Akio meriang sejak pagi, oleh karenanya hari ini ia absen bekerja. Lagian sih, salah sendiri kemarin setelah pulang kerja bukannya ke rumah malah nongkrong di taman kota hingga malam, kehujanan pula. Kalau sudah begini, Ibunya yang jadi super repot. Bayi besar seperti Akio terkadang rewelnya minta ampun, itu sebabnya si Ibu mulai sering mengoceh tentang masa depan Akio yang harus segera mencari pendamping hidup.
Sabar uyy, dia kan sedang berusaha.
"Kamu paling-paling kebanyakan minum es Dek, makanya jadi gini." Mirip bocil SD dong?
"Semalam aku kehujanan Ma."
"Makanya pulang kerja tuh langsung ke rumah, bukannya main terosss!" Salah lagi.
Akio menghela napas. Ibunya mungkin mengomel, tapi dia tetap merawat Akio dengan sepenuh hati. Buktinya, dari subuh dia terus menjaganya di kamar, memijat beberapa bagian tubuhnya yang terasa sakit. Kasih Ibu sepanjang jalan, sedang kasih Akio pupus di tengah jalan. Malah jadi membahas perasaan. Akio mengambil gelas minumnya di nakas, dan Ibunya langsung membantu mengambil. Tubuhnya sudah lebih baik setelah meminum obat, tapi kepala Akio masih terasa pusing. Mungkin karena efek terlalu lama tidur di ranjang, ditemani dengan hawa dingin di luar sana yang dilanda musim penghujan. Selain itu, mendung terus memenuhi langit sepanjang hari. Kasihan jemuran, tidak kering-kering.
"Kamu tidur lagi saja sekarang, nanti waktu makan siang Mama bangunin."
Akio tidak mengatakan apa pun, ia hanya mengangguk lemah sembari meletakkan gelas minumnya kembali di nakas. "Nanti bawain buah mangga sekalian ya Ma? Kiki pengen makan itu."
"Kayak orang lagi hamil saja." Terserahlah.
Mulutnya terasa pahit, jadi ia butuh yang manis-manis. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu, Akio harus beristirahat kembali agar tubuhnya segera pulih. Tapi lama-lama seperti ini juga bosan, baru saja bergumam ponselnya sudah menyala seperti tahu perasaannya kini. Sebuah panggilan masuk dari doi, Hanabi si dedek gemes. Buru-buru Akio menekan tombol hijau.
"Halo Mas Kiki, aku lihat di whatsapp story kok Mas Kiki katanya lagi sakit. Sakit apa memangnya?" Sakit hati.
"Nggak apa-apa Han, cuma meriang biasa."
Sebenarnya, karakter asli Hanabi itu sangat care dengan orang lain. Siapa pun yang menurutnya dia suka, pasti akan dia pedulikan. Akio tersenyum melihat jarum jam dinding yang mengarah pukul setengah sebelas pagi, ia rasa telah terlalu banyak menghabiskan waktu menciumi bantal.
"Maaf ya Mas? Aku nggak bisa jenguk ke rumah. Habisnya hari ini jadwalku padat banget, sudah gitu dari pagi hujan mulu."
"Nggak perlu jenguk, doain saja aku supaya cepat sembuh." Tumben Akio waras.
"Pasti dong."
"Dek!! Ada kabar bahagia!!"
Waduh, Mamake ganggu saja.
Akio terpaksa meletakkan ponselnya di dekat bantal ketika Ibunya muncul di pintu dengan wajah sumringah. "Kabar apaan?"
"Neesanmu Sakura hamil lagi Dek!"
"Wah, serius?" Sekarang Akio melupakan sesuatu. "Kok cepat banget bikin Adek buat kembar? Ngurusinnya pusing tuh nanti."
"Yang buat anak siapa?"
"Sakura-nee sama Bang Sasuke."
"Ya sudah, ngapain kamu yang repot?" Iya juga sih. "Tuh, buruan nyusul. Masa kamu jones terus Dek?"
Dosanya menjadi jones itu di mananya sih?
"Katanya kamu suka sama cewek yang sering kamu ajakin main itu, Hanabi bukan namanya?" Dikiranya mengajak anak gadis orang menikah itu seperti meminta permen. Jangan Mak! Jangan dilanjutkan lagi ucapannya. "Kenapa nggak kamu ajak dia nikah saja? Dia Mama lihat lumayan tuh."
Ponselnya sejak tadi masih tersambung dengan Hanabi, Akio menatap ngeri benda itu selagi Ibunya terus mengatakan segala hal.
"Sebelum diembat cowok lain, mendingan dia buru-buru kamu gebet Dek."
Ya elah jancokkk!
