[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Hari Minggu, pada pukul 08.15, Park Serim datang ke sekolah. Teman sekelasnya bilang akan berkumpul di halaman, jadi Serim menunggu teman-temannya sembari duduk di bawah pohon rindang. Barang bawaannya yang berat itu dia seret pula bersamanya.
Serim pikir dirinya sudah cukup terlambat. Walaupun rencananya akan berkumpul pukul 08.30, namun biasanya orang-orang akan datang 30 menit sebelumnya, atau 15 menit sebelumnya. Jadi begitu sampai di sekolah, Serim pikir teman-temannya banyak yang sudah datang.
Kemudian Serim mengecek ponselnya. Tidak ada satu pun pesan dari teman sekelasnya. Group chat sepi, jadi Serim pikir semuanya sudah dalam perjalanan. Taeyong biasanya akan menjemput Ten dulu bersama Jaehyun, jadi mungkin ketiganya akan sedikit terlambat. Lalu, rumah Seulgi sedikit jauh, dan dia biasanya naik kereta, jadi mungkin anak itu juga sedikit terlambat.
Meski dia berpikir seperti itu, namun dalam hatinya Serim merasa was-was. Saat ini posisinya adalah Joker, alias target bullying. Ada kemungkinan semua ini hanya untuk mem-bully-nya. Bisa jadi semuanya sudah berangkat dan mereka langsung ke sungai Han, dan mereka akan menyuruhnya untuk menyusul kesana. Atau yang terburuk, semuanya tidak akan datang.
Tidak. Ini hari Minggu, dan karena mereka tidak ada kelas, jadi permainan akan dihentikan untuk sementara. Tidak akan ada kasta dan bullying di hari Minggu, jadi pasti semuanya akan datang.
Benar. Tidak ada permainan di hari Minggu.
Ponsel Serim berbunyi, ada pesan masuk di group chat. Dari Mingyu; aku tidak bisa datang, ada rapat pukul 09.00 nanti.
Serim mengecek jam, sudah pukul 08.50. Dia sudah menunggu selama setengah jam lebih, dan belum ada yang datang. Seharusnya semuanya sudah berkumpul di sini. Tetapi Mingyu tidak bisa datang karena rapat –dan rapatnya dimulai pukul 09.00. Ah, tentu saja. Mingyu adalah anak dari seorang pengusaha terkenal, jadi pastilah dia mengikuti ayahnya untuk rapat dimana-mana.
Lalu, Serim tetap menunggu. Tidak mungkin teman sekelasnya sekejam itu dan membatalkan janjinya. Mungkin mereka hanya sengaja terlambat dan membuat Serim menunggu sedikit lebih lama. Benar, kemungkinan mereka hanya membuatnya menunggu.
Kemudian ponsel Serim kembali berdering. Serim harap-harap cemas, semoga pesan kali ini dari seseorang yang mengabarkan bahwa dia sedang dalam perjalanan.
Dari Bobby; kurasa aku tidak bisa datang, di rumah hanya ada aku, disertai sebuah foto. Seorang anak perempuan yang mirip Bobby sedang tidur dengan sebuah kompres di dahinya. Sebuah baskom berisi air terletak di meja nakas.
Adik Bobby sakit. Bobby harus mengurus adiknya. Ini sudah pukul sembilan lebih.
Serim kembali memperhatikan group chat. Tidak ada yang membalas pesan dari Mingyu maupun Bobby –biasanya teman-temannya akan saling membalas pesan, namun kali ini tidak ada balasan. Mungkin semuanya memang sedang tidak sempat memegang ponsel –sedang dalam perjalanan kemari, perkiraan Serim begitu. Lalu untuk Mingyu, dia sedang rapat, dan Bobby sedang mengurus adiknya.
Akhirnya Serim menunggu sembari bermain ponsel. Memang tidak ada yang menarik di sana, karena dia masih was-was menunggu teman-temannya yang bahkan sampai sekarang belum datang. Pikiran-pikiran negatif tentang kemungkinan terburuk rencana jalan-jalan kelas kali ini terus menghantuinya, bahkan dia sampai berpikir lebih baik pulang dari pada menunggu tidak jelas di sini, bahkan belum tentu teman-temannya datang.
