"Jangan khawatir mengenai Luhan-eonni, oppa. Dia tidak bisa melarang oppa lagi untuk mencintaiku."

"Apa maksud anda?"

Baekhyun tersenyum dingin.

"Kekuasaan Luhan-eonni akan segera berakhir...

...jadi Chanyeol-oppa tidak perlu menganggapnya sebagai 'Tuhan'mu lagi." [Chapter Fourteen]

Sebuah senyuman terbit dari bibir merah darah Chanyeol. Kepalanya menggeleng lemah, getir memikirkan 'wanita'nya sudah melangkah sejauh ini.

Chanyeol mendorong jauh uluran tangan wanitanya.

Tenggorokan Baekhyun terasa kering. Matanya memanas.

Sambil mengeratkan pelukannya pada Byun Hana, Baekhyun bertanya, "mengapa oppa menolakku? Aku ini ibu dari anakmu, oppa..." Desis Baekhyun di akhir kalimat. Dia bisa bersikap sok kuat di depan siapapun, tapi tidak pada Park Chanyeol. Setidaknya, biarkan dia mengais cinta Chanyeol. Baekhyun sudah sejauh ini untuk bisa mendapatkan prianya kembali. Air matanya meluruh cuma-cuma. "Tidak bisakah kau mengutamakanku? Mengutamakan kami? Aku dan Hana membutuhkanmu, oppa..."

"Eomma menangis?" Tanya Hana. Tangan mungilnya membingkai pipi Baekhyun. Bibir mungilnya tidak enggan mencium hidung sang eomma. "Appa jahat ya? Hmh... Kita pulang saja, ne?"

Prestasi Chanyeol sebagai ayah sangat buruk. Dia tidak ada dimasa kehamilan Baekhyun, apalagi saat kelahiran Hana. Chanyeol juga tidak ada sebagai sosok ayah atau suami untuk Baekhyun.

Sekarang?

Ketika sepasang ibu dan anaknya meminta Chanyeol 'pulang', dia justru membuat mereka menangis.

Chanyeol tahu, dirinya lebih buruk dari pria bajingan manapun.

Tapi Chanyeol tidak bisa gegabah. Ada banyak pertimbangan hanya untuk mengambil langkah kembali pada wanitanya.

Baekhyun mencoba tersenyum tegar di hadapan anaknya. Ekspetasinya, Chanyeol bisa diraihnya jika kekuasaan Luhan tak lagi dipegang wanita itu. Nyatanya? Luhan memegang apa yang paling penting dari Chanyeol.

Itu bukanlah cinta dan hati Chanyeol melainkan...

...kesetiaan setara dengan seorang 'hamba' pada 'Tuhan'nya.

Jika posisi Luhan setinggi itu, Baekhyun jelas kalah.

Sang ibu muda tak lagi memandang prianya. Matanya yang cantik hanya tertuju pada sang anak tunggal.

"Ya, Hana, kita pulang saja..."

"Sebaiknya kita duduk di kursi taman sana," Chanyeol menunjuk kursi yang berjarak beberapa meter dari belakang Baekhyun. "Kita perlu bicara."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, aku tahu jawabanmu."

"Saya mohon, Nona Muda..."

Kesopanan tutur kata Chanyeol selalu meluluhkan keras hati Baekhyun. Sang ibu muda mengangguk.

Chanyeol memimpin langkah. Sehan menggandengnya. Langkah Chanyeol diikuti Baekhyun yang masih menggendong Hana. Kedua orang itu duduk bersama.

Sebagai Guru Pribadi, Chanyeol mengajarkan Sehan untuk lebih banyak berinteraksi dengan anak sebayanya. Dia rasa, Hana adalah anak yang tepat untuk mengajarkan Sehan mengenai interaksi sosial.

Anak gadisnya tumbuh dengan begitu banyak ekspresi dan kelincahan.

Chanyeol menyesal melewatkan momen tumbuh kembang anaknya dari janin sampai sebesar ini.

"Tuan Kecil Oh main ya bersama Nona Hana, anda mau?"

Sehan hanya memandang Hana, tapi yang dipandang memalingkan muka. Kesal.

"Dia tidak mau bermain bersamaku, saem."

"Benarkah?" Chanyeol tersenyum lembut pada Hana. "Nona— ehm, maksud saya... Hana-ya... Kamu tidak keberatan bermain dengan Sehan? Ibumu kelelahan menggendongmu. Lagipula, Sehan ini anak yang baik."

Langsung pipi Sehan memerah saat Hana menatapnya sambil berkedip-kedip polos. "Ne... Appa..." Cicit Hana ragu untuk memanggil 'appa' pada pria yang membuat ibunya menangis.

"Kau benar-benar secantik ibumu... Mianhae..." Ucap Chanyeol sangat pelan. Nyaris tidak didengar siapapun kecuali Baekhyun yang memandangnya penuh harap.

Baekhyun harap, Chanyeol benar-benar pergi dari Luhan untuknya setelah keduanya saling bicara empat mata.

Baekhyun ragu untuk membiarkan Hana bermain bersama salah satu anak Luhan. Tapi, melihat kemiripan Sehan dengan Sehun, Baekhyun mengurungkan keraguannya. Chanyeol menghubungi Eunwoo yang baru saja sampai ke rumah sakit. Chanyeol menyuruh pria itu menjaga Sehan dan Hana.

"Jaga mereka, Eunwoo..." Chanyeol menengadah pada Eunwoo yang berdiri di depannya. Kedua tangan Eunwoo menggandeng Sehan dan Hana.

"Siap, Hyung." Eunwoo sekilas melirik Baekhyun. Sebagai pengawal Xi, dia sangat mengenal baik Baekhyun. Jadi dia membungkuk hormat padanya sebagai sopan santun pada bangsawan. Baekhyun hanya menghela nafas, acuh.

"'Park Chanyeol' adalah nama pemberian Lady Luhan untuk saya."

Sepeninggal Eunwoo, Sehan, dan Hana, Chanyeol mengucapkan kalimat yang mengerutkan kening Baekhyun.

Apa maksud ayah biologis anaknya bicara seperti itu?

Kenyataan mengenai nama 'Park Chanyeol' sudah Baekhyun hafal di luar kepala. Jadi untuk apalagi dibahas?

"Kau hanya ingin pamer kalau Luhan-eonni lebih berkuasa terhadapmu sampai-sampai kau mengacuhkan anak kandungmu sendiri?"

"Dari nama saya, seharusnya anda tahu setinggi apa posisi Lady Luhan bagi hidup saya. Saya tidak ingin bahagia dengan predikat pria tak tahu diri, seolah kacang lupa kulitnya."

Chanyeol bisa melihat binar amarah Baekhyun untuknya.

Bukan masalah, terpenting adalah karakternya sebagai Park Chanyeol terus dipeganginya.

Dia tak mau cinta membutakan akal sehatnya.

"Lady Luhan bagaikan pemberi sayap untuk saya yang tidak bisa berjalan di tanah. Sedang anda? Anda turut andil dalam memanusiakan saya dengan perasaan mewah bernama 'cinta'. Anda memang pemegang hati saya, tapi perlu anda pahami kalau Lady Luhan adalah pemegang jantung saya."

Mutlak. Kesetiaan Chanyeol pada Luhan tak bisa lagi Baekhyun usik.

"Saya bukannya tidak bertanggung jawab. Saya hanya butuh waktu sampai hutang-hutang saya pada Lady Luhan terlunasi. Jika saya cukup pantas untuk berdiri tegak sebagai Park Chanyeol, tanpa nama Lady Luhan sebagai penopang, maka saya sudah cukup pantas untuk meminang anda."

"Oppa... Apapun dirimu, aku tetap menerimamu!" Baekhyun bersikeras. Baginya, eksistensi dan cinta Chanyeol cukup untuknya bahagia. "Apalah kedudukan, harta, dan semacamnya, oppa? Byun Baekhyun memiliki semuanya sejak lahir. Tapi dia akan merasa sangat miskin tanpa cinta dan eksistensi seorang Park Chanyeol."

Gila memang, persetan dengan pendapat orang!

Chanyeol menyimpul bibir. Dia harus bijak merangkai kata untuk membuat wanitanya mau mengerti.

"Maaf, Nona Muda. Terkadang, seorang pria bisa jadi sangat pengecut, saat dirinya merasa lebih rendah dari wanitanya. Saya tak mau dunia menganggap saya demikian. Itu bukan karena saya mementingkan omongan dunia, tapi itu semua demi nama baik anda sebagai Bangsawan...

...begitulah cara saya mencintai anda. Saya tidak ingin dunia memandang anda tercela hanya karena menikahi mantan gelandangan macam saya."

"Yang kucintai hanyalah dirimu, oppa... Bukan dunia ini! Masa bodoh dengan ucapan mereka. Aku hidup bukan karena peran mereka. Aku hidup sampai saat ini justru karena dirimu! "

Benar, dari dulu Luhan tidak menginginkan Baekhyun hidup. Terkecuali Chanyeol meminta Baekhyun hidup. Jika tidak demikian, Baekhyun pasti mati di tangan Luhan.

"Aku mencintaimu, oppa. Kau juga mencintaiku, kan? Apa itu tidak cukup untuk membuatmu kembali padaku?"

Chanyeol tersenyum sinis.

"'Cinta'?"

Satu kata itu bermakna, kalau Chanyeol skeptis pada cinta Baekhyun.

"Anda pikir saya terkesan dengan apa yang anda lakukan saat ini?"

Mata sipit Baekhyun membulat. Aura Chanyeol mendingin.

"Oppa..."

"Saya sangat kecewa saat anda melakukan hal yang sangat mencederai harga diri saya sebagai pria. Anda kira saya akan berpindah ke pelukan anda setelah Lady Luhan tergelincir dari kekuasaannya? Anda salah! Itu malah membuat saya semakin menempeli Lady Luhan."

"Wah! Dari ucapanmu, aku semakin tidak percaya kalau kau mencintaiku, oppa."

"Begitukah? Sedangkal itukah perasaan anda untuk saya? Sedangkal itukah anda mempercayai cinta saya?"

DEG...!

Jantung Baekhyun berdenyut sakit.

"Saya memperjuangkan anda, Nona Muda! Tidakkah Nona Muda ingat saat saya baru saja diangkat sebagai CEO XiLu Corporation? Saya berkata pada anda, bahwa saya ingin anda percaya kalau saya masih memperjuangkan anda, hingga saat ini, dan akan terus begitu terlepas perlakuan anda pada pemilik jantung saya. Pada 'Tuhan' saya!"

"Aku masih tidak paham apa yang membuatmu seperti ini pada Luhan-eonni. Percayalah, oppa... Luhan-eonni itu jahat! Dia bahkan ingin kau membunuhku hanya karena ucapan cintamu padaku!"

"Asal anda tahu, Lady Luhan sudah tidak memikirkan perjanjian jahat itu lagi, Nona Muda. Dan camkan ini baik-baik! Lady Luhan sangat menjaga perasaan saya dan anda. Jadi bagaimana bisa saya mengacuhkan beliau demi cinta semata?"

"Dia peduli pada perasaanku?" Ucap skeptis Baekhyun.

"Anda akan menyesali apa yang anda pilih, Nona Muda Baekhyun."

Ultimatum dari ucapan Chanyeol seolah memukul jantung Baekhyun.

'Apa aku melewatkan sesuatu?' Baekhyun mendadak cemas.

"Anda bertindak bukan karena pikiran anda jernih, tapi saya yakin karena kelabilan Anda."

"Op-oppa... Aku... Aku..." Baekhyun susah payah menghapus air matanya. "Aku mencintaimu... Aku melakukan semua ini untukmu... Andai saja kau memilih bersamaku, aku yakin Luhan-eonni tidak akan seperti ini."

"Anda yakin?"

Ucap skeptis Chanyeol menerbitkan kekalutan hati Baekhyun.

"Selama Kris Anderson masih hidup, Lady Luhan tidak akan bisa tenang. Pria itu gila dan anda mempercayainya dibanding pria yang anda cintai. Seharusnya saya yang meragukan cinta anda."

"Berhenti menyudutkanku, oppa..."

Chanyeol menggelengkan kepala.

"Nona Muda."

Baekhyun tidak menyahut.

"Saya akan bertanggung jawab atas Hana, berjuang membayar lunas kesalahan saya sebagai ayah kandungnya, dan membuatnya mengerti bahwa 'ayah kandungnya ingin dia bersabar, karena ayahnya tengah mengorbankan banyak hal untuk bisa kembali pada ibu kandungnya.'"

"Apalagi yang ingin kau korbankan untukku, oppa? Kau saja sudah cukup!"

Sekali lagi, Chanyeol menggelengkan kepala.

"Saya mohon, kali ini percayalah pada saya. Setelah Lady Luhan tidak membutuhkan saya, saya akan kembali pada anda, saya akan kembali... Saya akan pulang ke dalam hati anda..."

"Tapi..."

Chanyeol menangkup kedua pipi imut wanitanya. Mengamati segala kecantikan Baekhyun. Berterima kasih pada Tuhan semesta alam, karena kesetiannya pada Luhan membuatnya memahami bahwa 'mencintai tidak sekedar mencintai'.

Diciuminya kening Baekhyun lama sekali. Kemudian kedua mata indahnya. Hidung mungilnya. Lalu bibir merah muda Baekhyun sedikit dilumat. Chanyeol dan Baekhyun bertukar nafas, bertukar pandang, bertukar kontak batin untuk menyampaikan sebesar apa rasa cinta antar keduanya.

"Jaga diri anda. Meski saya terlambat menyadari keberadaan Hana, kali ini saya tidak akan terlambat untuk kembali dan menjaga Hana, juga anda, dari kejauhan."

"Oppa..."

"Ya, Nona Muda?"

"Panggil namaku."

"Nona Muda Baekhyun?"

Baekhyun mendengus.

Chanyeol tersenyum lembut, "Baekhyun."

"Lagi, lebih akrab."

"Ba—ekhem..." wajah Chanyeol memerah. "Baekhyun-ah..."

"Lagi!"

"Baekhyun-ah..."

"Itu sudah lebih dari cukup," Baekhyun tersenyum kecil. "Aku mau menghampiri Hana—"

"Nona— ehm, maksud saya Baekhyun." Baekhyun merotasikan bola matanya kala pria kecintaannya begitu formal padanya. "Saya ingin memberi anda satu nasihat. Semoga anda bisa terus mengingatnya sampai semua ini benar-benar berakhir."

"Apa?" Seketika lutut Baekhyun gemetar.

"Setelah anda tahu kebenaran mengenai Keluarga Bangsawan Byun dengan Lady Luhan..."

Kedua tangan Baekhyun digenggam kuat-kuat namun syarat harapan besar di sana.

"...Saya harap anda tidak menyalahkan diri anda sendiri, saya mohon."

.

.

.

.

.

