o

Cactus93 Present

o

OoooO

UNIDENTIFIED

Chapter 17

o

OoooO

o

CHAN-BAEK

o

o

o


"Minggu depan pindah ke Jeju tapi kenapa kau tak memberitahuku?" tanya Minyoung dengan nada penuh emosi dan mata menatap nyalang seolah tak memiliki rasa takut.

"Sebenarnya aku ke Jeju besok pagi."

Api amarah mengerumuni, Minyoung sampai kaku tak mampu berkata. Tadi jelas jika Junki akan ke Jeju minggu depan lalu mengapa bisa-bisanya berubah jadi besok?

Sadar dengan kebingungan Minyoung, Junki melanjutkan penjelasan. "Aku hanya mengalihkan perhatian karena aku ingin ke bandara dengan tenang dan tak mengharap satupun wartawan datang." Tidak ada beban Junki menjelaskan dengan lancar.

Sebagai istri ia berhak tahu apa yang akan di lakukan oleh Junki, namun kenyataan hanya dia dan Sooyoung yang buta situasi. "Kau keterlaluan."

Waktu menunjuk lewat 11 malam tapi keluarga besar Byun masih berkumpul di ruang tengah. Para pelayan yang baru selesai menyiapkan teh hangat, masih siap siaga menunggu perintah berkumandang.

Termasuk Baekhyun yang mendadak memutuskan menginap. Rencana sebelumnya ia dan Chanyeol akan mengantar ke bandara namun melihat situasi tak bersahabat, setidaknya Baekhyun ingin di sisi sang ibu.

Baekhyun tak tahu harus berbuat apa. Duduk tak tenang di sanding Chanyeol, mata sipit mencuri pandang kepada kedua kakaknya. Namun hanya di balas gelengan. Seakan bisa mengirim ucapan, mereka melarang Baekhyun untuk ikut campur dan berakhir bibirnya mengerucut.

Ponsel di saku Chanyeol terus bergetar dan Baekhyun sadar itu. Hendak menoleh ke sebelah kanan dimana Chanyeol berada, terlebih dulu Chanyeol berbisik. "Jangan pedulikan ponselku. Nanti aku bisa menelpon balik."

Baekhyun memberi jawaban dengan anggukkan kecil dengan jemari sibuk memilin kancing lengan kemeja Chanyeol yang tengah ia rangkul.

Untung saja sang ibu yang duduk di samping kirinya tetap tenang meski memang terlihat resah.

Junki menyesap teh tenang, tak terpancing aura peperangan dari kedua istrinya. "Apa yang akan kalian lakukan jika aku memberitahu kalian? Apakah kalian akan ikut?"

Sejak tadi hanya diam, Sooyoung mulai berani berucap meski gagap. "Setidaknya kami ini istrimu dan kau harus menghargai pendapat kami."

"Kau saja memberitahu Jihyun, sedangkan kami berdua tak tahu apapun." Minyoung melirik sinis ke arah Jihyun dan berdecak menampakkan wajah sengitnya.

Tak ada yang berani menyela. Mau undur diri dari ruangan pun bak ada yang membentengi.

Sebagai putra pertama, Kris juga tak bisa berkutik. Menyandarkan bahu pada sofa, ia memijit pangkal hidung yang terasa pening. Hari ini sungguh melelahkan dengan dua jam menyalami hampir semua tamu yang datang untuk mengucapkan selamat ditambah situasi kacau keluarga. Malam pun tak mengizinkan mereka untuk sejenak beristirahat. Ibunya sungguh berlebihan.

"Bagaimana bisa aku berdiskusi serius dengan kalian yang kemarin baru pulang? Kalian pergi ke luar negeri pun tak meminta izin padaku." Junki membalik pertanyaan. Memang benar jika istri pertama dan keduanya baru pulang dari Paris. Meskipun satu rumah, tak sekalipun mereka saling bertemu. Junki sibuk perpisahan di kantor sedangkan Sooyoung dan Minyoung sibuk persiapan pesta.

Diam-diam Sehun yang paling berminat dengan perdebatan yang dianggapnya sangat seru. Dia berusaha keras menahan sudut bibirnya agar tak menyeringai saat melihat ibunya yang seperti penjahat yang tertangkap basah.

