"Anakku tidak boleh sama menyedihkannya denganku. Anakku berhak bahagia lebih dari ibunya sendiri!" [Chapter Thirteen]

Itulah kekhawatiran seorang ibu. Lumrah dimengerti. Lumrah terjadi. Akan tetapi, apakah pemikiran Baekhyun ke depannya benar-benar dia lakukan?

Hanya waktu yang bisa menjawab.

"Nona Baekhyun, anda dari mana saja?".

Baekhyun memeluk Irene erat sekali lalu menangis begitu saja. Irene pikir Baekhyun melalui masa sensitif ibu hamil. Dia pun memakluminya.

Setelah insiden perdebatan di Mansion Xi, Baekhyun tinggal di apartemen lama Sehun. Awalnya Irene hanya datang sesekali ke apartemen Sehun hanya untuk mengawasi Baekhyun. Namun siapa sangka remaja seimut Baekhyun hamil diluar pernikahan?hal ini memang sering terjadi di Korea Selatan mengingat tingkat kelahiran di kerajaan ini tergolong rendah, sehingga hamil diluar nikah tak jadi soal. Namun berbeda perlakuan jika yang mengalaminya adalah seorang bangsawan.

Mau bagaimanapun juga, orang-orang dengan gelar bangsawan dituntut 'apik' dari segi profil dan tabiat. Mereka akan jadi contoh warga kerajaan yang baik untuk kalangan di bawah mereka. Juga 'wajah' kerajaan di kalangan internasional.

Karena itu, Sehun meminta tolong pada Irene agar menginap di apartemen, menemani Baekhyun sampai gadis itu melahirkan. Irene menurut tanpa pamrih. Dia senang bisa merawat Baekhyun sekaligus belajar menjadi calon ibu kelak. Yah, andaikan dia juga menikah, menyusul Sehun sang sahabat.

Kehamilan Baekhyun tak hanya membuat psikis remaja itu syok, masa depannya juga terancam. Dia baru saja menikmati kesenangan sekolah bersama banyak teman sebayanya, tapi harus homeschooling agar tidak dijadikan bahan bullying. Baekhyun terpaksa menuruti perintah Sehun.

Dia terkurung dalam apartemen. Sesekali merenungi kebodohannya karena menurut saja pada perintah Sehun.

Kembali pada masa ini, Baekhyun masih memeluk Irene, satu-satunya orang yang setia merawatnya selayaknya kakak. Walau begitu, kehadiran Irene tidak akan pernah bisa menggantikan rasa sayang dan bencinya pada Luhan.

Luhan memiliki tempat tersendiri di hati remaja imut itu.

"Eonni... Peluk Baekki sampai tertidur..."

Irene mengangguk. Dia memeluk Baekhyun di atas ranjang.

Setelah Baekhyun puas menangis, gadis itu tertidur di ranjang yang dulunya ditiduri Sehun. Baekhyun bilang dia suka aroma Sehun yang tertinggal di sana. Syukur baginya karena tidak ada foto Luhan di kamar itu.

"Eonni..."

Gumaman Baekhyun didengar baik oleh Irene. Gadis itu terjaga setelah Irene menuruni ranjang.

"Ya, Nona?"

Baekhyun mengelus perutnya, tatapan matanya kosong. "besok antarkan aku ke dokter kandungan."

Dua bulan setelah kelahiran Triple Twin, itu berarti kehamilan Baekhyun memasuki enam bulan.

Di usia itu, Baekhyun tersenyum cerah sambil memandang USG anaknya dengan Chanyeol.

Irene juga tak kalah senang.

"Bayi anda seorang perempuan, Nyonya Byun." ucap Dokter kandungan bernama Park Shin Hye.

"Perempuan...? Syukurlah... Ya Tuhan..." Irene memeluk Baekhyun sebagai tindakan 'selamat'.

Baekhyun menangis haru.

'Jadilah perempuan yang kuat melebihi eomma...

...bahkan melebihi seorang Xi Luhan, anakku.'

.

.

.

.

.

HUNHAN (GS)

GS FOR UKE, ABAL-ABAL, RATE M, MAFIA-AU, KINGDOM-AU, TYPO(s)

Note :

Isi chap ini tidak sepenuhnya sesuai sama judul chap. Paham gak? Hehehe...

Warning :

Ada adegan yang KURANG enak dibaca. Jadi please, skip aja KALAU GAK KUAT, JIJIK, ATAU GAK TEGA BACANYA :)

.

.

.

.

.

Fourteen : X-EXØ feat Xi's Mafia (bag 2)

"Tolong jangan anggap aku berlebihan karena apapun tentangmu membuatku terlalu sensitif!"

—Oh Sehun—

.

.

.

.

.

Beberapa bulan kemudian...

Tepat usia Triple Twin ke enam bulan...

.

.

.

.

.

"Mereka bertiga lucu sekali, Mommy!"

Guanlin bahagia. Anak pertama Luhan dengan David itu tak bosan-bosannya mengelus pipi ketiga adik bayinya. Mereka bertiga berada di ranjang yang sama, ranjang bayi di samping ranjang ibu mereka, dan tertidur pulas setelah meminum asi eksklusif. Ketiganya sudah dinyatakan sehat setelah dua bulan berada di inkubator. Kini tiga bayi Luhan dan Sehun itu sudah menghuni Mansion Xi.

"Guanlin senang, kan?" ucap lemah Luhan sambil mengelus kepala Guanlin penuh rasa keibuan.

"Eng!"

"Apakah mereka sudah kalian beri nama?" Celetuk David Anderson, mantan suami Luhan, sambil sesekali memainkan hidung bayi di posisi tengah.

"Belum," jawab Sehun. "kami masih memperdebatkan nama untuk mereka bertiga, karena aku dan Luhan sama-sama Kepala Keluarga Bangsawan dari tiga marga. Luhan dari Xi dan Aihara, aku dari Oh. Hm, memberi nama Triple Twin sedikit sulit." Jelasnya lagi. Dia baru saja selesai membuatkan Luhan susu ibu menyusui. Luhan pun meminumnya sedikit lebih cepat karena rasanya agak eneg. Luhan tak mau muntah sebelum susu itu habis.

"Aku mengerti," David mengacak rambut Guanlin. "Kami juga sempat memperdebatkan marga apa yang akan dipakai Guanlin untuk nama lahirnya. Dan... Akhirnya Guanlin memakai nama Anderson. Tapi tetap menggunakan nama China sebagai nama depannya."

Sehun tiba-tiba memikirkan sesuatu. Dia lalu menatap istrinya. Sesekali Sehun menyeruput segelas susu paginya.

Kondisi tubuh Luhan masih lemah pasca melahirkan. Jadi dia hanya berbaring, sesekali duduk selonjoran. Hari-harinya pun terisi oleh kegiatan menyusui ketiga anaknya, malas-malasan, dan bermesraan dengan Sehun.

Karena bayinya dengan Sehun kembar tiga, Luhan cukup kewalahan menyusui mereka. Alhasil, sesekali ketiga bayinya minum lewat botol. Sehun juga sigap membantu istrinya memompa payudaranya lewat alat pompa. Dia juga memastikan Luhan tidak repot-repot bangun dari ranjang jika Triple Twin menangis bersamaan atau bergantian.

Sebagai ayah dan suami, Sehun benar-benar kerepotan tapi dia menyukai sensasi yang pertama dirasakannya tersebut.

Terkadang, saking melimpahnya ASI Luhan, baju di bagian dadanya seringkali basah padahal ketiga anaknya lumayan rakus. Karena itulah setiap pagi Sehun meminum asi istrinya, takut terbuang percuma karena daya tahan asi dalam botol tidak sampai dua hari. Jangan dikira meminum langsung lewat payudaranya, Sehun meminum asi istrinya lewat gelas.

"Apa yang kau minum?" gumam David pada Sehun sementara Luhan dan Guanlin masih asyik membicarakan keimutan Triple Twin.

"ASI istriku," jawab Sehun sambil kembali meminum segelas susu istrinya. Dia duduk di pinggir ranjang. Jujur saja, Sehun suka rasa asi istrinya meski sedikit asin dan ada sensasi asam juga.

David terkekeh, "aku jadi ingat saat Luhan baru melahirkan Guanlin. Waktu itu aku juga melakukan hal yang sama denganmu karena melimpahnya asi Luhan."

Mendadak Sehun tidak semangat meminum asi istrinya. "Sayang..." ucap dingin Sehun memanggil Luhan.

"Ya, Hunnie?"

"Aku mau minum susu langsung dari sumbernya, boleh?"

"Tidak!" ketus Luhan.

"Eh? Kenapa? Aku ini suamimu lho..."

"Aku sudah lelah meladeni tiga bayi. Rasanya mereka seperti menyedot sari kehidupanku. Dan sekarang kau?" Luhan memutar bola matanya, "yang benar saja."

David kembali tertawa, "berhentilah cemburu. Aku tidak akan memandang istrimu penuh cinta lagi, Sehun."

Sehun tahu David benar-benar move on. Seandainya tidak, mungkin Sehun akan memberi pria itu pelajaran. Luhan memang mencintai Sehun, tapi Sehun terlalu overposesif jika mengenai Luhan.

"Syukurlah..." respon Sehun lega.

.

.

.

.

.

Hari pun berganti.

Pagi ini giliran Jongin dan Kyungsoo yang menjenguk Triple Twin. Mereka baru bisa menjenguk karena Kyungsoo melewati masa pasca melahirkan. Anak mereka bernama Taeyang. Punya mata lebar persis Kyungsoo, dan perawakan persis Jongin versi bayi. Taeyang lahir tiga bulan setelah Triple Twin.

Masa pemulihan Kyungsoo lebih cepat dari Luhan. Itu dimaklumi karena tiap ibu berbeda kasus dan ketahanan tubuh.

Kyungsoo memekik kecil ketika ketiga bayi Sehun dan Luhan bersamaan membuka mata mereka. Si sulung berbaring di kiri, si tengah di tengah tentunya, dan si bungsu ada di kanan. Kyungsoo memperhatikan manik mata ketiganya. Si sulung berjenis kelamin laki-laki. Dia memiliki iris mata hazel, turunan Luhan. Si tengah berjenis kelamin perempuan. Iris matanya hitam sama seperti Sehun. Sedangkan si bungsu berjenis kelamin laki-laki. Iris matanya hitam, yang juga turunan Sehun.

"Mereka kembar fraternal?"

"Nde," jawab Sehun.

"Si bungsu terlalu mirip dengan Sehun-oppa... Si sulung juga, tapi manik matanya itu turunan Luhan."

"Aku penasaran," Jongin angkat suara sambil menimang Taeyang. "Siapa nama Triple Twin ini?"

Sehun dan Luhan adu pandang. Keduanya tersenyum misterius. Sehun pun bicara, "kita tunggu kedatangan keluarga lainnya."

Kyungsoo dan Jongin berdiri di samping ranjang Triple Twin. Mata mereka seakan mengabsen siapa saja penjenguk selanjutnya di kamar utama Mansion Xi ini.

David dan Guanlin kembali menjenguk, setelah kemarin mereka menjenguk dan memberi Triple Twin banyak hadiah.

Oh Yunho, ayah kandung Sehun sekaligus mertua seorang Xi Luhan, datang setelah Guanlin dan David.

Disusul Irene dan Junmyeon. Mereka sudah bertunangan tapi Sehun dan Luhan tidak bisa datang karena kelahiran Triple Twin. Syukurlah mereka mengerti.

"Aku harap Irene memberiku lima anak," ucap Junmyeon dibalas pukulan manja dari Irene dan tawa dari Sehun dan Jongin.

Kemudian Chanyeol. Pria itu kembali ke mansion Xi karena masih jam makan siang. Chanyeol, dengan keteledorannya, malah membahas masalah kantor pada Luhan, "My Lady, kita baru saja memenangkan tender proyek besar!"

"Chanyeol-hyung..." geram dingin Sehun.

"Ne, Tuan Muda?"

"Kumohon untuk tidak membahas masalah perusahaan. Istriku masih butuh istirahat secara fisik dan psikis."

"Oh... Maaf... Maafkan saya..."

Luhan terkekeh, "tidak masalah. Itu kabar menggembirakan jadi dibagi saja apa susahnya?"

Sehun kembali mengalah dan Chanyeol hanya nyengir.

Terakhir nenek Sehun, Oh Anhee dengan ibu angkat Sehun yakni Oh Yoona.

Luhan mematung kaku kala nenek Sehun itu memandangnya dingin.

Yunho menghela nafas karena ibunya seakan ingin mencakar Luhan. Padahal Luhan adalah cucu menantunya.

"Jadi... Di mana ketiga cicitku?"

"Di sini, halmeoni." Sehun merangkul neneknya lalu mengantarkan Anhee pada ranjang cicitnya. Yoona mengikuti mereka sambil melirik Yunho. Ketika keduanya beradu pandang, Yoona menunduk dalam.

"Eomma..." Sehun memeluk Yoona penuh sayang. "Lihatlah ketiga cucumu. Mereka lucu, kan?"

Yoona mengelus pipi Sehun, "hm... Eomma harap mereka bisa membanggakan keluarganya sama sepertimu."

Nostalgia di selingkar Keluarga Bangsawan Oh ini seakan menyisihkan Luhan. Wanita itu hanya tersenyum lemah. Dia mengizinkan suaminya menikmati kebersamaan antar anggota Keluarga Bangsawan Oh.

