SEMOGA SUKA. DITUNGGU VOTE AND KOMENTARNYA. JANGAN LUPA BACA NOTE AUTHOR!
.
.
.
~ Noona ~
Happy Reading Guys...
~Percayalah Typo Merupakan Karya Terindah~
Chanyeol baru saja mengantar Baekhyun ke depan Rumah sakit. Pemuda itu memaksa mengantar Baekhyun meski Baekhyun sudah menolak berkali-kali.
Tentu saja Baekhyun menolak, ia tak mau merepotkan Chanyeol yang tengah di rawat. Yeah, walau Chanyeol memang sudah melepas selang infus nya, dan besok ia juga sudah di izinkan pulang. Pemuda itu sudah sehat-sehat saja. Tinggal penyembuhan luka di tangannya.
Pemuda itu berjalan santai dengan piyama Rumah sakit yang masih di pakainya. Sesekali ia mengecek ponselnya sambil bersenandung pelan mengusir rasa bosan.
Klik
Pintu kamar VIP tempatnya dirawat ia buka tanpa merasa curiga.
Tapi setelah ia masuk kedalam kamar VIP itu, Chanyeol mendadak menjadi seperti manekin.
Diam mematung menatap seseorang yang sudah sangat sangat lama tak ia lihat. Seseorang yang sudah sangat lama tak bertemu dengannya.
Mungkin... Sekitar 3 atau 2 tahun?
Chanyeol tak ingat. Karena ia berusaha tak mengingatnya sejak hari itu. Sejak hatinya patah hati. Sejak cinta nya kandas tak sempat di ungkapkan.
Mati-matian ia berusaha melupakan orang yang kini berdiri di hadapannya. Dengan rasa sakit di hatinya, ia berusaha melupakan seseorang itu.
Namun sekarang, orang yang justru ia lupakan itu sekarang datang padanya. Tanpa merasa berdosa, seseorang itu tersenyum manis padanya dan menyapanya.
Seolah dia tak memiliki salah apapun pada Chanyeol. Karena, orang itu dulu tidak tahu jika Chanyeol terluka karena dia.
"Hai Chanyeol!" Sapa Seohyun, yang tengah berdiri seraya tersenyum pada Chanyeol.
Chanyeol tak merespon, ia masih menetralkan debaran Jantung nya karena kaget. Dengan pelan dan kesusahan, Chanyeol membuka bibirnya untuk membalas sapaan Seohyun.
"Hai, Noona!" Chanyeol masih diam didekat pintu, dengan tangan yang memegang ponselnya dan pintu yang belum tertutup.
Seohyun tertawa pelan melihat raut wajah kaget Chanyeol. Wanita itu lalu berjalan mendekati Chanyeol, dan memeluk Pemuda itu tanpa perlu meminta Izin Chanyeol terlebih dahulu.
"Kau sudah besar rupanya. Lama kita tidak bertemu. Kau tahu Chanyeol aku sangat merindukanmu!" Seohyun masih memeluknya saat mengungkapkan rasa kerinduannya itu.
Sedang Chanyeol mengerjap berkali-kali saat mendengarnya. Kaget, jelas saja dia kaget.
"Tanganmu sudah membaik? Aku tahu dari Paman Xi kalau kau sakit dan di rawat disini!" Seohyun melihat tangan Chanyeol yang diperban "Kau belum mengganti perbannya?" Chanyeol menggeleng, Seohyun tersenyum "Duduklah! Aku akan mengganti perbannya."
Dengan telaten, Seohyun mengganti perban di lengan Chanyeol. Mengobati luka itu, dan kembali membungkusnya dengan perban. Selama ia mengobati dan membungkus lengan Chanyeol dengan perban, Seohyun menahan rasa geli melihat wajah Chanyeol yang seakan baru saja melihat hantu.
Chanyeol bahkan terus menatap Seohyun tak berkedip. Dan saat Seohyun menatapnya balik, Pemuda itu terbatuk.
Sial, ia ketahuan diam-diam memandangi Seohyun.
"Apa kau masih tak percaya ini aku?" Seohyun berdecak, lantas menggeleng.
"Kenapa Noona ada disini? Bukankah Noona di Amerika?!" Chanyeol tak lagi memandangi Seohyun.
Tapi sesekali ia melirik Wanita itu melalui ekor matanya. Menunggu jawaban dari Wanita yang dulu pernah sangat di Cintai nya itu.
Seohyun tersenyum tipis. Bukan sebuah senyuman kebahagian, bukan pula senyuman karena lucu mendengar pertanyaan Chanyeol.
Wanita itu tersenyum seolah menertawakan dirinya sendiri.
Suasana di ruangan itu mendadak sepi. Seohyun tak menjawab pertanyaan Chanyeol, Wanita cantik dengan Jas Dokternya itu memilih diam dan pokus menyelesaikan pekerjaannya pada lengan Chanyeol.
