Vriryn,2018
Vriryn tampak ramai.
Pagi itu, sama seperti hari-hari lain seluruh warga sudah siap memulai hari tepat beberapa saat setelah terompet kerajaan berbunyi. Satu persatu ekor warna-warni tersebut mulai terlihat berenang kesana dan kemari menuju pada urusan masing-masing.
Semua terlihat ceria, suara nyanyian mereka terdengar merdu hingga ke seluruh pelosok lautan. Membuat ikan-ikan kecil memutuskan untuk berenang sejauh mungkin dari kawasan mereka. Semua berjalan normal.
Begitupun di dalam istana, tempat seluruh pusat kepemimpinan Vriryn berada.
Disana, ekor biru gagah milik sang raja tengah berenang-renang santai mengelilingi istana. Melakukan kegiatan 'jalan' paginya. Sesekali, sang raja akan mengangguk atau memberikan perintah disini dan disana pada para abdi jika sesuatu tampak tidak sesuai dengan keinginannya.
Seperti kejadian barusan dimana sang raja turun tangan untuk membetulkan kandang Abysslich, Mosasaurus miliknya, yang sedikit bengkok akibat hantaman ketika pelatihan kemarin. Atau ketika sang raja melihat ruangan belajar milik sang putera terlihat sedikit berantakan dengan lumut disini dan disana.
Alih-alih memanggil para pelayan untuk melakukannya, sang raja hanya menghela nafas dan memutuskan untuk turun tangan sendiri. Raja tampan itu menghabiskan beberapa jam disana, menikmati waktunya sembari ingatan melayang pada beberapa tahun lalu saat dua ekor biru lain masih mengisi ruangan tersebut.
Raja Adriros tidak berbohong bahwa ia memang benar merindukan kedua putranya.
Kehilangan Adriviane meninggalkan luka dalam yang membekas baginya. Itulah alasan kenapa sang raja amat protektif terhadap putra bungsunya, Aereviane.
Tetapi lagi-lagi, ia harus ditinggalkan.
Dan kepergian Aereviane cukup menyakitinya. Namun, detik ketika ia melihat Chanyeol berada di Vriryn dengan ekor merah menyala yang gagah dan kekuatan api luar biasa, Adriros tahu bahwa Chanyeol memang pantas memiliki putera bungsunya.
Dan fakta bahwa takdir mereka sudah saling terkait sejak puluhan tahun lalu, tidak dapat ia abaikan begitu saja. Ditambah, jika Park Chanyeol bisa membuat puteranya Bahagia maka itu sudah cukup bagi sang raja.
Sehingga, ketika mengetahui bahwa Chanyeol terluka parah malam itu –akibat serangan diam-diam Matthew yang sungguh membuat Adriros kecewa, sang raja tidak lagi mengulur waktu untuk menemui Pisilato dan membantunya menghubungi Chanyeol melalui alam bawah sadar sang chairman.
Beberapa bulan sudah berlalu sejak malam itu, dan sang raja sama sekali tidak mengetahui kabar mereka lagi. Ia bisa saja menemui mereka di daratan, dan persoalan menemukan dimana Park Chanyeol tinggal bukanlah masalah berarti bagi seorang penguasa laut sepertinya.
Tetapi, sesuatu menghalangi sang raja.
Sesuatu di dalam hatinya mengatakan ini belum saatnya Ia menemui Aereviane.
Sehingga itulah yang ia lakukan.
Hanya saja, selama beberapa hari ini sang raja tiba-tiba amat merindukan putera bungsunya tersebut. Beberapa kali ia bahkan bermimpi Aereviane dalam wujud manusianya tengah menangis sembari mengulurkan tangan meminta pertolongan pada sang ayah.
Pertama kali mimpi itu menyambangi sang raja, ia tak terlalu menghiraukan. Menganggap semua itu hanya bunga tidur karena ia terlalu merindukan si bungsu.
Namun, semakin waktu berlalu sang raja akhirnya tak dapat lagi mengabaikan rasa khawatir yang terus mengetuk pintu hati tanpa henti. Beberapa kali ia meminta Pisilato untuk datang, mendiskusikan mengenai mimpi sang raja. Tetapi, siren tua itu mengatakan itu hanyalah sebentuk ilusi dari perasaan rindu yang sang raja rasakan.
Tentu saja, Adriros tidak percaya.
Intuisinya mengatakan bahwa sesuatu tengah tidak baik-baik saja diatas sana. Semakin lama waktu berjalan semakin rasa panik dan tak nyaman itu membelenggunya. Dorongan akan dirinya untuk berenang ke permukaan dan menemui si bungsu semakin besar.
Tetapi, sesuatu dalam dirinya yang tak kalah kuat juga menahan sang raja untuk keatas sana.
Menghadapi sekelebat memori masa lalu yang hingga kini masih menghantuinya.
Memang, ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk berdamai dengan masa lalu. Kejadian belasan tahun sebelumnya yang membuat sang raja amat membenci daratan beserta isinya. Hanya saja, semuanya tidak semudah itu bukan? Berdamai dengan masa lalu berarti membiarkan dirimu kembali tersakiti dan berpasrah atasnya, sebelum kemudian tahap maaf akan mulai dipertimbangkan.
Dan sang raja, benar tak yakin ia sudah siap dengan semua itu.
"Yang mulia! Putera Mahkota…".
Sang raja baru saja memasuki ruangannya ketika suara menggema seekor siren berwarna kuning yang dibarengi dengan hembusan suara memburu, terdengar. Deguban jantung itu kembali. Rasa khawatir serta tak tenang yang tadi sempat sirna kini kembali, mengguyurnya secara bertubi-tubi. Ditambah raut panik dari sang abdi yang tampak jelas terpatri di wajah, membuat perasaannya semakin tak enak.
"Apa…".
Namun, belum sempat kalimat itu terucap sempurna, sosok putih Pisilato terlebih dahulu tertangkap oleh indera penglihatan sang raja.
Wajah mengeras, dengan gelengan kepala pelan yang diberikan oleh sang siren tetua cukup menjadi peringatan bagi sang raja, bahwa sesuatu memang tengah tidak baik-baik saja.
Lagi-lagi, dunia Adriros serasa melebur di hadapannya.
.
.
Heart of The Ocean
.
.
Chapter 19
.
Do not Copy, Edit and Repost
Seoul, 2018
Senja tengah menyapa, bisikan sinar bulan tampak mengintip, menyusupi celah-celah tirai tebal putih milik rumah sakit yang kini tak tertutup dengan sempurna. Suara teratur yang keluar dari alat-alat yang terpasang disana menjadi satu-satunya pemecah kesunyian dingin di malam itu.