HUNHAN (GS)

GS FOR UKE, MAFIA-AU, KINGDOM-AU, TYPO(s), ABAL-ABAL

WARNING :

Word jebol seperti biasanya. Tinggalkan jejak atau saya yang akan meninggalkan readers dalam rasa penasaran akut :p

NOTE :

Aku bukan ahli hukum atau ahli psikologi. Kalau ada kesalahan mohon kritisi bukan nyinyirin.

Thanks :)

.

.

.

.

.

Fifteen : His Death Harmonies

"Anggaplah aku komposer. Di mana aku akan mengatur agar kedua mafia besar ini melawan Kris melalui 'permainan musik' yang indah. Dan, kutekankan, Kris akan mendengar harmonisasi itu hingga ketagihan sampai... Dia terdorong untuk membunuh dirinya sendiri. Yeah... let's start begin..."

—Oh Sehun or Woo Sehun—

.

.

.

.

.

Sudah dua bulan sejak Luhan dipenjara, Hanbin mengawasi para Mafioso di organisasi Mafia Xi. Tindak-tanduk mereka tidak boleh melenceng dari prinsip. Terkhusus pengkhianatan pada Keluarga Bangsawan Xi. Untuk bisa membuktikan loyalitas antar anggota, tentu ada beberapa macam cara. Salah satunya ialah memerintahkan mereka mengawasi setiap media massa, lingkungan masyarakat, bahkan pergerakan pemerintahan, agar informasi tentang 'penangkapan Xi Luhan' tidak bocor ke publik.

Manusia adalah makhluk hidup dengan ego tertinggi di makhluk lainnya. Sebagian besar dari mereka hanya mau di'kendalikan' oleh manusia lain yang berkuasa. Saat ini Luhan mencapai titik jatuhnya, dan para mafioso mengetahuinya. Jadi kita lihat apakah mereka masih 'loyal' pada Luhan atau tidak.

Mansion Oh.

Sama seperti mansion bangsawan lainnya, Mansion Oh memiliki banyak kemewahan termasuk interior di dalam Ruang Kerja Kepala Keluarga Oh. Suasananya sangat mencekik Hanbin, padahal dia sudah biasa menghadapi kematian dan kelicikan selama menjadi mafia.

"Jelaskan laporanmu, Hanbin."

Oh Sehun tampil dalam kedinginan hati. Duduk di balik meja. Mata tajamnya tak mau teralih dari Hanbin. Sorotnya menggugah hangat para rahim wanita, dan mengintimidasi ego para pria.

Postur duduk Sehun tegak, proporsional, seolah pamer diri bahwa Oh Sehun di hadapan adalah...

...Kepala Keluarga Bangsawan Oh.

Presdir Oh Group.

Seorang Putra Mahkota asli yang disembunyikan dari rakyatnya.

Kepala Mafia Oh.

Dan,

Pengganti Lady Luhan.

Karakter Sehun sangat berbeda dengan Luhan. Hanbin yakin Sehun bisa memimpin bawahan Luhan, tapi apakah bawahan sang Lady Xi menerima cara memimpin Tuan Besar Oh?

"Ada beberapa masalah internal yang harus dihadapi setelah Lady Luhan dipenjara. Khususnya dari para Mafioso sendiri."

"Kau sudah tahu siapa saja mereka dan apa kesalahan mereka?"

"Ya."

"Bagaimana dengan 'orang dalam' di pemerintahan? Kris masih berusaha mematikan pengaruh Keluarga Xi dari pemerintahan Korea Selatan."

"Jangan khawatir, saya bisa jamin orang dalam yang Lady Luhan kirimkan ke kursi pemerintahan masih bisa mempertahankan kesetiaannya."

"Jika kemungkinan terburuk terjadi, apa yang bisa kau sarankan padaku untuk menindaklanjutinya?"

Sehun belajar dari tersandungnya kekuasaan Luhan. Sebagai pemimpin, Sehun tidak akan main-main pada pengkhianatan.

Jika dulu Luhan mengatakan Sehun pria yang naif, lalu bagaimana sekarang?

"Bunuh mereka."

Jawab Xi Hanbin.

Bibir Sehun membentuk senyum tipis, setipis kertas yang mampu menyobek nadi.

"Jangan terlalu tegang," ucapan Sehun tidak pas dengan kedinginan sikapnya. Tak ada lagi senyum pengayom seorang Oh Sehun di sana. "Minumlah. Aku menyuguhkan kopi itu khusus untukmu."

Bahkan nada ramah Oh Sehun musnah dari pendengaran Hanbin.

Punggung Hanbin memanas. Dia duduk tegak namun kakinya agak menegang.

"Ah, ne."

"Berikan daftar nama mereka padaku."

Hanbin membuka tas ransel hitamnya. Mengeluarkan sebuah kliping. Kemudian memberikannya pada Sehun. Suami Luhan itu menerimanya, membuka dan membaca tiap halaman kurang dari dua detik, tak ada kerutan menghiasi wajahnya, ekspresinya sangat datar tak terbaca, manik hitamnya terus bergulir, dan kelopak matanya berkedip konstan.

Sebagai sesama pria, Hanbin mengakui Sehun terlalu sempurna dalam bersikap. 'Ya, nyaris sempurna. Lady Luhan tidak salah memilih suami.'

Kelopak mata Hanbin menurun pada meja kerja Sehun. Terdapat banyak dokumen-dokumen penting, sebuah laptop, alat tulis, coretan-coretan, sebuah pigura foto keluarga HunHan dengan anak mereka yakni Triple Twin, dan terakhir secangkir kopi mendingin.

Dari sekian banyak dokumen, Hanbin tertarik pada tumpukan dokumen dalam satu map hitam berjudul, 'Oh Crime Family'.

Mata Hanbin membulat sempurna hanya kalimat itu.

"Kau melihat sesuatu yang menarik, Hanbin?"

DEG...!

Tatapan tajam Sehun, dalam datarnya ekspresi, menghunus Hanbin untuk mengorek jawaban.

Kliping dari Hanbin diletakkan di atas meja. Tak ada bunyi 'ptak' antara pinggir kliping dan meja kaca. Membuktikan kalau gerakan tubuh Sehun terlalu elegan, di mana pria itu sangat meminimalisir 'bunyi' yang tidak perlu.

Hanbin mengangguk. "Keluarga Bangsawan Oh juga Keluarga Mafia?"

Yang Sehun sukai dari cara bicara Hanbin yaitu langsung ke sasaran. Maka munculah sedikit senyuman.

"Ya."

Satu kata itu mengguncangkan dunia di sekitar Hanbin.

"Lady Luhan mengetahuinya?"

"Dia tahu dengan sendirinya. Tapi secara garis besar, Keluarga Bangsawan Xi ikut dalam 'menyembunyikan' kenyataan tersebut dari siapapun, termasuk bawahannya." Sehun menjeda sambil matanya lamat menganalisa ekspresi Hanbin. "Kau orang pertama, dari Mafia Xi, yang tahu mengenai kebusukan Keluarga Bangsawan Oh."

Ketika Sehun menekankan, 'orang pertama', itu bermakna tanggung jawab Hanbin tidak hanya Mafia Xi melainkan...

...nama baik Keluarga Bangsawan Oh.

Salah-salah, Hanbin akan disiksa dua keluarga mafia sekaligus.

Keluarga Oh dan Keluarga Xi.

Ini gila. Apa-apa'an dengan profil pasutri satu ini?

"Oke, aku sudah hafal semua nama di dalam kliping ini. Apa masih ada kliping lainnya?"

"Hah, apa? Anda sudah membaca secepat itu?" Hanbin memucat. Seolah manusia bernama Oh Sehun lebih spektakuler tiap detiknya.

Sudut bibir kiri Sehun terangkat, "kita ke markas utama Mafia Xi, sekarang!"

.

.

.

.

.

"Ini makanan untuk anda."

"Bisakah kau mengatakan sesuatu lebih dari empat kata? Aku bosan, aku ingin bersuara."

"Diamlah, atau saya akan menarik jatah makan anda."

Sipir penjara dikenal kurang ramah pada tahanan. Luhan pun acuh. Dia lebih memilih makan dalam hening.

Bilik penjara Luhan seperti bilik penjara khas Korea biasanya. Bedanya, Luhan terisolasi dari cahaya matahari dan interaksi sosial kecuali para sipir. Arti lainnya, Luhan dikhususkan.

Para sipir pun bertindak 'patung' di depan pintu bilik, bergantian jaga, mengantarkan Luhan makan, dan mendampingi Luhan bila pergi ke kamar kecil.

Fasilitas penjara ini sangat menjauhkan Luhan dari predikat Bangsawan bergelar Viscount yang disandangnya. Bahkan Luhan hanya tidur di matras dan bantal tipis. Selimut hanya kain polosan, tidak terlalu tebal, dan terkadang tidak bisa menghangatkan Luhan. Menu makanan disamakan dengan tahanan lain. Makan pun tidak di topang meja.

"Aku merindukan Sehun..." Luhan memijat pinggangnya yang pegal. Dia tidak terbiasa tidur di matras tipis. "Kris benar-benar menyiksaku. Aku belum pulih benar dari trauma psikis dan fisik, lalu dia menambahnya dengan membuat keseharianku jungkir balik. Tidak apa." Luhan kembali menyuapi dirinya selembar kimci. "Aku pernah merasakan hal lebih buruk dari ini—argh!"

Luhan meringis kesakitan di selangkangannya. Sumpitnya terlepas dari tangan. Luhan memijat paha dalamnya yang dilapisi celana seragam tahanan.

Dia teringat, masa pemulihan—akibat pemerkosaan yang dilakukan Kris dan Chanwoo—sekitar dua bulan lagi. Namun belum genap tujuh hari, kepolisian sudah menangkap Luhan dan membawanya ke penjara sebelum Luhan pulih benar. Itu menyalahi kode etik kepolisian, namun Luhan sudah tidak tahan melihat kewas-wasan keluarganya. Luhan tidak siap lebih lama lagi melihat suami dan ketiga anaknya menangis karena dirinya.

"Apa sudah malam?" Tanya Luhan pada si sipir.

"Belum."

"Memangnya jam berapa?"

Sipir mengangkat lengannya. Jam kuno tersemat di tangannya, mengingatkan Luhan pada pertemuan 'pertama'nya dengan Sehun.

"Jam satu siang."

"Ini waktu anak-anak tidur siang..." Gumam Luhan sambil menunduk pada makanannya. "Sehan, Shika, Shixun... Mereka paling tidak bisa tidur siang tanpa dinyanyikan olehku. Hm..., apa mereka tidur nyenyak sekarang?"

Luhan mendesah lelah. Dia melirik si sipir. Pria berkumis tebal itu bukanlah pengomel jadi Luhan bisa tenang, termasuk bicara sendiri seolah-olah dia punya partner penjara.

"Twinkle twinkle little star..."

Luhan tersenyum lirih. Dia memeluk bantalnya. Meringkuk sambil bersandar punggung di dinding.

"How I wonder what you are..."

Luhan membayangkan bantalnya adalah ketiga anaknya. Mereka selalu tidur jika Luhan memeluk mereka.

Di baris ketiga, Luhan tidak sanggup menyanyi.

Air matanya jatuh meluruh.

Senyumnya begitu pahit.

Dalam minimnya cahaya lampu di ruangan, dan suhu dingin menusuk, Luhan menggigil sambil meringkuk. Kepalanya tenggelam dalam bantal di pelukannya.

Luhan tidak menangis.

Dia tidak bisa melakukannya lagi.

Dia tidak cemas. Karena dirinya tidak bisa merasakan demikian kecuali menyangkut Sehun.

"Sehun..."

Kelembutan suara Luhan seolah mendesahkan nama suaminya.

Suaranya begitu mempesona.

Ketika sipir di bilik penjara Luhan sudah berganti jaga. Luhan sedikit waspada. Hanya sipir tertentu yang membuat Luhan nyaman. Tapi tidak untuk yang ini.

Salah satu sipir melirik Luhan penuh minat. Sipir itu menyeringai karena tahu...

...Luhan dalam posisi terlemahnya untuk diotak-atik.

Maka, Sipir menempelkan kartu khusus untuk membuka setiap bilik pada kotak mesin. Saat pintu bilik terbuka, Luhan menengadah.

Matanya memicing.

Wajah sipir ini tak pernah Luhan temui sebelumnya.

.

.

.

.

.

Distrik Gwangjin.

Adalah letak distrik utama yang dikuasai Keluarga Bangsawan Xi di Kota Seoul, Korea Selatan.

Distrik ini juga ditempati salah satu cabang rumah sakit Byun.

Selain kenyataan itu, dalam perangkat organisasi mafia Xi, Distrik ini memiliki tim khusus sendiri yang dipimpin Hyoyeon. Kenyataan itu pernah Sehun ketahui tiga tahun lalu saat truk es krim XiLu membawa 'barang-barang' mereka.

Nyaris seluruh wilayah pertanahan dan bangunan di Gwangjin-gu dimiliki Keluarga Bangsawan Xi. Sehingga pundi-pundi uang mengalir deras ke rekening Luhan setiap detiknya. Distrik ini adalah yang teraman, karena sekelas Raja Korea Selatan takkan bisa mengusik distrik ini. Karena, sebagian besar penduduk di distrik ini tidak terlalu menyukai raja mereka semenjak tahu kalau sang raja tidak lagi monogami alias memiliki selir.

Bagi sebagian besar orang, kesetiaan lebih diagungkan dibanding status pernikahan yang kosong.

Ada salah satu gedung berlantai sepuluh di Gwangjin-gu, dengan basemen, dan luas yang tak main jika dibandingkan apartemen bintang lima. Tampilan gedung ini biasa-biasa saja, namun di dalamnya kau akan tercengang.

Gedung inilah Markas Utama Mafia Xi Kedua setelah Ruang Bawah Tanah Flat [tempat Sehun pertama kali bertemu Haechan—Chapter Ten]. Lokasi Markas Utama Mafia Xi sendiri ada tiga, dan ketiganya punya fungsi yang berbeda-beda.

Baik penduduk distrik, penduduk sekitar gedung, atau orang asing lainnya, tidak tahu menahu fungsi gedung ini. Apalagi, gedung ini bukanlah tempat strategis untuk dihuni. Entah apartemen, hotel, flat, atau semacamnya, gedung ini hanya ditempeli papan logam bertuliskan, 'MILIK XILU CORPORATION'.

Pengamanan gedung ini sangat ketat. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk.

"Kami menyebut gedung ini Markas Xi. Untuk masuk ke gedung ini bisa melalui tiga cara. Tiga cara, bukan tiga tahap." Ucap Hanbin sembari menunggu satpam gedung mengecek keaslian kartu identitasnya dengan mesin scanner. Setelah itu, Hanbin menerima kembali kartunya. "Pertama, kartu identitas anggota. Lebih mirip kartu identitas kependudukan. Hanya tertulis nama, pekerjaan, usia, dan biodata lain serta sebuah foto, persis kartu identitas biasa. Padahal jika discan, akan muncul data dirimu dan jabatanmu secara mendetail di Organisasi Mafia Xi."