"Astaga, mengapa aku sangat membenci si sulung ini?" Ucap Anhee sinis. "Dia mirip denganmu, Sehun... tapi entah kenapa mirip seseorang paling kubenci."

"Saya tahu siapa yang anda maksud, Nyonya Oh," ujar dingin Yunho. "Tapi anda tidak ada hak untuk membencinya."

Luhan tersenyum simpul. Selain Sehun, dia juga suka Yunho sebagai seorang Oh.

Tapi, apa maksudnya nenek dari suaminya ini membenci anak sulungnya? Luhan tak habis pikir dan ingin sekali menegurnya. Sehun melirik istrinya dan menggelengkan kepala. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk melibatkan pertengkaran.

Anhee tidak peduli meskipun anak kandungnya—Oh Yunho—sudah tidak punya sopan santun padanya.

"Nama mereka?" tanya Anhee tanpa basa-basi lagi.

Luhan mengizinkan Sehun untuk bicara lebih banyak karena Luhan masih sering kelelahan, bahkan hanya untuk bicara.

"Si sulung ini kuberi nama Oh Sehan."

Yunho dan Anhee membulatkan mata. Reaksi kedua orang ini mengejutkan seisi ruangan. Irene melirik tunangannya, Kim Junmyeon. David memeluk Guanlin, bocah itu merasa atmosfer di sini agak tidak nyaman. Chanyeol hanya menunduk pada ketiga anak Luhan. Kyungsoo memandang suaminya dan dia cukup terkejut Jongin menghela nafas, seakan Jongin tahu apa alasan Yunho dan Anhee terkesiap karena nama 'Oh Sehan'.

"Mengapa harus 'Oh Sehan'?"

Nenek Sehun tampak murka.

"Eomma..."

"Diam, Yunho! Kau bukan anakku lagi jadi berhenti memanggilku 'Eomma'."

"Anda perlu disadarkan bahwa anda tidak berhak membenci siapapun termasuk Sehan-hyung!"

Kini berganti Luhan, Sehun, serta seluruh penghuni ruangan yang dikejutkan dengan ucapan Yunho dan Anhee.

"'Sehan-hyung'?" Sehun mengerutkan kening. "Appa... Memangnya 'Sehan-hyung' yang appa maksud itu... Siapa?"

Yunho memejamkan mata dramatis sebelum akhirnya menghembuskan nafas sekeras mungkin. Wajahnya memerah memandang nenek Sehun. Tersirat amarah mendalam di sana.

"Oh Sehan adalah nama Korea dari Xi Luxian."

Luhan dan Sehun saling memandang.

Kyungsoo melirik suaminya sekali lagi. Ternyata benar, Jongin memang tahu sesuatu tentang 'Oh Sehan' ini. Terbukti dari helaan nafas Jongin.

"Sehan-hyung... Maksudku, Xi Luxian..." Yunho kembali bersuara. "adalah salah satu sepupu appa dari pihak Keluarga Bangsawan Non Inti Oh. Dia juga anak yang lahir diluar pernikahan, dan kelahiran semacam itu benar aib bagi keluarga bangsawan. Belum lagi, ibunya berasal dari Keluarga Bangsawan Xi, sehingga banyak anggota Keluarga Oh membencinya. Karena itulah, semua data dirinya sebagai Oh Sehan sengaja dihapus sehingga kau dan saudaramu dalam satu generasi, tidak tahu mengenai Oh Sehan ini."

Luhan cukup syok mendengarnya.

Jadi secara tidak langsung, Luhan juga punya darah Korea dari Keluarga Bangsawan Oh? Itu menjelaskan alasan rupa ayahnya sewaktu muda nyaris mirip Sehun.

Terlebih lagi, latar belakang ayahnya sama dengan kakak laki-laki Luhan?

"Pria itu layak dibenci," geram Anhee. "Anak tak tahu diri itu bekerja sama dengan berbagai pihak, begitu licik, hanya untuk merendahkan pengaruh Keluarga Bangsawan Oh di kerajaan ini. Pria itu tak kalah busuknya dengan keturunannya ini..." Anhee tersenyum sinis pada Luhan, tapi Luhan membalasnya datar.

"Halmeoni..." Sehun menegur neneknya. "Dengan segala hormat anda harus menjaga ucapan anda. Pria yang anda hina juga menurunkan darahnya pada cicit anda."

"Jika si sulungmu itu kau beri nama Oh Sehan, jangan harap aku akan menyayanginya seperti aku menyayangimu, Sehun!"

"Aku dan Luhan tetap memberi nama anak pertama kami 'Oh Sehan'. Terlepas nama mendiang kakeknya itu begitu buruk di masa lalu."

Anhee memutuskan pergi, "Yoona... Kita sebaiknya pergi dari sini...!"

Yoona yang sedari tadi gemas pada ketiga cucunya, hanya bisa menuruti mertuanya. Seusai mengucap selamat pada Sehun dan Luhan, Yoona pamit undur diri.

Sisa-sisa kemarahan itu jelas ada. Percekcokan di Keluarga Inti Oh selalu berakhir seperti ini. Sehun jadi lelah sendiri.

"Lalu, anak kedua dan ketiga kalian?" Yunho tak ingin anaknya terlalu larut dalam kemarahan. Sehun tersenyum lembut.

"Nama kelahiran ketiga anak kami akan berbeda marga. Si sulung bernama Oh Sehan, suatu saat dia akan mewarisi seluruh kekayaan Keluarga Bangsawan Inti Oh. Kemudian... Si tengah. Namanya adalah Aihara Shika. 'Shika' sendiri berarti rusa dalam bahasa Jepang." Sehun mengangkat kedua alis ketika gadis mungilnya menggenggam telunjuknya. "Gadis kecil kami ini akan menggantikan posisi Luhan di Keluarga Bangsawan Aihara. Dan si bungsu..."

Luhan meneruskan. Nada bicaranya begitu dingin khas seorang Xi.

"Si bungsu memiliki nama kelahiran yakni Xi Shixun. Dia akan menggantikan posisiku, yang notabene eommanya, kelak."

Ini sudah keputusan Sehun dan Luhan. Mereka tidak mengikat Triple Twin dalam satu marga keluarga. Lagipula itu hanya nama lahir mereka, karena...

"Di Jepang, mereka bertiga akan memperkenalkan diri dengan marga Aihara." Luhan begitu lemah sewaktu bicara. "Aihara Sehan, Aihara Shika, dan Aihara Shixun."

"Sementara di China," Sehun tersenyum lebar pada bayi gadis mungilnya. Si tengah tergelak dalam tawa. "Nama mereka adalah Xi Shihan, Xi Shika, dan Xi Shixun."

"Terakhir di Korea..." Luhan dan Sehun saling memandang. Bibir Sehun agak dimanyunkan. Wajahnya seakan mengatakan ketidaksetujuan. Akan tetapi Luhan tetap meneruskan ucapannya sambil tersenyum geli.

"Nama Korea mereka bermarga Oh. Si sulung akan dipanggil Oh Sehan, si tengah dipanggil Oh Sena, dan si bungsu..."

Luhan menahan tawa sedangkan Sehun mendengus.

"...Oh Sehun jr."

Satu nama itu cukup mengejutkan semua orang, tak kalah dengan nama si sulung.

"Heh?!" pekik Kyungsoo.

Sementara lainnya melotot terkejut.

Mereka tahu rumitnya menjadi Sehun dan Luhan.

Apalagi lahir dari tiga Keluarga Bangsawan terkolot di tiga Kerajaan berbeda.

Seisi ruangan mendoakan, agar Triple Twin memiliki kebahagiaan sejati tak hanya tentang kekayaan dan kekuasaan,

Tapi juga cinta.

.

.

.

.

.

Nama Triple Twin...

1. SI SULUNG (SEHAN)

Nama Lahir : Oh Sehan

Nama China : Xi Shihan

Nama Jepang : Aihara Sehan

Nama Korea : Oh Sehan

2. SI TENGAH (SHIKA)

Nama Lahir : Aihara Shika

Nama China : Xi Shika

Nama Jepang : Aihara Shika

Nama Korea : Oh Sena

3. SI BUNGSU (SHIXUN)

Nama Lahir : Xi Shixun

Nama China : Xi Shixun

Nama Jepang : Aihara Shixun

Nama Korea : Oh Sehun jr.

.
.
.
.
.

Tiga tahun kemudian...

.

.

.

.

.

Nama Xi berangsur-angsur pulih.

Tidak mudah untuk memulihkan nama baik, termasuk mencuci bersih Keluarga Bangsawan Xi dari kotornya masa lalu. Di generasi ketujuh tepatnya di tangan Xi Luhan, Keluarga Bangsawan Xi menjelma sebagai keluarga yang tak hanya ditakuti tapi juga disegani dan dihormati.

Sejak setahun lalu, Kerajaan China pun sudah tidak lagi mendeportasi Keluarga Xi.

Dan ini semua adalah impact dari etos kerja XiLu Corporation yang luar biasa untuk karyawan dan konsumen di China. Selain itu, kegiatan kemanusiaan XiLu Foundation bersama peran EXO sebagai Brand Ambassador melejitkan nama Xi di media publik.

Selain profil Luhan sebagai CEO XiLu Corporation, tentu saja nama Xi Luna memperindah marga Xi di hadapan dunia.

Bagaimana tidak demikian?

Xi Luna adalah Ratu Inggris pertama berdarah Asia. Rakyat Inggris dan internasional mengenalnya sebagai ratu bertabiat luar biasa anggun. 'Wanita' yang digadang-gadang tercantik di Eropa itu juga ikut serta dalam acara amal, sering menyapa rakyat sewaktu blusukan, dan sudah banyak mendirikan yayasan panti jompo dan panti asuhan, serta rumah sakit murah untuk para rakyat jelata di Inggris.

Jadi... Bagaimana bisa profil cantik dan baik itu tak bisa mengubah pandangan orang-orang tentang Xi?

Semua itu adalah indikator bagaimana Keluarga Bangsawan Xi diterima kembali oleh masyarakat China.

Inilah yang diinginkan Luhan. Masa depan tanpa kebencian besar untuk anak-anaknya.

Di pagi hari, tepatnya di Mansion Xi, semua terjadi seperti biasanya. Dipenuhi kehangatan dan keceriaan dengan Sehun dan Luhan sebagai orang tua, serta ketiga anak-anak super lucu.

Oh Sehan.

Sebagai si sulung, dia dituntut bangun lebih awal. Bocah tiga tahun itu baru saja selesai mandi. Walau dibantu Yuri, dia sudah bisa menggosok badannya sendiri kecuali punggung, gosok gigi sendiri, dan memakai baju sendiri.

Sekarang dia berdiri di atas bangku kecil, berkaca di depan cermin sebadan, sudah rapi memakai satu set seragam TK, almamater salah satu sekolah kebangsawanan. Sehan memang disiapkan sebagai ahli waris untuk aset dari tiga Keluarga Bangsawan, karena itulah sejak dini dia dipoles layaknya berlian. Syukurlah tabiat anak itu mudah sekali dituntun.

Setelah memakai jas mungilnya, Sehan tersenyum kalem pada Yuri. Senyumnya sangat persis Sehun, sang ayah. Hanya saja versi mini.

"Yuri-ahjumma, mana dasiku?"

"Ah, ini dia, Tuan Kecil." Yeri memasangkan dasi dan Sehan mendongak. Gayanya sungguh elegan padahal usianya baru tiga tahun.

Dasi kupu-kupu hitam sudah terpasang apik di leher Sehan.

"Thank you, Miss..." tangan mungil Sehan merengkuh tangan Yuri lalu menciumnya.

"Sa-sama-sama, Tuan Kecil."

Yuri mengerjapkan mata. Dia rasa, Sehan dewasa terlalu cepat.

Sehan sudah siap untuk ke sekolah, tapi dia menghela nafas saat adik gadisnya masih sibuk mandi.

Aihara Shika.

Gadis kecil duplikat Xi Luhan itu (Sehun hanya mewarisi iris matanya saja pada Shika) memang suka sekali mandi lama-lama. Awalnya Sehan dan Shika mandi bersama, tapi Shika bilang akan menyusul karena masih sibuk berendam.

"Shika, get out from bath up! Shika mau buat oppa marah ya?!" Seru Sehan sambil bersedekap khas seorang aristokrat cilik.

"One more time!" Seru anak gadis HunHan satu-satunya di balik pintu kamar mandi.

"What do you mean about 'one more time', Lil Sis?! Oh... I see~" Sehan menarik nafas dalam-dalam lalu berteriak, "APPA! Shika—"

"Don't call appa, Big bro! I WILL FINISHED...! Aigoo..."

Yuri hanya bisa menggaruk pipinya. Dia sangat bersyukur Sehan, diumurnya yang sangat muda, mampu meladeni kebandelan Shika mengenai mandi. Usai Shika keluar dengan bathrobe biru bermotif rusa kesukaannya, Yuri bergegas memakaikan seragam TK untuk Shika.

Baik Sehan dan Shika sekolah lebih cepat dibanding anak sebaya mereka. Itu jelas karena kejeniusan Sehun dan Luhan menurun ke ketiga anaknya.

Selain kejeniusan, karakter Sehun lebih banyak mendominasi Sehan dan Shika, walau Shika punya jiwa pemberontak seperti Luhan. Jika Luhan penurut pada Sehun, maka Shika sangat penurut pada Sehan.

"Sudah selesai, oppa... Bagaimana? Shika cantik, tidak?" Shika tersenyum simpul, memamerkan tampilan pagi harinya. Seragam TK berdasar warna khas pelaut, disusul kuncir duanya. Sehan gemas. Dia mencubit pipi kedua adik gadisnya.

