Main Cast : Choi Seunghyun and Kwon Jiyong

Genre : Married Life/Romance/Lil bil humor

Warning : Mature content, smut, bad languange, typo(s), and many ore

.

.

.

"Aku tak percaya hyung tega melakukan ini padaku. Hyung, kau—" Jiyong tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia hanya bisa menutup mulutnya dan menatap Seunghyun yang sibuk mengutak-atik laptopnya dengan perasaan terkhianati.

"Apa yang telah kulakukan, babe?" Seunghyun bertanya selembut mungkin, tangannya mencoba meraih Jiyong yang berkacak pinggang di hadapannya.

"KAU MEMBUATKU HAMIL, CHOI SIALAN!" teriakan Jiyong menggelegar, Seunghyun ingin menyumpal telinganya dengan tisu tapi sayangnya dia tidak ingin mencari gara-gara pada Jiyong dan membuatnya semakin kesal.

"Aku meminta hyung mengajariku melukis bukannya meminta dibuatkan anak." Jiyong merengut sementara Seunghyun mulai senyam-senyum sendiri. Ingatan akan kejadian malam itu mendadak muncul di kepalanya. Ia yang menyerang Jiyong alih-alih mengajarkannya melukis sesuai permintaannya. Bermain kinky dengan membaurkan cat minyak dan bahan pewarna lainnya di tubuh telanjang Jiyong yang mulus.

"You put your fucking kid inside me."

Ekspresi Seunghyun berubah serius, terlihat tak begitu menyukai perkataan Jiyong barusan. "What did I say about cursing around our baby?"

Jiyong memutar bola matanya. "Baby tidak akan mendengar kita. Dia bahkan belum punya telinga."

"Tapi aku baca di artikel—"

"Berhenti baca artikel bodoh itu, hyung! Baby tidak bisa mendengar kita."

Seunghyun menarik napas berat dan menyingkirkan laptopnya. Jiyong sedang dalam mode badmood lagi dan dia sudah tak terkejut untuk itu. Dia masih ingat bagaimana kejamnya Jiyong menyuruhnya pergi mencari kuteks yang berujung dengan diusirnya ia dari rumah dini hari buta karena gagal mendapatkannya. Tentu saja, toko gila mana yang masih buka jam dua pagi?

Seriusan deh, kalau saja Seunghyun tak cinta mati pada pria manis ini, sudah dari dulu dia meninggalkannya. Seme mana yang tahan menghadapi uke moody dan bossy macam Jiyong ini? Hanya dia yang bisa menghadapinya.

Seunghyun menutup laptopnya dan menghampiri Jiyong yang sedang ngambek di tempat tidur. "Apa yang mengganggumu, Ji? Kenapa kau terlihat begitu kesal hari ini?"

Jiyong menaruh kedua tangannya di dada dan mem-pout-kan bibirnya. "Punggungku sakit, hyung. Tubuhku lemas karena setiap aku memasukkan makanan ke dalam mulutku, aku selalu memuntahkannya lagi. Itu menyebalkan." keluhnya dan Seunghyun mengusap punggungnya deangan lembut.

"Aku minta maaf, sayang." Seunghyun mencoba menghibur selagi ia melingkarkan lengannya di sekitar pinggang Jiyong dan meletakkan kepala Jiyong di dadanya.

"Tapi sekarang hyung bahkan melupakanku." gumam Jiyong, menarik diri dari pelukan Seunghyun dan memukul bahunya. "Kau keterlaluan, aku membencimu."

Tatapan yang Seunghyun berikan nampak tak mengerti. "Keterlaluan?" tanyanya.

"Hyung tak mau meluangkan waktu untukku."

"Ap—" Seunghyun nyaris protes tak terima, tapi dia melihat Jiyong menatapnya tajam dan itu membuatnya merendahkan nada bicaranya. "Aku hanya mengirim demoku, Ji. Besok aku harus ke kantor—" dia seketika berhenti saat ia melihat air mata mulai bercucuran turun dari pipi gembil Jiyong. Oh tidak, jangan lagi. "Kenapa kau menangis?" tanyanya lembut, menggunakan kedua tangannya untuk mengusap air mata di wajah Jiyong.