Park Chanyeol, tengah bersandar pada punggung sofa dengan kedua kaki yang disangga oleh sebuah kursi kecil lain. Alat infus tampak masih terhubung kedalam tubuh sang chairman, menyalurkan obat dan cairan yang ia butuhkan untuk tetap bertahan.
Pria tampan itu setia menunduk, sembari memijit pelipisnya yang masih berdenyut. Kejadian beberapa menit lalu seolah menambah rasa sakit yang ia rasakan menjadi berkali-kali lipat.
Ia hampir saja kehilangan Baekhyunnya.
Entah apa yang terjadi –atau mungkin takdir memang tengah mengujinya, tiba-tiba saja alat penyalur darah yang memompa cairan merah itu masuk kedalam tubuh Baekhyun berhenti berfungsi. Menyebabkan si biru kejang-kejang selama beberapa saat.
Chanyeol hanya bisa berdiri mematung didepan pintu ketika itu terjadi. Ia seolah tengah bertanya-tanya, apakah semua yang berkelebat didepan matanya ini merupakan realita atau hanya seberkas imajinasi yang terbentuk dari malam-malam penuh ketakutan serta rasa bersalah? Ditambah mimpi yang baru saja ia alami seperti menambah rasa takut yang sudah menggunung didalam hatinya.
Beberapa suster terus meneriakkan "code blue! Code blue!", yang menggema memenuhi Lorong sepi lantai VVIP tersebut.
Chanyeol hampir saja menyerah. Sehingga ia hanya bisa berdiri disana, menganggap bahwa malam itu adalah terakhir kali sang chairman melihat Baekhyunnya. Menyaksikan kejadian menyakitkan yang berkelebat didepan mata tanpa berkedip. Menyimpannya di dalam memori sampai hari dimana ia akan menyusul Baekhyun nanti, serta bersumpah untuk membawa rasa sakit itu kemanapun kakinya melangkah.
Beberapa kali, para petugas kesehatan melewatinya. Tidak terlalu peduli dengan keberadaan sesosok pria tinggi yang kaku tak bergerak di depan pintu, karena apa yang sedang terjadi didalam sana sudah cukup menyita hampir seratus persen perhatian mereka.
Chanyeol menyaksikan segalanya.
Bagaimana Baekhyun kejang-kejang hebat dengan beberapa tugas medis berusaha untuk memeganginya, sedang beberapa yang lain tengah sibuk mengganti alat dan kantong-kantong infus berisi darah. Beberapa dokter tampak sibuk mengecek keadaan si biru dengan suara panik yang terdengar nyata. Ditambah suara tangisan Luhan, ruangan itu tampak seperti neraka bagi Chanyeol.
"CEPAT ANDA SAMBUNGKAN SELANG PADA LUBANG YANG DISANA DOKTER KIM!".
"AKU KEHILANGAN DENYUT NADINYA!"
Teriakan panik kedua dokter itu seketika membuat Chanyeol memejamkan mata. Jantungnya berdetak sangat cepat, rasa sakit yang sejak kemarin menderu didalam dada kini semakin teriris karena tampaknya takdir sama sekali tak mengasihaninya.
"DETAK JANTUNG PASIEN MELEMAH, SEGERA SIAPKAN DEFIBRILATOR".
Dengan kalimat itu, dunia sekitar Chanyeol seketika berubah menjadi serpihan-serpihan samar. Telinganya seakan tuli sembari pria tampan itu berjalan mendekat.
Selangkah.
Dua langkah.
Tiga langkah kemudian ketika Sehun menyadari Chanyeol tengah berdiri bak patung tepat di belakangnya.
Sehun beberapa kali mengguncang pundak sang chairman untuk menyadarkannya dari lorong lamunan tak berujung. Namun hal itu gagal ia lakukan, Chanyeol masih berdiri mematung dengan tatapan mata kosong melihat alat kejut jantung menekan tepat di dada sang kekasih. Perlahan Sehun merangsek mendekat dan memberikan rangkulan pada Pundak, berusaha menguatkan pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya tersebut.
"Hyung, sadarlah… Hyung, Baekhyun akan baik-baik saja", bisik Sehun.
Namun kalimat itu tak cukup untuk membuat Chanyeol merasa tenang.
"Maaf tuan, tapi anda tak seharusnya berada disini. Silahkan menunggu diluar."
Usiran panik seorang wanita berseragam putih tampak melewati indera pendengar Chanyeol begitu saja. Ia bahkan tak menyadari ketika Sehun mengangguk, sembari menuntun tubuhnya keluar dari ruangan diikuti oleh Luhan.
Chanyeol menoleh untuk terakhir kali, didalam sana suara mesin elektrokardiogram terdengar statis menyayat hari, kedua tangan dokter Kang mengangkat alat Defibrilator dengan teriakan "Clear!". Ia bersumpah, seumur hidup tak akan pernah sanggup menghapus memori akan detik itu.
Kedua mata lebar Chanyeol mengedip, sebelum akhirnya pintu ditutup rapat.
Meninggalkan tubuh tinggi sang chairman yang masih mematung dalam pelukan oh Sehun. Perlahan kesadaran menghampiri, kedua kaki Chanyeol bergerak mundur seakan tak percaya bahwa apa yang baru saja dilihatnya merupakan realita.
BRUK
Punggung tegap sang chairman dengan keras menubruk tembok dibelakangnya. Sebelum ia merosot turun hingga terduduk di lantai.
"Hyung", Sehun perlahan berjongkok di samping sang chairman. Berusaha memberikan kalimat penenang meski ia tahu itu tak akan berhasil kini. Karena satu-satunya yang Chanyeol butuhkan adalah Baekhyun.
"Chanyeol! Sehun! Apa yang terjadi?".
Tiffany tampak berlari kecil menghampiri mereka beberapa menit kemudian. Tubuh mungilnya masih terbalut pakaian resmi. Jelas menunjukkan bahwa wanita itu baru saja meninggalkan acara penting entah apa untuk segera menemui mereka.
Tiffany memang baru mengenal Baekhyun selama beberapa bulan, namun tiap kali ia menatap mata biru sang pangeran, sosok Adriros akan sekelebat hadir disana, seolah sang raja lautan hidup di dalam diri putera nya. Sehingga mendengar apa yang baru saja terjadi pada Baekhyun cukup untuk membuatnya panik dan segera meninggalkan rapat direksi yang tengah ia hadiri.
Hati Tiffany seolah teriris ketika hal pertama yang ia lihat adalah sang putera, tengah terduduk lemas bersandar pada tembok dingin rumah sakit dengan pandangan kosong.
