CAST
Park Chanyeol (25)
Byun Baekhyun (19)
.
.
Jari telunjuk itu masih setia mengetuk meja didepannya sejak 10 menit yang lalu. Manik bulan sabitnya tak lagi terlihat karena terpejam diikuti dengan tangan kiri yang tengah menyangga dagunya. Kedua alisnya ikut berkerut mengumpul ditengah, sedang memikirkan sesuatu. Chanyeol baru saja menelponnya setengah jam yang lalu. Menanyakan perihal kabarnya, apakah dia meminum susunya, melewatkan sarapannya atau tidak, hal-hal seperti biasa. Kenyatannya mereka tetap berkomunikasi seperti biasa namun tanpa menyinggung berita itu. Baekhyun sengaja tidak membawa topik itu dalam pembicaraan mereka karena dia sudah terlampau marah walau hanya sekedar mendengar nama wanita itu, dan mungkin, mungkin saja Chanyeol juga menganggap hal itu bukan suatu hal yang perlu dikhawatirkan.
Pemilik iris coklat terang itu kemudian membuka matanya kembali, menarik beberapa lembar kertas dari map besar bewarna coklat yang baru saja Sungyeon berikan padanya tadi. Baekhyun kembali membaca setiap deret kalimat yang tertera diatas lembar kertas itu dengan begitu serius.
"Dia bukan dari kalangan berada, tidak mungkin rasanya" gumam Baekhyun ketika mendapati kejanggalan pada lembar riwayat hidup seseorang dilembaran itu. Baekhyun memutuskan untuk meraih smartphonenya dan melakukan panggilan kepada Shinwan. Tidak menunggu lama karena pengawalnya itu langsung mengangkat panggilannya.
"Selamat malam Tuan"
"Selamat malam. Ada hal yang harus kau cari untukku. Aku akan mengirim salinan riwayat hidupnya padamu. Dia bukan dari kalangan berada. Cari apa yang membuatnya bisa masuk di perusahaan itu. Dia memiliki riwayat nilai yang buruk, aku tahu perusahaan tidak cukup bodoh untuk menerimanya"
"Baik tuan"
"jangan lewatkan sedikitpun. Semakin buruk yang kau temukan semakin bagus, dan Shinwan ?", ucap Baekhyun.
"Ya tuan ?"
"Kau memiliki waktu sehari. Paling lambat aku menerimanya besok lusa pagi. Keberatan ?"
"Tidak Tuan, saya akan segera mencarinya"
"Bagus, terimakasih. Katakan jika kau perlu sesuatu disana. Aku akan mengirimkan uangnya"
"Tidak tuan. Uang yang anda kirimkan sebelumnya masih begitu banyak"
Baekhyun mengangguk.
"Baiklah, aku tutup"
"Baik Tuan, selamat malam" , dan panggilan berakhir.
Chanyeol mengatakan padanya bahwa dia akan pulang terlambat. Paling lama 3 hari dan itu cukup membuat Baekhyun mengerang begitu kesal. Tapi pada akhirnya Baekhyun hanya bisa mengatakan baik-baik saja walaupun Chanyeol tahu bahwa dear-nya kini pasti tengah merajuk begitu kesal padanya.
.
.
.
Baekhyun memiliki tiga kelas dan beruntungnya semua berada di gedung yang sama, oleh karena itu dia berencana akan mengikuti semua kelasnya hari ini. Dua hari tidak masuk kuliah cukup membuat Baekhyun uring-uringan mengejar materi yang diberikan dosen. Dia juga memiliki dua presentasi pada masing-masing kelas yang Baekhyun ambil. Entah kenapa Baekhyun merasa lega saat mengetahui jika salah satunya adalah tugas presentasi dari Luhan gyosunim. Walaupun orang itu cenderung disiplin, tapi katakanlah hanya dia dosen yang cukup dekat padanya dari pada dosen-dosen lain yang terlihat kaku dan berumur. Untuk kelas Luhan gyosunim, lagi-lagi Baekhyun mendapatkan urutan maju presentasi diawal. Kelompoknya akan maju minggu depan. Tidak lagi, tekad Baekhyun sudah cukup bulat mengenai "hal" ini. Oleh karena itu, saat ini Baekhyun sedang berdiri didepan ruangan Luhan. Kedua giginya beberapa kali menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu. Baekhyun pernah tidak mengikuti kelas Luhan sekali. Lalu apa sekarang ? Dia bermaksud untuk meminta jadwal kelompoknya untuk maju diundur ?. Baekhyun sudah merundingkan hal ini dengan teman sekelompoknya. Walaupun mereka mengatakan baik-baik saja jika giliran untuk maju presentasi diundur, itu berarti mereka harus lebih baik dari kelompok lain yang sudah maju. Tentu saja tipikal dosen seperti Luhan akan membandingkan mereka diakhir. Katakanlah, dia bukan orang yang gampang puas.
