JANGAN LUPA BACA NOTE AUTHOR! BACA SAMPAI AKHIR YA!

CHAPTER INI ADA ALUR MAJU MUNDUR CANTIK KAYAK SYAHRINI. JADI SEMOGA KALIAN PAHAM.

.

.

.

~ Noona ~

Happy Reading Guys...

~Percayalah Typo Merupakan Karya Terindah~

"Kemana anak itu? Kenapa dia belum pulang jam segini?!" Heechul, menggerutu sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang tengah ia buat di dapur Apartemen Baekhyun.

Sementara Hangeng tengah menunggu di ruang tengah seraya membereskan karpet tebal milik Baekhyun, karpet itu untuk ia tidur nantinya.

Sesuai rencana Hangeng dan Heechul tempo hari, mereka akan ke Seoul jika Proyek di Perusahaan mulai beroperasi. Tapi, proyek yang seharusnya ia kerjakan bulan depan, pengerjaannya di majukan oleh pihak Perusahaan. Jadilah mereka ke Seoul hari ini.

Hangeng adalah seorang Arsitek. Ia juga kadang sampai harus ke Luar Negeri ketika ada orang yang membutuhkan keahliannya dalam merancang gedung ataupun rumah.

Dan siang tadi, tanpa memberitahu Baekhyun mereka berdua datang ke Seoul.

Untung saja Heechul ingat sandi Apartemen Baekhyun. Jadi mereka tak perlu menelpon, atau meminta Baekhyun pulang dulu ke Apartemen hanya untuk membukakan pintu agar mereka bisa masuk.

Hangeng juga membereskan tas yang berisi baju-bajunya. Ia hanya akan menginap semalam saja di Apartemen Baekhyun. Nanti dia akan menginap di penginapan yang sudah disediakan pihak perusahaan.

Apartemen Baekhyun kecil, hanya ada satu kamar. Punggung Hangeng akan sakit jika dalam waktu sebulan kedepan harus tidur di lantai.

"Mungkin dia sedang berkencan dengan Park Chanyeol?" canda Hangeng, yang tak sadar jika ucapannya itu mendapat tatapan tak suka dari Heechul.

Heechul masih belum merestui Baekhyun yang mempunyai seorang Kekasih seorang pelajar sekolah menengah. Bagaimanapun Heechul ingin menantu Idaman sesuai dengan harapannya. Menantu yang baik, dan Mapan untuk Baekhyun, anak satu-satunya itu.

Jika Lelaki bernama Park Chanyeol itu masih sekolah, kapan Baekhyun akan di lamar untuk menikah?

Apa harus menunggu 3 atau 4 tahun lagi?

Umur Baekhyun akan menginjak 27 atau 28 tahun saat itu. Dan Heechul tak ingin anaknya menjadi bahan gunjingan para tetangga karena belum menikah di umurnya yang sudah pas untuk menikah.

"Aku akan memarahinya kalau dia berkeliaran sampai larut malam!" Heechul mengangkat nasi goreng buatannya kedalam piring. Membawa dua piring nasi goreng itu ke ruang tengah.

Satu untuknya dan satu untuk suaminya. Ia akan memakannya seraya menonton TV bersama Hangeng.

Sebenarnya, kebiasaan tidak bagus makan sambil menonton TV.

Heechul memakan nasi gorengnya dengan suasana hati tak tenang. Ia tak akan tenang jika Baekhyun belum pulang.

Memikirkan tentang Baekhyun yang berkencan dengan seorang pelajar, membuat Heechul sangat was-was.

Bagaimana kalau anak gadisnya yang polos itu dinodai oleh pemuda itu?

Bagaimana kalau sampai mereka melakukan sesuatu hal, yang tidak seharusnya mereka lakukan sebelum resmi menjadi sepasang suami istri?

Heechul pernah muda, dan ia tahu bagaimana rasanya jatuh cinta ketika ia muda dulu. Kadang ia mengutuk dirinya sendiri karena dulu menjadi budak cinta untuk Hangeng.

Yeah, mereka menikah pada akhirnya. Meskipun dulu ia pernah melakukan 'itu' sebelum resmi menikah dengan Hangeng. Tapi, untungnya Baekhyun hadir setelah mereka menikah.

Hormon anak muda sulit sekali untuk di tahan.

"Yeobo, kenapa tidak kau telepon saja? Dengan begitu kau tak perlu hawatir lagi!" Hangeng memberikan ponsel Heechul yang ada di meja dekat dengannya.

Namun Heechul menggeleng.

"Aku ingin memberinya kejutan!" Heechul kembali melanjutkan makannya.

Kini ia mulai sedikit tenang menyantap nasi gorengnya di temani Drama yang sedang tayang di layar televisi. Meskipun hatinya masih memikirkan anak gadis nya yang sebenarnya tidak se-polos yang Heechul kira.

-o0o-

Sementara itu di Rumah Chanyeol, Pemuda itu tengah di hakimi Baekhyun yang meminta penjelasan tentang Wanita bernama Seohyun. Yang ternyata adalah Cinta pertama Pemuda itu.

"Kau tidak memberitahuku kalau dia Cinta Pertamamu!"

Chanyeol hanya bisa diam saat Baekhyun menatapnya begitu tajam dengan kedua tangan yang terlipat di depan. Sementara Pemuda tampan semakin menundukkan kepalanya.

Bukan karena ia merasa salah seolah berbohong pada Baekhyun, ia hanya bingung menjelaskannya pada Baekhyun.