Setelah selesai mengobati dan mengganti perban Chanyeol, wanita itu lantas duduk disamping Chanyeol.
"Seharusnya aku sudah kembali sejak dulu." Seohyun mulai bercerita "Tapi, aku belum punya keberanian untuk kembali saat itu." Seohyun menatap Chanyeol yang duduk disampingnya "Sekarang, aku tak akan se-takut dulu, tak akan selemah dulu, dan tak akan diam saja seperti dulu. Aku pulang, aku kembali, aku disini untuk menemui orang yang aku Cintai." Senyumnya ter-ulas cantik.
Chanyeol mendadak diam menatap Seohyun yang tersenyum cantik ke arahnya. Detakkan jantungnya semakin menggila, dan ia merasa aneh kala mendengar ucapan Wanita itu.
Seakan, Seohyun baru saja menyatakan Cinta padanya?
Entah sadar atau tidak, Chanyeol hanya terus memandangi Seohyun. Sampai wanita itu berlalu dari hadapannya untuk pamit pergi, Chanyeol masih setia memandangi Seohyun.
Suara dering di ponselnya tak cukup menyadarkan Chanyeol dari keterkejutannya.
Ia terkejut mendengar ucapan Seohyun.
Ia tak mengerti akan ucapan Seohyun, tapi ia juga begitu penasaran dengan seseorang yang Seohyun Cintai.
Chanyeol tak mengharap orang yang dicintai Seohyun adalah dirinya. Karena bagaimanapun, rasa cintanya untuk wanita itu sudah lama terkikis oleh waktu, dan tergantikan oleh dia.
Dia yang kini mengisi hatinya.
Chanyeol hanya cemas dan takut jika dengan kehadiran Seohyun, bisa mengganggu hatinya, yang akhirnya nanti berpotensi merusak hubungan dirinya dan Baekhyun, kekasihnya.
Chanyeol tak ingin goyah. Hatinya ingin ia berikan pada Baekhyun. Ia ingin Baekhyun menjadi menjadi pemilik hatinya, selamanya.
-o0o-
"Tapi yang kutahu, Seohyun Noona tidak tahu kalau Chanyeol menyukainya." Ucap Jongin.
Jongin, Sehun dan Luhan sudah didalam mobil. Mereka sudah selesai berbelanja dan nongkrong sebentar di cafe. Kini mereka tengah dalam perjalanan kembali ke Rumah Sakit.
Jika saat berangkat Jongin dan Luhan bertengkar, maka sekarang berbeda. Mereka sudah kembali akur, dan bahkan tengah berunding bersama demi membahas sesuatu yang kemungkinan berpotensi menjadi sebuah masalah untuk sahabat mereka, Chanyeol.
Seohyun.
Wanita itu kini yang menjadi topik pembicaraan mereka bertiga.
"Kau yakin? Lalu untuk apa dia kembali?" Luhan kembali duduk ditengah seperti saat awal mereka pergi.
Kali ini tak akan ada keributan dengan Jongin, jadi Sehun tak perlu hawatir Luhan dan Jongin akan saling jambak bahkan saling tampar sekalipun.
"Ya mungkin Seohyun Noona pulang karena sudah bosan di Amerika. Bukankah Seohyun Noona berkuliah disana?" Kali ini Sehun ikut berbicara.
Luhan menghela nafasnya. Menatap kekasihnya yang sama sekali tak peka dengan keadaan saat ini.
"Yeah dia memang berkuliah disana, lalu kenapa kembali sekarang setelah sekian tahun dia tak pulang dan bahkan sekarang dia tiba-tiba perhatian pada Chanyeol? Selama di Amerika, ia tak pernah sekalipun memberi kabar pada Chanyeol. Padahal dulu mereka sangat dekat." Luhan menggeleng "Jiwa Wanita-ku bergelora. Sebagai sesama wanita, aku merasa takut jika dia kembali untuk mengganggu Chanyeol dan Baekhyun Eonni." Luhan mengibaskan tangannya "Aku lebih peka dari siapapun disini. Aku harap kalian berdua membantuku mengamankan Chanyeol dengan Baekhyun Eonni dari Seohyun Eonni."
"Mereka berdua bukan Hewan buas Lulu, untuk apa harus di amankan!" Sehun mendapat cubitan manis di perutnya setelah berkata seperti itu "Ahh ahh sakit Lulu!"
"Aku serius Oh Sehun. Jangan bercanda di saat seperti ini!" Murka Luhan seraya menatap tajam Kekasihnya.
