Kannan melompat ke atas awan dan mengeluarkan inti kematian dari kantung sihirnya. Kedua inti dunia berada di masing-masing tangannya dan bercahaya dengan caranya sendiri. Narenda, Indra, dan Prabangkara menatap Kannan ganas dan kembali meluncurkan berbagai serangan padanya.
Naga kegelapannya menangkis seluruh serangan itu dan meraung ganas. Kannan menstabilkan nafasnya dan matanya menyala terang. Ia perlahan mendekatkan kedua inti tersebut. Seperti kutub magnet utara dan selatan, kedua inti itu tidak menolak dan mendekati satu sama lain.
Di dunia manusia, hujan badai membuat warga panik. Mereka tidak mengetahui apa pun namun mereka yakin ada sesuatu yang salah dengan para iblis dan dewa. Mereka hanya bisa berharap hujan badai ini akan segera berakhir dan tidak meruntuhkan rumah mereka.
Di saat ini, Kannan tidak mendengar apa pun. Seluruh serangan berhenti saat hampir menyentuhnya dengan kompak. Ketiga raja dunia akhirat yang lain menatap dua inti itu dengan takut. Jantung mereka berdetak keras dan cepat.
Mereka hanya tahu satu hal, jika kedua inti itu disatukan, orang yang menyatukannya akan menjadi Tuhan. Dunia yang tidak memiliki Tuhan ini akhirnya akan memiliki satu dan entah apa yang akan terjadi pada surga dan neraka.
Kannan adalah orang yang hebat dan berdedikasi. Semua orang tahu akan hal ini. Meski begitu, tidak ada yang bisa menerima jika ia menjadi Tuhan.
Seluruh raja dunia akhirat mengetahui bahwa di dimensi lain, di galaksi lain dimana kehidupan lain terbentuk dengan caranya sendiri, ribuan Tuhan berebut tempat di hati para manusia. Tuhan demi Tuhan tercipta dan iman para manusia tergoyahkan. Mereka bertarung tanpa henti dan menunjukkan kuasa Tuhan mereka.
Tapi mereka tidak mau.
Mereka hanyalah raja surga dan neraka. Tidak ada yang menyembah mereka sebagai Tuhan namun dewa dan iblis menghormati mereka. Manusia menyayangi Bumi dan kekayaan alamnya. Memanfaatkannya dengan baik dan menempuh pendidikan untuk dunia yang lebih baik.
Manusia itu begitu sederhana. Mereka mempunyai rasa syukur yang tinggi akan elemen mereka masing-masing dan menggunakannya dengan baik. Tiap-tiap kerajaan berusaha sebaik mungkin untuk membangun kerajaan mereka untuk masa depan yang cerah.
Di telinga dan mata Kannan saat ini, ia mendengar dua suara dan melihat ribuan galaksi.
Sebuah suara yang berat dari inti kematian berkata. "Kita hanyalah satu dari sekian banyak kehidupan di luar sana. Ada yang memiliki Tuhan dan ada yang tidak peduli akan Tuhan. Bagi mereka, tidak ada yang ajaib. Ada yang memiliki begitu banyak Tuhan dan bertarung. Mereka berperang hanya karena berbeda pandangan."
Suara lembut dari inti kehidupan berkata. "Apakah kamu mau manusia di galaksi kita ini menghormati dan menyembahmu dengan penuh hati? Apakah kamu tidak takut jika suatu hari nanti, karena manusia mengetahui keberadaan Tuhan, menemukan Tuhan lain untuk disembah dan dunia yang berperang demi menunjukkan Tuhan yang paling hebat tercipta?"
Inti kematian tertawa kecil. "Kamu terlalu naif."
Inti kehidupan berbicara dalam senyumnya. "Lupakan keinginanmu. Pergilah kembali ke neraka dan jalani tugasmu. Jutaan arwah menunggu hukuman darimu."
Inti kematian mengejek. "Kau harus mengatakan itu pada Indra. Lihatlah dia yang setiap ahri mencari barang untuk dikoleksi."
"Ai. Jangan seperti itu. Itu adalah hobinya. Biarkan saja."
Kannan terdiam. Ia menggulum bibirnya dan tertawa kecil. "Sebenarnya, aku hanya iseng."
Inti kehidupan bergetar marah. "Iseng?"
Kannan nyengir saja. "Aku hanya penasaran apa yang akan terjadi jika kalian bersatu."
Inti kematian lepas dari genggamannya dan mengetuk kepala Kannan. "Dasar anak bodoh! Aku menghukummu untuk menyapu istanamu sendiri selama seratus tahun!"
Inti kehidupan tidak mau kalah. "Aku menghukummu untuk membangun istana baru untuk Narendra."
Kannan menaikkan sebelah alisnya. "Eh? Narendra belum membangunnya?"
"Ai, ia sibuk merengek. Kau tidak ada dan ia tidak bisa merengek pada siapa pun jadi ia pergi ke istanamu dan menghancurkannya lalu merengek di depan istanamu," ujar inti kematian.
Kannan terdiam dan sudut bibirnya berkedut kesal. "En. Baiklah."
