Author : Yuta Uke
Chapter : Fifteen point Five – Noctis
Genre : Angst, Tragedy, Hurt/Comfort, Romance, Fantasy
Warning: Unbetaed fic, Semi-Canon, OOC (maybe), LONG!
Words : 17,557
FFXV fanfiction for my bestie...
Aku adalah seorang putra mahkota.
Sejak dulu, aku sering mendengar kata-kata tersebut. Itu adalah kata-kata dari orang-orang yang selalu memandangku dengan tatapan yang berbeda...
Mereka silih berganti datang mendekatiku, berusaha untuk merebut perhatianku…
Semuanya adalah karena status yang saat itu belum kupahami arti sesungguhnya.
Aku berbeda...
Itulah yang aku rasakan setiap kali melihat tatapan mereka.
Ya...
Mereka memang tersenyum ketika memandangku, mereka memang tertawa saat melihatku, tetapi pandang dari orang-orang itu tak sama. Mereka hanya memaksakan diri tertawa, ada pula yang dihiasi oleh tatapan kehati-hatian yang teramat sangat ketika mengajakku berbicara.
Tak ada yang tulus berbicara denganku, tak ada yang benar-benar ingin bermain denganku tanpa memandang statusku...
Hanyalah ayahanda dan beberapa rekannya saja yang memerlihatkan afeksi tanpa memandang siapa diriku, hanya merekalah yang sanggup membuatku merasa lega karena tak perlu merasakan tatapan mereka yang dipenuhi oleh emosi yang tak kuketahui pasti namanya...
Begitulah pikirku sampai tiba-tiba sesuatu yang kudamba-dambakan datang, menghilangkan rasa sepi yang menemani, mewarnai hariku dengan warna-warna hijau dan merah muda yang manis...
Di antara kesendirianku, ayahanda tiba-tiba saja bermurah hati membawa mereka yang kelak akan menjadi keluarga baru ke sisiku...
Yaitu adalah sang hijau yang meski memiliki tugas untuk menjadi penasihatku kelak, ia memandangku dengan tatapan seorang kakak terhadap adiknya, melihatku sebagai salah seorang teman yang berharga...
Yaitu adalah sang merah muda yang mendadak turut hadir menorehkan warna dengan riangnya. Ia adalah seseorang yang sekalipun tak pernah memandangku sebagai seorang pangeran, yang menganggapku sebagai anak lelaki biasa...
Teruntuk mereka yang memberi warna itu, akan kulakukan apa saja untuk mereka. Mereka yang berharga…
"Ignis, aku sudah menyelesai—"
"Sssstt! Noji jangan berisik! Putri tidurnya nanti bangun!"
Itu adalah dua patah percakapan yang dilontarkan pangeran dan putri kristal di satu hari yang cerah di akhir pekan. Di luar sana, mentari yang memamerkan kemolekkannya perlahan-lahan bergeser untuk menandakan bahwa hari telah berganti menjadi sore. Biasan emas berganti menjadi jingga yang manis dan mengetuk jendela hitam tinggi besar, merambat masuk menghiasi wajah sang surai hitam yang tengah mengerutkan dahi.
Manik keruhnya itu sedikit disipitkan, menatap baik-baik kedua sosok bersurai kusam yang berada tak jauh dari tempatnya berpijak. Di depan sana, Scientia delapan tahun tengah berbaring di sofa hitam yang berada dekat dengan jendela yang memamerkan kemolekkan kota.
Anak lelaki itu memejamkan mata, berpose seperti tengah tertidur sembari menautkan jemari yang ditumpu di dada. Di ujung kepalanya, terdapat tiara mainan berwarna perak, memberitahukan secara mudah peran apa yang sedang dimainkan anak itu.
Di sisi lainnya, sang Leonis merah muda yang tengah berkacak pinggang terlihat mengenakan mahkota mainan berwarna hitam dan di lehernya terikat kain serupa mantel—ceritanya adalah jubah—berwarna senada. Anak empat tahun tersebut juga terlihat membawa pedang kayu yang biasa ia gunakan untuk berlatih. Sekali lagi, Noctis dengan mudah memahami peran anak kecil itu.
"Crystal, kita sudah sepakat akan berhenti saat Noct datang, kan?"
"Ah! Putri Iggu bangun tanpa ciuman pangeran Kuri!"
Sang putra mahkota dapat melihat teman perempuannya—yang tadi menatap tajam ke arahnya—berbalik badan, menampakkan wajah kecewa teramat sangat karena mendapati salah satu teman sepermainannya yang lain—yang berperan menjadi putri tidur—malah membuka mata tanpa menunggu ia, yang notabene seorang pangeran penyelamat, memberi ciuman.
Bibir gadis kecil itu mengerucut, dibuat maju untuk menandakan kekesalannya. Noctis tahu bahwa Crystal sangat menunggu-nunggu adegan permainan itu—karena merah muda tersebut menyukai adegan penyelamatan—dan saat ini pastilah Crystal sedang kesal karena terinterupsi oleh dirinya.
Seringai penuh kemenangan mendadak hadir menghiasi bibir sang Caelum. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menaikkan sedikit dagunya guna memerlihatkan bagaimana bangganya ia saat Ignis memprioritaskan dirinya—yang semakin membuat Leonis kecil di sana menggembungkan pipi.
Sebenarnya, apa yang diperlihatkan wajahnya saat ini bukan hadir karena ia merasa senang dibela oleh Ignis, melainkan karena kegirangannya mendapati ekspresi kekalahan Crystal. Noctis tahu bahwa gadis kecil itu tak akan bisa membantah perkataan calon penasihatnya dan akan selalu menuruti apapun yang dikatakan sang Scientia—oh, tentu saja pirang kusam di sana akan menomorsatukannya.
Maka, di sanalah ia, masih dengan pose tadi, ia berjalan mendekat sembari menampakkan wajah yang masih membuat Crystal kecil mengerucutkan bibir sebal.
"Begitulah kata Ignis."
Anak lelaki tujuh tahun itu berkata, menjatuhkan pandangnya untuk melihat temannya yang tengah mendongak, membalas tatapannya. Sudut bibirnya tetap terangkat, merasa girang karena gadis kecil di depannya hanya terdiam.
Ia ingin tahu apa yang akan diucapkan Crystal di ambang kekalahan.
"Noji jadi jarum tajamnya!"
Dan kemudian anak lelaki bersurai hitam tersebut mengerjapkan mata. Tidak mengantisipasi jawaban sang Leonis merah muda tadi. Biasanya, gadis kecil itu akan berkata dengan nada penuh frustasi 'baiklah Noji menang' atau 'baik, Ignis. Kuri kalah' untuk menyatakan kekalahannya. Tetapi, alih-alih mendapatkan kalimat-kalimat itu, ia malah diberikan peran yang sebenarnya tidak layak disebut sebagai peran.
Maka, putra mahkota tersebut mengerenyitkan dahi, memandangi sang merah muda dengan tatapan bingung bercampur sebal.
"Jadi jarum bukan peran! Aku yang akan jadi pangeran."
"Tidak mau! Aku pangeran! Noji bukan pangeran!"
"Aku pangeran dan kau seharusnya jadi tuan putri, bakakuri."
"Tapi Kuri mau jadi penyelamat!" Suara renyah itu melengking tinggi dan perdebatan di antara sang malam dan musim semi tak dapat terelakkan. "Kalau Kuri putri, pangerannya harus Iggu! Tidak mau Noji!" Tambah si kecil.
Beberapa kali Noctis mengerjapkan matanya setelah indera pendengarnya menangkap kalimat terakhir yang dilontarkan Crystal. Tangannya tak lagi bersidekap, telah jatuh di kedua sisi tubuhnya sembari terkepal. Anak ini...
"Noct, turuti saja."
Noctis melirik ke arah Ignis yang telah berdiri di antara mereka dan kemudian menghela napas panjang—sepertinya hendak mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, meskipun tidak akan ada kekerasan di antara mereka. Ia sekali lagi bersidekap dan wajahnya berubah masam. Ia seperti orang bodoh yang merasa kesal karena bocah empat tahun.
"Kalau kau yang jadi putrinya, sudah kugigit telunjuk itu." Geram pangeran itu sembari mendudukkan tubuh di atas sofa yang tadi ditiduri sang pirang kusam.
"Ditusuk, bukan digigit!" Noctis dapat mendengar Crystal berkata dengan nada yang masih diliputi oleh kekesalan. "Noji kenapa bodoh sekali sih, Iggu? Padahal dongengnya sudah sering dibacakan."
"Kau—"
Putra mahkota itu kembali berdiri, berjalan dengan cepat ke arah Crystal yang telah menyembunyikan diri di belakang tubuh Ignis. Ia tarik tangan anak kecil itu agar keluar dari tempatnya persembunyiannya dan ia cubit kedua pipi itu kuat-kuat—melampiaskan kekesalan.
"Adududududuh! Sakiiiittt!"
"Noct!"
"Biar saja! Dia harus dapat pelajaran!"
"Tuan putri Iggu! Tolong, pangeran Kuri dijahati Noji si jarum tajam!"
"Noct, pipi Crystal sudah merah, lepaskan."
Dalam hitungan detik, pangeran itu menuruti perkataan sang pirang kusam dan melepaskan tangan. Biru keruhnya bergulir mengikuti sang merah muda yang berlari menubrukkan tubuh ke Ignis. Ia dapat melihat anak itu menjulurkan lidah ke arahnya sembari mengusap-usap kedua pipi tembam yang merah.
Ada rasa lega dan puas melihat teman perempuannya menatapnya nyalang karena tidak bisa membalas apa yang tadi ia lakukan.
"Pipi Kuri jadi jatuh!"
"Pipi tidak bisa jatuh, bodoh."
Noctis turut menjulurkan lidah, membalas perkataan anak kecil merah muda tersebut.
"Oh iya. Kuri belum memberikan hadiah ke Iggu." Alih-alih membalas perkataannya tadi, Crystal malah mengalihkan pembicaraan.
"Hadiah apa?"
"Hadiah sudah tolong Kuri. Iggu sini, tunduk-tunduk." Sang Caelum yang masih bersidekap di dekat kedua teman kecilnya itu mengerutkan dahi karena mendengar perintah Crystal kepada Ignis. Detik selanjutnya matanya terbelalak ketika melihat anak kecil itu berjinjit dan secepat kilat menempelkan bibirnya ke bibir calon penasihatnya—ia dapat melihat Ignis membeku. "Iggu baik! Kalau sudah besar nanti, Kuri mau jadi mama Iggu!"
Kalimat yang dituturkan merah muda tadi mengundang kerut hadir di dahi kedua anak lelaki yang berada di sana. Mereka berdua menampakkan wajah kebingungan, tidak paham dengan apa yang baru saja dikatakan putri kristal—bahkan kejadian Crystal mencium Ignis tadi hampir mereka lupakan.
"Mama?" Ucap Noctis, mengulang kalimat Crystal.
"Itu, lho. Ada papa dan mama. Kuri mau jadi mama Iggu!"
Noctis masih tetap mengerutkan dahi, tak paham maksud teman merah mudanya. Selanjutnya ia melirik Ignis yang tengah memegangi dagu, gestur khas anak itu ketika tengah berpikir. Pangeran kecil tersebut hampir tertawa karena menyadari bahwa terkadang, temannya yang pintarpun tak memahami maksud perkataan Crystal. Jadi, siapa yang bodoh?
Selang beberapa menit berlalu, permata biru keruh sang pangeran menangkap Scientia muda itu menepukkan tangannya yang terkepal ke atas telapak tangan yang terbuka. Wajahnya yang semula kusut menjadi cerah, menandakan bahwa ia telah memahami perkataan anak empat tahun tadi.
"Itu disebut istri, Crystal."
"Oh. Hehe."
Mendengar pembenaran Ignis dan tawa Crystal membuat pangeran di sana ingin sekali menepuk dahi dengan telapak tangannya. Jauh sekali antara 'istri' dengan 'mama' dan mau tak mau ada sekelebat rasa sebal lagi datang menghampirinya.
"Kau seharusnya bercermin, Kuri. Kau yang bodoh, bukan aku." Tuturnya mencoba membela diri.
"Aku kasihan Noji bodoh sendirian. Jadi aku ikut bodoh saja."
Alih-alih mendapatkan jawaban yang dapat membuatnya menunjukkan ekspresi pongak, Noctis harus rela raut wajahnya menjadi kecut karena perkataan anak perempuan di dekatnya. Ia ingin sekali menarik pipi itu sekali lagi, membuat Crystal berteriak ampun kepadanya.
"Crystal, kalau kau ikut seperti Noct, aku merasa gagal."
"Ignis!"
Dan...Noctis kembali berteriak kesal sebab pirang kusam tersebut malah mengindahkan perkataan sang gadis kecil.
Hari-hariku selalu menyenangkan.
Sejak enam tahun lalu, setelah keseharian monotonku dipenuhi oleh warna-warna yang cantik, tidak pernah sedikitpun aku kehilangan senyum.
Sang hijau teduh selalu ada di sisiku untuk menyokongku, sang merah muda yang sering sekali menjadi temanku beradu mulut selalu berada di sampingku untuk menemaniku.
Hari-hari yang kami lalui itu diliputi oleh keceriaan, dihiasi gelak tawa hangat dan tidak ada lagi kata kesepian yang dahulu pernah merundungiku.
Bahkan, sejak Cor menempatkan Kuri di sekolah yang sama denganku—sepertinya sengaja karena temanku itu kelak akan menjadi salah satu pengawalku—, aku segera bisa menyukai sekolah yang dulu kubenci. Kenapa aku membenci sekolah? Tentu saja karena tidak ada teman-temanku dan akupun juga tidak berteman dengan siapapun—semua karena aku lagi-lagi mendapatkan tatapan berbeda karena statusku.
Kehadirannya menjadi angin segar bagi diriku. Aku jadi memiliki kesenangan saat bersekolah. Walau kami tidak satu kelas karena Kuri tiga tahun lebih muda dariku, tetap saja kami bisa makan siang bersama, bertemu di saat pelajaran olahraga, bersenda gurau seperti yang biasa kami lakukan di Citadel.
Kamipun akan pulang bersama dan sesampainya di rumah, Ignis akan selalu menyambut kami di depan pintu. Kami akan berjalan beriringan, tertawa karena celoteh yang dilontarkan, saling membalas senyum karena damai hari-hari itu.
Semuanya terasa menyenangkan...sampai satu petaka tiba...satu insiden yang merenggut senyumanku dalam sekejap.
Apakah aku sudah pernah bercerita bahwa sejak kecil aku tidak memiliki ibunda dan hanyalah ayahanda yang kupunya? Lalu, apa aku sudah memberitahukan bahwa karena kesibukan ayahanda sebagai raja negeri ini, aku harus rela diasuh oleh pelayan yang datang silih berganti.
Tidak ada dari mereka yang lama karena akulah penyebabnya. Mereka akan kuuji terlebih dahulu, karena aku tak menyukai pandang mereka yang melihatku sebagai putra mahkota. Sampai satu waktu aku menemukan salah seorang pengasuh yang berbeda. Ia melihatku sebagai anak-anak seperti pada umumnya, bukan sosokku yang seorang pangeran—walau cara bicaranya tetap menunjukkan hormat karena tuntutan pekerjaan. Aku segera saja memertahankannya.
Dan...dalam kejadian itu...orang terdekatku itu tiba-tiba saja terbunuh di depan mataku. Ia yang mengasuhku dengan penuh kasih sayang harus meregang nyawa karena melindungi diriku dari sesosok daemon wanita bertubuh ular.
Saat itu aku merasa tak berdaya. Bahkan aku hanya bisa terbujur kaku di tanah berdebu. Hangat tubuh yang tergeletak di sampingku—pengasuhku—berangsur-angsur pudar bersamaan dengan mendinginnya darah yang tergenang di bawah tubuhku.
Dapat kuingat sentimen yang hadir di malam itu. Itu adalah perasaan tak berdaya karena aku tak dapat melakukan apapun untuk melindungi mereka yang melindungiku.
Dalam sekejap mata mereka telah kehilangan ruh, terjerembab ke tanah kotor dan tak lagi bergerak demi memberi proteksi untukku. Seluruh sudut hatiku dipenuhi oleh rasa takut yang tak dapat terbendung. Seketika itu pula, walau aku tidak menyukainya, aku menyadari siapa diriku. Aku adalah pangeran negeri ini dan akan selalu ada orang-orang yang berkorban nyawa demiku.
Kala itu aku hanya mampu menengadah, menatap nanar monster menyeramkan yang sewaktu-waktu dapat membunuhku itu. Tiba-tiba saja sekelebat bayang kedua teman yang kehadirannya sangat berarti bagiku datang. Tak dapat kubayangkan bagaimana jadinya jika mereka ikut bersamaku saat itu.
Apakah mereka juga akan seperti orang-orang itu? Memasang badan demi diriku yang lemah ini?
Aku lemah...Aku selalu dilindungi...Haruskah orang-orang meregang nyawa demi diriku?
Hari demi hari yang seharusnya dihiasi oleh gelak tawa para sosok cilik bersurai tak senada di dalam bangunan megah tengah kota kini sunyi, senyap. Bibir-bibir mungil tersebut tak terbuka, tak meluncurkan kata-kata penuh jenaka ataupun pertengkaran seperti biasanya. Celah tak terlihat di mulut-mulut mereka sebab kini, para pemiliknya hanya mampu membisu, terpaku di pinggir ranjang besar yang menopang sosok sekelam malam.
Sosok tersebut adalah sosok yang kelak akan meneruskan tahta sang ayahanda, yang kini tengah kehilangan kesadarannya. Sang malam terbujur kaku, tak bergerak seincipun karena ruhnya entah melayang-layang kemana. Kelopaknya tertutup sangat rapat, begitu rapat seakan tak akan lagi terbuka—mengundang cemas bagi dua sosok sahabatnya yang bersurai kusam.
Ini adalah hasil perbuatan seorang daemon yang dengan kejinya menebas beberapa pasukan pengawal pangeran di dalam perjalanan pulang. Mereka yang terlibat meregang nyawa, kehilangan kehidupan demi sang pangeran yang masih tak kunjung sadarkan diri sekalipun dokter telah mengobati luka-luka kasat mata sosok kecil tersebut.
Tak ada yang tahu mengapa Caelum cilik tersebut tak kunjung membuka mata. Dan sosok itupun juga tak tahu bagaimana orang-orang yang ia tinggalkan itu terlihat lemah di samping ranjangnya.