"Cantik!" jawab Sehan. "Wait... Where's Shixun?"

Yuri menepuk dahinya

Dia selalu ceroboh mengenai satu hal.

Kalau Sehun dan Luhan punya anak ketiga super bandel.

Xi Shixun.

"I am hele, hyung. But... Jangan thuluh aku mandi kalena aku tidak thepelti kalian. Aku tidak thekolah."

Sehun menurunkan seratus persen ciri-ciri tubuhnya serta kecadelannya pada Shixun.

Untuk sifat dan tabiat?

Percayalah, Shixun mirip sekali dengan sang ibu.

Tangan mungil Sehan memijit pelipisnya sendiri, "Hyungie mengerti, tapi kenapa kau tak mau mandi? Appa akan marah padamu."

"Pelthethan (persetan) dengan omongan tua bangka," ujar dingin Shixun. Dia masih setengah ngantuk. Piyama hitam bermotif planetnya saja masih dipakai. Tangan mungilnya tenggelam dalam lengan kebesaran. "Dia hanya appa-ku, bukan yang mengatul theluluh hidupku. Aku tak mau diatul olehnya! Hyungie lebih baik diam thaja!"

Selain Kepala Pelayan Keluarga Xi, Yuri juga merangkap sebagai Pengasuh Triple Twin sejak mereka bayi. Seharusnya Yuri terbiasa pada kata-kata kasar bocah tiga tahun bernama Xi Shixun. Hanya saja, mengapa telinga Yuri sulit terbiasa?

"Shixun, jaga sikapmu pada Sehan-oppa." Tegur kalem Shika selayaknya gadis bangsawan nan anggun. "Apa kau mau Eomma marah padamu kalau tahu Shixun tidak menurut pada Sehan-oppa?"

"Eomma tidak akan malah padaku," Shixun terkekeh sinis, "kalian membothankan. Aku mau main-main dengan Vivi thaja!"

"Vivi?" Sehan mencekal tangan mungil adik bungsunya. "Siapa lagi? Anak mana yang Shixun ajak bertengkar?"

"Anak? Nope, Hyungie... He ith (is) animal. A dog." Shixun menyeringai. "A... Meat...ball?"

"What the—"

"Apa yang thalah dali ucapan Thithun?" Shixun membulatkan mata sok polos. "Vivi thudah jadi bulat. Lagipula... Vivi hanya daging belnyawa. Diapa-apakan, Vivi takkan malah, justlu jelit-jelit thenang."

Yuri syok karena tingkah si bungsu.

Ya Tuhan, kalau Tuan Besar Oh tahu ini bagaimana? Batinnya gelisah.

"And..."

Punggung Yuri merinding.

Sehan dan Shika mendongak pada seseorang di ambang pintu.

Sedangkan Shixun berbalik tanpa ekspresi pada seseorang itu,

Oh Sehun.

Kini Sehun dan Shixun saling beradu pandang. Sepasang ayah dan anak itu memang tak pernah akur kecuali Luhan yang memintanya.

"...where's Vivi?"

Kedinginan sang ayah adalah kemarahan yang bahkan membuat Shixun—Oh Sehun jr.—mendecih.

.

.

.

.

.

"Anak kita membunuh anjing tersesat lagi."

"Siapa?"

"Shixun."

"Apa Shixun terluka? Hm... Pasti dia mendapat cakaran dari anjing itu."

Sehun tidak habis pikir dengan reaksi Luhan. Dia rela menunda jadwal penerbangannya ke Swiss, untuk bertemu klien selama beberapa hari, hanya agar bisa berdiskusi dengan Luhan. Masalah Shixun cukup gawat dan Luhan begitu santai menanggapinya.

Sehun tertawa kecil. Tersirat kelelahan di sana.

"Luhan..."

"Hm?"

"Apa ini keinginanmu? Kau ingin Sehan menguasai aset kekayaan tiga Keluarga Bangsawan, sedangkan Shixun? Kau ingin dia mengepalai bisnis kotor milik Aihara dan Xi." Cecar Sehun. "Benar, kan?"

"Jangan lupakan, Shixun disiapkan untuk menggantikanmu sebagai Bos Mafia Oh."

Sehun menertawakan sesuatu, entah apa.

"Apa?" Luhan kini menantangi suaminya. "Kau ingin mengatakan apa lagi tentang anakku, eoh? Shixun baik-baik saja. Dia hanya anak kecil yang begitu penasaran tentang suatu hal. Itu lumrah. Usianya sedang aktif-aktifnya mencari tahu."

"Tidak..." Kepala Sehun menggeleng tak terima. "Ada yang salah dengan anak bungsu kita."

"Sehun, kau—" tangan Luhan terkepal, nyaris memukul meja kerjanya. Dia memejamkan mata dramatis, sebelum melembutkan nada bicaranya. "Shixun baik-baik saja. Bisa kau camkan kenyataan itu dalam dirimu?"

"Kita tidak bisa menampik kenyataan yang ada, Lu. Shixun harus mendatangi psikiater anak. Sampai kapan kau memanjakannya? Kalau dia diajak berinteraksi di sekolah Sehan dan Shika, dia akan mengajak anak-anak di sana bertengkar. Dia cukup bermasalah dan temperamental, bahkan berani mengumpat di depan kedua kakaknya."

"Sudah kubilang itu normal. Shixun hanya anak bandel, bukan anak tidak waras. Apa salahnya menjadi anak yang aktif?"

"Lu, kau ini pura-pura bodoh atau apa?" Sehun menjalin jemarinya. "Dia membunuh hewan-hewan, dan seringkali menyirami taman mawarmu dengan darah hewan-hewan itu. Dia.. Shixun..." Sehun memijit pelipisnya. Sebagai ayah dia benar-benar pusing.

Luhan hanya memandang datar suaminya. Parahnya, dia asyik menyeruput teh hijau seakan pembicaraan tentang Shixun hanya seputar permainan anak-anak.

"Bagaimana bisa ada bocah balita sepertinya, Lu?"

"Dia hanya penasaran, Sehun."

"Menyirami taman mawarmu dengan darah kau bilang 'hanya penasaran'?" tantang Sehun. "Ada yang tidak beres pada dirinya, aku tahu itu. Xi Shixun memang sangat mirip dengan—"

"Eomma..."

Balita yang merupakan duplikat Sehun nyaris seratus persen—Xi Shixun—langsung berlari kecil kemudian memeluk kaki ibunya. Luhan meladeni anak itu. Memeluknya. Menciumnya. Kemudian melirik Sehun.

"Kita hentikan saja pembicaraan tak penting ini."

"Terserahmu, Lu. Kuharap kau bisa memposisikan dirimu sebagai ibu yang mengerti kondisi anak bungsu kita. Pribadinya akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain dimasa depan."

Sehun bergegas pergi. Dia juga sedikit muak pada keras kepalanya Luhan. Ketukan langkah sepatu pantofel Kepala Keluarga Bangsawan Oh itu terdengar menggema, sekaligus diliputi amarah.

Belum sampai pintu, Shixun berkata,

"Apakah appa menganggap Thithun gila?"

Langkah Sehun terhenti.

"Shixun-ah..."

"Eomma jangan thedih." Tangan mungil Shixun merangkul leher sang eomma. "Appa adalah appa-nya kami. Appa tahu apa yang telbaik untuk Thithun. Ne... Appa?"

Perkataan balita itu seakan mengultimatum Sehun,

"Jika kau memberiku 'yang terbaik', apakah itu akan menyembuhkanku, appa?"

Disusul kalimat lain,

"Appa takkan mengecewakan kita. Eomma tahu kan, appa adalah yang telbaik."

Dengan makna tersirat,

"Jika 'yang terbaik' darimu tidak menyembuhkanku, kau hanya akan mengecewakan eomma..."

Sehun memandang anaknya tak habis pikir.

Apakah Sehun berlebihan jika Shixun lebih 'cerdas' dari yang dikiranya?

"Sehun..." Luhan menghela nafas. Dia menggendong Shixun sambil mendekati Sehun, "aku seharusnya sadar dari dulu kau selalu bertindak hanya untuk kebaikanku dan anak-anak. Maaf atas sikapku tadi." Sesalnya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, sayangku. Perkataanku tadi mungkin tak hanya menyakitimu tapi Shixun juga. Aku minta maaf untuk itu."

Luhan menggelengkan kepala.

Sehun menatap Shixun penuh curiga. Bocah balita itu tersenyum, dan entah kenapa persis senyum misterius khas Oh Sehun.

Xi Shixun benar-benar perpaduan sempurna dari Xi Luhan dan Oh Sehun.

"Aku akan mengikuti permainanmu, bocah." Sehun menghiraukan ekspresi bingung Luhan. Dia lebih memilih mencium kening Luhan lalu pelipis Shixun. Sehun berbisik di telinga anak bungsunya,

"Dasar bocah iblis."

Shixun membalas sambil nyengir,

"Dan bocah iblith ini punya iblith tua bangka thebagai ayahnya."

Maknanya,

'Dan bocah iblis ini punya iblis tua bangka sebagai ayahnya.'

Hubungan Sehun dan Shixun bisa dikategorikan sebagai hubungan ayah anak yang sangat aneh.

.

.

.

.

.

Jika Sehun akan segera terbang ke Swiss, Luhan masih sibuk mengurusi agensi.

Shixun akhirnya ditinggal sendiri dalam kemewahan Mansion Xi.

Bocah itu, dan kedua kakaknya, sangat memahami kesibukan kedua orang tuanya. Namun selayaknya anak kecil, pasti mereka punya berbagai cara agar kedua orang tua mereka terus memberi banyak perhatian.

Sehan lebih memilih bersikap dewasa terlalu cepat, disamping kewajibannya sebagai si sulung. Dengan itu, orang tuanya akan bangga padanya dan menyiraminya banyak pujian.

Shika beda lagi. Dia akan selalu mengekori jejak Sehan. Selalu memposisikan diri sebagai 'Sehan nomer dua'. Walau terkadang Shika agak 'bobrok' dalam bersikap, persis sang adik.

Lain Sehan, lain Shika, lain pula Shixun. Si bungsu satu itu akan bersikap rakus pada kasih sayang Luhan hingga kedua kakaknya merasa Luhan itu pilih kasih. Ya, Shixun sangat manja pada Luhan. Sejak kecil saja Shixun paling tidak bisa meminum asi eksklusif dari botol.

Selain itu, Shixun terus mencari perhatian sang ayah lewat kenakalannya. Jika sang ayah menganggap Shixun 'butuh perhatian khusus', maka Shixun tak masalah menjadi 'anak aneh'.

Cara berpikir Shixun memang lebih licik dari kedua kakaknya.

Seperti biasa, apabila kedua kakaknya tengah sekolah, Shixun justru berkutat dengan alat tanam. Dia ditemani Cha Eunwoo. Salah satu pengawal Luhan.

"Dalah Vivi thedikit amith, Eunwoo-ahjuthi."

"Maka berhentilah melakukan hal semacam ini."

"Nope! Bunga mawal kethayangan eomma haluth dibeli githi (gizi) khuthuth agal tetap indah dipandang," tangan kecil Shixun menyiram salah satu pekarangan bunga mawar, dengan gayung kecil berisi campuran darah dan air. Baunya sedikit amis.

Tanpa sepengetahuan siapapun, Eunwoo-lah yang membantu Shixun dalam melaksanakan aksi sadis anak itu. Walaupun Eunwoo juga bertugas melaporkan segala tingkah Shixun pada Sehun.

"Thithun akan melakukan apa tjaja untuk eomma.. apapun... Telmathuk memukul kepala penjahat eomma, dengan palunya Thol (Thor), hingga hancul."

Punggung Eunwoo menyengat panas akibat tawa dan cekikan Shixun. Pria itu tak mampu mengelak perintah si bungsu, karena Shixun begitu culasnya mengetahui rahasianya.

Rahasia... Bahwa Eunwoo menyimpan banyak foto telanjang Luhan di kamarnya. Foto-foto itu inginnya Eunwoo bakar setelah Luhan menikahi seorang pria. namun dasarnya Eunwoo sebagai pria koleksi kesepuluh tidak bisa move on, alhasil Eunwoo terjebak.

'Bocah iblis ini, sampai kapan dia menyiksaku dengan kesadisannya?' rutuk Eunwoo. Posisinya serba salah. Di satu sisi dia menuruti perintah sadis Shixun, di sisi lain dia melaporkan segala kegiatan Shixun pada Sehun.

"Darahnya sudah habis, Tuan Kecil?"

"Ne!"

"Ayo kemba—"

"Ahjuthi...!"

"Ya, Tuan Kecil?"

"Chanyeol-thaem. Panggilkan dia untukku. Aku ingin belajal lagi padanya!"

Chanyeol masih menduduki posisi CEO XiLu Corporation serta perwakilan Xi Luhan di pertemuan antar bangsawan. Tugasnya pun ditambah dengan menjadi Guru Pribadi Sehan dan Shixun.

"Ne, Tuan Kecil."

Eunwoo menyanggupi permintaan Tuan Kecilnya.

.

.

.

.

.

EXO sudah sepuluh tahun berkarier di bawah agensi AA ent yang sampai saat ini eksis dengan nama Lu Ent. Artinya, EXO sudah siap mengakhiri karir mereka di bawah naungan Lu Ent mengingat masa kontrak mereka habis. Maka, Boyband tersebut sudah menyepakati satu keputusan di antara memperpanjang masa kontrak, atau berhenti sesuai kontrak.