Baekhyun menghembuskan napasnya sekali kemudian satu tangannya terangkat mengetuk pintu didepannya. Baekhyun melipat lengan jumper hitam sebelah kanannya dengan corak garis berwarna abu-abu sebelum mengetuknya sekali lagi. Diketukan yang ketiga, pintu didepan Baekhyun masih tertutup pun tidak terdengar suara apapun dari dalam seakan mengatakan bahwa memang tidak ada dosen itu didalam sana.
"Bodoh, seharusnya aku mengecek jadwal mengajarnya hari ini" gerutu pria mungil sambil menyugar surai madu kecoklatannya saat tersadar akan kebodohannya.
Sambil berjongkok didepan ruangan Luhan, dengan raut begitu serius Baekhyun menggulir layar smartphone didepannya. Mencari-cari jadwal mengajar dosennya di website universitas. Matanya berkedip beberapa kali ketika merasa sedikit perih akibat cahaya dari layar smartphonenya ketika mengecek satu persatu kolom baris dengan nama-nama dosen yang tertera disana. Tanpa Baekhyun sadari, dari kejauhan terlihat Luhan yang melangkah menghampirinya. Masih dengan memakai kacamata juga membawa buku-buku ditangan kanannya, Luhan mendekati mahasiswanya yang sedang berjongkok didepan ruangannya itu.
"Baekhyun-ssi ?" panggil Luhan ketika kedua kakinya sampai didepan Baekhyun.
"Saem ?!" pekik Baekhyun sambil berdiri, sedikit terkejut sebenarnya mendapati dosen yang dicarinya kini berada didepannya. Terimakasih Tuhan, kakinya juga sudah cukup pegal karena berjongkok juga membaca deret baris yang menyakiti matanya.
Luhan mengulas senyum, dan Baekhyun terpaku untuk sesaat. Ingat, hanya sesaat !. Bagaimanapun kau melihatnya, Baekhyun kini bisa mengerti kenapa ketua taekwondo itu jatuh cinta pada dosen didepannya karena dia sendiri juga-
"Anda mencari saya ?" tanya Luhan memecahkan lamunan Baekhyun.
Oh hentikan pikiran bodohmu itu Baekhyun.
"Y-ya ? Ya saem, perihal presentasi untuk minggu depan" jawab Baekhyun dengan nada semakin melirih ketika melihat kernyitan samar dikening dosennya saat Baekhyun menyebut kata presentasi. Sudah pasti beliau tidak setuju dengan ini, batin Baekhyun menciut didalam sana. Kepercayaan dirinya sedikit menguap entah bagaimana.
"Bagaimana jika kita membicarakannya didalam ?" tawar Luhan. Baekhyun segera mengiyakan dan beberapa kali membungkuk mengekor dosennya itu dari belakang.
.
.
.
"Jadi ?"
"B-begini saem, saya memohon maaf sebelumnya untuk perihal presentasi minggu depan. Sebenarnya ini juga menyangkut saya pribadi. Tetapi saya telah merundingkan hal ini dengan kelompok saya. Bisakah.. bisakah saem"
Baekhyun menekan kedua lututnya dengan keras ketika gugup mulai menyerangnya.
"Saya menunggu Baekhyun-ssi," ucap Luhan terlihat tidak sabar.
Baekhyun memejamkan mata, mengumpulkan keberaniannya.
"Saem, b-bisakah giliran maju presentasi untuk kelompok saya diundur ?. Tidak minggu depan"
"Anda harus memiliki alasan Baekhyun-ssi. Anda tahu jika permintaan anda juga akan mempengaruhi kelompok lain. Jadi saya membutuhkan alasan anda"
"Saya tidak mengikuti kelas gyosunim sekali, oleh karena itu saya merasa berat jika meninggalkan presentasi kali ini. Tapi saya benar-benar tidak bisa mengikuti presentasi minggu depan karena ada.. Ada hal yang harus saya lakukan"
Luhan terdiam pun Baekhyun yang telah terlihat putus asa. Dia hanya merasa harus benar-benar serius untuk semester ini karena dia akan mengambil cuti disemester depan.