- 0 -
Majalah dan koran yang tidak terpakai sedang dikumpulkan Yupiter dan Mars untuk tugas keterampilan di sekolahnya, mereka memotongnya menggunakan gunting hingga menjadi potongan sekecil kuku. Dalam beberapa tahun ke depan, tidak hanya suara cempreng si kembar yang memenuhi rumah ini. Sakura tersenyum tipis memandangi kedua putranya sembari mengupas buah apel.
"Ini nanti kalau korannya sudah dikasih lem, langsung tempel di kertas sini ya Yupi-nii?"
"Jangan, yang benar tuh kertasnya yang kita gambar dulu. Baru nanti dikasih lem, terus ditempelin sama koran."
Sakura membiarkan Yupiter dan Mars berkreasi, saling berbicara berdua.
Ah, ia jadi teringat sesuatu. Tadi, Sakura sempat mengatakan kehamilannya pada Ibunya dan Ibu Mikoto lewat telepon. Hasilnya, kedua perempuan berumur itu berteriak kegirangan. Lucu sekali, semua orang sudah tahu tapi suaminya sendiri tidak mengerti tentang ini. Sasuke kan hanya menebak sejak kemarin, tidak tahu kebenarannya langsung dari mulut Sakura. Kira-kira bagaimana ya reaksinya? Sakura memasukkan satu potongan apel ke dalam mulut, lalu melihat suasana di luar melalui jendela. Benar dugaannya, suara motor Sasuke yang baru memasuki garasi terdengar. Sakura tersenyum simpul, bersendekap dada menunggu saat-saat itu.
"Lemnya tadi beli di mana Mars?"
"Pikun ya? Kan tadi Yupi-nii yang beli di Mamang Rock Lee sama aku." Suka-suka mereka.
Meski suara Mars dan Yupi terus terdengar, Sakura tidak terlalu peduli. Ia menunggu di dekat pintu hingga Sasuke muncul dengan masih mengenakan seragam kepolisian. Otomatis doi langsung kaget dong, tumben banget Sakura menunggu di pintu dengan senyum mengembang. Jangan-jangan...
"Ada apaan yang? Perasaan aku pulang nggak telat loh." Keseringan sih.
"Nggak ada apa-apa."
"Terus?" Tanyanya sambil melepaskan jaket.
Lagi-lagi Sakura hanya tersenyum tipis, ia menarik tangan suaminya itu masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu dengan rapat. Melihat Sakura yang malu-malu, terus terang Sasuke jadi pengen anu. Seriusan, Sasuke masih tidak mengerti apa mau Sakura. Tapi dia tidak menolak ketika diajak masuk ke kamar. Padahal masih sore, kasihan si kembar nanti bisa dengar ah uh ah uh. Tapi tidak masalah deh, Sasuke merasa lebih tertantang melakukan ehem meski masih mengenakan seragam kepolisian begini, maka buru-buru diciumlah bibir menggoda istrinya dengan tidak sabaran.
"Yang! Apaan sih?!" Malah ditolak.
Jadi maunya apa?
"Aku mau ngasih tahu kamu sesuatu, bukan ngajakin kelon." Lambenya Sakura.
Padahal Sasuke horny. "Ngasih tahu apa?"
"Kok malah tanya? Kamu kan dari kemarin terus ngotot bilang itu."
"Itu apa?" Loading banget.
"Ya itu, masa lupa?"
"Itu kan konteksnya banyak yang, kamu ingat deh kemarin aku ngelakuin banyak itu."
Tidah jauh-jauh, ke mana-mana otaknya selalu dipenuhi itu. Sakura mengingat apa saja yang dimaksudkan Sasuke itu, mulai dari memeluknya, mengelus perutnya, meraba dan meremas payudaranya, dan juga mengatakan mengenai Sakura yang mungkin sedang hamil. Aish, dari dulu Sasuke memang tidak bisa diandalkan dalam urusan ini.
"Jadi, itu apa?"
Sakura mulai malas. "Itu di perutku."
"Kenapa? Mulas pengen BAB?" Sasuke taek!
"Yang! Aku tuh hamil! Malah dibilang BAB."
Akhirnya Sakura sendiri yang mengatakan, Sasuke sih pikunnya kuadrat. Tapi rasa kesalnya hanya berlangsung beberapa saat karena si laki-laki langsung memeluknya, Sakura bahkan belum sempat mengeluarkan sumpah serapah. "Aku tahu di dalam perut kamu ada anak kita, aku ngerasain itu."
Pak polisi, minta cium dong?
"Sayang, aku bahagia ada dia." Lalu satu ciuman penuh cinta didapati Sakura sesuai keinginannya. "Kamu hamil dan itu berarti kamu akan jadi semakin seksi."
Yang ini Sakura tidak mau mendengar.
To be continue...
