Full House (Season 3).
.
Chapter 21. Awal Liburan.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat bagi FrostFire, Glacier, dan Supra yang kini tinggal bersama keempat kakak sepupu mereka di Pulau Rintis. Memang rumah yang kini mereka huni di Pulau Rintis itu tidak sebesar dan senyaman rumah mereka sendiri di Kuala Lumpur. Walaupun begitu, ada beberapa hal menyenangkan bagi ketiganya yang tidak akan pernah mereka dapatkan jika tetap tinggal di Kuala Lumpur.
Seperti bisa berkumpul dengan kakak-kakak sepupu mereka yang lain seperti Thorn misalnya. Si kakak sepupu yang satu itu selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama ketiganya walaupun di tengah kesibukan kuliahnya.
Begitu pula dengan Ice, si kakak sepupu yang paling jago dalam urusan masak-memasak. Selama bahannya tersedia, Ice bisa memasak apa saja yang FrostFire, Glacier, atau Supra inginkan. Bahkan masakan selera Eropa pun bisa dibuat oleh Ice. Tidak percuma Gempa menghabiskan bulan-bulan terakhirnya sebelum berangkat kuliah ke luar negeri dengan mengajari Ice memasak.
Berbeda lagi dengan Solar, si kakak sepupu yang bagaikan kalkulator berjalan. Solar adalah tempat bagi FrostFire, Glacier, dan Supra untuk bertanya jika mereka bertiga mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah. Walaupun terkadang mengikuti cara pemikiran Solar membutuhkan ilmu tersendiri.
Namun yang paling menyenangkan bagi FrostFire, Glacier, dan Supra adalah kebebasan. Tanpa pengawasan orang tua, FrostFire, Glacier, dan Supra bisa berbuat sesuka hati. Apalagi kakak sepupu mereka, Blaze tidak terlalu mempermasalahkan perbuatan mereka selama tidak mengganggu nilai pelajaran sekolah atau merusak rumah.
Seperti sekarang ini...
Glacier dan Supra berjalan keluar dari ruangan kelas mereka. Wajah keduanya terlihat berseri-seri ceria seakan tanpa secuil pun beban di pundak mereka. Sebetulnya lebih tepat dibilang beban mereka telah berlalu untuk saat ini karena rapor hasil studi mereka pada semester lalu telah diterima.
Nilai pelajaran Supra adalah yang terbaik di kelasnya. Tidak ada satupun mata pelajarannya yang mendapatkan nilai dibawah angka tujuh. Tidak sia-sia ia banyak menghabiskan waktu bersama kakak sepupunya, Solar.
Begitu pula dengan Glacier. Memang nilai pelajarannya tidak sebaik Supra, namun masih berada diatas rata-rata kelas.
Sebetulnya menerima rapor Glacier dan Supra adalah tugas Blaze sebagai wali murid keduanya. Namun karena nilai rapor yang memuaskan, wali kelas mereka memperbolehkan Glacier dan Supra menerima rapor tanpa didampingi oleh wali murid.
Berdampingan dengan Supra, Glacier berjalan melangkah keluar dari ruang kelas mereka seusai penerimaan rapor.
"Akhirnyaaa... Libur!" ujar Supra dengan senyuman lebar terkembang pada wajahnya. Segudang rencana telah ia susun untuk bersantai selama musim liburan.
"Ya, akhirnya aku bisa tidur puass." ujar Glacier pula seraya meregangkan kedua tangannya setinggi mungkin melewati kepalanya. "Sampai rumah nanti aku mau tidur sampai besok sore."
"Hah? Kamu mau tidur 24 jam?" Supra tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mustahil baginya seseorang bisa tidur 24 jam non-stop. Tapi Supra juga pernah menemukan kakak kembarnya itu tertidur hampir belasan jam lamanya. "Jangan bilang kamu mau memecahkan rekormu tidur seharian..."
Glacier menggangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias. Sudah terbayang olehnya akan hari libur tanpa gangguan kecuali jika ia mendapat giliran jaga kedai. "Iyaap" jawab Glacier dengan senyum yang penuh kebahagiaan. "Rekorku delapan belas jam."
