CAST
Park Chanyeol (25)
Byun Baekhyun (19)
.
.
Sambil menunggu penerbangannya, Baekhyun mengeratkan kembali coat hitam yang dia pakai dan menggosokan kedua telapak tangannya, mencari kehangatan karena cuaca begitu dingin pagi ini. Lingkaran hitam yang terlihat samar dibawah mata membuat Baekhyun memutuskan untuk menggunakan kaca mata hitamnya. Dia tidak cukup tidur semalam, pikirannya tidak tenang semenjak menerima bunga tanpa nama pengirimnya. Dia merasa diawasi, siapapun itu dan kejadian kemarin sedikit mengingatkannya pada peristiwa percobaan penculikan terhadapnya, dan itu cukup membuat Baekhyun sedikit trauma.
Hari ini Baekhyun akan berangkat ke Forks bersama dua pengawalnya.Dia baru saja membuat panggilan telepon dengan eommanya, sekedar untuk pamit memberitahu bahwa dia akan berangkat ke Jeju. Ya, Baekhyun berbohong. Tidak ada yang boleh tahu perihal keberangkatannya pagi ini ke Forks. Kecuali dua temannya, Kyungsoo dan Younghoon. Baekhyun membutuhkan mereka untuk mengarang cerita bahwa dia berangkat ke Jeju bersama temannya dengan dalih berlibur bersama. Baekhyun tidak terbiasa berbohong sesungguhnya. Tapi dia takut jika sewaktu-waktu Chanyeol menelpon eommanya dan bertanya kemana Baekhyun pergi.
Baekhyun kembali menatap layar smartphonenya yang menyala dengan nama kontak Chanyeol tertera disana. Dia bingung haruskah dia juga memberitahu Chanyeol tentang keberangkatannya ke Jeju.
"Tuan, pesawat anda akan melakukan penerbangan sebentar lagi" ucap Sangyeon menyentak lamunannya.
"Aku mengerti" ucap Baekhyun lalu memasukkan kembali smartphonenya. Dia memutuskan untuk tidak memberitahu Chanyeol, mungkin besok.
.
.
.
Baekhyun sampai di bandara Quillayute-Forks ketika sore hari. Tubuhnya begitu lemas saat Baekhyun turun dari pesawat, beruntung dia membawa kedua pengawalnya untuk ikut bersama. Baekhyun menghempaskan punggungnya begitu dia duduk dimobil. Dia telah menyuruh Shinwan untuk mencarikan hotel yang berbeda dengan Chanyeol beberapa hari sebelumnya sebelum keberangkatan mereka, memakan waktu setengah jam perjalanan untuk sampai dari bandara ke hotel dan itu tidak membuat Baekhyun semakin baik.
"Saya khawatir, tuan yakin tidak ingin saya memanggil dokter kesini ?" ucap Sangyeon setelah meletakkan koper-koper Baekhyun. Baekhyun menggeleng menanggapinya. Dia hanya kelelahan karena hampir 12 jam dipesawat, itu saja.
"Aku baik-baik saja" jawab Baekhyun begitu jengah. Pasalnya pengawalnya itu terus menanyakan hal yang sama padanya semenjak mereka dimobil.
"Kalau begitu saya akan memanggil room service"
"Tidak, jangan. Aku bisa sendiri"
Dengan berat hati Sangyeon meninggalkan Baekhyun dengan membawa perasaan khawatir karena tuannya begitu pucat semenjak mereka mendarat di Forks. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan Sangyeon selain mematuhinya.
Malamnya Baekhyun meminta Shinwan untuk menemuinya.
"Apa saja jadwal Chanyeol besok ?" tanya Baekhyun tanpa basa-basi setelah Shinwan mendudukan tubuhnya dihadapan Baekhyun.
"Makan siang bersama koleganya dan setelahnya memiliki pertemuan privat dengan Yoo Rachel"
Baekhyun menaikkan alisnya ketika mendengar kata 'privat' dari mulut Shinwan. Kata itu tidak terdengar baik ditelinganya. Kenapa harus privat ?, pikirnya.
"Mengenai informasi yang kau kirimkan padaku, benarkah Chanyeol dan wanita itu kenal baik saat diluar negeri ?"
"Saya tidak bisa mengatakan mereka mengenal baik atau tidak. Namun Presdir dan Yoo Rachel berada di klub kampus yang sama kurang lebih hampir 2 tahun"
"Cukup lama" sahut Baekhyun.
"Apa nama wanita itu memang Yoo Rachel ? dia blesteran ?" tanya Baekhyun lagi.
"Nama aslinya Kwon Chae Won, namun sejak ibunya menceraikan ayah kandungnya, dia menggantinya dengan marga ibunya yaitu Yoo dan pindah ke Amerika tepatnya di Connecticut"
"Dia bukan dari keluarga kaya tapi disini tertulis jika dia lulusan Yale University. Aku sering mendengar Yale dalam Ivy League, katakan.. itu termasuk universitas bergengsi dunia" ucap Baekhyun sambil mengetukkan jari telunjuknya pada lembaran kertas yang dia bawa.