Jika orang awam mendengar penjelasan Hanbin, mungkin mereka bertanya, 'apakah ini menceritakan tentang science fiction?'

Lalu Hanbin akan bersedia menjawab, 'no! This is real, not fiction. Ini hanya menunjukkan kegunaan dari ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Apa kau lupa kau lahir di zaman serba canggih? Di zaman ini, hasratmu saja bisa dipuaskan dengan mesin, bung!'

"Cara lainnya?" Ini pertama kalinya Sehun mendatangi Markas Xi. Selama tiga tahun menikahi Luhan, istrinya tidak pernah benar-benar melibatkan Sehun dalam urusan Mafia Xi.

"Saya akan menjawabnya," Hanbin membukakan pintu mobil dan Sehun memasukinya. "Setelah kita masuk gedung, saya akan menjelaskan."

Hanbin mengendarai mobilnya memasuki area Markas Xi. Diarahkannya mobil range rover tersebut ke parkiran basemen. Usai menuruni mobil, Hanbin membukakan pintu mobil untuk Sehun.

Padahal Hanbin tidak perlu melakukan hal seformal ini, tapi Sehun sendiri membiarkannya.

Sehun menyamai langkah Hanbin.

"Cara kedua untuk masuk ke mari adalah mendapat izin dariku, dan Lady Luhan, secara tertulis. Akan ada tanda tangan bermaterai di surat perizinan untuk masuk ke markas ini. Tanda tangan kami lebih spesifiknya."

"Cukup ketat, rupanya."

"Yup! Dan cara terakhir, jika orang itu adalah calon rekrutan mafia Xi. Orang-orang yang dimaksud biasanya dipilih oleh anggota mafia lain. Misal, aku ingin merekrut Si A, maka Si A boleh masuk dan menjalani tes agar resmi direkrut Lady Luhan secara langsung."

"Sistemnya lebih mirip perusahaan biasa dengan pengawasan ketat."

"Ya, karena dasarnya, Mafia Xi bekerja di bidang bisnis. Bukan sekedar bunuh membunuh apalagi tembak menembak seperti di film-film. Skenario mereka terlalu berlebihan, Tuan Besar Oh. Cara mafia Italia beroperasi di era dulu juga tidak bisa diterapkan di zaman serba canggih ini. Yeah, organisasi kejahatan pun perlu mengikuti era globalisasi."

Pintu gedung terbelah menjadi dua secara otomatis. Sehun dan Hanbin resmi memasuki gedung. Sehun cukup takjub lantai pertama serupa gedung perusahaan biasa. Ada resepsionis, alat-alat kantor seperti komputer, meja, kursi, interior pendukung untuk memanjakan mata seperti lukisan dinding, dan beberapa pintu ruangan.

"Ayo kita ke lantai tujuh."

Hanbin dan Sehun memasuki lift menuju lantai tiga. Ketika bunyi denting datang, pintu terbuka dan kelopak mata Sehun sedikit melebar sebelum didatarkan kembali.

Lantai tujuh lebih mirip gym.

Sesaat setelah Hanbin keluar dari lift, dia berteriak.

"Hei, semua!"

Suara baritonnya seolah menghentikan waktu.

Semua aktivitas olahraga dihentikan. Para Mafia Xi di lantai tujuh langsung berbaris rapi di depan Hanbin.

Hanbin mengacak pinggang, "di mana lainnya?"

"Mereka ada di lantai atas. Ada yang latih pedang, tembak, dan beberapa latihan bela diri."

"Ya, komandan!" Sahut pria lainnya "saya bisa pergi ke setiap lantai agar anak-anak berkumpul di Ruang Bawah."

"Tidak usah, aku hanya bertanya saja. Bagus jika kalian terus mengasah kemampuan kalian. Tapi jangan lupa tugas kalian, kita cukup sibuk akhi-akhir ini." Hanbin menunjuk salah satu di antara Mafioso Xi yang masih berkeringat dengan singlet hitam dan celana longgar di tubuhnya. Wajahnya lebih muda dari lainnya, lebih kurus dan lebih putih. "Hei kau! Namamu Renjun, kan?"

"Ya, komandan." Ucap remaja itu—Renjun—tegas tanpa berteriak.

"Kau baru saja lulus sarjana di Universitas Cambridge, eoh?"

Renjun dan partner kerja lainnya saling melirik. Kebanyakan dari mereka berusia jauh di atasnya. "Nde, komandan."

"Selamat untukmu!" Hanbin tersenyum lebar sambil bertepuk tangan, "ayo! Kita berpesta untuk kelulusan Renjun! Nanti malam kita bakar-bakar daging."

Semua mendadak heboh karena seruan Hanbin. Banyak di antara mereka mengucap selamat untuk pemuda yang tersenyum malu-malu tersebut.

"Tunggu, Komandan!"

Pria lainnya mengangkat tangan, kehebohanpun kembali senyap.

"Sebelum membuat pesta, apakah etis jika pemimpin kita ada masalah namun kita sebagai bawahan justru berpesta?"

Renjun langsung murung ketika mendengar kabar Luhan.

Hanbin tersenyum tipis, dia menggelengkan kepala dua kali. "Lady Luhan tidak mempermasalahkan apapun. Selama kalian tidak mengkhianatinya, meski beliau di titik tersulit dan terlemah, beliau tetap bangga atas apapun yang kalian lakukan. Jadi, silahkan berpesta!"

"Yeah!"

Setiap kemurungan berubah tawa dan senyum. Renjun dipeluk-peluk, pipinya kadang diciumi pria dewasa berbadan binaraga, atau ada pula yang mengacak rambutnya. Suasana ini penuh kekeluargaan.

Sehun hanya bisa tersenyum kecil. Dia teringat istrinya. Dia tahu sang istri yang membentuk ikatan keluarga antar mafioso.

Luhan adalah jantung mereka.

"Tuan Besar Oh."

Teguran Hanbin mengusik Sehun, "ya?"

"Komandan Hanbin, pria ini siapa?"Tanya salah satu Mafioso.

Hanbin menepuk dahinya saat seluruh Mafioso menatap Sehun lamat-lamat. Postur tubuh mereka menegak, kewaspadaan jelas tersorot dari mata mereka untuk eksistensi asing.

Hanbin mengutuk kelupaannya mengenalkan Sehun.

"Beliau Tuan Besar Oh," Hanbin memperkenalkan Sehun. Ekspresi suami Luhan datar-datar saja. "Beliau yang akan menggantikan posisi Lady Luhan untuk sementara."

"Mengapa tidak anda saja?" Sanggah salah satu pria besar berkulit tan. "Anda lebih berhak. Anda lebih tahu bagaimana sistematika Mafia Xi dalam bekerja. Kami bukan mafia-mafia kebanyakan."

"Ya, kita memegang peranan penting di empat bidang. Politik. Hukum. Perekonomian. Bahkan Pendidikan." Hanbin mendengus, "kekuasaan organisasi kita saja sudah merambah di Jepang, Inggris, China, Korea, dan Amerika. Tapi cukup, sudah cukup pamernya! Biarkan aku memamerkan alasan kita harus dipimpin Tuan Besar Oh."

Renjun melirik pria Tan di sampingnya, dia berbisik. "Bukannya beliau yang memamerkan kekuatan Mafia Xi?"

"Aku mendengar bisikanmu, Renjun sayang."

Ucapan jengah Hanbin mematangkan wajah Renjun, sedangkan Mafioso lainnya hanya tertawa.

"Kalian meragukanku, bukan masalah."

Tawa meredup.

Semua mata tertuju pada Oh Sehun.

Pria itu sedikit memiringkan kepala, "Siapapun boleh menganggapku pria yang mendompleng nama Sang Lady Xi. Lagipula, pengakuan kalian tentang diriku tidaklah penting." Sehun menepuk bahu kanan Hanbin. "jika kalian ingin Hanbin yang menjadi pemimpin Mafia Xi, dipersilahkan. Tapi Luhan sendiri yang memerintahkannya untuk bertindak atas izin dan titahku..."

Raut wajah mereka menegang, beberapa menahan amarah hanya karena kesombongan Oh Sehun.

Kepala Keluarga Oh tersebut menekankan empat kata.

"...jadi, tolong ingat itu."

Sehun berbalik selayaknya model papan atas. Dia berjalan ke arah lift. Langkahnya membunyikan ketukan-ketukan intimidatif. Aura dinginnya membumbung di udara.

Renjun membinarkan matanya. Punggung Sehun mengingatkannya pada seseorang.

Seseorang itu adalah Luhan.

Pahlawan hidupnya.

"Tuan Besar Oh!"

Punggung tegap itu berhenti.

Tapi tidak berbalik.

Renjun langsung melesat keluar dari barisan. Saat mencapai Hanbin, dia berpose hormat dan dibalas kekehan Hanbin, kemudian Renjun menghadap Oh Sehun yang menatapnya dingin.

"Tuan Besar Oh! Izinkan saya untuk membantu anda! Saya... Saya mengagumi anda."

"Apa?" Ucap skeptis Sehun.

"Ya! Saya... Saya ingin berguna untuk anda."

Antusiasme Renjun jarang ditunjukkan kecuali jika ada Luhan di depannya. Bagi partner-nya, Renjun begitu tertutup. Pemalu. Dan terkadang gagap dalam bekerja. Tapi kalau sudah berhubungan dengan Luhan, dia bisa menjadi pribadi yang berbeda.

"Siapa kau?" Sehun sepertinya mencurigai Renjun. Pria kecil itu lebih dari sekedar Mafioso Muda dan Lulusan Sarjana Hukum dari Cambridge University.

Renjun bicara dalam bahasa isyarat. Gerakannya tertutup dari para Mafioso.

Gerakan isyaratnya bermakna,

"Pembunuh Satu yang bertugas dalam 'Operasi Distribusi Barang dengan Truk Es Krim'."

Sehun ingat sekarang.

Obrolan Grup : DIVISI PEMBUNUHAN beranggotakan ratusan pembunuh. Mereka tidak memakai nama asli, hanya nomer pembunuh. [Lihat Chap eleven]

Termasuk si 'Pembunuh 1' ini.

Sehun mengamati keseluruhan wajah Renjun. Lalu matanya turun ke perawakan tubuh. Ujung bibir kanannya sedikit terangkat. Lalu dia berkata,

"Kau pernah bekerja sama dengan Pengacara Jongin? Hal apapun itu?"

Renjun paham. Sehun mengarahkan pertanyaannya yang berhubungan dengan pengadilan.

"Ya."

"Bagus. Kau akan berguna pada saat itu."

Muka Renjun lebih ceria. "Terima kasih, Tuan Besar Oh!"

"Lebih baik kita pergi," Hanbin menginterupsi. "Renjun, kembalilah berolahraga."

"Ne, Komandan."

"Lainnya, kembali ke aktivitas masing-masing!"

"Baik, Komandan!"

Lantai gym kembali ramai oleh aktivitas Mafioso terhadap alat-alat treadmill dan semacamnya.

"Setidaknya anda perlu tahu bagaimana Mafia Xi mengembangkan skill mereka. Mari, kita ke lantai atas untuk menjelajahi gedung ini!" Entah bagaimana Hanbin bisa begitu bersemangat memamerkan keunggulan Mafia Xi.

"Tidak perlu," tolak Sehun. "Itu tidak usah terlalu diperlihatkan. Saat ini informasi itu tidak kubutuhkan."

"Apa kita langsung ke Ruang Bawah Tanah? Mereka berkumpul di sana."

Sehun mendahului Hanbin memasuki lift.

"Ya."

.

.

.

.

.

Di penjara.

Luhan hafal betul wajah-wajah kusam dan sinis para sipir yang biasa menjaga biliknya. Tapi yang satu ini? Luhan sama sekali tidak mengenalinya.

Apakah Luhan pikun? Tentu tidak. Luhan yakin ingatannya masih kuat hanya untuk mengenali wajah.

"Siapa kau?"

Todongan kata Luhan menerbitkan senyum di bibir sipir itu. Kumis tipis dan kantung mata hitamnya membuktikan si sipir kurang terawat. Pipinya sedikit cekung. Rambutnya terpangkas sedikit berantakan di sekitar telinga. Ditambah tangannya yang gemetar.

Apakah Luhan bertemu sipir pecandu narkoba?

Luhan memandang sipir itu skeptis.

Mata Luhan membelalak saat kedua tangannya dicekal kemudian tubuhnya ditindih.

"Sshh...!"

Luhan mengeluh selangkangannya masih sakit karena demi apapun! Dia masih dalam masa pemulihan akibat pemerkosaan yang dilakukan Kris dan Chanwoo padanya. Sungguh sial, Kris melipatgandakan penderitaannya. Otoritas Kris membawa Luhan ke penjara dalam tubuh remuk dan mental nyaris hancur lebur.

Sekarang?

Sipir belaga pecandu narkoba berusaha memperkosanya.

Apakah ini semacam karma dari kejahatan Luhan pada para ibu dalam keluarga yang dibantainya?

Luhan menyeringai.

Masa bodoh dengan nyawa yang sudah melayang.

Kaki kanan Luhan melilit pinggang si sipir—kita panggil demikian—kemudian Luhan berguling hingga berganti menindih si sipir. Luhan menyentak kedua tangannya, memukul perut si sipir cukup keras, kemudian melompat bangkit.

Sipir itu mengeluh perih di perutnya. Belum bangkit, Luhan tak segan menendang selangkangan si sipir.

Si sipir berteriak tertahan.

Luhan tertawa kecil.

Dan langsung senyap saat tendangan melayang ke wajahnya.

Luhan memagari wajahnya dengan dua lengannya, dirasa tak ada tendangan, wanita itu melirik ke sekitar ruangan dan mendapati sipir itu menendang punggungnya. Luhan hanya meringis, bukan karena tendangan, tapi selangkangannya. Ingat, Luhan masih dalam masa pemulihan.

Wanita itu tak langsung berbalik. Dia berkilah, menarik juluran tangan yang ingin memukul kepalanya, membanting pria itu dan memukul wajahnya. Luhan bangkit, tapi kakinya diseret hingga dia terjatuh, kemudian si sipir kembali meninju wajahnya tapi Luhan masih bisa menghindar.

"Apa masalahmu, Tuan Sipir? Kau ingin memperkosaku?"

"Tidak."

Luhan mengernyit.

Suara yang sangat Luhan hafal keluar dari pita suara si sipir.

"Kami mulai tidak mempercayai anda sebagai pemimpin kami. Jadi, kami ingin mengetes anda."

.

.

.

.

.

Ruang Bawah Tanah Gedung Markas Xi.

"Sekitar 22 orang memutuskan keluar dari organisasi Mafia Xi. Sekarang, jelaskan alasannya!"

Sehun tak lagi beramah tamah dengan calon pengkhianat sang istri. Bagi dunia mafia kelam dan ekstrim macam Mafia Xi, resign dari Mafia Xi artinya 'mati'.