"Pemilihan katanya kurang tepat Lulu!" Sehun mencubit pipi Luhan "Harusnya Lulu bilang, 'Kalian berdua harus membantuku menjauhkan Seohyun dari Chanyeol, agar hubungan Chanyeol dan Baekhyun baik baik saja.' begitu lebih bisa dimengerti!"
"Ya terserah! Pokoknya begitu!" Luhan berpangku tangan.
Kedua pasangan kekasih itu berdebat, sementara Jongin kembali di abaikan. Sehun dan Luhan baru sadar masih ada Jongin disana, ketika Pemuda berkulit Tan itu ber-dehem cukup keras.
Kedua orang itu melirik Jongin yang ber-dehem dan terbatuk-batuk cukup keras.
"Kau sakit Jongin? Kenapa kau tak ikut dirawat seperti Chanyeol kalau kau sakit." Luhan menepuk nepuk punggung Jongin seakan Jongin tengah tersedak.
"Sakit Luhan, hentikan!" Jongin tak habis dengan jalan pikiran Luhan.
Gadis itu mengatakan jika ia yang paling cepat tanggap diantara mereka bertiga, tapi lihat sekarang.
Ia ter-batuk kan hanya untuk menyadarkan Luhan dan Sehun jika ada dirinya disamping mereka. Begitu saja Luhan tak sadar, tapi dengan percaya diri mengatakan jika dia yang paling cepat tanggap.
Entah siapa yang bodoh diantara mereka bertiga, Jongin tak tahu dan tak mengerti.
"Bukankah Minho Hyung dulu kekasih Seohyun Noona?" tanya Sehun yang diangguki Luhan dan Jongin "Nah... mungkin saja dia kembali untuk bertemu Minho Hyung!"
Jongin dan Luhan saling menatap satu sama lain, lalu kembali menatap Sehun, dan kemudian menunduk seraya memegang kepala mereka masing-masing.
Sehun yang melihat mereka berdua hanya bisa melongo.
'Kedua orang bodoh ini! Ckckckck.' Gerutunya dalam hati.
Untung dalam hati, jika ia ucapkan secara langsung, sudah pasti Luhan tak akan memaafkannya begitu saja karena telah mengatakan Luhan Bodoh.
Kalau Jongin sih tak perduli mau marah atau tidak. Mereka sudah sering meledek Bodoh dan Tolol satu sama lain, jadi... sudah Sehun sudah terbiasa.
"Yang aku tahu dia sudah putus dengan Minho Oppa hampir dua tahun yang lalu. Itu sudah sangat lama, aku tak yakin Seohyun Eonni kembali untuk Minho Oppa!" Luhan menggeleng, Jongin membenarkan ucapan Luhan.
"Minho Hyung bahkan sepertinya sudah melupakan Seohyun Noona. Aku mendengar kabar jika orang tua nya sudah mengatur perjodohan untuk Minho Hyung. Dan wanita itu berprofesi sama dengan Seohyun Noona, seorang Dokter." Ujar Jongin setelah mengingat kembali obrolan Ayah dan Ibu-nya malam itu, saat mereka makan malam.
Orang tua nya tentu tahu, mengingat mereka dari ruang lingkup yang sama, pebisnis. Dan berita dari kalangan pebisnis itu akan cepat sekali menyebarnya.
Ada untungnya Jongin saat itu mendengarkan kedua orang tua nya yang sedang bergosip. Info itu sangat berguna untuk saat ini.
"Benarkah? Kenapa aku belum mendengar kabar itu?" Luhan berpikir cukup keras, sepertinya ia melupakan sesuatu. Tapi ia sendiri lupa entah apa itu.
"Kita lihat saja dulu apa yang akan di lakukan Seohyun Noona. Kalau misalkan keberadaan dia membahayakan hubungan Chanyeol dan Baekhyun Noona, baru kita bertindak!" Sehun memberi saran.
Karena bagaimanapun juga, sebaiknya mereka membiarkannya terlebih dulu. Tak baik berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum tentu benar.
Sehun sudah sering menonton Drama, dan banyak sekali yang bisa ia pelajari dari Drama-drama yang ia tonton.
Contohnya saat ia menonton salah satu Drama yang ceritanya mirip seperti keadaan Chanyeol saat ini. Dan ia masih ingat jika orang ketiga yang semua orang pikir jahat, sebenarnya tidaklah jahat.
Dan tidak semua cinta pertama si pemeran utama yang hadir kembali, berpotensi menghancurkan hubungan si pemeran utama dimasa depan.
Terkadang, hal yang kita pikir benar itu belum tentu benar.
"Tentu, kita biarkan dulu untuk saat ini." Luhan mengangguk "Ah kita sudah sampai!" Luhan berseru saat ternyata mereka sudah memasuki gerbang Rumah Sakit milik Ayahnya.