"Chanyeol… katakan sesuatu", ujar Tiffany. Tangan kecilnya mengguncang kuat Pundak sang putera. Berusaha membangunkannya dari lamunan.
Chanyeol seolah mati rasa, dunia di sekelilingnya seakan mengabur ketika ia tengah bergelut dengan perasaan dan rasa sakit yang membuncah di dalam dada. Tubuhnya tak mampu begerak dan segala kesadarannya terpusat pada benak dimana ia tengah berjuta kali merapalkan kalimat yang sama.
"Kumohon, jangan ambil dia hari ini".
Tangan berotot itu mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku tak pernah benar-benar yakin bahwa kau memang ada dan mendengarku Tuhan. Tapi kumohon, kumohon pada siapapun diatas sana yang bisa mendengarku. Kumohon, jangan ambil dia dariku. Kumohon… selamatkan dia, bahkan jika nyawaku adalah gantinya".
Bersamaan dengan kalimat itu bergema di benaknya, setetes air mata akhirnya lolos mengaliri pipi pucat sang chairman. Diikuti lelehan-lelehan air asin yang terus berkejaran tanpa henti. Di tempat duduknya, Pundak Chanyeol bergetar hebat. Suara isakannya terdengar amat menyakitkan hingga setetes air mata lain juga menuruni pipi sang ibu.
Untuk pertama kali Park Chanyeol, si tampan, si cerdas, si penguasa, si 'sempurna', meluruhkan semua harga diri ditengah Lorong rumah sakit, dihadapan beberapa bodyguard dan pertugas medis yang berlalu-lalang, menangis terisak bak seorang bayi yang ditinggalkan oleh ibunya.
Melihat Si Park Chanyeol menangis seperti itu setelah sekian lama menyakiti hati sang ibu juga orang-orang lain di ruangan itu yang tak pernah menyangka akan menyaksikan sang bos besar dalam keadaan seperti ini.
Perlahan Tiffany menarik tubuh besar itu kedalam pelukannya. Mengusak surai putera tunggalnya dengan penuh kasih dibarengi kalimat menenangkan sebisa yang ia lakukan. Sehun menatap prihatin kearah ibu dan anak itu. Menyaksikan bagaimana Chanyeol masih menangis hebat dalam pelukan sang ibu seperti dua puluh tahun lalu ketika ia pertama kali jatuh dari sepeda.
Tangisannya terdengar menyakitkan bahkan bagi mereka yang tak mengenal Chanyeol secara personal. Para Bodyguard yang memang tengah berjaga dengan sengaja membalikkan punggung dengan kepala menunduk dalam.
Ikut berduka bersama sang bos besar.
Detik berlalu menjadi menit ketika Chanyeol akhirnya terdiam. Tubuh yang memang belum sepenuhnya pulih tersebut menjadi amat lemas ketika seluruh tenaga ia habiskan untuk meluapkan segala rasa sakit dan sesal yang membuncah dalam dada. Sehingga kedua matanya tak sanggup lagi untuk terbuka dan kegelapan menjemput.
Sang chairman terbangun sekitar dua jam kemudian. Chanyeol menatap ke sekeliling, menyadari dirinya kini sudah berada dalam ruangan Baekhyun. Tubuh bersandar nyaman pada sofa panjang dan alat infus masih terpasang pada tubuhnya. Ruangan yang tadinya amat sibuk itu berubah sunyi.
Kepalanya berdenyut-denyut hebat, ia mengingat dirinya menangis hebat dalam pelukan sang ibu sebelum semuanya berubah gelap. Bayangan akan tubuh Baekhyun yang tadinya kejang-kejang berubah lemas secara perlahan masih menghantui sang chairman.
Perlahan pria tampan tersebut memijat keningnya, berusaha menghalau rasa sakit yang menghantam kepala bak jutaan bola bowling jatuh tepat di ubun-ubun. Dengan ragu ia menoleh, memberanikan diri menatap apapun yang ada dihadapannya.
Suara mesin elektrokardiogram terdengar teratur memenuhi ruangan, dan disanalah Chanyeol melihat dunianya.
Terbaring lemah diatas tempat tidur. Alat-alat masih terpasang di tubuhnya seperti semula.
Dada nya bergerak naik turun dengan teratur.
Membuat nafas yang sejak tadi ia tahan kini bisa terhembuskan dengan lega.
Chanyeol memijat pelipisnya pelan, berusaha menghalau rasa pening yang mendera kepala. Sebelum berhati-hati ia berdiri, menarik pelan alat infusnya untuk mendekat kearah sang kekasih.
Wajah cantik itu masih terlihat pucat, dan tenang. Seolah dirinya tengah tertidur dengan pulas.
Seolah rasa sakit sama sekali tak ia rasakan.
Ia bertanya-tanya dalam hati apakah dirinya tadi tengah bermimpi, dan kenyataan membangunkan sang chairman bahwa Baekhyunnya masih terjebak dalam ketidaksadaran.
Perlahan, Chanyeol berjalan mendekat hingga sosok Baekhyun kini jelas terlihat di indera penglihatannya.
Namun ada yang berbeda.
Sesuatu yang membuat Chanyeol akhirnya menyadari bahwa apa yang tadi ia lihat bukanlah sekedar mimpi.
Tubuh mulus Baekhyun yang tadinya terbalut piyama rumah sakit, kini tak terbalut apapun karena beberapa saluran baru menempel disana.
Hanya saja Chanyeol melihat sesuatu yang seolah menyayat-nyayat hatinya.
Sepasang Blisters atau yang lebih dikenal dengan luka bakar melepuh tampak menghiasi dada mulus sang kekasih. Luka tersebut menjadi saksi bisu bagaimana alat pemacu detak jantung berusaha mengembalikan Baekhyun kepadanya tadi.
Dan dengan fakta itu, fakta bahwa Baekhyun sudah merelakan banyak hal dalam hidupnya untuk Chanyeol membuat dada sang Chairman berdenyut nyeri.
Tangan berotot itu terkepal, setetes air asin menuruni pelupuk mata. Membasahi pipi dan menetes turun membasahi punggung tangan Baekhyun.
Tubuh Chanyeol terasa lemah hingga kedua lutut itu kembali Bersatu dengan bumi dibawahnya.
Ia terlihat menyedihkan.
Tak ada kata lain yang dapat menggambarkan keadaannya saat ini.
Sang chairman kembali terisak sembari mengecup punggung tangan Baekhyun beberapa kali sebelum menggenggamnya erat.
Tik
Tik
Tik
Detik jam yang menggantung di dinding menjadi satu-satunya kawan Chanyeol melawan sepi. Menyadarkannya bahwa waktu terus berjalan dan semakin lama ketakutan semakin melahapnya hidup-hidup.