Sebelum membicarakan perihal kontrak pada petinggi Lu Ent dan jajarannya, Suho dan kawan-kawan menemui Luhan. Lokasi pertemuan di dorm EXO, tanpa adanya manager atau siapapun kecuali Luhan yang dikawal Namjoon, serta member EXO sendiri.

"kalian boleh meneruskan atau mengakhiri kontrak," kata Luhan pada Suho. "Dan jika kalian ingin menggunakan nama EXO serta nama panggung kalian di luar naungan agensi, pastikan kalian memenangkan pengadilan. Tapi, perlu kalian ingat, apapun 'nama brand' kalian, fans tidak menggemari kalian karena nama EXO, melainkan diri kalian sendiri."

Luhan melanjutkan, "aku memang pemilik saham terbesar, tapi tidak serta merta menyerahkan nama 'EXO' untuk kalian. Kita harus menempuh jalur yang 'fair'. Dan apapun keputusan dari pengadilan, kuharap kedua belah pihak bisa menerimanya."

"Mengenai nama EXO, nama panggung kami, atau perpanjangan kontrak, masih ada satu bulan untuk menyampaikan keputusan kami pada petinggi agensi," Suho si leader mewakili nama EXO. "tapi keputusan kami sudah bulat dari beberapa tahun lalu. Apapun itu, kami akan terus bersama-sama entah di dalam atau di luar naungan Lu Ent."

Luhan memainkan ponselnya saat Suho berbicara padanya. Cukup angkuh dan kurang sopan namun Luhan tak peduli pandangan orang. Dia kemudian bicara sambil melihat layar ponsel, "dan, meskipun lightstick kalian tidaklah berwarna keperakan bak bulan seperti eribong, percayalah kami akan tetap memberikan kalian yang terbaik, sepadan dengan apa yang kalian berikan pada kami. Bahkan... kami bisa jamin, yang kami berikan melebihi bulan sekalipun."

Mata Suho membulat, sebelum tersenyum lirih dan lembut khas permen kapas, "saya terkesan dengan perkataan anda."

"Sebenarnya, itu bukan perkataanku..." Luhan menunjuk salah satu tweet di Twitter. Ada salah satu akun mengatakan kalimat yang sama dengan Luhan. "...aku murni membaca ucapan salah satu fans kalian."

"Kau terlalu percaya diri, Hyung." Ejek Richard mendapat tawa dari beberapa member. Sontak Suho menyimpul senyum malu-malu.

Baixian memberi tiga tusuk strawberry bersiram sirup, dengan tiga buah dalam satu tusukan, pada Luhan. Wanita bangsawan itu menerimanya. Tatapannya tersirat tanya, "apa maksudnya ini?"

Kekehan dilontarkan Baixian, "habiskan, My Lady. Itu ucapan terima kasih dari kami."

"Aku tidak terlalu suka manis, tapi..." Luhan mengunyah satu buah strawberry. Bunyi kunyahan berisik dari Luhan justru terdengar anggun. "Ini enak."

"Sembilan," Namjoon berceletuk. "Jumlah strawberry-nya ada sembilan."

Luhan menelan kunyahan buah kedua. "Oh ya? Hm... Aku mengerti sekarang. Kau ternyata cukup teliti, Namjoon."

"Apapun untukmu, My Lady," ujar Namjoon di balik punggung Luhan. Sebagai pengawal, dia harus sigap menjaga Luhan termasuk berada di dekatnya.

Sembilan anggota EXO, yang sudah melewati berbagai macam rintangan entah dari media, agensi, pemerintah, bahkan orang-orang kaya, berdiri. Luhan mendongak pada mereka dan mata rusanya membulat lucu saat sembilan member EXO berseru kompak,

"Hana dul set...! We are one!"

Mereka membungkuk bersamaan.

"Khamsahamnida, Luhan-noona!"

Sontak Luhan tertawa kecil. Tawanya sungguh cantik. Berkilauan. Seolah di sekitar Luhan dikelilingi banyak eribong keperakan.

"Astaga, hahaha, kalian sangat menggemaskan."

Kesembilan pria duduk. Mereka hanya bisa menyeringai tengil satu sama lain.

"terima kasih kembali. Kalian sudah sangat membantuku selama tiga tahun ini. Well, jarang sekali seseorang atau sekelompok mendapat kalimat 'terima kasih' dari seorang Lady sepertiku," kecongkakkan Luhan kambuh lagi.

Beberapa member EXO saling tukar pandang, lainnya hanya tersenyum kaku.

"Kalau kalian mau meneruskan kontrak, aku yakin fandom kalian akan membeli beberapa persen saham Lu Ent untuk label kalian. Kalau kalian mau, aku bisa membantu dan mengatasnamakan uangku adalah uang fandom."

Ucapan Luhan bagai ultimatum yang mengejutkan jantung. Memucatkan wajah member. Membuat mereka gugup. Memunculkan keringat tipis di pelipis mereka.

"Serius?" Sontak pinggang Odult disikut Kai. "Sakit, bodoh!" desis Odult.

"Aku serius."

"Tidak perlu, Lady Luhan," ucap Suho sungkan. "Yang anda lakukan selama ini sudah lebih dari cukup. Terlalu lebih malah. Biarkan diakhir kami dan fandom kami yang akan menentukan keputusan mana yang akan kami ambil, serta jalannya karir kami. Tanpa kesulitan-kesulitan yang kami dapat dari segala unsur, termasuk agensi, kami tidak akan tahu sekuat apa hubungan kami dengan fandom kami."

Perkataan Suho EXO mengingatkan Luhan pada posisinya sebagai Kepala Keluarga Xi dan Kepala Mafia Xi. Dengan posisi setinggi itu, Luhan akui ada banyak kesulitan dari segala sisi. Tapi tanpa semua itu, Luhan takkan tahu seloyal dan sekuat apa pekerja XiLu Corporation serta anggota Mafia Xi.

"Chanyeol yang akan mewakiliku dalam rapat agensi berikutnya, rapat yang menentukan jalan karir kalian." Luhan mengendikkan bahu, "apapun keputusan kalian setelah ini, itu diluar kewenanganku."

"Hm, kami tahu itu."

Luhan bangkit dari duduknya. Usai merapikan rok spannya, dia mengulurkan tangan pada Suho sewaktu mereka berhadapan.

"Senang bisa bekerja sama dengan anda, Tuan Muda Kim."

"Ya, Lady Luhan." Suho, yang suatu saat akan menjadi Kepala Keluarga Bangsawan Kim, balas menjabat tangan Luhan.

Ketukan heels Luhan terdengar bernada sewaktu meninggalkan kesembilan member di dorm mereka. Namjoon membungkuk hormat pada mereka kemudian mengekori Luhan.

Suho memicingkan mata pada Namjoon. Mengartikan satu kecurigaan besar. Dan ketika Odult menggerutu, "aku benci pengawal itu." Suho membulatkan matanya.

"Maknae, kenapa kau malah membenci pengawal yang sudah kita kenal tiga tahunan ini?" Sindir Richard sambil merangkul partner sub unitnya. Dia asyik nyengir untuk menyebarkan virus kebahagiaan ke seluruh ruangan.

"Dari tadi pria itu bolak-balik melihat ponselnya, seperti mengecek sesuatu. Seperti orang yang gelisah walau wibawanya masih ada sih." Baixian bersedekap. Muka imut pria itu berangsur suram. "Karena gerak-gerik gelisahnya, aku memecah konsentrasinya dengan memberikan Lady Luhan tiga tusuk strawberry tadi. Dan, setelah aku memberikannya, pengawal itu langsung fokus kembali pada Lady Luhan."

"Kau licik juga, heh?" Sindir Kai.

"Aku jadi punya firasat buruk," Jongdae melirik partner kerjanya satu persatu. Dia dirubungi kecemasan. "Apa sebaiknya kita hubungi suaminya?"

"Kita tidak punya nomor ponsel Tuan Besar Oh," Baixian menggaruk rambut semir birunya. Dia mengerang frustasi, "Ya Tuhan, apa kita hubungi Lady Luhan saja?"

"Kecurigaan kita hanya akan dianggap angin lalu oleh Lady Luhan," ucap Suho. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.

Semua member menatap leader mereka penuh pengharapan.

Demi apapun, mereka mengkhawatirkan wanita yang sudah mereka anggap 'noona' kandung.

"Siapa yang Hyung hubungi?" tanya Odult.

"Kembaranku."

Kim Suho menghubungi saudara kembarnya, Kim Junmyeon. Saudara yang bernasib sama seperti Sehun sebelum menikahi Luhan. Sebelum menjadi psikiater, Junmyeon keluar dari silsilah Keluarga Bangsawan Kim. Salah satu alasannya karena Junmyeon ingin memperjuangkan cintanya pada salah satu perawat di panti—Bae Irene. Selebihnya, beberapa masalah internal tentang sepasang saudara kembar ini terlalu rahasia dan sebaiknya tetap seperti itu.

Suho menjentikkan jari saat kontaknya tersambung dengan 'hyung'nya.

"Hyung, kau sempat curhat padaku tentang sahabatmu, Oh Sehun, kan? Suaminya Lady Luhan?"

["Ya, dongsaeng. Ada apa? Tunggu, nada suaramu terdengar cemas. Apa terjadi sesuatu padamu? Teman kencanmu diciduk disfack?"] Tawa jenaka terdengar namun Suho hanya mendatarkan muka.

"Aku serius, Hyung! Aigoo! Dan lagi, apa hubungannya Tuan Besar Oh dengan kabar dating?" Suho menggelengkan kepala tak habis pikir, "oke... Kembali ke topik. Aku ingin tahu, apa kau mengenal Namjoon? Bisa kau sampaikan perkataanku pada Tuan Besar Oh? Siapa tahu beliau mau mendengarkan ucapanmu, kau kan sahabatnya."

["Tenangkan dirimu, dongsaeng. Sudah tenang?"] Suho menggumam. ["Bagus. Jadi, apa yang ingin kau katakan padanya?"]

"Pengawal Lady Luhan yang bernama Namjoon... Sepertinya dia punya niat buruk pada Lady Luhan..."

.

.

.

.

.

"Kita akan menjemput Sehan dan Shika. Aku yakin mereka sudah menunggu kita."

"Yes, My Lady..."

Namjoon membukakan pintu lamborgini di jok penumpang untuk Luhan. Setelah wanita itu duduk dengan elegannya, Namjoon bergegas menduduki kursi setir dan mulai menjalankan mobil.

Salah satu koleksi mobil mewah Luhan kini meninggalkan dorm EXO. Wanita itu tersenyum lirih memandangi setusuk strawberry lapis sirup kemudian memakannya hingga habis. Setelah membuang tusukannya ke tong sampah kecil, Luhan berdeham kecil.

"Anda haus, My Lady?"

"Ya. Kita perlu berhenti dulu untuk membeli minum."

"Tidak perlu, My Lady, saya sudah membeli beberapa botol minuman." Mobil Luhan berhenti karena komando lampu merah. Namjoon sedikit merendahkan badan, mengambil sebotol air putih kemudian memberikannya pada Luhan. "Ini masih baru, My Lady. Anda tenang saja, saya belum meminumnya."

Luhan mengendikkan bahu acuh tak acuh. Dia menerima botol itu kemudian membuka lalu meminum isinya. Tenggorokan Luhan yang dipenuhi gula-gula sirup kini mendingin. "Ugh..." Respon Luhan. Dia merasa lebih segar sekarang.

Lampu merah sudah berubah hijau. Mobil dijalankan. Namjoon melirik Luhan dari kaca tengah mobil.

Mata rusa Luhan mengerjap-ngerjap. Dahinya mengernyit dalam. Suaranya sengau ketika berkata, "aku sepertinya kelelahan, Namjoon. Bangunkan aku setelah sampai ke sekolah anak-anak."

"Yes..."

Ujung bibir Namjoon tertarik menyeramkan ketika Luhan sudah terlelap dengan cantiknya.

"...My Lady."

.

.

.

.

.

Eunwoo berdiri di samping kursi yang diduduki Shixun. Dia memperhatikan Shixun. Bocah itu belajar tentang sisi psikologis bisnis. Shixun dan Chanyeol—Guru Pribadinya—duduk berhadapan. Di tengah mereka terdapat berbagai macam kertas.

Nampaknya Shixun berminat pada bisnis, dan lebih berminat ketika Chanyeol berkata, "menurut survei, yang kredibel pastinya, CEO adalah pekerjaan yang paling diminati para psikopat. Itu cukup masuk akal mengingat psikopat diisi orang-orang cerdas, manipulatif, namun karismatik. Tapi tentu saja, suatu saat, anda mungkin akan jadi sisi gelap Tuan Kecil Oh. Anda mungkin tidak menjadi CEO atau Presdir, melainkan Kepala Mafia? Hm... Bisa saja, kan?"

"Mafia? Kedengalannya kelen!"

"Benar, Tuan Kecil Xi, mafia itu memang keren tapi mereka tidak bekerja untuk bunuh membunuh seperti di film-film."

"Film-film apa? Thithun ingin nonton, Chanyeol-ahjuthi!"

"Eh? Mian... Anda masih terlalu kecil untuk melihat film adegan penuh pertengkaran. Akan lebih baik jika anda membaca grafik saham. Lihat? Anda harus memahami segala unsur tentang bisnis karena organisasi mafia juga berhubungan dengan bisnis dan politik."