Apapun yang akan ia jelaskan pada Baekhyun, jika Baekhyun sedang dalam keadaan marah, yang ada malah memperburuk keadaan.

Jadi, ia akan menunggu sampai Baekhyun lebih tenang.

Lagipula, ia memang tak berniat menyembunyikan apapun dari Baekhyun.

Ia hanya belum siap menceritakannya melalui sambungan telepon, saat mereka beretelepon sebelumnya.

Jika ia mengatakannya siang tadi melalui telepon, Baekhyun mungkin bisa saja memikirkan yang aneh-aneh terhadapnya.

"Aku berniat menceritakannya, tapi aku ingin menceritakannya saat kita bertemu."

Satu jam yang lalu, Chanyeol baru saja sampai di Rumahnya. Ia diantar Kris setelah Kris mengurus semua Administrasi Chanyeol di Rumah sakit.

Namun Kris tidak mampir karena harus menjemput seseorang di Bandara Incheon. Seseorang yang sangat spesial untuk Kris.

"Sekarang kita sudah bertemu! Kau tak berniat menceritakannya?" Baekhyun mengambil air minum yang sebelumnya di berikan oleh pelayan dirumah Chanyeol.

Tenggorokannya terasa aneh karena tak sempat minum setelah menghabiskan kopi yang di belikan Jongdae.

Setelah meminumnya, Baekhyun berniat mendengarkan cerita Chanyeol tentang Seohyun.

Namun, baru saja Chanyeol akan membuka mulutnya, Baekhyun sudah lebih dulu menyela.

"Tunggu! Simpan dulu ceritanya, ada yang lebih penting daripada cinta pertamamu itu." Baekhyun berdiri dari duduknya "Aku harus ke kamar mandi. Sepertinya aku kebanyakan minum, aku pinjam kamar mandi di kamarmu!" secepat kilat Baekhyun berlari menaiki anak tangga untuk bisa sampai ke kamar Chanyeol yang berada dilantai dua.

Chanyeol yang melihat tingkah Baekhyun, hanya bisa tertawa seraya menutupi mulutnya.

Baekhyun dengan segala tingkah anehnya, Chanyeol dibuat gemas dan semakin jatuh lebih dalam pada pesona Baekhyun.

Pemuda itu kemudian menyusul Baekhyun yang sepertinya ingin buang air kecil karena kebanyakan minum.

"Ada-ada saja!" ucapnya seraya menggeleng, masih tak percaya dengan tingkah Kekasihnya yang selalu berhasil membuat ia tertawa.

Pemuda itu masuk kedalam kamarnya. Ia duduk di tepian tempat tidurnya seraya menunggu Baekhyun yang masih berada di dalam kamar mandi.

Chanyeol kembali menyunggingkan senyumnya.

Astaga! Ia akan gila jika terus senyum-senyum sendiri seperti itu.

Sepuluh menit kemudian, Baekhyun keluar seraya merapihkan pakaiannya.

"Melegakan sekali!" Gumam Baekhyun yang tak sadar akan keberadaan Chanyeol karena ia pokus merapikan pakaiannya.

Namun, sepertinya pakaiannya akan terlihat kusut kembali. Karena Chanyeol kini sudah menarik tubuh Baekhyun untuk berbaring terlentang di atas tempat tidurnya.

"Hei! Kau mengagetkanku!" protes Baekhyun yang tak terima karena aksi tiba-tiba pemuda itu.

"Mau 'Bermain' sebentar?" Chanyeol mengelus bibir Baekhyun dengan Ibu jarinya "Aku merindukan Noona!" Chanyeol menyapukan lidahnya di leher Baekhyun "Aku rindu suara desahan Noona!" Pemuda itu mengulum Daun Telinga Baekhyun.

Menghantarkan perasaan aneh dalam dirinya setiap kali tubuhnya di Sentuh oleh Pemuda itu.

Dan Baekhyun akan selalu jatuh dan pasrah di bawah kendali Pemuda itu.

Memang, sudah tiga hari mereka tak pernah bisa berdekatan sampai se-intim ini. Chanyeol harus menahan diri agar tak menyentuh Baekhyun lebih dari sekedar ciuman. Ia harus ingat jika di Rumah sakit bukanlah tempat aman untuk bercumbu.

Siapa saja bisa masuk ke dalam kamar rawatnya, dan Chanyeol tak ingin jika aksi menikmati tubuh Baekhyun harus terganggu oleh orang lain.

Padahal mereka memang tak pernah berbuat lebih. Tapi, entahlah... Chanyeol rasanya sudah puas meski hanya bisa 'Bermain' sebentar dengan Baekhyun.

Meski tak sampai merusak sesuatu yang Baekhyun jaga, tapi Chanyeol merasa gairahnya tersalurkan walau hanya dengan 'Bermain' sebentar.

Baekhyun mengalungkan kedua tangannya pada leher Chanyeol, membuat mereka semakin dekat dan Chanyeol semakin menindih tubuh Baekhyun.

Tangan Chanyeol yang terluka memang belum sembuh dengan benar, tapi karena itu luka robek bukan luka patah tulang ataupun terkilir, jadi Chanyeol tak merasa terganggu dengan luka di tangannya itu.

Cumbuan nya semakin jauh, Chanyeol mencumbu setiap inci wajah Baekhyun. Sesekali Pemuda itu mencium bibir tipis Baekhyun yang begitu menggoda gairah-nya.