Menyadarkannya bahwa, waktu tidak akan pernah berhenti untuk memberi kesempatan pada Chanyeol memperbaiki segalanya. Waktu adalah satu-satunya pengingat bahwa dirinya harus terus berlari untuk menyelamatkan Baekhyun.
Agar tiada lagi kata terlambat.
Sret
Sebuah pergerakan lemah tiba-tiba menarik Chanyeol dalam mode waspada. Kepalanya terangkat, menatap kaget pada apa yang baru saja dirasakannya.
Tidak, ia tidak mungkin berhalusinasi lagi kan?
Chanyeol mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Berusaha memastikan bahwa tiada siapapun disana selain ia dan Baekhyun.
Benar.
Memang disana hanya ada dirinya dan Baekhyun.
Lalu siapa?
Sret.
Pergerakan lemah itu kembali terjadi. Kali ini, diikuti kulit dingin yang menyentuh punggung tangannya.
Chanyeol sedikit melonjak, sebelum ia menggulirkan pandangan kearah satu-satunya manusia yang ada disana bersamanya.
Yang amat mustahil melakukan pergerakan sekecil apapun kini.
TIK
TIK
Pada detik ke sepuluh menuju pukul sebelas lewat sebelas lima menit, sepasang manik segelap malam bertemu dengan sepasang lain yang mengingatkan Chanyeol akan indahnya samudera.
Mata Chanyeol berkaca-kaca.
Ia bahkan beberapa kali tergoda untuk menampar dirinya sendiri agar segera kembali ke dunia nyata.
Namun, tangan dingin itu kini tengah menggenggam tangannya dengan lemah.
Baekhyunnya membuka mata.
Fakta itu berteriak nyaring di telinga Chanyeol dan menyadarkannya.
"B…baekhyun? Sayang? Kau dengar aku?", suara Chanyeol bergetar bahkan di telinganya sendiri.
Satu anggukan lemah menjadi jawaban Baekhyun.
Membuat seluruh tubuh Chanyeol bergetar karena tangis dan senyuman lebar disaat bersamaan. Air asin berlomba-lomba menuruni pelupuk sembari sang Chairman mengusap sayang surai abu-abu sang kekasih.
"Sayang maaf, maafkan aku", adalah kalimat yang selanjutnya Chanyeol ucapkan dengan susah payah karena tangis membuat suaranya bergetar dan tersendat.
Puluhan kecupan sayang ia hadiahkan pada punggung tangan Baekhyun, dilanjutkan dengan ucapan maaf tiada putus.
Lagi, Baekhyun mengangguk. Kali ini dibarengi dengan senyuman lemah yang tulus.
"T…Tidak apa Chan", suara itu terdengar berupa bisikan.
Sedikit demi sedikit menyembuhkan luka yang tertoreh dalam di hati sang Chairman.
"Aku mencintaimu sayang, kau tahu itu kan? Aku sangat mencintaimu", bisik chanyeol.
Tubuh besar itu perlahan mendekat, memberikan ciuman sayang pada kening sang pangeran lautan.
Tangan lemah Baekhyun bergerak, kulit mulus dinginnya menyentuh permukaan pipi sang chairman dengan sayang.
"Akupun".
Satu kata yang mampu Baekhyun ucapkan setelah sekian lama.
Satu kata yang mampu memberikan Chanyeol nafas kehidupannya kembali.
Satu kata yang setelah sekian lama melepaskan sedikit beban berat di Pundak sang chairman.
Karena setelah sekian lama, akhirnya Baekhyun kembali.
Tanpa menunggu, Chanyeol menekan tombol merah yang berada tepat diatas tempat tidur Baekhyun, langsung menyambungkannya dengan tim dokter yang selalu siaga mengecek keadaan sang pangeran lautan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan Park?".
"Dia bangun! Baekhyun bangun!", teriak Chanyeol melalui speaker.
Hening beberapa detik, sebelum kemudian wanita di seberang sana mengatakan mereka akan segera datang.
Chanyeol kembali bersimpuh di samping sang kekasih. Matanya kembali bertatapan dengan mata biru Baekhyun.
"Baby, aku… Aku sungguh menyesal…", satu remasan lemah Chanyeol rasakan pada punggung tangannya. Diikuti anggukan lemah sang siren.
Kata tak perlu terucap dan si tinggi sudah bisa mengerti apa yang kekasihnya ingin ucapkan.
Baekhyun masih tersenyum lemah menatapnya. Jemari lentik itu berusaha menghapus air mata yang membanjiri wajah sang kekasih.
Perlahan tangan besar sang chairman balas membawa tangan mungil sang siren kedalam belenggunya. Memberikan kecupan penuh cinta pada telapak tangan mulus itu, menyalurkan seluruh rasa rindu yang membuncah dalam dada.
Klek.
Suara pintu terbuka diikuti langkah-langkah panik segerombolan orang berseragam putih.
Sontak Chanyeol membuka mata, berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya pada sang kekasih.
Namun, alih-alih terbuka, kelopak mata dengan manik biru itu sudah kembali tertutup rapat.
Hanya saja senyuman lemah itu masih tercetak disana.
"Baby… Baby", jemari kasar sang chairman perlahan mengusap lembut pipi pucat Baekhyun.
Nihil.
Tiada respon, Baekhyunnya kembali tertidur.
"D…dokter Kang aku bersumpah! Ia baru saja membuka mata", ujar Chanyeol panik.
Rasa takut yang beberapa detik lalu sudah meninggalkan dirinya, kini kembali. Membelenggunya bagai asap hitam yang menyesakkan.
"Tenang Tuan Park. Kami akan memeriksa keadaan tuan Baekhyun terlebih dahulu".
Tanpa babibu, Chanyeol seketika melepaskan genggaman tangan mereka dan membiarkan dokter wanita itu bersama beberapa suster dan satu dokter pria lain memeriksa kekasihnya.
Mata hitam Chanyeol bergerak-gerak tak tenang.
Takut menantikan kenyataan yang mungkin saja semakin menghancurkan dirinya.
Menit berlalu seperti neraka bagi si tinggi. Sampai akhirnya dokter Kang tersenyum dan mengisyaratkan kepada Chanyeol untuk berbicara diluar. Wanita cantik itu perlahan menarik alat infus sang chairman, membimbing sang bos besar untuk segera mengikutinya.
"Dokter bagaimana keadaan Baekhyun?", tembakan pertanyaan Chanyeol layangkan begitu pintu tertutup rapat dibelakang mereka. Raut khawatir masih menari-nari pada wajah tampannya.