"Jika.. jika memang tidak bisa. Saya bersedia diberikan tugas pengganti untuk presentasi ini. Saya menyesal karena alasan pribadi saya sampai berdampak pada orang lain. Tapi saya mohon gyosunim bersedia untuk mengundur presentasi kelompok kami. Mengingat bahwa penilaian kelompok juga penting pada kelas ini seperti yang saem katakan" jelas Baekhyun ketika Luhan tidak kunjung menjawabnya.
Sebenarnya, di mata Luhan sendiri, Baekhyun merupakan salah satu mahasiswa yang disiplin, juga bertanggung jawab pada tugas-tugasnya. Luhan cukup bangga karena mahasiswa didepannya ini masih sempat merasa menyesal karena hal ini melibatkan teman-temannya. Dia begitu memikirkan orang lain, pikir Luhan. Mahasiswanya itu juga meminta tugas pengganti jika dia tidak mengikuti presentasinya diminggu depan. Luhan akui, sulit menemukan mahasiswa tahu diri seperti Baekhyun yang meminta tugas pengganti seperti ini.
Luhan mengangguk-angguk pelan dan Baekhyun melipat bibirnya kedalam untuk menahan perasaan senang juga khawatir disaat bersamaan terhadap ekspetasi didalam kepalanya ketika melihat raut dosennya..
"Jadi.. dua minggu kedepan ?" ucap Luhan.
"Ye ?" Baekhyun tidak ingin berharap.
"Presentasi kelompok anda. Saya akan mengundurnya. Jadi presentasi kelompok anda dua minggu kedepan ?"
"Sungguh ? Terimakasih saem !. Ya, dua minggu kedepan"
"Baik, jadi ada lagi ?"
"Tidak saem. Terimakasih banyak, kalau begitu saya permisi, selamat siang"
Luhan hanya berdehem sambil mengangguk. Baekhyun dengan senyum lebarnya melangkah keluar ruangan sambil mengeratkan kembali tas punggungnya.
Tepat saat Baekhyun menutup ruangan Luhan, dirinya dikejutkan oleh sosok pria jangkung dengan rambut sedikit panjang terurai kedepan. Laki-laki itu bersandar pada dinding sambil menyilangkan kaki kanannya kedalam. Dia adalah ketua taekwondo itu !. Baekhyun tidak cukup bodoh untuk berlama-lama disana karena tepat ketika pandangan mereka bertemu, dengan langkah yang dibawa tergesa-gesa, Baekhyun ingin segera hilang dari sana. Tetapi tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Kau,"
Baekhyun menghiraukan, berpura-pura tidak mendengarnya.
"Baekhyun-ssi,"
Baekhyun yang merasa dipanggil memejamkan matanya. Sial, dia sama sekali tidak berada dalam mood untuk berurusan dengan pria itu. Bagaimanapun juga seniornya itu mungkin masih mengingat kejadian memalukan beberapa waktu yang lalu ketika Baekhyun dan Kyungsoo ketahuan sedang mengintip dia dan dosennya. Perlahan Baekhyun menolehkan kepalanya, memutar tubuhnya menghadap ketua taekwondo itu.
"Ne sunbae,"
"Ada urusan apa kau dengan Luhan saem ?", tanya pria dengan nama Dal Po itu jika Baekhyun tidak salah ingat.
Oh ?
"Kau terlihat begitu bahagia didalam tadi, apa yang kalian bicarakan ?"
Sial, Baekhyun mengumpat didalam hati. Sunbaenya itu benar-benar gigih. Apa dia selalu menginterogasi setiap mahasiswa yang baru keluar dari ruangan Luhan saem ?. Dia benar-benar terlihat psycho jika benar-benar memaksakan perasaannya pada dosennya itu. Terserah, itu bukan urusan Baekhyun lagipula.
"Saya hanya membicarakan tentang presentasi minggu depan yang akan diundur" jelasku.
"Itu saja ?"
Baekhyun mengangguk mantap.
"Ya"
"Baiklah kau bisa pergi"
Baekhyun mengangguk lalu sedikit membungkuk, sekedar menunjukan sikap sopan pada seniornya. Kemudian segera berlalu pergi karena pengawalnya telah menunggunya.
.
.
.