Jongin yang membeli beberapa barang yang dibayar oleh Luhan, membawa semua miliknya agar tak tertinggal satupun didalam Mobil Luhan. Karena jika sudah terbawa kembali ke Rumah Luhan, ia tak akan bisa kembali berjumpa dengan semua barangnya itu.
Barang yang sudah dibelikan Luhan namun tertinggal didalam Mobil Luhan, tidak akan bisa diambil lagi. Kata Luhan, itu sudah otomatis menjadi miliknya. Jadi sekarang, Jongin lebih baik kerepotan sendiri daripada nanti tidak jadi di traktir Luhan hanya karena belanjaannya tertinggal didalam Mobil Luhan.
Kalau punya Sehun sih, tidak apa-apa tertinggal juga. Toh Luhan kan kekasih Sehun. Jadi pengecualian untuk Sehun seorang.
"Kalian seperti Ahjumma saja dengan semua belanjaan itu!" komentar Luhan yang melihat Sehun yang membantu Jongin membawa beberapa kantung belanjaan milik Jongin.
"Kau yang membuat peraturan konyol mu itu. tentu saja aku tidak mau mengulangi kejadian kehilangan T-shirt Gucci-ku yang tidak jadi kau belikan dulu!" Jongin berlalu, pergi lebih dulu meninggalkan Sehun dan Luhan.
Sementara kedua orang itu kemudian tertawa kala mengingat kejadian Jongin yang menangis, karena T-shirt Gucci yang di traktir Luhan, ketinggalan di dalam Mobil Luhan. Dulu Luhan langsung memakainya, jadi tentu saja Jongin tak bisa memaksa minta di kembalikan.
Jongin tak mau memakai bekas Wanita, jadi akhirnya dia hanya bisa menangis meratapi T-shirt Gucci nya yang tak jadi menjadi miliknya.
"Sehun-ie, pokoknya besok harus pergi ke Sekolah ya!" Luhan kembali merayu Sehun agar mau masuk Sekolah besok. Karena ia benar-benar kesepian tanpa kehadiran Sehun.
Mereka berjalan pelan seraya mengobrol, sementara Jongin sudah tak terlihat. Sepertinya sudah masuk kedalam lift yang menuju lantas tiga tempat Chanyeol di rawat.
Luhan sengaja berjalan pelan dengan tangan yang bergelayut mesra ditangan Sehun. Tentu saja dia sedang pamer saat ini.
-o0o-
Baekhyun yang tengah mengecek Laporan Gudang yang baru saja diberikan bagian Staff Gudang padanya, harus menganga tak percaya kala Kris kembali menumpukan beberapa pekerjaan di meja-nya.
"Kau periksa ya Baekhyun, aku harus pergi!" Kris melirik Jam ditangannya.
Pukul 10, dan ia sudah ada janji untuk bertemu dengan seseorang di jam 11. Lelaki itu berbalik dan bersiap pergi setelah memberikan pekerjaannya untuk dikerjakan Baekhyun.
"Tapi Bos- aku masih harus memeriksa Laporan dari Gudang, belum Laporan Keuangan, Laporan dari bagian Pemasaran. Bos kau..."
"Kerjakan Baekhyun, atau aku akan menghasut paman Siwon agar memecat mu jadi calon menantu-nya. Kau mau?" Kris tertawa puas setelah melihat Baekhyun yang diam tak berkutik "Jadilah menantu yang baik, Baekhyunie!" setelahnya Kris berlalu dengan tawa-nya yang menggelegar.
Membiarkan Baekhyun yang akhirnya berteriak frustasi karena harus mengerjakan semua berkas yang menumpuk itu.
"Ya Tuhan, semoga anak-ku nanti tidak semenyebalkan dan se-botak dia!" ucapnya seraya mengelus perutnya seolah Wanita itu tengah mengandung.
Padahal Baekhyun tidak hamil.
Baekhyun kembali memandangi tumpukan dokumen itu. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, ia sangat ingin sekali membakar kertas-kertas itu jika saja tidak akan membuatnya dipecat. Baekhyun menggeleng, ia tak mau dipecat, ia tak mau jadi gelandangan di Kota Seoul.
Dan di pecat jadi calon menantu Siwon, adalah sesuatu yang sangat buruk.
Baekhyun menghela nafas cukup panjang. Karena tak ada Kris, akhirnya ia memilih untuk menyalakan speaker bluetooth miliknya lalu memutar lagu Exo – Obsession. Lagu itu setidaknya bisa mengobati Baekhyun dengan rasa jengkelnya terhadap Kris.
"Tenang Baekhyun, semua ini akan cepat selesai jika kau mengerjakannya dengan segera. Semangat!" dan Baekhyun akhirnya kembali memeriksa Laporan Gudang yang belum selesai ia periksa.