Shinwan menggeleng.
"Yoo Rachel bukan dari keluarga kaya. Perceraian orangtuanya dikarenakan ayahnya terlilit hutang"
"Tapi bagaimana bisa dia menjadi mahasiswa disana ? Jesus christ ! Yale adalah universitas elit, hampir sejajar dengan Harvard dan Princeton. Tidak mudah untuk menjadi mahasiswa disana"
Jangan tanyakan kenapa Baekhyun bisa tahu hal semacam itu. Harvard dan Cornell University pernah masuk kedalam list Universitas yang ingin dia masuki. Tapi eommanya begitu menahannya untuk tetap di Seoul saja, akhirnya Baekhyun berakhir di Universitas S.
"Straight A dalam rapor juga puluhan medali emas dari berbagai olimpiade adalah alasan kenapa Yoo Rachel bisa menjadi mahasiswa disana. Dia mendapat beasiswa" jelas Shinwan.
"tapi kenapa dia pernah cuti setahun saat kuliah ?" Baekhyun menimpali.
"Beasiswa itu hanya berjalan selama tiga semester. Di semester berikutnya nilai akademiknya begitu turun sehingga Universitas memutuskan untuk mencabut beasiswanya. Pergaulan bebas, hal itu sangat mempengaruhi nilai akademiknya yang turun di akhir tahun kedua"
"Lalu bagaimana bisa wanita itu tetap kuliah di Yale sampai lulus dengan predikat cumlaude ?. Disini bahkan tertulis jika ibunya hanya bekerja sebagai pegawai restoran" Ucap Baekhyun sedikit terkejut ketika membalik lembar berikutnya dan menemukan riwayat terakhir ibunya adalah seorang pegawai restoran.
Terjadi jeda untuk beberapa saat. Shinwan masih terdiam menatap tuannya yang kini tengah berpikir begitu serius sampai kerutan begitu dalam tercetak jelas dipangkal hidungnya.
Kemudian Baekhyun mengulas senyum tipisnya. Ah, dia mulai mengerti.
"Kau tidak mengatakan bahwa dia membayar uang kuliahnya dengan menjual.."
Baekhyun menjeda, menjilat bibir bawahnya, sangat ragu dengan kalimat yang akan dilontarkan mulutnya. Bagaimanapun buruk dan bebasnya negara ini, hal seperti itu tidak menutup kemungkinan bahwa wanita itu akan melakukan hal seperti itu. Seperti menjual tubuhnya ?, batinnya melanjutkan dan Baekhyun menghela napas membenarkan saat mendengarnya.
"dia benar menjual tubuhnya ?" ucap Baekhyun begitu lirih diakhir kalimat. Dia masih begitu sangsi menyimpulkan hal buruk kepada seseorang seperti itu.
"Itu tidak akan cukup membayar kuliahnya sampai lulus. Seperti yang anda katakan, Yale adalah universitas bergengsi. Karena itu Yoo Rachel juga bekerja untuk transaksi narkoba"
"Mwo ?!. Itu benar-benar gila. Dia tidak tertangkap ?. Tunggu, bagaimana kau tahu ?. Kau tidak sedang mengarang kan ?. Shinwan, menuduh seseorang menjual narkoba bukanlah hal yang main-main" ucap Baekhyun dengan raut wajah serius lengkap dengan kedua alisnya yang telah menyatu. Begitu heran bagaimana pengawalnya itu hal semacam ini.
Sedangkan Shinwan tersenyum kecil mendengar ucapan tuannya. Bagaimana bisa tuannya itu masih bisa berpikiran baik mengenai Yoo Rachel walaupun Shinwan begitu yakin Baekhyun membenci wanita ular itu.
"Tidak, saya tidak mungkin mengarang . Saya memiliki koneksi cukup banyak disini. Yoo Rachel tidak tertangkap tentunya. Dia juga memiliki hubungan yang cukup baik dengan orang-orang berpengaruh di Connecticut untuk menutupi perbuatannya" jelas Shinwan.
"Itu juga yang membuatnya masuk di perusahaan.."
Baekhyun menjeda, tangannya membalik kertas didepannya, mencari-cari dimana wanita itu bekerja.
"JD Enterprises dan perusahaan fashion di New York" ucap Shinwan.
"Ya, JD Enterprises. Tunggu, bukankah perusahaan itu akan dibeli Chanyeol ?" tanya Baekhyun saat mengingat apa yang dikatakan Juyeon kemarin tentang alasan pulang Chanyeol diundur karena mengurusi perusahaan yang akan dibelinya.