Memasuki minggu ke-8 kehamilannya, Baekhyun masih mengalami muntah dipagi hari. Setengah jam yang lalu dia memuntahkan kembali makan malamnya yang telah menjadi bubur juga disertai bau busuk khas muntahan. Bahkan Baekhyun masih sempat-sempatnya merasakan rasa kue brownies buatan bibi Yoon semalam. Penthouse yang begitu sepi membuat suara Baekhyun terdengar hingga ketelinga bibi Yoon. Tidak lama kemudian bibi Yoon bergabung bersama Baekhyun sambil ikut berjongkok, tangan halusnya mengelus punggung tuannya dengan sabar. Baekhyun sempat menyuruhnya untuk menunggu diluar, tapi wanita paru baya itu tidak sampai hati saat melihat raut sarat akan kelelahan di wajah tuannya. Wanita itu bersumpah dia sempat melihat urat dileher tuannya yang begitu terlihat, memaksa muntahnya untuk segera berhenti. Begitu muntahnya berhenti, bibi Yoon membantu Baekhyun kembali untuk berbaring ke ranjang, tapi pria penolakan mungil itu cukup membuat bibi Yoon mengerang didalam hati. Ini masih jam 6 pagi dan wanita itu hanya ingin tuannya beristirahat kembali. Baekhyun tetap menolak, memilih untuk turun masih dengan piyama tidurnya. Tidak ada yang bisa bibi Yoon lakukan selain menuruti suami seorang Park itu.
"Jahe hangat tuan ?", tawar bibi Yoon setelah mendudukan tuannya di atas sofa ruang tengah.
Baekhyun mengangguk, cukup untuk membuat bibi Yoon bernapas lega entah kenapa.
Baekhyun menyandarkan punggungnya sambil memejamkan matanya. Rasa pahit dari muntahannya masih terkecap samar diujung lidahnya. Syukurlah hari ini dia tidak memiliki kelas. Dia sama sekali tidak memiliki motivasi untuk pergi keluar hari ini. Morning sicknya cukup berpengaruh pada suasana hatinya, moodnya turun bahkan sebelum Baekhyun memulai harinya.
Tak lama kemudian terdengar suara dentingan bel. Sepagi ini ?. Baekhyun hendak menyuruh bibi Yoon untuk mengeceknya karena dia terlalu lemas untuk sekedar berdiri, beruntung wanita paru baya itu langsung melangkah menuju layar intercom bahkan sebelum Baekhyun membuka mulutnya.
Kemudian terdengar beberapa langkah sepatu yang mulai menghampirinya. Baekhyun melirik melalui ekor matanya dan mengetahui bahwa itu adalah kedua pengawalnya, Sangyeon dan Juyeon. Bagaimanapun Baekhyun memikirkannya, dia selalu berpikir dua pengawalnya itu memiliki hubungan darah well itu karena mereka nemiliki nama begitu mirip. Kedua pria yang mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan surai hitam legam yang ditata begitu rapi itu membungkuk didepan Baekhyun. Baekhyun menemukan bahwa penampilan mereka begitu formal hari ini.
"Aku tidak tahu kalian menemuiku sepagi ini" Baekhyun menjeda ucapannya sambil melirik jarum jam yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya.
"enam lebih lima belas menit" ucap Baekhyun.
Bibi Yoon datang sambil membawa secangkir jahe hangat ke ruang tengah. Sebelum pergi, wanita dengan dengan terusan coklat tua yang telah memakai celemek itu menawarkan minuman pada dua pemuda dengan kisaran tinggi 6 kaki (182) cm yang masih bediri didepan Baekhyun, namun dibalas gelengan oleh mereka.
"Katakan saja pada bibi Yoon, aku memaksa" ucap Baekhyun.
Mereka berpandangan, ragu haruskah menuruti tuannya atau tetap menolak. Sebenarnya keduanya sudah cukup merasa bersalah karena bertemu sepagi ini. Dan lagi, tuannya itu begitu kelihatan pucat. Dengan cepat Sangyeon mengucapkan secangkir kopi ketika Baekhyun mulai menaikkan alisnya, bersabar menunggu. Diikuti oleh Juyeon yang mengatakan hal yang sama, namun dia meminta bibi Yoon untuk tidak membuatnya terlalu pahit.
"Duduklah" ucap Baekhyun.
"Sebelumnya kami meminta maaf jika kami datang sepagi ini"
Baekhyun hanya terdiam sehingga Sangyeon memutuskan untuk berdehem, sekedar mengurangi kecanggungannya.