Usia Shixun saat ini seharusnya belum mampu memahami ucapan Chanyeol. Apa yang diharapkan dari bocah tiga tahun?

Namun perlu diingat, Shixun adalah anak kandung Lady Luhan dan Tuan Besar Oh Sehun.

Shixun sudah banyak dicekoki pelajaran tata krama walau prakteknya nyaris nol besar. Dia juga bisa membaca walau belum lancar. Empat perhitungan dasar dikuasainya dengan baik. Sayangnya, grafik-grafik di hadapannya malah membuatnya pening. Akan tetapi, penjelasan Chanyeol terdengar seperti cerita anak-anak. "Peluang pasar itu seperti... Apabila kita menjual keju pada para tikus seperti Jerry. Apakah keju yang kita jual akan laris?"

"Ya!" Jawab Shixun penuh semangat.

"Nah! Berarti Tuan Kecil Xi bisa membaca peluang pasar. Di mana... Tuan Kecil Xi tahu apa saja barang-barang yang akan habis dijual pada tikus-tikus, kucing-kucing seperti Tom, atau teman-temannya Tuan Kecil Oh dan Nona Kecil Aihara."

"Jadi, jika Thithun bitha baca peluang pathal, Thithun bitha dapat banyak uang?"

"Bingo! Tapi menjadi bisnisman sukses seperti Tuan Besar Oh dan Lady Luhan tidak cukup dengan itu. Masih ada lagi lho, Tuan Kecil Xi mau tahu?"

Tangan Shixun terkepal penuh semangat di atas meja. Senyumnya merekah.

"Ne ne!"

Ponsel Eunwoo bergetar di balik suit hitamnya. Usai meminta izin pada Shixun, Eunwoo berjalan menuju pintu ruang belajar Triple Twin. Kemudian dia mengangkat ponselnya.

"Yeobseyo, Namjoon-hyung. Tumben kau menelfonku, Hyung. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Lady Luhan?" Eunwoo memelankan suaranya agar Shixun tidak mendengar. Bisa gawat jika Tuan Kecil Xi itu menyangka eomma-nya ada masalah.

["Tidak. Lady Luhan baik-baik saja. Ehm... Begini, Lady Luhan masih membicarakan sesuatu dengan para member EXO. Bisa kau yang menjemput Tuan Kecil dan Nona Kecil?"]

"Siap, Hyung. Apa itu saja?"

["Ya."]

Namjoon langsung memutus kontak sepihak. Eunwoo memasukkan ponselnya. Dahinya mengernyit. "Apa aku salah dengar?" Monolognya. "jika Lady Luhan masih menemui EXO, kenapa aku mendengar suara mesin mobil? Oh! Kurasa mereka mengobrol di dalam mobil. But, wait... Tahun ini bukannya EXO lengkap sembilan orang ya? Mobil Lamborghini mana muat?" Eunwoo menggaruk kepalanya bingung.

"Aduh!"

"Aigoo... Tuan Kecil Xi, anda harus hati-hati."

"Ya Tuhan, Tuan Kecil!" Desis panik Eunwoo. "Oh tidak, aku bisa dicincang Lady Luhan!"

Refleks Eunwoo berlari kecil mendekati Shixun. Dengan panik dia melihat ujung telunjuk Shixun tertusuk bulpoin. Pria itu gesit mengambil kotak P3K sebelum Chanyeol berdiri. Chanyeol cukup terkesima melihat telatennya Eunwoo mengobati luka kecil Shixun.

Di antara pengawal Xi lainnya, Shixun memang lebih nyaman dan dekat dengan Eunwoo.

Eunwoo meringis padahal Shixun yang terluka. Pria tampan itu sangat lembut pada anak-anak. Sama sekali tidak tega melihat muka memerah Shixun.

Shixun menangis.

"Apa lukanya sakit, Tuan Kecil?" tanya Eunwoo penuh perhatian.

"Eomma..."

"Ne?" Koreksi Chanyeol dan Eunwoo berbarengan.

"Eomma..." Shixun terisak keras. "EOMMA...!"

Eunwoo dan Chanyeol saling memandang.

Firasat buruk pun menaungi seisi ruangan.

.

.

.

.

.

"Yang benar saja."

Itulah tanggapan jengah Sehun pada Jisung dan Jennie.

Jisung dan Jennie adalah pengawal pribadi Sehun sebelum pria itu keluar dari silsilah Keluarga Oh. Enam tahun ketiganya tidak berkomunikasi, hingga akhirnya saat kehamilan Luhan, Sehun meminta mereka kembali menjadi pengawalnya sampai setelah keduanya cukup usia untuk pensiun.

"'apanya yang benar saja', Tuan Besar Oh?" Jennie mengacak pinggang.

"Aku sudah membeli tiket ke Swiss walau harus ganti jam penerbangan karena aku terlambat. Ini akan membuang-buang uang jika kita menaiki helikopter milik Keluarga Bangsawan Oh."

Sehun menengadah. Cukup jengah melihat helikopter terparkir angkuh di roof top Mansion Utama Oh.

"Siapa suruh terlambat!" Gerutu Jennie lagi.

"Ayolah... Aku terlambat juga karena harus membicarakan sesuatu pada Luhan mengenai anak bungsu kami." Sehun menghela nafas jengah.

"Maksud anda Tuan Kecil Oh?"

"Bukan," koreksi Jisung. "Tuan Kecil Xi."

"Ish! Tuan Kecil Oh tetap the best!" Jennie kini menggemari Sehan persis Fangirl.

"Tapi bagi saya, Tuan Kecil Xi lebih mirip Bos Sehun."

"Jisung, jangan panggil aku 'Bos Sehun'. Aku tidak sedang berperan sebagai Kepala Mafia Oh." ujar Sehun jengah.

Jisung memandangnya datar tapi mengangguk. Menuruti perintah.

"Baiklah, kita sudah terlanjur ada di sini." Sehun mendengus kala Jennie terkekeh senang. Dia berhasil menipu Sehun agar bisa ke Mansion Utama. "Siapa pilotnya?"

"Saya," jawab Jisung.

"Oke," Sehun tahu keahlian Pengawal Oh memang tidak ada yang 'biasa'. Jennie dulunya mantan anggota mafia di Italia, sedangkan Jisung mantan pilot pesawat tempur termuda milik Korea Selatan. Karena Sehun adalah pria paling dicari sewaktu dirinya muda, alhasil salah satu Paman Oh memilih mereka untuk mengawal Sehun.

"Ya Tuhan, aku ingin dipeluk Luhan... Aku ingin hari ini berakhir dengan baik..." Erang Sehun setelah Jisung sudah siap diposisinya.

"Tuan Besar Oh, ayo naik!" Seru Jennie di samping undakan helikopter.

Ponsel Sehun bergetar. Sehun menghentikan langkah. Dia mengangkat tangan, "aku terima telfon dulu." Tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinganya. "Yeobseyo, Junmyeon-hyung...!"

"Kan bisa di dalam helikopter!" Seru Jennie dihiasi suara berisik mesin dan baling-baling helikopter. "Anda tidak mau terlambat kan, Sehun-oppa!" Kali ini Jennie merengek sambil melupakan posisinya.

"Sebentar saja, Jennie!" Teriak Sehun sambil menjauh.

Jennie mengangguk saja.

"Ne, Hyung. Aku masih di Mansion Utama Oh. Aku belum berangkat ke Swiss," kata Sehun, menjawab pertanyaan Junmyeon di seberang sana.

["Sehun-ah, dengar baik-baik dan jangan memotong ucapanku. Aku mendapat telfon dari Suho, adik kembarku yang adalah Leader EXO. Dia menjelaskan, para member EXO merasa ada yang aneh dengan pengawal Lady Luhan. Siapa ya namanya.. ah... Namjoon! Karena itulah Suho menghubungiku tepat setelah Lady Luhan pergi dari dorm EXO."]

Tubuh Sehun seolah membeku.

["Suho juga bilang Lady Luhan hanya didampingi Namjoon. Tidak pengawal lain. Tidak supir."]

"Tidak supir?" Ulang Sehun.

["Nde. Dan... Hanya itu yang ingin aku sampaikan."]

"Terima kasih, hyung. Aku akan segera kembali ke Mansion Xi."

Belum Junmyeon menjawab, Sehun memutus kontak. Alangkah terkejutnya dia saat melihat nama kontak Chanyeol menghubunginya berkali-kali.

Firasat Sehun semakin buruk.

Dia menelfon balik Chanyeol.

"Ada apa menelfonku, Chanyeol-hyung?"

["APPA..."] pekikan Shixun menjawab pertanyaan Sehun. [EOMMA...! EOMMA TIDAK MENJEMPUT HYUNGIE DAN NOONA...! Padahal eomma bilang kalau eomma yang menjemput Hyungie dan Noona... Appa... Eomma di mana?!"] Shixun semakin terisak. Terkadang batuk-batuk kering karena tersedak.

Mungkin Sehun bisa mengabaikan dugaan tak berdasar para member EXO, tapi jika Shixun—yang sejak bayi tak pernah bisa lepas dari Luhan—menangis hanya karena eomma-nya tidak menjemput dua kakaknya...

...Sehun patut khawatir.

"Hyungie, Noona, dan Shixun ada di rumah?" suara tenang Sehun menurunkan frekuensi isakan Shixun.

["N-ne..."]

"Dengar, sayang, eomma akan baik-baik saja. Percayalah pada appa. Jika tidak begitu, appa pastikan orang yang jahat pada eomma dihukum berat."

["Kalau pellu, dijadikan baktho!"]

Aura dingin Sehun langsung menguar.

"Ya, sayang. Ya."

Jennie dan Jisung bisa merasakan kedinginan hati Sehun. Mengerti Sehun takkan bisa meninggalkan Korea, Jennie menyuruh Jisung mematikan mesin helikopter. Keduanya kini mendekati Sehun.

Setelah Chanyeol, Sehun menghubungi nomer Jongin.

"Jongin-hyung, apakah kau bisa melacak keberadaan Luhan?"

.

.

.

.

.

Awalnya mengerjap pelan.

Lalu memicing akibat sinar lampu menyeruak di sela kelopak mata.

"Ugh..."

"Hai, Baby Lu."

'suara itu?'

Mata Luhan melebar horor.

"Di-di mana?"

"Hotel."

Usapan tangan nan hangat merengkuh perut datar Luhan. Hanya karena itu, tubuh Luhan gemetar hebat.

'apa yang terjadi padaku?'

"Jika aku tidak ingat kau melahirkan tiga bayi sekaligus, mungkin aku mengira kau perawan. Oh baby Lu... Kau masih cantik, persis saat aku menyetubuhimu bersama David."

Kedua tangan Luhan memberontak, namun terhalang karena diikat borgol yang membuat pergelangannya perih. Borgol itu dikaitkan ke kepala ranjang. Dalam beberapa detik akan menyetrumkan listrik.

"Argh!"

"Nikmati ya, sayang... Bukankah ini fetishmu? Sesuatu yang ekstrim?"

"Bajingan kau, Kris! Anghh..." Luhan merasa tubuhnya sangat sensitif. Mudah geli. Mudah bergejolak. Mudah terpantik gairah. Vaginanya sudah basah dan becek karena jilatan pria yang bukan suaminya.

Dalam hati, Luhan merutuk betapa lemahnya dia sebagai wanita.

'kumohon jangan terangsang... Kumohon jangan orgasme...!'

"AARRGGHH...!"

Tubuh atas Luhan melengkung ke atas. Sambil menangis, merasa hina, tubuhnya merasakan kenikmatan dari lidah pria yang telak merusak masa remajanya.

"Suka, Baby Lu?"

Woo Kris mengelus bibir bawahnya yang berkilau karena pancaran orgasme Luhan. Dia menyeringai saat tubuh Luhan menggeliat tak karuan.

Luhan merasa semakin hina. Dia telanjang, sedangkan Kris memakai pakaian lengkap dan celana melorot sampai lutut, membiarkan penisnya mengacung. Tubuh telanjang Luhan dibalik, dipaksa menungging. Gejolak panas birahi semakin menyesakkan dada. Yang dipanggilnya dalam setiap desahan hanya nama suaminya. Dalam batinnya, dia terluka sebagai wanita.

'Sehun... Tolong aku...'

Kris menerobosnya tanpa ampun. Memukuli pantatnya persis jalang. Rambutnya ditarik, borgolnya tak lagi mengalirkan listrik tapi menyakitkan tangannya. Kris menungganginya seakan Luhan hanyalah kuda betina, bukannya wanita yang dicintai. Rambut coklatnya ditarik sampai rasanya tercabut dari kepala.

Dalam tiap dorongan dan hentakan, Kris mendesahkan namanya.

Luhan mengutuk tubuhnya yang tak bisa melawan perlakuan senonoh Kris.

'Jangan orgasme... Berhentilah orgasme... Ah, sial!... mengapa tubuh wanita sesensitif ini?! Selemah ini?!'

Luhan mengerang. Orgasme keduanya berlangsung dahsyat.

"Se-sehun...ahhh... SEHUN..."

"Kau salah mendesahkan nama, pelacur!"

PLAK...!

"Argh! Sa-sakit..."

Pantat Luhan ditampar terlalu keras hingga cap tangan Kris menempel di sana.

"Cu-cukup..." Luhan kembali kewalahan kala Kris menghentaknya lagi. "Cukup!"

"Tidak akan pernah cukup, My Lady."

Air mata Luhan menderas.