"Ya, benar"
Jika Chanyeol membeli perusahaan itu, bukankah berarti wanita itu bekerja untuk perusahaan Chanyeol ?. Apakah itu berarti mereka akan lebih sering bertemu?. Oh tidak, Baekhyun jelas tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Wanita itu tidak pernah membawa akalnya ketika bersama suaminya dan Baekhyun tidak berniat untuk membiarkan wanita itu menjadi-jadi. Tidak, dia harus menegaskan apa yang sudah menjadi miliknya.
"Baiklah, kau bisa kembali. Aku akan bergabung dengan pertemuan privat mereka besok. Kau sudah tahu kan dimana tempatnya ?" ucap Baekhyun sambil menekan emosinya yang begitu sensitif pada kata 'privat' sejak tadi.
"Sudah tuan"
Baekhyun mengangguk.
"Kau bisa pergi" ucap Baekhyun lalu Shinwan beranjak dari tempat duduknya. Membungkuk kepada Baekhyun kemudian segera membawa langkah kakinya keluar dari ruangan Baekhyun.
.
.
.
Chanyeol baru saja selesai dengan kegiatan gymnya. Kini tangan pria itu sedang mengelap keringat dibelakang lehernya dengan handuk. Kaos hitam ketat yang begitu mencetak dada bidangnya sama sekali tidak membuat lebih baik pikiran wanita-wanita yang sempat berpapasan dengan Chanyeol di lobi hotelnya tadi. Chanyeol sangat sadar pada tatapan mereka, dia hanya acuh. Namun Chanyeol adalah Chanyeol. Dia seperti titisan Apollo dan Aphrodite dalam waktu bersamaan dengan sorot tajam phoenix yang membuat orang-orang seperti dimabuk afrodisiak. Sayangnya tidak ada yang bisa membuat pria 25 tahun itu berlutut kecuali pria mungil yang saat ini begitu dirindukannya.
Chanyeol mendudukan tubuhnya diranjang sambil menegak segelas air dan mengaktifkan smartphonenya. Dia tersenyum kecil ketika mendapati pesan dari suami kecilnya itu.
Dari : Baekhyun
Selamat pagi Chanyeol ! Aku merindukanmu :(
Sejak semalam pria mungilnya itu entah kenapa terus merengek menyuruhnya pulang. Dia sangat paham, Baekhyun pasti kecewa padanya karena tiba-tiba saja dia memberitahu kepulangannya yang harus diundur. Baekhyun juga memberitahunya bahwa dia sedang di Jeju saat ini bersama teman-temannya. Walaupun sesungguhnya Chanyeol sangat tidak setuju dengan Baekhyun yang pergi melakukan penerbangan tanpa seijinnya. Alasan kesehatan dan Baekhyun yang masih mengandung adalah sebab Chanyeol hampir memarahi Baekhyun. Akan tetapi sebelum dia sempat berbicara pria mungilnya itu berhasil membungkam mulutnya dengan mengatakan bahwa dia berhak untuk berlibur agar tidak stress karena ditinggal suaminya seminggu lebih. Chanyeol benar-benar tercenung ketika mendengar alasan Baekhyun, sempat membuat hatinya sakit entah bagaimana.
Chanyeol segera mengetikkan balasan kepada Baekhyun.
Untuk : Baekhyun
Selamat pagi, dear.
Aku juga merindukanmu dan baby.
Apa yang akan kau lakukan hari ini ?
Kemudian Chanyeol melempar smartphonenya asal di atas ranjang dan beranjak melangkah kedalam kamar mandi. Hari ini dia hanya memiliki jadwal makan siang bersama koleganya dan bertemu dengan Yoo Rachel. Wanita itu mengatakan ingin berkonsultasi padanya perihal kontraknya dengan JD Enterprises. Bagaimanapun juga dalam waktu dekat perusahaan itu akan menjadi miliknya. Anehnya dia meminta Minho tidak ikut serta dalam pertemuan mereka padahal sekertarisnya itu mungkin bisa memberikan masukan padanya. Namun Chanyeol tidak bodoh untuk mengerti bahwa berkonsultasi perihal kontraknya hanyalah sebuah alasan. Yoo Rachel, wanita itu sama sekali tidak berubah. Tabiatnya masihlah dia bawa hingga kini dan Chanyeol memutuskan untuk menuruti keinginannya. Dia hanya ingin melihat sejauh mana wanita itu berani melangkah.
.
.
.
Chanyeol mengangkat satu alisnya setelah mendengar keinginan Yoo Rachel untuk tetap meneruskan kontraknya dengan JD Enterprises. Saat ini mereka telah berhadapan diruangan yang telah disiapkan oleh Minho. Seperti keinginannya, Minho tidak turut hadir dalam pertemuan ini. Chanyeol menangkupkan kedua tangannya kedepan. Sorot matanya yang tajam masih menatap wanita dengan balutan baju berwarna merah itu. Mengeryit heran dengan luapan semangat dibalik iris hitam kedua maniknya.