Tetapi, Serim pikir, bisa jadi setelah dia pulang, teman-temannya akan muncul dan protes padanya karena dia yang meninggalkan semuanya. Dan setelah itu bullying yang dilakukan teman-temannya akan makin buruk –Serim tidak mau. Jadi, lebih baik menunggu lama di sini dari pada bullying-nya bertambah parah.
Lagipula, dia sudah susah payah membeli beberapa permainan itu karena dia tidak memilikinya –sedangkan teman-temannya menyuruhnya untuk membawa semua permainan yang ada di daftar. Mau tidak mau Serim harus mengambil sedikit uang dari tabungannya dan membeli permainan yang tidak dia punya. Jadi, Serim tidak mau kalau sampai acara ini batal.
Beberapa menit kemudian, kembali ada pesan masuk di group chat. Kali ini dari Seulgi; maaf semuanya, aku harus membantu ibuku mengurus sesuatu. Gadis itu juga melampirkan sebuah foto –tumpukan besar kertas, dan di depan kamera itu ada selembar kertas ujian yang sudah dicoret-coret menggunakan spidol merah. Sebuah spidol merah yang tutupnya terbuka ada di sebelah lembar ujian yang sedang dikoreksi.
Seulgi tidak bisa datang karena membantu ibunya mengoreksi lembar ujian. Ibu Seulgi adalah seorang guru di sebuah SMA Swasta yang konon adalah salah satu dari lima SMA Swasta terbaik tingkat nasional –SM School of Performing Arts adalah SMA Swasta terbaik.
Jadi, pantas saja sedari tadi Seulgi tidak bisa memberi kabar. Ternyata anak itu sedang sibuk membantu ibunya.
Serim mengecek jam dan matanya membulat begitu tahu ini sudah pukul 09.15. Dia sudah menunggu selama satu jam di sini, dan belum ada satu pun orang yang datang. Pikiran buruk tentang teman-temannya yang tidak akan datang dan membuatnya menunggu berjam-jam di sekolah makin menjadi. Hatinya berkata bahwa kemungkinan itu benar, namun masih ada kemungkinan bahwa semuanya akan mengerjainya dengan datang sangat terlambat. Kalau mereka akan datang terlambat sedangkan dia pulang, mungkin bullying-nya akan makin buruk.
Gadis itu menghela nafas panjang dan kembali duduk dengan tenang. Dia harus sabar –ini memang resikonya sebagai Joker yang selalu di-bully.
Tidak lama kemudian, ponsel Serim kembali berbunyi. Dari Irene; aku diculik, katanya dengan melampirkan sebuah foto dirinya yang sedang berada di dalam mobil dengan ayahnya yang menyetir di sampingnya. Tidak lupa Irene memberi emoji menangis di pesannya.
Helaan nafas kembali keluar. Irene tidak akan datang karena ayahnya memaksanya untuk ikut kunjungan kerja ke suatu tempat –dia tahu ayah Irene sangat tegas dan suka memaksa Irene ke acara-acara formal. Ayah Irene tidak jauh berbeda dari ayah Mingyu, hanya saja ayah Irene lebih sering memaksa anaknya untuk ikut bersamanya dari pada menawarkan anaknya untuk ikut secara sukarela.
Serim benar-benar ingin segera pulang, karena rasanya menunggu pun percuma. Setelah pesan dari Irene masuk, pikiran tentang acara yang akan batal karena banyak yang tidak datang pun menguasainya, dan dia makin yakin akan hal itu. Namun kembali pikiran tentang dirinya yang akan di-bully dengan lebih parah kembali datang, membuatnya kembali duduk dan menunggu di sana.
Tidak lama setelah pesan Irene masuk dan Serim yang menunggu dengan sabar, kembali ponsel Serim berdering. Kali ini dari Yoongi, sebuah foto pintu ruang operasi dan pesan singkat; tidak bisa datang.