Bahu salah seorang sahabat pirang kusamnya yang selalu ditegapkan terkulai, tak kokoh seperti yang biasa dipertahankan. Hijau itupun memandang nanar, memancarkan ketidakberdayaan saat memandangi dirinya yang terus menerus tertidur.
Tangan kecil anak lelaki berkacamata tersebut dikepal, menandakan bahwa ia benar-benar tengah berusaha menahan agar luapan kesedihannya tak menguar hingga dapat dirasakan oleh sosok merah muda yang sejak beberapa hari lalu selalu berdiam diri di bangku kecil di samping tempat tidur.
Ya...Noctis tak tahu bahwa kedua sahabatnya begitu terpukul dengan kondisinya saat ini.
Sejak Noctis kembali dari perjalanan dalam keadaan tak sadar beberapa hari lalu, selain Ignis, Crystal, anak perempuan yang selalu menjadi kawan berkelahinya terus menerus berada di sisinya.
Sang pangeran tak tahu bagaimana wajah yang biasa dihiasi oleh gurat jenaka menampakkan syok teramat sangat saat melihat tubuhnya terbujur kaku. Ia tak tahu bahwa anak itu tak menangis, tak berteriak, hanya menampilkan gurat ngeri dalam bisunya. Tak tahu pula ia bahwa Leonis cilik tersebut hanya duduk sembari mengatupkan bibir rapat-rapat di sampingnya, memandanginya dengan sedih, dan sesekali memegangi tangannya yang terkulai tanpa tenaga.
Tidak...sesungguhnya ia tahu...
Di dalam tidur panjangnya, sosok bersurai hitam tersebut acap kali terkesiap saat merasakan ada seseorang yang memanggil namanya, ketika ada hangat menyentuh kulit tangannya. Biru kedua mutiaranya menari-nari, menyapu lansekap asing yang entah mengapa datang menghampirinya.
Kini ia berada di salah satu tempat yang tak ia ketahui di mana. Kaki kecilnya berlari-lari, berayun ke sana ke mari mengikuti sesosok binatang kecil lucu yang berbicara melalui ponselnya. Ia terus menerus melangkah, mengikuti sosok itu ke manapun ia pergi.
Di dalam hatinya, ada perasaan asing yang menguar tak tertahankan. Dalam langkahnya terkadang sosok itu akan terhenti sejenak untuk menengadah, memejamkan mata dan memusatkan pikiran untuk mendengarkan suara-suara dari mereka yang ia tinggalkan; yang memintanya untuk kembali.
Tangan kecil tersebut terkepal, berusaha menguasai dirinya karena ia mengetahui siapa yang tadi berbicara dengannya di alam sana; alam yang ia ketahui terlampau jauh untuk ia gapai saat ini.
"Aku harus kembali."
Suara khasnya mengudara, berkata-kata kepada sesosok makhluk bertelinga panjang berbulu biru pucat lembut yang memandangnya lurus. Ada kesungguhan di dalam mata anak lelaki itu dan makhluk bernama Carbuncle di depannya menyadari hal itu.
"Jika ingin kembali, kau harus melewati mimpi ini..."
Itulah kata yang diperdengarkan Carbuncle kepada Noctis, membuat Caelum cilik itu mengangguk paham dan kembali melangkahkan kakinya secara cepat. Napasnya dibiarkan terengah, tubuhnya dibiarkan letih dan tak diberi istirahat sedikitpun. Dalam benaknya, ia hanya menginginkan dirinya cepat kembali kepada para teman-temannya, kepada ayahanda yang menunggunya pulang.
Lansekap demi lansekap asing tak diindahkannya, fokusnya hanya satu, yaitu, segera terbangun dari mimpi ini.
Karenanya, ketika ia dapati dirinya berada di salah satu ruang besar berjendela coklat tinggi yang dipenuhi balok-balok khas mainan anak-anak, ia sedikit menghembuskan napas lega. Ia telah kembali ke Citadel—meski tahu dirinya masih berada di alam mimpi.
Kakinya sekali lagi tetap ia langkahkan tanpa lelah, terus menerus ia paksa berlari mengikuti petunjuk yang diberikan sang makhluk berbulu pucat. Sampai pada akhirnya ia berada di pintu masuk tangga rumahnya yang megah, mendapati ada sesosok monster menyeramkan yang ia ketahui tak akan mampu dikalahkan oleh dirinya sekarang.
Tetapi, di tengah kegundahannya, sesuatu yang tak disangka-sangkanya terwujud. Tubuhnya berubah. Kaki dan tangannya yang pendek menjadi jenjang, bahunya yang kecil berubah menjadi kokoh dan bidang. Ia mengerjap dan teriakan Carbuncle menyadarkannya bahwa saat ini ia telah berubah menjadi dirinya di masa depan yang dapat dengan mudah memiliki kekuatan untuk menebas makhluk kotor itu.
"Noct..."
"Noctis-ouji..."
Ayunan terakhir pedangnya terhenti kala ia dapati suara-suara itu semakin terdengar jelas. Ia menengadah, berbalik arah untuk mencari-cari sosok keberadaan kedua teman yang tadi memanggil namanya. Ia—yang telah kembali ke wujud kanak-kanaknya semula—memejamkan mata, menarik kedua sudut bibirnya.
Ada yang menunggu kepulangannya...
Dan ia dapat segera kembali ke tempat itu setelah ini...
Netra birunya merendah, memandangi Carbuncle yang telah memberinya ijin untuk memasuki mobil ayahandanya—yang akan membawanya kembali ke dunianya semula. Ia tersenyum, mengucapkan selamat tinggal kepada makhluk itu.
"Kau...harus lihat wajahmu..."
Itu adalah alunan suara lemah yang pertama kali diucapkan sang pangeran yang baru terjaga dari tidur panjangnya. Kepalanya tertoleh ke arah kiri, memandangi kedua sahabat kecilnya yang menampilkan wajah syok.
Dalam lemahnya ia menarik kedua sudut bibirnya, merasa lega telah berhasil kembali ke dunianya untuk bertemu dengan dua orang yang berharga baginya. Putra mahkota tersebut berusaha bangkit untuk duduk dan ia hampir kembali terjatuh karena tiba-tiba saja ada tubuh kecil yang menubruknya.
Kepalanya tertunduk guna melihat sosok merah muda yang tanpa aba-aba menghambur dan memeluknya dengan lengan yang bergetar.
"Nojiiii!"
Anak perempuan itu meraung, menangis tanpa henti sembari memeluki dirinya yang terkejut. Ia mengerjap beberapa detik sebelum kemudian memamerkan senyuman lagi karena ada sesuatu afeksi manis yang datang menggelitik hatinya saat merasakan kehangatan Leonis cilik tersebut.
Tanpa disadarinya lengannya telah melingkar, memeluk gadis kecil yang belum melepaskan dekapannya. Dan...ia tak tahu bahwa ia telah berikrar. Ia akan menjadi lebih kuat agar sosok di hadapannya tak meneteskan air mata seperti ini lagi.
Ada yang berbeda denganku sejak insiden menyeramkan itu terjadi.
Ya…
Memang sebenarnya banyak yang berubah sejak kejadian itu. Yaitu adalah aku kehilangan kemampuan untuk tertawa riang seperti dulu—karena ternyata insiden tersebut melekat erat di hatiku—, pun dengan kakiku yang sempat cacat akan tetap seperti itu karena luka yang kudapat ternyata membekas meski ibu Luna telah berjuang menyembuhkannya—tetapi aku masih bisa berjalan dan berlari walau tak seperti sedia kala.
Ayahandakupun semakin protektif padaku sejak insiden itu, para pengawal semakin ketat menjagaku hingga aku tak lagi bisa menyelinap dari Citadel dalam frekuensi yang sering seperti yang sudah-sudah—tentunya bersama dengan Ignis dan Kuri.
Tak hanya ayahanda dan aku yang berubah. Kedua sahabat kecilkupun turut memerlihatkan sedikit perbedaan setelah insiden itu. Ignis, yang memang sering terlihat tenggelam dalam tumpukan buku tiba-tiba saja mulai memasak dan juga berlatih fisik.
Oh. Tentu aku tahu bahwa Ignis memasak demi membuatku kembali tersenyum—karena aku sempat mengatakan kudapan manis Tenebrae sangat enak—dan ia berlatih fisik demi bisa melindungiku agar sesuatu yang menyeramkan itu tak lagi menyerangku.
Kuripun seperti itu. Ia yang memang dasarnya telah berisik menjadi semakin heboh sekali hingga membuat kepalaku pening. Alasannya tentu saja karena ia ingin membuatku tertawa kembali. Apapun akan diceritakan Kuri. Dari sesuatu yang sepele, hingga sesuatu yang sangat tidak penting.
Belum lagi, aku mengetahui bahwa ia juga meminta Gladio, salah seorang pengawal muda untuk menjadi teman berlatih fisiknya.
Melihat anak perempuan itu berusaha sekuat tenaga mendatangkan perasaan-perasaan aneh di dalam dadaku. Seluruhnya campur aduk, membuatku selalu mengerutkan dahi tak paham. Ada perasaan tak rela melihat Kuri harus dipenuhi luka karena perkelahiannya, ada kagum karena anak yang dulu hanya mampu mengekori Ignis kini telah tumbuh menjadi sosok yang kuat.
Tidak...sebenarnya perasaan asing itu telah hadir dalam hati ini setelah Kuri memelukku kuat-kuat sembari menangis di hari aku kembali sadarkan diri. Aku menyadari ada perbedaan dalam diriku terhadapnya...dan...entah mengapa sedikit demi sedikit afeksi itu memberi bibit untuk perasaan lain perlahan tumbuh...
Di satu petang hari yang terik dan ditemani oleh semilir hembusan angin Februari dingin nan kering, sesosok anak lelaki berusia sepuluh tahun tampak berjalan menyusuri lorong Citadel dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku rompi tebalnya. Bola kacanya sedikit melirik ke arah orang-orang yang menyapanya sebelum kemudian pandang itu kembali teralih ke depan, menyapu lansekap yang biasa tersaji di depan kedua matanya.
Ia hendak berjalan ke ruang latihan Crownsguard yang biasa menjadi tempatnya bertarung melawan teman barunya, Gladiolus. Hari ini ia sudah berjanji akan melakukan latihan bersama pemuda tinggi itu dengan Ignis pula sehingga ia mulai semakin memercepat langkahnya agar tak terlambat—ia tak ingin diceramahi calon penasihatnya mengenai tepat waktu.
Namun, tak jauh dari tempatnya berpijak, netranya melihat sosok merah muda yang tengah berdiam diri di ambang pintu ruang latihan yang besar. Seketika langkahnya ia hentikan dan kerutan tercetak di dahinya ketika ia memerhatikan gerak gerik gadis tujuh tahun di sana.
Di hadapannya, Crystal terlihat uring-uringan. Anak perempuan itu sempat terdiam selama beberapa menit sebelum membuka tas jinjing yang dibawanya, merogoh beberapa detik dan mengeluarkan satu benda kotak yang dihiasi pita merah. Surai merah muda yang diikat satu itu menari simpul ke kiri dan kanan ketika pemiliknya bergerak seperti tengah dilanda gelisah—membuat Noctis semakin heran.
Sosok itupun juga beberapa kali terlihat menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya cepat. Seperti tengah melakukan upaya pengendalian diri ketika ia grogi dan membuat Caelum sepuluh tahun tersebut semakin penasaran.
Tetapi...ada sesuatu yang membuat hatinya tergelitik tak suka.
Dan ia tak tahu apa sebabnya.
"Hei bodoh apa yang kau lakukan?"
"Uwaaa!"
Tanpa aba-aba, Noctis yang memang telah berada di belakang gadis itu segera saja membuka mulutnya dan mengagetkan Crystal. Birunya dapat melihat teman merah mudanya sangat nanap. Bahkan anak di hadapannya hampir menjatuhkan kotak merah muda yang sejak tadi digenggam erat.
"Apa ini?" Pergerakan sang pangeran begitu cepat. Sebelum sempat Crystal menyembunyikan benda yang berada di tangannya dan berlari dari sana, ia telah lebih dulu menyambar—membuat sang Leonis kecil hampir memekik panik. Noctis menggoyang-goyangkan benda itu dan mengendus sedikit. "Ini coklat?"
"Ahh! Busutis-ouji, kenapa kau goyang-goyangkan?! Kembalikaan!"
"Untuk siapa?" Yang diberi pertanyaan tak menjawab dan malah semakin merentangkan tangan hendak menggapai coklat yang di bawa ke atas kepala Noctis. "Untukku?" Tanya anak lelaki itu lagi karena merasa gatal ingin tahu.
"Bukaaan!"
Itu adalah pertanyaan yang segera saja dilantangkan sang gadis cilik tujuh tahun dan mengundang satu perasaan asing hadir mengetuk pintu hati sang putra mahkota. Netranya menyipit dan ia segera merentangkan tangan, menaruh telapaknya di dahi sang gadis untuk menahan pergerakan sahabatnya itu.
"Oh ada tulisannya." Ucapnya lagi sembari menengadah dan untuk kesekian kalinya sesuatu menghimpit hatinya saat ia membaca tulisan tersebut. "Untuk...Ignis." Cicitnya.
"Aaaaa! Hentikan! Hentikan!"
Biasanya, melihat wajah panik kawan kecil di hadapannya akan membuat Noctis menyeringai senang. Tetapi, entah mengapa untuk kali ini ia tidak melakukannya. Alih-alih tersenyum penuh kemenangan, ia malah menatap lekat-lekat sosok manis tersebut.
Pandangnya begitu tajam, tetapi sedikit tersirat emosi yang tak dipahaminya. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya, ia tak paham apa yang menggerogoti hatinya.
Ia—
"Noct, Crystal, apa yang kalian lakukan?"
Suara khas milik seorang anak lelaki sebelas tahun yang menjadi topik pembicaraan kedua sosok bersurai hitam dan merah muda tersebut membuat keduanya terkesiap. Pegangan tangan pada dahi gadis kecil itu terlepas cepat seiring dengan bergulirnya kedua permata biru milik sang pangeran untuk melihat calon penasihatnya.
Noctis terdiam, memandangi teman kecilnya yang lain dengan lekat. Perasaan terhimpit itu semakin datang tak terelakkan dan ia bersusah payah menahan buncah emosi yang tak ia ketahui apa sebenarnya.
"Kebetulan sekali Ignis datang." Pangeran itu membuka katup mulutnya setelah beberapa kali menghirup napas dan membuangnya secara perlahan. Ia kemudian segera mengembalikan coklat yang masih dipeganginya ke tangan sang merah muda. "Ada yang ingin dia berikan." Tambahnya.
Itulah kata terakhir yang diberikan Noctis kepada kedua sahabatnya sebelum ia berjalan masuk ke dalam ruang latihan yang ternyata belum ada seorangpun di dalamnya. Ia menyandarkan punggung kecilnya ke pintu kayu yang menjadi pemisah antara dirinya dan kedua teman sepermainannya.
"Kau ingin memberiku sesuatu?"
Dari balik benda kokoh itu, Noctis dapat mendengar percakapan keduanya. Ia ingin beranjak dari sana, ia tidak ingin dengar. Tetapi kakinya tak mampu ia gerakkan sehingga tubuhnya tetap menempel pada daun pintu. Ia terdiam sembari mengepalkan tangan karena rasa asing di dadanya tak kunjung hilang.
"Co-coklat...Aku membuat coklat untukmu."
"Coklat? Buatanmu?"
Sang Caelum dapat mendengar adanya keterkejutan dan sedikit percik riang di dalam kata yang dituturkan Ignis. Seketika itu pula tangannya semakin terkepal kencang.
"Buatanku. Itu—"
"Hasil latihan terbarumu, ya?"
Anak lelaki bersurai hitam di sana mendadak mengerutkan dahi dan tanpa sadar menoleh ke arah belakang seolah ia ingin semakin mendengar percakapan yang entah mengapa sepertinya berujung ke kesalahpahaman.
"Eh..bukan..itu…" Ia dapat mendengar bagaimana gadis itu panik.
"Aku akan mencobanya dengan baik dan memberikan kritik setelah latihan nanti, ya."
Mendengar kalimat terakhir milik sahabat pirangnya tadi membuat Noctis tanpa sadar menepuk dahinya. Rasa terhimpit-himpit dalam hatinya tadi memudar cepat dan terganti dengan rasa iba. Ignis Scientia, mahir dalam segala hal tapi tidak mengenai perasaan.
"Kau ikut latihan kan, Crystal?"
"Tidak, Ignis. Aku bolos dulu hari ini."
Mendapati langkah kaki milik teman merah mudanya yang menjauh dan bunyi gagang pintu yang tergenggam membuat Noctis melesat menjauh secepat kilat. Entah mengapa kakinya telah berhasil ia gerakkan. Tangannya segera menyambar pedang kayunya dan ia berpura-pura mengayunkannya agar terlihat seolah telah melakukan latihan sendiri dan tak mengetahui kejadian menyedihkan tadi.
"Gladio belum datang?" Tanya sang Scientia.
"Belum." Jawab pangeran kecil itu seadanya.
Kedua biru tersebut melirik simpul ke arah Ignis yang mulai membuka jaket tebalnya sembari meletakkan bungkusan merah muda yang tadi diberi gadis kecil Leonis. Kemudian, ia sedikit terperanjat ketika Scientia itu mengalihkan pandang ke arahnya seakan memergokinya yang tengah memandangi lekat-lekat.
"Noct, kenapa kau senyum-senyum sendiri?"
Dan Noctis harus merasakan dahinya mengerut lagi karena mendengar tuturan pirang kusam itu.
Ia tersenyum?
Mengapa ia tersenyum?
Sejak dulu aku tahu bahwa Crystal menyukai Ignis.
Dan aku selalu biasa saja terhadap hal itu.
Tidak. Aku bohong.
Itu hanya harapanku saja.
Nyatanya, ada yang aneh denganku.
Setiap kali aku melihat kedekatan mereka, ada perasaan tak suka yang datang menghampiriku.
Itu adalah perasaan yang kerap hadir menggerogoti diriku sejak enam tahun lalu, yaitu adalah saat aku merasakan sesuatu setelah aku memergoki Kuri memberi coklat kepada Ignis.
Sebenarnya, aku sudah merasakan ada yang aneh pada diri ini sejak aku sadar dari koma-ku. Hatiku seperti telah diselimuti satu perasaan asing setelah melihat gadis kecil yang biasanya menampakkan wajah jahil dan usil mendadak menunjukkan raut putus asa sembari tersedu-sedu setelah aku sadarkan diri saat itu.
Ada hangat yang merengkuhku ketika sosok itu mendekapku begitu erat, seakan-akan berkata betapa hancurnya ia ketika kehilangan diriku selama beberapa hari.
