"A-akhh hyung! S-shh hentikan ahnn!"

Sungjin tak henti-hentinya mendesah, Jae benar-benar membuatnya kehilangan akal sejak matahari terbit hingga hampir tenggelam.

Tidak adanya schedule sepertinya membuat Sungjin menderita dikerjai habis-habisan oleh yang lebih tua, sampai-sampai suaranya serak seperti ini.

Bagaimana tidak mau berhenti? Jae memasangkan berbagai mainan, dan meninggalkannya di kamar begitu saja. Entah sedang apa pemuda itu, mungkin sedang main game.

Jika itu benar-benar terjadi, Sungjin akan membunuhnya.

"A-ahh! H-hyung! L-lepas hyahh!"

Prostatnya mungkin sudah membengkak akibat diserang habis-habisan oleh mainan sialan yang entah Jae dapat darimana, Sungjin tidak peduli.

Ia bahkan sudah lupa berapa kali ia orgasme karena mainan-mainan itu.

"Kau berisik sekali, sweetheart." Bolehkah Sungjin memberi bogem mentah pada wajah tampan sang kekasih? Kalau iya, ia tidak segan-segan mengambil panci sebagai senjatanya.

"Apa aku harus memberimu hukuman, hmm?"

Sungjin menggeleng cepat, dengan keadaan seperti ini saja ia sudah menderita, bagaimana dengan hukumannya nanti? Bisa-bisa ia mati lemas.

"H-hyung uhmm, k-kumohon eunghh lepaskan mainan ahnn ini.." Sungjin mendongakkan kepalanya ketika dirasanya kecepatan vibrator di lubangnya meningkat.

Sakit, tapi nikmat juga.

"Apa aku harus memasangkan cock ring juga, hmm? Sepertinya akan lebih menarik." Sungjin melotot horror, ia menggeleng cepat dan berusaha menjauhkan diri.

Menarik kepalamu, setelah menderita dari fajar terbit, lalu harus menderita lagi hingga fajar terbit?

"Hyung-hh uhngg! A-ahh aku lelah ehmh! T-tolong hiks ukhh lepas-hh!"

Sungjin menyerah bertahan lebih lama lagi, ia kelelahan. Sungjin ingin istirahat, tetapi Jae malah membuatnya sangat kelelahan.

"Ssh, jangan menangis.." Jae mengecupi wajah Sungjin, mulai dari kening, mata, hidung, hingga akhirnya turun ke bibir dan melumatnya.

Jae diam-diam mematikan dan melepas semua mainan yang telah ia pasang pada tubuh kekasihnya, ia membuangnya ke sembarang arah.

Jae tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah Sungjin.

"Sakit, euhmm?" Sungjin mengangguk pelan, bagian selatannya benar-benar terasa perih. Jae menatapnya khawatir, lalu kembali mengecupinya dengan lembut sembari membisikkan kata 'maaf.'

"T-tapi kalau hyung mau melakukannya, a-aku tidak apa-apa kok."

Dengan malu-malu, Sungjin menatap Jae. Yang lebih tua terkekeh dan menyeringai, ia melumat bibir Sungjin sebentar dan mengecupnya.

"Malu-malu, hmm? Manis sekali." Rona merah mulai muncul di wajah Sungjin, ia memalingkan wajahnya malu dan melirik pada Jae.

"Cepatlah, aku lelah.."

"Iya iya, kau tidak sabaran sekali." Jae segera memposisikan dirinya, ia memasukkan penisnya ke dalam lubang Sungjin dengan perlahan.

"Hnghh ahnn! H-hyung!" Sungjin mengalungkan lengannya pada punggung Jae, ia meremat kemeja putih yang sedang dikenakan kekasihnya.

"Ssh ahh, kenapa kau sempit sekali." Jae dengan cepat memaju-mundurkan pinggulnya, menumbuk prostat Sungjin hingga pemuda itu kehilangan akal sehatnya.

"Uahh! Ahnn! H-hyung ehmm, d-disana! Ahnn!" Jae menggeram ketika ia menumbuk suatu benda kenyal yang ada di dalam tubuh Sungjin, ia makin mempercepat gerakannya.

"Sempit sekali, sialan!" Jae mulai mengumpat layaknya orang kesetanan, bahkan ranjang pun sampai berdecit akibat kegiatan panas mereka.

"A-ahh hyung eunghh! A-aku emhh! K-keluar!" Sperma Sungjin keluar, membasahi perut dan bahunya. Tak lama kemudian, Jae mengeluarkan spermanya di dalam lubang Sungjin.

"Hyung, kita eunghh harus bersih-bersih.."

"Tsk, bahkan ketika lelah pun, jiwa bersih milikmu masih ada ya."

"Aku tidak akan kelelahan kalau bukan karenamu, hyung nafsuan sialan."

"Tapi kau tetap sayang, kan?"

Ah, biarkan saja mereka bertengkar dan adu mulut. Kita pasti sudah tahu apa kelanjutannya.

TBC

Maaf kalo kurang hot, masih pemula oi:')