Pemuda itu lantas mulai membuka satu persatu kancing kemeja Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya diam memperhatikan, dan menunggu.

Menunggu Pemuda itu melanjutkan penjelajahannya.

Saat Kemeja yang Baekhyun pakai sudah sepenuhnya terbuka, menampakan sesuatu yang sangat Chanyeol sukai. Senyumnya terukir tipis.

Sementara Baekhyun harus kembali merona, karena Chanyeol yang selalu berhasil membuatnya merasa dirinya sempurna dengan melihat tatapan takjub dari Pemuda itu.

Lalu, ia mulai melepas dan melempar menjauhkan kemeja Baekhyun, melepas kaitan Bra Baekhyun dengan begitu mudahnya tanpa ada perlawanan dari si empunya.

Baekhyun tersenyum, masih memandangi Chanyeol yang kini mulai menunduk untuk meraup puncak Payudaranya.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan senyum yang tak pernah luntur dan penuh gairah sampai matanya terasa pedih. Chanyeol terlalu tampan, dan mengairahkan.

Baekhyun ingin merasakan nikmatnya mulut panas itu menempel langsung di tubuhnya, begitu mendamba, tanpa ada sehelai kain pun sehingga Baekhyun bisa langsung mencapai kenikmatan yang tiada tara.

"Baekhyun," desis Chanyeol, yang sibuk dengan Payudara Baekhyun. Menjilati puncak Payudara Baekhyun dengan gerakan cepat dan kasar sampai tubuh Baekhyun tersentak.

Ia tak berniat melepas pakaian Chanyeol.

Karena saat hanya ia yang setengah telanjang, Baekhyun merasa dirinya Sexy.

Tangan Pemuda itu meremas sebelah Payudara Baekhyun yang tak terjamah oleh bibirnya.

Kerinduan yang mendalam terhadap sentuhan satu sama lain, membuat mereka terlarut dengan kegiatan mereka saat ini.

"Ahhhh..."

Baekhyun meremas rambut Chanyeol sebagai pelampiasan akan kenikmatan yang lelaki itu berikan. Menggoda Daun Telinga Pemuda itu dengan cara memainkannya.

Sementara Chanyeol sibuk dengan jarahannya. Baekhyun mendesah pelan, menghirup udara dengan rakus dan sesekali memejamkan kedua matanya kala Chanyeol mengigit puncak Payudaranya.

Chanyeol mencium bibir Baekhyun, menarik tangan Baekhyun dan menyimpannya di samping kiri dan kanan Baekhyun. Kedua tangan mereka saling terpaut, Chanyeol menciumnya dengan begitu intens.

Mulut Chanyeol menciumi lehernya, Payudaranya, dan di setiap inci tubuhnya yang terbuka. Dengan manis, dengan lembut, kemudian bertambah liar. Belaian mulut dan lidah Chanyeol meninggalkan jejak panas di kulit Baekhyun.

Baekhyun seperti berada di surga, dalam kenikmatan yang coba terus membujuknya untuk tak berhenti.

Pemuda itu seperti Lelaki dewasa yang sudah sangat handal di atas ranjang. Mungkin, Chanyeol memang seorang Pro untuk urusan Ranjang.

Chanyeol memang belum pernah melakukan Seks bebas, tapi teori demi teori yang ia dapatkan dari Video-Video dewasa yang kerap ia tonton, menjadikan ia seorang Pro walau belum pernah mencobanya sama sekali.

"Cha-nyeol... Ahhhh..."

"Aku suka desahan Noona!" Chanyeol mendongakkan dagu Baekhyun, mulutnya naik dari leher ke dagu, lalu menemui bibir Baekhyun dengan rakus.

Bergerak kembali kebawah tubuh Baekhyun. Menemui dua puncak Payudara Baekhyun yang semula Chanyeol mainkan dengan lidah dan mulutnya.

Memberi tanda di sana-sini sebagai bukti jika Baekhyun hanya miliknya. Tak ada seorangpun yang bisa mengambil Baekhyun darinya.

Kegiatan intim mereka harusnya berlanjut ke tahap lebih dari ini. Chanyeol seharusnya bisa merasakan yang lain selain hanya menjilat, mengulum, menggigit Payudara Baekhyun. Seharusnya ia belum selesai memberi tanda di tubuh Baekhyun.

Chanyeol ingin sekali mengutuk seseorang yang membuat kisahnya dengan Baekhyun terkadang rumit dan menyebalkan. Ia ingin menenggelamkan si pembuat cerita karena, di setiap ia ingin berbuat lebih dengan Baekhyun, harus ada saja yang mengganggu kegiatan mereka.

Klasik sekali sebenarnya, tapi Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa karena ini hanya dunia Wattpad.

Ia sungguh sangat benci pengganggu. Seperti seseorang yang sekarang datang mengganggu keasyikannya...

"ASTAGA! CHANYEOL!" teriak seseorang di ambang pintu kamarnya.

Sial, ia lupa menutup pintu dan menguncinya.

Chanyeol masih mengulum puncak Payudara Baekhyun ketika ia menoleh ke samping, tepat ke arah pintu kamarnya.

Dan, kedua bola matanya membulat saat melihat orang yang memergokinya tengah bercumbu dengan Baekhyun.

Baekhyun tak jauh berbeda dengan Chanyeol, namun Baekhyun lebih ke terkejut karena tak mengenal orang yang memergoki mereka itu. Dan ia juga tak mengerti kenapa orang itu, maksudnya Wanita itu- begitu leluasa masuk kedalam kamar Chanyeol.