"Setidaknya kau bisa telepon dan aku sama sekali belum persiapan—

"Tenang saja, aku tak memaksa kalian untuk ikut ke Jeju," sela Junki.

Meskipun mengajak, sudah pasti hanya ada penolakan. Ia dan Jihyun akan tinggal di pedesaan, mana mungkin kedua istrinya yang serba glamor mau pindah kesana. Mampir saja pasti enggan, apalagi tinggal.

"Benarkah itu?" Mata bulat Minyoung berbinar.

"Ya. Kalian berdua sangat berisik dan yang kucari hanya ketenangan." Punggung lelah Junki akhirnya bisa tenang bersandar pada bahu sofa setelah perdebatan tak bermutu ini.

Tak merasa tersinggung, Minyoung dan Sooyoung malah nampak gembira. "Kenapa kau tak bilang sebelumnya. Kami kebingungan harus mengatur jadwal."

Junki menghela nafas, sudah ia duga jika Sooyoung dan Minyoung sama sekali tak pernah mempedulikannya.

"Kalau begitu permasalah selesai sampai disini," ucap Sooyoung dengan ringannya. Rencana awal mereka hanya ingin Jihyun meninggalkan rumah, tapi kalau Junki ikut pergi tak ada yang disesalkan. Malah lebih bagus.

Kris dan Sehun mendapatkan hak perusahaan untuh dan sekarang tak ada pengganggu yang merusak kesenangan. Sempurna. "Jam berapa besok oppa berangkat?"

"Setelah sarapan."

"Oh. Baik. Besok aku akan berusaha bangun pagi, dan sekarang aku pamit tidur lebih dulu." Minyoung menepuk tangan sekali sebelum meninggalkan ruang tamu.

"Minyoung eonni, tunggu aku."

Setelah Sooyoung dan Minyoung berlalu, Jihyun pindah duduk di samping Junki.

Dahi Baekhyun berkerut bingung. Ia kira akan menjadi percakapan sengit tapi hanya seperti ini?

Pandangan Baekhyun bergulir menangkap ke arah Junki. Sosok bugar yang tak lagi muda terlihat kecewa menatap kepergian Sooyoung dan Minyoung yang membuat hati Baekhyun pilu.

Secepat kilat Junki merubah ekspresi kala sadar kehadiran Jihyun, "Jihyun-ah, jika kau juga keberatan kau bisa membatalkan—

"Tidak. Aku akan tetap ikut ke Jeju." Jawab Jihyun setenang genangan air danau bahkan tak beriak. Disentuhnya tangan Junki, mata teduh wanita itu berlari ke arah anaknya. "Baekhyun juga sudah mengizinkanku."

Baekhyun membalas dengan senyum dan anggukan. "Ayah, Biarkan ibu menemani ayah di Jeju. Jika sendirian, pasti ayah akan kesepian disana. Tak perlu mengkhawatirkan Baekhyun. Baekhyun sudah besar… dan Baekhyun juga sudah punya Chanyeol." Baekhyun mengeratkan rangkulan lengan Chanyeol.

"Ey… mentang-mentang sudah menikah, oppa sudah tak dianggap." Kris menyeka air mata imaginer seolah tersinggung dengan perkataan Baekhyun.

"Tenanglah oppa, Sehunnie akan menemanimu." Bukan Baekhyun, Sehunlah yang mengucapkan kalimat laknat itu sambil merangkul bermanja pada lengan Kris.

"Kau itu sungguh menjijikkan!" Kris berusaha mendorong kelapa Sehun menjauh namun Sehun kukuh berusaha memeluk kakak sulung.

Sisa dari mereka terbahak melihat dua orang itu.

Bahkan Junki sampai menetes air mata saking tertawa terlalu keras.

Pasti ia akan merindukan momen ini. Hidup bak robot sampai di usia ini merupakan prestasi yang hanya terasa hambar.

Keluarga Byun dikenal publik sebagai keluarga konglomerat sukses dan dibalik kesuksesan itu selalu ada tumbal berupa kebebasan sosok pewaris yang membawa beban di kedua pundak.

Akhirnya beban pewaris berpindah pada kedua putranya. Junki telah sepenuhnya mempercayai Kris dan Sehun. Bukan cara diktator Junki mendidik anaknya, ia hanya ingin sedikit melonggarkan tradisi Byun dan melihat kebahagiaan anaknya saling bersenda gurau, begitu menyejukkan perasaan kekhawatiran selama ini. Ditambah sosok tak terduga Jihyun nyatanya adalah sosok wanita yang menerima dirinya apa adanya.

