Fang as Kannan
Cahaya as Prabangkara
Halilintar as Narendra
Gempa as Gyandev
Surga yang cerah perlahan menggelap. Awan putih berubah menjadi gelap dan menebal. Monster-monster dewa berlarian dan bersembunyi di tempat yang menurut mereka paling aman dalam waktu yang cepat. Para penghuni surga perlahan mengangkat kepala mereka dan melihat perubahan di surga.
Di takhta Surga Utara, Prabangkara yang sedang membaca catatan reinkarnasi menghentikan pergerakannya. Tangannya berhenti pada posisi membalikkan halaman di tengah-tengah. Ia perlahan menutup bukunya dan melemparnya ke belakang. Buku itu menghilang ditelan udara dan tak terlihat lagi. Prabangkara berdiri dengan tegap dan menatap langit dengan mata emas murninya.
Rambut putihnya yang diselingi warna oranye bergerak ditiup angin. Jubah putih dengan pola rumit abu-abunya bergoyang seiring pergerakannya. Sepatu boots putihnya menyentuh lantai dan suara langkahnya menggema dengan keras di istana Surga Utara yang megah.
Ia mendengus kecil. "Berani juga dia."
Di sisi lain, takhta Surga Selatan telah lama dikosongkan. Hawa hangat yang masih menguar dari singgahsananya menunjukkan bahwa pemiliknya pergi belum lama. Indra, dengan wajah penuh keseriusan keluar dari istananya dengan cepat. Rambut pirang panjangnya tertiup angin dengan ganas. Dalam sekali kedipan, ia menghilang dari istana Surga Selatan dan pergi ke tempat lain.
Jika neraka dihiasi oleh magma dan api yang panas, awan putih yang lembut melayang-layang di surga. Hawa sejuk membuat siapa pun yang datang merasa tenang. Para monster surga berjalan dengan bebas. Tawa dan alunan musik merdu terdengar di segala penjuru. Dewa-dewa kematian berjalan keluar masuk dengan arwah orang meninggal di sampingnya.
Di sebuah taman awan, dimana sebuah pohon besar dengan daun berbentuk hati berdiri, sebuah bola berwarna putih kekuningan memancar terang. Ia menjadi sumber kehidupan dan penerang surga. Meski begitu, ada atau tidaknya bola ini tidak begitu berpengaruh bagi penerangan karena banyak dewa yang menguasai elemen cahaya.
Inti kehidupan.
Kannan muncul di gerbang menuju inti kehidupan dan menyunggingkan senyum. Ia berjalan masuk perlahan. Matanya melekat pada inti kehidupan yang seakan mengundangnya datang. Tangannya terulur ke depan, menyentuh inti kehidupan itu.
Awalnya inti kehidupan itu bergetar merasakan sentuhan dari iblis. Namun, setelah beberapa lama, ia menerima sentuhan Kannan dan mengenalinya sebagai satu dari empat raja dunia akhirat. Kannan mengenggamnya erat, membawanya ke depan wajahnya dan memperhatikan inti kehidupan itu.
Sama seperti kala ia mengambil inti kematian, seorang raja datang dan menyerangnya secara tiba-tiba. Pedang petir berwarna kuning muncul dan menusuk bahunya. Kannan dengan cepat berpindah dan muncul di belakang penyerangnya. Lalu dengan lincah menendang orang itu.
Indra sang penguasa Surga Selatan menatanya sengit. Inti kehidupan yang telah berdiam di teritorinya selama entah berapa lama telah disentuh bahkan dicuri oleh seorang iblis!
Meski itu bukan iblis rendahan, inti kehidupan tetaplah milik surga. Mungkin inti kehidupan mengenali Kannan sebagai raja dunia akhirat tapi Indra tidak menerimanya!
Indra menyerang Kannan tanpa henti. Berbagai senjata yang terbuat dari petir terus menghujam Kannan. Kannan yang sudah tidak lagi terkekang oleh inti kematian dan bisa menyerap aura spiritual yang ada di surga dengan lihai menghindar. Ia membalas serangan Indra yang tidak ada habisnya dengan mudah.
"Hujaman petir!"
Ribuan pedang petir muncul di sekeliling Kannan. Pedang-pedang itu melesat ke arahnya dan menusuknya di segala arah. Asap menutupi tempat inti kehidupan melayang dan Indra tidak bisa melihat apa yang terjadi. Saat asap menghilang dan Indra siap maju untuk mengambil kembali inti kehidupan.
Mata emas Indra membola. Kannan tidak ada sama sekali di tempatnya menyerang. Ia berbalik dan Kannan berada di belakangnya tertawa kecil. "Hai."
Kannan menendang Indra dengan penuh semangat dan membuatnya menabrak pohon. Darah keluar dari mulut Indra dengan kasar. Indra menyentuh dadanya yang membiru karena serangan itu. Setidaknya ia adalah dewa dan luka itu akan cepat sembuh.