Apakah Wanita itu masih keluarga Chanyeol?

Chanyeol melepas kuluman nya di Payudara Baekhyun dengan sangat tidak rela. Dengan masih setengah menindih Baekhyun, ia berusaha menelan saliva-nya dengan susah payah.

"Mau kau apakan dia?" Wanita itu masuk kedalam kamar Chanyeol.

Menarik Chanyeol untuk berdiri dan berpindah dari atas tubuh Baekhyun. Wanita itu menatap tajam Chanyeol seperti seorang Ibu yang baru saja memergoki anaknya hendak berbuat tak senonoh pada orang lain.

"Kau tidak apa-apa, Nak?" Wanita itu meneliti penampilan Baekhyun.

Lalu mengambil selimut milik Chanyeol untuk menutupi tubuh setengah telanjang Baekhyun.

Baekhyun terlalu terkejut dengan kehadiran Wanita itu, dan ia juga terkejut saat Wanita itu memanggil dirinya dengan sebutan 'Nak?'

Apa Wanita itu berpikir ia masih seorang pelajar yang seumuran dengan Chanyeol?

"Noona, kenapa kau ada disini?" Chanyeol berdiri di dekat lemari pakaiannya.

Mengelap bibirnya, dan sedikit malu.

"Aku kemari untuk melihatmu, dan lihat apa yang aku temukan disini!" Wanita itu menggeleng "Kau mau memperkosa anak orang? Sadarlah Chanyeol, kalian masih sekolah! Oh astaga!" Wanita itu menggeleng Dramatis, mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.

Wanita itu membentengi Baekhyun dari Chanyeol. Wanita itu berdiri di depan tubuh Baekhyun yang sudah ia selimuti dengan selimut milik Chanyeol.

Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa menganga kala mendengar ocehan Wanita itu.

Tunggu apa tadi, masih sekolah?

Baekhyun semakin yakin jika Wanita itu berpikir ia masihlah seorang Pelajar seperti Chanyeol.

"Maaf, tapi a..." belum selesai Baekhyun menjelaskan, Wanita itu kembali memeriksa tubuh Baekhyun.

"Apa Chanyeol melakukan hal lain padamu? Chanyeol tidak memasukan Miliknya kedalam milikmu, kan?" Wanita itu kembali menatap Chanyeol "Aku akan mengadukan mu pada Paman!"

Wanita itu hendak meraih ponselnya untuk menelpon seseorang, namun Chanyeol sudah lebih dulu merebut ponsel Wanita itu.

"Dia kekasihku, Noona!" Chanyeol menutup panggilan telepon yang nyaris tersambung ke Ayah-nya itu.

Wanita itu diam, mencoba memahami kata Kekasih yang baru saja di katakan Chanyeol.

"Kalian pacaran?" Chanyeol mengangguk "Oke kalau kalian berpacaran. Tapi kalian masih sekolah. Pikirkan masa depan kalian, jangan berbuat hal yan-..."

"Maaf, tapi aku bukan seorang Pelajar!" Baekhyun menyela agar Wanita itu tak salah paham lebih jauh.

"Kau apa?" Wanita itu menatap Baekhyun meminta penjelasan.

Dan kedua alisnya mengeryit melihat Baekhyun yang dengan santainya melepas selimut Chanyeol yang melilit tubuhnya, Kemudian Baekhyun memakai kembali kemeja nya yang sebelumnya Chanyeol lepaskan.

Baekhyun mengulurkan tangannya "Namaku Baekhyun, Byun Baekhyun. Aku Kekasih Chanyeol, dan usiaku 23 tahun. Aku bukan seorang Pelajar."

Wanita itu kini yang gantian terkejut dan nyaris menjatuhkan rahangnya. Mulutnya terbuka karena terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.

"A-aku... Seohyun, Seo Joo Hyun. Dan, aku tidak menyangka kita seumur." Wanita itu, yang ternyata Seohyun, menerima uluran tangan Baekhyun tanpa ragu.

Sedikit canggung, malu karena ia sudah mengira jika Baekhyun seorang Pelajar seperti Chanyeol.

"Kupikir kau seorang Pelajar seperti Chanyeol. Wajahmu... terlalu baby face untuk wanita berusia 23 tahun!"

"Ku anggap itu sebagai pujian." Baekhyun tersenyum tipis.

Bukan sekali ia dikira masih seorang Pelajar. Mungkin karena tubuhnya yang mungil, serta wajahnya yang orang bilang katanya 'Awet Muda'. Baekhyun cukup bersyukur karena itu. Ia jadi tak perlu memakai Skincare mahal hanya agar bisa terlihat Cantik dan awet muda.

Baekhyun belum melupakan keterkejutan karena dipergoki oleh Wanita ini, dan sekarang ia harus kembali terkejut ketika mendengar nama Wanita yang kini berdiri dihadapannya saat ini.

Seohyun.

Wanita ini yang menjadikan alasan kenapa Baekhyun ada di Rumah Chanyeol. Tapi ia melupakan niat awalnya karena sudah terlarut dengan Sentuhan Chanyeol, dan hendak bersenang-senang dengan Pemuda itu jika saja Seohyun tak datang dan memergoki kegiatan mereka.

Chanyeol menangkap perubahan di wajah Baekhyun. Ia lupa menceritakan tentang Seohyun karena telah lebih dulu memenjarakan Baekhyun di atas ranjangnya.