"Mohon maaf saya meninggalkan anda tadi tanpa penjelasan tuan Park. Tubuh anda terlalu lemah sehingga saya meminta perawat mengistirahatkan anda di ruangan tuan Baekhyun. Saya yakin itulah yang sebenarnya anda butuhkan", jeda sejenak untuk sang dokter menarik nafas dalam sebelum melanjutkan.
"Mesin Dialysis yang menyalurkan darah tuan Baekhyun mengalami kerusakan karena terlalu lama digunakan. Mohon maaf, atas kelalaian kami sehingga hal ini bisa terjadi Tuan Park. Namun segalanya bisa dikendalikan dan keadaan Tuan Baekhyun kembali stabil dengan pesat. Sejujurnya, hal ini sangat mustahil terjadi pada tubuh manusia normal. Bahkan, tiada manusia normal yang bisa berhasil melewati masa kritis dari efek racun sehebat itu. Tubuh manusia biasa bahkan tak akan sanggup menahan racun dengan dosis dan efek sebesar yang tuan Baekhyun terima".
DEG.
Chanyeol meneguk ludah. Bertanya-tanya dalam hati apakah dokter Kang menyadari bahwa tubuh kekasihnya memang bukanlah tubuh manusia biasa.
"Bahkan setelah kegagalan mesin tadi, sesungguhnya saya tidak menyangka tuan Baekhyun akan selamat. Namun lagi-lagi tuan Baekhyun mengejutkan saya", sang dokter tersenyum. "Keadaan tuan Baekhyun sudah kembali stabil dengan cepat".
"Jika memang keadaannya sudah stabil, apa yang terjadi? Aku bersumpah melihatnya terbangun, tapi kenapa…", Chanyeol tampak menggantung kalimatnya, tidak tahu pasti apa yang harus ia katakan.
Perasaannya seperti diombang-ambing oleh ombak samudera pasifik.
Dokter Kang tersenyum, seolah memahami kalut yang tengah bergejolak dalam diri sang Chairman.
"Memang benar, Tuan Baekhyun sudah sadar. Saya bisa memastikannya dari Brain Wave System tuan Baekhyun. Hanya saja, tubuhnya terlalu lemah untuk mensustain kesadaran beliau sehingga tuan Baekhyun kembali tertidur. Tidak perlu khawatir tuan Park, ini memang cara tubuh untuk pulih dari trauma yang hebat", Chanyeol mengangguk sebelum sang dokter melanjutkan. "Saat ini tuan Baekhyun dalam keadaan receptive, beliau bisa mendengar segala yang kita katakan hanya saja ia terlalu lemah untuk memberi respon. Saya sarankan, jika anda membahas hal-hal yang sensitive sebaiknya tidak dilakukan dekat dengan Tuan Baekhyun".
Seolah seperti ratusan tahun berlalu, akhirnya Chanyeol bisa sedikit bernafas lega dan sedikit rasa percaya diri itu kembali. Membuatnya lebih kuat dari sebelumnya.
"Sebentar lagi tuan Park, anda hanya perlu bersabar."
Pintu kembali terbuka, seluruh tim dokter Kang tampak tersenyum sembari berjalan keluar. Satu persatu dari mereka berjejer tepat di belakang sang dokter sebelum bersamaan membungkuk hormat pada Chanyeol.
Hal yang biasa sebenarnya.
Karena mereka selalu melakukan hormat kepada siapapun anggota keluarga Park setelah pengobatan menghadapi titik terang.
Hanya saja ada sedikit pemandangan yang berbeda kali ini.
Setelah bertahun-tahun berlalu, untuk pertama kalinya seorang Park Chanyeol meluruhkan segala ego, posisi, dan nama besarnya dengan balas membungkuk dalam pada dokter Kang serta timnya. Tetap setia pada posisinya hingga beberapa detik.
Mengakibatkan segerombolan orang disana kikuk karena ini pertama kalinya bagi mereka.
"Terimakasih", adalah satu kata yang ia ucapkan secara tegas sebelum kembali berdiri tegak dan tersenyum kepada mereka.
Chanyeol mendorong pintu dengan perlahan, berusaha meminimalisir suara sehingga tidak mengganggu Baekhyun yang sedang tertidur didalam sana. Hatinya terasa ringan setelah kabar yang ia terima dari dokter Kang. Senyuman kini sudah bisa menyambangi wajah tampan sang chairman.
Chanyeol mengambil langkah santai sembari menarik alat infusnya mendekati Baekhyun. Ingin menyapa sang kekasih yang ternyata selama ini bisa mendengarnya. Mendengar semua tangis putus asa dan raungan maaf yang hampir setiap malam ia ucapkan.
Tap
Tap
Tap
Tepat di langkah ketiga Chanyeol baru menyadari bahwa alih-alih hanya Baekhyun yang terbaring di tengah ruangan, sang chairman melihat dua pria lain yang kini berdiri tegap disamping tempat tidur.
Benar.
Disana, tepat di samping tempat tidur Baekhyun, Adriros tengah membungkuk sembari mengusap sayang surai putera bungsunya. Sedang dua pria lain, satu bersurai putih dan satu bersurai hitam tengah berdiri tak bergeming dibelakang sang raja.
"Akhirnya, menantuku datang juga", ujar Sang raja tanpa mendongak untuk menatap Chanyeol.
Bos besar tersebut menghirup nafas panjang sebelum melepaskannya. Berusaha menenangkan diri karena sungguh ia tak menyangka sang raja lautan akan datang disaat seperti ini. Ketika luka bakar masih menghiasi dada Baekhyun dan seluruh tubuh mungil tersebut terhubung dengan alat-alat medis.
'Mati aku', batin Chanyeol.
"Y…yang mulia", deham Chanyeol, berusaha menghalau rasa gugup. Kepercayaan dirinya ketika terakhir ia bertemu dengan sang raja kini menghilang entah kemana.
"Aku memanggilmu menantu dan kau memanggilku yang mulia, sangat kaku. Tipikal keluarga Park eh?", raja Adriros akhirnya mendongak. Senyuman hangat menghiasi wajahnya.
Hanya saja sesuatu, sorot tajam di mata birunya masih disana. Membuat Chanyeol merinding.
Kali ini ia tak memiliki kekuatan api. Ia hanyalah manusia biasa yang terhubung dengan alat infus. Raja Adriros bisa menghabisinya dalam hitungan detik.
"Apa yang terjadi, Chanyeol? Apa yang kau lakukan?".
Sang chairman memejamkan mata sejenak, kemudian memberanikan diri untuk menjawab. Ia adalah seorang pria, pewaris tahta kerajaan Atlantis dan . Tidak seharusnya ia bersikap seperti pengecut.