"Nam...joon?"

Dan dalam hentakan Kris, masih menungging, Namjoon dengan bejatnya meraih rahang Luhan lalu mencium bibirnya rakus. "Anda terangsang hebat, bukan?"

'Apa... minuman yang diberikan Namjoon padaku... Sudah diberi perangsang?'

Luhan pun terlambat mengerti ketika dia mengingat apa yang terjadi di dalam mobil.

"Chanwoo, kau boleh bergabung."

"Ja-jangan... Namjoon..."

Tubuh Luhan menggigil ketakutan. Isakannya kian keras.

Seorang Lady Luhan yang terhormat dilecehkan? Itu lebih baik.

Tapi dikhianati?

"Se...jak...kapan ka-kau mengkhianatiku, Namjoon-oppa?"

Hentakan Kris terhenti.

Namjoon tersentak saat Luhan memangilnya 'oppa'.

"Sejak aku dianggap anak sendiri oleh Xi Luxian."

"Oh... Sudah cukup lama, rupanya..."

Sambil menangis lirih, Luhan memandang Chanwoo. "Annyeong... Su-sudah lama kita tidak saling bicara, Chanwoo-ya..."

Chanwoo kini ada di samping Namjoon. Pria itu terkekeh sinis, "langsung saja kita menghajarnya, Hyung. Foursome lebih asyik."

Luhan tertawa, tersirat kemalangan akan rasa sakit hati. "lakukan apa saja padaku. Sampai aku matipun tak apa."

'karena aku lebih tak sanggup jika Sehun melihatku semenjijikkan ini?'

"Baiklah," kata Chanwoo. Dia mulai melepaskan celananya, lalu menyodorkan kejantanannya pada majikannya. "Bisakah kau menghisapnya?"

Luhan diperkosa Kris. Dan sebentar lagi, Namjoon yang adalah Pengawal Luhan sejak lahir serta Chanwoo sebagai Pria Koleksi Kedua Luhan, akan menyetubuhinya juga.

Luhan merasa sangat dikhianati. Untuk kesekian kalinya,rasa percayanya dikhianati.

Dia awalnya curiga, namun perasaannya sebagai wanita yang mudah mengasihi seseorang, ternyata berimbas pada harga dirinya. Luhan mengabaikan segala pertanda yang ada, hanya untuk menampik orang-orang tersayangnya sangat tega menyakitinya.

Namjoon perlahan mundur. "Kalian saja... A-aku tidak bi—"

"Hanya karena Luhan memangilmu 'oppa', kau tidak mau menikmatinya?" Kris kembali membalikkan tubuh Luhan seakan Luhan hanyalah boneka seks. Tatapan mata Luhan sudah kosong.

Ya, dia persis boneka seks sekarang.

"Kris. Kuperingatkan! Aku menuruti seluruh perintahmu demi kehancuran Keluarga Xi. Dan agar pria manapun jijik padanya. Aku akan memilikinya lain kali. Tanpamu. Dan tanpa Chanwoo." Namjoon mundur beberapa langkah. "Silahkan kalian nikmati hidangannya."

"Baiklah, Chanwoo... Kini kau boleh membalaskan dendammu padanya. Dia sudah terlalu sering pilih kasih padamu." Provokasi Kris.

Chanwoo melepas borgol di tangan Luhan. Dia memposisikan diri berbaring di bawah Luhan.

"Kau benar, Pyeha..."

Namjoon menyaksikan adegan perkosaan itu. Mukanya datar lebih ke pucat pasi.

Luhan memberi senyum lirihnya untuk Namjoon.

Tanpa suara, namun diiringi hentakan kasar dari Chanwoo dan Kris, Luhan berkata pada Namjoon.

"Terima kasih, Namjoon-oppa..."

Namjoon memalingkan kepala. Tangannya terangkat untuk menghapus air matanya.

Dalam adegan perkosaan yang Luhan alami, otaknya tersengat suatu memori yang lama terpendam.

Memori yang dulunya 'disembunyikan'.

"Lulu-noona! Apa yang Lulu lakukan?"

"Mau coba, Hunhun?"

Dalam ingatan Luhan, dia dipanggil 'Lulu' oleh bocah lucu berusia tujuh tahun. Pipi bocah itu memerah malu ketika Luhan versi tujuh tahun membuka seluruh pakaiannya. Luhan telanjang di atas ranjang. Seakan dia menyuguhkan tubuhnya untuk bocah itu pandangi.

Bocah yang dipanggilnya 'Hunhun'.

"Eomma melarangku melihat tubuh gadis telanjang. Itu tidak sopan."

"Ini nanti enak kok."

Hunhun, begitulah panggilan bocah itu, patuh saja saat Luhan menelanjanginya. Gadis sebelas tahun itu kemudian menuntun Hunhun agar menindihnya.

"Lulu-noona ingin mencobanya. Seperti yang dulu Lulu-noona lihat saat Namjoon-oppa memasukkan alat kencingnya ke alat kencing mama."

Miris. Sejak kecil, Luxian merusak mental Luhan. Salah satu cara merusaknya yaitu mempertontonkan adegan pemerkosaan yang dialami Aihara Yukki—ibu Luhan. [Ingat apa yang dikatakan David pada Sehun di chap three?]

"Apa enak?" Tanya Hunhun begitu polosnya.

"Mari kita coba."

Usia Luhan saat itu memasuki usia pubertas. Alhasil respon tubuhnya menjadi lain saat Hunhun berusaha memasukkan alat kelamin mungilnya ke alat kelamin Luhan.

"Geli, Noona... Ugh, punya Hunhun terlalu kecil ya? Jadi tidak bisa menancap. Noona... Alat pipis Hunhun hangat..."

"Justru karena kita sama-sama kecil, Hunhun, kita bisa menikmatinya. Ayo... Lebih dalam lagi...i..itu belum...semua...nya.."

Untuk seusia Hunhun, alat kelaminnya termasuk besar. Entah akan sebesar apa saat dirinya dewasa nanti, begitu pikir Luhan. Gadis itu bergidik ngeri pada bayangan masa depan. Masa dia dan Hunhun dewasa.

"Aaarghh! Hunhun... Sakit!"

"Noona... Da-darah!"

"Lan-lanjutkan... Gerakkan pantat Hunhun... Naik turun.."

"Seperti ini?"

"Y-ya! Oh! Ini enak!" Luhan menangkup wajah mungil Hunhun. "Bagaimana, Hunhun? Semoga dengan ini, Hunhun lupa 'kejahilan' yang dilakukan Bibi Seulgi padamu."

"Rgh! Enak Noona... Noona... Hunhun suka Lulu-Noona..."

Hati Luhan menghangat ketika bocah di atasnya mengatakan suka padanya. Dada mungil Luhan dihisap Hunhun atas perintah Luhan. Bocah itu senang bukan main ketika Luhan berkata,

"Lulu-noona cinta Hunhun!"

"Cinta..." pantat Hunhun bergerak semakin liar. "...cinta itu apa?"

"Perasaan... Yang...membuat dada Hunhun berdetak kencang... Karena gadis yang Hunhun... Sukai..."

"Berarti, Hunhun cinta Lulu-Noona? Ugh!"

"En-entahlah," jawab Luhan susah payah. "Apa dada Hunhun berdetak keras karena Noona?"

"Hunhun belum tahu. Hunhun bingung. Tapi... Hunhun suka Noona! Su-suka..."

"Hm... Dan Lulu cinta Hunhun!"

"Dan... Luhan cinta Sehun..." lirih Luhan tanpa suara sesaat setelah dia mendapatkan orgasme ketiganya akibat pemerkosaan dari dua pria. Orgasme yang sangat hampa. Tubuhnya mati rasa dari kenikmatan duniawi yang dibejati Kris dan Chanwoo.

Meski begitu, suatu memori indah menyadarkan Luhan pada satu hal,

Luhan ingat cinta pertamanya adalah si Hunhun.

Cinta pertamanya ternyata bukan David Anderson.

Bukan siapapun.

Bahkan, keperawanannya tidak diambil David.

Cinta pertamanya, keperawanannya yang berharga, semua itu hanya dimiliki oleh satu orang.

Pemiliknya adalah bocah bernama 'Hunhun'.

Bocah yang kini bertransformasi sebagai...

...suami sah Xi Luhan—

"—Oh Sehun..."

Lirih Luhan sebelum memejamkan mata. Setetes air mata jatuh seiring pingsannya menggelayuti.

'Ternyata, masa kecilku tidak sepenuhnya menyakitkan...

...dan itu semua karenamu, Hunhun.'

.

.

.

.

.

"Lady Luhan seringkali dalam bahaya karena begitulah sifatnya, selalu saja mengundang bahaya kemanapun dia pergi. Karena itulah aku berinisiatif memasang pelacak ke koleksi anting-anting Lady Luhan." Kata Jongin sambil memangku laptopnya.

"Apakah Namjoon mengetahui ini?"

"Tidak. Hanya aku dan Lady Luhan saja yang tahu. Ini dimaksudkan agar musuh tidak tahu tentang anting-anting Lady Luhan, jadi, jika beliau menghilang, saya bisa menemukannya. Pelacak itu akan berfungsi saat aplikasi di laptop ini dinyalakan. Jangan khawatir, chip pelacak itu tidak akan berkedip-kedip saat menyala."

Jisung fokus menyetir mobil. Jennie dan Jongin mengapit Sehun di jok tengah. Layar laptop Jongin menunjukkan satu titik merah di peta kota Seoul, kemudian difokuskan dalam satu distrik, hingga menjadi satu nama jalan.

"Hotel... Sekitar lima kilometer dari istana kerajaan. Hotel X."

Jongin dan Sehun saling memandang.

"Hotel?" Koreksi Sehun. "Oh tidak... Luhan... dia pasti...sial!"

"Sehun-oppa, tenangkan dirimu." Jennie mencopot ucapan formalnya. Dia mengelus bahu lebar Sehun.

Kepala Sehun menggeleng kencang. Dia menjambak rambutnya sendiri. "Percepat laju mobilnya, Jisung!" Geramnya. Matanya memerah. Urat amarahnya berkedut di leher dan pelipisnya. "Aku harus membunuhnya. Aku harus membunuhnya. Aku harus membunuhnya."

"Oh tidak... JENNIE, BIUS TUAN BESAR OH SEKARANG!"

Teriakan Jisung membelalakkan mata Jongin. Disusul teriakan dan geraman Sehun khas orang kurang waras. "Lepas, Jennie!"

"Sehun-oppa, tenanglah atau istrimu—"

"Aku bilang lepas, brengsek! Aku harus membunuhnya, Jennie..." Desis Sehun. "Aku harus membunuhnya! Siapapun... Siapapun yang menyentuh Luhan akan mati!"

"Ya, siapapun itu akan mati. Tapi Sehun-oppa harus tenang," Jennie berusaha memegangi lengan Sehun agar tidak menyakiti dirinya sendiri. "Jongin-oppa! Tolong bantu pegangi lengan Sehun-oppa!"

Sehun benar-benar mengerikan.

Tangannya tak berhenti mencakar lengannya sendiri, mulutnya tak berhenti berkata 'bunuh!', 'mati!', lalu meracau, "menjadi terlalu baik ternyata boomerang untukku! Mati saja kau Sehun, mati saja!"

Kim Jongin mencengkram pergelangan tangan suami dari majikannya. Dia tidak menyangka dia melihat sisi lain Oh Sehun.

Kita tidak membicarakan tentang kepribadian ganda, hanya tentang sifat lain Sehun yang terus ditahannya dalam waktu lama. Sifat yang mungkin pemarah, beringas, persis serigala buas.

Dan kini sifat itu menembus kekaleman tabiat Sehun, karena segala pemikiran buruk Sehun mengenai istrinya.

Setelah Jennie berhasil membasahi sapu tangannya dengan obat bius, dia membekapkan hidung Sehun dengan sapu tangan itu. Geraman dan berontakan Sehun berangsur tenang.

Tak lama kemudian, matanya terpejam. Tubuhnya tenang di pelukan Jennie.

"Mengerikan,"

ucap Jongin. Dia merinding mengetahui satu fakta, bahwa pria baik-baik macam Sehun ternyata menahan lama sifat alaminya.

Sifat, yang mungkin lebih ekstrim dari yang dipertontonkan.

.

.

.

.

.

"Hunhun akan membebaskan Lulu-noona..."

Sehun ingat.

Di masa kecilnya, dia mengucap satu janji pada Luhan.

Sayangnya, Sehun gagal.

"Luhan... Sayangku..."

Luhan terbaring telanjang di atas ranjang. Luka lebam menghiasi dari pipi, bahu, perut, sampai paha. Tanda kissmark serta sperma menyelimuti sekujur kulit mulus Luhan. Vagina dan anal Luhan berdarah serta lecet.

Sorot mata Luhan kosong, mengarah ke langit-langit.

Bibirnya bengkak, sedikit sobek di kedua ujungnya.

Rambut coklatnya kusut, terhampar menutupi bantal.

"Mian...hkks... Mian..."

Kaki Sehun lemah menopang. Dia jatuh berlutut di tepi ranjang. Tangisnya semakin kencang. Menggeram. Berteriak keras sambil menggenggam tangan Luhan. Bahu lebarnya bergetar.

Segera Sehun membopong Luhan. Tak lupa membungkus tubuh istrinya dengan kemeja besarnya, membiarkan Sehun telanjang dada di sepanjang lorong hotel. Jongin, Jennie, dan Jisung mengikuti Sehun di belakang. Jongin merasa sangat terluka ketika cinta pertamanya disakiti sesadis itu.