"Kau Cin..." Baekhyun tak sempat bicara lebih jauh, Chanyeol sudah lebih dulu menyela seraya memeluk pinggangnya begitu posesif.

"Aku tadi bertanya, kenapa Noona ada disini? Dan kenapa Noona memakai gaun?" Chanyeol melihat Baekhyun menatapnya tak terima karena telah memotong ucapan Kekasihnya itu.

Baekhyun melempar tatapan ke arah lain, berusaha menetralkan kekesalannya. Lebih jelasnya, ia berusaha menahan diri untuk tak marah pada Chanyeol sebelum Pemuda itu menjelaskan semuanya. Ia akan menunggu penjelasan dari Pemuda itu.

"Aku akan bertemu dengan seseorang. Aku mampir dulu kesini untuk melihatmu dan mengecek luka di lenganmu!" Seohyun melihat ke arah Baekhyun "Maaf, aku tak bermaksud merusak kegiatan romantis kalian. Hanya saja, aku terkejut melihat Chanyeol berniat memper..."

"Aku tak memperkosa Kekasihku, Noona!" Chanyeol menekankan kata Kekasih lagi karena tak suka dengan tuduhan Seohyun.

Baekhyun merasa tak nyaman dengan suasana mereka saat ini. Mereka masih berdiri dan saling melempar tatapan aneh satu sama lain. Akhirnya ia meminta pada Chanyeol untuk melanjutkan obrolan mereka di ruang tengah lantai dua yang dekat dengan kamar Chanyeol.

"Jadi, kalian benar-benar sepasang Kekasih?" Seohyun masih belum percaya dengan pernyataan Chanyeol dan Baekhyun yang mengatakan jika mereka sepasang Kekasih.

Ia cukup tak percaya karena perbedaan umur mereka yang cukup jauh. Dan terlebih, Chanyeol berbeda dengan anak nakal yang ia kenal beberapa tahun yang lalu.

Yeah, mungkin benar jika seiring berjalannya waktu, semuanya bisa berubah.

Ia cukup lama berada di Amerika, mengasingkan diri dari teman dan bahkan keluarganya sendiri. Ia tak pernah sekalipun bertukar kabar dengan teman-temannya di Korea. Keluarganya saja tak pernah ia perbolehkan mendatangi Rumahnya yang ada di Amerika.

Kecuali Ibu dan Ayahnya ia perbolehkan berkunjung ke Rumahnya. Dan itupun membutuhkan waktu sekitar satu tahun lebih saat Seohyun berani memberi akses pada kedua orang tua nya untuk mengunjungi Rumahnya di Amerika. Untungnya, kedua orang tuanya tak marah kala Seohyun meminta mereka untuk tak berkunjung lebih dulu.

Pada akhirnya, kedua orang tuanya sangat syok kala mendapati satu kenyataan yang nyaris membuat kedua orang tuanya terkena serangan Jantung.

Ada alasan dibalik semua itu. Dan Seohyun belum siap memberitahu orang banyak tentang satu rahasia yang ia sembunyikan selama dua tahun ini.

"Kami berdua sepasang Kekasih. Kenapa? Noona tak percaya karena perbedaan umur kita?" Chanyeol tahu Seohyun mungkin sedikit terkejut karena kini ia sudah tak Lajang lagi.

Chanyeol masih berpikir jika Seohyun pulang ke Korea untuk mengejarnya. Jadi, ia sedikit sombong memamerkan Baekhyun sebagai Kekasihnya.

Semata-mata agar Seohyun berhenti mengejarnya, karena ia sudah tak memiliki hati untuk Seohyun.

Itu yang Chanyeol yakinkan dalam hatinya. Ia tak boleh goyah, ia harus ingat perjuangannya mendapatkan Baekhyun.

Tak mudah.

Ia sampai harus di kira meninggal dulu oleh Baekhyun hanya untuk tahu perasaan Baekhyun. Tapi ia bersyukur. Karena insiden itu, ia jadi bisa tahu perasaan Baekhyun yang sebenarnya.

"Aku hanya... masih tak percaya jika kau sudah tumbuh dewasa dan... mempunyai Kekasih yang..."

"Lebih Tua dari Chanyeol!" Baekhyun menambahkan, Seohyun yang tak sadar spontan mengiyakan dengan nada yang cukup keras.

"Nah itu!" dan saat Wanita itu sadar yang baru saja berbicara adalah Baekhyun, ia tersenyum canggung seraya menggaruk kepala belakangnya "Maaf. Jujur saja aku benar-benar terkejut. Terkejut karena umur kita sama tapi wajahmu terlihat lebih muda dariku. Dan aku terkejut karena ternyata kau Kekasih Chanyeol. Dan aku lebih terkejut karena kalian berdua nyaris melakukan... sesuatu." Seohyun tersenyum seraya menampilkan deretan gigi putihnya.

Kini gantian Baekhyun yang merasa canggung dan malu.

Malu karena kepergok nyaris berbuat hal mesum dengan Chanyeol.

Untung saja yang memergoki mereka itu Seohyun, bayangkan jika Ayah Chanyeol atau yang lebih parah mereka kepergok Ibu-nya sendiri.

Mungkin ia akan langsung di hapus dari Keluarga Byun oleh Ibu-nya.

"Aku menyukai Baekhyun. Tak ada yang salah dengan cinta, sekalipun umur kita berbeda cukup jauh."