"Kami telah menerima laporan-""
"Ini tuan-tuan kopinya"
Baekhyun menahan napasnya ketika tiba-tiba bibi Yoon datang sambil meletakkan dua cangkir kopi itu, menginterupsi mereka. Kedua pria itu bergumam terimakasih dan bibir Sangyeon hendak bergerak meneruskan ucapannya ketika kedua mata Baekhyun melotot seakan memberitahu pria itu untuk berhenti bicara. Dia tahu bahwa Sangyeon akan membahas hal ini, dan bibi Yoon tidak boleh tahu. Baekhyun mengetahui terkadang bibi Yoon menerima panggilan dari Chanyeol. Walaupun Baekhyun tidak mendengarnya dengan jelas, dari apa yang diucapkan bibi Yoon saat ditelepon, suaminya itu menanyakan perihal apa yang dilakukannya hari ini. Oleh karena itu Baekhyun khawatir jika bibi Yoon bisa saja mengatakan hal ini pada Chanyeol jika wanita itu mengetahuinya.
"Bibi, aku akan sarapan diluar hari ini" ucap Baekhyun tiba-tiba.
"Ne ? bukankah tuan tidak memiliki kelas hari ini ?"
Wanita itu masih ingat jika kemarin sore saat Baekhyun kembali dari kampus, dia mengatakan akan menghabiskan waktunya dipenthouse seharian karena tidak memiliki kelas hari ini.
"Memang tidak. Tapi aku sudah memiliki janji dengan Kyungsoo akan ke taman pagi ini. Bisakah bibi menyiapkan air hangat untukku ?"
"Tentu, tentu. Strawberry ?" tanya Bibi Yoon sambil tersenyum kecil, tahu benar bahwa tuan mudanya satu ini sangat menyukai semua hal yang berbau strawberry.
Baekhyun menggeleng dan sempat melihat dahi bibi Yoon yang mengkerut.
"Lavender saja"
Bibi Yoon terlihat ingin bertanya mengapa Baekhyun memilih lavender, tapi wanita itu hanya mengangguk dan melenggang pergi menaiki tangga untuk menyiapkan air hangat tuannya.
"Mari bicarakan hal ini diluar. Bibi Yoon tidak boleh tahu tentang hal ini"
Baekhyun mulai berbicara ketika bibi Yoon telah menghilang dari pandangannya. Kedua pria itu mengangguk mengerti. Hampir saja rencana ini tersebar jika Baekhyun tidak menghentikan mulut Sangyeon.
"Ah, dan ganti pakaian kalian berdua. Aku tidak akan duduk direstoran dengan dua pria bersetelan jas", Baekhyun menambahkan sebelum meraih cangkir berisi jahe hangatnya.
.
.
.
Baekhyun mengelap bibirnya dengan tisu tanda bahwa dia selesai dengan sarapannya. Mereka memutuskan untuk memilih restoran yang cukup sepi dengan tempat duduk didekat jendela, sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian. Melihat tuannya yang telah selesai dengan makanannya, suapan Juyeon terhenti. Begitu juga Sangyeon yang tengah melahap Japchaenya. Baekhyun yang melihatnya melempar pandangan penuh tanya pada mereka berdua. Kenapa mereka berhenti makan ?
"Kenapa kalian berhenti ?" tanya Baekhyun sambil meraih jus jeruknya.
"Tidak sopan rasanya jika kami tetap makan"
"Wae ? ah ! karena aku sudah selesai makan ?" tanya Baekhyun begitu menyadari.
Mereka berdua mengangguk, dan Baekhyun sedikit terkejut karenanya. Baekhyun tidak merasa bahwa dia harus dihormati sampai sejauh ini. Dia bukan gila kehormatan lagipula.
"Apakah kalian juga seperti ini saat makan bersama Chanyeol ?"
Mereka berpandangan sebentar, lalu menggeleng.
"Kami tidak pernah makan bersama presdir. Beliau selalu memilih untuk makan sendiri jika kami sedang mengawal beliau dalam perjalanan bisnis"
Oh, hal baru yang Baekhyun baru ketahui dari suaminya.
"Lanjutkan saja sarapan kalian. Aku bukan Chanyeol atau senior kalian sehingga kalian harus melakukan itu. Biarkan aku membaca apa yang Shinwan kirimkan sambil menunggu kalian selesai"jelas Baekhyun.