Kannan menghampiri Indra dan menginjak kepalanya. "Aku benar-benar suka padamu," ujar Kannan sambil tertawa senang.
Di antara raja dunia akhirat lainnya, raja yang paling suka ia bully adalah Indra. Dewa ini sangat sombong dan suka memamerkan barang-barangnya. Tiap kali Kannan datang ke surga, ia akan disambut dengan pameran benda berharga Indra. Jika ia sedang iseng, ia akan membully Indra hingga Indra akan menangis di depan inti kehidupan seharian. Menginjak Indra seperti ini bukanlah hal yang pertama baginya. Hanya saja, setelah 500 tahun sibuk, perasaannya kali ini benar-benar sangat senang.
Dari dulu, satu-satunya hal yang paling ia banggakan adalah inti kehidupan. Kannan tidak memegang inti kematian di teritorinya jadi ia selalu menyerang Kannan dengan itu. Sekarang, melihat Kannan mengambil inti kehidupan dengan mudah, Indra tentu saja tidak terima dan sangat marah hingga ia ingin meledakkan seluruh surga!
Indra menggeram dan menangkap kaki Kannan. Ia lalu membanting tubuh Kannan dan menghajarya berkali-kali. Kannan tertawa gila dan mereka bergulat, melupakan tujuan pertarungan mereka sebelumnya.
Saat mereka asyik bergulat, sebuah serangan cahaya memisahkan mereka. Kannan mendesis dan melihat lengan atas kanannya yang terbakar. Ia menatap garang ke arah gerbang dan melihat orang yang paling tidak ia sukai berdiri di sana.
"Apakah kau tidak punya kerjaan lain, hah?" Tanya dewa itu dingin.
"Tidak. Maka dari itu aku ke sini untuk bermain," jawab Kannan.
"Kannan."
"Apa? Mau memarahiku? Sini."
Prabangkara melambaikan tangannya dan sabit cahaya menyerang Kannan. Indra melihat kedatangan Prabangkara dan dengan pintar ikut bertarung. Kannan terus terpojokkan oleh elemen cahaya sementara Prabangkara mendesis tanpa henti saat elemen kegelapan berusaha menelannya.
Kannan dengan marah melempar Indra ke pohon. Sebuah lubang besar muncul di batang pohon tua itu dan menjebak Indra di dalamnya. Sebelum Indra dapat keluar, Kannan telah mengikatnya dengan elemen kegelapan dan mencegahnya berbuat macam-macam.
Kannan dan Prabangkara melakukan pertarungan yang sangat sengit. Dibanding dengan Dewi Shanti, Prabangkara jutaan kali jauh lebih kuat darinya. Posisi Kannan dan Prabangkara sama dan tidak pernah ada kata menang atau kalah di antara mereka.
Kannan tidak tahu mengapa tapi sepertinya raja yang memegang inti kehidupan dan kematian adalah orang lembut yang mudah dijahili sedangkan yang tidak adalah kebalikannya.
Kannan telah lama mengeluarkan berbagai macam binatang kegelapannya dan berusaha memojokkan Prabangkara. Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih lima menit dengan binatang peliharaan Kannan, Prabangkara berhenti memberi mereka perhatian dan menunjuk Kannan dengan jarinya.
Kannan membelalakkan matanya. Cahaya yang terang dan panas muncul dari jari telunjuk itu, dengan ganas melesat ke arahnya. Prabangkara melihat Kannan dapat menahannya dengan aura kegelapannya dan mengeluarkan busur. Ia menarik tali busur tersebut dan anak panah yang terbuat dari elemen cahaya muncul.
Tembakan demi tembakan tidak ada yang benar-benar melukai Kannan. Prabangkara sendiri harus berjuang menjauhi harimau kegelapan yang sepertinya sangat menyukainya karena terus mengerjarnya dan berusaha mengeluskan kepalanya ke tubuh Prabangkara.
Kannan berhenti dan menangkis anak panah lainnya dengan pedang miliknya. Ia lalu maju ke arah Prabangkara dan menusuk perutnya. Pada saat yang sama, busur cahaya menusuk dadanya namun tidak berhasil mengenai jantung mau pun inti elemen dan inti spiritualnya.
Prabangkara dan Kannan sama-sama meludahkan darah. Prabangkara tertawa mengejek. "Masih ragu untuk benar-benar membunuhku, huh?"
Kannan balas tertawa. "Bukankah sudah kubilang aku sangat mencintaimu."
Mereka bertatapan untuk waktu yang lama. Saat Prabangkara ingin mengutarakan balasannya, awan hitam yang mengeluarkan kilat berwarna merah muncul di atas kepala mereka.
Kannan tertawa keras. "Kemari, Narendra! Ayo kita lihat petir mana yang berhasil menyambarku hari ini!"