"Kau yakin ?" tanya Chanyeol.
Wanita mengangguk begitu mantap, kerahnya yang begitu rendah memperlihatkan selangkanya yang begitu tegas.
"Kenapa Rachel ?. Aku tahu kau begitu ingin keluar dari perusahaan ini sebelumnya" ucap Chanyeol setelah menyandarkan punggungnya dikursi. Belah bibirnya yang dipoles lipstick merah tersenyum tipis, namun matanya yang sempat menghindari phoenixnya tidak terlewat oleh Chanyeol.
"Kenapa kau berasumsi seperti itu Richard ?. Kau tahu aku menyukai Forks sampai aku memutuskan untuk pindah dari New York"
"Kau tidak menyukai Forks, kau terpaksa pindah dari New York. Kau pikir aku tidak tahu jika kau masih memiliki kondominium di New York ?" ucap Chanyeol begitu sarkas sempat membuat wanita itu membeku.
Wanita itu menelan ludahnya begitu kasar. Dia hampir lupa bahwa saat ini dihadapannya sedang duduk seorang Richard Park. Presdir muda yang cukup kuat untuk menaklukan kerajaan bisnis dunia dibawah kakinya. Namun setelahnya Yoo Rachel tersenyum, berdiri dari tempat duduknya. Langkah kakinya dibawa berputar menuju tempat duduk Chanyeol. Mendengar suara ketukan heels mendekatinya membuat Chanyeol tidak bisa menahan seringaian tipisnya. Seperti yang dikatakan Chanyeol tadi, tabiatnya masih tidak berubah sejak dulu. Wanita itu memiliki keberanian sampai dimana meninggalkan harga dirinya. Phoenix Chanyeol mendongak ketika wanita itu telah sampai dihadapannya. Senyumnya semakin tertarik dikedua sisi ketika Yoo Rachel mengangkat kakinya dan bertumpu tepat ditengah kedua paha Chanyeol. Membuat belahan tinggi yang terletak dipinggir gaun pendeknya kini terlihat, menyibak kulit pahanya yang begitu putih. Tubuhnya begitu condong kedepan ketika kedua tangannya bertumpu dikedua sisi kursi Chanyeol.
"Oh ayolah presdir, yang terpenting adalah saat ini aku bermaksud untuk tetap meneruskan kontrakku dengan JD Enterprises" ucap Yoo Rachel tidak lupa dengan menyematkan senyum manisnya.
"Aku tidak menyangka kau begitu berhasrat untuk bekerja dibawah perusahaanku" ucap Chanyeol. Jemari lentik wanita itu kini terangkat, bermain-main diatas dasi Chanyeol.
"Bukankah itu ide yang bagus ?. Lagipula kita memiliki proyek untuk setahun kedepan. Ngomong-ngomong.. Aku juga tidak masalah bekerja dibawahmu"
Chanyeol mendecih. Ah, jalang.
Manik hitam oasisnya masih asik memandang kedua phoenix Chanyeol juga sesekali tersenyum kecil ketika menarik kecil dasi Chanyeol.
"Kukira kau kesini hanya akan membahas kontrakmu, Rachel" ucap Chanyeol masih membiarkan wanita itu bermain-main dengan dasinya.
Yoo Rachel adalah wanita yang cantik. Chanyeol tidak akan mengelak untuk fakta itu. Surainya yang panjang kecoklatan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang disini juga karena kulitnya yang putih namun tidak pucat. Memiliki kakinya begitu jenjang juga pinggang yang ramping membuat orang-orang langsung tahu bahwa wanita itu bekerja dibidang mode.
Chanyeol masih setia melihat kilatan dibalik iris legam Yoo Rachel. Wajahnya begitu tegas namun tetap memberikan kesan lembut entah bagaimana. Saat ini kedua wajah mereka begitu dekat karena wanita itu semakin mencodongkan tubuhnya kedepan. Perlahan jemari lentiknya bergerak turun, terus turun menyentuh perut keras Chanyeol. Kekehan tawa tidak bisa Chanyeol tahan ketika merasakan tangan wanita itu tepat berada diatas penisnya.
"Tidak kah kau begitu stress ?. Aku bisa membantumu untuk rileks"
Chanyeol tersenyum kecil.
"Bagaimana kau membantuku ?"
Yoo Rachel tersenyum lebar karena sejauh ini Chanyeol tidak menghentikannya sama sekali, bahkan ketika tangannya telah berada diatas penisnya.
"Bagaimana jika aku membungkuk, lalu.." Yoo Rachel menjeda.