Juyeon segera mengeluarkan map coklat dari tasnya lalu memberikannya kepada Baekhyun. Pandangan Baekhyun seketika berubah tajam ketika menerima map itu. Membukanya perlahan, Baekhyun menemukan bahwa kertas didalamnya cukup tebal.
"Jangan pikirkan aku, nikmati makanan kalian, oke ?" ucap Baekhyun kembali dengan sedikit terkekeh ketika kedua pengawalnya itu masih ragu untuk meraih sendok makan mereka.
Baekhyun membaca setiap kalimat diatas kertas itu dengan serius. Beberapa kali mulut kecilnya akan menganga, kemudian dua alisnya akan menyatu seperti tengah berpikir, lalu tiba-tiba Baekhyun akan tertawa lirih. Suara tawanya begitu lirih namun masih terdengar oleh Sangyeon dan Juyeon, dan mereka menemukan bahwa suara tawa itu bukan tawa seseorang yang bahagia. Tuannya itu sedang meremehkan sesuatu. Mereka tidak tahu apa yang membuat tuannya tertawa demikian karena mereka sama sekali tidak tahu apa yang ada didalam map itu. Baekhyun melarang mereka untuk membuka isi map yang dikirimkan Shinwan. Sangyeon dan Juyeon bisa saja membukanya karena mereka begitu penasaran sejujurnya. Tapi kembali lagi, mereka sedang bekerja pada Park Baekhyun, suami seorang Park Chanyeol.
"Jadi, ada yang tahu kenapa jadwal Chanyeol pulang ke Korea diundur ?" tanya Baekhyun setelah memasukkan kertas-kertas itu kembali didalam map.
Juyeon berdehem sebelum menjawab tuannya.
"Kami mendengar dari sekertaris Presdir bahwa mereka sedang mengurus pembagian saham karena Presdir bermaksud untuk membeli JD Enterprises"
"Mwo ? kukira Chanyol sedang kerjasama dengan mereka" ucap Baekhyun.
"Awalnya, ya. Tapi karena CEO mereka, tuan Alex meminta bantuan pada Presdir dan Presdir Park cukup pemilih juga bukan seseorang yang akan membantu koleganya semudah itu. Mungkin Presdir mengajukan beberapa syarat dan tuan Alex tidak dapat memenuhinya dan berakhir menjual perusahaannya" Sangyeon menimpali.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Memiliki ayah yang memimpin perusahaan juga suami seorang presdir nyatanya tetap membuat Baekhyun masih tidak mengerti bagaimana dunia bisnis bekerja. Kenapa Baekhyun merasa mereka menjual perusahaan seakan menjual barang ?. Baekhyun tidak mengerti.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu ?" tanya Baekhyun.
"Tentu saja/Tentu saja tuan" ,jawab mereka bersamaan sehingga membuat Baekhyun sedikit tertawa.
"Mungkin ini pertanyaan yang aneh tapi bagaimana kalian bisa bekerja pada Chanyeol ? Atau bagaimana kalian bertemu ?"
Mereka terdiam dan Baekhyun hampir menarik kembali pertanyaannya karena mungkin bagi keduanya ini terlalu pribadi, mungkin ?. Baekhyun hendak membuka mulutnya untuk berbicara tapi Juyeon menginterupsi.
"Presdir menemukan saya ketika saya sekarat"
Batin Baekhyun tercekat didalam sana. Menatap ekspresi tuannya yang begitu terkejut, Juyeon memaklumi.
"Sekarat ?" tanpa sadar Baekhyun mengulangi kata itu. Juyeon mengangguk.
"Saya tidak bisa mengatakan apa yang terjadi akan tetapi saya berhutang nyawa pada beliau"
Baekhyun bisa melihat raut sendu dari wajah Juyeon ketika mengatakannya, akan tetapi sedetik kemudian Juyeon mengulas senyum tipisnya.
"Siapa bilang kau tidak memiliki siapapun ? Kau buta ? kau memiliki aku. Siapa yang berani mengatakan bahwa hidupmu tidak berguna ?, aku akan membuktikan pada mereka dan pada dirimu sendiri, bahwa hidupmu akan berguna suatu hari nanti"
Tatapan Juyeon keatas menerawang, mengingat kembali kata-kata seorang remaja yang begitu angkuh dahulu dimatanya.
Baekhyun mengeryit tidak mengerti saat Juyeon menyelesaikan kalimatnya.