Dan Seohyun harus kembali dibuat ternganga dengan ucapan Chanyeol yang terdengar dewasa. Baekhyun juga tak jauh berbeda dengan Seohyun, Wanita itu bahkan semakin terpesona pada Chanyeol. Dan nyaris saja mencium bibir Chanyeol jika ia tidak ingat ada Seohyun saat ini.

'Ahhh aku meleleh!' jeritan Hati Baekhyun yang saat ini ingin sekali memeluk Chanyeol dengan begitu eratnya.

"Wah! Anak ingusan yang dulu masih suka meminum susu ini sudah tumbuh menjadi Lelaki dewasa rupanya!" ledek Seohyun yang dihadiahi dengan protes tak terima dari Chanyeol.

"Yakk Noona!" Chanyeol tak habis pikir dengan Seohyun.

Setelah merusak adegan panasnya dengan Baekhyun, kini Wanita itu meledeknya dengan sesuka hati.

"Baiklah, aku percaya!" Seohyun mengangguk "Kalau kalian ingin melanjutkan kegiatan kalian sebelumnya, lakukanlah! Aku akan pergi. Hehe." Seohyun akhirnya mengambil tas-nya untuk pergi dan menemui seseorang yang sebelumnya ia katakan pada Chanyeol.

"Kau mau menemui siapa Noona?" Chanyeol sedikit penasaran dengan seseorang yang ingin Seohyun temui.

Apa wanita ini tak cemburu? Pikirnya dalam hati karena masih belum tahu siapa seseorang yang Seohyun Cintai sebenarnya.

Seohyun tersenyum teramat manis. Terlihat sekali jika Wanita itu sangat bahagia karena akan bertemu seseorang yang Chanyeol sendiri tak tahu siapa.

"Kau ingat apa yang aku katakan tempo hari di rumah sakit?" Chanyeol mengangguk, ia jelas ingat perihal alasan kenapa Seohyun pulang setelah tinggal cukup lama di Amerika.

Wanita itu semakin melebarkan senyumnya dan menghela nafas dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.

"Aku akan menemui Cinta Sejati-ku. Mulai sekarang aku akan mengejar Cinta sejati-ku, dan aku akan membuatnya kembali padaku!" Ucapnya seraya berlalu setelah menepuk bahu Chanyeol dan melempar senyum pada Baekhyun "Kalian bersenang-senanglah!" ucapnya sebelum benar-benar pergi dari sana.

Sedikit terbahak karena merasa lucu memergoki Chanyeol yang sedang bercumbu dengan Kekasihnya.

Baekhyun dan Chanyeol saling melempar tatap. Mereka cukup mengerti jika Seohyun akan pergi menemui seseorang yang katanya, cinta sejatinya.

Tapi, siapa orang itu?

Baekhyun kemudian berpikir cukup keras, dan menghubungkan kata-kata Seohyun tentang 'Akan membuatnya kembali padaku'.

"Apa dia akan bertemu Minho Hyung?" namun Chanyeol lebih dulu menebak.

Mengingat satu-satunya seseorang yang dekat, dan seseorang yang pernah mengisi hati Seohyun itu... hanya Minho.

"Kurasa begitu!" Baekhyun membenarkan, lalu Wanita itu tertawa kala mendapati satu fakta yang menarik lainnya "Jadi sejak dulu sampai sekarang, kau sudah lebih dulu kalah sebelum berperang?" Baekhyun tertawa pelan meledek Chanyeol.

"Noona, kau meledekku?" Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun, menggendongnya seperti karung beras.

Baekhyun hanya tertawa, tak protes kala tubuhnya di angkat seperti karung beras. Dibawa kembali masuk ke kamar Pemuda itu, dan harus kembali terlempar di atas Ranjang milik Pemuda itu.

Dan tawa Baekhyun semakin kencang kala Chanyeol mengelitiki perutnya. Pemuda itu suka tawa Baekhyun yang selalu menular padanya.

"Yakk Yakkk hentikan Chanyeol.. Hahhaa... aku hanya Hahhahaa yakkk!"

Dan Chanyeol ikut tertawa. Sesekali ia meminta ampun kala Baekhyun membalas mengelitiki perutnya.

"Aku sudah mendapatkan mu Noona!" Chanyeol menciumi wajah Baekhyun "Aku hanya akan berperang untuk mempertahankan Noona agar tetap menjadi milikku. Hanya milikku!"

.

.

.

.

.

.

#Short Story

"Jadi... Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?" Minho dan Seohyun tengah berada di taman belakang rumah orang tua Minho.

Setelah mereka ikut mengobrol dengan keluarga mereka, Minho meminta Seohyun ikut dengannya kebelakang Rumah agar bisa berbicara berdua saja.

Ada yang harus ia tanyakan pada Seohyun. Dan ini mengenai masa lalu mereka yang cukup buruk. Bukan cukup buruk sebenarnya, tapi sangat buruk.

"Hmmmm seperti yang kau lihat!" Seohyun memeluk tubuhnya karena ia merasakan udara malam yang cukup dingin.

Minho yang melihat itu, berinisiatif untuk membawa Seohyun duduk di salah satu kursi taman, lalu menyelimuti Seohyun dengan selimut yang ada di lemari kecil samping kursi itu berada.

"Seharusnya aku tak mengajakmu berbicara disini, tapi aku perlu berbicara berdua denganmu setelah sekian lama kita tak bertemu dan bertukar kabar satu sama lain." Minho kembali menatap Seohyun setelah menyelimuti tubuh Seohyun.

Keduanya saling melempar tatap dalam diam. Tak ada yang kembali memulai obrolan.