Ingin Junki menampar kekasaran dirinya di masa lalu yang sempat menganggap Jihyun adalah wanita bermuka dua di hadapan mendiang ibunya.

Untuk permasalahan Sooyoung dan Minyoung, Junki lebih membiarkan mereka bermanja pada kekayaan. Sempat Junki menyalahkan orang tuanya yang bagaimana bisa membuat dirinya menikahi tiga wanita. Namun menilik Kris, Sehun dan Baekhyun berkumpul seperti ini sedikit banyak Junki malah bersyukur.

"Berjanji lah kalian akan sering mengunjungi ayah."

Mereka mengakhiri percakapan malam itu dengan pelukan hangat dan perasaan lega.

o

ooOoo

o

o

o

o

Baru selesai mandi, Baekhyun yang masih mengenakan bathrobe mengoyak rambut basah. Alis berkerut melihat Chanyeol masih mengenakan kemeja putih kancing dan celana kain hitam serius berbicara dengan ponsel menempel di telinga.

Garis pandang bertemu, tangan Chanyeol terangkat meminta Baekhyun untuk mendekat. Chanyeol memeluk tiba-tiba, menyandarkan dahi pada pundak Baekhyun.

Sejenak Baekhyun tertegun, bingung harus berbuat apa.

"Hyung, tolong cek properti yang lain sedetail mungkin. Maaf sepertinya sore baru aku bisa kesana."

Baekhyun langsung melepas pelukan saat Chanyeol mengakhiri panggilan dan menatap serius, "Chanyeol hyung, ada apa?"

Chanyeol menolak untuk menatap mata penasaran Baekhyun dan itu membuat Baekhyun merasa sedikit kesal. Ia yakin jika Chanyeol pasti menyembunyikan sesuatu. "Chanyeol hyung."

Panggilan lembut beserta ekspresi penuh harap Baekhyun masih bisa Chanyeol tahan. "Sayang, maaf. Aku hanya ingin sekarang kau fokus untuk keluargamu." Chanyeol tak ingin Baekhyun melewatkan waktu bersama Jihyun.

"Chanyeol hyung, kita keluarga dan kau kini adalah prioritasku karena kau adalah suamiku." Senyum Baekhyun mengembang begitu mengakhiri kalimat. Digenggamnya kedua telapak Chanyeol, "Seharusnya aku yang minta maaf. Tanpa tahu jadwalmu, aku memaksa menginap."

Hati Chanyeol sepenuhnya telah berada di genggaman Baekhyun. Bukan genggaman menyakitkan, namun genggaman tangan lembut syarat kehangatan dan begitu menentramkan. Baekhyun sangat mahir mengendalikan emosi Chanyeol.

Meski umur Baekhyun lebih mudah daripada Chanyeol. Meski usia Baekhyun bahkan belum genap setengah abad. Mungkin dikarenakan perjalanan hidup Baekhyun lebih berat daripada kehidupan yang Chanyeol lalui mengajarkan dan membuat Baekhyun jauh lebih dewasa daripada apa yang Chanyeol tebak.

"Baekhyun-ah."

"Hm?"

Meletakkan ponsel di nakas, sepenuhnya perhatian Chanyeol terfokus pada Baekhyun. Tersenyum tulus, tangan terentang mengharap pelukan Baekhyun.

"Aku mencintaimu," ucap lembut Chanyeol begitu Baekhyun sudah dalam rengkuhan.

Baekhyun balas memeluk Chanyeol. Dengan kediaman yang memancarkan aura romantisme pengantin baru, Baekhyun menunggu Chanyeol untuk menceritakan permasalahan.

Chanyeol menyesap aroma segar menguar di leher jenang Baekhyun. Rembesan kesegaran kulit sehabis mandi, terasa berpindah ke pipi Chanyeol seolah menyejukkan pikiran kalutnya. "Sebenarnya ini bukan pekerjaan kantor, sayang. Hanya di studio ada sedikit kekacauan."

"Kekacauan." Pengucapan Baekhyun begitu lembut tanpa sedikitpun terdengar memaksa bahkan tak seperti pernyataan.

"Sekitar dua jam lalu ada penyewa yang mabuk hingga merusak beberapa properti."