Kala itu, manis menguar memenuhi rongga mulutku, terus menerus hadir membuat indera perasaku seperti lumpuh karenanya. Sayangnya, perlahan-lahan rasa indah itu ternodai oleh pahit yang terasa begitu pekat.
Getir kurasakan acap kali kulihat interaksi antara sang merah muda dan pirang kusam.
Terus menerus seperti itu...selalu seperti itu hingga membuatku selalu dilanda nyeri tak kasat mata ketika melihat mereka.
Perasaan apa...ini...?
"Kuri? Hei, Kuri. Kau mau tidur sampai kapan?"
Merupakan satu kalimat pembuka yang mengiringi dendang kicau burung pagi hari—tidak. Mentari telah meninggi, menampilkan kemolekkannya yang berwarna emas cantik. Kapas bumi tak tampak terlihat sehingga hanya menyisakan biru kosong yang ditorehkan oleh kemilau keemasan.
Bias itu merambat masuk ke celah tirai jendela yang masih tertutup walau hari telah menunjukkan pukul dua belas siang. Selimut yang menutupi kedua insan bersurai kontras di sana belum tersibak, tetap setia menyelimuti keduanya yang masih bergulung di atas kasur hangat.
"Lima menit lagi."
"Lima menit lagi jam dua belas lewat lima—argh!"
"Ugh..." Kedua sekawan tersebut saling meringis karena sang gadis dua belas tahun yang tadi membenamkan wajah di dada pemuda itu tiba-tiba saja mendongak cepat hingga kepalanya terantuk dagu sang Caelum. "Apa yang kau lakukan sih, bodoh?!" Teriak Leonis merah muda yang tak sadar bahwa itu adalah salahnya.
"Itu kata-kataku, tahu!" Noctis bersungut melihat teman sepermainan yang memang tidur bersamanya itu malah berbalik mengomelinya "Lepas sana! Kau berat!"
"Ba-bagaimana ini, ouji...kita sudah janji dengan Ignis jam satu nanti!"
Sang pangeran yang masih mengenakan busana tidur menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan menguap beberapa kali. Ia masih mengumpulkan beberapa sisa ruhnya yang belum sepenuhnya kembali kepadanya. Dengan malas ia meraih ponselnya, mengecek apakah ada kabar dari sahabat pirang kusamnya atau tidak.
"Tenang saja." Ucapnya setelah mendapati satu pesan di dalam benda itu.
"Bagaimana aku bisa tenang! Hanya tersisa lima puluh lima menit lagi dari sekarang! Mana mungkin aku akan menyelesaikan semua masakan seorang diri di waktu sesingkat ini?!" Noctis menghela napas panjang mendengar gadis itu berbicara dalam satu tarikan napas. "Padahal aku sudah repot-repot tidur di sini untuk membangunkanmu agar kita tak terlambat! Tapi aku malah kesiangan juga! Ini karena kau mengajakku bermain kartu sampai malam! Dasar bodoh!"
"Kau yang bodoh! Lihat! Ini pesan dari Ignis. Dia akan terlambat satu jam! Jadi kita masih punya banyak waktu."
Noctis mendengus kesal saat mendengar gadis kecil yang memang tidur bersamanya semalam semakin meracau tanpa napas dan kemudian menyalahkan dirinya kembali.
Siapa suruh mau ikut bermain dengannya?
"Kalau begitu, cepat mandi! Aku akan kembali ke kamarku dan lima belas menit lagi kita bertemu di dapur!"
Sekali lagi Noctis harus menghela napas karena pagi hari telah diwarnai oleh keberisikan kawan musim seminya. Ia yang masih terlihat menguap beberapa kali dengan gontai berjalan ke kamar mandi, melakukan ritual pagi dan kemudian mengganti busana tidurnya dengan kaus hitam kasual yang biasa dikenakannya ketika akhir pekan.
Menyambar satu kotak berwarna hitam yang telah dibungkus rapi semalam oleh sang merah muda, ia dengan cepat melangkahkan kaki ke tempat yang tadi disebutkan Crystal. Sesekali ia bergumam kecil membalas sapaan orang-orang di dalam Citadel yang melihatnya.
"Nona Crystalcrown, biar aku bantu..."
"Tidak, paman Mat, aku akan membuatnya sendiri!"
Baru saja ia membuka pintu dapur, ia sudah disuguhi oleh pemandangan heboh yang mau tak mau membuatnya menghembuskan napas kembali.
"Tuan Noctis, tolong beritahu nona Crystalcrown agar aku bisa bantu."
"Tidak apa, Mat. Si bodoh itu bersikeras ingin membuatkan kue ulang tahun dan daging lapis tepung kesukaan Ignis sendiri. Kita lihat saja kapan dia akan menyerah."
"Tidak akan aku menyerah."
Noctis sedikit mendengus geli melihat gadis yang telah mengikat surai merah mudanya tinggi-tinggi menjulurkan lidah ke arahnya. Ia melihat sang chef yang tidak diperkenankan untuk membantu duduk di salah satu kursi dekat gadis itu untuk memantau.
Melirik ke salah satu kursi lain yang kosong, pangeran lima belas tahun itu segera mendudukkan tubuhnya di sana. Ia letakkan bungkusan kotak hitam yang berada di tangannya tadi dan ia topang dagunya dengan tangannya.
Biru tersebut memandangi lekat-lekat wajah gadis yang masih sedikit kekanakkan. Tak begitu banyak berubah wajah itu sejak sahabat merah mudanya belia.
Ia tiba-tiba saja mengerjap, mengerutkan dahi ketika menyadari bahwa ia memandangi gadis yang lebih muda darinya itu tanpa berkedip. Sekali lagi, ia merasakan satu perasaan manis yang membuncah hingga memenuhi rongga mulutnya. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya setiap kali ia menatap sang gadis Leonis dan sampai detik ini ia tidak mengetahui perasaan itu—ia pun enggan menceritakannya kepada siapapun.
"Rasanya sudah pas. Nona Crystalcrown benar-benar sudah mahir memasak ya. Ignis pasti senang."
Kalimat yang dilontarkan oleh pria empat puluh tahun di sana menyadarkan Noctis dari lamunannya. Ia sekali lagi mengedipkan mata beberapa kali, tersadar bahwa ia sempat melamun begitu lama hingga tidak menyadari persiapan jamuan makanan untuk merayakan ulang tahun Ignis sudah selesai.
Ya...alasan gadis itu menginap di kamarnya dan ingin agar bangun pagi, bersusah payah menolak bantuan chef Citadel demi membuat masakan dengan tangannya sendiri adalah karena mereka akan merayakan hari lahir sang Scientia.
Crystal bersikeras untuk menyiapkan segalanya seorang diri agar dapat membuat Ignis senang—yang menurut Noctis, walau membeli yang sudah jadipun Ignis pasti akan tetap senang. Dan menyadari kenyataan itu lagi membuat rasa manis yang tadi terkecap berubah menjadi getir luar biasa.
Lagi-lagi ada pahit di rongga mulutnya.
"Ouji, ayo ke ruang makan. Sudah tidak ada waktu lagi."
Noctis tidak menolak saat ia rasakan tangan kecil Crystal menggenggam dan menariknya agar berjalan cepat ke arah ruang makan yang tidak jadi ditata karena mereka terlambat bangun. Ia mendudukkan diri di salah satu kursi makan yang mewah, mendengarkan dengan baik titah putri kristal itu lekat-lekat...sebelum dahinya berkerut.
"Hei Kuri, benar tidak apa-apa seperti itu?"
"Ignis kan pintar, jadi dia pasti tahu kalau kita mau membuat kejutan! Makanya lebih baik seperti tadi, ya."
Caelum muda itu menyipitkan matanya, memandangi Crystal dengan tatapan ingin membantah tapi ia tahu anak itu tidak akan mau mendengar. Karenanya ia mengangguk tanda menyerah.
"Jangan lakukan itu saat ulang tahunku, ya."
"Kau kan bodoh, kau pasti akan tetap terkejut tanpa perlu seperti itu."
"Kau—"
"Sssttt! Aku dapat mendengar suara langkah kaki Ignis."
"Kau ini menyeramkan."
"Ouji, bersiaplah di depan pintu!"
Dikomandokan seperti itu dengan suara setengah berbisik membuat Noctis refleks mengangguk dan mengambil satu buah kain yang telah dipersiapkan oleh anak gadis itu. Ia mengendap-endap, menoleh ke arah Crystal yang juga memandang ke arahnya untuk memberikan aba-aba.
"Noct—uwa!"
Suara rendah milik pemuda Scientia yang baru saja membuka pintu mendadak meninggi saat tiba-tiba saja ia merasakan teman merah mudanya menarik kacamatanya dan pangerannya membebat kedua matanya dengan kain.
Kejutan ulang tahun yang ekstrim sekali...
Begitulah batin Noctis yang kini mengekori Ignis yang ditarik Crystal untuk masuk ke dalam ruang makan.
"Selamat ulang tahun, Ignis!"
Suara renyah gadis belia itu mengudara, memenuhi hampir seluruh penjuru ruang berjendela tinggi dengan ornamen hitam dan emas. Noctis yang melepaskan ikatan mata Ignis dapat melihat pemuda tujuh belas tahun tersebut terperangah melihat sajian sederhana yang berada di hadapan kedua matanya.
Ia tersenyum, merasa sedikit bangga pula karena berhasil membuat sang penasihatnya yang kaku dapat menampilkan raut seperti ini—meski yang ia lakukan hanyalah membawakan kado, menunggui sampai Crystal selesai memasak, dan menutupi mata pemuda itu dengan kain hitam.
"Seharusnya tidak perlu melakukan ini."
"Protes saja ke Kuri." Jawab Noctis sembari mendudukkan diri di hadapan Ignis.
"Habisnya Ignis pasti sudah tahu! Jadi harus ada yang baru!"
Biru keruh itu dapat melihat bagaimana Ignis tertawa saat mendengar kalimat sang gadis merah muda yang menempatkan diri di samping sang pirang kusam. Ia menilik baik-baik kedua orang itu sebelum meminum sedikit cairan pekat yang memang dipersiapkan tadi.
"Kalian, memasak?"
"Aku. Pangeran bodoh itu mana bisa." Noctis dapat melihat Crystal menjulurkan lidah ke arahnya, menampilkan raut menyebalkan. "Ignis, sebelum makan, bagaimana kalau kau buka kadomu dulu?"
"Kalian tidak perlu repot-repot menyiapkannya."
"Tidak, kok. Ya kan, ouji?"
"Hmm..."
"Jawaban apa itu—ah! Sarung tangan perak itu dari Noctis-ouji."
Noctis yang masih meneguk minumannya mengangguk simpul ketika pemuda Scientia di sana mengatakan bahwa ia menyukainya dan berterima kasih kepadanya. Entah mengapa, sejak tadi tak ada perasaan senang datang menghampirinya dan ia harus bersusah payah mengalihkan perhatiannya dengan cara meminum minuman yang telah dipersiapkan sebanyak mungkin.
"Kalung ini darimu?"
"Be-betul. Menurutku kau cocok menggunakan itu."
"Terima kasih, Crystal."
Pangeran Caelum harus mereguk pahit yang tiba-tiba saja terkecap kembali di indera perasanya. Rasa manis minuman yang tadi memanjakan mulutnya seketika hilang ketika ia lihat ada semburat merah muda manis di wajah Crystal. Ia mengeratkan pegangan pada cangkir minumnya, berusaha mengabaikan sentimen asing yang tak ia pahami namanya.
"Kau...mau memasangnya sekarang?"
"Ya."
"Kau bisa memasangnya, Ignis?"
"Bisa."
"O-oh..."
Sekali lagi rasa itu semakin menguar cepat bahkan seolah membakar kerongkongan dan memenuhi rongga hatinya. Belum lagi ada sekelibat emosi lain yang hadir ketika ia dapati gadis merah muda itu sedikit menunjukkan wajah lesu saat mengetahui sahabat pirang kusamnya dapat mengenakan barang pemberiannya seorang diri.
Sejak kapan ia bisa memahami gerak-gerik Crystal?
"Si bodoh itu mau memasangkannya untukmu."
Noctis dapat melihat bagaimana Crystal memelototinya setelah ia mengatakan hal tersebut. Wajah yang tadi dihiasi oleh semburat merah muda tipis semakin memerah karena perkataannya tadi. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha tak menghiraukan satu kilau familiar di balik bola kaca teduh milik Ignis.
"Ka-kalau begitu tolong ya, Crystal."
Dan putra mahkota itu tetap menutup kedua matanya agar tak melihat bagaimana sahabat merah mudanya melingkarkan rantai kalung ke leher pemuda pirang kusam di hadapannya.
Rasa pahit itu semakin menggebu-gebu tak kuasa dipertahankan...
Aku semakin tidak seperti aku yang biasanya.
Itulah yang terus menerus menghantuiku selama aku mulai merasa aneh ketika melihat kedekatan Kuri dan juga Ignis.
Walau gadis itu sering sekali datang untuk menginap di tempatku—semenjak masuk sekolah menengah atas, aku diberikan kebebasan untuk tinggal sendiri di apartemen—, walau kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama-sama, tetap saja hati gadis itu tertinggal untuk calon penasihatku.
Di dalam permata merah muda itu hanyalah refleksi bayang Ignis yang berada, hanyalah sosok itu yang dilihatnya.
Tidak ada sedikitpun permata itu melirik ke arahku, melihatku...tidak ada setitikpun keberadaanku membekas di hatinya.
Pahit itu kian lama kian menyebar tak mampu untuk kucegah. Ia merambat dari hatiku, bergerak ke tiap inci tubuhku, menjalar ke kerongkonganku, menodai indera pengecapku.
Aku aneh. Semakin lama aku semakin aneh.
Aku tak mengerti perasaan ini, aku tidak memahami apa yang tengah terjadi padaku.
Hanyalah rasa tak nyaman yang terus menerus hinggap, hanyalah manis yang berujung kepada getir yang hadir memenuhi indera pengecapku.
Apakah tidak ada yang dapat kulakukan agar dia beralih memandangku?
Apakah tidak ada yang bisa kuperbuat agar bola kaca itu bisa melihatku?
Perasaan apa ini?
Mengapa aku seperti ini...?
"Kau menginjak kakiku!"
Suara nyaring milik pemuda Caelum menggema ke seluruh penjuru ruang megah yang dihiasi oleh lampu-lampu mewah berwarna perak. Dendang hewan-hewan penanda senja di sana seketika menghilang seiring dengan melantangnya suara tersebut, seperti takut dan enggan terlibat.
Di dalam ruang berjendela tinggi besar di sana, ia bersama dua sahabat kecilnya nampak tengah berdebat sembari saling memelototi satu sama lain—lebih tepatnya, ia dan Crystal. Ignis hanya menampilkan wajah kesal karena lagi-lagi pelatihan ini berujung ke pertengkaran mereka.
Ia dan gadis merah muda tersebut saling melempar tatapan jengkel, memercikkan kekesalan di tiap masing-masing bola kaca biru dan merah muda yang tak senada. Tetapi, walau saling menampakkan wajah masam, Noctis dan juga Crystal belum melepaskan tautan jemari mereka. Keduanya masih bergerak ke kanan dan kiri mengikuti irama musik lembut yang terus mengalun—belum diputus oleh sang pirang kusam.
"Kau yang lebih dulu menginjak kakiku! Pembalasan."
"Aku kan tidak sengaja!"
"Kau pangeran tapi mengapa tidak bisa berdansa, sih?!"
"Karena aku selalu kabur dari pelatihan dansa!"
"Hei, mau sampai kapan kalian bertengkar seperti ini?"
Indera pendengaran sang pangeran mendapati nada menenangkan yang tadi meluncur dari sebuah tape berwarna hitam terhenti dan berganti dengan suara berat yang bergema cukup keras. Ia sedikit melirikkan birunya, melihat bagaimana wajah tampan penasihatnya diliputi oleh sebal—tentu saja. Sudah lima puluh menit mereka berada di sana, tapi pemuda Caelum dan gadis Leonis tidak menunjukkan kemajuan sama sekali.
"Habisnya dia duluan yang mulai!"
Noctis terkesiap dan kembali menumbukkan tatapan sebalnya ke gadis yang tadi berkata-kata sama dengan dirinya. Detik berikutnya ia dapat mendengar Scientia yang memang menjadi instruktur mereka menghela napas panjang. Pemuda berkacamata tersebut juga terlihat menaikkan letak bingkai hitam di wajahnya yang sedikit turun sebelum kemudian bersidekap untuk menilik baik-baik ke arahnya dan Crystal yang masih menggeram ke satu sama lain.
"Prom night-nya hari ini dan kalian masih juga seperti itu tidak ada kemajuan."
"Ada! Aku baru menginjak kaki si bodoh itu satu kali!"
"Pangeran mana yang bangga dengan kemajuan menyedihkan itu!"
Sekali lagi Noctis harus diliputi kejengkelan karena gadis yang lebih pendek darinya tersebut selalu saja menyulut emosinya. Dahinya berkerut menyeramkan. Hatinya berkata-kata kesal tanpa bisa ditahannya.
Padahal Crystal akan berbicara baik-baik dengan Ignis, padahal gadis itu selalu menampakkan wajah manis jika di depan pemuda itu. Tetapi kenapa sikapnya sangat berbeda jika di depannya?
"Tidak ada waktu lagi." Noctis yang telah menghentikan langkah dansanya dan melepaskan tautan jemarinya terkesiap dan tersadar dari lamunannya. Dengan cepat ia menoleh ke arah Ignis yang lagi-lagi menghela napas frustasi. "Ingatlah apa yang sudah kalian pelajari dan bergegaslah bersiap karena sebentar lagi jarum jam akan berada di angka enam. Jangan sampai kalian terlambat."
Terselesaikannya titah milik penasihatnya tersebut membuat putra Regis di sana tiba-tiba saja menyambar botol airnya sebelum melangkah dalam bisu menuju pintu tinggi hitam yang tertutup rapat. Langkah kakinya dibuat besar-besar dan menimbulkan bunyi berisik, seolah mencoba memberitahu kepada dua orang sahabat yang tertinggal di belakangnya bahwa ia tengah gondok bukan main.
Ia berjalan menyusuri lorong Citadel dengan wajah sedikit bersungut menuju kamarnya. Hatinya kini benar-benar diliputi oleh kekesalan luar biasa. Belum lagi ia harus rela merasakan pahit yang lagi-lagi ada di dalam mulutnya.
Mengapa gadis itu selalu seperti itu terhadapnya?