"Kami bertengkar, dan seseorang ingin membalaskan dendamnya kepadaku dengan meracuni Aereviane. Maafkan aku ayah, karena tidak bisa menjaga Aereviane seperti yang kujanjikan. Aku bersumpah akan berusaha lebih keras lagi".
Helaan nafas sang raja terdengar. Diikuti gemuruh geluduk diluar sana.
Sesaat kemudian hujan gerimis turun membasahi bumi bersamaan dengan sang raja yang menunduk dan mengecup sayang kening sang putera. Kali ini bukan amarah, melainkan rasa sedih yang amat dalam melihat keadaan mengenaskan sang putera.
Dibelakang sang raja, kedua pria asing tersebut juga turut menundukkan kepala. Seolah memahami apa yang sang raja rasakan.
"Kau sudah berusaha semampu yang kau bisa, nak", perlahan raja Adriros menyentuh salah satu selang yang terhubung dengan tubuh Baekhyun. Menekankan maksud perkataannya. "Hanya saja, puteraku bukanlah manusia seutuhnya. Pengobatan kalian hanya mampu memperbaiki keadaannya, bukan menyembuhkan secara total".
Kening Chanyeol beradu, berusaha memahami maksud perkataan sang raja.
"Ini adalah tujuanku datang kemari. Aku membawakan satu-satunya ramuan yang bisa menyembuhkan Aereviane. Ramuan yang sepanjang jalan menyedot energiku untuk menyempurnakan komposisinya", senyuman simpul menghiasi wajah tampan sang raja. Hujan rintik-rintik masih terjadi diluar sana.
"Bisakah kita memberikannya sekarang?".
"Tidak Chanyeol. Ramuan ini dibuat hanya untuk seorang siren sejati. Aereviane seperti yang kita tahu telah menjadi manusia, meski tidak seutuhnya. Karena itu pengobatan kalian bisa diterima oleh tubuhnya, karena sebagian tubuhnya sudah beradaptasi menjadi tubuh manusia. Sedang bagian lain yang masih berupa siren, tidak akan bisa disembuhkan dengan pengobatan kalian", perlahan Adriros menarik keluar sebuah botol kaca berisi cairan biru sebesar telapak tangannya. Mata hitam Chanyeol sontak menatap lekat cairan itu. "Ramuan ini bisa menyembuhkan sebagian lain tubuh Aereviane, namun ia bukan sepenuhnya siren. Sehingga prosesnya akan menyakiti Aereviane".
Chanyeol mengangguk mengerti, sebelum berjalan mendekat.
"Apa yang harus kau lakukan?".
"Menantuku, kau adalah pasangan Aereviane. Kau yang harus melakukan prosesnya dari awal hingga akhir. Namun pertama, kau harus mengeluarkannya dari sini. Meskipun aku tahu uangmu tak akan habis dengan menginapkan Aereviane bertahun-tahun disini, namun tidak ada salahnya mengurangi biaya dan menabung kan?".
Kekehan lolos dari bibir Chanyeol. Tak pernah menyangka sang raja akan berada disini dan melontarkan candaan dengannya.
"Kau membutuhkan laut untuk menyelamatkan Aereviane".
"Aku tidak bisa membawanya ke laut manapun, terlalu jauh dan aku tidak akan mengambil resiko untuk membahayakan nyawanya", jeda sejenak untuk Chanyeol sebelum pria tampan bersurai hitam itu mendongak dan menatap tepat pada manik biru sang raja dengan mantap.
"Aku tidak bisa membawa Baekhyun ke laut, namun aku yang akan membawakan laut kepada Baekhyun."
Kilatan ragu sempat berkelebat di wajah sang raja, kemudian pimpinan Vriryn itu menatap sekilas Pisilato yang mengangguk, memberikan persetujuan.
"Baiklah menantu, tunjukkan aku dimana laut yang kau banggakan itu".
Heart of The Ocean
Membawa Baekhyun keluar dari rumah sakit merupakan perkara yang cukup sulit, namun meyakinkan dokter Kang adalah level tertinggi.
Untuk keluar dari rumah sakit, seorang pasien harus mendapatkan persetujuan dari dokter yang bertanggung jawab atasnya dan kondisi sang pasien memang sudah harus benar-benar dalam kondisi yang pantas untuk dirawat dirumah tanpa peralatan medis.
Membawa pulang Baekhyun, seorang pasien yang masih dalam keadaan koma agaknya tidak mudah. Chanyeol harus memohon, berjanji dan mengeluarkan ratusan juta untuk memasang alat-alat medis dirumahnya agar dokter Kang serta pihak rumah sakit tidak merasa curiga.
Beberapa kali dokter Kang memeriksa keadaan Baekhyun seolah menekankan maksudnya bahwa lelaki mungil itu belum bisa dan terlalu beresiko untuk dibawa pulang. Namun tatapan tajam pria paruh baya tampan yang ternyata ayah Baekhyun itu agaknya membuat sang dokter tak nyaman.
Dalam hati ia menggerutu kenapa pria itu tidak segera muncul ketika Baekhyun dalam keadaan kritis dan malah datang disaat seperti ini. Tetapi, tentu saja semua sumpah serapah itu tertahan didalam hatinya.
Bisa dibilang, tujuh jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk Baekhyun akhirnya bisa terbaring didalam mobil ambulans terbaik yang ada di rumah sakit. Dikawal oleh Chanyeol dan sang raja yang berada dalam mobil Aston Martin berwarna hitam mengkilap tepat didepan mobil ambulans. Dan didepan mobil sang chairman, terdapat satu mobil polisi serta dua polisi yang mengendarai sepeda motor.
Jika menurut kalian ini berlebihan, kalian harus tahu, dibelakang ambulans tiga mobil audi hitam mengkilat berisi empat bodyguard di tiap mobilnya tengah terparkir tepat dibelakang ambulans. Siap mengawal mobil putih tersebut.
Chanyeol tidak ingin mengambil resiko, sekali ia kecurian dengan Lewis Lee yang berhasil membahayakan nyawa Baekhyun, sang chairman tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya.
Tepat pada pukul tujuh pagi, sirine mobil polisi dan ambulans menyala bersamaan. Mengisyaratkan bahwa iring-iringan tersebut siap berangkat membelah jalanan kota Seoul yang padat di hari kerja.
Satu tepukan di Pundak sang raja berikan pada menantunya yang kini tampak serius dibalik kemudi. Meskipun pria itu belum sepenuhnya sehat, namun tekadnya mengalahkan segala rasa sakit yang dirasakan.
"Ia akan baik-baik saja", ujar sang raja yang dibalas anggukan oleh Chanyeol.