"Apakah itu parah?" Kini kekhawatiran nampak di dalam pertanyaan Baekhyun. Sampai ia melepas pelukan dan menatap penasaran.

Sudut bibir Chanyeol terangkat tersenyum menenangkan, "Tenang. Ada persidangan kecil besok siang dan MQ hyung akan menanganinya."

"Tapi kau terlihat resah." Baekhyun menangkup pipi Chanyeol, berusaha mengamati ekspresi suaminya.

Begitu lihai Baekhyun membaca suasana hati Chanyeol.

Studio Loey bak anak bagi Chanyeol. Membangun dari nol dan susahnya mendapat restu dari ayah, tiba-tiba dirusak oleh seseorang tak bertanggung jawab itu mampu menyulut amarah Chanyeol.

Jelas terlihat kilat emosi di mata Chanyeol, Baekhyun berucap lirih. "Chanyeol—

"Maaf. Aku hanya tak habis pikir bisa lalai dalam menjaga asetku." Chanyeol memang sangat possessive dengan apa yang telah dimilikinya. Jangan sampai rusak. Jangan sampai lepas dari pengawasan.

"Satu kesalahan bukanlah hal yang fatal Chanyeol. Lagi pula ini murni bukan kesalahanmu. Mungkin kau bisa membuat peraturan tambahan?"

"Itu ide bagus!" terlalu kalut mungkin otak Chanyeol belum bisa berpikir jernih. Dikecupnya bibir Baekhyun lalu berucap tulus, "Terima kasih."

Meski kerusakan mungkin bisa diatasi dengan mudah namun kelalaian hingga orang mabuk di dalam studio membuat Chanyeol ingin memasang cctv di setiap sudut ruangan dan menambah penjagaan. Setidaknya Chanyeol akan mengikuti usul Baekhyun menambah peraturan tak boleh membawa minuman keras ke dalam studio.

"Chanyeol hyung, besok kita tak perlu mengantar ayah dan ibu sampai bandara. Kita bisa langsung ke tempat sidang."

Alis Chanyeol mengernyit dan terlihat jenaka dari sudut pandang Baekhyun. "Kau harus mengganti kesempatan mengantar ibu dengan meluangkan jadwal bulan depan untuk liburan ke Jeju."

Chanyeol tergelak dengan kedipan imut Baekhyun. "Kau menggodaku untuk mengajak bulan madu kedua, hm? Nakal!"

Baekhyun ikut tertawa, "Bukan itu maksudku, Chanyeol hyung!"

Mencubit kedua pipi Baekhyun gemas."Baiklah, aku akan mengirim pesan kepada MQ hyung sebentar." Kembali Chanyeol mengambil ponsel dan mengetik pesan pemberitahuan singkat.

Baekhyun terhenyak sebentar, mengingat sesuatu.

Chanyeol tak mempunyai baju ganti disini!

Kalau pakaian Baekhyun meski sudah diangkut Jihyun ke rumah baru, tadi ia sempat mengecek masih ada beberapa setelan. "Chanyeol hyung, kau mandilah dan aku ke kamar Kris oppa dulu untuk meminjam piyama."

Belum sempat berbalik, pergelangan Baekhyun ditahan menyebabkan ia menatap si pelaku dengan bingung.

"Tak perlu."

Baekhyun masih dalam mode kebingungan tapi sedetik kemudian langsung terperanjat karena kakinya tak menapak lantai, "Chanyeoool hyung!"

Chanyeol menggendong dan langsung merebahkan Baekhyun ke ranjang.

"Chanyeol hyung, kau belum mandi."

Sudut bibir Chanyeol berkedut, "Apakah aku bau? Kau tak mau aku sentuh, hm?"

"Bu-bukan itu." Baekhyun membuang pandangan ke arah lain, tak bisa mengelak. Aroma Chanyeol begitu maskulin dan tercium begitu memabukkan. Suara Chanyeol saja sudah membuat jantung Baekhyun berdetak tak tahu arah apalagi dengan sentuhan. Bisa membuat Baekhyun gila.

Satu hal lagi. Sama sekali tidak terpikir oleh Baekhyun akan melakukan hubungan intim di kamar yang telah ia tempati sejak kecil. Dirumahnya!