Jari-jarinya menarik pelan resleting celana Chanyeol. Hatinya telah bersorak-sorak didalam sana saat Chanyeol tidak menepisnya sama sekali. Mengenal pria itu sejak kuliah, membuat Yoo Rachel tahu bahwa Chanyeol adalah pria ambisius dan sama sekali tidak membiarkan seorangpun untuk berada dekat dengannya. Namun semenjak dia mendengar kabar bahwa seorang Richard Park telah menikah dan yang mengejutkan adalah pasangannya merupakan seorang bocah. Yoo Rachel malah tersenyum lebar, merasa kasihan pada bocah itu. Dia sangat lemah, pikir Yoo Rachel. Bahkan bocah itu tidak melakukan apapun ketika beritanya dengan Chanyeol tersebar. Apalagi sekarang Yoo Rachel dan Chanyeol akan bersenang-senang. Oh bocah malang. Tidak tahukah bocah itu jika suaminya sedang memiliki waktu yang menyenangkan dengan wanita lain ?. Ugh, Yoo Rachel menjadi kasihan juga merasa senang disaat yang bersamaan.
"..lalu aku menempatkan mulutku didalam sini" lanjut Yoo Rachel saat tangannya telah selesai menarik resleting itu kebawah dan bersiap untuk meraih kejantanan Chanyeol.
Tidak.
Tidak sebelum suara pintu yang dibuka begitu kasar sehingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga, menghentikan tangannya. Baik Chanyeol maupun Yoo Rachel menoleh. Mendapati seorang pria mungil yang kini berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Yoo Rachel menyipitkan alisnya untuk menerka siapa orang kurang ajar mengganggu kesenangannya.
"Baekhyun ?" lirih Chanyeol dengan matanya yang telah melebar mendapati kedatangan Baekhyun yang begitu tiba-tiba.
Yoo Rachel mengeryit ketika mendengar nama itu, lalu tersadar kemudian bahwa orang lancang ini adalah Park Baekhyun. Orang yang membuat Chanyeol dengan senang hati akan bersujud dikakinya. Karena itu adalah hal yang dipikiran Chanyeol saat ini. Dia tahu benar bagaimana jalan pikiran pria mungilnya itu.
"Hai, jalang" ucap Baekhyun sambil tersenyum begitu lebar, dan Chanyeol tersentak ditempat duduknya.
.
.
.
Baekhyun tersenyum kecil ketika melihat pemandangan didepannya. Seorang wanita begitu berani meletakkan kakinya diantara kedua kaki suaminya. Bukankah dia kehilangan akal ?. Baik Sangyeon, Juyeon dan Shinwan yang menemani Baekhyun kini tengah menahan napas mereka karena melihat tuannya yang bersedekap sambil menarik senyuman tipis ketika melihat presdirnya tengah digoda oleh seorang wanita. Baekhyun meledak ketika melihat tangan wanita itu kini telah berada ditubuh prianya. Dengan langkah begitu lebar, Baekhyun keluar dari ruang cctv itu dan berjalan menuju tempat dimana Chanyeol dan jalang itu melakukan pertemuan. Sedangkan para pengawalnya yang melihat itu segera menyusul Baekhyun keluar dari ruangan cctv.
Sejak awal Baekhyun sudah merasa janggal ketika Shinwan mengatakan bahwa Chanyeol memiliki pertemuan privat dengan Yoo Rachel tanpa menyertakan Minho. Ketika Baekhyun sampai didepan ruangan pertemuan itu, dia bertemu Minho yang terlihat terkejut saat melihatnya.
"Baekhyun-ssi, anda.. bagaimana bisa.." Minho kehilangan kata-katanya ketika melihat Baekhyun datang lengkap dengan emosi yang menguar disekelilingnya.
"aku ingin menemui wanita ular itu. Dia ada didalam kan ?" ucap Baekhyun hanya sekedar berbasa-basi. Minho mengangguk kaku. Dia tahu bahwa sesuatu yang besar akan terjadi sebentar lagi.
"Shinwan, matikan cctv di ruangan ini sekarang" peritah Baekhyun.
"Tapi tuan, demi keselamatan anda-"
"Lakukan apa yang kukatakan. Ini bukan lagi masalah keselamatanku, ini adalah urusan rumah tanggaku dengan presdir kalian. Aku tahu benar bahwa orang yang bekerja pada Chanyeol adalah orang-orang yang menghormati urusan pribadi pimpinan mereka"
Telak sudah, tidak ada yang bisa membantah. Apa yang dikatakan Baekhyun benar dan mereka cukup sadar jika ini memang urusan pribadi pimpinan mereka. Setelahnya Shinwan segera mengangguk dan pergi untuk mematikan cctv diruangan pertemuan Chanyeol dan Yoo Rachel.