"Aku tidak tahu!" Jiyong merengek, air mata semakin deras mengalir. Seunghyun tersenyum, dia tahu itu karena hormon kehamilannya. Dokter bilang seseorang yang sedang hamil memang akan menjadi lebih sensitif dan itu adalah suatu hal yang wajar.

Seunghyun meraih Jiyong dengan hati-hati dan mengecup puncak kepalanya. "Aku mencintaimu. Bertahanlah tujuh bulan lagi, oke?"

Jiyong menganggukkan kepalanya dan mulai terlihat tenang. Tapi semua itu tak berlangsung lama. "Aku ingin meminta hyung memijat punggungku tapi kulihat hyung begitu sibuk dengan laptop-mu. Kenapa tidak sekalian saja hyung menikah dengannya?" Jiyong mulai mengomel lagi, tapi kali ini suaranya tak terdengar jelas sebab wajahnya masih bertengger nyaman di dada Seunghyun. Seunghyun terkekeh, matanya terpancar geli. Jiyong memang seperti ini, manja dan selalu haus perhatiannya. Tapi Seunghyun sama tak keberatan. Karena sisi Jiyong yang seperti inilah yang membuatnya jatuh cinta padanya.

"Bagaimana kalau aku memijat punggungmu sekarang? Kau mau?"

Jiyong mengangguk tapi masih enggan jua melepaskan Seunghyun. Ia mengintip dari celah yang tercipta di antara dada Seunghyun dan wajahnya. "Aku juga mau donat dan susu, boleh?"

"Tentu saja. Apapun untukmu, love."

"Yeay! I love you, hyung!"

.

.

.

"Aku gendut!" Jiyong merengek saat ia melihat angka 70 kg di timbangan badan miliknya. Matanya berkaca-kaca sambil melihat penampilannya di cermin. Celana olahraga dan kaus oblong yang bahkan tak mampu menutup perut buncitnya yang membawa janin berusia 7 bulan. "Aku bahkan jadi jelek. Hyung pasti akan menjauhiku. Hyung mungkin akan mencoba berselingkuh karena kini aku jadi jelek dan gendut."

Seunghyun mendengar keluh kesahnya dari dapur. Dia mengambil dua mug berisi kopi dan kembali pada Jiyong. "Omong kosong," katanya. "Kau cantik, Ji. Dan aku tidak akan pernah selingkuh darimu."

"Seunghyun benar. Kau masih terlihat cantik, Ji." balas Hyorin.

"Ya, itu benar." sahut Youngbae.

Jiyong melempar tatapan tajam pada ketiganya. "Kalian bisa bilang begitu karena bukan kalian yang tambah gendut!"

Seunghyun duduk di samping Jiyong dan melingkarkan lengannya di bahunya. "Kau tidak gendut Ji, kau hamil. Tapi tetap saja, kau masih terlihat cantik bahkan dengan celana olahraga dan kaus oblong ini." ucapnya menenangkan.

Jiyong mencibir. "Berhenti menggombal! Itu tidak akan mempan untukku."

"Gombal? Aku hanya berkata jujur." Seunghyun membelai perut buncit Jiyong. "Kau membawa kehidupan di sini, bagaimana bisa kau mengutuk dirimu sendiri, Ji?"

"Aku tahu, tapi—"

"You are the pretiest man I've ever seen. And now you're carrying our baby. You don't know how beautiful you are."

Jiyong menarik salah satu pipi Seunghyun. "You're cheesy!"

"No, I'm not." Seunghyun mencuri kecupan di bibir Jiyong. "I love you so much."

"Too, but more."

"Apa kalian masih lama?"—itu Youngbae.

Kedua pasangan itu menoleh ke belakang dan mendapati ekspresi Youngbae yang berubah masam dengan Hyorin yang terkikik di sebelahnya.

Ups, mereka bahkan lupa akan kehadiran Youngbae dan Hyorin di sini.

"Mian, Youngbae-ya."

.

.

.

Ketika Seunghyun keluar dari kamar mandi, dia melihat Jiyong sudah bangun. Lelaki mungil itu duduk di ranjang sambil mengusap perut buncitnya, tersenyum tatkala melihatnya dan memberinya gestur untuk mendekat.