Mengapa ia tidak pernah bisa berkata-kata lembut kepadanya?
Mengapa ia harus kesal seperti ini?
Dengan kasar pangeran tersebut membuka dan menutup pintu kamarnya. Ia bawa tubuhnya yang dihiasi oleh sedikit peluh ke dalam kamar mandi. Diputarnya kran tersebut agar air dingin meluncur dan membasahi raganya yang terasa panas. Ia menunduk, membiarkan shower di atas sana mendinginkan dirinya—jiwanya.
Ia menghela napas kasar dan berdecak. Lagi-lagi pemikiran mengganggu itu datang. Lagi-lagi ia bertingkah tidak seperti dirinya setiap kali bersama dengan Crystal dan juga Ignis. Ia akan selalu seperti ini. Menjadi uring-uringan dan tak mampu mengontrol dirinya.
Sungguh, Noctis tidak sama sekali mengetahui apa penyebabnya dan kemungkinan besar ia tidak akan pernah mengetahuinya karena ia tak ingin menceritakan hal ini kepada siapapun.
Merasa cukup membuat dirinya menjadi lebih baik, ia menyelesaikan aktivitasnya dan sebelum menutup kran air tersebut. Disambarnya handuk putih yang memang selalu terlipat rapi di rak dan ia keringkan tubuh beserta rambutnya yang basah.
Birunya melirik sedikit ke arah jam dinding yang terletak di atas ranjang besarnya dan ia lagi-lagi menghela napas karena ia hanya memiliki waktu sedikit untuk bersiap-siap.
Tanpa menyia-nyiakan satu detikpun, Noctis meraih setelan hitam yang telah dipersiapkan Ignis pagi tadi. Ia balut tubuhnya dengan cepat dan ia tata surainya dengan model yang memang selalu ia pakai.
Mengambil undangan prom night sekolahnya, pemuda tujuh belas tahun tersebut kemudian melangkahkan kakinya kembali. Berjalan dengan tempo yang tak setergesa-gesa tadi menuju tangga yang akan menuntunnya ke bagian depan Citadel. Kedua permatanya mendapati sahabat cerahnya yang ternyata telah berada di sana melambaikan tangan kepadanya dan ia balas dengan anggukan kecil.
"Mana Crystal?"
Pemuda Argentum tersebut bertanya dan membuat sang pangeran melirik arloji di pergelangan tangannya. Surai hitam kakunya sedikit bergerak simpul ketika ia tolehkan kepala ke belakang, berharap sosok gadis yang tadi dipertanyakan Prompto terlihat.
Namun, Crystal sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya dan hal tersebut sekali lagi membuat Noctis bersidekap sembari menunjukkan raut wajah masam. Padahal ia telah terburu-buru untuk bersiap agar sang gadis tidak menceramahinya. Padahal ia telah menepati waktu untuk berkumpul di depan Citadel pukul enam sore—mereka memang sepakat untuk pergi bersama-sama dari Citadel ke acara itu.
Tapi gadis Leonis tersebut malah belum datang dan jarum jam telah menunjukkan pukul enam lewat lima.
Detik demi detik berlalu dan ia Noctis semakin merasa tak sabar sehingga ia mengetuk-ketukkan sepatu hitam mengilatnya. Ini sudah hampir lebih dari lima menit dan sosok merah muda itu tidak kunjung hadir.
"Prompto! Ouji!"
Ketukan tak sabar pada sepatu sosok sekelam malam tersebut terhenti ketika indera pendengarannya menangkap suara riang milik gadis yang ditunggu-tunggunya. Ia menoleh cepat...dan...harus kembali merasa dongkol kala mendapati pemuda pirang kusam dan gadis itu berjalan sembari bergandengan tangan—lebih tepatnya Crystal seperti dituntun.
"Kau cantik sekali, Crystal!"
Itulah kata yang membuat Noctis menegang dan tersadar dari rasa jengkelnya. Biru tersebut melirik baik-baik gadis yang kini tengah terbalut gaun hitam yang mengekspos kulit putihnya. Ia menggertakkan gigi ketika menyadari bahwa pahit yang biasa terkecap di mulutnya semakin menguar tak tertahankan. Detik berikutnya, tanpa aba-aba, ia menyambar tangan anak gadis itu dari tangan sang Scientia.
"Kau lama, bodoh."
"Hei! Pelan-pelan! Aku tidak terbiasa memakai high heels. Sampai nanti, Ignis."
Perlakuannya memang sedikit kasar, tetapi Noctis sama sekali tidak bisa menahan pergerakannya. Bahkan ia juga tak melepaskan genggaman di tangan kurus sahabat kecilnya sampai di tempat pesta itu. Ia terus menerus memegangi Crystal, seolah enggan kehilangan kehangatan gadis itu.
Hatinya masih diliputi perasaan kecut karena tak suka melihat sang merah muda bergandengan tangan dengan Ignis tadi.
"Noct, Crystal, aku ke sana dulu. Sepertinya ada yang memanggilku untuk berdansa."
Noctis mengangguk tanpa membuka katup mulutnya untuk membalas kata-kata sang pemuda pirang cerah yang telah melesat pergi penuh semangat. Tanpa sadar ia meremas tangan gadis itu dan membuat sang gadis mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
"Ada apa denganmu sih?"
Pangeran tersebut merendahkan pandang, membawa birunya bersirobok dengan merah muda yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku!
Tapi ia hanya bungkam dan malah sedikit membawa gadis itu ke lantai dansa. Jemari kokohnya bergerak menyentuh punggung sang gadis yang tak begitu terlindungi oleh kain gaunnya dan saat itu ia merasa jantungnya dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang mengepak tanpa ampun.
Bunyi dendang irama lembut dan temaran sinar lampu membuat pikirnya melayang. Ia selami merah muda yang masih mengilaukan keheranan—tak dihiraukannya—, ia pandangi dalam-dalam gadis yang entah mengapa membuatnya selalu dilanda oleh emosi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia bergerak, menyentuh dengan kuat seolah tak ingin melepaskan. Dadanya berdegup begitu kencang, semakin bertabuh memuakkan ketika ia menautkan jemari mereka.
Tanpa disadarinya ia merendah, mendekatkan wajah dan memberi celah di bibirnya.
"Lihatlah aku..."
Pribadi gadis itu berubah, menjadi berbeda setelah ulang tahunnya yang ke delapan belas.
Itulah yang terus menerus mengusikku selama beberapa bulan silam.
Nada suaranya yang dahulu selalu mengalun riang, kini dipenuhi oleh kesengsaraan, pendar cantik yang selalu terkilau oleh jenaka, lenyap tergantikan oleh sinar pedih yang menyayat hati, senyum yang biasanya tercetak di wajah cantik itu sirna, berganti oleh lengkung tak indah.
Sering kali Kuri berteriak tersulut emosi, bahkan menjerit dengan alunan suara ketakutan tanpa sebab. Sering pula rona kehidupan di wajahnya pergi, mengganti merah muda dengan pucat pasi.
Ia tak lagi menghabiskan waktu di apartemenku, tak lagi datang rutin ke tempat pelatihan di Citadel seperti biasanya. Membuat heran datang menghampiriku, menimbulkan tanda tanya besar pada hati kami.
Dan aku semakin tak lagi menjadi seperti diriku. Aku mulai semakin merasa uring-uringan, mulai gampang pula tersulut karena jengkel yang menggerogoti. Aku tahu apa penyebabnya, gelisah itu hadir karena aku tak mampu memahami apa yang tengah terjadi pada Kuri.
Ia yang dahulu dengan mudah kubaca menjadi sosok yang tak kukenali...dan itu memicu perubahan di diriku juga.
Belum sempat aku menguasai diriku sendiri, tiba-tiba saja ayahanda melantangkan satu perintah absolut yang menikam hatiku.
Aku akan menikahi Luna di Altissia...
Hal itu membuat seluruh kepalaku berat, seolah-olah tengah dihantamkan batu besar tanpa belas kasih. Jantungku bergemuruh kencang, mencoba mencerna satu titah yang aku harapkan sebagai satu jenaka belaka.
Sayangnya itu adalah kenyataan.
Perkataan ayahandaku adalah perintah mutlak, yang diputuskan agar Niflheim dan Lucis dapat berdamai dengan terlaksananya pernikahan politik itu.
Ironisnya, setelah aku mendapatkan perintah itu, seluruh sentimen yang kurasakan sejak aku berusia sembilan tahun dulu tiba-tiba saja dapat kupahami dengan baik.
Ketika pengumuman pernikahanku disampaikan ayahanda, wajah Crystal terbesit di dalam benakku dan saat itulah aku menyadari bahwa...aku jatuh cinta pada Crystal.
Mengapa aku harus menyadarinya setelah pengumuman pernikahanku dengan wanita lain diberitakan?
Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memberitahu dan melihat ekspresinya saat mendengar kabar pernikahanku dengan Luna. Terburuknya, aku ingin dirinya menentang pernikahan itu, aku ingin dia melayangkan penolakan atas pertunanganku.
Tetapi, tentu saja itu tidak mungkin, bukan?
Aku adalah pangeran, aku adalah orang yang kelak akan memimpin negeri ini. Jika pernikahan damai ini kutolak hanya demi egoisku, bagaimana bisa aku menjadi raja yang adil demi rakyatku kelak?
Karenanya aku berusaha untuk memendam perasaan ini, menguburnya dengan baik dan membiarkan Ignis memiliki gadis yang kucintai. Bagaimanapun, aku sebenarnya telah menyadari bahwa mereka berdua sebenarnya saling mencintai.
Tetapi...sepertinya dewa tengah mengujiku dengan membuat keinginanku terwujud. Gadis itu tiba-tiba saja melantangkan penolakan terhadap pengumuman pernikahanku.
Namun, ada berbeda dengan dirinya. Bukanlah kata penampikan seperti yang kuharapkan meluncur dari bibirnya. Kuri meracau tanpa menjelaskan dasar, meneriakkan keberatan dengan diri yang tak seperti biasanya. Akupun menjadi gusar, sahabatku itu terus menerus kusut tak mampu kuurai.
Gadis itu remuk, gadis itu hancur perlahan...Aku tidak memahami penyebabnya, aku tak mengerti apa yang terjadi padanya...Bukan penolakan seperti ini yang kuharapkan. Bukan ini yang kuinginkan.
Apa yang terjadi padamu...?
"Bohong…tidak…ini bohong!"
"Crystal!?"
"Hei Crystal kau mau kemana?!"
"Crystal!"
Noctis mengerutkan dahi, merasakan perasaan asing menggerogoti hati. Ia tak melakukan apapun melainkan hanya terdiam sembari bersidekap dan mengikuti pergerakan teman pirang kusamnya untuk berlari mengejar gadis delapan belas tahun yang mendadak meracau tak terkendali dengan kedua mutiara birunya.
Setelah ia mengumumkan pernikahannya dengan Lunafreya, gadis itu tiba-tiba saja berteriak, menampakkan wajah ngeri teramat sangat yang tak ia ketahui penyebabnya. Tapi satu hal yang pasti, Crystal memberikan penolakan luar biasa di atas berita tersebut.
"Noct, kita harus mengejarnya."
Biru tersebut bergulir ke arah salah seorang kawan pirang cerahnya yang memandang dengan tatapan khawatir. Ia tak mampu bergerak, tak mampu pula membuka kedua katup bibirnya agar bercelah.
Ia terdiam, membisu setelah apa yang diinginkannya hadir di depan kedua matanya.
Gadis itu menentang pernikahannya dan ia seharusnya merasa senang. Tetapi, rasa bahagia itu tak hadir menghampirinya, malahan semakin menambah karut marut hati karena terngiang-ngiang wajah ngeri sang gadis yang tak ia pahami penyebabnya.
Mengapa bukan wajah sedu seperti yang diharapkannya?
Mengapa bukan wajah tak rela seperti yang ia inginkan?
Ia membiarkan dirinya ditarik paksa oleh Prompto karena ia sama sekali tak bergerak. Pemuda dua puluh tahun di sana merasakan sesuatu hadir berusaha melesak dari dalam rongga dadanya dan ia tak tahu mengapa ia kembali merasakan perasaan tak familiar seperti ini lagi.
"Crystal!"
Dari kejauhan, Noctis dapat melihat tubuh gadis itu menegang saat teriakan milik pemuda secerah mentari menggema di seluruh koridor apartemen tempat mereka berada saat ini. Manik birunya dengan mudah melihat bahwa tubuh kurus di sana bergetar dalam sentuhan sang Scientia.
Detik berikutnya, ia dapat melihat usaha Prompto yang terus menerus menanyakan 'apa yang terjadi' ke gadis itu sia-sia sebab tak mendapatkan jawaban pasti. Tanpa sadar Noctis menoleh ke arah Ignis, bertanya tanpa kata dan kemudian sedikit mendesah kasar saat mendapati balasan sang pirang kusam yang menatapnya dengan kata-kata 'aku pun tak paham'.
Ia berusaha mendekat, berusaha memahami gadis itu walau kakinya terasa berat. Di angkat tangannya, dibawa mendekat ke pundak Crystal yang masih menunduk—
"Hei angkat wajahmu dan jelaskan apa yang terjadi—"
"Jangan sentuh aku!"
Namun tangannya ditepis kasar oleh gadis tersebut. Dengan ekspresi yang sulit diungkapkan, pemuda bersurai hitam di sana menjatuhkan pandang menatap tangan kanannya yang tadi ditampik kasar. Kemudian biru keruhnya menari, dibawa lagi memandangi Ignis karena ia ingin mengetahui apa yang tengah terjadi pada pada teman merah mudanya.
Sayangnya, pemuda tinggi tersebut kembali menggeleng lemah, menjawab tanpa kata bahwa iapun tak mengerti apa-apa.
"Crystal, kami tak akan paham jika kau tidak berbicara…"
Noctis menoleh sekali lagi ke arah gadis itu ketika Prompto dengan sabarnya berkata-kata kepada sahabat sepermainannya. Alih-alih menjawab, yang ditanyai tetap saja bergeming sehingga ada satu sentimen penuh emosi yang tersulut di dalam hatinya.
Selama bertahun-tahun kebersamaan mereka, tak pernah sekalipun gadis yang selalu berada di sisinya tersebut bersikap menyebalkan seperti ini. Crystal yang ia tahu adalah seorang gadis yang sangat-sangat terbuka dengan dirinya lebih dari siapapun, yang dapat dengan mudahnya ia ketahui jika ada sesuatu yang mengusik sosok itu.
"Hentikan Prompto. Si bodoh itu tidak dapat diajak berbicara saat ini."
Dan selama bertahun-tahun, ia tidak pernah menyangka ia akan menjadi sosok menyebalkan seperti ini. Suara yang tadi dituturkannya begitu rendah, diliputi oleh emosi yang menguasai dirinya. Merasa bahwa keberadaannya di sini hanya akan semakin memerkeruh suasana, ia segera bangkit dari jongkoknya dan berbalik kasar. Ia akan pergi, kembali ke kamarnya.
"Ouji!"
Putra raja tersebut membeku saat ia merasakan adanya tarikan diujung bajunya. Dalam sekejap ia segera menghentikan langkah dan berbalik, bersitatap dengan merah muda yang mengilaukan pedih.
Noctis terlihat seperti hendak membuka mulut, tetapi, tak ada kata-kata yang meluncur dari sela bibirnya. Hatinya berkehendak lain, memintanya untuk tetap membisu meski saat ini teman merah mudanya mulai meloloskan air mata.
"Kumohon…" Gadis itu terbata "Batalkan pernikahanmu dengan Lunafreya-sama…"
Tubuh pemuda itu menegang. Lagi-lagi sebuah untaian kalimat yang sebenarnya diharapkannya diluncurkan Crystal. Namun, ia tidak senang dengan penolakan itu. Tidak karena ia merasa tak ada dasar yang ia pahami dari balik permintaan tadi.
"Apa maksudmu?"
Noctis dapat melihat gadis itu meneguk ludah, bahkan secara jelas manik merah muda lawan tuturnya kian lama kian meredup. Sejujurnya, ia tak ingin seperti ini. Ia tak ingin melakukan hal tersebut ke sahabatnya. Namun, sayangnya untuk sekarang, rasa kesal lebih kuat dari ibanya.
Apa yang terjadi padamu?
Kumohon bilanglah kepadaku!
"Batalkan pernikahanmu sebelum terlambat."
"Kenapa aku harus mengikuti permintaan tak jelas itu?"
"Kumohon…percayalah padaku..." Gadis itu semakin terisak pelan. "Ouji…batalkan pernikahan itu..."
Noctis mengepalkan tangan ketika kesal yang sempat sirna kembali datang merasuk. Ia...tidak paham. Mengapa gadis itu tidak mengatakan sesuatu yang disembunyikannya?!
"Pernikahan ini harus ada demi masa depan Lucis."
Putra mahkota tersebut merasakan mulutnya kering setelah melafalkan kalimat tersebut. Ia juga ingin pernikahan ini tidak ada karena bukan Lunafreya yang dicintainya, tetapi ia tidak bisa.
"Tidak akan ada masa depan jika kau pergi dari kerajaan!"
Sekali lagi, sang pangeran harus merelakan perasaan dongkol datang mendekap dirinya. Pasalnya, Crystal lebih memilih meninggikan nada suaranya sembari meracaukan kalimat tak jelas tanpa menjelaskan dasar dari tentangan tersebut.
Kenapa?!
Benaknya terus menjerit. Ia tidak paham. Ia sangat tidak mengerti mengapa temannya meracau seperti ini. Sebenarnya, ia mungkin saja bisa menerima dan memertimbangkan permintaan tersebut jika Crystal memberinya alasan yang jelas—oh tentu saja, itulah yang ia harapkan meski tak mungkin.
Tapi, sayangnya, temannya malah lebih memilih untuk terus berteriak, seperti menekankan kehendak padanya. Karenanya, ia merasa kesal dan sebagai upaya pengendalian dirinya, ia harus mengigit bibir dalamnya kuat-kuat.
Sayangnya tidak berhasil.
"Sejak tadi kutanya apa maksudmu!? Kau tahu apa soal ini?!"
"Aku tahu! Karena aku melihatnya maka aku mengatakan ini!"
"Apa yang kau lihat, hah?!"
"Aku melihat kau—"
Noctis dapat melihat gadis itu tiba-tiba saja memutus kalimatnya dan meringkuk. Gemetar kembali terlihat menyelimuti tubuh kurus sosok di hadapannya. Dan rasa pahit seketika hadir ketika ia melihat Ignis mendekat untuk mendekap bahu gadis itu, berusaha membantu temannya kembali berdiri tegap.