Supra hanya menghembuskan napas panjang. "Aku tidur lebih dari lima jam saja langsung sakit kepala."
"Kamu mah sama saja dengan Kak Solar. Hobi bergadang." komentar Glacier dengan entengnya. "Nanti umurmu pendek lho."
Seketika langkah Supra terhenti. Netra merah keemasan Supra menatap kakaknya tanpa berkedip. "Kamu nyumpahin aku cepat mati, Glacier?"
Glacier terkejut ketika ia menyadari kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya. "Ah! Ngga! Ngga koq Sup! Maaf!" ucapnya panik.
Supra masih diam. Ditatapnya si kakak yang menggaruki kepalanya karena salah tingkah.
"Ayolah, Supraaa. Maaf! Aku keceplosan." rengek Glacier seraya memegangi kedua lengan adiknya.
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Supra. Ekspresi wajah si adik masih saja dingin bahkan ia memalingkam wajahnya
"Su-Supra?" lirih Glacier yang semakin salah tingkah.
Supra menghela napas panjang serata kembali menatap netra cokelat berpadu biru terang kakaknya. Ekspresi wajah Supra pun sedikit melembut. "Iya... Lain kali hati-hati."
Raut wajah Glacier yang sempat kaku dan tegang itu langsung melunak. "Maaf Supra..."
"Sudah, kamu ngga sengaja." ucap Supra sembari menarik Glacier berjalan kembali melintasi lorong sekolah. "Ayo ke kelas FrostFire. Aku mau tahu rapornya."
Tanpa disuruh dua kali, Glacier langsung mengikuti adiknya menaiki tangga utama sekolah. Keduanya kini berada di lantai ketiga sekolahnya dimana ruang-ruang kelas untuk siswa SMA berada.
Tepat ketika Glacier dan Supra menjejakkan kaki di lantai ketiga, keduanya melihat FrostFire berjalan dari ruang kelasnya. Di belakang FrostFire menyusul kakak sepupu tertua mereka, Blaze.
Tidak ada senyum yang terlihat di wajah FrostFire ketika ia berjalan menuju tangga sekolah bersama Blaze. Sebaliknya, wajah FrostFire terlihat murung. Bahkan langkah kakinya terlihat terseok-seok seakan ia tengah memanggul beban berat pada pundaknya.
Glacier langsung menghampiri kakaknya itu."Uhm, Frost?" tegur Glacier dengan sedikit memiringkan kepalanya. "Seberapa parah?"
FrostFire melirik ke arah Glacier dan menghela napas panjang. "Kurang bagus..." jawab FrostFire dengan suara yang lembut.
Blaze yang mendengar jawaban FrostFire ikutan menarik napas panjang. "Dibawah rata-rata... Nilainya sebetulnya lumayan, ada yang dapat tujuh tapi banyak juga yang dapat enam, ada juga yang dapat empat."
Sebelum Glacier kembali bertanya, FrostFire langsung menyebutkan mata pelajaran yang nilainya kurang. "Fisika dan kimia..." keluh FrostFire yang masih bermuram durja.
"Sudahlah, Frost... Masih ada semester depan untuk memperbaiki." Blaze menepuk-nepuk pundak adik sepupunya itu sembari melempar senyum. "Semester kedua nanti lebih banyak hapalan daripada rumus atau hitung-hitungan. Kamu kan lebih jago menghapal daripada menghitung." ucap si kakak sepupu yang mencoba mengangkat semangat FrostFire.
"Iya, coba belajar sama Kak Solar deh. Aku yakin nilaimu membaik." Glacier mencoba memberikan semangat kepada kakaknya yang murung itu.
FrostFire memandangi adiknya yang melempar senyuman berseri-seri dari wajah yang sedikit gempal. Kedua kelopak mata si adik yang menyipit mengingatkan FrostFire akan seekor rubah. "Ah, iya..." FrostFire berusaha untuk tersenyum. "Aku akan berusaha di semester berikutnya."