"Hyung," panggil Jiyong. "Aku ingin memberitahumu sesuatu."

"Hm? Apa itu, Ji?" tanya Seunghyun. Dicurinya satu ciuman dari bibir Jiyong kemudian tangannya ia larikan untuk membelai lembut perut Jiyong. "Hai, baby," ia mencium perut buncit itu. "Apa kau sudah siap untuk keluar dari perut mommy?"

"H-hyung," Jiyong mengerang saat Seunghyun menggigit bahunya gemas.

Seunghyun mengabaikan erangan itu, dia justru membuka kaus Jiyong di bagian perut dan menekankan satu ciuman lagi di kulitnya yang telanjang. "Kau bahkan belum lahir ke dunia ini tapi aku sudah begitu mencintaimu. Sama seperti aku mencintai mommy-mu Jiyong."

"Seunghyun!" Jiyong terdengar kesal. "Kubilang aku ingin memberitahu sesuatu!"

Seunghyun berhenti mencium perut Jiyong dan fokus pada matanya. "Ya, apa?"

"Aku rindu penismu." ucap Jiyong frontal. Seunghyun ternganga sejenak karena tak percaya bahwa 'sesuatu yang penting' menurut Jiyong tak lain karena dia merindukan penisnya. "Tapi aku hamil jadi hyung tak bisa memasukkan penis ajaibmu itu ke dalam tubuhku."

Seunghyun berkedip berkali-kali. "Ji, kau bilang apa tadi? Penis ajaib?"

Jiyong menganggukkan kepala penuh semangat. "Hm. Punya hyung besar dan panjang." tuturnya. "Dan bisa membuatku hamil."

"Kau tahu? Orang-orang bisa saja membuat gosip bahwa kau lebih mencintai penisku daripada aku." balas Seunghyun, menyeringai kecil kala wajahnya berhadapan dengan Jiyong.

Jiyong menyeringai balik. "Aku suka penis hyung tapi aku jatuh cinta padamu. Itu dua hal yang berbeda." kata-kata terakhirnya sebelum ia menarik leher Seunghyun untuk membawanya ke dalam ciuman.

Seunghyun menjelajahi rongga mulut Jiyong kala pria kecil itu mengerang saat ia menarik gemas puting yang berwarna kecoklatan. Gesekan antara penisnya dan juga Jiyong membuat libidonya semakin naik. Sudah terlalu terlama sejak terakhir kali mereka melakukan seks, sejak awal kehamilan Jiyong hingga kini bulan kelimanya. Seunghyun selalu menahan diri untuk tak menerkam Jiyong, dia tak ingin Jiyonh dan bayi mereka kenapa-kenapa. Tapi sekarang sepertinya justru Jiyong yang tak bisa menahan dirinya.

"Aku begitu merindukan Choi junior," gumam Jiyong di akhir sesi ciuman mereka. "Jadi biarkan aku bermain dengannya sampai aku puas." dibandingkan pernyataan, itu lebih mirip perintah. Dan tentu saja Seunghyun tak bisa menolaknya. Dia membalik posisi mereka hingga kini Jiyong berada di atas, memberinya satu kecupan di bibir sebagai tanda terimakasih.

Begitu mendapatkan penis Seunghyun, Jiyong menggenggamnya erat sambil mengocoknya pelan. Dia ingin menggoda Seunghyun, menjilat seduktif lubang di kepala penisnya demi merasakan precum yang sudah meleleh keluar. Seunghyun menatap Jiyong, Jiyong yang menikmati batang penisnya dari atas ke bawah sampai pada akhirnya dia menampung semuanya di mulut. Membuat satu getaran yang membuat Seunghyun melempar kepalanya ke belakang dan menggeram nikmat.

Tangan kekarnya menemukan jalannya ke rambut Jiyong, menjambak pelan dan memaksanya untuk menelan lebih banyak. Dia mendesahkan nama Jiyong sebagai hadiah atas kekonsistenannya menjaga ritme. Atas bawah, memutar lidahnya di sekitar kepala, sebelum menabrakkannya ke kerongkongan. Terus seperti itu sampai Seunghyun merasa akal sehatnya tersedot habis lewat kuluman dahsyat itu.