Putra raja di sana masih terdiam. Dahinya mengerenyit menyeramkan karena melihat pemandangan itu. Bukan iba, ia malah semakin bertambah kesal. Saat ia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, mendadak gadis itu terhenti, menggantungkan kalimatnya.
Yang ia inginkan saat ini adalah jawaban atas penolakan itu!
"Kenapa kau berhenti?! Apa yang kau lihat?!"
"Noct!"
"Lepaskan!"
Pangeran Caelum dengan cepat menampik kasar tangan kekar Gladiolus yang menahan tubuhnya. Mengapa jadi ia yang terlihat seperti penjahat? Mengapa ia yang harus seperti ini? Mengapa ia harus jatuh cinta pada gadis itu?
Noctis melemparkan pandang yang sangat-sangat dingin dan tajam seolah mampu membunuh gadis tersebut saat itu juga. Ia memutuskan untuk membalikkan tubuhnya lagi. Sudah cukup! Ia akan pergi!
"Noctis-ouji!"
Ia semakin memercepat langkah seraya mengigiti bagian dalam pipinya. Ia benci hal ini, ia tak suka dirinya yang dikuasai emosi seperti ini. Ia...mengapa ia harus memiliki perasaan ini?
Pertengkaran hebat antara aku dan Kuri akhirnya terselesaikan dengan baik.
Ia mengucapkan kata selamat atas pernikahanku yang membuat hati ini tercoreng satu luka melintang panjang. Ternyata ada alasan lain yang membuat gadis itu menentang pernikahanku...dan alasannya bukanlah karena perasaan kami sama.
Karenanya akupun menyerah, aku akan menerima keputusan ini dan pergi dari Insomnia menuju Altissia demi menemui sosok wanita yang telah kuanggap sebagai kakakku.
Aku sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa Kuri akan ikut dengan kami sebagai salah satu Crownsguard. Aku ingin menentangnya ke ayahanda, tetapi aku tahu itu adalah hal yang tak mungkin dikabulkan.
Bagaimana aku bisa melupakannya jika ia tetap terus bersama-sama denganku?
Dan di antara kekalutan itu, kami pergi tanpa mengetahui bahwa itu adalah awal dari satu hal yang membuka gerbang petaka di masa depan terjadi.
Kotaku hancur, rakyat yang harusnya akan berada di bawah kuasaku meregang nyawa di tangan musuh yang menawarkan kedamaian jika aku menikahi Luna.
Aku baru mengetahui bahwa lagi-lagi aku dilindungi, lagi-lagi semua bertaruh nyawa demi diriku. Ayahanda menyuruhku pergi karena mengetahui mengenai hal ini...
Padahal hari itu kami pergi meninggalkan kota kami dengan dada yang membusung, dikawani oleh senyuman yang terkembang cerah. Tetapi esoknya...ayahanda dan orang-orang yang akan menyambut kami pulang telah tiada...bahkan tempat kami pulangpun tak ada.
Segalanya begitu cepat, segalanya bergerak di luar kendali kami...
Tak cukup sampai situ, hatiku lagi-lagi diremukkan saat mengetahui bahwa salah satu sosok yang seharusnya berada di sampingku terbujur kaku tak sadarkan diri. Ia adalah sosok yang kucintai, yang berusaha kulupakan tetapi terlalu sulit untuk kulakukan.
Tak pernah kusangka, tak pernah kuduga bahwa aku yang tak menahan kepergiannya untuk kembali ke Insomnia akan melibatkannya dalam petaka tersebut. Lubang dalam rongga dadaku menganga, menggaungkan kata-kata penyesalan dan tuntut karena keputusan yang waktu itu kuambil.
Andai saja waktu itu aku tidak mengijikannya untuk kembali, andai waktu itu aku menahannya, mungkin sosok yang kusayangi itu tidak akan membeku di atas ranjang.
Mengapa keseharian kami yang dulu damai terenggut tak berperi dalam sekejap?
Mengapa...aku selalu menjadi orang yang lemah?
Mengapa...
Sesuai janji sang pangeran kepada perisainya kemarin, hari ini adalah gilirannya mencoba membangunkan sang gadis—sebenarnya ia tak ingin karena dadanya berdenyut pedih tiap kali ia memandangi sahabat kecilnya. Tangannya terkepal, posisi duduknya begitu tegap. Sudah lebih dari satu jam ia berdiam di kamar usang tersebut, tanpa melakukan pergerakan, tanpa mengucapkan sepatah kata.
Ia bukanlah orang yang mahir mengekspresikan isi hatinya…khususnya jika sudah menyangkut sang merah muda.
Bukan karena ia tidak peduli kepada gadis itu—tentu saja ia sangat peduli! Gadis itu adalah orang yang disayanginya—, melainkan karena biasanya ia yang selalu menerima ekspresi kaya dari sahabatnya. Sejak mereka masih kecil selalu seperti itu, merah muda itu akan selalu mewarnainya, meraih tangannya, menjadi kawannya beradu mulut sehingga ia merasa seperti anak-anak pada umumnya.
Ketika dirinya terluka akibat serangan daemon yang membuatnya harus pergi ke Tenebrae untuk berobatpun, Crystal-lah yang menangis meraung-raung seakan menggantikan kesedihannya. Disebabkan selalu mendapatkan luapan perasaan sang gadis, ia hampir tidak pernah mengekspresikan isi hatinya. Bahkan, hanya dari saling bertatap, ia tahu gadis itu memahami dirinya.
Tetapi kali ini berbeda, Crystal tertidur, menutup mata. Membuatnya tak bisa membaca ekspresi sang gadis, maupun sang gadis membaca ekspresinya. Bagai kehilangan arah, dirinya saat ini hanya mampu membisu, tak mengerti apa yang harus diperbuatnya.
"Tidak akan ada masa depan jika kau pergi dari kerajaan!"
Tak pernah disangka-sangkanya bahwa apa yang dijeritkan sang gadis beberapa waktu silam akan terwujud. Dalam sekejap ia telah kehilangan masa depannya; kehilangan ayahandanya, kehilangan rakyatnya, kehilangan negaranya.
Tubuhnya bergidik saat firasat-firasat yang muncul dikarenakan pertanyaan pemuda Argentum kemarin kembali bermain. Gadis di hadapannya ini seolah mengetahui runtutan kejadian masa depan, mengetahui petaka yang akan datang.
Hal tersebut membuatnya terpuruk begitu dalam. Ia tak pernah menduga bahwa ayahandanya akan mengorbankan rakyat demi melindungi dirinya, pun dengan Crystal yang ternyata telah lebih dulu mengetahui hal ini tetapi tak mengatakan kepadanya.
Rahangnya mengeras, emosi itu datang lagi. Membuat luka fana memeluk dirinya. Ia merasa dikhianati, merasa dibohongi. Mengapa ia tak dilibatkan dalam keputusan itu? Bukankah kelak ia yang akan meneruskan tahta? Mengapa ia diasingkan?
Berkali-kali ia menghirup dan menghembuskan nafas, menenangkan kalutnya. Birunya bergulir, memandang wajah cantik yang masih tak bergeming...wajah dari sosok yang merebut hatinya sejak ia berusia sembilan tahun.
"Noct, jika memang benar Crystal sudah mengetahui semuanya, besar kemungkinan alasan ia tak membuka mata adalah karena dirimu…ia takut bertemu denganmu."
Perkataan Prompto satu jam lalu membuat kepalan tangannya melemah. Memang benar ia kecewa, tetapi jika yang dikatakan Argentum itu benar, bukan berarti gadis itu harus lari dari dirinya dengan cara seperti ini, bukan?
Jika memang segalanya benar, ia tidak akan melepaskan amarahnya ke sosok itu. Sebab, keselamatan gadis itu lebih penting dari kekecewaannya. Ia sudah tidak ingin merasakan kehilangan siapapun lagi dalam hidupnya!
Oleh karenanya, dirinya ingin gadis ini kembali membuka mata, memanggil namanya, mengatakan bahwa ia masihlah hidup untuk menemaninya bertahan di dalam dunia kejam ini.
"Apakah kau juga akan meninggalkanku seperti ayahku?"
Hanya itulah sepatah kata yang mampu dituturkannya dengan lemah. Katupan kedua bibirnya kembali merapat, bisunya kembali menemani ruangan tersebut. Sang pangeran mengigit bagian bawah bibirnya kuat-kuat. Ingin meredam emosinya kembali tetapi gagal, sehingga kini ia menunduk.
Bagaimana jika gadis ini bukannya enggan bertemu dengannya, melainkan memang tak akan pernah membuka matanya kembali?
Gigitan pada bibirnya semakin kuat. Tubuhnya bergetar, netranya yang semula masih menyimpan secercah harapan meredup menyisakan ketakutan ketika spekulasi datang menghantam benaknya.
"Ini perintah...Bangunlah…kembalilah kepada kami."
Ia tak ingin lagi merasakan kehilangan, tak ingin lagi ditinggalkan dan kembali merasakan kehancuran. Karena saat ini ia benar-benar menyadarinya, bahwa gadis yang menurutnya menyebalkan tersebut memiliki kehadiran yang istimewa, yang akan meninggalkan celah menganga bagi keluarga kecilnya...bagi dirinya.
Ia mencintai Crystal...
Ia tak ingin ditinggalkan sosok itu...
"Noctis-ouji…"
Pemuda tersebut merasakan nafasnya seperti terhenti ketika indra pendengarannya tergelitiki oleh suara lemah yang ia nanti-nanti. Bola kacanya membulat, katupan kedua bibirnya terbuka. Merah muda yang sejak kemarin tertutup rapat menampakkan wujudnya, mengerjap dan membalas tatapannya.
"Crystal!"
Pemuda itu berteriak begitu keras, membuat para pemuda yang berada di ruangan sebelah terhenyak. Dengan teramat hati-hati Noctis memegangi tangan dan pundak sang gadis—membantu sosok itu untuk duduk. Biru yang tak begitu cerah dan sering menampakkan rasa malas tersebut mengilaukan ketidakpercayaan dan kelegaan. Sangat bercampur aduk dan semakin karut marut ketika melihat Crystal menggenangkan kristal kepedihannya.
"Kau harus melihat wajahmu, ouji…"
Tak menunggu lebih lama, pemuda yang kelak akan duduk di kursi tahta membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Begitu erat, begitu kuat, tak menghiraukan bahwa hal tersebut akan menyakiti si merah muda. Yang dibutuhkannya saat ini adalah mengetahui bahwa sahabatnya benar-benar telah kembali…ia ingin merasakan kehangatan gadis tersebut, merasakan degup penanda kehidupan.
Biarkan aku memelukmu sebelum kuredam kembali perasaan ini...
Pertanyaan-pertanyaan mengenai perubahan sosok merah muda sejak dua bulan silam pada akhirnya terjawab ketika lemah nada suara gadis itu memberitahukan kenyataan yang sangat sulit aku—kami percayai. Itu adalah sebuah penjelasan mengejutkan yang sama sekali tak pernah aku dan kawan-kawanku duga sebelumnya.
Gadis itu, teman kecilku, benar memiliki kekuatan untuk melihat kejadian di masa mendatang. DI dalam tubuhnya ada kekuatan itu...satu kekuatan yang tidak bisa ia katakan kepada siapapun, kekuatan yang selalu menyakiti gadis itu setiap kali ia mencoba memeringati kami.
Penyebab redup dan hancur dirinya adalah karena hal tersebut. Ia melihat sesuatu yang kelak akan terjadi, sesuatu mengerikan yang tak mampu dibaginya oleh siapapun. Jika dipaksa, napas itu akan tersendat, ia akan sesak, akan menjadi sosok menyedihkan.
Perasaanku yang sempat kuredam karena pernikahanku masih harus tetap terlaksana ternyata semakin meletup-letup ketika aku mengetahui kenyataan itu. Aku yang telah merelakannya untuk jatuh ke pelukan penasihatku nyatanya malah menjadi orang yang tak mampu untuk mengendalikan diriku.
Saat gadis itu terkoyak-koyak kembali karena gagal melindungi Jared, aku tak mampu menahan afeksiku sehingga aku menghambur ke arahnya, mengelus kepala itu, menundukkan kepala ke bahu repas tersebut.
Dan...aku semakin tak dapat meredam segalanya ketika aku diberitahukan bahwa ada satu lagi sosok berharga bagiku yang meregang nyawa demi diriku.
Sosok itu adalah Luna...wanita yang seharusnya menjadi pengantinku...
Ia mati karena mengorbankan jiwanya demi melaksanakan panggilan demi membimbingku yang merupakan raja terpilih, itu adalah konsekuensi yang tak kuketahui dan disembunyikan dariku...
Selalu seperti itu, segala yang terpenting tak digamblangkan kepadaku sehingga aku akan menjadi sosok yang selalu kehilangan arah ketika segalanya terenggut dariku.
Aku hancur. Aku remuk.
Dan aku dapat melihat gadis itu juga sama sepertiku. Ia menjadi begitu rapuh, yang akan terserak berkeping-keping hanya dalam sekali sentuh. Ia pastilah telah mengetahui kenyataan ini, ia pastilah lebih dahulu merasakan keputusasaan ini.
Seluruh sentimen-sentimen memelukku, melebur menjadi satu, bercampur aduk tak mampu untuk kuredam kembali. Aku hancur karena orang-orang terkasihku harus mati karena diriku ini...dan...aku remuk karena aku semakin tak bisa kuasa mengenyahkan perasaanku kepada Crystal.
Dalam waktu yang bersamaan aku cerai-berai bersamanya. Saat aku dan dirinya mencoba untuk bangkit, kami dihempaskan kasar kembali oleh tragedi dalam takdir kami.
Aku berusaha berjalan tegar, tetapi terseok karena luka yang belum dan tak akan pernah mengering. Sedangkan gadis merah muda tersebut berkali-kali melemah, terjatuh dalam lubang putus asa hingga berkeping-keping.
Dalam kalutku ini aku tak dapat lagi memenangkan akal sehatku.
Aku membutuhkan Crystal..walau gadis itu tak membutuhkanku...
Aku...semakin hancur...aku membutuhkannya...hanya ia yang dapat menyembuhkan luka ini...
Hanya dirinya...
Noctis terdiam di atas ranjang dinginnya. Bunyi beriak air yang mengalir dari tempat tinggi menghempas bebatuan menjadi satu-satunya peneman dirinya yang membisu karena tak kuasa menerima seluruh kenyataan pahit yang telah terjadi.
Pertama-tama, dulu sekali ia kehilangan ibundanya, kemudian ia kehilangan pengasuh yang menyayanginya sepenuh hati, setelahnya ia kehilangan ayahanda, rakyat, negaranya, selanjutnya ia kehilangan Jared tanpa berhasil melindunginya dan terakhir...ia lagi-lagi harus merelakan diri kehilangan sosok wanita yang telah ia anggap sebagai kakak perempuannya...yang seharusnya tertawa di sampingnya sembari mengenakan busana pengantin yang mewah.
Ia merebahkan tubuh, membiarkan raga itu terhempas ke atas ranjang empuk sembari menutup kedua mata. Hatinya berdenyut perih, teramat sangat perih dan tak dapat ia kuasai kembali. Ia ingin menangis, tetapi air matanya seolah habis. Sehingga yang mampu dilakukannya saat ini hanyalah meremas poninya yang acak, membiarkan rasa sakit itu terasa ke seluruh inci tubuhnya.
Apakah sesungguhnya ia tengah dikutuk?
Apakah sebenarnya dewa hanya memermainkan hidupnya saja?
Seluruh orang yang terlibat dengannya, yang ia sayangi harus terenggut satu persatu dari dalam hidupnya. Seakan ia dibiarkan sebatang kara, berjalan di dalam kesendirian tanpa diperbolehkan ditemani oleh siapapun yang ia sayangi.
Detik berikutnya degup jantungnya memainkan melodi mengerikan ketika dalam sekejap memori-memori beberapa hari lalu saat ia bertaruh nyawa demi menerima berkat dewa air bermain dalam benaknya. Kedua permata birunya terbelalak dan peluh mulai hadir menghiasi dirinya.
Tubuhnya seketika itu pula bangkit dan ia mencengkeram selimut yang sejak tadi dibiarkan menutupi bagian bawah tubuhnya. Masih segar dalam ingatannya bagaimana ia melihat dua orang perempuan terpentingnya tertikam oleh bilah tajam yang dihunuskan oleh pria terkutuk.
Tanpa menunggu waktu lama, ia menyingkap kain itu dan beranjak turun dari ranjangnya. Ia berlari, menuju pintu yang menjadi batas antara dunianya dan dunia luar yang kejam. Gemuruh di dalam dadanya semakin memuakkan, kian menggerogoti ketika bayang-bayang wajah sang merah muda hadir menari dalam kepalanya.
Apakah gadis itu baik-baik saja?
Apakah benar gadis itu baik-baik saja?
Ia dengan kasar memutar knop dan membuka pintu tersebut. Napasnya sedikit tak beraturan ketika spekulasi-spekulasi buruk datang menertawakan dirinya. Detik berikutnya detak jantungnya hampir terhenti mendadak di saat permatanya bersirobok dengan bola kaca milik seseorang yang sangat-sangat ingin ditemuinya. Gadis yang menjadi tujuannya, gadis yang sangat diinginkannya untuk menyembuhkan luka di hatinya yang koyak. Gadis...yang sosoknya semakin diketahuinya terpatri di relung hati tak mampu untuk dihilangkan.
Tanpa harus diperintahkan otaknya, pemuda tersebut telah merengkuh gadis yang disayanginya dalam dekapannya. Ia memeluk kuat-kuat, menguarkan perasaan yang selalu berusaha untuk ditutup-tutupi.
Perlakuannya itu menjelaskan dengan gamblang kepada sosok itu bagaimana ia membutuhkannya, bagaimana remuknya ia yang tak lagi kuasa berpijak dengan kedua kakinya tanpa penopang.
"Kau...selamat..."
Noctis melirih, semakin membenamkan Crystal di dada yang saat ini tengah mengalunkan melodi putus asa bercampur kelegaan. Hangat itu merengkuhi sang pemuda, hatinya dipenuhi oleh seluruh rasa nyaman yang hanya mampu didapatkannya dari sosok dalam dekapannya itu.
Akan tetapi, rasa manis yang ia kecap ini tak dapat ia rasakan lama karena dalam satu hentakan, gadis itu melepaskan diri dari lingkar lengannya. Kedua birunya dapat melihat Crystal mencengkram lengannya yang terlilit kasa putih menggulung-gulung, menyembunyikan kesaksian pertarungannya di hari panjang itu. Gadis itupun membuang muka, merendahkan jarak pandang, seolah tak ingin melihatnya, tak ingin bertemu pandang dengannya.