Hujan petir datang namun sebuah lubang muncul di tengah-tengah awan tersebut. Seekor naga hitam muncul di tengahnya dan menghalangi hujaman petir yang datang dari awan.
Narendra berlari dan menghampiri Kannan. Mengeluarkan pedang petirnya dan menusuk Kannan tanpa henti.
Prabangkara mundur lalu setelah beberapa pertimbangan maju ke depan. Pertarungan dua lawan satu itu cukup untuk memojokkan Kannan.
Jika Indra terdengar begitu kasihan karena sering menjadi sasaran kekejaman Kannan, Narendra adalah korban keisengannya. Mereka berada di lingkungan pertemanan yang sama dan sering bermain bersama. Narendra sering diisengi hingga merengek di depan Kannan. Pada saat satu rengekan saja lolos dari bibirnya, Kannan akan segera menghampirinya lalu memeluknya. Meminta maaf dengan lembut hanya untuk mengulang perbuatannya di kemudian hari.
Prabangkara sendiri mempunyai hubungan yang tidak dingin dan tidak hangat dengan Kannan. Mereka jarang bertemu karena Prabangkara terlalu angkuh. Kannan malas berhubungan dengannya yang terlalu dingin. Jika mereka bertemu, keduanya hanya akan duduk membaca buku dan minum teh atau bertarung untuk menghabiskan waktu. Meski tak sering bertukar kata, Kannan mengerti Prabangkara dan Prabangkara mengerti Kannan.
Ketika Prabangkara mendengar Kannan mencuri inti kematian, ia hanya menutup bukunya dan terdiam disaat dewa lain sudah heboh memperkirakan apa yang akan Kannan lakukan. Ia mengerti Kannan dengan baik dan bisa menebak tujuannya. Meski begitu, Prabangkara diam saja.
Ia diam-diam memperhatikan gerak gerik Kannan. Begitu ia melihat Kannan berada di rumah seorang penyihir dan bermain dengan senang, ia menutup matanya dan berhanti mengikuti Kannan.
Kannan telah menemukan kebahagiaannya dan ia tidak perlu takut Kannan akan melakukan sesuatu yang diluar nalar.
Sayangnya, Prabangkara salah. Ia tidak mengerti Kannan dengan baik. Kannan tetap akan mewujudkan keinginan terkonyolnya. Menyatukan inti kehidupan dan kematian lalu menjadi raja tunggal di dunia manusia, iblis, dan dewa.
Prabangkara tidak terima.
Maka dari itu, ia segera pergi dari istananya begitu mendengar keributan. Ia menyerang Kannan tanpa henti dan berniat membunuhnya namun ia gagal.
Kannan tidak punya niatan untuk membunuhnya.
Kannan masih menghormatinya.
Kannan menyayanginya.
Prabangkara mengerti bahwa Kannan mengisengi Indra serta Narendra untuk menunjukkan rasa sayangnya. Mereka lahir dengan tujuan masing-masing namun masih terikat sebagai saudara tidak langsung. Mereka lahir dari inti kematian dan kehidupan dan hidup sebagai penerus surga dan neraka saat usia tetua mereka telah habis dan mereka kembali ke inti kematian dan kehidupan.
Prabangkara tidak bisa diprovokasi maka dari itu Kannan menghindarinya. Ia tidak menjahili Prabangkara dan hanya duduk diam di samping Prabangakra yang sedang membaca. Ia akan ikut membaca dengan tenang dan tidak membuat keributan. Mereka akan bertarung saat Prabangkara selesai dengan bukunya dan hasil seri akan selalu muncul.
Kannan bisa saja membunuh Prabangkara tapi ia tidak melakukannya. Hal ini karena perasaan yang tumbuh di antara saudara ini terlalu kuat baginya. Ia menyayangi Prabangkara selayaknya ia menyayangi Indra dan Narendra.
Elemen mereka berbeda. Mereka tidak akan pernah bisa bersatu dan selalu bertolak belakang. Mereka hanya akan selalu menyakiti dalam diam.
Prabangkara tidak bisa menahan perasaannya dan dengan kejam menyerang Kannan. Tak lupa ia melepas ikatan Indra dan pertarungan itu segera berubah menjadi tiga lawan satu.
Di Bumi sana, Gyandev dan seluruh manusia mendongak melihat langit yang menggelap. Petir terus muncul dan bunyi gemuruh membuat para orang tua memaksa anaknya pulang. Perlahan, air hujan turun membasahi tanah. Hafeez masuk ke dalam rumah setelah seharian berjemur dan tidur dengan santai di atas kursi panjang.
Gyandev mengerutkan dahinya. Ia sangat ingin berdoa tapi tidak ada satu pun dewa mau pun iblis yang bisa ia percayai sekarang. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya gugup dan berharap Kannan akan kembali.