Untuk menghindari kematian itu, tentu anggota yang ingin keluar harus mengalahkan pemimpin mereka. Entah secara 'berkelompok lawan satu' atau 'one on one'.

Salah seorang pria berbadan besar, namun cukup proporsional persis pengawal artis, maju dari barisan.

"Lady Luhan sudah masuk ke dalam penjara. Lambat laun kerajaan akan mengorek-ngorek informasi apapun mengenai kebusukan Keluarga Xi. Akan lebih baik kami pergi dari Mafia Xi agar kedok buruk kami tidak ikut terbongkar. Siapapun akan berpikir demikian. Maka dari itu kami memutuskan keluar dari organisasi ini," pria itu tertawa sarkastik. "Kami bukan pengecut seperti Mafioso yang tengah latihan di lantai atas, atau Komandan lemah seperti Hanbin. Kami tidak sepengecut mereka yang mau dikuasai otoritas runtuh."

Pria itu melirik Hanbin. Pandangannya meremehkan, "Kami saja tidak bisa mempercayainya dalam memimpin kami..." matanya melirik Sehun. "...apalagi anda yang hanya orang luar, Tuan Besar Oh."

Tanpa nada suara dan ekspresi wajah, Sehun merespon,

"Hanya itu?"

Hanbin sebagai Komandan Mafia Xi harap-harap cemas. Dahinya berkeringat. Dia tidak takut anak buahnya terbunuh. Dia hanya was-was pada keputusan Sehun. Bisa saja lebih ekstrim dan irasional dari Lady Xi-nya.

Sehun melepas kancing lengan kemejanya, menyingsingkan lengannya sampai sesiku, memperlihatkan lengan putih kekarnya yang dihiasi urat-urat timbul.

Sungguh jantan.

"Mau pilih melawanku dengan berkelompok atau one on one? Itu terserah kalian."

Hanbin menatap Sehun dari samping. Ketampanan sisi samping suami Lady Xi mengingatkan Hanbin pada Luhan.

"Lawan aku secara berkelompok atau one on one? Terserah kalian. Tapi ingat, jangan pandang aku sebagai wanita tapi pandanglah aku sebagai lawan sepadan kalian."

Hanbin tersenyum lirih. Dia sangat merindukan Luhan padahal belum sebulan Luhan dipenjara dan terisolasi dari penjenguk siapapun.

Ruang bawah tanah dibagi atas beberapa ruangan. Bukan berupa bilik-bilik penjara kuno seperti di ruang bawah tanah Mansion Xi. Sehun berada di ruangan cukup luas untuk eksekusi. Luhan biasa menggunakan ruangan ini untuk penghakiman Mafioso yang membelot, ketahuan menjadi tikus, atau yang ingin keluar dari organisasi.

"Perhatikan kami dari ambang pintu, Hanbin. Jangan ikut campur walau sekarat apapun diriku dan..."

Punggung Hanbin merinding kala Sehun menggemeretakkan jari jemarinya.

"...sebanyak apapun kematian terlihat di matamu."

.

.

.

.

.

Luhan menyesap darah yang sedikit mengalir dari sobekan ujung bibirnya. Wanita itu menajamkan pendengarannya. Alisnya naik sebelah saat sipir itu lumayan babak belur karena ulahnya.

"Kami tidak salah memilih anda sebagai pemimpin." Sipir itu menyimpul bibir, "oleh karena itu saya akan menetap untuk menjaga anda. Jangan khawatir, sipir-sipir yang menjaga anda tidak berada dalam kuasa Raja Kris. Sebagian dari mereka justru berasal dari Keluarga Non Inti Oh."

Kenyataan di kalimat terakhir cukup mencengangkan. "Suamiku benar-benar penuh kejutan. Omong-omong..." tatapan mata rusa menyeluruh pada tubuh si sipir. "Kau benar salah satu Mafioso Xi?"

Si sipir hendak membuka mulut namun terhenti karena kedatangan sipir lainnya. Tubuh sipir lain itu agak pendek, sedikit gemuk, dan juga bibirnya sedikit tebal di bawah. Sipir gemuk—kita panggil demikian—memasuki bilik Luhan sambil memainkan sebuah kartu di tangan.

"Hei, kau!" Tepuk sipir gemuk pada bahu si si sipir. "Untuk apa kau ada di dalam bilik tahanan?" Tanya sipir gemuk tersebut.

Si sipir asyik nyengir dan merangkul sipir gemuk sok akrab. Sipir gemuk menepis rangkulannya. Si sipir mengangkat kedua tangan dan dengan tengilnya berkata, "wanita ini menarik. Aku jadi penasaran, bung! Dan apa kau tahu? Dia membuatku marah jadi aku sedikit membullynya."

Sipir gemuk itu menaikturunkan bola matanya untuk melihat postur tubuh si sipir. Berantakan dan babak belurnya tubuh si sipir mengundang tawa tertahan sipir gemuk, "kau benar-benar dibuat babak belur oleh seorang wanita?"

"Kau mau melawan wanita ini?" tantang Luhan.

Kedua sipir memandang Luhan yang asyik bersedekap, dan dagunya terdongak seolah menantangi kedua pria. Sipir gemuk bertubuh pendek itu meringis ngeri.

"No! Harga diriku sebagai pria akan terluka jika aku menyerang wanita lemah."

Kini si sipir dan Luhan menahan tawa. Merasa ditertawakan, sipir gemuk mendengus, "ayo, Lady Luhan!" Sipir gemuk memasang borgol di tangan Luhan. "Anda kedatangan penjenguk."

"Siapa?"

Pintu bilik penjara Luhan terbuka. Sipir gemuk dan si sipir mendampingi Luhan menyusuri lorong menuju ruang jenguk.

"Penjenguk anda bernama David Anderson."

.

.

.

.

.

Pertarungan tangan kosong adalah keahlian utama dalam ilmu bela diri jenis apapun dari etnis manapun.

Sehun sudah punya cukup keahlian untuk memukul beberapa titik vital lawan mainnya. Dia juga memiliki kekuatan cukup untuk membanting satu orang yang juga merobohkan orang-orang lainnya, serta menendang wajah satu orang lagi hingga tubuh orang itu mendorong tubuh-tubuh lainnya. Tak hanya itu, Sehun juga fasih membaca gerak-gerik lawan, termasuk arah serangan mereka.

Menghindari pukulan menuju kepala, menepis pukulan dari bahunya, menendang kaki lainnya yang ingin menendangnya, menyikut perut lawan yang menyerangnya dari belakang. Gerakan pertarungan Sehun persis tarian penuh tenaga. Berhias hempasan rambut lepek oleh keringat maskulinitasnya.

Sehun berada dalam gerombolan mafia Xi. Membela dirinya sendirian. Disaksikan Hanbin.

"Biasanya Lady Luhan melawan para Mafioso yang ingin resign dengan dua pedang. Yakni katana milik Keluarga Bangsawan Aihara dan pedang milik Keluarga Bangsawan Xi. Anda yakin anda membunuh mereka dengan tangan kosong?"

Mata tajam Sehun menganalisa dan mempertimbangkan langkah efisien untuk melumpuhkan puluhan lawannya. Sehun melepas kancing kerah kemejanya. Dia maju beberapa langkah menuju gerombolan dari puluhan Mafioso Xi terlatih.

Sambil tangan mengacak setengah pinggang, Sehun menjawab dengan nada dingin khas seorang Kepala Keluarga Bangsawan Oh,

"Semoga salah satu dari mereka punya senjata untuk kucuri."

Dan benar saja,

Salah satu dari 22 Mafia Xi menyabet pipi kanan Sehun dengan pisau lipat, untung saja goresannya tipis.

Jejak kecurangan lainnya mengikuti.

Mafioso lainnya mulai mengeluarkan senjata mereka masing-masing.

Pertarungan ini tak lagi dengan tangan kosong.

Melainkan Sehun seorang yang melakukannya.

Mafioso semacam ini memang lebih baik dibunuh ketimbang dipertahankan.

Hannie sayangku, anak buahmu memang bar-bar. — Sehun.

Sehun memutar pergelangan tangan salah satu Mafioso, merampok pisau lipat yang digenggam Mafioso tersebut, kemudian Sehun memutar-mutar pisau untuk kemudian menyabet banyak wajah. Tak tanggung-tanggung, Sehun juga mencuri pedang pendek lainnya dari Mafioso lain, menyayat tiap tubuh yang akan menyerangnya, menghindar dan berkilah dari senjata lainnya, bahkan tangan Sehun menarik lengan Mafioso lain dan menjadikan Mafioso itu tameng apabila ada yang menembaki kepalanya.

Sehun berlari sambil tangan kiri menyeret lengan Mafioso yang sudah mati akibat ditembak sesama Mafioso. Mayat itu masih Sehun gunakan untuk tameng dari tembakan lainnya, lalu melempar mayat itu ke si penembak.

Dari ambang pintu ruangan maha luas, Hanbin melempar dua pistolnya pada Sehun.

Dua lengan Sehun menangkapnya.

Kedua tangan Sehun menembaki belasan kepala Mafioso yang tersisa, sambil berkilah dari tembakan lainnya, lengan atas dan pinggangnya terserempet peluru, Sehun tak ambil pusing dan terus menargetkan jantung atau kepala.

Sehun berlari gesit sambil membawa mayat lain sebagai tameng, dan tangan lain menembak. Kakinya menekan kuat tanah, melempar mayat itu dengan gerakan memutar persis lempar lembing, hingga berhasil merobohkan beberapa Mafioso lain.

Penembakan terjadi berulang-ulang.

Koleksi luka Sehun bertambah di tubuhnya.

Tapi tidak melemahkannya. Dia tetap prima membunuh Mafioso yang tersisa.

Sampai akhirnya satu Mafioso menyerang Sehun dengan teriakan frustasinya. Sehun menjegal kakinya dan menempelkan moncong pistol ke kepala belakangnya.

Sehun mendesis,

"Thanks for your provocation..."

DOR...!

Mafioso itu tumbang sambil tengkurap. Asap kecil menutupi lubang di kepala belakangnya.

Mata Sehun cukup jeli untuk mengetahui satu fakta,

"Provokasimu melayangkan puluhan nyawa, dude. Termasuk...

...nyawamu sendiri."

Beberapa titik di tubuh Sehun dipenuhi luka lebam, sabetan pedang, dan serempetan peluru. Belum lagi cipratan darahnya dan darah korbannya mengotori tubuh dan wajahnya. Kemeja biru langitnya basah oleh keringat, membentuk tubuh proporsional Sehun secara ketat. Rambut hitamnya jatuh menghiasi sisi ketampanannya. Bibir yang sering tersungging senyum lembut sedikit sobek.

Visual Oh Sehun terlalu eksklusif untuk diacuhkan.

Bahkan oleh sesama pria, Hanbin.

"Obati lukaku lalu bersihkan tubuhku, Hanbin."

"Baik, Tuan Besar Oh." Hanbin berjalan cepat mendekati suami majikannya. "Apakah anda tetap menjemput Triple Twin?"

Semenjak Luhan dibawa polisi, Shixun bertekad menjadi pintar melebihi dua kakaknya untuk menghancurkan pihak istana Korea Selatan kala dewasa nanti. Karena itulah Shixun mengikuti jejak kedua kakaknya dengan bersekolah.

"Berapa jam lagi aku menjemput mereka?" Sorot mata Sehun terlalu dingin saat melempar pistolnya ke belakang.

"Dua jam lagi."

"Itu cukup untuk pemulihan tubuhku."

Sehun mengusap pelipisnya. Alis kanannya terangkat acuh saat melihat darah ada di punggung tangannya. "Seperti inikah yang dilalui Luhan sebelum kami menikah?"

"Benar, Tuan Muda."

Smirk seksi Oh Sehun muncul.

"Istriku benar-benar penuh kejutan."

Hanbin merangkul Sehun. Membantunya melangkah melewati puluhan mayat yang Sehun habisi...

...sendirian.

"Hanbin."

"Ya?"

"Terserah mau kau apakan mayat-mayat ini. Yang jelas, jangan jual tubuh mereka untuk donor. Tubuh mereka tidak layak. Sejauh penciumanku tadi, mereka pengguna obat dan peminum alkohol."

"Sial!" Umpat Hanbin. "Mereka melanggar aturan Mafia Xi. Pemilik pabrik rokok saja tidak sudi mencicipi produknya."

Sehun sedikit tersenyum,

"Setidaknya kematian mereka tidak sia-sia."

.

.

.

.

.

David Anderson.

Mantan suami Luhan.

Sekaligus ayah kandung Guanlin yang adalah anak tertua Luhan.

Pria itu berada tepat di seberang Luhan. Posisi keduanya dihalangi kaca dengan lubang-lubang kecil agar suara bisa didengar lawan bicara.

Tepatnya, posisi Luhan berada dalam kotak tahanan sedangkan David sebagai penjenguk ada di luar, duduk di kursi dan diawasi sepasang mata si sipir.

Kedua orang tua Guanlin tersebut saling bicara. Sedikit basa-basi hingga merembet pada kondisi Guanlin dan Triple Twin.

Keempat anak Luhan sama-sama menanyakan kondisi ibu mereka.

Luhan hanyalah seorang ibu. Sejahat apapun dirinya, sakit hatinya akan terus menusuk begitu mendengar keempat anaknya mengkhawatirkannya.

Luhan mengangkat tangan, dia berkata, "berhenti bicara mengenai mereka, Dave. Semakin aku merindukan mereka, rahimku semakin perih, dadaku semakin nyeri, dan detakan jantungku rasanya ingin berhenti."

"Sesakit itukah?"

"Kau bukan wanita, jadi kau tidak tahu rasanya." Luhan tertawa sinis. "Aku tahu aku ibu yang gagal, juga pengecut karena lemah terhadap keluhan mereka, tapi demi hatiku! Aku tidak bisa terus mendengar kerinduan mereka padaku sedangkan aku terisolasi. Semakin memikirkan mereka, semakin ingin aku keluar dari sini. Sayangnya, aku tidak bisa bertemu mereka walau aku berusaha."

"Kau menyerah?" Skeptis David. Dia tak menyangka mental Xi Luhan bisa dihancurkan. "Kau tidak akan bisa sepesimis ini jika tahu Oh Sehun, suamimu, berubah layaknya monster bagi bawahanmu. Dia merombak semua yang selama ini kau bangun hanya untuk membersihkan daerah kekuasaanmu dari tikus-tikus. Dari mulai XiLu Corporation, XiLu Foundation, Lu Entertainment, aset Keluarga Bangsawan Xi lainnya, hingga bisnis gelapmu sekalipun!"

Luhan hanya menunduk.

Tatapan matanya kosong.

"Banyak orang yang bergantung pada kekuasaanmu, Lu." David menggelengkan kepala. "Tidak usah muluk-muluk, anak-anak? Mereka tidak ingin ibu mereka menyerah, disaat mereka optimis kalau ibu mereka sanggup mengalahkan para polisi yang menculik ibu mereka."