"Kau terluka..." Nadanya menampilkan kekhawatiran ditiap hembusan napas. "Apa yang kau lakukan di depan sini? Kenapa tidak di kamarmu?"
Reaksi kasat mata yang ditunjukan sang gadis yang tak menjawab apapun membuat Noctis segera menyadari ada sesuatu yang telah terjadi. Gadis itu terlihat jatuh kembali. Meskipun tak mengetahui pasti penyebabnya, ia tahu bahwa ada sesuatu. Tetapi...bukan...bukan petaka itu.
Pahit seketika itu pula datang menghampirinya ketika spekulasinya bermain. Tanpa mampu dikendalikannya, dalam pergerakan lambat, Caelum muda di sana mencoba meraih, hendak membawa gadis itu ke dalam bilik kamarnya—ingin membuat gadis itu beristirahat di kamarnya.
Namun, yang didapatkannya adalah satu sentakan kuat yang menghempaskan pegangannya pada pergelangan tangan sang gadis. Crystal menyentak kencang, menjadikan Noctis terkejut atas sikapnya—membuka kembali keping memori seperti saat gadis itu remuk di awal.
Tak ada yang mampu diucapkan kedua sosok bersurai kontras di sana. Hanyalah tiupan angin merdu dan gemericik jatuhnya air memecah sepi yang menyelimuti. Mereka terdiam beribu bahasa, takut untuk memulai dan enggan untuk terlibat. Sampai kemudian, suara pemuda Argentum yang telah terdengar bahkan sebelum sosoknya terlihat membuat putra mahkota itu tiba-tiba saja menarik lengan kurus milik gadis di dekatnya, menyeret ke bilik yang sebelumnya ia bagi dengan penasihatnya.
"Aku harus menemui Prompto. Lepaskan aku."
Pemuda itu bergeming. Tak mengindahkan permintaan, pun membalas kata-kata Crystal. Cengkeraman yang ia berikan mengalirkan getaran untuk dirasakan sang gadis, menggamblangkan apa yang tengah melanda hatinya kini.
"Ouji...lepaskan aku."
Noctis semakin mendapati gadis di hadapannya merendahkan nada suara, akan tetapi, ada yang berbeda dari alunan tersebut. Hembusannya tidak penuh penekanan seperti pertama kali ia dengar. Ada sedikit getir di sana, ada rasa menyedihkan yang menjalari inci kulitnya setelah menangkap kalimat itu. Remuk dirinya semakin menjadi-jadi dan tanpa disadarinya, ia tetap tidak mengendurkan pegangan tangannya.
Setiap kekuatan yang diberi calon raja di sana berkata-kata, memberi tahu bahwa pemuda tersebut menginginkan sang gadis untuk tetap berada di sana sebab ia tengah berada di dalam palung kelemahan tak berdasar.
Seperti pada malam saat mereka masih berada di Lestallum dulu...
Ia tak mengijinkan sahabat perempuannya untuk pergi...
Noctis runtuh, remuk seperti kala itu dan ia sendiri menyadari bahwa hatinya tercabik lebih parah dibandingkan dengan malam tersebut. Semuanya, segalanya adalah karena pernyataan kakak mendiang tunangannya, Ravus. Pemberitahuan bahwa ia merupakan sosok bodoh yang tidak mengetahui apapun.
Ya...ia tidak mengetahui bahwa Lunafreya merelakan diri untuk memenuhi tugas membimbing dirinya yang terpilih sebagai raja cahaya...
Ia semakin menguatkan pegangannya, enggan melepaskan karena di dalam hatinya terjerit bahwa hanya gadis itu yang akan menjadi penopang hatinya. Ia menginginkan gadis merah muda tersebut untuk tetap di sisinya...di samping dirinya yang entah sampai kapan akan mampu bertahan dalam takdir keji ini.
Dengan tangan bergetar ia bawa tubuh kurus sahabat perempuannya ke dalam dekapannya, ia peluk erat untuk menjadi sandaran hatinya yang mengucurkan darah dari luka di sana.
"...jangan tinggalkan aku..."
Noctis dapat merasakan ada sedikit reaksi yang diberi oleh Crystal setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Gadis tersebut sepertinya baru saja menyadari bahwa ia mendekapnya dan iapun dapat merasakan bagaimana sang Leonis menengadah guna menatap langit-langit tinggi nan dingin.
"Ouji...bagaimana jika ku katakan akulah pembunuh Lunafreya-sama?"
Pemuda dua puluh tahun tersebut sedikit merenggangkan pelukannya setelah gadis dalam dekapannya melontarkan kalimat yang terhembus dalam satu tarikan napas kepada dirinyanya.
Apa?
"Meskipun perutku robek, aku bahkan tidak dapat menyelamatkannya...malah...nyawa itu harus ditukarkan dengan kekuatanku...Lunafreya-sama menukar sisa nyawanya demi membangunkan kekuatan oracle-ku. Aku adalah penerusnya, yang diutus dewa untuk membantumu menghalau kegelapan di masa mendatang."
Terkatupnya bibir pucat sang gadis memberi kejut di sekujur tubuh sang Caelum. Pemuda itu menegang, terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dibeberkan gadis pendek yang tak membalas pelukannya. Perlahan, lengan yang melingkari raga rapuh itu mengendur sebelum terlepas sempurna. Birunya bertemu pandang dengan merah muda yang semakin redup dan dirajai oleh sentimen nelangsa.
"Tidak perlu dua oracle...jika memang seperti itu...seharusnya...yang mati adalah aku bukan Lunafreya-sama...Bahkan...ia belum sempat memberitahu perasaannya padamu..."
Tiba-tiba saja, satu detak seolah lolos dari rongga dada sang malam. Kedua biru miliknya masih tetap melekat untuk bersirobok dengan merah muda yang kini turut memandangnya dengan penuh kepedihan. Tanpa dikehendaki, tanpa diberi titah, leleh kepedihan turun berderai membasahi wajah tampan tersebut. Tetes demi tetesnya membawa kepedihan, penyesalan dan juga hilang arah.
Tangis itu tak menimbulkan isak seperti saat ia pertama kali mengetahui berita duka mengenai Lunafreya—sosok yang dianggapnya sebagai bagian dari keluarganya, yang ingin diselamatkannya. Ia menangis dalam diam, seakan-akan tak lagi kuasa mengeluarkan suara penanda perihnya.
Luna...benarkah itu?
Detik berikutnya, disela-sela tangisnya, pemuda tersebut terkejut saat mendapati gadis yang baru membeberkan kenyataan tiba-tiba saja melangkah, melewati dirinya, hendak pergi meninggalkannya. Maka, dengan pergerakan cepat ia turut berbalik, menahan pintu kayu yang tadi sedikit terbuka lebar dengan kedua tangannya.
Ia merapatkan tubuhnya, menempelkan dada yang tak begitu bidang ke punggung sang gadis, memojokkan diri teman kecilnya ke daun pintu guna mengunci pergerakan.
Tidak..jangan tinggalkan aku...
"Tidak...jangan pergi...jangan meninggalkanku..."
Pemuda tersebut berbisik, merendahkan suara untuk menggelitik telinga kanan sang Leonis merah muda. Sesuatu merasukinya, sesuatu menggelapkan akal sehatnya. Ia tak ingin ditinggalkan, sangat tak ingin.
Kepala bersurai hitam tersebut merendah dan ia bawa birunya menari simpul untuk melihat gadis yang membeku di dalam kunciannya. Jemarinya bergerak, membelai luka gores yang hampir mengering di pipi gadis delapan belas tahun tersebut dan kemudian memiringkan wajah cantik itu. Ia ingin merah muda yang disukainya bersirobok dengan permatanya.
Tetaplah di sini...
Dengan teramat lembut, pemuda itu menyematkan sejumput mahkota sewarna musim semi milik sang gadis ke belakang telinga dan ia sapu sedikit helai demi helai itu agar tak menutupi leher kurus sosok yang merebut seluruh hatinya. Ia tak tahu, ia tak sadar bahwa tiap perlakuannya ini menggamblangkan dan menjeritkan perasaan yang teramat sangat jelas teruntuk sang putri kristal.
Namun, detik selanjutnya, tubuh pangeran tersebut menegang luar biasa ketika ia dapati satu memar tercipta di ujung leher sang gadis. Warna itu merah kebiruan dan seketika itu pula seluruh pergerakan yang tadi dilakukannya terhenti—begitupun dengan detak jantungnya selama beberapa detik.
Katup bibir pemuda Caelum di sana bercelah dan ia dapat merasakan pahit semakin menguar menggergoti hatinya yang tercabik-cabik. Bola kacanya membulat, menatap tidak percaya apa yang baru tersaji di hadapannya. Di luar perintahnya, ada satu dorongan yang membuatnya bertindak tak terkendali.
Tiba-tiba saja ia meremas surai yang berada di belakang leher gadis itu sebelum merendahkan kepala, membawa gigi-giginya untuk menyapu kasar kulit di sana.
"!"
Noctis dapat merasakan Crystal memekik tertahan ketika ia melakukan hal itu. Ia tahu gadis yang disayanginya ini meronta, berusaha untuk melepaskan diri darinya. Tetapi ia tidak mengijinkannya dan ia semakin memerdalam perlakukannya. Ia mengigit, memberi sakit yang sama di tempat sang Scientia tadi meninggalkan tanda—ia tahu tanda itu diberikan oleh sahabat pirang kusamnya.
Ia mengecap, mengigit tanpa ampun, seolah menginginkan tanda yang tadi berada di sana terhapus dengan miliknya. Terpaan napas berat tersebut mengatakan perasaan-perasaan yang sepertinya baru disadari pemiliknya. Perasaan yang tidak mampu ditahannya kembali saat melihat bercak di leher gadis itu.
Padahal seharusnya ia tak melakukan ini…
Tapi mengapa hatinya menjerit-jerit...
Padahal...ia sudah berusaha untuk meredamnya...
Gejolak tersebut melaung bukan main dan semakin diperparah ketika sahabat merah mudanya tadi juga mengatakan bahwa ia lebih baik mati, lebih baik meregang nyawa, pergi jauh meninggalkan dunia. Kalimat dan tanda merah yang diperlihatkan tersebut akhirnya membuatnya tak mampu mengendalikan emosi di dalam rongga dadanya yang saat ini berteriak tanpa ampun.
Ia tak ingin lagi ditinggalkan...
Khususnya oleh sosok ini...
...maafkan aku...
Mendadak hatinya berkata, meruntutkan untai kata permintaan maaf yang ditujukan kepada Lunafreya. Permohonan ampun yang pada awalnya dituturkan karena ketidakmampuannya untuk melindungi saat ini berubah menjadi permintaan maaf karena ia menyadari perasaannya kepada gadis dalam dekapannya ini—mengetahui bahwa sampai kapanpun ia tidak bisa menghentikan perasaannya.
Hati sang pemuda terus menerus memberi ungkapan penyesalan, tak kuasa menghentikan seluruh kekalutannya.
"Noctis...ouji...lepas...!"
Dalam sekali hentak, Noctis harus merelakan dirinya terdorong paksa oleh putri Cor tersebut. Ia menatap gadis itu dalam-dalam, menggamblangkan seluruh afeksi di dalam hatinya melalui sorot mata.
"Kuri...jangan tinggalkan aku sendiri…"
Bak anak kecil yang kehilangan pondasi, sosok itu menyuarakan isi hati yang tak lagi ditutup-tutupi, tak lagi disembunyikan. Noctis masih memandangi lekat dengan kilatan di kedua bola matanya. Kilau tersebut menjelaskan permintaan agar dirinya tidak dibuang, agar ia tidak ditinggalkan.
Sekali lagi ia mencoba mendekati gadis itu, dengan teramat hati-hati ia peluk kembali raga kurus sang gadis. Ia mendorong pelan sosok itu, memojokkannya lagi ke kayu dingin pemisah dunianya dan dunia luar. Selama sepersekian detik mereka saling menatap dengan kedua permata yang meredup dan sembiluan.
Noctis membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu sebelum mengecup pelan indera pendengaran dan juga pipi yang tadi tergores.
Ia...tak lagi mampu membendung perasaannya.
Ia menginginkan gadis ini...walau harus merebutnya paksa...
Lagi-lagi aku ditinggalkan...
Itulah yang terus membuatku ketakutan teramat sangat ketika kutahu Prompto terjatuh dari atas kereta karena aku. Ketakutan datang menggerogoti hatiku, membuatku gamang karena memikirkan spekulasi mengerikan yang bisa terjadi kepadanya.
Tak cukup kehilangan Prompto, aku harus merelakan Kuri hilang dari sisiku karena dibawa pergi oleh pria yang dulu membantuku malah kini berbalik menjadi musuhku. Setelah aku membuka mata akibat tak sadarkan diri setelah dipukul oleh pria itu, aku harus membiarkan sentimen negatif menggerogoti hatiku.
Kuri...gadis itu tak ada di manapun. Bahkan lorong demi lorong kereta yang berjalan kutelusuripun, aku tetap tidak menemukannya.
Mengapa segalanya menjadi kusut seperti ini?
Aku sangat menginginkan masa lalu terputarkan kembali. Aku mendambakan hari-hari damai lampau itu. Aku ingin waktu bisa terulang kembali agar senyuman mereka yang kusayangi bisa kembali.
Akibat petaka-petaka yang terus menerus menghampiri, hati kami remuk menjadi serpihan yang tak dapat lagi dilekatkan satu. Jika mungkin bisa diperbaikipun, di dalamnya akan tetap ada gurat retak yang tak sekalipun mampu untuk terhapuskan.
Seperti saat ini, aku hancur saat menyadari ia yang kucintai hilang dari sisiku. Perasaan gamang dan spekulasi buruk membuatku direngkuh oleh ketakutan dan kecemasan yang teramat sangat besar. Mungkin saja emosi ini bisa membuatku menggila.
Tak cukupkah sahabat pirang kusamku kehilangan cahayanya? Tak cukupkah mereka yang terpenting bagiku pergi meninggalkanku?
Tak cukupkah aku disiksa oleh hal itu?
Sekarang bahkan aku harus kehilangan gadis yang kucintai.
Aku bahkan belum mengutarakan perasaanku kepadanya...
Kumohon jangan merebutnya...
Sudah cukup...
Terbukanya pintu yang tak jauh dari tempat sang pangeran berpijak menjadikan kedua bola kacanya membulat sempurna. Ia yang telah berdiri di atas kedua kakinya membelalak kala birunya bertemu pandang dengan merah muda yang menatap ke arahnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia dapat merasakan bagaimana tubuhnya bergetar hebat ketika melihat sang gadis yang sempat hilang dari sisinya.
"Noctis—"
Tanpa membiarkan gadis tersebut menyelesaikan kalimatnya, Caelum tersebut segera menghambur—tak peduli ia menabrak kedua teman lelakinya yang lain—, merentangkan tangan guna mendekap tubuh sosok yang dicintainya kuat-kuat. Bahunya yang tak begitu bidang semakin bergetar dan ia tanpa sadar mencengkeram tengkuk dan bahu ringkih Crystal, melafalkan ketakutannya melalui sentuhan.
Noctis membawa sang gadis ke dalam pelukannya. Matanya membelalak, menyiratkan kilau syok di sana. Napasnya sedikit tersendat karena seluruh gejolak perasaannya memenuhi hingga ke kerongkongan. Rengkuh itu bergetar, memberitahukan bahwa dirinya sangat terguncang.
Detik selanjutnya sang pemuda nanap. Ia melepaskan pelukan itu untuk menatap baik-baik gadis merah muda di hadapannya. Rasa takut lain menjalar ke seluruh tubuh, ia gelisah saat pemikiran buruknya datang.
"Kau terluka?!"
Begitulah kata pertama yang diluncurkan sang pemuda setelah bertemu kembali dengan gadis tersebut. Binar di dalam bola kaca putra mahkota itu terkilau oleh ketakutan, kelegaan, dan beribu afeksi lain teruntuk diri sang merah muda seorang. Cengkeram di bahu dan tengkuk Crystal telah terganti ke kedua sisi wajah cantik itu, tangannya menangkup kuat, mengutarakan cemas.
Noctis merasakan dirinya bereaksi saat bola kacanya menangkap bibir ranum gadis di depannya yang tadi baru saja menggeleng melengkung tipis. Crystal, teman sepermainannya memberikan senyum yang tak pernah dilihatnya, senyum yang membuat emosinya kini meluap-luap tak kuasa diredamnya.
"Hei, Noct kau mau kemana?!"
Noctis tak menghiraukan teriakan perisainya. Ia malah semakin menarik lengan atas sang gadis untuk menjauh dari tempat itu. Langkahnya tergesa-gesa seiring dengan semakin cepat tempo di dalam rongga dadanya.
"N-Noctis—!?"
Ia sekali lagi tak memberikan Crystal kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya karena setelah memojokkan sahabat kecilnya ke dinding, ia memertemukan bibirnya dengan bibir sang gadis.
Ia...tidak bisa menahannya lagi.
Caelum dua puluh tahun di sana merasakan sang gadis hampir memekik ketika ia mencium paksa sosok tersebut. Ia penuhi mulut gadis itu dengannya, ia lumat tanpa ampun agar Crystal dapat mengetahui bagaimana perasaannya.
Noctis mengunci pergerakan gadis tersebut. Ia pegangi kuat-kuat kedua lengan sang Leonis dan ia bawa ke kedua sisi kepala merah muda itu. Tubuhnya semakin merapat, ia himpit sosok kurus di depannya, sama sekali tak ia beri celah tuk pergi.
Ciuman itu tergesa-gesa, tiap kecupan itu menjeritkan putus asa, tiap kecapnya memberi penanda afeksi yang semakin digamblangkan. Tak ada lagi sembunyi-sembunyi, tak ada lagi yang ditutupi. Perasaan sang pangeran dibiarkan tersampaikan secara jelas, lebih jelas dari beberapa waktu silam di kota air.
Noctis tak kuasa melawan keinginan diri. Rasa itu meletup begitu saja saat ia mendapati gadis bertubuh pendek dalam dekapnya, sempat memberinya senyum penuh dengan sentimen-sentimen yang sulit untuk diungkapkannya dengan kata-kata.
Itulah pemicunya. Pemicu perasaan yang ia sadari, yang ia indahkan di kota indah tempat bersemayamnya dewa air beberapa waktu lalu merenggut kendalinya.