"Begitu dong." ucap Glacier seraya meletakkan tangannya di atas pundak FrostFire.
Dari sisi yang berlawanan, Supra ikutan meletakkan tangan pada pundak kakaknya itu. "Glacier betul. Toh nilai mata pelajaranmu yang lain masih lumayan bagus kan?"
"Tinggal genjot nilai fisika dan kimia saja, mestinya ngga terlalu susah. Nanti kubantu deh, Frost." Bahkan Blaze pun ikutan menyemangati adik sepupunya itu.
Salah satu hal yang tidak didapat oleh FrostFire, Glacier dan Supra selagi ketiganya tinggal bersama orang tua mereka adalah dukungan dari orang-orang terdekat. Ketika berada di Pulau Rintis inilah mereka bertiga menemukan dukungan dari kakak-kakak sepupu mereka.
Dukungan dari kedua adik dan kakak sepupu itu membuat FrostFire kembali tersenyum, walaupun senyumannya itu masih terlihat dipaksakan dan tidak menyentuh netra merah kebiruannya. "Terima kasih... Kak Blaze... Kalian berdua... Memang terbaik."
Urusan penerimaan rapor selesai dan kini keempat bersudara itu meninggalkan gedung utama sekolah dan berjalan bersama-sama melintasi pelataran sekolah.
Tidak seperti hari-hari biasanya, pelataran sekolah terlihat ramai. Bahlkan sampai lapangan olahraga pun dipenuhi oleh kendaraan orang tua atau wali murid yang terparkir. Memang selalu begitu setiap kali penerimaan rapor murid. Apalagi areal parkir sekolah jumlahnya terbatas.
Nampak pula terlihat beberapa murid SMA diperbantukan untuk mengatur parkir mobil orang tua dan wali murid siswa untuk memudahkan arus keluar masuk kendaraan yang datang dan keluar silih berganti.
"Yak... Terus... Lurus!" Terdengar suara yang sama sekali jauh dari kata antusias ketika seorang siswa tengah memandu parkir sebuah mobil sedan nerukuran besar.
"Momen langka..." Cengiran Blaze mengembang ketika ia melihat dan mengenali siswa yang tengah bertugas sebagai juru parkir. Tanpa pikir panjang, Blaze langsung menarik keluar ponsel miliknya. Diabadikannya momomen langka seorang siswa yang dianggap populer bertugas sebagai juru parkir.
"Hoi! Solar!" teriak Blaze memanggil siswa yang bertugas menjadi juru parkir dadakan.
Solar yang siang itu ditugaskan menjadi juru parkir terperanjat mendengar namanya dipanggil oleh Blaze. Lebih terkejut lagi Solar ketika dilihatnya kamera ponsel milik Blaze itu terarah padanya.
"Hiaaa! Blaze! Hapus!" teriak Solar seraya berlari menghampiri kakaknya.
Alih-alih menghapus, Blaze malah kembali mengambil foto Solar yang tengah berlari panik menghampirinya. "Sini kau Blaaaze!"
"Saatnya memakai jurus pamungkas yang bertahun-tahun kusempurnakan." Blaze berkata kepada ketiga adik sepupunya yang tampak terheran-heran. Kemudian ia mengambil ancang-ancang dan membentuk kuda-kuda. "Jurus... Langkah Seribu!" pekik Blaze sebelum ia memecut larinya secepat mungkin, menjauh dari Solar dan meninggalkan ketiga adik sepupunya.
Solar yang tidak mampu mengimbangi larian Blaze langsung berhenti seraya bersandar pada FrostFire. "Bertuah... Punya... Kakak." ketus Solar diantara napasnya yang terengah-engah.
"Yah namanya juga Kak Blaze. Bisa mati dia kalau ngga jahil sehari." ucap FrostFire diantara kekehannya setelah melihat tingkah laku Blaze dan Solar.
"Awas saja, nanti malam dia ngga kuberi jatah!" ketus Solar dengan merengut kesal, ditambah pipinya yang menggembung.