Chanyeol bergerak, menempatkan dirinya di atas dengan siku kiri sebagai tumpuan agar Baekhyun tidak tertindih.

"Park Chanyeol!"

"Iya—" Chanyeol mendekat ke telinga Baekhyun dan berbisik, "—suamiku."

Mendadak tubuh Baekhyun terasa meleleh. Entah Baekhyun belum terbiasa tapi Chanyeol selalu bisa mendengar panggilan mesra itu.

Melihat Baekhyun tersipu malu, Chanyeol tak tahan dan langsung mencium suaminya. Melesakkan lidah begitu Baekhyun membuka sedikit celah bibir. Lembut. Dalam. Mata terpejam menikmati alur permainan.

"Karena besok ada banyak agenda, aku tak akan memasukimu. Aku hanya butuh teman pelepasan."

Baekhyun tak bisa menjawab karena yang hanya bisa dikeluarkan hanyalah desahan. Ingin ia menggigit bibir tapi kalau ketahuan, Chanyeol akan kembali melahap bibirnya hingga bengkak.

Kulit meremang. Napas terengah. Udara menjadi panas dan lembab.

Di sela Chanyeol mencumbui leher Baekhyun, ia melepas tali pinggang Bathrobe dan menyibaknya. Berdiri dengan lutut, Chanyeol melepas kemeja dan celana yang ia kenakan. Melempar ke lantai. Dirinya yang telanjang, menatap berbinar Baekhyun yang masih memakai bathrobe terbuka.

Kulit putih mulus berhias nipple pink yang mengintip dari sisi pinggir bathrobe.

Dominan menggerakkan tangan menyentuh penis Baekhyun yang terlihat berkedut sudah setengah berdiri dan terlihat cairan putih di pucuk mengalir. Tak tahan, ia kembali menindih Baekhyun. Menyusuri leher Baekhyun dan menyesapnya. Menelusuri hingga ke nipple yang menggoda. Menggigit, menghisap dan memainkan dengan lidah yang sukses mampu membuat Baekhyun meraung.

Tangan bergerak memegang bagian selatannya yang sudah siap bertarung lalu menyatukan dengan penis Baekhyun.

Desahan Baekhyun semakin liar. Ia menarik leher Chanyeol, merangkul meminta Chanyeol menciumnya. Itu lebih baik daripada terus mendesah tak berdaya. Baekhyun merasakan kelembutan suaminya dalam setiap sentuh dan gerakan. Ia mengharap lebih.

"Enter me, Chanyeol hyung."

Saking terkejutnya mendengar lirihan Baekhyun, Chanyeol tak sengaja meremas penis keduanya terlalu kencang sampai Baekhyun tersedak.

"Ma-maaf." Chanyeol reflek melepas genggaman penis, terfokus mengelus penis Baekhyun selembut mungkin yang ia bisa karena merasa bersalah telah menyakiti suaminya. "Kita tak bawa lube, Baekhyun. Aku tak ingin menyakitimu."

"Chanyeol hyung, masukan saja. Tolong."

Rengekan beserta desahan Baekhyun seakan sukses meledakkan tembok pengendalian diri Chanyeol. Tertunduk mengenai dahi Baekhyun, Chanyeol berdesis, "Apakah kau punya body lotion?"

"Ughh Chan—" suara Baekhyun bergetar. Libodo meningkat semenjak Chanyeol terus saja mengelus penisnya.

"Iya, sayang."

"Sepertinya aku meninggalkan lotion di meja rias."

Chanyeol segera beranjak menuju meja rias, sedangkan Baekhyun yang telah lemas melirik sosok Chanyeol yang membaca label botol satu demi satu kebingungan mencari lotion. Sosok telanjang Chanyeol begitu seksi. Baekhyun langsung menutup wajahnya dengan bantal terdekat.

Memalukan. Sekarang ia menyadari seberapa mesum dirinya hingga penisnya kembali tegak.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol. "Kau sudah mengantuk?"

Buru-buru Baekhyun menyingkirkan bantal dan menggeleng. "Aku um malu," ucap Baekhyun ragu.

Chanyeol menggigit pipi Baekhyun gemas dan tertawa puas dengan ekspresi kesal suaminya. Melumuri telunjuk dan jari tengah dengan lotion, Chanyeol kembali ke posisi awal. "Jangan menyalahkanku jika besok kau kesulitan berjalan."