Noctis semakin memerdalam perlakuannya. Ledakkan perasaan di dalam dirinya membuat sang pemuda sulit untuk mengendalikan diri. Rasa sayang, rasa cinta, rasa takut, semua melebur satu, menggebu-gebu dalam dada. Iapun sebelumnya terlalu diliputi oleh gamang dan firasat buruk akibat hilangnya sang gadis dari sisinya.
Masih segar dari ingatannya bagaimana panik dirinya saat sosok tersebut tak ditemukannya setelah ia tersadar di atas atap gerbong kereta yang masih berjalan beberapa hari lalu. Degup jantungnya yang kehilangan sosok tersebut benar-benar menyakitkan...sakit yang berkali-kali lipat lebih tajam.
Oleh karenanya, saat mendapati orang terkasihnya ini mendadak muncul di hadapannya, menyunggingkan senyum untuknya, seluruh gejolak di hati sang pemuda menguar tanpa ampun, membutakan akal sehatnya. Perasaan-perasaan tak ingin ditinggalkan, tak mau gadis ini pergi lagi darinya menggelapkan mata.
Ia semakin menekan, semakin merapat guna merasakan hangat tubuh sosok yang telah merebut seluruh hatinya. Dipaksanya sang gadis membuka mulut, mendesak agar dirinya diijinkan untuk menyelami lebih jauh. Sekujur tubuhnya menjeritkan kasih sayang yang benar-benar telah melumpuhkannya. Tenyata, telah lama bibit cintanya tumbuh, membawanya terjerat ke gadis ini—gadis yang keberadaannya harus selalu ada di dekatnya.
Hatinya berteriak kasar, mengutarakan kasihnya dalam tindak di luar persetujuan sang gadis— gadis yang sejak kecil ia ketahui telah menambatkan hati ke salah satu sahabatnya. Memanggil kembali kebenaran tersebut membuat sang pemuda semakin mengencangkan pegangannya pada kedua pergelangan tangan Leonis merah muda tersebut.
Sentuhannya menyiratkan betapa ia tak menginginkan gadis ini pergi darinya, mengatakan bahwa ia tak ingin melepaskan gadis ini kepada siapapun...walau ia tahu tindaknya ini mungkin saja akan membuat Crystal benci padanya.
Ia mengetahui perasaan gadis itu terhadap penasihatnya sejak dulu...
Tetapi...ia terlalu serakah...tak ingin merelakan...
"Aku tidak akan melepaskanmu...kumohon jangan meninggalkanku..."
Tutur yang diucapkan sang malam tadi terhenti kala ia lihat gadis yang disayanginya menangis. Pangeran tersebut terkesiap. Ia dengan segera menyentuh pergelangan tangan kurus milik sang Leonis merah muda dan dijauhkanyan dari wajah cantik tersebut—Crystal menutup wajahnya.
Noctis merendah, mengecup pucuk kepala merah muda yang tertunduk, mencoba menenangkan. Seiring dengan terangkatnya wajah itu, ia mulai menempelkan bibirnya pada mata sang gadis yang bengkak, pipi yang basah dan juga bibir yang tadi tergigit kuat. Kali ini perlakuannya tak seperti tadi. Begitu lembut, menyimbolkan seluruh perasaan yang benar-benar menguasai dirinya.
"Tetaplah di sisiku..."
Ia berkata lagi, berusaha memenuhi gadis di hadapannya dengan afeksinya. Dan gadis tersebut kembali menangis, tersedu tanpa memerdulikan hal itu akan menyakiti Noctis.
Raga sang gadis terasa melemah dan sosok di depan pemuda itu merantukkan dahi ke dadanya. Ada remasan lembut di kaus hitam yang membalut tubuhnya dan Noctis tahu bahwa itu adalah jawaban atas permintaannya tadi.
Maka sekali lagi ia merendah, mendekatkan bibirnya ke telinga gadis merah muda yang disayanginya. Ia mengecup perlahan sebelum kemudian ia beri lembap sehingga menjadikan gadis itu kembali terkesiap. Ia kembali dipenuhi oleh hasrat ketika merasakan hembusan dari celah kedua bibir merah sang gadis memberat karena perlakuannya.
Sekali lagi ia menghempaskan raga kurus tersebut ke dinding belakang yang dingin saat jarak antara dirinya dan gadis itu terhapuskan lagi. Putra mahkota di sana dapat merasakan bagaimana tangannya yang masih berada di dadanya bergetar halus. Lumatan yang tadi sempat melembut berganti tempo lagi menjadi tak sabar. Semakin dalam, begitu dalam, membuatnya kian terbuai.
Noctis menjambak pelan mahkota halus yang berada di tangan kanannya. Membawa gadisnya mendekat lagi dan lagi. Pikirnya melayang, hanya dipenuhi oleh sosok itu saja.
Ia menginginkan gadis ini...
Sebelah tangannya yang bebas mendadak bergerak, menyentuh kulit pinggang sang merah muda. Jemari kokoh itu merangkak pelan, tak menyadari bahwa ia meninggalkan rasa terbakar pada tiap inci kulit yang terjamah. Napas pemuda tersebut semakin memburu ketika ia membawa jemarinya menaik dan semakin menaik ke atas—
"N-Noctis—ouji...!"
Noctis terkesiap saat gadis dalam dekapnya ini memanggil namanya dengan lengking yang dipaksakan terlontar disela-sela kecupan. Pemuda tersebut segera melepaskan peluknya, menjauhkan diri dari sang sahabat. Kesadarannya seperti merasuk mendadak, menjalankan akal sehatnya.
Jarak pandangnya merendah, tertuju ke wajah cantik di bawahnya yang kini tersapu oleh merah—warna manis yang sangat selaras dengan mahkota dan kedua mutiara yang sedikit berkaca-kaca. Dihantam oleh sadar, jantungnya segera bergemuruh kencang dan juga rasa panas merambati wajah tampannya.
Apa yang baru saja dilakukannya tadi?
Mengigit bibir bawahnya guna menguasai diri kembali, Noctis merengkuh simpul gadis itu. Upaya agar Crystal tak melihat wajah yang ia yakini pasti juga sangat-sangat merah padam. Degup jantungnya sangat kencang—sepertinya juga dapat didengarkan gadis ini dengan jelas.
Setelah menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan susah payah, sang pemuda memberanikan dirinya lagi untuk bersitatap dengan merah muda jernih itu. Menatap lekat sebelum disentuhnya hidung sang gadis dengan hidungnya.
"Maaf..." Suaranya serak. "Aku...tidak bisa menahannya."
Ia dapat merasakan gadis tersebut menegang setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Bahkan, ia dapat dengan mudah merasai bagaimana suhu tubuh gadis itu menaik. Dan dalam sekali hentak, jarak yang sempat terhapus antara dirinya dan sang merah muda tadi kembali hadir karena sang gadis mendorong wajahnya ke arah kanan.
"Ba-bakaouji!"
Melihat reaksi sang gadis membuat Noctis hampir tersedak tawanya sendiri. Pasalnya, ini adalah hal yang baru ditampakkan teman kecilnya setelah belasan tahun mereka bersama. Hatinya dipenuhi oleh rasa senang dan bangga. Meskipun ia paham perasaan serakah ini merebut paksa sang merah muda untuknya, ia tidak bisa menolak suka cita tersebut. Crystal, pada akhirnya memerlihatkan ekspresi seperti itu karena dirinya—bukan karena sahabat pirang kusamnya.
Di antara petaka yang enggan melepaskan dirinya dan keluarga kecilnya, saat ini, ia teramat sangat bahagia sampai-sampai tak sadar telah memeluk gadis itu kembali. Ia biarkan dirinya tenggelam dalam afeksi yang menyelimuti. Tiap menitnya tak ingin ia sia-siakan, yang dibutuhkannya saat ini adalah merasai cerah yang baru saja diberikan sang gadis untuk dirinya.
Suka cita di antara gelap pekat.
Yang sebentar lagi akan terenggut kembali oleh kejam suratan.
"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi..."
Mengapa...takdir ini begitu kejam?
Apakah aku hanya dilahirkan untuk mati berkorban?
Apakah aku diberi kehidupan hanya untuk menjadi kenangan?
Terus menerus aku memertanyakan hal itu di dalam hatiku yang sepertinya tak lagi berbentuk.
Terus menerus aku lantangkan pertanyaan yang tak akan pernah kudapatkan jawabannya.
Tetapi...sekalipun aku memertanyakannya, di sudut hatiku, aku tahu bahwa inilah suratan yang harus kutempuh...
Inilah garis takdirku...
Seorang pangeran yang terus menerus dilindungi dengan taruhan nyawa, seorang pangeran yang harus berjalan menuju kursi tahta dengan menginjak bangkai-bangkai mereka yang telah pergi demi diriku.
Telah banyak darah yang tumpah demi diriku...
Telah banyak pengorbanan yang diberi untuk menggapai secercah cahaya abadi tanpa kotor...yang hanya aku yang mampu mengembalikannya...
Hanya tangan ini yang mampu mengenyahkan kutukan tersebut...
Hanya aku seorang...
Karenanya, walau pada akhirnya aku akan pergi selama-lamanya, jika itu yang akan melindungi mereka, aku akan dengan senang hati menyerahkan nyawa ini.
Biarkan terik emas mentari menjadi penggantiku untuk menghangatkan mereka yang terkasih...
Untuk mereka...yang kucintai…
"Ambillah kekuatan engkau...Raja Terpilih, Noctis."
Di dalam satu lansekap asing berwarna biru cantik yang tak seperti atap bumi, sesosok pemuda bersurai hitam tampak jatuh melayang dalam posisi terbaring. Pergerakannya begitu lambat di dalam ruang kosong yang dikawani oleh sapuan merah sehingga biru dan merah itu membentuk lapisan berwarna keunguan serta merah muda elok. Cahaya itu berlapis-lapis, bertumpuk acak, berkilauan oleh pantulan serpihan-serpihan kristal yang melayang mengelilingi.
Pemuda tersebut masih terus menerus terjatuh, melayang turun dalam tempo yang tak begitu cepat sampai pada akhirnya tubuhnya tiba-tiba saja berdiri tegak ketika ada satu tangan kiri raksasa yang menyambut tubuh mungil itu.
Sang pemuda yang masih menunduk membuka kedua kelopaknya perlahan, menampilkan biru yang terkilau oleh bias pantul cahaya dari serpihan kristal yang melayang-layang.
"Raih kembali kekuatan kristal dan dapatkan kekuatan sebagai Raja Sejati. Ini adalah wahyuku, Bahamut, sang Dewa Pedang."
Bahu pemuda Caelum tersebut menegang dan ia segera menaikkan jarak pandangnya, menatap sosok yang baru saja memerkenalkan diri sebagai Bahamut. Wajahnya menampilkan kilau ekspresi yang tak dapat digambarkan melalui kata-kata dan surai tersebut menari seiring dengan terhenyaknya ia.
"Tempat apa ini?"
Itu adalah kata pertama yang sanggup ia lontarkan setelah berhasil menguasai dirinya. Ia yang tadi sedikit melirik ke kanan dan kiri guna mencari tahu di mana ia berada saat ini kembali memusatkan kedua bola kacanya kepada sosok agung di hadapannya. Dahinya sedikit berkerut, menandakan keseriusannya.
"Ini di dalam batu suci itu, di mana terletak jiwa-jiwa dari dunia ini. Dan di sinilah tempat bagi engkau, Raja Terpilih, untuk mendapatkan kekuatan untuk memenuhi misi."
Biru yang memantulkan warna-warna cantik dari lansekap asing di ruang tersebut merendah, mencoba mencerna lebih baik maksud perkataan yang diberi oleh Draconian tadi. Pada detik berikutnya ia sedikit terkesiap dan kembali menaikkan jarak pandang untuk melayangkan pertanyaan bagi sosok raksasa di depannya.
"Dimana teman-temanku?"
"Mereka berdiri melawan kegelapan dan menunggu engkau. Harapan mereka adalah agar engkau menjadi raja sejati dan memenuhi misi. Semua Enam Dewa yang telah dibangunkan oleh oracle sebelumnya telah menunggu saat ini."
Sekali lagi pandangnya terjatuh kala indera pendengarannya mendapati perkataan milik dewa perang tadi. Sejak berdialog dengan sosok tersebut, ada perasaan familiar yang hadir mendekap relung hatinya. Yaitu adalah sentimen bergidik, takut, dan...perih.
"Engkau akan menghabiskan banyak waktu untuk menyerap kekuatan kristal ke dalam cincin. Setelah semua kekuatan itu tersimpan, engkau akan mendapatkan kekuatan Raja Sejati. Ini adalah satu-satunya kekuatan yang dapat menghilangkan kehidupan abadi Ardyn dan untuk mendapatkan kembali fajar ke dunia ini."
Mendapatkan nama pria yang berbagi darah dengan gadis yang dicintainya membuat raga kokoh tersebut seperti dialiri oleh kejut listrik. Netranya membeliak, menatap penuh keingintahuan kepada Bahamut yang juga berbalik menatapnya.
"Tolong beritahu aku mengenai Ardyn!"
Calon raja itu melantang, meneriakkan keingin tahuannya yang terus menerus menggerogoti hati saat mengetahui bahwa Ardyn juga merupakan seorang Lucis Caelum. Ia ingin mengetahui siapa sosok itu, siapa pria yang merupakan ayah kandung gadisnya.
"Ia adalah sumber utama Daemon, pria yang memiliki kehidupan abadi dan kekuatan untuk menghancurkan dunia. Seorang pria bodoh dan berdosa yang ditolak oleh kristal dan dimakamkan tanpa pernah naik takhta."
Sumber utama daemon dan pemilik kehidupan abadi?
Noctis mengerutkan dahi, masih menengadah untuk menyelami biru milik dewa yang serupa miliknya. Ia tetap memandangi Bahamut, berusaha mencari tahu lebih dalam lagi mengenai pria terkutuk tersebut.
"Hanya untuk membayar kebenciannya pada keluarga kerajaan, dia menggunakan kecerdasannya dan akhirnya membawa kegelapan ke seluruh dunia. Pembalasannya tidak akan berakhir sampai dia mengeksekusi engkau, yang dipilih oleh Batu Suci, dan dilindungi oleh Raja sebelumnya berturut-turut."
Membenci keluarga kerajaan?
Membawa kegelapan ke seluruh dunia?
Pembalasan tidak akan berakhir sampai Ardyn mengeksekusinya?
Putra mahkota tersebut semakin menampakkan jelas kerut di dahinya. Ia menunduk ketika menyadari bahwa peluh dingin jatuh membasahi dahinya yang tertutupi surai sekelam malam. Tubuh itupun ia rasakan bergetar halus dan perlahan-lahan rasa takut semakin hadir menyakitinya.
Noctis mengigit bibir bawahnya, berusaha mengendalikan dirinya yang mendadak tak ia ketahui mengapa menjadi seperti ini.
"Apa itu...kekuatan Raja Terpilih?"
Tiba-tiba saja ia mengerjap saat menyadari suaranya terasa berat dan parau. Ada perubahan kasat mata yang terjadi pada dirinya setelah ia berdialog dengan maha agung itu. Sesuatu yang tak ia ketahui mengapa begitu mengoyak hati.
"Satu-satunya kekuatan yang bisa mengakhiri keabadian Ardyn. Kekuatan ini, akan melampaui Enam Dewa, dan akan memurnikan Glaives dari Raja terdahulu yang dibangkitkan dan 'Kekuatan Sihir' dari kristal. Tetapi, engkau harus mengorbankan hidup engkau sendiri di atas kursi takhta untuk melepaskan Kekuatan ini."
Terselesaikannya kalimat tersebut mendatangkan keterkejutan yang teramat sangat kepada sosok tampan tersebut. Caelum muda di sana membulatkan mata, menampakkan raut ngeri teramat sangat setelah Bahamut menjelaskan 'kekuatan' yang akan diserapnya.
Getar yang memeluk tubuhnya semakin kasat mata dan ia kilau yang berada di kedua mutiara birunya begitu nanar seolah tak percaya dengan apa yang baru diperdengarkannya.
"Kekuatan ini akan ditukar dengan hidup engkau dan semuanya akan berakhir. Hilangkan raja palsu ini bersama dengan kegelapannya dan bawalah kembali fajar ke dunia. Korbankan diri engkau sebagai Raja yang akan menyelamatkan segalanya."
Pemuda tersebut menunduk, menari-narikan kedua berliannya yang semakin memancarkan getir teramat sangat. Tiap sorotnya melantangkan ketidakpercayaan, tiap pendarnya menggamblangkan bagaimana syoknya ia saat ini.
Surainya menari halus seiring dengan tergeraknya kepala itu. Sang pangeran terlihat sedikit menggeleng, berusaha tidak memercayai apa yang baru saja ia tangkap dengan kedua indera pendengarannya.
Ia akan mati...
Ia harus mati demi menyelamatkan dunia...
Saat itu pula sekelibat bayang-bayang mereka yang selalu berada di dalam hatinya terbesit dalam benaknya. Ia sedikit meringkuk, mencoba menguasai kekalutannya yang terus menerus mencabik jiwanya.
Bibir itu memerah karena tergigit kuat-kuat dan bahkan pemuda tersebut tak menghiraukan ada rasa memuakkan yang memenuhi rongga mulutnya karena luka yang terbuka.
Dahinya berkerut, alis itu hampir terlihat menyatu karena ia tak kuasa menahan pedih yang mehujam dadanya. Tubuh tersebut masihlah bergetar dan kemudian menegang saat satu runtut kalimat milik sang dewa tadi kembali berdengung di kepalanya.
"Penuhilah misimu—"
"Kau bilang bahwa Ardyn memiliki dendam kepada keluarga kerajaan dan tidak akan puas jika tidak membunuhku." Pemuda itu memotong cepat perkataan sang maha agung. Menatap penuh keseriusan dan memancarkan ketakutan pula. "Apakah...dendam itu kepada seluruh garis Lucis Caelum? Apakah...Kuri—Rosea termasuk di dalamnya?"
Seberapa tajam ia melekatkan pandang ke sosok tertinggi Astral tersebut, tak sedikitpun ia berhasil mengetahui sorot apa yang terkandung di balik biru yang seperti miliknya. Seberapa kerasnya ia mencoba memahami, ia tidak akan pernah paham apa yang tengah dipikirkan sosok itu.
"Dendamnya adalah kepada keluarga kerajaan...Lucis Caelum..."
"Jadi Kuri termasuk?! Ardyn akan membunuhku dan membunuhnya?"
"Karena itulah diperlukan kekuatan engkau untuk memusnahkan sang raja palsu."
Tidak!
Ia tidak akan membiarkan gadisnya mati hanya karena dendam milik pria terkutuk itu.