"Ya, ngga dikasih jatah Kak Solar, dia minta ke Kak Thorn deh." Alih-alih berhenti terkekeh, FrostFire malah semakin cekikikan.
Solar terdiam. Ia memandangi FrostFire yang masih berseragam sekolah itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Banyak sekali ia menemukan persamaan antara si adik sepupu dengan Blaze.
Mendadak Solar menyeringai. "Hey, Supra, boleh aku pinjam-"
"Hissss! Ngga boleh!" ketus Supra yang langsung menempatkan diri diantara Solar dan FrostFire dengan cara memeluk kakaknya itu. "FrostFire punyaku! Aku ngga mau berbagi kalau yang urusan ini. Jangan dekati FrostFire kalau ngga mau kami pasung lagi!"
"Aku belum selesai-"
"Kak Solar fudan, aku fudan. Aku tahu dari caramu memandang FrostFire-ku, kak." ketus Supra tanpa memberikan kesempatan Solar untuk menyelesaikan kalimatnya.
Bahkan Solar bersumpah ia bisa melihat taring yang mendadak tumbuh dari gusi Supra dan diiringi berdirinya rambut halus pada tengkuk si adik sepupu. "I-iya, ngga jadi." ucap Solar yang mundur perlahan seraya meneguk ludah.
"Sudah-sudah, mending kita pulang..." Glacier menarik FrostFire dan Supra berjalan menuju gerbang sekolah. "Kami duluan ya kak." ucap Glacier lagi seraya melambaikan tangan pada Solar.
"Ah, iya, hati-hati di jalan." Solar balas melambaikan tangannya. tanpa berkedip ia menatap kedua adik sepupunya yang saling bergandengan tangan. "FrostFire... Supra..." gumamnya dengan suara lembut.
Alam pikiran Solar kembali pada beberapa tahun yamg lalu ketika ia menyatakan perasaannya kepada Blaze. Senyuman Solar mengulas perlahan, diingatnya saat-saat ia hanya berdua saja dengan Blaze di rumah pada hari dimana keduanya memadu kasih untuk pertama kalinya.
"HOI SOLAR! BANTUIN SINI!" Teriakan seorang siswa yang juga diperbantukan sebagai juru parkir membuyarkan lamunan Solar.
"Ah iya!" Tanpa membuang waktu lagi, Solar langsung berjalan kembali menuju lapangan olahraga sekolah yang sudah disulap menjadi lapangan parkir.
Sementara itu pada saat yang hampir bersamaan, FrostFire, Glacier dan Supra tengah berjalan pulang menuju rumah yang mereka tinggali di Pulau Rintis.
"Kita libur hampir dua minggu nih. Kamu ada rencana apa, Supra? Glacier?" tanya FrosrFire berjalan di antara Supra dan Glacier seraya merangkul pundak kedua adiknya itu.
"Mau pulang ke Kuala Lumpur?" tanya Glacier yang lebih bernada menyarankan.
"Pulang ke rumah ya?" FrostFire bergumam. Kedua netra biru kemerahannya menatap ke arah langit Pulau Rintis yang mendung berawan. "Entah kenapa aku lebih betah disini daripada di rumah."
"Memang kamu ngga kangen dengan mamah, papah?" tanya Glacier lagi.
"Ngga terlalu sih... Rencanaku tiga atau enpat hari terakhir kita pulang." jawab FrostFire lalu memandangi kedua adiknya. "Atau kalian ada ide lain?"
"Aku ikut kamu saja. Frost." jawab Supra sembari melempar senyum manisnya.
"A-aku juga!" ucap Glacier dengan cepat.
FrostFire memandangi kedua akinya yang mendadak memegangi kedua lengannya seakan dirinya terbuat dari kertas dan mudah diterbangkan angin. "Kalian berdua kenapa?"
"Aku mau bersama orang yang kusayang..." jawab Supra. "Bukan berarti aku ngga sayang dengan yang lainnya lho."