Keduanya seakan menyelami iris mata masing-masing. Mencari kebenaran akan fakta, apakah mereka saling merindukan satu sama lain, atau tidak.

"Aku..." Seohyun sedikit tak siap mengatakan sesuatu yang seharusnya ia katakan sejak lama pada Minho.

"Maafkan aku!" Minho memulainya lebih dulu.

Meminta maaf pada Seohyun, menimbulkan keterkejutan di wajah Seohyun.

"Maafkan aku Seohyun. Seharusnya aku tak merusak mu. Seharusnya aku tak menodai mu malam itu." Minho menghela nafas "Dan seharusnya, aku tak menyuruhmu menggugurkan anak kita. Aku mencintaimu... tapi... saat itu aku belum siap menjadi seorang Ayah!" Minho berbicara seraya menunduk.

Tak sadar, Lelaki itu meneteskan air matanya setelah mengucapkan permintaan maafnya dengan tangan yang ia simpan diatas kedua paha-nya.

Seohyun tersenyum tipis. Tangannya terulur untuk menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata Minho.

"Aku tak menggugurkannya Minho-ah!"

Minho tersentak, ia menatap Seohyun dengan penuh keterkejutan. Dan Seohyun hanya tertawa pelan melihat Minho.

"Aku tidak membunuh anak kita. Aku melahirkannya, aku merawatnya bersama Bibi Kim. Dan dia tumbuh menjadi anak yang tampan, cerdas, dan baik hati seperti Ayahnya." Seohyun menggenggam tangan Minho "Hanya saja, aku merasa bersalah karena tak bisa menjawab pertanyaannya setiap kali dia bertanya tentang kau!" kini berganti Seohyun yang menunduk seraya meneteskan air matanya "Aku membutuhkanmu, itu sebabnya aku kembali kesini. Aku ingin kau tahu, kalau ada seorang anak yang terus-terusan menanyakan keberadaan Ayahnya."

Minho menarik Seohyun dalam sebuah pelukan. Menangis di bahu wanita itu, dan mengucapkan maaf berulang kali.

Meminta maaf karena telah menjadi Lelaki brengsek untuk Seohyun. Meminta maaf karena tindakan tak bertanggung jawabnya dulu.

Ia seorang pendosa, ia Lelaki brengsek karena menyuruh Seohyun membunuh janinnya sendiri.

Dan ia bersyukur. Ia bersyukur karena Seohyun tak menuruti kata-katanya untuk membunuh anak mereka yang saat itu, baru berusia dua bulan ketika Seohyun memberitahu ia kalau Seohyun mengandung anaknya.

Seohyun ikut menangis bersama Minho. Memeluk Minho seraya mengelus punggung Lelaki itu. Lelaki yang ia cintai sejak dulu, Lelaki yang berstatus Ayah dari anaknya yang saat ini tengah tertidur pulas di Rumah orang tua-nya.

Yeah, Seohyun membawa ikut serta anak mereka. Ia memang sudah berniat untuk mempertemukan mereka berdua. Dua Lelaki yang sangat berharga dalam hidupnya.

Kedua orang tua mereka berdua, melihat mereka yang tengah berpelukan.

Orang tua Minho sudah tahu perihal Seohyun yang memiliki anak dari Minho. Orang tua Seohyun yang menceritakan semuanya pada orang tua Minho atas permintaan Seohyun.

Karena Seohyun tak sanggup jika harus terus berbohong pada anaknya.

Jadilah, orang tua Minho mempertemukan keduanya dengan alasan perjodohan ini.

Minho melepas pelukan Seohyun "Aku harus bertemu dia. Kau membawanya ke Korea kan?"

Seohyun mengangguk seraya menghapus air matanya.

"Kau bisa bertemu dengan dia besok. Mungkin sekarang dia sudah tidur." Seohyun mengeryit kala Minho menggeleng.

"Aku akan menginap di rumahmu. Aku tak bisa menunggu sampai besok untuk bertemu dengan Anakku. Bisakah?"

Seohyun tersenyum dan mengangguk. Minho memegang kedua pipi Seohyun. Mendaratkan ciuman kerinduan yang Minho simpan selama ini.

Rindu dan Cinta... Yang ia pendam selama ini, tak lagi menyakitkan untuknya. Dan penyesalan yang selama ini ia rasakan, akan ia tebus dengan menjadi seorang Ayah yang baik untuk Anaknya. Ia berjanji untuk itu.

"Aku mencintaimu. Dan maafkan aku karena menjadi Lelaki brengsek tak bertanggung jawab!"

Seohyun tersenyum disela-sela ciuman mereka. Ia sudah memaafkan Laki-laki ini jauh-jauh hari.

Masa lalu buruk itu kesalahan mereka berdua. Dan tam seharusnya Seohyun hanya menyalahkan Minho karena ia juga ikut bersalah. Ia bersalah karena malam itu, ia juga menggoda Minho sampai Laki-laki itu lepas kendali dan melakukan hal 'itu' dengannya.

Seohyun sempat terpuruk. Saat Minho meminta ia menggugurkan Janin yang di kandungnya. Namun, ia tak sekejam itu membunuh anaknya sendiri.

Jadilah ia mengasingkan diri ke Amerika, untuk melahirkan dan membesarkan anaknya yang sekarang sudah berusia 2 tahun. Dengan alasan ingin pokus berkuliah, ia bisa tenang tinggal di Amerika tanpa banyak pertanyaan dari keluarganya kenapa ia tak pulang-pulang ke Korea.