"Fuck! I'm so close, baby." Seunghyun menahan kepala belakang Jiyong selagi ia berusaha mendorong pinggulnya semakin dalam memasuki rongga hangat Jiyong.

"Keluar di mulutku, hyung. Aku ingin merasakanmu." pandu Jiyong, memasukkan batang panas itu ke dalam mulutnya dan menaik-turunkan kepalanya lagi.

"Kwon Jiyong! Kau benar-benar—akh!"

Dengungan Jiyong menghantarkan gelombang kenikmatan ke setiap tulang belulang Seunghyun hingga akhirnya ia menembakkan muatannya jauh ke dalam Jiyong, melepaskan cengkramannya di rambut Jiyong demi sibuk mengais udara yang terasa sempit di paru-parunya.

Jiyong melepaskan kulumannya. Cairan putih bercampur saliva meluber keluar dari mulut dan membasahi dagunya, dengan rakus ia menjilatinya kembali seolah merupakan dosa besar bila ia menyisakan barang setetes pun.

Jiyong menyeka ujung bibirnya. "Sama seperti biasanya, tapi kurasa lebih enak. Mungkin karena sudah lama tak dikeluarkan?" dan menggoda Seunghyun dengan senyumannya.

Seunghyun menyeringai, menarik Jiyong ke sisinya. "Kau terlihat lebih menikmatinya dibanding aku."

Jiyong tertawa malu dan menguburkan wajahnya di lengan Seunghyun. "Aku tak sabar untuk melahirkan dan merasakan milikmu di dalamku lagi."

"Penis ajaibku?" tanya Seunghyun mencoba mempermalukan Jiyong—ah tidak, hanya memastikan.

"Y-ya."

"Kalau begitu kau harus siap melahirkan 15 bayi lagi. Aku ingin keluarga kita mengalahkan gen halilintar."

Jiyong melotot dan memukul dada Seunghyun cukup keras. "No way! One baby is enough. Aku tidak akan membiarkan sperma hyung hidup di rahimku lagi. Tidak akan!"

Dan Seunghyun hanya bisa tertawa.

.

.

.

Seunghyun mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pening karena tak mendapatkan cukup tidur. Dia melirik jam di dinding, masih jam tujuh. Boleh 'kan kalau dia melanjutkan tidurnya lagi?

"Seunghyun hyung!"

Mungkin tidak.

Suara Jiyong terdengar makin dekat tapi Seunghyun masih begitu ngantuk untuk menanggapi, jadi dia hanya berbaring dan membiarkan Jiyong melompat ke arahnya. "Hyung!"

"Kau tahu betapa bahayanya itu, Yongie?" geram Seunghyun yang menjaga perut Jiyong protektif.

Jiyong terkikik dan mengecup pipi Seunghyun sekilas. "Bangun dan cepat mandi. Aku sudah buatkan sarapan."

Alis tebal Seunghyun terangkat. "Kau memasak?" dia bertanya, sedikit heran. Jiyong itu tidak bisa masak asal kalian tahu.

Jiyong menganggukkan kepala penuh antusias. "Hm. Sup rumput laut."

"Memangnya sekarang lagi ada yang ulang tahun?" Seunghyun kembali bertanya, merasa aneh dengan sikap Jiyong yang tak biasanya ini.

Jiyong mendelik kesal. "Kenapa dari tadi hyung terus bertanya? Hyung tak mau makan buatanku?"

Tuh 'kan ngambek lagi.

"B-bukan begitu—"

"Terserah! Aku benci hyung!"

Brak!

Dan pintu pun terbanting begitu kencang. Meninggalkan sosok Seunghyun yang kini hanya bisa termangu dengan otak yang masih loading setengah.

Sial. Dia tidur di luar lagi malam ini.

.

.

.

"Ini ketiga kalinya Jiyong hyung mengusirmu," kata Daesung sembari membawa segelas cangkir kopi untuk Seunghyun. "Sekarang apa?"