"Dave... Kau tidak tahu bagaimana rasanya Kris Anderson memperkosaku. Dua waktu, Dave! dua waktu dia melakukannya padaku!"

Luhan tidak menangis ketika menjelaskan kesakitannya. Sebaliknya, dia tenang sekali saat membicarakan penyebab luka hatinya sebagai wanita.

"Diwaktu lalu, Kris Anderson memperkosaku berulang-ulang bahkan bersamamu. Dan diwaktu kini, dia melakukannya bersama Chanwoo. Kau pikir mentalku sebagai wanita tidak lelah? Aku memang seorang jalang, tapi jalang ini sudah bersuami saat dia melakukan pemerkosaan itu! Itulah yang menghancurkan mentalku, Dave... Kris membuatku begitu kotor untuk suamiku! Coba kau jawab, istri mana yang percaya diri jika dia sekotor itu untuk disayangi suaminya?!"

Tenggorokan David tercekat.

Rasa bersalahnya semakin menumpuk.

Luhan menghela nafas. Dia tak mau lagi membahas topik mengenai mentalnya.

"Selama pemerkosaan yang dilakukan kembaranmu dan pria koleksi keduaku, aku merasakan semacam halusinasi. Atau mimpi? Entahlah... Aku ingin mengkonfirmasinya padamu, Dave."

Bibir David sedikit membuka, lalu menutup ragu.

"Di halusinasiku," lanjut Luhan, "aku melihat seorang gadis kecil mengaku sebagai Lulu dan bocah kecil bernama Hunhun. Siapa mereka?"

David tersenyum lirih. Dari sorot matanya, dia tahu dua nama lucu itu.

"Mereka adalah Xi Luhan versi sebelas tahun dan Oh Sehun versi tujuh tahun."

"Sudah kuduga." Luhan terkekeh sinis. Matanya tiba-tiba memanas. "Yah... Sudah kuduga."

"Aku bersyukur. Tidak, bukan pada tragedi yang menimpa kalian berdua, tapi pada takdir yang berjalan mengerubungi kalian."

"Apa maksudmu?"

"Lulu dan Hunhun bertemu setelah Lulu menembaki kepala Kang Seulgi. Seulgi adalah anggota terakhir Keluarga Kang yang dulu pernah berurusan dengan Keluarga Xi. Seulgi seorang pedofilia. Dia mengincar Sehun sejak Sehun berusia empat tahun." [Kalau lupa, baca part awal di chapter Two]

Mata Luhan melebar syok.

"Singkat cerita, Lulu dan Hunhun dekat tanpa tahu nama asli mereka masing-masing. Mereka berpisah atas kerja sama Kris Anderson, Alexander Willis, Namjoon, dan aku."

"Kau—apa?"

"Kedengarannya miris, kan? Tambahan, Kami berempat juga bekerja sama dengan Oh Siwon."

Luhan meredupkan amarahnya. Tatapannya masih menajam pada mantan suaminya.

"Oh Siwon ingin anak angkatnya melupakan Lulu. Maka... Hunhun dicuci otaknya hingga lupa mengenai Lulu. Lupa... Mengenai dirimu, Lulu-noona."

Panggilan itu terasa indah di telinga Luhan. Jika saja yang mengucapkannya adalah orang pantas.

Orang itu hanyalah satu di dunia. Suami sah Xi Luhan.

Oh Sehun.

"Dan, kaupun dicuci otak hingga lupa tentang Hunhun." Lanjut David.

Luhan masih bisa menduga skenario itu semenjak Luhan ingat mengenai 'Lulu' dan 'Hunhun'.

"Takdir benar-benar keren. Nyaris dua puluh tahun Lulu dan Hunhun dipisahkan, pada akhirnya mereka bertemu kembali dengan identitas mereka yang sebenarnya..."

David akui, dia terkagum jika semakin menelisik kisah cinta mantan istrinya.

"...Identitas sebagai Luhan sang CEO, dan Sehun sang Psikolog Klinis."

"Kami berdua bertemu di Panti Asuhan milik Sehun," Luhan tersenyum menerawangi masa pada tiga tahun lalu. "Waktu itu aku ingin mengadakan acara amal untuk pembukaan anak perusahaan XiLu Corporation yang baru. Sayang, Sehun menolak pantinya dijadikan alat pengambil simpatisme masyarakat."

"Kebetulan yang ajaib." Yakin David. "Memangnya, siapa yang merekomendasikan panti itu untuk dijadikan tempat acara amal?"

Senyum lirih Luhan padam.

Air mukanya mendadak curiga.

"Jongin. Kim Jongin."

.

.

.

.

.

Sehun mengabaikan luka-luka di tubuhnya. Baginya, saat ini kondisinya lebih baik dari beberapa hari lalu.

Sekarang hari Sabtu. Tak sedikit instansi masih menjadikan hari ini sebagai hari kerja. Karena itulah Sehun bersiap mendatangi satu instansi swasta yang secara tidak langsung membuka peluang untuk 'menyerang' Kris.

Baru satu langkah Sehun keluar dari Mansion Xi, Sehan menegurnya.

"Good morning, appa. Bisa kita bicara berdua?"

Sehun menunduk pada kopiannya versi mungil. Pria itu mengangguk. Mengikuti langkah anak sulungnya hingga sampai ke ruang kesenian Triple Twin. Ruangan ini biasa Triple Twin gunakan untuk menjalani hobi mereka entah bermusik, melukis, atau menari.

Sehan menuntun ayahnya duduk berdampingan di depan piano. Melihat piano besar ini, Sehun teringat Luhan.

Disaat kedua adiknya—Shika dan Shixun—sibuk belajar pada Chanyeol, Sehan justru bicara berdua dengan sang appa. Mumpung libur, Sehan ingin tahu tindakan ayahnya mengenai ibunya. Sehan tidak bisa terus menerus diam.

Shixun yang biasanya memberontak tidak berani mengusik ayahnya. Shixun terlalu peka untuk tahu Sehun dalam mode 'sulit disentuh'. Seolah aura Sehun cukup untuk menakuti anak kecil abnormal macam Shixun.

Hanya Oh Sehan saja yang mampu menghadapi ayah 'jahat'nya kali ini.

"Mengapa kami tidak bisa menjenguk eomma, appa? Kami rindu eomma..."

"Anak kecil tidak diperkenankan memasuki penjara."

Hanya itu jawaban ayahnya.

Sehan sedikit menunduk. Merasakan tangan besar ayahnya menggusak kepala belakangnya.

"Begitukah?" Respon Sehan. Ayahnya mengangguk. "Lalu bagaimana cara kami menghibur eomma kami? Kami khawatir. Eomma mungkin kurang nyaman tidur tanpa kami. Eomma mungkin tidak betah tinggal di penjara."

Sehun tersenyum kecil, "nak... Percayalah, di sana, eomma mendapat perlindungan dari anggota Keluarga Oh lainnya. Beberapa kerabat kita adalah polisi. Eomma tidak sendirian di sana."

Sehan hanyalah bocah tiga tahun yang dipaksa memahami kondisi orang tuanya. Bahkan dalam kandungan pun, dia dan dua adiknya sering diambang keguguran. Sehun memeluk anak sulungnya.

"Terima kasih..."

"Untuk?" Sehan melirik ayahnya. Tangan kecilnya balas memeluk pinggang ayahnya.

"Selalu ada untuk orang tua buruk seperti kami."

"Kalian bukan orang tua yang buruk. Kalian lebih daripada itu. Hm... Aku tidak terlalu memahami masa lalu kalian tapi... Kata Chanyeol-saem, perjuangan kalian untuk melahirkan kami cukup sulit. Eomma bahkan sering celaka sewaktu hamil kami."

"Aku ayah yang buruk sejak kalian masih janin mungil sampai saat ini."

"Tidak, appa. Appa luar biasa... Appa juga mau-mau saja dijadikan musuh oleh Shixun agar dia lebih bersemangat belajar. Lihat saja di ruang belajar. Tekadnya hanya satu, 'aku harus pintar, melebihi Hyungie, agar aku bisa membunuh appa suatu saat nanti.' kadang aku bingung, Shixun sedikit...ehm? Tidak waras? Dia perlu dibawa ke dokter anak, Sehan rasa sih..."

Sehun termenung.

Di usia ketiga tahun, Shixun bahkan sudah punya pikiran ekstrim seperti itu.

Ketiga anaknya tumbuh terlalu cepat secara psikis. Yang bisa Sehun lakukan hanya membimbing mereka ke arah yang baik, bukan menahan pemikiran dewasa mereka.

"Kami akan terus mendukung appa... Apapun keputusan appa." Sehan meraih tangan ayahnya untuk dicium sayang. "Tidak perlu membuat kami mengerti. Appa hanya harus melakukan dua hal. Appa bisa menjaga eomma dan terus membuat beliau bahagia. Karena beliau adalah jantung hati kami. Kebahagiaan beliau adalah kebahagiaan kami, sedihnya eomma adalah sedih kami."

"Romantis sekali..."

Sehan asyik nyengir. Menyalurkan kebahagiaan murni pada pria dewasa yaitu ayahnya sendiri.

"Janji ya, appa?"

Sehan mengacungkan kelingking mungilnya.

Sehun mengaitkan kelingkingnya dikelingking anaknya.

"Appa berjanji pada Triple Twin."

.

.

.

.

.

Hyoyeon adalah pihak Byun Hospital yang pertama kali Sehun temui saat istrinya dipenjara.

"Kemana Anda setelah tiga tahun ini? sejak kelahiran Triple Twin, anda tidak lagi mengurusi Mafia Xi khususnya barang-barang itu."

Pertanyaan Hyoyeon dijawab setelah Sehun memasuki mobilnya. Kini Hyoyeon membawa Sehun dari Byun Hospital cabang Gwangjin-gu ke Byun Biological Center.

"Aku tidak kemanapun. Hanya saja... selama tiga tahun lalu, ada berbagai macam permasalahan yang harus kuselesaikan sebelum mengurusi seorang Kris Anderson." Respon Sehun.

"Seperti memperbaiki nama Keluarga Bangsawan Xi, membedah para bawahanku, serta memperbaiki perpecahan internal di dalam Keluarga Bangsawan Oh," lanjut Sehun. "Semua itu tak bisa dilakukan sebulan dua bulan, tapi butuh sesingkat-singkatnya tiga tahun. Kau tahu? Yang kuhadapi dan kuatur adalah manusia, makhluk yang punya pikiran dan perasaan. Faktanya, dua hal itu hanya bisa dikendalikan Tuhan."

Hyoyeon memutar kemudi ketika jalanan di depannya tengah ada semacam festival. Dokter itu memilih jalan lain.

"Apakah anda melakukan hal semacam... Perbaikan diri?"

"Ya."

"Untuk apa? Pengaruh anda cukup besar untuk melawan Raja Kris. Sepertinya anda perlu saya ingatkan kalau andalah Pangeran Mahkota yang selama ini disembunyikan istana, bukan Kris Anderson itu."

Sehun menaruh punggung tangannya di atas kening.

"Jika aku berhasil memperbaiki kerusakan dari dalam diri, maka pertahanan internal lebih dari cukup untuk menyerang pihak eksternal. Ini dinamakan strategi. Dan aku yakin, pihak Kerajaan Korea Selatan juga berpikiran sama denganku. Mereka tidak akan gegabah menangkap Luhan tanpa bukti kuat dan saksi."

Setelah sampai ke sebuah gedung perusahaan bioteknologi milik Keluarga Bangsawan Byun, Sehun menambahkan,

"Satu lagi Uisa-nim, untuk melawan simbol kerajaan, identitas asliku tidaklah cukup sebagai senjata."

Hyoyeon tersenyum.

"Maka dari itu anda mencari senjata lain."

.

.

.

.

.

Byun Biological Center atau BBC.

Adalah instansi yang Sehun datangi hari ini.

Perusahaan bioteknologi itu berada dibawah kepemilikan Keluarga Bangsawan Byun. Gedung operasinya sangat besar, serba putih, dan saat memasuki area dalamnya, kebersihan selalu diutamakan. Suhu ruangannya juga lumayan dingin. Serupa suhu pabrik pemotongan daging.

Setelah melewati sterilisasi dari virus dan kuman, serta memakai set pakaian lengkap seperti masker, penutup rambut, sarung tangan, dan pakaian seperti jas hujan transparan, Sehun memasuki inti ruangan BBC.

Ada berbagai macam aktivitas di sini. Seperti pembedahan, pemeriksaan, dan masih banyak lagi. Sehun tidak terlalu mengerti tentang kedokteran. Jadi fokusnya lebih kepada punggung Hyoyeon.

Hyoyeon menuntun Sehun pada rak-rak silver para mayat. Ada berbagai macam nomer dan huruf di tiap penutup rak. Hyoyeon menarik salah satu penutup rak. Hingga terpampanglah salah satu mayat beku.

Mayat itu sengaja diawetkan. Meninggalkan kondisi awal beberapa menit setelah waktu dibeli pihak Hanbin. Termasuk mempertahankan luka-luka kecil, kotoran, dan lainnya. Hyoyeon tak mau kehilangan jejak apapun. Selayaknya polisi, Hyoyeon seakan tak ingin kehilangan sidik jari atau DNA pelaku pembunuhan dalam tubuh si korban.

"Tiga tahun lalu anda menyuruh saya mengarsipkan secara khusus, belasan 'barang-barang' yang kehilangan rahim mereka. Ini dia salah satu arsipnya."

Hyoyeon menunjuk mayat gadis cantik di rak yang tadi ditariknya. Sehun memandang mayat itu datar.

"Tangan anda sudah diselimuti sarung tangan steril, kan? Anda bisa menyentuh mayat ini tapi berhati-hatilah." Hyoyeon mencegat lengan salah satu pegawai BBC. "Kau. Ambilkan map besar, hitam, dari rak ruanganku yang bertuliskan 'OSH-15 Mapo-gu'."

"Ne, Sunbae." Jawab pegawai tersebut lalu berbalik arah menuju ruang kerja Hyoyeon.

"Sunbae?" Selidik Sehun.

"Dia masih pegawai baru di sini. Sudah satu tahun bekerja, tapi masih susah menghilangkan kebiasaannya memanggilku 'sunbae'."

"Oh..."

Sehun mengecek lubang di daerah perut bawah. Mayat gadis ini benar-benar kehilangan rahimnya.

"Pembedahannya cukup rapi, tapi bukan standar kedokteran." Ucap Hyoyeon ketika Sehun menutup perut bawah si mayat. "Seolah yang melakukannya bukan ahli bedah namun terbiasa melakukan hal ini."

Sehun terdiam. Tangannya kini beralih pada kelopak mata si mayat. Kelopak mata kanannya dibuka perlahan, memperlihatkan sorot kosong mata hazel si mayat. Sehun juga menyentuh sedikit rambut si mayat. Warna rambutnya coklat gelap.

"Bagaimana dengan aroma tubuh mayat gadis ini?"