Sekarang, Seohyun bahagia karena Minho tak membenci dan tak menolak keberadaan anak mereka.

Seohyun terlalu mencintai Minho. Sejak dulu sampai sekarang, Minho yang selalu mengisi hatinya.

"Kita harus segera kembali ke dalam Rumahmu!" Ujar Seohyun.

"Tidak. Biarkan seperti ini! 6 menit lagi!" Pinta Minho yang mendapat tawa kecil dari Seohyun.

Merasa tak asing dengan kata '6 Menit lagi'.

Jika Seohyun dan Minho tengah bahagia, maka berbeda dengan Chanyeol yang saat ini merasa dirinya seakan akan ia akan mati muda.

Ia tengah duduk seraya menunduk begitu dalam di hadapan kedua orang tua Baekhyun.

Yeah. Orang tua Baekhyun.

Ia tengah di sidang oleh Ibu Baekhyun.

"Apa yang membuatmu begitu berani mencium anakku di tempat umum, anak muda?" Heechul memangku kedua tangannya didepan dada. Menatap tajam Chanyeol yang menunduk tak berani menatapnya.

"Maafkan saya Eom..."

"Hei! Aku bukan Ibu-mu!"

Jantung Chanyeol seakan meloncat dari tempatnya mendengar Heechul yang sedikit membentaknya.

"Yeobo, kau ingin membuat dia jantungan?" Hangeng memperingati Istrinya kala Heechul akan semakin meledak dengan kemarahannya.

Heechul kini gantian menatap tajam Hangeng karena tak terima jika suaminya justru malah membela Chanyeol.

"Eomma!" Baekhyun duduk disamping Chanyeol.

Dan Wanita itu merasa bersalah sekarang. Ia yang membuat Chanyeol berada dalam masalah.

"Apa? Kau juga ingin membela kekasihmu? Kau ingin Eomma menghapus mu dari keluarga Byun?"

Gluk

Baekhyun menelan saliva-nya dengan kasar. Ibu nya benar-benar menyeramkan saat sedang marah.

Tapi, ia yang salah disini. Jadi ia jelas harus membela Chanyeol yang tak salah apa-apa.

Iya, salah Baekhyun.

Ia di antar Chanyeol pulang ke Apartemen kecilnya saat Jam menunjukan pukul 8 malam.

Saat mereka sudah berada didepan pintu Apartemen Baekhyun, ia meminta Chanyeol menciumnya.

Chanyeol yang tak tahu jika orang tua Baekhyun berada di dalam Apartemen, mencium Baekhyun seperti yang Wanita itu minta.

Dan sialnya, saat ia mencium Baekhyun- Heechul yang ingin keluar membuang sampah, memergoki keduanya yang berciuman di depan pintu Apartemen.

Heechul yang melihat anak gadisnya di cium dengan begitu panas, jelas memprotes tindakan Chanyeol yang langsung menampar Pemuda itu dan menarik Baekhyun agar menjauh dari Chanyeol.

Ckkkkckkckk Drama sekali.

Jadilah mereka disini.

Diruang tengah Apartemen kecil Baekhyun, dengan Chanyeol yang tengah di sidang oleh Heechul, Ibu Baekhyun.

"Aku yang meminta dia mencium ku Eomma!" Baekhyun tak takut dengan ancaman Ibu nya.

Ia tak ingin kekasihnya menjadi tersangka atas perbuatan yang ia lakukan.

"Dan kenapa kau meminta di cium di tempat umum? Apa kau sudah gila Byun Baekhyun!" Heechul kini bersitegang dengan Baekhyun.

Baekhyun menghela nafas jengah. Ibu nya seperti tak pernah muda saja.

"Kami berdua berpacaran, tidak ada yang salah dengan berciuman."

Heechul tak percaya dengan jawaban anak gadisnya.

"Kau sudah berani melawan Eomma?" Heechul menatap Chanyeol "Kalian putus saja! Jangan menemui anakku lagi untuk kedepannya!"

"Yakk Eomma!" Baekhyun berdiri dari duduknya "Kalau begitu aku akan bunuh diri jika Eomma memisahkan ku dengan Chanyeol!"

Kali ini Hangeng ikut berdiri, terkejut dengan ancaman anak gadisnya.

"Hei! Jangan lakukan itu!" Bukan Hangeng yang berbicara, melainkan Chanyeol yang tampak begitu was-was saat mendengar Baekhyun berkata seperti itu "Jangan lakukan hal yang aneh-aneh. Noona harus berjanji padaku untuk tak melakukannya!" Pintanya dengan wajah sayu dan hawatir.

Pemuda itu lantas membungkuk berkali-kali di hadapan Heechul dan Hangeng.

"Saya minta maaf! Saya berjanji tak akan berbuat seperti itu lagi!" Chanyeol membungkuk beberapa kali.

Baekhyun kembali menghela nafas, mengusap wajahnya sedikit kasar.

"Harusnya aku meminta Chanyeol memperkosaku saja tadi!"

"YAKKK! BYUN BAEKHYUN!" Teriak Heechul.

Astaga, Heechul tak percaya anaknya begitu Agresif..

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Chanyeol, ia merasa ketakutan seakan-akan ia tengah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa yang akan mencabut nyawanya.

.

.

.

.

.

.

TBC

Jangan asal menghujat ya gaiisss.

Oke ditunggu Dukungannya.

Thanks you.