Jantung pemuda tersebut berdegup begitu cepat. Temponya memainkan alunan yang memuakkan dan hampir membuat ia tercekik karenanya. Ia mengepalkan tangan ketika kecamuk dalam dadanya saling bertabrakan satu sama lain menyakiti dirinya lagi dan lagi.
Seluruh kenyataan yang diperdengarkan tadi membuatnya berada di dalam jurang keputusasaan. Ia hampir terjerembab, jatuh ke dalam relung kefrustasian jika saja secuil kata hatinya berkata bahwa ini adalah cara terbaik yang harus ditempuhnya.
Ia menundukkan kepalanya kembali, memejamkan mata seraya menyesapi ngilu yang kerap hadir untuk melukainya. Kecil suara dalam benaknya tersebut kian lama kian membesar, memberi lafal yang mengudarakan bahwa telah banyak nyawa yang terenggut untuknya dan inilah waktu baginya untuk membuktikan bahwa iapun bisa melindungi orang-orang yang dicintainya...
Walau itu artinya ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan mereka...
Walau artinya esok hari tak akan datang untuknya...
Rahang pemuda tersebut mengeras kala bayang-bayang para sahabatnya datang merasuk tanpa permisi sehingga mengakibatkan hatinya dipenuhi oleh duri.
"Jika memang aku harus menyerahkan nyawa ini...apakah aku boleh meminta sesuatu kepadamu?"
Noctis menengadah, menatap Draconian di depan sana dengan tatap yang penuh kesungguhan.
"Apa itu?"
"Berjanjilah padaku untuk menyelamatkan Kuri. Berjanjilah padaku untuk selalu melindunginya. Lindungi pula teman-temanku dari mara bahaya. Karena aku sudah tidak ingin kehilangan siapapun lagi di dunia ini. Jika kau berjanji padaku, aku akan merelakan nyawa ini dengan senang hati."
Begitulah permintaannya. Nyawa ditukar dengan balasan nyawa. Ia tidak ingin pengorbanannya nanti sia-sia karena mereka yang terpenting di hidupnya harus kehilangan ruh karena melindunginya. Kali ini giliran dirinyalah yang akan melindungi mereka.
Meskipun harus berkorban nyawa...
"...Baiklah..." Ada perasaan lega datang memenuhi hati putra mahkota itu setelah mendengar Draconian menyanggupi permintaannya. "Ambillah kekuatan itu—kekuatan milik Raja Sejati."
Tangan kiri yang menjadi tempat sang pangeran berpijak perlahan-lahan melepaskannya sehingga ia kembali terjatuh, melayang di antara kekosongan warna-warna cantik yang terkilau indah. Ia memeluk kakinya yang tertekuk, menutup kedua matanya untuk menyesapi seluruh hidup yang pernah dijalaninya.
Jika memang inilah yang terbaik ia akan bersedia menukar nyawa dengan senyuman mereka yang disayanginya...yang disanggupi Bahamut untuk selalu dilindungi.
Tetapi, saat itu ia tidak tahu bahwa kesanggupan itu hanyalah terlafal begitu saja di mulut...
Aku menyayangi kawan-kawanku,
Mereka adalah sosok berharga yang tidak dapat pernah tergantikan.
Karenanya, ketika kutahu takdirku seperti itu, ada perasaan karut marut datang mengetuk pintu hatiku.
Pada akhirnya aku dapat menjadi penyelamat bagi orang banyak, aku akan menjadi sosok yang tak lagi dilindungi dan bisa melindungi.
Namun, balasan yang harus kutempuh itu ternyata tak seindah bayanganku.
Dewa mengatakan bahwa garis keturunan Caelum harus habis demi membalaskan dendam sang pria terkutuk, pria yang berbagi darah dengan gadis yang kucintai.
Saat itu aku merasa tidak berdaya, merasa lemah karena kata-kata sang dewa perang.
Pikiranku berkecamuk, hatiku bergemuruh tidak tenang.
Sampai pada akhirnya aku melantangkan permintaan kepada maha agung itu agar ia berjanji untuk menyelamatkan gadis yang kusayangi, yang nyatanya di dalam tubuhnya juga mengalir darah Caelum sepertiku.
Aku menukar nyawa ini dengan keselamatannya, aku tidak akan memberontak dengan takdirku demi ruh di dalam tubuhnya.
Walau aku tidak akan lagi bisa mendekapnya, walau aku tidak akan lagi bisa mengecupnya, melihatnya tertawa dan menjalani hidup dalam balutan sinar emas surya sudah cukup membuatku puas di alam sana kelak.
Untuk kawan-kawanku...berjanjilah agar kalian terus menjalani hidup.
Kuberikan nyawa ini untuk kalian...
Kalian yang kusayangi...
"Aku mencintaimu, Crystal...Teruslah berada di sisiku..."
Sebuah untai kata manis yang dihembuskan ke udara dingin hari. Suhu itu sedikit menusuk kulit, menggoresi dengan angin yang tak lagi hangat karena telah kehilangan terik rawi.
Di atas satu ranjang berukuran tak cukup besar dalam ruangan yang menjadi tempat tinggal sang merah muda selama tiga tahun silam, pria yang tadi menuturkan kalimat tersebut kembali menutup katup bibirnya yang sempat bercelah. Ia terdiam, mengulang runtut katanya yang tadi dihiasi oleh parau, terdengar serak karena ia tak mampu memertahankan buncah afeksi yang meletup-letup.
Kedua mutiaranya berkilau dengan beribu emosi saat memantulkan bayang sosok gadis yang beberapa puluh menit lalu didekapnya, ia hujani dengan berjuta-juta perasaan yang telah ada sejak umurnya masih belia, yang pada akhirnya berhasil ia rengkuh walau ia harus mengorbankan salah seorang sahabatnya yang lain.
Jemarinya yang kokoh tiba-tiba saja bergerak, menari samar untuk merasakan kurat yang tercetak di sisi kiri sudut mata sang gadis. Pandang tersebut perlahan mengilaukan sentimen lain, terlihat nanar saat ia bawa dirinya untuk merasai luka yang tercipta karena pengorbanan gadisnya.
Ia terus membelai wajah sosok itu, menumbukkan seluruh pusatnya untuk memandangi merah muda yang tengah tertidur dalam damai. Kelopak itu terpejam erat, bibir yang telah tertorehkan warna kehidupan sedikit menampilkan celah dan dari sana terhembus napas hangat yang mengalun dalam ritmenya semula.
Raja tersebut menghentikan pergerakan jemarinya, merendahkan kepala guna mencapai dahi yang tertutupi poni merah muda. Ia bawa bibirnya ke kulit hangat itu, mengecup dengan lembut dan penuh kasih sayang hanya teruntuk gadisnya seorang.
Menyudahi bentuk kasih sayangnya, sang malam segera turun dari ranjang itu dengan hati-hati. Ia kenakan busananya yang sempat tercecer di lantai dingin kamar kecil itu sebelum bertolak menuju meja makan yang tak begitu jauh.
Didudukkan tubuhnya di salah satu kursi kayu tersebut dan ia rogoh saku celananya untuk mengeluarkan beberapa carik kertas beserta pena hitam yang memang telah dipersiapkannya sebelum datang ke kamar ini.
Biru itu sedikit bergerak ke atas, memandangi sosok tercintanya yang terlelap tanpa menunjukkan sedikitpun tanda-tanda akan terjaga. Tak disadarinya, tangannya telah menggenggam penanya kuat-kuat, merefleksikan denyut pedih yang hadir setiap kali ia menilik gadis merah muda dengan kedua permatanya.
Dihirupnya udara lembap di sana dalam-dalam, berusaha untuk menguasai dirinya yang direngkuh oleh banyak sentimen memuakkan yang mungkin akan membuat hatinya koyak lagi dan lagi.
Memejamkan mata sejenak sebelum kemudian ia buka kembali, Noctis mulai menggerakkan pena hitamnya, menodai putih dengan tinta yang dituliskan menjadi runtut kata.
Sebuah surat yang diperuntukkan untuk mereka yang dikasihinya.
Untuk Prompto,
Jika kau membaca surat ini, berarti aku telah berhasil mengembalikan sinar untuk menemanimu. Maaf karena aku terlalu lama pergi. Tapi saat kembali dan melihatmu, aku bersyukur kau masih menjadi Prompto yang biasanya, salah seorang kawan lelaki pertama di sekolah yang berani menyapa diriku, yang selalu berusaha ceria di dalam kondisi apapun.
Sejujurnya, menulis seperti ini bukanlah gayaku. Tapi, aku tahu aku tidak akan bisa mengutarakan perasaanku melalui lisan. Karenanya, ijinkan aku menyampaikan rasa terima kasihku kepadamu yang telah mau menjadi sahabatku tanpa memandang statusku. Kau adalah cahaya di antara kita dan berjanjilah untuk tetap menerangi mereka selepas aku pergi.
Oh. Selamat juga kau sudah bersama dengan Aranea. Aku benar-benar tidak menyangka kau yang seperti itu dapat bersama dengan Aranea yang seperti itu. Kau bertanya apa aku memuji atau mengejek? Aku melakukan keduanya secara bersamaan.
Maafkan aku yang tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepadamu bahwa harus pergi dari dunia ini demi mengembalikan cahaya. Bukan karena aku ingin menyembunyikannya, tetapi aku tidak bisa mengatakannya.
Aku...tidak tahu lagi apa yang harus kutuliskan. Dua pesanku, teruslah tertawa bodoh seperti Prompto yang biasanya dan ciptakanlah tempat tanpa adanya garis pembatas.
Tertawalah selalu.
Untuk Gladio,
Jika kau membaca surat ini, maka aku telah berhasil menjadi raja yang dapat kau banggakan...benarkah? Maafkan aku karena sejak dulu tidak pernah bisa menjadi sosok pangeran dan raja seperti yang kau inginkan. Terlalu banyak kekurangan pada diriku sehingga aku sering sekali menyusahkanmu.
Aku sangat berterima kasih kepada ayahmu, kepada dirimu yang rela mengabdikan hidup demi ayahandaku, demi diriku ini. Kalian Amicitia adalah sosok yang akan selalu memiliki peran penting bagi kami, Lucis Caelum, dan kalian tidak akan pernah terganti.
Apakah kau mau berjanji kepadaku? Selalu lindungilah orang-orang terpentingmu. Genggamlah tangan mereka dan jangan pernah lepaskan. Sampaikan salamku untuk Cidney. Ia selalu membantuku dan juga membantu orang banyak dengan keahliannya. Sampaikan juga salamku untuk Iris. Sampaikan permintaan maafku yang tidak bisa menceritakan kebenaran tentang akhir kisahku ini.
Lalu...apakah aku boleh meminta tolong kepadamu? Lindungilah Crystal selalu, abdikan hidupmu untuk calon ratu yang tidak dapat bisa kusematkan mahkota ke kepalanya. Ini adalah permintaan egoisku. Apakah kau mau mendengarnya?
Aku...tidak tahu lagi apa yang harus kutuliskan kepadamu. Lindungilah garis terakhir Lucis Caelum dengan segenap kekuatanmu, maaf kalau permintaanku sangat membebanimu, tetapi aku tidak dapat memintanya kepada siapapun selain kepada kau, sang perisai.
Sehatlah selalu.
Untuk Ignis,
Jika kau membaca surat ini, maka aku telah berhasil membuktikan kepadamu bahwa aku telah melaksanakan tugasku. Maafkan aku yang sering sekali mengecewakanmu, yang kerap membuatmu jengkel dengan sikap tidak dewasaku. Apakah kau sudah bangga kepadaku? Apakah aku sudah bisa menjalankan seluruh didikanmu?
Aku...sangat-sangat berterima kasih kepada dirimu yang tak pernah lelah membimbingku, yang tak pernah letih mengajarkanku ini dan itu. Ignis, walau menurutmu aku tak paham, sesungguhnya aku tahu betapa besarnya seluruh pengorbanan yang kau beri kepadaku. Bahkan sampai akhir hayatku, aku tidak bisa membalasnya...tidak...sampai kapanpun aku tidak akan dapat mengembalikan apa yang telah kau beri kepadaku.
Apakah kau mau memaafkanku? Minta maaf untuk apa? Tentu saja aku meminta maaf untuk segala yang telah kau berikan. Dan...maafkan aku karena aku menjadi penghalang kebahagiaanmu. Kau tidak perlu mengelaknya. Aku tahu karena ketidakpekaan dan keegoisanku, aku terus menerus membuatmu tersiksa dengan seluruh tanggung jawab dan didikan yang diberi kepadamu...
Kau menahan segala keinginanmu untukku, kau menomorsatukan aku dari dirimu sendiri. Aku tahu akulah tokoh utama dalam hidupmu sehingga kau menyakiti dirimu lagi dan lagi. Kau adalah sosok kakak lelaki yang tak pernah bisa terganti oleh siapapun di dunia ini dan kau pernah berkata bahwa kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu sehingga kali ini akulah yang akan memberikan kebahagiaan untukmu...
Kutitipkan ia yang kusayangi, ia yang kurebut darimu walau kalian memiliki perasaan yang sama. Genggamlah tangannya, dekaplah bahunya, jagalah ia. Aku ingin kau bersama dengan Kuri. Aku tahu akulah yang menghalangi perasaan kalian. Karenanya, hapuskan keberadaanku dari hatinya, berbahagialah dengannya. Aku mendoakan kebahagiaan kalian.
Tersenyumlah selalu.
Untuk Kuri,
Jika kau baca surat ini, berarti Bahamut menepati janjinya untuk melindungimu. Jika kau menerima surat ini, berarti aku telah berhasil menyatu dengan cahaya mentari untuk menghangatkanmu. Apakah...aku boleh meminta maaf kepadamu? Maafkan aku karena aku tidak bisa menyematkan mahkota ratu untukmu, maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan nama Lucis Caelum-ku kepadamu.
Tapi...ijinkan aku berkata padamu, Kuri. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Aku tahu kau akan menangis ketika membaca surat ini. Menangislah, lepaskanlah beban yang ada di dalam hatimu. Sampai segala kesakitan itu pergi, sampai kau tak lagi mampu menangis dan menggantinya menjadi tawa. Aku menyukai tawamu, aku menyukai wajah ceriamu dan itulah yang kucintai darimu.
Oleh karena itu, teruslah tersenyum untukku, Kuri. Kuberikan cahaya ini untukmu, untuk kau yang akan selalu ada di dalam hatiku. Walau aku tak lagi berada di sisimu, ingatlah bahwa aku selalu ada bersama dengan sinar mentari di atas sana. Ingatlah bahwa emas yang menghangatkanmu adalah rentang tanganku yang mendekapmu. Hanya sosokku saja yang tak dapat kau gapai, tetapi aku akan selalu ada untukmu.
Kuri...bolehkah aku meminta sesuatu yang egois kepadamu? Aku sangat menyenangi keceriaanmu. Karenanya, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu. Berbahagialah, Kuri. Jemputlah suka citamu bersama dengan ia yang juga mencintaimu, ia yang kujauhkan darimu karena keegoisan hatiku.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Karenanya, tersenyumlah, tertawalah, jangan biarkan aku bersedih di alam sana. Aku ingin kau bersama dengan Ignis. Aku ingin kalian bersama dan aku akan mendoakan kebahagiaan kalian. Tapi...jika diijinkan untuk terlahir kembali, aku harap kita bisa bersama lagi...
Lupakanlah aku...
Hembusan napas panjang mengepul dan terbang memenuhi sudut ruangan itu. Bunyi kecil ketika benda hitam runcing itu diletakkan di atas meja kayu turut memecah kesunyian. Sang raja menaruh penanya dan dengan cekatan ia melipat masing-masing kertas yang menyimpan seluruh curahan hatinya. Ia tidak tahu bahwa ia akan selancar itu menuliskan isi hatinya. Apakah ia memang tipe yang dapat dengan mudah menulis dibandingkan dengan berbicara?
Kedua sudut bibirnya tertarik, menampilkan senyum simpul karena merasa puas telah berhasil meruntutkan kalimat demi kalimat di dalam secarik kertas putih yang telah tersimpan di saku celananya.
Ia mengangkat tubuh sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju ranjang hangat yang menopang sosok yang dicintainya. Ia sibak selimut itu perlahan, begitu hati-hati agar merah muda tersebut tidak terbangun karena pergerakannya.
"Noctis-ouji...?"
Namun, sepelan apapun pergerakannya, ternyata gadis itu sedikit membuka mata dan memerlihatkan merah muda yang berkilau menahan kantuk.
"Maaf. Aku membangunkanmu?"
"Kau dari mana?"
Noctis dapat mendengar lemah suara gadis itu dan iapun ikut merapatkan tubuhnya ke sang Leonis merah muda yang melingkarkan tangan untuk mendekapnya. Crystal membenamkan wajah di dadanya, membuatnya tergelitik oleh hembusan napas menenangkan gadisnya.
"Toilet." Pria tersebut berbohong.
"Jangan pergi."
Sosok dalam dekapannya itu melirih setelah menengadah untuk memertemukan bibirnya dengan bibir itu. Perlakuan sang gadis begitu pelan, begitu cepat dan membuat pria tersebut sedikit nanap dibuatnya.
"Kalau kau melakukan itu lagi, aku akan menyerangmu." Godanya, berusaha untuk mengalihkan rasa perih karena permintaan yang dilirihkan sang gadis.
"Lakukan saja. Tapi aku akan tetap tidur."
Noctis tertawa kecil setelah mendengar jawaban yang diberi gadis itu. Setelahnya ia semakin mendekap gadisnya, mengecup pucuk kepala merah muda tersebut untuk menyesapi kehangatan yang entah sampai kapan akan dirasakannya.
"Tidurlah lagi." Bisik raja itu. "Aku...di sini."
Ya...aku di sini.
Akan selalu di sini sampai tiba saatnya aku pergi.
Raja Caelum tersebut berusaha memejamkan matanya, menghiraukan sedikit reaksi yang diberi oleh Crystal karena kalimatnya tadi. Ia sesungguhnya tahu, teramat sangat tahu bahwa sesungguhnya gadis itupun menyadari kalut dalam nada suaranya.
Mereka semakin memererat pelukan mereka, tak ingin melepas seolah memahami bahwa hanya saat inilah mereka dapat meluapkan perasaan mereka melalui sentuhan.
Hanya saat ini...
Saat yang kemungkinan tak akan pernah kembali...
※End of Chapter - Noctis※
Aku suka scene awal dan akhir!
Dan mudah-mudahan chap 16 adalah chap akhir!
Susah banget ternyata bikin adegan Noctis karena ternyata aku tidak paham Noctis... hiks :')