Sebelum pria tampan itu menekan klakson sekali, mengisyaratkan pada seluruh rombongan bahwa ini sudah saatnya mereka berangkat, dan menginjak pedal gas.
Perjalanan dari rumah sakit menuju 'istana' bos besar tersebut menghabiskan sekitar satu jam. Tiada halangan berarti, perjalanan mereka lancar dan Baekhyun bisa dengan mudah dipindahkan dalam sebuah ruangan mewah di lantai tiga mansion yang sudah dipenuhi peralatan medis.
Selama proses pemindahan Baekhyun, raja Adriros tampak tenang. Raja samudera Pasifik itu tampak berjalan mengelilingi 'laut' yang Chanyeol ciptakan hanya untuk puteranya. Ia menginspeksi setiap sudut mansion dengan teliti. Seolah memastikan sang putera tinggal di tempat yang memang sesuai dengan ekspektasinya.
Pria paruh baya itu baru saja melintasi taman ketika ia bertemu dengan seorang anak lelaki kecil yang bahkan dari kejauhan bisa ia identifikasi sebagai putera Chanyeol. Anak lelaki itu tampak terkejut melihat seorang pria asing dirumahnya, namun dengan ramah membungkukkan badan sembari mengenalkan diri sebagai Jackson park.
Sang raja tersenyum, dan begitu saja ia terpikat oleh pesona menggemaskan Jackson. Adriros berakhir menemani Jackson dan menceritakannya banyak hal mengenai dunia dibawah permukaan air hingga si kecil tertidur di pangkuannya.
Tidak terasa, matahari sudah mulai kembali ke peraduan. Menimbulkan semburat oranye indah di angkasa, ketika Pisilato menghampiri sang raja. Dibelakang siren tua tersebut, Chanyeol tampak mengikuti dengan paras kaku. Anggukan kepala menjadi symbol bahwa sebentar lagi ritual harus dilakukan sebelum terlambat.
Chanyeol menghembuskan nafas perlahan sebelum memerintahkan Jessica membawa Jackson ke kamarnya dan melarang siapapun melangkah keluar dari mansion malam itu. Dengan anggukan mengerti serta bungkukan dalam, Jessica mengangkat si kecil dari pangkuan Adriros dan bergegas masuk kedalam mansion.
Tatapan mata segelap malam milik Chanyeol dan sepasang lain yang berwarna biru milik sang raja bertemu.
Bersamaan mereka mengangguk setuju bahwa saatnya sudah tiba.
Aereviane harus segera diselamatkan.
Bulan tengah berinar terang di singgasananya ketika Chanyeol dengan perlahan menggendong tubuh mungil Baekhyun menuju sebuah batu besar di samping laut buatan yang mengelilingi mansion. Disana, Pisilato, satu pria lain yang Chanyeol ketahui bernama Lucas, dan raja Adriros tengah menanti dengan sebotol ramuan biru di genggaman.
Chanyeol kembali menghembuskan nafas dalam untuk kesekian kalinya di malam itu.
Seolah merasakan gugup yang berpendar-pendar dari sang Chairman, raja Adriros berjalan mendekat. Menepuk Pundak pria tinggi itu dan mengangguk mantap.
Perlahan, Chanyeol membaringkan Baekhyun diatas batu yang sudah dilapisi beberapa selimut agar permukaannya tidak keras menyentuh punggung sang kekasih. Satu kecupan sayang ia hadiahkan pada kening Baekhyun.
"Kau harus menegukkan semua ramuan ini kedalam mulut Aereviane sampai habis. Lakukanlah sedikit demi sedikit. Dalam prosesnya nanti, Aereviane akan kesakitan atau mungkin tubuhnya akan kejang-kejang hebat. Namun kau harus menahan semua itu dan terus melakukannya. Setelah ramuannya habis, kau harus segera memasukkan Aereviane kedalam air", satu tepukan penenang sang raja berikan lagi pada pria tinggi dihadapannya. "Ingatlah, semua ini demi keselamatan Aereviane".
Chanyeol mengangguk kemudian memejamkan matanya erat. Menguatkan diri akan apa yang sebentar lagi ia hadapi.
Dengan tangan bergetar, sang chairman menerima botol berisi cairan biru yang sejak tadi berada dalam genggaman sang raja.
Satu helaan nafas ia ambil sebelum tangannya perlahan menarik tutup botol tersebut hingga terbuka. Gemuruh petir di atas langit mulai terdengar di kejauhan.
Tangan kekar Chanyeol mengangkat tengkuk sang kekasih dengan hati-hati.
Kedua mata hitam si tinggi bergulir menatap sang raja yang kini matanya tengah mengeluarkan sinar biru bersamaan dengan awan hitam yang mulai berkumpul diatas langit.
Pisilato dan sang raja mengangguk bersamaan.
Cukup menjadi tanda untuk Chanyeol melanjutkan prosesinya.
Perlahan ia mengarahkan bagian leher botol kedalam mulut Baekhyun dan menuangkan sedikit isinya. Jari sang chairman yang kini tengah mengamit kedua pipi Baekhyun agar bibir si mungil terbuka, tampak bergetar.
Si tampan mulai merasakan tubuh Baekhyun menggigil hebat bersamaan dengan hujan deras yang mulai membasahi bumi.
Sembari memejamkan mata, Chanyeol tetap mempertahankan posisi jari pada kedua pipi Baekhyun lalu menuangkan kembali sedikit cairan kedalam mulut kekasihnya.
Pada tegukan kedua, tubuh Baekhyun mulai bergerak-gerak tak beraturan. Erangan kesakitan keluar dari mulutnya hingga mengiris hati sang chairman.
Chanyeol berusaha sekuat Tenaga, menegukkan cairan itu sedikit demi sedikit kedalam mulut Baekhyun yang kini berada dalam dekapannya.
"Maafkan aku sayang… Maafkan aku", ujar Chanyeol dengan suara bergetar.
DUAR!
Petir kembali pecah diatas langit, menutupi teriakan kesakitan Baekhyun yang pasti akan didengar seluruh penghuni mansion jika badai tidak terjadi.
Glek
Chanyeol kembali menegukkan ramuan itu kedalam mulut Baekhyun.
"Baekhyun aku mencintaimu sayang, kumohon maafkan aku. Kembalilah padaku", isak Chanyeol. Air asin mulai bercampur dengan dinginnya air hujan yang mengguyur.
Semakin banyak cairan yang mengaliri system pencernaan Baekhyun, semakin hebat kejang di tubuh Baekhyun. Tubuh mungil itu bahkan kini mulai meronta-ronta tak karuan hingga salah satu tangannya tak sengaja tergores pada ujung batu.