Ia harus bergerak cepat dan teliti, karena berkas yang Kris berikan untuk ia kerjakan harus segera ia periksa. Si botak Kris itu pasti akan menanyakan nya besok pagi.
Baekhyun sudah hapal penyiksaan dari Kris yang tak pernah sekalipun bisa ia tolak, karena Kris tetaplah Bos-nya. Sekalipun Lelaki itu adalah Sepupu dari kekasihnya sendiri.
Lantunan lagu dari Boyband Exo itu menjadi teman Baekhyun mengerjakan pekerjaannya.
Karena tak ingin mengambil resiko pekerjaan yang Kris berikan belum selesai besok, jadi Baekhyun mengambil berkas yang Kris perintahkan untuk ia kerjakan. Mengerjakan berkas-berkas itu terlebih dahulu sebelum menyelesaikan Laporan-laporan yang harus ia kerjakan.
Baekhyun mengerjakan pekerjaannya dengan teliti. Sampai saat jam makan siang tiba, ia memilih memesan makanan ke ruangannya. Makan seraya mengecek dokumen-dokumen yang sisa setengahnya lagi yang harus ia periksa.
Tidak salah perusahaan LY merekrut Baekhyun menjabat sebagai Sekretaris CEO. Karena Wanita itu benar-benar bisa di andalkan dalam pekerjaannya. Cepat, teliti, dan cerdas. Baekhyun menjadi andalan perusahaan LY, dan dapat Kris rasakan hasil kinerja Baekhyun. Wanita itu lebih baik dari Sekretarisnya yang dulu.
"Chanyeol sedang apa ya?" gumamnya seraya merentangkan tangannya yang terasa sangat pegal.
Ia raih ponselnya untuk menghubungi Chanyeol di sela-sela waktu istirahatnya. Senyum Baekhyun mengembang kala Chanyeol mengangkatnya dengan cepat.
"Halo Noona!" sapa Chanyeol di sebrang sana.
"Kau sedang apa? Sudah makan?" Baekhyun bertanya sambil menyuapkan makan siangnya.
"Baru saja selesai." Terdengar bunyi seseorang menutup pintu.
"Dengan siapa kau disana?" Baekhyun menunggu dalam diam.
Ia rasa Chanyeol tak sendirian disana.
"Mmmmm, bersama seorang teman."
"Siapa?"
Ada hening beberapa detik saat Baekhyun bertanya pada Pemuda itu. Di detik ke 30, Chanyeol menjawab dengan santai nama temannya.
"Seohyun. Teman sekaligus dokterku, Noona!"
"Kau tak pernah cerita mempunyai seorang teman Wanita bernama Seohyun!?" Baekhyun merasa tak lagi bernafsu makan saat mendengar nama seseorang yang tak Baekhyun kenali.
Chanyeol juga tak pernah menceritakan teman bernama Seohyun itu, tentu Baekhyun merasakan hatinya sedikit resah.
"Seohyun teman lamaku, Noona. Dia baru pulang dari Amerika."
Di sebrang sana, Chanyeol terlihat resah kala Baekhyun menghujaninya beberapa pertanyaan yang pastilah akan ditanyakan Wanita itu. Mengingat ia tak pernah bercerita perihal Seohyun.
"Chanyeol, sekarang kita sepasang kekasih, kan?" Baekhyun benar-benar merasa hatinya memburuk.
"Noona, kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja Noona kekasihku, dan aku kekasih Noona." Chanyeol merasakan aura tak mengenakan dari nada bicara Baekhyun.
"Kalau begitu, aku harap kau tidak berbohong padaku." Entahlah, Baekhyun hanya merasa perlu mengatakan itu pada Chanyeol.
"Noona sayang, aku tak akan pernah berbohong pada Noona, aku tak akan berani menyakiti Noona. Tak pernah sekalipun aku berpikir seperti itu."
Baekhyun merasa lega mendengarnya. "Ya sudah, sekarang minum obatmu."
"Sudah sayang! Sekarang hanya satu yang belum aku lakukan!"
"Apa itu?" Baekhyun membereskan makan siangnya yang tak selesai ia habiskan.
"Mencium bibir manis Noona. Aku harus mendapatkannya ketika kita bertemu nanti."
Baekhyun tertawa mendengarnya.
Sialan, Chanyeol membuat Baekhyun semakin rindu pada Pemuda itu.
Terkadang, Baekhyun merasa heran pada dirinya sendiri. Kenapa harus Pemuda itu yang menjadi kekasihnya.
Umur mereka terpaut cukup jauh, tapi Baekhyun menemukan kenyamanan saat bersama dengan Chanyeol. Dan rasa nyaman itu berubah menjadi rasa cinta yang akhirnya membuat Baekhyun luluh dalam pelukan Pemuda itu.
"Akan ku lakukan ketika kita bertemu nanti."