"Ah, aku tidak sabar untuk menyapanya" adalah kalimat yang diucapkan Baekhyun sebelum membuka pintu didepannya. Minho akan sangat bodoh jika dia mengira bahwa Baekhyun akan hanya sekedar menyapanya. Karena jauh dari sorot tajam kedua sabitnya, Minho tahu bahwa Baekhyun sangat ingin mematahkan leher wanita itu saat ini juga.
.
.
.
Dengan hati yang sakit juga emosi yang meledak, Baekhyun membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Seperti yang Baekhyun duga, baik Chanyeol maupun wanita ular itu sedikit terkejut karena kedatangannya. Baekhyun menggigit pipi dalamnya untuk mencegah bibirnya yang bergetar karena melihat tangan itu masih berada dibawah. Baekhyun yakin bahwa jemari lentik itu masih berada diatas kejantanan Chanyeol walaupun sebuah meja menutupi pandangannya. Wanita itu memakai gaun ketat pendek bewarna merah, juga berkerah rendah. Bibirnya dipoles dengan lipstick merah menyala begitu tegas. Oh dan jangan lupakan lekuk tubuhnya yang membuat Baekhyun ingin menangis. Dia bahkan bukan apa-apa dibanding wanita itu.
"Baekhyun ?"
Suaranya, Baekhyun sangat merindukannya sampai hatinya begitu sakit. Kapan tepatnya terakhir kali sejak Baekhyun mendengar suara Chanyeol. Baekhyun bisa melihat kedua mata Chanyeol melebar. Tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih, jika saja Yoo Rachel tidak disana, Baekhyun sekarang sudah pasti berlari untuk menghambur kepelukan pria itu. Jika saja Yoo Rachel tidak disana. Jika saja.
Dengan sekuat tenaga Baekhyun berusaha untuk mengontrol air mukanya. Dia tidak boleh terlihat lemah. Dia lelah menangis berhari-hari. Baekhyun telah berjanji pada dirinya sendiri sebelum terbang ke Forks bahwa dia datang untuk menegaskan apa yang sudah menjadi miliknya karena kelihatannya wanita itu begitu buta dan tidak membawa akalnya ketika berita omong kosong itu terus berdenging dipendengarannya dan menyiksanya luar dalam. Maka hari ini Baekhyun tidak boleh mengkhianati apa yang telah dia katakan. Pada dasarnya Baekhyun menghormati seorang wanita. Bertindak kasar juga bukan gayanya. Tapi Baekhyun meragukan dirinya sendiri jika dia akan berlaku lembut pada wanita didepannya.
"Hai, jalang"
Chanyeol hampir saja menganga ketika mendenganya. Chanyeol bahkan ragu jika didepannya kini berdiri suaminya. Bukankah Baekhyun di Jeju ?. Lalu apa-apaan ini ?.
Kedua mata pemilik iris hitam legam itu melebar. Telinganya seketika panas, tidak terima ketika Baekhyun menyebutnya jalang. Yoo Rachel sebisa mungkin mengendalikan emosinya. Dia tidak bisa meledak dihadapan bocah itu. Senyumnya masih diulas sambil menurunkan kakinya dari kursi Chanyeol lalu menegakkan tubuhnya. Tangannya diangkat kedepan, bersedekap didepan dadanya.
Kemudian dengan perlahan kaki jenjangnya dibawa untuk menghampiri Baekhyun, mengabaikan jika bocah itu tadi menyebutnya jalang.
"Byun Baekhyun ?. Senang akhirnya bertemu denganmu" ucap Yoo Rachel sambil mengulurkan tangannya. Baekhyun menurunkan pandangannya, menatap tangan yang memiliki jari-jari lentik itu.
"Aku tidak yakin bisa mengatakan hal yang sama dan maaf, margaku bukan lagi Byun sejak menikah dengan Chanyeol. Tapi Park, Park Baekhyun" ucap Baekhyun dengan api yang menyala disorot matanya. Yoo Rachel tersenyum kecil ketika tangannya hanya mengambang diudara. Bocah itu begitu angkuh, pikirnya.
"Ah, suami Richard ?" ucap wanita itu sambil menyimpan tangannya kembali.
"Karena kau telah membawa-bawa Richard, maksudku Chanyeol, can I ask you something ?"lanjut Yoo Rachel.
Baekhyun diam, menunggu wanita itu untuk berbicara kembali.
"Aku sudah penasaran dengan hal ini cukup lama. Apa kau mungkin mengancam Chanyeol ?, walaupun aku meragukannya" tanya Yoo Rachel.
"Yoo Rachel" peringat Chanyeol.
"Apa maksudmu ?" ucap Baekhyun.
"Oh come on, tidak mungkin Chanyeol tiba-tiba menjadi belok seperti ini. Menikah dengan seorang bocah laki-laki ?" ucap Yoo Rachel.