"Tentu saja busuk. Tapi proses pengawetan menghilangkan nyaris 90% aroma busuk tersebut." Hyoyeon termenung sejenak. "Hanbin bilang padaku, belasan gadis dibunuh sekitar beberapa jam sebelum mayat mereka dijual pada Hanbin. Beberapa jam. Dan kata Hanbin, aroma tubuh mereka sedikit dikenalinya. Tapi dia lupa aromanya apa. Tidak aneh kalau belasan gadis memiliki aroma sama, karena pemasok belasan gadis dari pihak yang sama."

"Apakah aroma mawar adalah aroma yang Hanbin maksud?"

Hyoyeon tercengang, "saya tidak menyebut nama aromanya, Tuan Besar Oh. Bagaimana bisa anda tepat menebaknya?"

"Sunbae, ini map yang anda minta."

Teguran pegawai junior meralat ucapan Hyoyeon. Wanita pirang itu memeluk mapnya lalu berucap terima kasih. Sedetik pegawai itu pergi, Hyoyeon kembali tertuju pada Sehun yang menggumam,

"Ternyata benar begitu..."

"Apanya yang 'benar'?"

"Boleh aku membaca isi map itu?"

Hyoyeon mengangguk, "ini arsip tertulis yang anda minta tiga tahun lalu mengenai belasan mayat dari Mapo-gu. Anda tinggal membacanya dan tanyakan bila ada yang tidak anda mengerti."

Sehun mengangguk.

Guliran mata hitamnya begitu cepat meraup tiap tulisan. Sampai halaman terakhir, Sehun menyimpulkan.

"Hanbin membeli mayat-mayat ini dari salah satu dayang istana. Kebanyakan mayat ini beridentitas warga sipil dari Mapo-gu, distrik kekuasaan Luhan. Identitas mereka sama dengan para gadis yang diculik di Mapo-gu. Usia mayat ini sekitar tiga puluhan tapi rupa mereka masih bisa disebut 'gadis'. Aroma tubuh mereka mawar. Mata mereka sebagian besar coklat terang dan beberapa hazel. Rambut mereka dicat coklat gelap. Tinggi mereka sekitar 160 sampai 170-an senti."

Saat Sehun menyimpulkan isi map itu dalam sekali baca, Hyoyeon takjub.

Tapi lebih takjub lagi pada satu vonis dari Sehun.

"Ciri-ciri mereka mirip Luhan."

Hyoyeon tercengang.

"Wajah mereka tidak mirip—"

"Bukan wajah, Uisa-nim," Sehun mencegat bantahan Hyoyeon. "Tapi ciri fisik. Sebagai suami sah Luhan, aku juga hafal aroma tubuh istriku. Tidakkah ini kebetulan yang ekstrim?"

Hyoyeon menelan ludah hanya karena Sehun mengepalkan tangan kuat-kuat. Tersirat murka besar di sana.

"Usia saat mereka dibunuh juga sama dengan Lady Luhan." Hyoyeon memelintir sejumput ujung rambutnya bila gelisah. "Karena mayat-mayat ini memiliki rupa yang mirip dengan korban hilang di Mapo-gu—salah satu daerah kekuasaan mafia Xi—pihak kami cukup mudah untuk mengetahui identitas mayat ini."

"Kau benar. Terima kasih sudah membantuku banyak, Uisa-nim."

"Ini demi Lady Luhan," Hyoyeon tersenyum lirih saat mengucapkannya. "Apakah anda tertarik dengan belasan mayat gadis ini karena kemiripan fisik mereka?"

Sehun mengangguk. Kedataran ekspresi kembali menaunginya.

"Lebih tepatnya, karena mereka berhubungan dengan Kris Anderson."

"Apa? Tunggu dulu! Saya tahu mereka berasal dari istana," bantah Hyoyeon. "tapi Hanbin bisa menjamin mayat-mayat itu tidak berhubungan dengan Kris Anderson. Karena Kris Anderson baru menghuni istana belum dua tahun, dan kasus penculikan gadis-gadis di Mapo-gu terjadi tiga belas tahun lalu."

"Itu dia... Sepertinya aku perlu mendatangi Mapo-gu."

"Tunggu, Tuan Besar Oh! Dari mana anda bisa menyimpulkan ini karena Kris Anderson? Saya benar-benar penasaran."

Sehun mengecek jam tangannya. Dia menjawab lirih.

"Selama aku mengenal Luhan, aku tahu dia punya pemikiran yang cukup... Bahkan lebih dari cukup... Untuk dikatakan, 'irasional'. Kebiasaannya membantai satu keluarga besar, dengan menyuruh pengawalnya memperkosa salah satu 'ibu' dari keluarga tersebut, tidakkah mengingatkan kita pada masa lalu Luhan?"

"Saat usia Lady Luhan sembilan tahun," Hyoyeon menanggapi pancingan Sehun. "Beliau dipaksa ayahnya untuk melihat adegan pemerkosaan yang dialami ibunya sendiri. Ibunya, Aihara Yukki, diperkosa oleh pengawal-pengawal Xi pada saat itu."

"Benar!" Sehun nyaris memukul rak mayat. Hyoyeon memutuskan mendorong rak mayat dan rak itupun tertutup.

"Masa kanak-kanak adalah masa ideal untuk membentuk kepribadian si anak," jelas Sehun. "namun, itu bukan jaminan kalau kepribadian anak akan permanen sampai masa remaja hingga masa dewasa. Kepribadian seseorang bisa berubah juga karena lingkungan tempatnya beraktivitas sangat berpengaruh." Psikolog Klinis bernama Oh Sehun kembali memberikan sedikit analisanya. "Saat kanak-kanak, Luhan cenderung mengikuti kebiasaan buruk ayahnya. Salah satunya menyuruh pengawalnya memperkosa seorang 'ibu'." Sehun menekan jemarinya pada salah satu foto mayat dalam salah satu halaman di map.

Sehun meneruskan, "Makna lainnya, Luhan mengikuti kebiasaan orang terdekatnya. Secara naluriah, sadar atau tanpa sadar, dia menjadi 'latah'. Kelatahan itu membawanya pada satu kebiasaan unik, dan terus dilakukan hingga saat ini. Semisal, sahabat sepermainanmu sering mengucap umpatan 'sial', maka secara naluriah atau tanpa sadar kau akan sering mengumpat 'sial'. Dan itu tergantung frekuensi hubunganmu dengan sahabatmu, atau sejauh apa kau mampu menahan diri dengan tidak menjadi latah."

"Lalu, kita coba telaah mengenai kebiasaan Luhan menyebut gadis atau pria yang dipungutnya sebagai... 'Pria dan Gadis Koleksi'nya. Jika Luhan mau, mereka bisa diangkat sebagai saudara, atau dianggap pelayan, bawahan, anak buah, dan semacamnya. Jadi pertanyaannya, 'mengapa harus Pria dan Gadis Koleksi'? Apa karena belasan pria dan gadis itu juga dijadikan partner seks? atau apa?"

Hyoyeon memahami arah pembicaraan Sehun.

Ketakjuban Hyoyeon pada Sehun semakin berlipat hanya karena Sehun berlagak dosen.

Tunggu, dia memang Dosen Psikologi sampai saat ini.

"Penyebutan Pria dan Gadis Koleksi ini juga kebiasaan aneh Luhan. Kebiasaan ini ada sejak Luhan merekrut Daniel dan Krystal. Daniel bilang, jika dihitung dari tahun ini, mereka berdua mengenal Luhan sudah tiga belas tahun lamanya. Artinya, Luhan merekrut mereka ketika Luhan berusia dua puluh tahun. Well, Luhan bercerai dengan David Anderson saat usia Guanlin empat tahunan dan usia Luhan dua puluh tahun."

[catatan : Tahun ini usia Luhan 33 tahun, usia Sehun 29 tahun, dan usia Triple Twin 3 tahun]

Suhu dingin BBC semakin dingin hanya karena sorot mata dan nada bicara Sehun. Hyoyeon menggigil.

"Kau tahu kan perceraian Luhan dan David karena apa?"

Suara ludah tertelan dari Hyoyeon cukup dramatis.

"Ka-karena Kris Anderson?"

"Benar," desis Sehun. "Bisa disimpulkan, kebiasaan Luhan menyebut pria dan gadis koleksi adalah kebiasaan Kris Anderson, pria yang sudah mengenal Luhan sejak Luhan sangat kecil. Kris pasti punya banyak gadis koleksi saat ini. Gadis yang mungkin dipanggilnya 'Luhan'."

[Catatan : untuk cek keakuratan analisa Sehun, silahkan cek Chapter Seven dan Eleven.]

Tiba-tiba Sehun teringat saat Minseok memberinya sebuah foto Luhan versi empat tahun, tersenyum lebar bersama kelima pria. Lima pria itu adalah Xi Luxian (ayah Luhan), Kim Namjoon (mantan Pria kepercayaan Luhan), Alexander Willis (Guru Pribadi Luhan), David Anderson (mantan suami Luhan), dan...

...Kris Anderson (pria sinting yang terobsesi pada Luhan).

Lima pria itu menuntun Luhan menjadi wanita paling kelam sepanjang sejarah di dunia kebangsawanan.

"Dari analisa semacam itu, aku tahu Kris Anderson ada hubungannya dengan mayat-mayat ini. Ciri fisik milik Luhan. Mengenai gadis koleksi. Obsesi Kris pada Luhan. Semuanya cocok. Meski begitu, semuanya diperkuat dengan informasi kalau kalian menerima stok 'barang' gadis-gadis ini dari salah satu dayang istana."

"Kesimpulan lagi, kemungkinan besar Kris Anderson menyebabkan gadis-gadis ini menghilang dari keluarganya, serta membunuh mereka. Mengenai hilangnya rahim, biar kutebak... Kris tidak mau membuahi rahim yang bukan milik Luhan asli?" Sehun mengendikkan bahu, "entahlah."

Tuan Besar Oh sepertinya reinkarnasi dari cenayang! Batin Hyoyeon. Dia terkesiap saat memikirkan satu hal.

"Selama ini anda mengobservasi istri anda sendiri, Tuan Besar Oh? Mengobservasi beliau hanya untuk ini?"

Sehun tersenyum lembut,

"seperti itulah Psikolog bekerja."

.

.

.

.

.

Si sipir mengucapkan beberapa kalimat pada Luhan.

"Sudah seminggu saya menemani anda di sini. Saya senang karena tahu, Tuan Besar Oh benar-benar melindungi anda. Sipir-sipir yang menjaga bilik penjara anda adalah anggota Keluarga Non Inti Oh. Mereka memang mengisolasi anda, namun tidak mencelakai anda. Setidaknya mental anda tidak diperparah dengan teror dari suruhan Kris."

Luhan bersandar pada pintu bilik. Dia melirik si sipir yang duduk santai di sampingnya.

"Aku benar-benar penasaran, siapa kau ini?"

Si sipir terkekeh pelan, "saya Rowoon, My Lady."

"Apa?" Nyaris Luhan teriak heboh. Dia membekap mulutnya sendiri.

Si sipir menahan senyum, "sudah lama kita tidak sedekat ini. Saya rindu ranjang anda."

Luhan mendengus.

Si sipir melirik jam tangannya. "Saya harus pergi, My Lady. Seseorang memerintahkan saya datang ke Mapo-gu."

"Siapa yang berani memerintahmu?"

"Anda dan Tuan Besar Oh."

Ketika nama Sehun disebut, hati Luhan menghangat. "Sehun? Dia baik-baik saja... Kan?"

"Anda selalu menanyakan hal sama tiap menitnya." ucap jengah Rowoon.

"Rowoon."

"Ya, My Lady?"

"Siapa yang menyuruhmu kemari bahkan membantumu menyamar? Aku benar-benar tidak bisa mengenali wajahmu."

"Nona Muda Byun Baekhyun."

Muka Luhan memucat.

"Hah?"

"Anda tidak salah dengar, My Lady...

...Nona Muda Byun yang membantu saya agar bisa kemari, sekaligus membantu saya menyamar."

.

.

.

.

.

Mapo-gu.

Truk es krim.

Belasan mayat.

Dan, Rowoon selaku Ketua Mapo-gu Team dalam tim-tim kecil mafia Xi.

Tiga tahun lalu, Sehun dan Baekhyun mendatangi distrik ini untuk bertemu Rowoon—salah seorang Mafioso Xi dan Pria Koleksi Luhan yang kelima.

Sehun mengingat-ingat kembali saat di mana dirinya berada di distrik ini. Termasuk seorang nenek yang pernah menghampiri Baekhyun hanya untuk mengatakan,

"Nak... Kembalilah ke rumah, jangan berkeliaran. Apalagi di siang bolong dan malam hari. Pulang ke rumahmu, nak... Pulang..."

"Halmeoni rumahnya di mana?"

"Sebaiknya kau pulang, nak... Gadis secantik dirimu tidak boleh ada di sini." [Chap Eleven]

Kecurigaan Sehun pada nenek itu semakin bertambah. Untunglah dia masih mengingat muka nenek itu. Padahal sudah tiga tahun Sehun tidak bertemu nenek tersebut.

Karena Rowoon cukup lama tinggal di distrik ini, sekitar sepuluh tahun jika dihitung dari tahun ini, Sehun bisa menanyakannya segala hal. Termasuk mengenai nenek yang tiga tahun lalu melarang Baekhyun ke distrik ini seolah distrik ini terlalu berbahaya didatangi Baekhyun.

"Aku kenal nenek yang anda maksud." Jawab Rowoon setelah Sehun menjelaskan secara detail ciri-ciri nenek itu. "Beliau sering dipanggil Heera-halmeoni. Beliau salah satu warga sipil yang tinggal lama di distrik ini."

"Bisa kau antar aku kepada beliau?"

"Bisa," angguk Rowoon. "Saya rasa, beliau masih berkutat pada tamannya."

"Nenek itu suka bercocok tanam? Bagaimana kesehariannya?"

Rowoon dan Sehun berjalan kaki menuju rumah si nenek.

"Kurang tepat disebut demikian. Saya rasa, beliau lebih suka merawat tanaman bunga seperti mawar, lavender, krisan, dan lainnya. Biasanya beliau jalan-jalan di siang hari mengelilingi Distrik Mapo. Takut-takut ada berita kehilangan lagi."

"Distrik ini sering ada kasus kehilangan? Kehilangan apa yang dimaksud, barang kah? Atau orang kah?"

"Belasan tahun lalu, ada kasus penculikan gadis-gadis di distrik Mapo dan sekitarnya. Mereka hilang tanpa jejak dan tanpa kejelasan, sampai saat ini. Kami sebagai anak buah Xi yang mengawasi tanah kekuasaan Lady Luhan tidak begitu mengurusi hal ini."

Pembicaraan terhenti karena Rowoon mengatakan, topik tentang gadis-gadis sebaiknya tidak dibicarakan di ruang terbuka. Sehun mengamati sekitarnya. Daerah perumahan di salah satu distrik Mapo ini tergolong hening, hanya ada beberapa orang yang beraktivitas di luar rumah. Itupun hanya berlalu lalang untuk pergi ke pasar tradisional di dekat kompleks sebelah.