"Noona harus melakukannya saat kita bertemu nanti!" Chanyeol bersorak senang.
"Iya bocah!" Baekhyun menggeleng "Apa Kris sudah kesana? Bukankah kau pulang hari ini?"
"Kurasa sebentar lagi. Dia bilang akan terlambat karena harus bertemu temannya dulu."
"Baiklah! Aku harus kembali bekerja. Kabari aku jika kau sudah pulang. Mungkin aku akan mampir." Baekhyun mendengar Chanyeol kembali bersorak senang.
"Selamat bekerja Noona-ku sayang. Sampai nanti, Love you!"
Baekhyun hanya bergumam. Masih malu untuk menjawab ucapan cinta Chanyeol.
Yeah dia memang mencintai Pemuda itu, hanya saja untuk secara gamblang membalas ucapan cinta Chanyeol seperti itu, Baekhyun masih merasa malu.
Lagipula, ia selalu menunjukan rasa cintanya pada Chanyeol.
Pasrah saat Chanyeol melakukan apapun padanya misalnya. Walaupun masih ada sedikit batasan yang Baekhyun berikan agar Chanyeol tak berbuat lebih. Setidaknya Chanyeol pasti mengerti kalau tanpa ia ucapkan pun, ia sama cintanya pada Pemuda itu.
Setelah menelpon Chanyeol, Baekhyun kembali memutar lagu untuk menemani pekerjaannya. Baekhyun kembali pokus dengan pekerjaannya.
Membagi pokus pada pekerjaan dan pada lagu yang tengah ia putar. Ia akan ikut bernyanyi kala ada lirik nya yang dia hapal. Lalu ia akan mengeryit kala menemukan suatu kesalahan dalam Laporan Gudang yang tengah ia periksa. Berbagai coretan Baekhyun berikan pada Laporan itu dengan note kecil.
Ia menghentikan lagu yang tengah di putar itu untuk menelpon Staff Gudang.
"Halo, bisa sambungkan pada Jong-dae?" pinta Baekhyun pada seorang Wanita yang merupakan Admin bagian Gudang.
"Ya, ada apa Baekhyun?" tanya seseorang yang pastinya adalah Jong-dae.
Staff bagian Gudang, sekaligus merupakan teman lamanya. Teman satu kampus dengannya.
Jong-dae tengah memeriksa Email kala mendapat telpon dari Baekhyun. Lelaki itu mengapit telpon kantor itu di antara bahu dan telinganya.
"Jong-dae, bisa keruangan ku sebentar? Ini mengenai Laporan Gudang yang kau berikan, aku baru saja memeriksanya. Dan kupikir, ada banyak yang harus kau revisi dan kau cek secara langsung ke lapangan." Ujar Baekhyun seraya membolak balikan kertas Laporan yang sudah ia tempeli note kecil sana-sini.
Jong-dae mengeryit kala mendengar penuturan Baekhyun. Yeah, ia hanya heran. Biasanya Laporan yang ia buat tak pernah sekalipun ada kesalahan.
Lelaki itu menghela nafas "Baiklah. Aku akan kesana dan mengambilnya!" Jong-de hendak menutup telponnya, namun teriakan Baekhyun membuatnya urung menutup sambungan telpon itu "Ada apa?" tanyanya kala mendengar seruan Baekhyun.
"Sekalian, bawakan kopi dari kantin perusahaan ya! Hehe." Pinta Baekhyun.
"Astaga! Ku pikir ada apa?! Aku akan membawakannya, seperti biasa kan?" dan akhirnya Jong-dae menutupnya setelah mendengar jawaban 'Ya' dari Baekhyun.
Lelaki itu berlalu dari ruangannya untuk ke Kantin perusahaan lebih dulu. Membawakan pesanan Baekhyun sebelum ia menghadap Baekhyun untuk mengambil kembali Laporan Gudang yang kata Baekhyun ada beberapa kesalahan.
Baekhyun yang tengah menunggu, mendongkak kala mendengar seseorang mengetuk ruangan kerjanya.
"Masuk!" ucapnya saat kemudian muncul Kyungsoo dibalik pintu, "Ada apa Kyung?"
"Aku ingin merundingkan ini!" Kyungsoo membawa sebuah dokumen yang kemudian ia berikan pada Baekhyun "Kupikir seseorang telah berbuat curang dengan mengambil barang milik perusahaan." Jelas Kyungsoo setelah memperlihatkan sebuah data produk yang tidak balance antara pemasukan, pengeluaran dan stok yang masih tersedia.
"Aku baru saja menelpon Jong-dae untuk merundingkan ini!" Baekhyun memberikan Laporan Gudang yang selesai ia koreksi "Dan aku rasa orangnya anak buah Jong-dae sendiri. Aku harap dia tidak akan marah atau sedih jika perusahaan nanti harus memecat anak buahnya yang berbuat curang itu."
