Berhubung ini minggu, Sasuke berinisiatif mengajak Sakura dan si kembar piknik. Tidak jauh-jauh dari sekitaran kompleks, tepatnya di danau buatan yang dipenuhi pohon dengan dedaunan rimbun di sekelilingnya. Sakura antusias sekali sejak tadi, katanya sekalian mau pamer ke para tetangga yang suka sekali julid. Enak saja menyebar gosip tentangnya dan Sasuke yang akan bercerai. Mulut itu Ibu-ibu mau ditampar linggis? Sakura tersenyum simpul setelah mengeluarkan berbagai makanan dari keranjang, kemudian duduk sembari menselonjorkan kakinya di tikar plastik yang menutupi rerumputan.

"Yupi, Mars. Jangan terlalu ke tepi kalau main." Bahaya jika sampai mereka tercebur.

Berbeda dari istrinya yang duduk santai, Sasuke terlihat berdiri di dekat pohon dengan memegang roti isi, mulutnya terus mengunyah tetapi pandangannya terus terarah ke Yupiter dan Mars. Ia merasa semakin tua jika mengingat pertumbuhan kedua anak kembarnya yang begitu pesat, rasanya seperti baru kemarin. Kini, giliran Sakura yang menjadi fokus pandangannya. Meski waktu terus bergulir, dia tetap tidak menua termakan usia. Istrinya dari dulu memang cantik, tapi sifatnya kadang membuat Sasuke memijat dahi. Semalam mereka akan melakukan ehem, lalu Sakura tiba-tiba meminta berhenti. Dia berkomentar tidak menyukai celana dalam berwarna hitam, jadi Sasuke harus menggantinya dengan warna yang lebih cerah, contohnya seperti warna merah. Kan asw!

"Ngapain yang lihat-lihat?"

Memang deh, Sakura jagonya peka.

Sasuke terkekeh ringan sambil lalu mendekati istrinya. "Aku mau minum."

"Minum?"

"Ho'oh."

"Mau minum apa? Aku bawa tiga nih. Ada air putih, jus jambu, sama susuku." Lah anjirrr.

"Susumu deh."

"Ya sudah, sini." Astagfirullah human.

Sasuke tertawa cukup keras menyadari tingkah Sakura yang tidak ada berubahnya, blak-blakan dan sering mengatakan lelucon dewasa. Dipandanginya beberapa makanan dan minuman yang tertata di atas tikar plastik, Sasuke memutuskan mengambil air mineral kemasan lalu meminumnya.

"Besok senin aku mau ke Dokter kandungan."

"Aku antarin."

"Nggak perlu yang, kan kamu kerja. Besok aku pergi sendiri saja atau enggak ya bisa minta temani Mama."

Sakura itu terbiasa ke mana-mana sendiri, Sasuke kadang sampai merasa heran.

"Sekali-kali deh ku antar."

"Nggak yang." Ya sudah, Sasuke menurut saja.

"Ma! Aku ketemu kodok nih!" Mendengar itu, atensi keduanya langsung teralih pada Mars yang berlari dengan membawa kodok, sedangkan Yupiter ada di belakangnya mengikuti. "Warnanya kuning, keren deh."

"Kuning? Kayak tai dong." Apa kata Naruto, sifat negatif Sakura telah menular ke Sasuke.

"Nih Ma, Mars dapat satu."

"Tadi aku juga mau dapat, tapi kodoknya lompat tinggi banget, terus terbang."

Yakin nih pasti, itu bukan kodok. Yupiter kurang senang dengan nasibnya yang hanya bisa melihat binatang kecil yang dipegang Mars. Namanya juga anak kecil, Sasuke dan Sakura hanya bisa saling beradu pandang.

"Mars, kodoknya kasih pegang Yupi-nii."

"Sebentar, mau ku tunjukin ke Mama dulu."

"Papa nggak dikasih tunjuk?"

"Nggak."

Keluarga kecilnya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa bersama seperti ini. Sasuke memperhatikan interaksi si kembar dengan Sakura yang mengobrol tentang kodok kuning yang ia sebut mirip tai, sesekali ketiganya tertawa. Mars memiliki senyum jenaka karena giginya ompong, tampak lucu. Sedangkan Yupiter lebih dewasa karena dia sulung. Mereka kembar identik, tetapi berbeda dari segi sifat.

"Lihat deh Papa. Sendirian saja, kasihan nggak punya teman." Sakura mulai lagi.