"Itu adalah kata-kata dari presdir yang tidak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun"jelas Juyeon mengakhiri seakan paham bahwa Baekhyun tidak begitu menangkap maksud dari ucapan sebelumnya.
Baekhyun hanya terdiam tidak ingin bertanya lebih jauh. Dia bisa mengerti bahwa ini sudah mulai mengarah pada privasi pengawalnya, dan Baekhyun menghargai itu.
Menekan rasa penasarannya, Baekhyun kini beralih menatap Sangyeon. Mengerti arah pandangan Baekhyun, Sangyeon mulai berbicara.
"Saya bertemu dengan presdir pertama kali di panti asuhan. Dulu Nyonya Park dan presdir seringkali mengunjungi panti asuhan saya. Saya tidak tahu pastinya namun Presdir cukup dekat dengan saya jika dibanding dengan anak panti yang lain. Singkat cerita, karena kendala ekonomi, saya tidak bisa melanjutkan sekolah. Presdir mengetahui keadaan saya, sehingga beliau meminta Ketua untuk menyekolahkan saya sampai sajarna. Kala itu presdir menawarkan pada saya untuk melanjutkan mengambil gelar master tapi saya menolaknya dan memutuskan untuk pindah ke Jerman dan sekolah akademi militer disana"
"What ?!" refleks Baekhyun memekik dan segera menutup mulutnya ketika beberapa pasang mata mulai menoleh lengkap dengan alis yang menukik. Sungguh mengganggu, dan Baekhyun cukup tahu itu sehingga dia menunduk sambil menutupi wajahnya dengan dua tangannya.
"Aish, ini begitu memalukan !" ,Baekhyun bergumam lirih.
Baekhyun mendongak sedikit dan bertanya apakah orang-orang masih menoleh padanya dan Baekhyun menghembuskan napasnya lega ketika kedua pengawalnya menggeleng.
"Kau sekolah militer di Jerman ?" ulang Baekhyun kembali. Sangyeon mengangguk.
"Juyeon juga, malah lebih awal. Dia pindah ke New York setelah lulus SMA dan sekolah militer disana"
"Ehhh.. Jinja ?! Kalian berdua ?" Tanya Baekhyun dibalas anggukan oleh pengawalnya.
Baekhyun tanpa sadar bertepuk tangan, tidak begitu keras karena dia cukup tau diri untuk tidak mempermalukan dirinya lagi. Sangyeon yang melihat perubahan suasana hati tuannya itu cukup heran. Beberapa waktu yang lalu tuannya begitu marah. Kemudian wajahnya begitu sendu seketika mendengar
"Wah daebak ! aniya, wae ?. Maksudku, uh.. Kenapa kalian tiba-tiba masuk akademi militer ?"
Rasa penasaran Baekhyun terus ingin meledak. Hell, didepannya saat ini sedang duduk alumni-alumni akademi militer. Yang satu dari Jerman, yang lain dari US !.
"Mungkin alasan kami hampir sama. Kami sama-sama merasa berhutang budi pada keluarga Park, terutama Presdir. Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh saya untuk membalas kebaikan keluarga Park adalah dengan mengabdi pada mereka" Ucap Juyeon.
"Itu benar. Saya juga berpikir demikian" sahut Sangyeon.
Baekhyun mengangguk-angguk. Kini Baekhyun mengerti kenapa Chanyeol memilih mereka untuk menjaganya.
"Bagaimanapun, aku masih tidak mengerti kenapa Chanyeol membeli perusahaan itu. Bukankah dia pintar menghabiskan uangnya ?"
"Presdir pasti memiliki alasan sendiri. Lagipula beliau kapan lalu baru saja memutuskan kerjasama dengan beberapa perusahaan dan stasiun TV yang memberitakan berita tidak benar yang melibatkan Presdir" jawab Sangyeon.
Entah sudah berapa kali mulut Baekhyun menganga hari ini. Baekhyun tidak bisa mengatakan bahwa berita itu tidak menganggu, tetapi hanya karena media membuat berita semacam itu, Chanyeol memutuskan kerjasamanya. Baekhyun tidak bisa membayangkan bagaimana jalan pikir suaminya itu. Bukankah Chanyol akan mengalami kerugian ?. Chanyeol seperti menganggap uang bukan hal yang besar untuknya, selalu seperti itu. Dan Baekhyun tidak pernah bisa membayangkan seberapa kayanya pria itu.