Kyungsoo menghela nafas, dan mengangguk "Kau tidak menemani Chanyeol hari ini?" tanya Kyungsoo mengalihkan topik.
Bagaimanapun, topik pekerjaan benar-benar membuat penat pikiran. Dan sedikit obrolan santai, setidaknya bisa membuat otak mereka mendapatkan waktu istirahat sebentar di hari yang melelahkan ini.
"Dia harusnya keluar dari Rumah sakit hari ini. Dan Kris yang akan mengurus semuanya!" ujar Baekhyun seraya membereskan kertas-kertas berisi pekerjaan yang masih harus ia periksa lagi nanti.
"Ku dengar dari Jongin, cinta pertamanya Chanyeol menjadi Dokter di Rumah sakit itu, apa benar?"
Dan Kyungsoo membuat kesalahan.
Baekhyun yang tidak tahu tampak mengeryit heran menatap Kyungsoo.
"Kau bilang apa?" Tanya Baekhyun lagi, dan kali ini Kyungsoo sadar jika ia salah bicara.
Beruntunglah Baekhyun masih memutar lagu di ruangannya, dan wanita itu juga tengah sibuk dengan dokumennya. Setidaknya apa yang dikatakan Kyungsoo tak terdengar begitu jelas. Pikir Kyungsoo, tapi sebenarnya Baekhyun mendengarnya.
"Aku? Tidak bicara apa-apa!" Kyungsoo bergerak gelisah ditempatnya, "Aku bertanya kalau, kalau... kalau cinta pertama Jongin menjadi Dokter disana. Apa kau tahu?" bohong Kyungsoo
Baekhyun menggeleng "Aku tidak tahu. Dan Kyung, aku mendengar ucapan mu!" Baekhyun menghentikan lagu yang tengah ia putar dengan sedikit menggebrak meja "Katakan padaku, siapa cinta pertama Chanyeol? Apa Wanita itu kembali mendekati Chanyeol-ku?"
Dan Kyungsoo tertawa garing dengan rasa hawatir cukup kentara. Baekhyun dengan tatapan membunuhnya, sangat menyeramkan tentu saja.
"Jongin kemarin bercerita padaku, jika Cinta pertama Chanyeol sudah kembali dari Amerika. Dan Wanita itu menjadi Dokter di Rumah sakit tempat Chanyeol di rawat." Ujar Kyungsoo yang membuat Baekhyun memangku kedua tangannya dan terlihat tengah berpikir.
"Apa itu berarti, teman yang Chanyeol katakan itu adalah cinta pertama Chanyeol? Dan Wanita itu juga, Wanita yang sama dengan Wanita yang pernah menjadi kekasih Minho?" gumam Baekhyun.
Ia yakin jika tebakannya benar. Teman yang Chanyeol ceritakan melalui sambungan telepon juga seorang Dokter. Dan Cinta pertama Chanyeol yang diceritakan Kyungsoo juga seorang Dokter.
Baekhyun yakin, kedua orang yang di ceritakan kekasih dan sahabatnya itu adalah orang yang sama.
Teman yang Chanyeol maksudkan datang dari Amerika, adalah Cinta pertama Pemuda itu.
Kyungsoo yang tak mengerti hanya diam memperhatikan saat Baekhyun tengah berpikir. Dan kedua mata bulatnya semakin membulat saat melihat Baekhyun bangkit seraya membereskan meja kerja-nya.
"Kau mau kemana Baek?" Kyungsoo semakin dibuat terkejut kala Baekhyun dengan entengnya mengatakan, bahwa dia akan pergi.
"Aku harus pergi sekarang dan mengamankan Calon Suami-ku." Tanpa memperdulikan Kyungsoo yang masih syok, Baekhyun menarik Kyungsoo keluar dari sana dengan berkas Laporan Gudang yang ia pegang di tangannya beserta tas miliknya.
Baekhyun mengunci ruangannya setelah mereka keluar dari sana. Dan beruntungnya, saat itu Jong-dae sampai disana tepat waktu. Jadi Baekhyun tak perlu ke ruangan Jong-dae terlebih dahulu.
"Untung kau sudah disini Dae!" Baekhyun mengambil kopi yang dibelikan Lelaki itu, lalu memberikan berkas Laporan Gudang yang sebelumnya akan ia berikan pada Lelaki itu "Periksa itu kembali, anak buah mu ada yang berbuat curang. Dan terima kasih kopinya!" Baekhyun lalu pergi.
Sementara Kyungsoo dan Jong-de hanya bisa saling menatap dalam kebingungan satu sama lain.
"Dia mau pergi kemana?" tanya Jong-dae seraya berjalan dibelakang Kyungsoo yang juga hendak kembali ke ruangannya.