Seperti ditempa sebuah beton juga ditusuk ribuan jarum, itulah yang dirasakan Baekhyun sekarang. Apakah wanita itu baru saja menyebutnya bocah ?. Kedua matanya telah berkaca-kaca dan Chanyeol bisa melihat itu. Chanyeol berdiri dari kursinya, wanita itu telah melewati batasnya.
"Hentikan Rachel. Ingat tempatmu" ucap Chanyeol kembali, rahangnya telah mengeras. Apakah Yoo Rachel baru saja bersikap kurang ajar dengan dearnya ?.
Akan tetapi Yoo Rachel malah tertawa. Seakan-akan apa yang dikatakan Chanyeol adalah sebuah gurauan.
"Shh Chanyeol. Aku bahkan tidak menyangka, you too, right ?" ucap Yoo Rachel sambil mengalihkan pandangannya pada Chanyeol sebentar lalu kembali menatap remeh bocah laki-laki didepannya.
"Hentikan" ulang Chanyeol kali ini dengan nada begitu dingin.
Yoo Rachel bisa merasakan tubuhnya meremang untuk sesaat. Park Chanyeol memang luar biasa. Bagaimana bisa dia mendominasi bahkan dari kejauhan seperti ini hanya dengan ucapannya ?.
Yoo Rachel mengabaikannya, dia sedikit takut sebenarnya. Tapi wanita itu yakin bahwa seorang Park Chanyeol tidak benar-benar mencintai bocah didepannya. Buktinya pria itu bahkan membiarkannya bermain dengan tubuhnya. Berbekal kepercayaan itu, Yoo Rachel kembali menatap Baekhyun yang sedari tadi masih terdiam. Dia bisa melihat anak sungai kecil yang telah mengalir di pipinya. Sudah wanita itu duga, Park Chanyeol menikahi seorang bocah. Bocah cengeng.
"Hey, you deaf ?. let's think rationally, there's no way Richard would be willing to marry a kid-"
Plak !.
Itu adalah suara ketika tangan Baekhyun mendarat di pipi Yoo Rachel. Menghentikan wanita itu untuk berbicara lebih jauh. Kedua sabit Baekhyun masih mengeluarkan airmata, namun tidak ada isakan yang yang terdengar. Baekhyun menggigit bibirnya kuat, tangannya begitu kebas. Yoo Rachel terkejut bukan main ketika mendapati pipi kirinya begitu panas.
"Kau, beraninya kau !"
Tangan wanita itu sudah akan menampar balik Baekhyun namun dengan cekatan, Baekhyun menghentikan pergerakan wanita itu. Menahan pergelangan wanita itu dengan kuat.
"Perhatikan mulutmu Nona Rachel. Sungguh aku sangat menghormati seorang wanita. Tapi aku tidak berpikir untuk menghormatimu setelah apa yang terjadi"
Kedua mata wanita itu menatap Baekhyun dengan sorot yang tajam sambil berusaha melepaskan cengkraman Baekhyun dari tangannya.
"Lepaskan !" pekik wanita itu.
Baekhyun melepaskannya sambil tersenyum miring. Wanita itu menggosok pergelangan tangannya yang sudah dilepaskan Baekhyun sambil tertawa.
"Aku tidak menyangka suami seorang Park Chanyeol begitu kasar pada wanita"
"Aku juga tidak menyangka seorang lulusan Yale University begitu jalang pada suami orang" balas Baekhyun.
"Apa ?",wanita itu terkejut.
Bagaimana bocah itu tahu dia pernah bersekolah di Yale sebelumnya ?, pikirnya.
Chanyeol yang tidak tahan segera menghampiri Baekhyun, memeluk tubuhnya dari belakang berharap bisa menenangkan pria mungilnya itu.
"Lepaskan Chanyeol" ,desis Baekhyun. Pelukan Chanyeol tidak lagi hangat, karena Baekhyun sudah dikuasai emosi.
"Dear.."
Bohong jika hatinya sedikit tenang ketika Baekhyun mendengarnya. Tapi Baekhyun memilih melepaskan rengkuhan tangan Chanyeol dengan paksa dan tubuhnya dibawa maju mendekati wanita itu.
"Aku bisa mengerti. Wanita ular tamak sepertimu memang tidak akan pernah cukup jika hanya menjadi jalang perusahaan kan ?. Kau pikir apa yang kau lakukan dengan menaikan kakimu didepan Chanyeol ?. Kau pikir Chanyeol semurah itu ?" ucap Baekhyun berapi-api.
"Lalu apa ?. Kau tidak lihat jika suamimu itu tidak menghindariku ?. Dia menyukainya Baekhyun, kau pikir baginya cukup hanya memiliki bocah cengeng sepertimu ?. Pada dasarnya hanya kami yang bisa memuaskan pria seperti Chanyeol"
"Yoo Rachel ! Hentikan sekarang juga !"
Chanyeol marah. Sangat marah. Baekhyun terdiam, dia ingin menjerit sekarang juga. Hatinya sudah terlampau berdarah-darah didalam sana.