Sampailah Sehun dan Rowoon di depan rumah sederhana bertema hijau. Pagar rumahnya hanya setinggi dada Sehun. Taman-taman minimalis menghiasi halaman depan rumah. Sehun bisa merasakan kesejukan dalam rumah ini.

Rowoon menekan bel rumah. Dalam tekanan ketiga, barulah teguran dari si nenek menyambutnya.

"Anak-anak jaman sekarang! Kenapa suka sekali menekan-nekan bel?!"

Rowoon dan Sehun saling melirik. Keduanya menahan senyum. Apa si nenek menganggap dua pria berperawakan panas itu adalah anak-anak ingusan? Yang benar saja.

Nenek itu akhirnya menampakkan diri. Dia berjalan agak membungkuk ke arah pagar sambil mengomel, "lihat saja kalian ya! Nenek pukul kalian dengan— eh? Nugu?"

Sehun lebih dulu tersenyum lembut, untuk menarik perhatian lawan bicaranya agar nyaman mengeluarkan segala sesuatu yang ingin Sehun korek.

"Nama saya Oh Sehun, dan di samping saya adalah teman saya... Rowoon."

Keduanya membungkuk demi norma kesopanan. Si nenek hanya mengangguk. Dia menurunkan rotan yang akan dilayangkan pada anak-anak nakal pengganggu nenek-nenek renta.

"Ada perlu apa ke mari?"

"Saya ingin tahu, apakah anda ingat pernah bertemu dengan gadis ini?"

Sehun membuka aplikasi ponselnya, lalu menunjuk foto Baekhyun waktu usianya masih tujuh belas tahun. Tepatnya foto itu diambil tiga tahun lalu saat Baekhyun liburan dengan Chanyeol di China. Chanyeol sendiri yang memotret Baekhyun lewat ponselnya. Sehun mendapatkan foto tersebut lewat via Line.

Di tampilan foto itu, Baekhyun berdiri anggun membelakangi matahari yang terbenam, dengan latar bayang-bayang gedung perkotaan di belakangnya.

Nenek itu memperhatikan lamat foto Baekhyun, "nenek tidak ingat."

"Nenek pernah melarangnya datang kemari. Nenek pernah mengusirnya agar tidak lagi datang ke distrik ini. Apa nenek tidak ingat?"

Si nenek berdeham. Matanya cemas melirik kanan kiri. Si nenek membuka pagar. "Mari masuk. Aku akan menyuguhkan kalian teh hangat. Omong-omong, panggil saja aku Heera-halmeoni. Semua orang yang tinggal di sini memanggilku begitu."

Heera memimpin kedua pria dewasa menuju rumah kecilnya. Jalannya agak membungkuk. Tapi masih bugar dalam melangkah. Di antara nenek era modern lainnya, Heera masih menggunakan hanbok tradisional. Sehun tebak, Heera hanya memakainya saat melakukan aktivitas di rumah.

Sehun dan Rowoon dipersilahkan duduk di sofa merah maroon ruang tamu. Sehun bisa merasakan aura kehangatan di rumah kecil ini. Terpampang banyak foto mengenai keluarga, dari mulai foto hitam putih yang menguning, sampai foto bayi-bayi lucu yang telanjang.

"Ini teh untuk kalian. Nikmatilah. Perlu gula batu?"

"Tidak perlu," jawab Rowoon sungkan.

Sehun mendiamkan suguhan Heera. Dia lebih memilih mengorek informasi tanpa basa-basi.

"Mengenai gadis ini..." Sehun masih menunjukkan foto perawakan Baekhyun yang memang sedikit mirip Luhan, hanya beda tinggi badan saja.

"Gadis ini sangat cantik. Matanya coklat terang. Kulitnya putih. Dan rambutnya coklat lurus. Apa kau kehilangan gadis ini di distrik ini, nak?" Tanya Heera hati-hati.

Sehun menggelengkan kepala, "syukurlah tidak demikian. Tapi ada salah satu kenalan saya yang mengenal seorang gadis. Gadis itu hilang setelah bepergian di sekitar distrik Mapo. Saya pikir distrik tenang ini bukanlah tempat kriminalitas tertinggi. Jadi saya merasa aneh, apa betul gadis itu hilang di sini? Jadilah saya mencari anda dan teringat larangan anda pada sepupu saya. Gadis yang ada di foto ini adalah sepupu saya."

Sandiwara Sehun benar-benar luar biasa. Rowoon rasa, Sehun cocok bila debut sebagai aktor.

"Tiga belas tahun lalu gadis-gadis di distrik ini hilang dalam kurun waktu satu bulan. Dalam sebulan itu, hampir tiap hari ada laporan kehilangan. Tak hanya penghuni distrik Mapo, gadis yang hanya sekedar melewati distrik ini juga tak luput dari penculikan. Anehnya, penculikan itu hanya dialami gadis-gadis miskin. Ciri-ciri fisik mereka juga nyaris sama. Mata coklat, rambut coklat, tubuh tinggi semampai, dan kulit putih. Para keluarga yang kehilangan anak gadis mereka hanya bisa sabar menunggu kemajuan dari penyelidikan polisi."

"Tiga belas tahun lalu?" Ulang Sehun.

Heera mengangguk kaku. "Sayangnya, kasus itu sudah lama tidak terselesaikan. Para keluarga dipaksa ikhlas menerima. Mereka tidak punya cukup uang dan otoritas untuk bicara. Keluarga korban juga sering mendapat ancaman. Karena kemiskinan, mereka tidak sanggup membeli rumah untuk pindah ke tempat lain. Mereka hanya bisa waspada agar tidak mengalami kejadian serupa. Mereka hanya Rakyat Kelas Biasa yang baru bangkit dari status Kelas Jelata."

"Apakah... Penculikan itu tidak pernah berhenti?"

"Tentu saja berhenti."

Heera menarik nafas dalam. "Biar ku jelaskan pada kalian. Penculikan itu jika dihitung ada puluhan korban dalam sebulan kejadian. Aku tahu dari para tetangga. Karena sebagai warga tertua di perumahan ini, seringkali aku mendengar gosip-gosip tetangga mengenai penculikan ini. Kadang, beberapa orang mengajakku bicara hal tersebut dan meminta nasihat dariku. Aku hanya menjawab, 'pergilah dari distrik ini. Polisi sudah tidak bisa melindungi kita lagi jadi untuk apa kita tinggal di sarang penjahat ini?' aku menyarankan mereka begitu, tapi aku tetap tinggal untuk memperingati gadis-gadis yang berpotensi untuk diculik."

Sehun melirik Rowoon. Mafioso Xi yang memimpin distrik ini hanya bersikap santai. Walau dirinya tergolong penjahat, Rowoon dan anggota kelompoknya tidak pernah cari perkara di distrik ini. Mereka hanya bertugas mengawasi jika ada mafia lainnya main api di salah satu daerah kekuasaan Luhan ini.

"Seiring berjalannya waktu, penculikan tersebut hilang dari pembicaraan. Distrik ini kembali 'aman'. Tapi sayang, rasa aman itu tidak bertahan lama...

...penculikan itu terjadi lagi tujuh tahun selanjutnya. Jelas laporan kehilangan menjadi kasus yang belum memasuki masa kadaluarsa, tapi entah kenapa pihak kepolisian tidak mau bertindak."

"Heera-halmeoni, jika saya berkeinginan menolong keluarga korban, apakah para keluarga korban menerima?" tawar Sehun.

"Tentu saja," muka Heera langsung cerah. "Demi dewa, saya harap anda benar-benar bisa menolong keluarga-keluarga ini, nak..."

Rowoon menyorotkan tatapan khawatir pada Sehun.

Gadis-gadis yang hilang di Mapo-gu, bukankah mereka adalah identitas mayat-mayat yang sudah mafia Xi jual untuk uang?

Jika kasus ini diangkat ke permukaan, kebenaran terkuak dan merembet pada perdagangan manusia serta...

...keberadaan Mafia Xi.

Sebenarnya apa rencana anda, Tuan Besar Oh? Kasus ini bisa menghukum Raja Kris sekaligus Mafia Xi. Pria ini benar-benar tak tertebak tindakannya.

Rowoon merutuk di balik senyum tampannya.

Sehun bisa merasakan kecemasan Rowoon.

Tapi rencana tetaplah rencana.

Sehun tak ingin rencananya hanya jadi wacana.

"Anda masih ingat siapa saja keluarga korban? Tolong hubungi mereka agar mendatangkan perwakilan dari keluarga mereka, bisa kepala keluarga atau lainnya, untuk bicara dan berunding dengan saya."

"Siapa kau ini, nak? Kau memang tampan. Baik. Wajahmu cukup langka dikatakan milik Korea Selatan. Aku bisa menebak, kau seorang bangsawan. Apa benar?"

Ketika Sehun mengangguk, Heera terkesiap.

"Tapi kami tidak bisa mempercayai orang asing begitu mudahnya."

"Nama saya Woo Sehun."

Tak hanya Heera, Rowoon juga sama terkejutnya saat Sehun menyematkan marga 'Woo' di depan nama lahirnya.

Marga 'Woo' tidak bisa dipakai sembarangan di kerajaan ini.

Sehun menunduk hormat pada sang nenek,

"Saya adalah seorang Pangeran Mahkota Kerajaan Korea Selatan. Saya ingin rakyat saya mendapat keadilan."

"Kau— tidak mungkin... apa kau... Pangeran yang selama ini Raja Woo terdahulu sembunyikan dari kami? Ternyata anda? Bukan Raja Woo Kris?"

Sehun menyodorkan piagam gelarnya, kartu identitas resmi sebagai Keluarga Kerajaan, dan cincin bertahta berlian hitam yang terkenal sebagai cincin turun temurun milik Raja Woo.

Sehun mendapatkan semua itu dari Anhee, nenek kandung Sehun sekaligus Permaisuri Raja Woo Terdahulu.

Heera mematung. Dia sulit untuk percaya kalau dirinya bertemu seorang pangeran secara langsung.

Pangeran yang puluhan tahun lamanya disembunyikan Raja Woo Terdahulu.

"Ya Dewa..."

Pangeran itu kini tumbuh begitu tampannya.

Dan memiliki kebaikan hati yang luar biasa.

.

.

.

.

.

Heera menghubungi berbagai nomer kontak yang dirasa berhubungan dengan keluarga korban (gadis-gadis yang diculik). Dia berharap informasi mengenai, 'penolong keluarga korban' bisa sampai ke telinga orang tua korban.

Rowoon juga menghubungi anak buahnya yang tengah bertugas mengawasi jalanan distrik Mapo. Dia memerintahkan anak buahnya menghubungi keluarga korban. Rowoon memiliki data keluarga korban, karena data-data itu sebagian besar berasal dari distrik kekuasaan Rowoon.

Sampai akhirnya kepala keluarga, dari Para Keluarga Korban Penculikan, mendatangi rumah Heera.

Sehun menemui perwakilan keluarga yang dulunya kehilangan anak gadis mereka.

"Apakah masih ada harapan?" Tanya salah satu pria parubaya berambut klimis. Pakaiannya berupa seragam tukang sampah. Sepertinya dia baru pulang bekerja.

Heera mengangguk. "Kita memiliki harapan. Kita tidak bisa lagi mempercayai polisi."

"Lalu, siapa yang akan menolong anak gadis kami, Heera-ssi?" Seloroh pria lainnya. Mukanya merah padam. Kekhawatiran terbaca dari mata rentanya.

Ada lebih dari belasan pria di ruang tamu Heera. Ini tidak semuanya, namun mewakili hati seluruh keluarga.

Heera menoleh pada Sehun.

Semua pria parubaya juga mengikuti arah pandang Heera.

Mereka cukup terkejut. Wajah Sehun sedikit familiar.

"Siapa dia, Heera-ssi?"

"Dia..." Heera meragu. Apakah tepat jika dia memperkenalkan Pangeran Mahkota pada keluarga korban? Bagaimana kalau mereka malah menyalahkan Sehun?

Sehun bisa menebak isi pikiran Heera. Dia membungkuk hormat pada belasan pria parubaya. Sehun memperkenalkan diri dengan nama lahirnya,

Bukan nama 'kutukan'nya.

"Nama saya Oh Sehun."

Semua pasang mata kecuali Heera dan Rowoon membelalak.

Berbagai gumaman dan pembicaraan bagai dengungan lebah muncul di hadapan Sehun.

"'Oh'? Anak muda ini seorang bangsawan."

"Apa yang diharapkan dari bangsawan sombong, hah?"

"Oh Sehun? Kepala Keluarga Bangsawan Oh saat ini?"

"Anak muda ini suami Lady Luhan."

"Hah? Lady Luhan?"

"Lady Luhan adalah pemilik XiLu Foundation. Organisasi itu membawahi yayasan yang juga membayar beasiswa anakku. Kini anakku jadi trainee Lu Entertainment."

"Benarkah? Selamat untuk anakmu!"

"Bapak-bapak semuanya, tidakkah kita fokus pada kasus penculikan para gadis?"

Kemurungan kembali memenuhi ruangan.

Salah satu pria mendekati Sehun dan berani meremas dua lengan atas Sehun. "Jika benar anda bisa menolong kami, bagaimana anda bisa membuat kami percaya, Anak muda...?"

"Ya, bagaimana?" Tuntut pria lainnya.

Sehun hanya menurunkan kelopak mata, memandang lantai seolah tidak berani melihat sorot kesedihan para ayah atau para paman si korban.

"Kasus ini sudah lama dibungkam." Pria yang meremas bahu Sehun menahan sesaknya ketidakadilan. "Instansi kepolisian seolah buta dan tuli pada ketidakadilan yang dialami anak gadis kami. Bangsawan bagi kami hanyalah orang-orang sombong! Keluarga kerajaan hanya sibuk memakan pajak dari upah minimum kami. Kami sudah dihancurkan harapan palsu bahwa anak kami masih hidup. Kami tidak ingin dihancurkan lagi dengan pertolongan palsumu, anak muda."

"Kami curiga," pria lainnya menimpali. "Kasus ini ada hubungannya dengan kerajaan. Kalau benar begitu, apa kau siap menghadapi pemerintahan dan istana?"

Semua mata memandang Sehun bagai dewa pemberi kasih, kecuali Rowoon.

Rowoon hanya memandang tajam punggung tegap Sehun.

'Pria ini sungguh licik. Dia menggunakan kemalangan rakyatnya sendiri hanya demi wanitanya.'

'Tuan Besar Oh, kau ini malaikat atau iblis?'

"Saya akan membantu menguak kasus penculikan anak gadis kalian," Sehun tersenyum kalem. "Saya tidak bisa menjamin apakah mereka masih hidup atau tidak, tapi saya bisa menjamin pelaku penculikan itu akan menerima ganjarannya. Mungkin anda semua sedikit tahu tentang tatanan kebangsawanan di Korea Selatan. Dan Keluarga Bangsawan Oh memegang peranan penting di kemiliteran dan kepolisian."