Seunghyun menyesap kopinya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Jiyong menyiapkan makan malam untukku tapi aku terlambat sepuluh menit. Dia marah padaku dan yah, aku diusir." ia mendengus gusar. Diusir dari rumah bukanlah hal baru bagi Seunghyun, terlebih di awal-awal kehamilan Jiyong. Tapi saat ini Seunghyun merasa sedikit takut karena Jiyong berteriak padanya, dia bahkan melempar pakaiannya dan berkata bahwa ia pantas tidur di jalanan.

Daesung tertawa terbahak-bahak dan baru berhenti ketika Seunghyun memberinya tatapan tajamnya. Lelaki bermata sipit itu pun sekuat tenaga menahan tawa. "Rencananya aku dan Seungri ingin menemuinya malam ini karena dia berjanji akan mentraktir kami pizza. Untunglah Seungri tiba-tiba tak bisa pergi."

Seunghyun memutar bola matanya. "Untunglah kalian tak melihatku diusir dengan mata kepala kalian sendiri."

Daesung tergelak. "Omong-omong, apa kalian sudah menentukan nama untuk bayi kalian?"

"Belum, kami masih meributkan Jihyun dan Hyunji."

"Pilihannya?" Daesuny bertanya lagi.

"Jihyun. Dia bilang dia ibunya, dia yang mengandung dan melahirkan, jadi namanya harus ditaruh di depan."

"Dan hyung ayahnya, jadi namamu harus ditaruh di depan." sindir Daesung. Seunghyun hanya tertawa. Dia dan Jiyong memang seperti itu, saking tingginya ego masing-masing terkadang mereka bisa menjadi begitu konyol.

"Tapi serius deh, Jiyong hyung bulan depan melahirkan dan kalian masih saja meributkan nama?" Daesung menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan tingkah laku kedua hyung-nya ini.

"Sebenarnya aku akan membahasnya lagi malam ini."' aku Seunghyun. Kepalanya ia senderkan di badan sofa selagi pikirannya berlari, bertanya-tanya apa yang Jiyong lakukan di rumah saat ini. Rasanya Seunghyun ingin segera pulang dan memeluk tubuh mungil itu tapi dia tahu Jiyong masih marah. Dia tak mau membuat Jiyong semakin marah dengan melihat keberadaannya.

"Kau terlihat khawatir, hyung. Apa kau ingin aku menelpon Jiyong hyung?" tawar Daesung, seolah-olah ia bisa membaca kegelisahannya.

"Ya, tolong, Dae." balas Seunghyun cepat. Dia melihat dongsaeng-nya mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelpon Jiyong.

"Daesung?" suara Jiyong terdengar di seberang sana dan Daesung menekan tombol loadspeaker.

"Hai, hyung. Aku hanya ingin minta maaf karena tidak jadi ke rumahmu. Apa yang sedang kau lakukan sekarang?"

Seunghyun menggigit bibirnya selama menanti jawaban Jiyong. Tak lama dia mendengar suara dengusan Jiyong. "Well, nothing. My baby daddy just left me so I'm alone in there."

Daesung terlihat merasa bersalah pada Seunghyun sementara Seunghyun menahan geram. Bagus, sekarang Jiyong berpikir Seunghyun meninggalkannya di saat kenyataannya dialah yang diusir dari rumah.

"Hyung meninggalkanmu? Daesung bertanya. "Tapi dia sangat menyayangi kalian berdua."

"Ya, tapi memang begitu kenyataannya." kata Jiyong. "Mungkin dia mau aku membesarkan bayi ini sendirian."

Oh tidak, Seunghyun rasanya makin lemas saja mendengarnya.

"Apa kau ingin kutemani, hyung?" Daesung bertanya lagi dan Seunghyun memasang telinganya baik-baik demi menguping pembicaraan mereka.

"Tidak, terimakasih. Ini sudah malam, Dae." balas Jiyong. "Aku akan bersih-bersih dan menghangatkan makan malam sambil menunggu Seunghyun pulang. Kututup ya? Dah."—dan Jiyong memutuskan panggilan.

Tepat setelah panggilan selesai, Seunghyun segera bangun dari sofa dan merogoh sakunya hanya untuk memastikan kunci mobilnya masih di sana. Ia kemudian menatap Daesung yang tengah membuka pintu untuknya.

