu kapan saja"

Baekhyun membatin bahwa dia tidak pernah sekasar ini sebelumnya. Tapi dia harus melakukannya. Dia sudah tidak tahan saat kepalanya dipenuhi spekulasi abu-abu, harus ada yang jelas disini. Jika dia tidak segera mendapatkannya dari Chanyeol. Maka Baekhyun akan melakukannya sendiri.

"B-baik Tuan"

"Dan Shinwan, aku ingin kau dan kedua temanmu itu melakukan sesuatu untukku"

.

.

.

.

.

Adakah yang masih menunggu ff ini update ?. Semoga kalian ga bosan bacanya karna di draft aja sampai 18 halaman kkkkk.

Happy Holiday !

Jangan lupa review untuk chapter ini dan see you on next chapter !