"Hun...hun..."

Luhan berusaha tersenyum untuk suaminya walau bibirnya sobek dan berdarah. Tangannya membingkai pipi kiri Sehun.

"Aku ingat semuanya..."

"Jangan bicara dulu, sayang."

Setelah Sehun memangku Luhan di dalam mobil, wanita itu tersenyum pedih. "Lulu-noona mencintaimu, Hunhun."

Ketika tangan Luhan terkulai lemah di gendongannya, Sehun mencium kening Luhan. Dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Tangisnya semakin menjadi.

Mobil Sehun kini melaju ke rumah sakit.

Meninggalkan tempat yang menyadarkan Sehun dan Luhan bahwa hidup itu terkadang lucu. Misalnya...

...menjadi manusiawi, artinya diri tersebut lemah.

.

.

.

.

.

Seminggu kemudian...

.

.

.

.

.

"Sayang, aku... Aku minta maaf... Aku..." Sehun merasa gagal. Dia tak mampu bicara apapun pada Luhan. Kondisi istrinya sangat mengejek Sehun sebagai seorang suami.

Luhan berhasil melalui masa kritisnya. Dia siuman. Sayangnya dia hanya diam. Datar. Tidak merespon siapapun. Dia hanya merespon jika ketiga anaknya yang mengajaknya bicara. Itupun hanya gelengan, anggukan, atau beberapa kata dalam sekali bicara.

Saat Sehun mengatakan, "kita kehilangan anak keempat kita. Dia... Dia keguguran. Dia sudah berusia dua bulan dan bodohnya aku, belum peka pada kondisimu."

Dalam benak Luhan, dia sangat syok. Psikisnya sungguh terguncang.

Anak keempatnya dibunuh oleh Kris dan Chanwoo.

Anak keempatnya yang tidak bersalah bahkan belum terbentuk sempurna, tidak diberi kesempatan hidup.

Anak keempatnya dengan Sehun...

Luhan menangis semalaman karena kabar itu.

Dia menyesal. Karena kurang memahami gejala tubuhnya padahal dia sudah dua kali memasuki masa kehamilan. Luhan merasa bodoh. Dia tidak menyadari hadirnya anak keempatnya dengan Sehun tersebut.

Kemarin Guanlin menjenguknya. Anak sulungnya menangis keras di pelukan Luhan. Walau tidak bicara apapun, Luhan hanya mau bangkit untuk memeluk anak-anaknya, disuapi oleh anak-anaknya, atau mendengarkan dongeng.

David Anderson tak bisa mencecar Sehun sebesar apapun amarahnya. Ditambah kondisi Sehun saat ini adalah cerminan David di masa lalu. Bedanya, Sehun bukanlah tersangka yang turut andil dalam kemalangan Luhan sehingga Sehun tidak perlu menceraikan Luhan sebagai tindakan pengecutnya.

David memang pengecut, dulu, dan dia mengakuinya.

Hari ini, Triple Twin kembali menjenguk eomma mereka. Sehan dan Shika izin tidak masuk sekolah. Dua hari pasca Luhan siuman, keduanya tetap tak bisa berkonsentrasi belajar. Karena itu Chanyeol meminta izin pihak sekolah agar mereka cuti sementara. Sedangkan Shixun, bocah itu terus menciptakan tembok dingin di antara dia dan appa-nya.

"Kau gagal menjaga eomma, Tua Bangka!" Teriak Shixun saat Sehun pulang untuk mengabari kondisi eomma-nya.

"Eomma tidak perlu sedih," tangan kecil Sehan menghapus keringat di dahi eommanya. Dia berdiri di atas kursi, supaya bisa menghadap wajah cantik eomma-nya yang terus menangis sambil diam persis boneka porselen. "Sehan, Shika, Shixun... Kami di sini bersama eomma..."

"dongsaeng kami pasti sudah bahagia bersama Tuhan." Shika, yang terkadang bijak persis ayahnya, duduk di pinggir ranjang. Dia memijat tangan eommanya, bahkan iseng mencubitnya agar eommanya mau memarahinya. Sayang, Luhan tidak meresponnya.

"Jangan pikilkan apapun, eomma... Hyungie, Noona, Thithun... Thudah lebih dali cukup kan?" Shixun duduk di seberang Shika. "Eomma kalau thepelti ini thelus, Thithun nangith nih!"

Sehan, Shika, Shixun saling bertukar pandang. Eomma mereka tetap tak merespon. Pada akhirnya ketiganya menangis keras dan memeluk tubuh eomma mereka.

"Eomma... Bicalalah! (Bicaralah)."

"Eomma..." Shika terus meracau sambil meremas tangan Luhan yang tersambung infus. "Eomma...!"

"Kalian berdua, berhentilah menangis. Lihat? Eomma jadi ikut menangis," sebagai si sulung, Sehan harus kuat. Dia menghapus air mata eommanya, lalu Shika, kemudian tersenyum hangat pada Shixun. "Percaya pada Hyungie... Percaya pada oppa... Kita bisa melewati ini."

Bocah tiga tahun, yang sudah melewati banyak hal bahkan saat masih di kandungan Luhan, dipaksa untuk mengerti dan survive pada kejamnya kehidupan.

Oh Sehun—ayah kandung dari tiga bocah menggemaskan—begitu bangga sekaligus pedih. Dulu dia menjamin ketiga anaknya takkan terjebak dalam kerumitan hidupnya dan Luhan. Sialnya, Sehun tak bisa menepatinya.

'ini salahku, gagal membuat Luhan percaya pada pengkhianatan Namjoon dan lengah padanya'. Sehun menyugar anak-anak rambutnya lalu menjambaknya. 'Seandainya aku punya cukup bukti... Luhan pasti waspada...'

"Tuan Besar Oh."

Kim Jongin, pria koleksi keempat belas Luhan, datang menjenguk penyelamat hidupnya bersama sang istri. Mereka tidak bersama Taeyang. Hanya berdua dengan raut muka kusut mereka.

"Maaf, kami baru menjenguk sekarang, Sehun-oppa."

"Jongin... Kyungsoo..." Di pojok kamar VVIP Luhan, Sehun menumpahkan kegetiran hatinya. "...ini salahku."

"Bukan salah anda." Jongin menepuk bahu Sehun. "Tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri."

"Aku akan mengawasi anak-anak," Kyungsoo tidak tahan melihat dosen kebanggaannya menjadi selemah ini. Sehun kehilangan senyum khasnya yang mampu mengayomi siapapun.

Park Chanyeol datang setelah Kyungsoo mendekat dan menenangkan Shixun, si bungsu HunHan yang paling terguncang di antara lainnya.

Kedatangan Chanyeol disambut gembira oleh Sehan, Shika, dan Shixun.

"Chanyeol-thaem! Eomma!" adu Shixun.

Di pojok ruangan, Sehun pundung. Seakan Shixun melupakan fakta kalau ayahnya adalah Sehun, bukan Chanyeol.

"Tuan Kecil Xi mau saya gendong?"

Shixun menggeleng lemah. Dia menunjuk Sehan. "Hyungie beltingkah thok dhewatha (dewasa). Dia thaja yang Thaem gendong."

"Tuan Kecil Oh mau?"

Tangan Sehan terentang, menerima gendongan Chanyeol.

"Saya izin membawa Tuan Kecil Oh keluar, Tuan Besar Oh." Ucap Chanyeol pada Sehun.

Sehan memandang ayahnya. Bocah itu tersenyum simpul, memberi simpuls semangat untuk sang ayah. Sehun mencium kening Sehan, lalu mengangguk. "Di antara lainnya, dia yang paling lelah. Buat dia mau meluapkan segalanya, Chanyeol-hyung."

'Si sulung kami lelah, karena si sulung kami menahan tangis tiap waktunya.'

"Ya, Tuan Besar Oh."

Chanyeol membawa Sehan menyusuri lorong. Karena ini adalah tempat VVIP, lorong inipun sepi untuk menjamin nyamannya pasien. Sehan melingkarkan lengan kecilnya di leher Chanyeol. Tanpa malu Sehan menangis keras dalam bekapan ceruk leher Guru Pribadinya.

"Eomma... Hkkss... Eomma!"

"Luapkan segalanya, Tuan Kecil Oh. Adik-adik anda tidak melihat tangisan anda kok, jadi jangan khawatir. Tangisan anda tidak akan membuat kedua adik anda sedih."

Chanyeol mengelus punggung Sehan sambil memasuki lift. Terus seperti itu hingga sampailah mereka ke taman rumah sakit.

"APPA...!"

Pekikan seorang anak kecil, sepertinya seusia Triple Twin, berlari hingga rok gaun merah mudanya berkibar. Gadis itu berlari ke arah Chanyeol. Awalnya Chanyeol salah lihat, namun gadis itu benar-benar berlari ke arahnya dan kini memeluk kakinya erat.

"APPA...! HANA RINDU... Ayo pulang appa, Eomma telus menangis kalena kangen appa!"

Sambil menggendong Sehan, Chanyeol berjongkok di hadapan gadis mungil nan cantik itu. Rupanya mengingatkan Chanyeol pada seseorang. Matanya begitu bulat persis Chanyeol. Pria itu mengerutkan kening. Dugaan liarnya tiba-tiba mengerubungi otaknya.

"Hana-ya... Ahjusshi bukan appa-mu."

"Shileo! Appa itu appa-nya Hana! Hana itu anaknya appa! Appa, Hana ingat wajah appa difoto yang seling eomma peluk!"

"Saem bilang kau bukan anaknya, jadi jangan dekati saem!" Sehan posesif memeluk leher Chanyeol. "Mungkin appa-mu ada di tempat lain."

"Shileo! Appa-nya Hana ya appa-nya Hana!" Teriak gadis kecil itu pada Sehan.

Sehan menatapnya dingin, "Chanyeol-saem, kita pergi saja dari sini."

"Baik, Tuan Kecil Oh."

"Appa! Jangan tinggalkan Hana..." Rengek Hana saat Chanyeol berdiri dan hendak berbalik. Tangan mungilnya meremas celana kain Chanyeol. "huweee... Eomma, appa mau pergi lagi... Hkkss..."

"Hana-ya..."

Mata bulat Chanyeol semakin besar saja saat gadis yang dulu sangat dicintainya, hingga saat ini dan seterusnya, menggendong gadis kecil bergaun merah muda itu.

"Eomma..." Hana mengadu pada sang ibu.

Tenggorokan Chanyeol rasanya dicekik.

"Nona Muda... Baekhyun?"

Byun Baekhyun, ibu kandung Byun Hana, tersenyum simpul pada Park Chanyeol.

"Anneyong... Chanyeol-oppa..."

"Kau— ekhem... Anda..."

"Benar," kata Baekhyun, seolah dia bisa membaca ucapan terbata-bata Chanyeol. "Byun Hana adalah anak kandungku."

Byun Baekhyun masih sangat cantik dan murni, walau senyum polos dan imutnya tak lagi sama. Senyumnya terlalu dingin. Menutupi kenyataan bahwa dia masih terlalu muda untuk menjadi ibu.

"Se...lamat... An-anda pasti bahagia dengan pernikahan anda."

"Idiot."

"Hah?"

Baekhyun mencium pipi Hana yang masih menangis karena tidak diakui appa-nya. Nada sinis ibu Hana berkata, "Byun Hana adalah anak kandungmu, Oppa. Bukankah kita sudah 'berhubungan' tiga tahun lalu? Hubungan yang menyiramkan benihmu di rahimku." Bisik Baekhyun yang hanya mampu didengarnya dan Chanyeol.

"Anda berubah, Nona Muda."

"Demi anak kita, aku tidak mau selemah dulu." Baekhyun merentangkan tangan, menawarkan satu hal yang paling didambakan Chanyeol...

...Sebuah keluarga.

"Nah, oppa. Menikahlah denganku. Kita sudah memiliki Hana, jadi kita bertiga sudah pantas disebut keluarga sempurna. Ya kan? Hana? Hana mau appa kan?"

"Hana mau bersama appa!" Hana tersenyum lebar pada Chanyeol, "appa, ayo pulang!"

"Saem?" Celetuk Sehan tidak memalingkan Chanyeol dari wanita dan anak tercintanya.

Kelopak mata Chanyeol turun, memandang uluran tangan lentik Baekhyun.

"Jangan khawatir mengenai Luhan-eonni, oppa. Dia tidak bisa melarang oppa lagi untuk mencintaiku."

"Apa maksud anda?"

Baekhyun tersenyum dingin.

"Kekuasaan Luhan-eonni akan segera berakhir...

...jadi Chanyeol-oppa tidak perlu menganggapnya sebagai 'Tuhan'mu lagi."

.

.

.

.

.

Sementara itu...

.

.

.

.

.

"Apa maksudnya ini? Penangkapan?"

Penangkapan ini dilakukan tertutup. Kelima polisi itu tidak memakai seragam mereka, namun lencana di tangan sudah membuktikan identitas mereka. Sehun membaca surat penangkapan atas kasus yang jauh dari bisnis gelap Luhan.

"Kami sudah menjelaskan pada anda, Tuan Besar Oh. Istri anda ditangkap atas kasus pembunuhan yang dilakukannya pada Keluarga Bangsawan Byun, Keluarga Bangsawan Emeline, Keluarga Konglomerat Do, dan... Keluarga Bangsawan Xi."