"Tidak.." lirih Baekhyun kemudian mendongakkan kepalanya menatap Yoo Rachel kembali.
"Tidak, Chanyeol bukanlah pria seperti itu. Jadi hentikan. Hentikan selagi aku masih berbaik hati padamu- Kwon Chae Won"
Baekhyun mengulas senyum tipisnya ketika melihat raut wajah jalang didepannya.
"Wae ? terkejut ?. Penjualan narkoba sejak menjadi mahasiswa di Yale, setelah lulus kau menjadi jalang perusahaan untuk bisa masuk didalam sana. Sebentar, bukankah kau menjual tubuhmu sejak akhir tahun kedua di universitas ?. Ah, kau juga melakukan korupsi uang perusahaan baru-baru ini benar ?. Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang begitu haus dengan uang" ucap Baekhyun begitu tenang menikmati raut keterkejutan wanita didepannya.
Yoo Rachel membeku ditempatnya. Wajahnya kini benar-benar pucat pasi.
"J-jangan bercanda !" teriaknya.
"Kau ingin bukti ?. Baik, aku akan memberikannya. Tapi dengan syarat kita akan membuka buktinya bersama pihak hukum. Bagaimana ?. Kukira kau masih menyayangi karirmu, tapi kurasa aku salah. Kau ingin mendekam dipenjara bukan ?"
"Tidak ! Kumohon jangan. Aku minta maaf, sungguh aku minta maaf. Aku menyesal, jangan laporkan aku Baekhyun" ,ucap Rachel sambil menjatuhkan tubuhnya dan bersujud didepannya tepat setelah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya.
"Apa ini ?. Kenapa kau tiba-tiba bersujud padaku ?"
Wanita itu masih menangis, bersujud sambil mengatupkan kedua telapak tangannya kedepan.
"Please.. I beg you. Aku menyesal, aku menyesal. Aku minta maaf, tolong ampuni aku"
Baekhyun membenci bagaimana dia masih bisa merasakan sebersit perasaan kasihan terhadap wanta yang tengah bersujud didepannya ini.
"Kau menyesal ?"tanya Baekhyun. Wanita itu mengangguk dengan cepat sambil masih menangis tersedu-sedu.
"Baik. Perihal proyekmu dengan Chanyeol. Kau tidak akan bertemu dengan Chanyeol selama proyek itu berjalan. Nama kalian hanya akan ada diatas lembar persetujuan, tidak untuk saling bekerja sama secara langsung. Lagipula apa gunanya memiliki pegawai. Satu lagi, keluar dari JD Enterprises. Aku tidak bisa membayangkan orang sepertimu bekerja dibawah pimpinan suamiku"
"Tapi-"
"Kau menyesal, bukan ?. Ingat, karirmu berada ditanganku Kwon Chae Won"
Wanita bernama asli Kwon Chae Won itu menelan ludahnya dengan kasar. Dia tidak berdaya. Hidupnya berada di tangan Baekhyun. Yoo Rachel bermain dengan orang yang salah.
"Baik, aku akan menuruti semua yang kau inginkan"
"Bagus. Sekarang, cepat enyah dari sini sebelum aku berubah pikiran"
Dengan tergesa-gesa wanita itu bangkit, meraih tas kecilnya kemudian berjalan cepat keluar ruangan.
Tubuh Baekhyun seketika lemas dan terhuyung kebelakang tepat ketika wanita itu menutup pintu ruangan. Beruntung Chanyeol segera mendekapnya.
"Dear ? Kau baik-baik saja ?" tanya Chanyeol sedikit panik.
"Chanyeol" panggil Baekhyun.
"Aku disini, aku disini sayang"
Baekhyun meledakkan tangisnya saat itu juga. Chanyeol yang berubah bingung memutuskan untuk menggendong Baekhyun dan medudukannya keatas pangkuannya setelah mendudukkan dirinya diatas kursi. Baekhyun masih menangis diatas dada Chanyeol sambil meremas kain kemejanya. Chanyeol memutuskan untuk diam dan hanya mengelus punggung pria mungilnya yang bergetar. Dia benar-benar suami yang buruk. Bagaimana bisa dia membuat pria yang amat dia cintai menangis seperti ini ?. Chanyeol merasa dirinya benar-benar brengsek. Dia kembali ragu untuk sesaat. Dia bertanya-tanya kepada Tuhan, apakah pilihanNya benar menitipkan seorang malaikat berwujud manusia ini padanya ?.
.
.
.
.
.
I can't believe we already in Chapter 20 of The Last Step !. Btw, sebelum lanjut ke chapter berikutnya, author penasaran, kejadian apa yang paling "membekas" bagi readernim di sepanjang cerita The Last Step ini ?
Jangan lupa tinggalkan review kalian di chapter ini ya ! See u !