"Ah ngga apa-apa koq. Aku pikir daripada memecahkan rekor tidur, lebih baik kita jalan-jalan bersama."
"Aku tahu..." FrostFire menghela napas panjang. "Tapi ngga perlu memegangi aku seperti maling yang tertangkap basah kan?"
Mendengar pertanyaan bernada komentar dari si kakak, Supra dan Glacier langsung melepaskan pelukannya pada lengan FrostFire.
Bahkan Glacier dan Supra saling membuang muka dan tersipu malu.
"Aku malah jadi takut dengan kalian berdua..." komentar si kakak sembari menggelengkan kepala.
Ketiga kakak beradik itu mempercepat langkah mereka karena langit di atas Pulau Rintis sudah semakin menggelap. Angin pun mulai berhembus semakin sejuk dan kencang. Jarak pandang ketiganya tanpa terasa sudah semakin pendek. Perbukitan yang biasanya terlihat jelas kini sudah menghilang seakan ditelan kabut yang tebal.
Petir yang mulai sambar menyambar menandakan cuaca buruk yang semakin mendekat. Sambaran petir yang diiringi ledakan guntur di angkasa itu sudah cukup menjadi alasan bagi FrostFire, Glacier dan Supra untuk berlari sekuat tenaga menuju rumah sebelum hujan benar-benar turun.
"Huaaa! Lari!" teriak FrostFire ketika hujan turun dengan derasnya tanpa fase gerimis lagi.
"Habislah aku masuk angin!" jerit Supra ketika hujan yang turun dengan derasnya langsung membasahi sekujur tubuhnya.
FrostFire menyempatkan untuk menengok ke arah adiknya. Baju seragam sekolah yang menempel di tubuh Supra sudah basah total dan terlihat nyaris transparan.
"Seksi juga kamu tanpa baju dalam, Sup." celetuk FrostFire sembari terkekeh.
"Aaahhh! Urusan nanti!" ketus Supra yang berlari sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya yang jelas tercetak pada baju seragamnya yang sudah basah total. Kali ini Supra bersyukur derasnya hujan yang turun membuat FrostFire tidak melihat rona merah pada wajahnya.
Dalam hitungan menit saja ketiga kakak-beradik tiba di rumah singgah mereka.
Ketiganya terlihat basah kuyup total ketika memasuki rumah. Tidak ada sehelai benang pun di tubuh mereka yang tidak basah, bahkan sampai sepatu yang mereka kenakan bisa diperas seperti kain pel basah.
Hal yang pertama ketiganya perbuat adalah melepas baju seragam yang mereka kenakan. Baju seragam yang basah kuyup itu diperas di luar rumah supaya tidak mengotori bagian dalam rumah yang bersih dan kering.
"Pulang juga kalian bertiga. Kupikir bakal berteduh di sekolah atau halte bus." Terdengar sebuah suara dari ruang tengah menyambut kedatangan ketiga kakal beradik itu.
"Makin parah kak! Hujannya... Eh?" FrostFire mengedipkan kelopak matanya. Belum pernah ia mendengar suara itu di rumah yang ia tempati, namun suara yang menyambutnya terdengar tidak asing.
Seorang remaja berambut sepanjang pundak terlihat duduk di atas sofa. Ia diapit oleh Thorn dan Blaze yang memeluknya erat-erat.
"Lama ngga ketemu, Frosty, Supra, Glacier." ucap remaja itu seraya mengangkat kepalanya dan memperlihatkan netra biru safir yang dibarengi senyuman lebar pada wajahnya.
"A... ABANG TAUFAN?!"
.
.
.
Bersambung.
Terima kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia singgah. Bila berkenan bolehlah saya meminta saran, kritik atau tanggapan pembaca pada bagian review untuk peningkatan kualitas fanfic atau chapter yang akan datang. Sebisa mungkin akan saya jawab satu-persatu secara pribadi lewat PM (aplikasi FFN Mobile) atau di chapter berikutnya.
Sampai jumpa lagi pada chapter berikutnya.
"Unleash your imagination"
Salam hangat, LightDP.