"Menyelamatkan masa depannya."
Dan Jong-dae semakin tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan Kyungsoo.
Dua orang ini aneh, pikirnya.
Baekhyun benar-benar pergi ke Rumah sakit, tak memikirkan tumpukan pekerjaannya. Sekarang, ada yang harus ia urus terlebih dahulu. Dan itu semua lebih penting dari tumpukan dokumen yang masih bisa ia kerjakan besok.
Wanita itu menghentikan taxi yang melintas. Tak apa uangnya keluar banyak hari ini, yang penting ia bisa cepat sampai ke Rumah sakit.
Ia harus segera menemui Chanyeol. Baekhyun akan mengancam Chanyeol agar Pemuda itu tak meninggalkannya. Ia tak akan memohon seperti Wanita lemah, ia akan mengancam Pemuda itu agar tak berani meninggalkannya.
"Apa aku harus mengandung anaknya dulu agar dia tak pergi dariku ya?" gumaman Baekhyun yang cukup keras membuat Supir Taxi yang tengah minum sebotol air mineral harus tersedak kala mendengarnya.
Baekhyun yang sadar ucapannya terlalu keras, berdehem dan berusaha acuh akan ucapannya barusan. Anggap saja ia baru saja keceplosan karena pemikiran bodohnya.
Abaikan juga wajahnya yang memerah lucu karena menahan malu. Hmmmm
'Anak muda jaman sekarang!' – batin si Supir Taxi.
.
.
.
.
.
#Short Story
Minho baru saja pulang saat melihat rumahnya telah ramai dengan adanya beberapa Mobil mewah yang tak ia kenali.
"Apa Eomma mengadakan Arisan di Rumah?" gumamnya seraya berjalan masuk kedalam rumah orang tuanya itu.
Minho baru seminggu ini pulang ke Rumah.
Ia sudah tak tinggal di rumah itu semenjak bekerja sebagai Guru. Ia Lelaki dewasa yang sudah seharusnya belajar mandiri dan tak menyusahkan orang tua nya lagi.
Namun, satu minggu yang lalu Ibu-nya menelpon dan memintanya untuk pulang ke Rumah.
Minho tak bisa menolak ketika sang Ibu memintanya pulang. Jadi, ia menuruti Ibu-nya untuk pulang. Namun ia tak berjanji akan tinggal lama di rumah itu.
Saat ia masuk kedalam Rumahnya, Minho pikir Ibu-nya memang tengah mengadakan Arisan dengan teman-temannya.
Tapi, Minho mendadak dirinya seakan menjadi patung saat melihat seseorang yang...
Sangat ia rindukan, duduk seraya mengobrol bersama Ibu-nya.
Tertawa kala Ibu-nya berbicara yang entah apa, Minho sendiri tak tahu karena tak mendengarnya.
Senyum itu begitu Minho rindukan, dan tawa pelan yang keluar dari Wanita itu begitu Minho rindukan.
Tapi jika mengingat kejadian dua tahun yang lalu... Minho merasa ia benar-benar seorang Lelaki brengsek dan pengecut.
"Kau sudah pulang nak!" Seruan Ibu-nya menyadarkan Minho dalam lamunan panjangnya.
Minho tersenyum tipis dan mendekati mereka yang tengah berkumpul.
Mungkin lebih tepatnya, sebuah pertemuan dua keluarga yang tak Minho ketahui untuk apa mereka berkumpul.
"Kemari nak! Lihat siapa yang sudah kembali dari Amerika." Ibu Minho menarik tangan Minho.
Mendekatkan Minho pada sosok seorang Wanita yang kini sudah berdiri dihadapannya.
Wanita itu tersenyum padanya. Tersenyum dengan begitu tulus, seolah Minho bukanlah seorang pendosa. Seolah Minho bukan Lelaki brengsek yang bersalah besar pada Wanita itu.
Ibu Minho tersenyum begitu lebar melihat keduanya. Tak menghiraukan raut wajah Minho yang datar dan syok karena terkejut. Ibu-nya berlalu meninggalkan mereka berdua yang masih diam mematung, sebelum kemudian si Wanita bergerak untuk memecah keheningan yang terjadi diantara mereka berdua.
Wanita itu mengulurkan tangannya tanpa ragu "Lama tak bertemu, Minho-ya."
Minho sempat diam sebentar.
Dengan ragu, akhirnya ia membalas uluran tangan itu. Menyapa seseorang yang sudah lama tak pernah ia lihat.
Seseorang yang ia hancurkan masa depannya.
"Ya, lama tak bertemu, Seohyun."
.
.
.
.
TBC
Terimakasih buat yang sudah menyempatkan Review, dan terima kasih buat yang sudah follow + favorite juga.