Jari Chanyeol mulai melakukan foreplay di lubang Baekhyun sebelum iya memasukkan kejantanannya perlahan. Penyatuan mereka sinkron. Tak terlalu terburu-buru saling mencari dan membagi kenikmatan. Akhir sebuah hari yang melelahkan adalah dalam pelukan terkasih.

o

ooOoo

o

o

o

o

Baru pukul delapan pagi, kediaman Byun sudah disibukan oleh persiapan keberangkatan Junki dan Jihyun. Persiapan mulai dari sarapan, barang bawaan hingga mobil sudah bertengger di depan pintu utama.

Jihyun yang pertama bangun memastikan tak tertinggal satupun barang.

"Nyonya Jihyun, apakah paper bag yang anda bawa juga dimasukkan ke bagasi?"

Jihyun menyentuh paper bag, "Tidak. Ini hadiah untuk Baekhyun."

Semalam Jihyun tak enak hati mengganggu anaknya beristirahat terlebih ada Chanyeol yang juga menginap. Bukan berarti Jihyun terganggu dengan keberadaan Chanyeol, malah ia membiarkan Baekhyun dan Chanyeol berdua.

"Ibu."

Jihyun menoleh ke arah Baekhyun yang berjalan hati-hati menapak tangga terakhir. Di sebelahan ada Chanyeol yang merangkul seolah Baekhyun akan tergelincir setiap melangkah.

Wanita itu melebarkan senyum. Melangkah mendekat dan memeluk Baekhyun. "Kau tidur dengan nyenyak, sayang?"

Sebenarnya Baekhyun meringis namun sudut bibir langsung terangkat membentuk senyum manis, "Iya, ibu." Tidurnya sangat nyenyak karna kelelahan.

"Ibu ada sesuatu untukmu."

Baekhyun menerima paper bag yang diberikan Jihyun dengan kening berkerut.

"Ini pakaian pria pertama yang ibu berikan untukmu."

Bibir Baekhyun bergetar tak mampu mengucap satupun kata. Air matanya kian menggenang.

Jihyun mengelus pipi sang putra begitu lembut dengan tatapan pilu penuh rasa bersalah. "Maaf ibu baru memberimu sekarang setelah kamu tumbuh dewasa. Maafkan segala keegoisan ibumu ini."

Air mata menetes, Baekhyun bergerak memeluk Jihyun. Dipeluk begitu erat. "Tidak, ibu."

"Ibu senang kau bisa menikah dengan pria baik hati seperti Chanyeol." Jihyun menoleh menatap Chanyeol yang setia di sanding Baekhyun dengan senyum lega. Tangan ringkih itu terulur menyentuh singkat lengan Chanyeol.

"Meski aku hanya pindah ke pulau yang berbeda, tapi aku tetap ingin berpesan. Tolong jaga anakku."

Tolong jaga putraku. Lanjut Jihyun dalam hati.

Terdengar suara langkah kaki mendekat, Jihyun melepas pelukan dan menangkup pipi sembab Baekhyu. "Jaga dirimu baik-baik, sayang."

Baekhyun mengangguk lalu memejamkan mata ketika Jihyun mengecup dahinya.

"Kalian melakukan perpisahan tanpaku?" Suara bass Junki menyela. Pria itu mendekat dan ikut mengecup kedua pipi Baekhyun. "Janji kau harus mengunjungi kami sambil menggendong momongan."

"Ayah, itu akan terlalu lama." Kris dan Sehun ikut meramaikan suasana.

"Aku yakin paling cepat bulan depan pasti Baekhyun akan mengunjungi kalian." Kris menggerakkan alis naik turun menggoda.

"Baekhyun kan anak mama." Sehun ikut menambahi sambil tangan jahilnya menarik ujung hidung bungsu.

Karena tidak terima, Baekhyun balas mencubit kedua pipi Sehun.

"Sehun! Jangan bersikap kekanakan. Cepat sarapan," Sooyoung menghardik putranya.

Baekhyun langsung berdiri tegap, sebaliknya Sehun yang tahu ketegangan yang Baekhyun rasakan malah merangkul lebih erat. "Mama, aku hanya melakukan perpisahan dengan adik kesayanganku."

Putra ke dua Byun memutuskan ikut Junki dan Jihyun ke Jeju selama tiga hari. Meskipun dari sikap Sehun terlihat seperti anak yang pembangkang dan cuek, tapi sebenarnya Sehun sangat sayang kepada Junki dan Jihyun.