"Apa Jiyong hyung selalu seperti ini, hyung? Maksudku, tsundere?"

Seunghyun terkekeh dan menganggukkan kepalanya. "Sifat itulah yang membuatku jatuh cinta padanya." akunya. "Aku pulang ya, Dae? Terimakasih atas bantuanmu." dia menepuk bahu Daesung dan berlari penuh semangat menuju parkiran.

.

.

.

.

Seunghyun baru saja meletakkan sepatunya di rak ketika ia mendengar suara benda jatuh serta nyaring vacxum cleaner dari arah dapur. Tanpa pikir panjang, ia pun segera berlari untuk memastikan keadaan Jiyong. Di sepanjang jalan, dia melihat pakaiannya yang tadi dilemparkan Jiyong berserakan begitu saja. Tapi memungutinya bukan prioritas Seunghyun sekarang, dia lebih khawatir pasal Jiyong.

"Jiyong?"

Jiyong di sana, berdiri dengan raut terkejut melihat vaccum cleaner yang jalan sendiri menghisap beberapa benda sebelum akhirnya jatuh ke lantai bersamaan dengan barang-barang lain.

"H-hyung?" suaranya terdengar takut, dengan cepat berlari ke sisi lain dan berusaha duduk di antara benda-benda yang berserakan itu.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. "Kenapa kau duduk di situ? Kau bisa terluka." Seunghyun mendekat, berniat mengevakuasi sang istri dari dapur mereka yang sudah seperti medan perang tersebut.

"JANGAN MENDEKAT!"

Seunghyun sedikit tersentak tapi itu tak cukup untuk menghentikan langkahnya. "Ji?"

"KUBILANG JANGAN MENDEKAT!"

"Ada apa denganmu? Kenapa kau berteri—OH TIDAK! ANTHONY! FRANCIS BACON! ISTRI-ISTRIKU!" teriaknya tanpa sadar. Rasanya ia nyaris mati berdiri. Dua lukisan favoritnya rusak dan terbelah menjadi dua di lantai, berbaur bersama pecahan bingkai kaca yang diduduki Jiyong.

"Maafkan aku hyung. Aku tak sengaja. Aku tadi bersih-bersih, tapi vaccum cleaner-nya tiba-tiba jalan sendiri." Jiyong takut sekaligus panik. dia tahu betapa susahnya Seunghyun mendapatkan lukisan-lukisan ini. Dia bahkan rela terbang ke Paris dan ke menawar pelelangan dengan harga fantastis demi bisa membawanya pulang. Tapi kini bahkan Jiyong menghancurkannya tak lebih dari sepuluh menit.

Seunghyun menatapnya, terlihat begitu marah terlebih saat ia melihat ke bawah, tepat di antara kedua kakinya.

"A-aku akan menggantinya. Hyung bisa memakai tabunganku untuk—"

Seunghyun melembut. "Kau berdarah, Yongie."

Jiyong melirik kakinya, ada bercak darah di lantai yang berasal dari telapak kakinya. Dia hanya terpaku saat tiba-tiba Seunghyun menggendong tubuhnya dan membawanya duduk di sofa.

"H-hyung?" Jiyong memanggil takut-takut pada Seunghyun yang kembali padanya dengan baskom berisi air panas, obat merah, serta perban di tangan.

"Diam dan biarkan akumengobati lukamu." ucapnya tegas. Diraihnya kaki kanan Jiyong yang terluka dan mengompresnya dengan air hangat yang ditetesi obat merah sebelum memakaikannya perban.

Mata Jiyong berkaca-kaca. Tapi itu tak berlangsung lama sebab kini ia mulai menangis sesenggukkan hingga membuat Seunghyun mendekapnya erat demi menenangkannya.

"Kenapa kau menangis? Harusnya aku yang nangis." katanya, terselip humor ringan di dalam ucapannya.

"Hyung tak marah?" Jiyong bertanya, matanya yang sembab menatap Seunghyun takut-takut.

"Tentu saja marah. Kau menghancurkan lukisan kesayanganku." balas Seunghyun cepat.