"Sendirian kayak garpu pop mi."

So sad.

- 0 -

Seperti akan dicabut nyawanya oleh malaikat maut, Akio tidak pernah segugup ini ketika bertemu gebetan. Minggu siang, harinya tenang. Tapi tidak ada angin, tidak ada hujan. Tahu-tahu Hanabi muncul di pintu rumahnya dan disambut si Ibu dengan senyum sumringah. Akio bagaimana? Doi kalang kabut karena sejak pagi berkeliaran di rumah hanya dengan kaos singlet dan kolor biru laut. Sekedar informasi, Akio masih bingung menjelaskan tentang apa yang dikatakan Ibunya kemarin. Lagian goblok sih, selama ini Akio ngapain saja?

"Han."

"Mas Kiki."

Jodoh nih, kompak saling sebut nama.

Ini seperti bukan Akio sekali. Akio yang biasanya selalu banyak bacot, bukan diam-diam bae seperti patung pancoran.

"Han."

"Mas Ki..." Tuh, lagi.

"Mmh, kamu dulu deh Han."

Dua-duanya persis seperti anak ABG sedang kasmaran. Hanabi menggigit bibirnya tidak tahan ketika menatap mata Akio. "Sebenarnya aku mau tanya sesuatu."

"Ya?"

"Soal kemarin, yang Mamanya Mas Kiki omongin itu benar nggak sih?" Mamposss.

Mendadak Akio pengen pipis.

"Mas Kiki suka aku?"

"Suka lah, kalau nggak suka ngapain aku nganggap kamu adek aku." Jadi ceritanya, Akio dan Hanabi itu kakak adek ketemu gede.

"Bukan, maksud aku bukan suka yang itu."

"Terus?" Akio goblok!

Mana bisa Hanabi menjawab jika seperti ini. "Kita kan cowok sama cewek, terus biasanya..."

Biasanya pasti akan ada perasaan lebih.

"Biasanya?" Gajetot amat Akio.

"Mas Kiki nggak mau jujur ke aku ya?"

Tipikal cowok seperti Akio itu ajaib, sulit tertebak. "Jujur apa Han? Kalaupun aku jujur pun, toh kamu juga sukanya sama iparku."

"Iya sih, tapi..."

"Ya sudah kalau gitu jangan nyuruh aku jujur bilang suka sama kam.." Lambemu cokkk!

"Tuh Mas Kiki bilang suka aku."

Dari awal mereka berkenalan, Akio sudah memproklamirkan diri telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi nasibnya sial sekali karena Hanabi lebih menyukai Sasuke, si bapak polisi ganteng. Kemudian, perang dunia dimulai. Akio sering bertengkar dengan kakak ceweknya karena telah salah mengambil langkah dengan membawa Hanabi main ke rumah. Iya lah, selain Sakura juga akan melakukan hal sama jika suaminya digoda dedek gemes. Dedek gemesnya cantik pula, tapi sayang susunya rata mirip aspal jalanan. Ganbatte Ki, elo bisa! Sebagai bukti jika dirinya cowok sejati, Akio akhirnya memutuskan mengambil langkah ini.

"Han, jujur iya aku suka kamu." Begitu baru benar. "Tapi kalau kamu memang jatuh cintanya ke Bang Sasuke, it's oke aku nggak masalah."

Dag dug serr jantung Hanabi.

"Aku nggak ngerasa pernah bilang jatuh cinta ke Sasuke-nii." Ini bagaimana sih?

Akio jadi kurang fokus. "Kamu terus ngejar-ngejar iparku sampai segitunya Han."

"Iya, tapi aku nggak cinta Sasuke-nii." Masa? "Aku cuma ngefans dia doang."

Benar atau tidaknya, Akio merasa kurang waras. Ia menatap mata Hanabi dalam dan tidak menemukan kebohongan di sana. Jadi?

"Kamu..."

"Aku tuh cintanya ke Mas Kiki."

Setara seperti mendapati batu raksasa yang menghantam kepala, Akio pikir dirinya berhalusinasi. Ibunya yang sejak tadi diam-diam mencuri dengar di balik tembok sampai tidak sadar kelepasan mengumpat. Anak lanang goblok! Sudah bagus yang cewek mau berterus terang, lah dia malah diam saja macam kambing congek. Ampun deh.

"Om Kiki, Nenek!!" Suaranya datang dari pintu depan yang baru saja dibuka.

Bocil! Pulang sono gih, aduhhhhh.


To be continue...