Saat Sehun mengucap 'kepolisian', kemurkaan langsung menyelimuti wajah-wajah para keluarga korban.

Sehun melipat kedua lengannya di balik punggung. Postur tubuh tegapnya menegaskan satu kenyataan yang akan membungkam segala keraguan,

"Satu hal yang perlu anda sadari. Saya adalah Oh Sehun. Suami sah Lady Xi Luhan. Kepala Keluarga Bangsawan Inti Oh saat ini. Dan karena posisi saya itulah...

...tindak-tanduk anggota Keluarga Bangsawan Oh ada di bawah pengawasan dan kendali saya...

...Dengan kata lain, saya mengendalikan lebih dari 50% tatanan hukum di Korea Selatan."

Satu peristiwa ini menyadarkan Rowoon pada fakta,

'Orang yang dianggap malaikat tersuci, sebenarnya iblis yang menyamar.'

.

.

.

.

.

Malam hari,

Flat para Mafia Xi, salah satu Markas Utama Mafia Xi...

.

.

.

.

.

Seakan Sehun menanggalkan hati nuraninya, dia mempolitisasi kasus kehilangan para gadis di Mapo-gu, atau bisa disebut kasus penculikan gadis-gadis, untuk memperburuk nama Kris Anderson.

Hanbin tahu kenyataan itu dari Rowoon. Rencana Sehun tersebut sama sekali tidak tertebak. Hanbin khawatir rencana itu jadi bumerang, namun, jika Sehun yang melakukannya, maka Hanbin sedikit lega.

Oh Sehun adalah satu pria dari jutaan pria lainnya yang dipilih Xi Luhan sebagai suaminya. Luhan tidak akan pernah main-main memilih pria dan gadis koleksinya, apalagi suami. Ya, kan?

["Pilih satu saksi palsu dan beberapa kambing hitam dari kalangan Mafia Xi."]

Malam hari yang dingin. Peredaran darah Hanbin serupa dibekukan kulkas. Hanbin bolak-balik menggaruk rambutnya. Dia meremas ponselnya yang sudah basah akibat keringat dingin dari tangannya.

"Untuk apa?"

Tak ada jawaban.

Hanbin menghirup udara lumayan rakus sebagai bentuk protes.

"Haechan bisa," jawab Hanbin setengah kesal. "Dia sudah biasa menjadi saksi palsu untuk memenangkan kasus-kasus Lady Luhan. Sejak dia berusia 15 tahun, Lady Luhan mengakui bakat Haechan yang bisa mengontrol dirinya sendiri bahkan mampu lolos dari lie detector."

["Menarik."]

"Tentu saja."

["Aku lupa tentang Renjun. Sertakan dia untuk berpartner dengan Haechan."]

"Baik, Tuan Besar Oh."

["Lalu, untuk kambing hitam... Pilih mafia Xi yang sudah lama membangkang. Sebagai wakil Luhan, aku yakin kau tahu siapa saja mereka. Aku mempercayakan bagian ini padamu. Serahkan nama-namanya padaku dan deskripsikan sedikit tentang mereka di laporanmu."]

"Baik, Tuan Besar Oh."

["Aku sudah mengirimkan alur rencana ke emailmu. Buka dan bacalah softfile-nya. Kedua, hubungi Hyoyeon untuk mendapat izin mengakses draft yang terkunci. Segera cek emailmu."]

Hanbin melakukan perintah Sehun. Dia membuka laptopnya. Mengapit ponselnya dengan bahu dan telinga. Setelah akun emailnya terbuka, tangan kanan Hanbin mengetik sedangkan tangan kirinya meremas ponselnya.

Ada beberapa softfile kiriman Sehun yang membuatnya meringis kala membaca tulisan-tulisannya.

["Sudah kau cek?"]

"Sudah. Hm, Tuan Besar Oh, boleh saya menanyakan sesuatu?"

Gumaman terdengar di seberang.

"Apakah anda yakin rencana ini tidak membunuh Anda dan Lady Luhan? Apalagi anda melibatkan dua mafia besar sekaligus."

["Anggaplah aku komposer."]

Hanbin menoleh ke pintu kamarnya. Suasana agak horor saat dia melihat Haechan ada di ambang pintu.

Hanbin menempelkan telunjuknya ke bibir. Haechan mengangguk.

"Komposer?" Hanbin kembali fokus pada Sehun. "Anda menganggap apa yang anda lakukan adalah permainan musik?"

["Ya"]

Haechan ikut mendengar suara Sehun. Dia tersenyum simpul. Dalam hati ikut serta mendukung apapun yang Sehun lakukan jika mengenai penolongnya yakni Luhan.

["Di mana aku akan mengatur agar kedua mafia besar ini melawan Kris melalui 'permainan musik' yang indah. Dan, kutekankan, Kris akan mendengar harmonisasi itu hingga ketagihan sampai... Dia terdorong untuk membunuh dirinya sendiri."]

"Wah... Ini benar-benar perang antara anda dengan Raja Kris..."

["Yeah..."]

Hanbin memandang layar laptopnya yang menyiramkan cahayanya ke muka tampan Hanbin.

Hanbin tersenyum lirih.

["let's start begin..."]

Kalimat itu dikumandangkan Sehun.

Hanbin merinding.

.

.

.

.

.

Tiga bulan kemudian...

.

.

.

.

.

Pengadilan.

Adalah tempat untuk mengadili berbagai macam kasus. Akan selalu ada pihak Pelapor dan Terlapor. Dalam satu kali sidang, kasus yang dikuak bisa lebih dari satu.

Dalam proses persidangan pasti ada pengacara atau Kuasa Hukum untuk membela tiap kubu. Mereka juga berwenang menyertakan para saksi dan berbagai macam bukti untuk menguatkan pembelaan mereka di hadapan Hakim dan Jaksa.

Kim Jongin sudah biasa berkutat dalam dunia politik dan hukum. Selama mendampingi Luhan menghadapi kasus-kasusnya, Jongin dikenal sebagai pengacara kondang dan sukses. Selain cerdas, dia juga licin dan licik.

Ruang Pengadilan cukup luas. Tatanan meja dan kursi membentuk U. Posisi meja dan kursi sejajar berhadapan adalah untuk kubu Pelapor dan Terlapor. Sedangkan posisi horizontal untuk meja hakim dan jaksa.

Perkenalan berkumandang untuk mengawali persidangan. Ini masih sidang pertama. Dilakukan tertutup sesuai aturan yang berlaku, sampai vonis dijatuhkan untuk Luhan. Sebelum vonis diputuskan, media atau pihak manapun tidak boleh menyebarkan isu-isu tentang kasus ini.

Pihak Pelapor adalah Raja Woo Kris dan jajarannya. Pria itu tidak menghadiri persidangan karena kesibukannya. Jadi dia diwakili Song Jihyo, penasihat Raja.

Sedangkan di seberang mereka adalah pihak Terlapor. Pihak ini yaitu Luhan sebagai tersangka. Bisa saja statusnya dicabut jika bukti-bukti mengarah pada 'salah tangkap'.

"Pihak Pelapor mendatangkan saksi untuk kasus Pembantaian Keluarga Bangsawan Byun," ucap sang hakim. "Saksi tersebut bernama Byun Baekhyun selaku satu-satunya anggota keluarga Byun yang tersisa."

Byun Baekhyun berdiri, membungkuk hormat, kemudian duduk kembali di tempatnya.

"Dan pihak Terlapor mendatangkan saksi untuk kasus serupa. Saksi tersebut bernama Xi Chanyeol selaku Sekretaris Lady Luhan."

Berganti Park Chanyeol yang terpanggil. Setelah membungkuk sopan pada peserta sidang, Chanyeol duduk dalam kemurungan.

Byun Baekhyun dan Park Chanyeol saling berpandangan.

Mereka berada dalam kubu yang berbeda.

Semua pembukaan yang dilakukan hakim hampir selesai. Termasuk menunjukkan bukti-bukti yang dimiliki kedua belah pihak untuk tiap kasus Pembantaian Keluarga Byun, Keluarga Emeline, dan Keluarga Do.

Luhan hanya duduk sambil tersenyum manis pada kubu lawan. Dia mulai ikhlas saat Hakim berkata,

"Pihak Pelapor mendatangkan saksi untuk kasus Pembantaian Keluarga Bangsawan Xi. Saksi tersebut bernama Xi Namjoon selaku anak angkat mendiang Lord Xi Luxian."

Namjoon berdiri, memberi penghormatan, kemudian duduk. Matanya tidak terlepas dari eksistensi Luhan di seberangnya.

"Dan Pihak Terlapor mendatangkan saksi untuk kasus Pembantaian Keluarga Bangsawan Xi. Saksi tersebut bernama..."

Hakim membuka halaman laporan selanjutnya. Dahinya mengernyit saat matanya tertuju pada satu nama di halaman tersebut.

Hakim berbisik pada hakim lainnya.

"...apa ini benar-benar nama saksinya? Bukankah nama ini tidak dicantumkan?"

Hakim lainnya mulai bolak-balik membaca laporan dari kubu Luhan. Nyatanya, nama itu benar-benar tertulis di sana.

"Maaf atas keterlambatannya, Yang Mulia Hakim."

Mata Luhan melotot saat melihat suami sahnya membuka pintu pengadilan lebar-lebar. Pria itu—Sehun—berlari tergesa-gesa menuju ke tengah ruang pengadilan.

Setelan yang membalut tubuh Sehun bukanlah setelan formal biasa. Melainkan...

...jubah seorang Kuasa Hukum.

Sehun berdeham. Dia melirik istrinya lalu memberi istrinya wink menggemaskan.

Luhan menahan tawa. Di situasi ini Sehun masih belaga tengil?

Atensi Sehun kembali pada Sang Hakim. Dia membungkuk hormat tepat di depan meja hakim.

"Nama saya Woo Sehun. Kuasa Hukum Dua dari pihak Terlapor."

Jongin sebagai Kuasa Hukum Luhan melongo bak orang bodoh.

"Tuan Besar Oh, kau—" Jongin menggerutu, "Kepala Keluarga Bangsawan, Presdir, Psikolog, Dosen, Pangeran Mahkota, lalu sekarang? Pengacara? Lady Luhan, suami anda ini apa-apa'an? Ya Tuhan..."

Luhan tersenyum prihatin pada pengacaranya.

Sehun menyeringai.

"Saya membawa beberapa bukti mengenai kematian Keluarga Bangsawan Xi." Sehun menyerahkan setumpuk bukti tepat di meja Hakim. "Saya mohon jangan usir saya, Yang Mulia. Saya sangat bekerja keras untuk mendapatkan semua ini. Maaf, bisa anda sebut nama saksi yang saya datangkan untuk menguak Kasus Pembantaian Keluarga Bangsawan Xi?"

Senyum ramah nan tampan Sehun meluluhkan hati para orang tua di meja Hakim.

Mereka mengangguk.

Hakim Tertinggi mengulang perkenalannya,

"Pihak Terlapor mendatangkan saksi untuk kasus Pembantaian Keluarga Bangsawan Xi. Saksi tersebut adalah...

...Perdana Menteri Oh Yeonseok."

Seluruh peserta sidang mendadak terkesiap. Termasuk Luhan sekalipun.

Saksi dari pihak Luhan ternyata sekelas Perdana Menteri?

Perdana Menteri Korea Selatan?

Kenyataan macam apa itu?

Sehun menggeser tubuhnya. Dia berdiri di samping posisi duduk Jongin selaku Kuasa Hukum Pertama Luhan.

Sang Perdana Menteri memasuki ruang persidangan.

Dalam balutan formal seorang pemimpin sejati.

Perdana Menteri itu merapikan jasnya sebelum membungkuk hormat dan mengucap salam pada hakim dan seluruh peserta sidang.

"Nama saya Oh Yeonseok. Saya akan menjadi saksi kunci yang akan membantu jalannya proses persidangan."

Hakim tak gentar mengintrogasi saksi di depannya, walau saksi itu berposisi sebagai Kepala Pemerintahan.

"Di sini tertulis bahwa anda adalah anak haram Mendiang Lord Xi Luxian, apa itu benar?"

Keterkejutan semua peserta sidang seolah diguncang bom.

Mata Luhan memandang nanar pada visual samping Oh Yeonseok.

Walaupun dunia tahu Oh Yeonseok hanyalah anak angkat dari sepasang Oh di Keluarga Non Inti, Yeonseok tetap menyembunyikan fakta mengenai latar belakang kelahiran aslinya.

Yeonseok menjawab dengan lugas dan singkat,

"Benar, Yang Mulia Hakim. Ibu biologis saya bernama Rosella Emeline dan ayah biologis saya bernama Oh Sehan...

...dan saya rasa, anda semuanya tahu siapa nama China dari Oh Sehan ini."

Ya, mereka semua bisa menebaknya.

"Ayah biologis saya tidak lain adalah Xi Luxian, Kepala Keluarga Bangsawan Xi keenam."

Itu berarti, Oh Yeonseok adalah kakak seayah Xi Luhan.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

NEXT CHAPTER :

Sixteen : Jerk Lady vs Crazy King

"Wanita adalah salah satu kata yang menjadi penyebab kehancuran pria seberkuasa dirimu. Dan, siapa wanita penghancur kekuasaanmu itu? She is me, My King."

—Xi Luhan or Aihara Hana—

"Kau seharusnya mengenali batasanmu sebagai wanita. Karena secara kodrati, kaum pria yang menggiring para wanitanya persis peternak bebek pada bebek-bebeknya. Dan itu bukan sebaliknya, My Lady."

—Woo Kris or Kris Anderson—

.

.

.

.

.

AUTHOR NOTE :

Kalau gak mau meninggalkan jejak, ya aku aja yang ninggalin ni ff terlunta-lunta gimana? Mau gak?

2 chapter dan epilog lagi lho... Pengen banget ff ini kubantai secepatnya :")

90% rahasia ff ini akan segera terjawab di chap depan.

Jalannya persidangan sesuai imajinasiku dan apa yang kulihat di film. Jika kurang sesuai, akan ada saatnya kuperbaiki :)

Aku gak tahu bakal up dalam waktu dekat atau enggak... Soalnya aku fokus kolokium. Udah mau mikir skripsi ini :"((

Udah ya... aku capek. Sama ketikan jebol nembus 13k. Sama kalian yang review malas-malasan.

Dan lihat? Hasilnya chapter ini jelek parah #monangis

Btw, makasih buanyak buat yang review, follow, favorit...! kalian penyemangatku #sungkem

Nanya akun wattpad? Akun itu kalau beneran kubikin, paling isinya repost dari ffn ini (dan bisa aja ff-ku yang on going kutamatin di sana). But, aku gak tahu bakal buat atau enggak. Kita lihat aja ya...

Surabaya, 07 Januari 2020