"Lebih baik kau cari calon istri dari pada buang-buang waktu di Jeju."

"Sudah-sudah. Ayo semua sarapan." Junki menggelengkan kepala. Ada-ada saja di hari keberangkatan malah bertengkar.

Mereka bertiga meninggalkan rumah satu jam kemudian, disusul Baekhyun dan Chanyeol juga langsung pergi.

Duduk di kursi depan di samping supir, Sehun pura-pura bermain ponsel. Menajamkan pendengaran berusaha menangkap pembicaraan Junki dan Jihyun yang berbisik di kursi belakang.

"Jihyun, maaf aku tadi tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Baekhyun. Tapi aku penasaran dengan apa maksudmu memberi hadiah baju pria pertama untuk Baekhyun? Untuk apa Baekhyun memiliki baju pria?"

Pertanyaan Junki membuat Sehun dan Jihyun membatu. Jantung berdebar gugup.

Haruskah aku mengalihkan perhatian? Sehun berusaha mencari ide.

"A-ah itu untuk Chanyeol." Sangkal Jihyun, namun langsung dibantah Junki telak.

"Tidak. Aku sangat yakin kau jelas bilang jika baju itu adalah hadiah untuk Baekhyun."

Sehun mendesis. Kali ini mungkin bukan situasi tepat untuk dia ikut campur. Untung saja dia ikut ke Jeju meski hanya beberapa hari.

"Bisakah kita membicarakan ini saat kita sudah sampai di jeju, oppa?" Jihyun memilih jalan tengah. Dulu memang Jihyun sudah ingin menceritakan segalanya, tapi di saat Junki sibuk akan pelepasan perusahaan sekiranya Jihyun tak ingin menambah pikiran Junki. Setidaknya ia bisa mendapat waktu untuk mengumpulkan keberanian.

Raut pucat Jihyun membuat Junki menyesal, "Maaf aku memaksamu." Ia genggam telapak tangan Jihyun dan menggenggam erat.

"Tidak. Cepat atau lambat kau memang harus mengetahuinya." Senyum lemah Jihyun torehkan. Sepertinya ini memang kesempatan baik karena semakin lama ia mengulur waktu, bebannya akan kian menggunung.

o

ooOoo

o

o

o

o

Di sela kebisingan dan keramaian kota Seoul, Chanyeol dan Baekhyun menyempatkan waktu ke mall untuk membeli baju ganti untuk Chanyeol, menghemat waktu daripada pulang ke rumah yang masih jauh.

Tak lelah menarik sudut bibir dengan mata berbinar bahagia, Baekhyun terlebih dulu telah berganti baju dengan hadiah pemberian Jihyun. Jemari tak jemu mengelus fabric kain lembut yang tengah ia pakai.

Tema hari ini mereka mengenakan pakaian casual. Baekhyun dengan hoodie, jeans dan sneakers. Chanyeol dengan long-coat, kaos turtleneck, jeans dan pantofel.

Keduanya berjalan dengan tangan tertaut mengabaikan jika sekarang sedang di kantor polisi dan banyak mata yang tertarik menatap mereka. Chanyeol menelpon Kesper untuk menjemput di depan pintu kantor polisi.

Koreografer itu langsung terperangah begitu berhadapan dengan Chanyeol dan Baekhyun. "Kalian mau kencan?"

"Banyak tanya! Cepat antar ke ruangan interogasi."

Baekhyun terkikik melihat Kasper yang langsung berjengit langsung balik badan menjalankan perintah Chanyeol.

Memasuki sebuah ruangan interogasi, Baekhyun mengikut di belakang Chanyeol. Tak tahu harus berbuat apa, terlebih situasi ini membuatnya tak nyaman berada di tengah banyak orang yang tak ia kenal.

Memberanikan diri ia melihat sekeliling, syaraf motoriknya mendadak mati saat mendengar suara yang tak asing di pendengaran.

"Byun Baekhyun?"

Chanyeol sigap menoleh ke arah Baekhyun. Ia terkejut mengetahui jika tersangka mengenali suaminya tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah saat melihat wajah pucat Baekhyun.

"Kau mengenalnya?"

ooOoo

o

o

TBC

o

o

ooOoo