Mengakibatkan luka menganga yang cukup besar.
"Tidak! Aku tidak bisa melakukannya yang mulia!", Chanyeol berteriak ditengah badai. Tangannya kini berpindah untuk menekan luka yang ada di tangan sang kekasih.
"SADARLAH PARK CHANYEOL!", Bentak sang raja. Suaranya terdengar menggelegar.
"PUTERAKU MENGORBANKAN SELURUH HIDUPNYA UNTUKMU. SEGALANYA IA LAKUKAN DEMI BERSAMA DENGANMU. IA BERADA DI KONDISI INI JUGA KARENAMU. SADARLAH BAHWA HANYA INI SATU-SATUNYA CARA UNTUK MENYELAMATKANNYA! DAN KAU MENGATAKAN KAU TAK SANGGUP?".
Tubuh besar sang chairman berpindah untuk memeluk erat tubuh sang kekasih yang masih kejang tak beraturan, berusaha melindunginya dari tajam air hujan yang mengenai kulit. Kening Chanyeol beradu dengan kening Baekhyun.
"Sayang, maafkan aku. Park Baekhyun kumohon kembalilah padaku…".
Si tinggi perlahan menarik nafas dalam, sebelum kedua matanya kembali terbuka. Mengamati kondisi tubuh Baekhyun yang basah kuyup bercampur darah dan air. Suhu tubuhnya terasa amat dingin di permukaan kulit Chanyeol.
"Aku mencintaimu Aereviane. Kembalilah padaku. Aku akan melakukan segalanya bahkan jika nyawaku adalah taruhannya…", perlahan, Chanyeol dengan tangan bergetar kembali menekan kedua pipi Baekhyun. Berusaha membuat mulut mungil itu kembali terbuka.
Satu tangan lain mengangkat botol ramuan biru ke udara sebelum berbisik.
"Aku mencintaimu, Aereviane.", sebelum tegukan terakhir ia masukkan kedalam mulut sang kekasih.
Glek.
"SEKARANG CHANYEOL!".
Terburu, Chanyeol mengangkat tubuh sang kekasih yang masih kejang-kejang dengan susah payah kemudian berjalan mendekat ke pinggiran 'laut'. Sebuah kecupan manis nan mesra ia bubuhkan pada bibir sang kekasih sebelum ia melepaskan tubuh mungil itu kedalam air.
Chanyeol membuka mata lebar, menyaksikan bagaimana tubuh sang kekasih perlahan tenggelam hingga semakin lama sosoknya tidak lagi terlihat.
Detik berlalu menjadi menit, namun tiada yang terjadi. Raut khawatir tercetak jelas pada wajah keempat pria yang ada disana.
Chanyeol berjalan mengelilingi sekitar danau dengan panik tanpa arah yang jelas.
Baru saja ketika sang chairman memutuskan untuk terjun masuk kedalam air, perlahan sinar biru terang muncul, menembus keluar dari bawah air.
Mata sang chairman membelalak lebar melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya.
"Ramuannya bekerja", ujar sang raja.
Deguban jantung didalam dada sudah tak sanggup ia bendung, sehingga tanpa Chanyeol sadari ia membiarkan kakinya melangkah terjun kedalam air.
Menyusul kekasihnya yang ada didalam sana, mengabaikan peringatan sang raja.
Baekhyun berada di sekitar sepulu meter dibawah air, Chanyeol harus sedikit berenang menghampiri cahaya biru yang bersinar amat cerah tersebut.
Dan sungguh ia tidak menyesal ketika ia akhirnya bisa melihat kekasih nya tengah mengapung ditengah air.
Surainya sudah kembali menjadi berwarna biru. Ekor dihiasi sirip biru indah yang sudah tak lama ia lihat menghiasi bagian bawah tubuh sang pangeran. Menggantikan dua kaki mulus yang sebelumnya ada disana.
Kedua mata biru itu menyala terang ditengah gelapnya air. Menarik Chanyeol untuk semakin berenang mendekat.
Baekhyun melihatnya.
Mata biru itu menatap dalam menembus hati Chanyeol. Menarik keluar semua rasa sakit dan beban yang menggelayutinya selama beberapa hari terakhir.
Kedua tangan mulus Baekhyun terulur, luka menganga di lengannya kini lenyap. Begitupun bekas luka bakar akibat alat kejut jantung yang berada di dadanya sudah tergantikan dengan kulit putih mulus yang seolah tak pernah tersentuh.
Sang siren menyentuh sayang pipi kekasih manusianya. Mengusap sayang rahang tegas sang chairman, dan Chanyeol balas melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping Baekhyun.
Deg
Deg
Deg
Deg
Dua deguban jantung bertalu-talu bersama, berkolaborasi membentuk irama yang indah dan menenangkan.
Deg
Wajah Chanyeol bergerak mendekat.
Deg.
Saat itulah, ketika dua bibir mereka bertemu lagi setelah sekian lama, dunia Chanyeol kembali terasa sempurna.
Merasakan bagaimana bibir manis sang kekasih bergerak seirama membalas ciuman mesranya, saat itulah Chanyeol benar-benar merasa lega dan kembali hidup.
.
.
.
To Be Continued
HULAAAAAA aku kembali!
Maaf ya chapter ini agak lama (lama banget) updatenyaa..
Kesibukan rl aku sekarang lagi penuhh. Aku kerja dan lanjut magister study (Doakan aku segera lulus ya kawan-kawan), jadi aku harus membagi waktu ku buat kerja, kuliah, nugas :( makanya ff ini agak lama lanjutnya. Percayalah aku sedang berusaha membiasakan diri dengan kesibukanku. Supaya aku bisa teratur update HOTO lagi kaya dulu.
BTWWW
Terimakasih banyak atas support kalian, dan kalian yang selalu setia nungguin ff ini. Dengan sabar ngingetin aku untuk update. Sayang banget aku sama kalian tuh..
Terimakasih banyak yang sudah mau membaca, meluangkan waktu untuk review, fav dan follow ff ini. I love youuuu 3000 pokoknya.
Next update aku usahakan secepat kilat yaa.. hihi
Jangan lupa juga review untuk chap ini, review kalian itu salah satu feedback yang bikin aku selalu semangat untuk update.
BTWW LAGIIII
Baekhyunnie rambutnya biru matanya biru di Exploration DOT monangis gaak si flawless banget dia :(
Terimakasih Byun Baekhyun sudah menghidupkan imajinasi Aereviane ke dunia nyata! I love you 10.000 Baekhyunnie!
oke sekian pidatonyaa!
See you di chapter selanjutnya!
I love you all!
.
Kileela