"Keluarga Bangsawan Xi?" ulang Jongin. "Tunggu, bukankah kasus-kasus itu—"

"Ada berbagai bukti baru yang bisa menyeret Lady Luhan ke pengadilan. Termasuk bukti dari Xi Namjoon, anak angkat mendiang Lord Xi Luxian," salah satu polisi memotong ucapan Jongin. Dari tatapannya, tersirat rasa bencinya pada Jongin selaku Pengacara kondang. "Namun anda tidak perlu khawatir, persidangan ini tertutup dari media sampai Lady Luhan divonis bersalah."

"Namjoon melaporkanku juga?"

Suara dingin nan merdu menyapa punggung Sehun dan Jongin.

Luhan kini berdiri ditopang rangkulan Kyungsoo.

"Sayang..." Sehun merengkuh pinggang Luhan. Istrinya masih lemah. Luhan bermandikan keringat. Sehun tak jijik mengusapkan keringat di dahi Luhan dengan lengan kemejanya. "Berbaringlah, kumohon..."

Luhan mencium singkat bibir Sehun. "Percaya padaku, aku baik-baik saja." bisiknya di depan bibir Sehun.

"Luhan masih butuh istirahat," ucap Sehun pada kelima polisi. "bisakah anda—"

"Jangan memborgolku," Luhan memotong ucapan Sehun. "Izinkan aku memakai gaunku sebelum kalian mengantarku ke penjara."

"Eomma! Eomma mathih thakit!"

"Eomma lebih baik tidur!"

Rengekan Shixun dan Shika melukai hati Luhan sebagai ibu. Dia menempelkan jemarinya di bibir, "eomma tidak akan lama. Eomma bekerja untuk—"

"Bohong! Meleka polithi kan? Plia-plia tua itu punya lencana polithi!"

"Shixun... Anaknya eomma yang sangat cerdas...eomma harus pergi... Sebagai warga kerajaan yang baik, kita harus menuruti peraturan. Arraseo?"

"Tapi eomma akan masuk penjara?" Tanya Shika.

Luhan berjongkok di depan dua anaknya. Mencium kening mereka bergantian. Cukup lama. Meresapi rasa sayang mereka untuknya. "Appa bisa membebaskan eomma... Kalian harus percaya padanya, ya?"

"Tidak mau!"

"Shixun-ah..."

"Hmph! Thithun pelcaya appa bitha menyelamatkan eomma!"

"Terima kasih, sayang-sayangnya eomma..."

Seusai Kyungsoo membantu Luhan berdandan secantik mungkin ala Lady Luhan biasanya, Sehun memeluk istrinya erat.

"Mereka punya bukti." Luhan menjelaskan pelan-pelan pada suami tampannya ini dalam sebuah pelukan hangat. "Lawanku punya otoritas tinggi. Sudah biasa sebagai rakyat kita kalah dari pemerintah. Meskipun begitu," Luhan mencium tengkuk Sehun. "Aku yakin suamiku bisa membebaskanku."

"Aku mohon... Tetaplah di sini."

"Aku titip Triple Twin, Hunnie."

"Aku dan Triple Twin membutuhkanmu."

"Tapi kau tahu? Mungkin ini adalah jalan agar semua ini cepat berakhir."

Sehun memperhatikan tangis Shixun dan Shika. Sekali lagi anak mereka dipaksa untuk mengerti kemalangan kedua orang tuanya.

"Lihat wajah-wajah lucu mereka. Apa sekarang kau tega?"

Luhan juga memperhatikan kedua anaknya.

"Hannie-ku... sayangku... bagaimana bisa kau setega ini?! Kami sudah semaksimal mungkin melindungimu selama ini dan kau memutuskan untuk menyerah? Meninggalkan kami?"

"Aku tidak meninggalkanmu, Hunnie. Aku hanya... Pergi sementara. Kumohon jangan berlebihan."

"Tolong jangan anggap aku berlebihan karena apapun tentangmu membuatku terlalu sensitif!"

Luhan terkekeh, "ini membuatku semakin percaya, kau bisa membantuku meraih kebebasanku."

Dalam kesakitan fisik dan psikis, Luhan dipaksa berjalan angkuh layaknya Lady Luhan yang dilihat khalayak umum. Luhan tahu dirinya adalah tersangka, namun Luhan takkan membiarkan dirinya lemah hanya karena status receh tersebut.

Kerasnya hidup Luhan di masa lalu hingga saat ini, mengajarkannya dua hal : wanita lebih kuat dari yang terlihat. Wanita ahli menutupi segala kepedihan dari pandang banyak mata, khususnya dari orang-orang yang dicintainya.

Dari nurani Luhan, itulah yang membuatnya bangga terlahir sebagai seorang wanita.

.

.

.

.

.

"Appa... Bebaskan eomma dari polisi-polisi jahat itu!" Ucap Sehan sekembalinya dia dari taman.

"Hm, appa berjanji pada Triple Twin."

Wajah Chanyeol masam ketika memikirkan dua arah, pemiliknya dan kekasihnya. Ekspresinya menunjukkan suatu kebimbangan.

Triple Twin—Sehan, Shika, dan Shixun—langsung memeluk sang appa.

Sehan merangkul leher appa-nya dari sisi kiri sambil menenggelamkan wajahnya di bahu bidang sang appa, Shika merangkul leher appa-nya dari depan sambil menempelkan dahinya dengan dahi sang appa, dan Shixun merangkul leher appa-nya dari sisi kanan sambil menempelkan dahinya di bahu kanan sang appa.

Ini adalah pelukan yang selalu dilakukan Triple Twin bersamaan untuk eomma mereka lalu appa mereka.

Triple Twin tidak pernah mau berpelukan secara terpisah atau bergantian.

"Kami menyayangimu, appa... Kami mempercayai appa..." Ucap Triple Twin bersamaan.

Sehun memejamkan damai, dukungan ketiga anaknya lebih dari cukup untuk menguatkannya.

"Appa dan eomma lebih mencintai kalian. Kami pun mempercayai kekuatan kalian untuk menguatkan kami."

.

.

.

.

.

Malam hari yang dingin...

.

.

.

.

.

Setelah menidurkan Triple Twin walau diiringi tangis, Sehun akhirnya bisa menengadah damai ke langit. Dipandanginya bulan purnama tepat dari atas balkon kamar Triple Twin.

Headset bluetooth tersemat di telinga kirinya.

"Hanbin, perintahkan para mafia Xi untuk mengawal awak media dan lingkungan masyarakat dari 'penangkapan Xi Luhan'. Jangan sampai mereka tahu mengenai ini atau sekedar menyebarkan rumor."

["Akan kami laksanakan. Oh ya, Tuan Besar Oh, setelah ini anda tahu apa yang harus anda lakukan, kan?"]

Sehun membisu.

Di seberang, Hanbin memejamkan mata penuh kepahitan jika mengingat musibah yang Sehun dan Luhan alami.

["Anda akan menggantikan peran Lady Xi Luhan sebagai pemimpin kami. Kami akan menjaga loyalitas kami untuk anda mulai dari sekarang. Dan, ingat ini Tuan Besar Oh, jadilah Kepala Mafia Xi yang mampu mengendalikan kami karena jika kami tidak bisa dikendalikan, kami akan berbalik mencederai kekuasaan anda."]

Sehun tahu Hanbin tidak mengancamnya.

Sebaliknya, Hanbin memperingati Sehun satu hal.

'Lambat laun, tikus di Mafia Xi akan terlihat. Sehingga, sebagai Kepala Mafia Xi, aku dituntut untuk menghabisi tikus-tikus itu sampai Luhan kembali memimpin mereka.' -batin Sehun.

"Aku mengerti, Hanbin."

Sehun memutuskan komunikasi.

Lalu beralih pada nama kontak lainnya,

Park Jisung.

"Jisung. Sebagai wakilku di Mafia Oh, aku ingin kau mengerahkan anak buah kepercayaanmu untuk mengawasi para Mafioso Xi. Kau bisa melakukannya?"

["Nde, Bos Sehun. Anything for you."]

"Besok, aku akan pergi ke markas Mafia Oh. Kabari Mafioso lainnya."

Kemudian Sehun memutus kontak sepihak.

Sehun masuk kembali ke kamar ketiga anaknya. Kamar itu cukup luas dengan banyak perlengkapan untuk tiga anak sekaligus.

Karena diusia sembilan tahun barulah mereka tidur di kamar terpisah, jadi mereka bertiga tidur di ranjang bersama karena dasarnya mereka sulit dipisahkan.

Kontak batin mereka pun terlalu kuat.

"Sehan, Shika, Shixun..."

Sehun memanggil nama ketiga anaknya yang habis tertidur pulas akibat sama-sama menangis. Dengan Sehan dan Shixun memeluk Shika.

Jelas sekali mereka tak rela ibu kesayangan mereka diambil para pria asing.

Setelah mencium kening mereka, Sehun berkata dalam kedinginan hati.

"...doakan appa agar berhasil membebaskan eomma kalian."

Sehun mendapat notifikasi chat dari Yeonseok.

Chat itu bertuliskan,

[Welcome back, Boss Sehun.]

.

.

.

.

.

"Halmeoni... Apakah darahku masih bisa dijadikan alasan untuk meraih 'gelar' itu kembali?"

Sehun tersenyum tipis. Memandang foto besar Keluarga Bangsawan Inti Xi yakni Luhan, Xi Luxian, dan Aihara Yukki.

"Aku akan pastikan padamu bahwa Kris Anderson akan lengser dari tahtanya di Kerajaan ini. Dan, aku bersedia menuruti permintaanmu untuk naik tahta."

"Kau tidak perlu menjadi Raja untuk melawan Raja. Kau hanya perlu menjadi Oh Sehun, suami sah Xi Luhan, untuk mengalahkannya...

...Jadi, jangan pernah berpikir yang tidak-tidak atas namaku dan anak-anak kita." [Chapter Thirteen]

'maaf, sayangku... Hunhun tidak bisa menuruti perkataan Lulu-noona lagi.'

Sehun kembali bersuara,

"Kau salah, halmeoni... Ini bukan demi nama Kerajaan, rakyat, apalagi Keluarga Bangsawan Oh. Tapi, ini demi keluarga kecilku."

Sudah cukup istri dan ketiga anak kembarnya diusik.

Cukup sampai titik ini.

Karena, mulai hari ini, Sehun akan merampas mahkota yang seharusnya disematkan di kepalanya.

.

.

.

.

.

Ketika Oh Sehun meredupkan senyumnya sebagai pria pengayom...

...saat itulah lawannya takkan bisa menghindari terornya.

Dia menjadi dingin tak tersentuh. Nurani kemanusiaannya mulai ditanggalkan 'kembali'. Gelar kebangsawanan hanya berupa jubah untuk menutupi kegelapannya. Dan, kelamnya manik hitam itu akan membuatmu tersungkur dalam ketakutan.

Siapapun tak lagi bisa melihat senyumnya kecuali keluarganya.

Siapapun hanya akan menunduk di hadapannya, bagai anjing mungil minta dipungut.

Oh Sehun selama ini 'menjelma' sebagai pria beraura cerah nan ramah, dengan kelembutan bak permen kapas yang manis.

Namun, siapa sangka?

Sehun yang asli adalah Oh Sehun yang marah wanita kecintaannya dibuat menderita.

Yah, inilah besarnya dampak cinta Sehun untuk Luhan.

Beginilah representasi Tuan Besar Oh Sehun sebagai budak cinta seorang Lady Luhan.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Fifteen : His Death Harmonies

"Anggaplah aku komposer. Di mana aku akan mengatur agar kedua mafia besar ini melawan Kris melalui 'permainan musik' yang indah. Dan, kutekankan, Kris akan mendengar harmonisasi itu hingga ketagihan sampai... Dia terdorong untuk membunuh dirinya sendiri. Yeah... let's start begin..."

—Oh Sehun or Woo Sehun—

.

.

.

.

.

AUTHOR NOTE :

Hayoo... Ketipu ya gak nih? sebelum nikah ama Lady Luhan, Sehun udah gak perjaka, anying! #akugakngegas. Tapi keperjakaannya udah diambil Lulu-noona! #Wkwkwk

kenyataan macam ini?! #bantingmeja

SAMPAI SINI FAST UPDATE-NYA! Karena kesibukanku semakin bertambah :)) otomatis slow menjurus HIATUS (kalau sempet, bakal update kok. Wkwkwk)

ayolah guys, kasih komentar apapun supaya aku tahu ni ff abal-abal beneran dibaca apa kagak :") dan kalian nyaman atau gimana-gimana di tiap chapnya.

Nama lahir Luhan : Xi Luhan.

Nama Jepang : Aihara Hana.

Kuharap dari sini kalian paham kenapa nama Triple Twin punya banyak versi:)

Chapter ke depannya akan jadi CHAPTER TERSULIT! #akugakngegas

KOK AKU GREGET SAMA CHANBAEK DI FF INI YA?! Ini ada reader CBHS yang nyasar gak? Wkwkwk, tolong angkut Mamih, ajarin biar gak ikutan jahat kayak Kris! :3

Keep strong Erina! Kalian pasti bisa menghadapi segala unsur yang berusaha menghancurkan Peterpan kalian, dan teruslah bersama EXO :)

Dan.. selamat buat Chen yang uculna!

Terima kasih buat yang sudah follow favorit review... kalian yang bikin aku bertahan nulis 12k per-chap tahu gak, saking besarnya rasa terima kasihku ke kalian :3

Terima kasih sudah baca author note gak penting ini :3

See you...

Surabaya, 20 Januari 2020