Yoongi tidak memberitahu siapa anggota keluarganya yang sakit dan sedang dioperasi, karena setahu Serim, keluarga Yoongi tidak ada yang sakit parah. Namun sepertinya Yoongi tidak akan datang –ya, anggota keluarganya sedang sakit parah, tidak mungkin Yoongi setega itu meninggalkannya dan lebih memilih datang ke acara piknik kelas, kan?
Helaan nafas lelah keluar dari mulut Serim. Dia benar-benar lelah menunggu, dan dia sudah tidak peduli sudah berapa lama dia duduk layaknya orang bodoh di sini. Saat ini dia hanya ingin pulang.
Beberapa pesan masuk ke ponselnya dengan selang waktu yang tidak sebentar, dan Serim membacanya dengan sabar. Jungkook berkata bahwa dia harus menjaga toko roti keluarganya, Taehyung tidak bisa datang karena dia harus membantu kakaknya mengurus laporan, Doyoung sedang menghadiri acara pemakaman, dan Taeil sedang sakit.
Serim hampir menangis. Nafasnya mulai sesak dan matanya menghangat, tidak percaya teman-teman sekelasnya melakukan hal ini padanya. Dia sudah menunggu lebih dari dua jam di tempat ini, dan teman-temannya tidak bisa datang. Dia yakin sekali acara ini pasti batal, dan mereka membuat acara ini untuk menjahilinya. Namun Serim sudah sangat sabar dan lebih memilih menunggu mereka di sini karena dia masih berharap teman-temannya akan datang, kurang sabar apa dia?
Ponsel Serim kembali berdering. Pesan dari Jaehyun; sebuah foto dimana Taeyong sedang duduk di kursi kerjanya, tertidur di meja kerja dengan tumpukan dokumen yang sangat banyak. Pesannya; Tuan Muda tidak tidur semalaman.
Tidak ada satu menit, Ten mengirim pesan; ibu datang mengunjungiku.
Serim menarik nafas panjang, menahan air matanya yang akan jatuh. Dia merasa sangat kesal, kecewa, dan sedih. Bagaimana bisa teman-temannya berbuat hal yang sangat kejam seperti ini? Menunggu lebih dari dua jam di tempat yang sama bukanlah yang mudah –berkali-kali dia ingin pulang, namun pikiran tentang bullying-nya yang akan bertambah parah menghantuinya, membuatnya bertahan di sini menunggu teman-temannya memberi kejelasan. Dan setelah semuanya, inilah yang dia dapat.
Ini benar-benar menyakitkan.
Setetes air mata jatuh, membasahi layar ponselnya. Serim tidak bisa menahannya lebih lama, dia melepaskan semuanya. Ini belum sebulan, dan dia sudah merasa tidak akan sanggup menjadi Joker untuk setahun penuh.
Tidak ada teman sekelasnya yang memintanya untuk pulang. Tidak ada satu pun yang memikirkannya. Tidak ada yang peduli padanya.
Di sana, Serim menangis sendirian.
Aku harus pulang. Gadis berambut cokelat madu berdiri, membawa barang-barangnya dengan susah payah. Beberapa langkah setelah dia meninggalkan pohon tadi, seseorang menghampirinya. Menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Serim-a, apa yang kau lakukan hari Minggu begini di sekolah?"
Wajah sembab diangkat, menatap laki-laki berambut nyentrik di depannya. Kemudian, tanpa menjawab pertanyaan Jeonghyun, Serim menghambur ke pelukan Floater berambut hijau tosca tersebut. Serim menangis di sana, merasa tidak akan sanggup menjadi Joker untuk setahun ke depan. Baru sebentar saja sudah begini, apalagi setahun? Serim tidak ingin membayangkannya.
Sedangkan Jeonghyun, hanya diam membiarkan Serim menangis. Bahunya terasa basah, namun itu tidak masalah. Rasanya Serim memang butuh menangis untuk sekarang.
Tangan Jeonghyun terangkat, kemudian mengusap lembut kepala Serim. Laki-laki itu mengeluarkan kata-kata penenang untuk Serim, berharap bisa mengurangi beban gadis itu. []
.
.
.
cie nggantung. wkwkw