"Tidakkah saham turun karena hal itu ?" tanya Baekhyun. Media Korea yang memberitakannya tidak hanya satu dan dari apa yang dikatakan Sangyeon, memutuskan kerjasama dari beberapa perusahaan sekaligus pasti membuat sahamnya turun. Ini bukan berarti Baekhyun begitu khawatir mengenai saham suaminya. Baekhyun sama sekali tidak tertarik pada hal itu lagipula, dia hanya tidak ingin Chanyeol begitu terbebani.
Kernyitan di dahi Baekhyun kembali ketika keduanya menggeleng. Apa ?
"Saya tidak tahu, tapi saham perusahaan masih stabil" ucap Juyeon.
"Bagaimana bisa ?. Bukankah presdir kalian itu begitu kaya ?" ucap Baekhyun sedikit bercanda dan dibalas anggukan oleh Sangyeon.
"Beliau bisa membeli sebuah negara jika beliau menginginkannya"
Mulut Baekhyun terkatup, tidak bisa menjawabnya. Karena dia juga pernah memiliki pikiran yang sama dengan pengawalnya itu.
"Aish, kenapa kita jadi membicarakan saham-saham. Jangan lupa untuk membeli tiket penerbangan ke Forks besok pagi. Kalian berdua harus ikut" ucap Baekhyun dibalas anggukan oleh mereka berdua.
Mereka memutuskan untuk pulang setelah Baekhyun membayar billnya. Namun ketika mereka baru saja keluar dari pintu restoran, seorang pelayan menghentikan langkahnya dan memberikan buket mawar bewarna ungu juga sekotak makaron dengan rasa strawberry. Pelayan itu hanya mengatakan jika seseorang datang beberapa menit yang lalu dan menyuruhnya untuk memberikan buket itu kepada seseorang bernama Park Baekhyun. Napas Baekhyun tercekat untuk beberapa detik, ingatannya kembali saat indra penglihatannya ditutup paksa. Ketika pergelangannya begitu sakit juga rasa dingin dari belati yang menggores lehernya. Orang-orang yang hampir menculiknya, rasa ketakutan itu masih terpatri begitu jelas di ingatan Baekhyun. Baekhyun tidak bisa menghentikan tangannya yang sedikit gemetar saat meraih secarik kertas begitu kecil yang diselipkan diantara bunga mawar itu. Menelan kegugupannya ketika jarinya membuka kertas yang terlihat dilipat begitu tergesa-gesa.
Park Baekhyun,
Aku sangat ingin bertemu denganmu,
Kuharap kau suka makaron rasa strawberry ini.
Semoga harimu menyenangkan.
Baekhyun menjatuhkan buket juga kotak makaron itu, kedua lututnya lemas tepat setelah selesai membacanya. Beruntung Juyeon yang berada dibelakang Baekhyun segera menahan kedua sikunya untuk menjaganya tetap berdiri diatas kakinya. Jari-jarinya meremat kertas itu, kedua maniknya meliar menolehkan pandangannya ke segala arah berharap menemukan seseorang tapi nihil. Yang Baekhyun temukan hanya orang-orang yang berlalu-lalang melakukan aktivitas seperti biasanya. Tidak ada satupun dari mereka yang terlihat aneh, cukup untuk membuat Baekhyun mengeluarkan erangan frustasi.
"Tuan, anda baik-baik saja ?"
Kini sabitnya beralih kepada bunga mawar berwarna ungu dibawah kakinya. Kedua mata Baekhyun telah berkaca-kaca dan pandangannya sedikit mengabur karena airmata yang mungkin telah mengumpul dipelupuk matanya saat menatap buket mawar berwarna ungu itu. Tatapan penuh kebencian namun bersamaan dengan rasa takut merambat diseluruh tubuhnya.
Baekhyun menghembuskan napasnya begitu berat kemudian menegakkan tubuhnya, melepaskan sikunya yang tadi masih dipegang Juyeon.
"Kita pergi" ucap Baekhyun sambil kakinya melangkah memasuki mobil lalu diikuti yang lain.
Setelahnya baik Juyeon maupun Sangyeon hanya bisa terdiam tidak bisa melakukan apa-apa ketika disepanjang perjalanan tuannya menangis lirih masih dengan secarik kertas yang telah kusut digenggaman tangan kirinya.
.
.
.
.
.
Sebenarnya siapa pengirim buket itu ?
Jangan lupa berikan komentar kalian tentang chapter ini dikolom review !
See you in next chapter !
