Hai, namaku Nozomi Tojo atau mungkin bisa dipanggil Nozomi Uzumaki. Dulu sebelum menikah, aku seorang gadis kuil serta Idol sekolah. Aduh, aku agak malu untuk menceritakan tentang Idol itu.
Namun, aku merasa senang saat menjadi Idol. Bisa menghibur orang banyak saja sudah membuatku bahagia.
Dan sekarang waktunya aku pensiun dari dunia tersebut, serta menjalani kehidupan normal jauh dari hingar-bingar panggung. Beberapa dari temanku ada yang masih konsisten dengan menjadi Idol, ada juga yang menjadi penyanyi solo.
Hanya aku yang menjadi seorang Gadis kuil.
Beberapa tahun setelah aku menjadi gadis kuil, aku mencoba untuk meramal diri sendiri. Aku tersenyum saat mengetahui Jodohku yang tak lama lagi datang.
Ya, dia Naruto. Suami serta Ayah dari kedua anakku. Pria baik yang punya cafe serta Restoran. Sosok pria yang menjadi pemimpin dalam keluarga kecil kami. Aku mulai mencintainya setelah menikah dengannya.
Namun, senyumanku hilang seketika saat sosok orang yang sangat tak kusukai muncul dan mengajakku makan siang di Cafe Naruto. Moodku untuk menemui Naruto hilang seketika saat bertemu dia disini.
Sasori Akasuna. Teman sekelasku saat Sekolah dulu, dia pernah sekali menembakku untuk menjadi kekasihnya, sayangnya kutolak.
Seorang lelaki dengan rambut merah yang terus saja mengejarku, dan sekarang aku bertemu dengannya disini, cafe milik Suamiku sendiri.
Aku bisa melihat lelaki pirang itu sedang duduk santai dimeja kasir yang tak jauh dari meja kami.
"Nozomi lama tak berjumpa, kau semakin cantik saja. Sudah berapa tahun sejak kita berdua lulus sekolah."
Aku mencoba untuk tersenyum saat dia mulai berbasa-basi. "Ya, lama tak jumpa, Sasori. Kita sudah lama tak bertemu setelah lulus sekolah, bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik, aku harap kau juga baik."
Aku membuang napasku dari mulut. "Langsung saja, ada apa?"
Sasori sedang mengambil sebuah benda yang ada di kantong celananya, ia mengambil sebuah kotak cincin untuk melamar seseorang. "Maukah kau menikah denganku?"
Brukk!
Kami berdua langsung menoleh ke arah suara jatuh itu berasal, lelaki pirang yang menjadi suamiku itu terjatuh dengan tidak elitnya di kursi miliknya. "Kursi sialan!" Aku menutup mulutku saat dia menyumpahi kursi itu.
Kami pun kembali fokus dengan pernyataan Sasori barusan. "Bagaimana, Nozomi?"
"Maaf, aku tak bisa menerimanya."
"Kenapa? Padahal aku bisa memberikanmu segalanya, mobil? Pesawat? Rumah mewah pribadi? Atau keluar Negeri? Aku bisa memberikan segalanya!"
"Aarggh! Kursi sialan!"
Naruto kembali menyumpahi kursi itu, kali ini ia menendang kursi tersebut. Aku tahu, ia sangat cemburu sekarang, tetapi ia harus bisa bersabar.
Aku pun menggelengkan kepala pelan, menolak semua pemberian dari Sasori. Tetapi, lelaki merah bata itu malah menggenggam tangan kananku sedikit keras, aku meringis sedikit saat dia menggenggam pergelangan tanganku.
"Aku ingin kau menjadi Ibu dari anak-anakku, aku sungguh mencintaimu Nozomi!"
Aku kembali mendengar Naruto yang bertingkah nyeleneh. Ia membanting kursinya yang di ambil dari dapur cafe. Aku rasa, dia sudah muak.
Pergelangan tanganku langsung kutarik, sembari menghela napas, aku menunjukkan sebuah cincin di jari manisku, sebuah cincin emas yang diberikan oleh Naruto sebagai hadiah setahunnya kami berumah tangga.
"Maafkan aku, tapi..." Aku menyunggingkan sebuah senyuman manis pada Sasori. "Aku sudah menikah."
Tiba-tiba, dari belakangku, sosok pria maskulin berambut pirang memelukku. Ia tersenyum kemenangan di hadapan Sasori.
"Maaf, tapi dia adalah Istriku."
Suara derapan kaki pun memenuhi cafe itu, dua orang bocah berlari ke arah kami berdua. Makoto dan Hikari berlari setelah di antar oleh Shikamaru.
"Mama!"
Kedua bocah ini langsung memeluk tubuhku bersama dengan Naruto yang ada dibelakangku. "Aku sudah mempunyai keluarga kecil sekarang, sekali lagi maafkan aku, Sasori."
Sasori tak mengeluarkan kata-katanya, ia kemudian menutup kotak cincinnya, lalu beranjak dari tempatnya duduk. "Maaf sudah mengganggu keluarga kecil kalian." Ia langsung pergi dari tempat ini, meninggalkan kami berdua.
"Kau tahu, aku sungguh sangat cemburu dari tadi." Aku bisa merasakan remasan tangan Naruto di bahuku, ia tipe lelaki yang akan bergerak jika orang yang berharga baginya sedang didekati orang lain.
Mungkin itu berlaku pada Hikari yang akan menikah di usia dewasa nantinya.
"Sungguh, aku tak akan berpaling darimu Naruto." Aku pun mengelus tangannya yang ada di bahuku, membuatnya melemaskan tangannya.
"Aku percaya padamu, Nozomi."
..
.
Naruto by Masashi Kishimoto.
Love Live School Idol Project by Kimino Sakurak.