Air mata semakin deras menuruni pipi chubby Jiyong. "Tuh 'kan!"

"Tapi aku lebih marah karena kau melukai kakimu." Seunghyun mengusap air mata itu dengan lembut. "Kau lebih berharga dari lukisan-lukisan itu, Ji." katanya.

Jiyong segera menghambur ke pelukan Seunghyun dan membenamkan wajahnya di dada bidangnya. "Maaf karena aku merusak lukisan kesayanganmu, hyung. Dan maaf karena aku marah dan mengusirmu padahal sekarang sedang musim dingin."

"It's okay, baby. It's okay." Seunghyun menenangkan Jiyong. "Itu karena hormon kehamilanmu." lanjutnya.

Satu tendangan di perut Jiyong membuat mereka tersenyum.

"Apa kau sedang menguping di dalam sana, baby?" canda Seunghyun. Dia membelai perut buncit Jiyong penuh kasih. "Sebulan lagi, bertahanlah sebulan lagi, sayang. Setelah itu kau bisa memandang wajah cantik mommy dan wajah tampan daddy-mu sepuasnya."

Jiyong mengangguk. Turut membelai perutnya bersama Seunghyun. "Hm. Sebulan lagi." gumamnya.

Hening sesaat.

"Hyung?" panggil Jiyong.

"Hm?"

"Kau mau melakukannya?"

"Apa?"

"Seks."

Seunghyun melepaskan pelukan mereka. Dia menatap Jiyong tak percaya. "J-Ji?"

Jiyong mengalihkan pandangan ke direksi lain. Wajah cantiknya merona. "D-dokter bilang kita boleh melakukannya. Itu bagus untuk memperlancar jalur lahir. Bahkan dia menyarankan untuk sering—woah hyung, apa yang kau lakukan?" jerit Jiyong kaget saat Seunghyun tiba-tiba menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar.

"Kau bilang aku boleh melakukannya." jawab Seunghyun.

"M-memang sih, tapi kau tidak boleh main kasar. Ingat baby."

"Baik."

Jiyong mengangguk senang. Setidaknya dia akan aman dengan itu. "Ah, satu lagi," dia baru teringat sesuatu.

Seunghyun yang sibuk melucuti pakaian Jiyong mulai terganggu. "Apa lagi?" tanyanya tak sabar.

"Tidak boleh lebih dari satu ronde." balas Jiyong. Dia menatap Seunghyun dengan ekspresi kemenangan yang terpancar di matanya.

Seunghyun terpaku sejenak, nampak berpikir. "Kalau itu..." tapi melihat senyum jahat Jiyong yang terpatri di wajah cantik itu, dia menyeringai. "Aku tak bisa menjamin." kemudian menyerang leher Jiyong dan memberinya gigitan-gigitan kecil yang membangkitkan gairah pria mungil itu.

"Apa maksud—nghhh hyung!"

"Ssshh, diam dan nikmati, Yongie. Aku berjanji takkan menyakiti bayi kita. Aku sudah searching soal posisi-posisi yang bagus untuk ibu hamil." ujar Seunghyun menenangkan.

Mata Jiyong melotot. Seunghyun memang sudah merencanakan hal ini. Dia lupa kalau suaminya itu mesum tingkat nasional.

"Jangan mendelik seperti itu, baby. Kau yang mengundangku, jangan tiba-tiba merasa menyesal begitu."

Oh sial. Andai Jiyong bisa menarik kata-kata kembali.

Dia hanya berharap dia tak melahirkan di tengah-tengah percintaan mereka. Gak lucu 'kan bayi mereka lahir di antara air ketuban dan sperma Seunghyun? Ew, jangan sampai.

Having a pervert husband is such a big disaster.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-END

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mbuh lah gue bikin apaan ini anjir bodo amat. Kzl gue juga bacanya ga jelas KWKWKWK

Gue ngerasa bikin scene biasa kok susah giliran bagian nc aja cepet. Kebanyakan nonton bokep gue keknya dah 😂🙈🙊🔪

Review ya review. Ga review ga lanjut ni KWKWKWK

Uda ah, bye bij. See u soon!💋