*Disclaimer*

Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka Harukawa Sango

WARN : BoysLove, ABO, LEMON IN THIS CHAPTER, OOC (saya berusaha sebisa mungkin membuat karakter-karakter ini IC tapi ternyata tetap OOC *cry), Typo (always). Saya tidak suka digunjing, mending kita baku hantam di sini kalo ada yang kurang berkenan XD

.

.


CHAPTER XXI

Ketika perang besar berakhir, hampir delapan puluh persen kehidupan di bumi pun juga berakhir. Beberapa benua tidak dapat lagi ditinggali karena radiasi, beberapa lagi menjadi padang pasir yang hitam karena kehilangan semua unsur hara dan tidak memiliki sumber daya alam baik udara bersih maupun air. Pemerintah yang tersisa mengenyahkan batas-batas negara dan mendirikan sebuah Kesatuan baru. Konon katanya para penjahat perang terdahulu ditangkap namun beberapa hari sebelum eksekusi, mereka melarikan diri dan tinggal di sebuah tempat rahasia di Gurun Pasir Hitam.

Pada dekade awal, kehidupan baru di dunia yang hancur berjalan harmonis. Semua orang memiliki perasaan sakit yang sama sebagai korban kebiadaban perang dan mereka hidup rukun dengan saling menopang. Namun, setelah para pendiri meninggalkan jabatannya, orang-orang mulai memunculkan sifat asli mereka sebagai manusia. Ketamakan. Korupsi. Pembantaian. Hingga akhirnya sebuah kudeta terjadi, dan perang sipil muncul kembali. Saat itulah Stray Dogs berdiri, untuk mencegah dunia kembali ke ambang kehancuran karena keserakahan manusia. Kudeta itu diredam dengan mengeksekusi para pejabat yang menjadi tersangka korupsi dan bertindak semena-mena. Sebagai tambahan, Kesatuan dibagi menjadi delapan distrik sesuai potensi alam dan kondisi masyarakatnya.

Buku sejarah menuliskan kalau pembagian Distrik itu terjadi satu setengah abad lalu. Kehidupan kembali seperti semua sampai perang saudara kembali muncul di distrik empat. Setiap Distrik memiliki kepala pemimpinnya masing-masing, mereka tidak bisa ikut campur urusan distrik lain kecuali memiliki izin Perdana Menteri.

Di dunia dengan lingkungan yang sempit dan populasi yang semakin berkembang, berbagai kebijakan dilakukan. Perdana Menteri melegalkan perbudakan sebagai salah satu cara mempercepat seleksi alam. Ia memberi sistem kasta untuk mengatur masyarakat. Ia juga memberi wilayah bernama SideD8 sebagai tempat orang-orang terbuang guna melatih bibit-bibit yang akan melakukan pekerjaan kotor. Ketika ia wafat dan digantikan Putrinya, tidak banyak hal yang berubah kecuali SideD8 yang hanya menjadi daerah buangan tanpa tujuan.

Untuk menghindari kekacauan, produksi dan pengembangan senjata dibatasi serta tidak diperdagangkan sama sekali. Mereka yang bekerja di dunia militer dan keamanan mendapat senjata langsung dari Istana Perdana Menteri dengan izin resmi, sedangkan mereka yang bekerja di dunia bawah mendapat senjata dari Mafia dengan cara ilegal. Sebagai tambahan sejarah, ada yang berkata kalau para Mafia berasal dari penjahat perang yang dulunya kabur dan kembali sebagai balas dendam. Ada juga teori kalau mereka adalah sisa-sisa massa kudeta yang berhasil menyelamatkan diri dan masih tidak terima dengan pemerintahan. Namun, menurut Dazai Osamu yang merupakan mantan anggota, Mafia berasal dari siapa saja yang dalam dirinya terdapat keputusasaan terhadap hidup yang suci dan meraih mimpinya dengan cara kotor. Semua manusia memiliki sisi hitam, itu saja suja cukup sebagai dasar mereka menjadi Mafia di dunia yang hancur ini.

Walau moral memiliki tingkat kerusakan yang parah, tapi teknologi yang dimiliki dunia ini adalah yang tercanggih sepanjang peradaban manusia. Memang mereka tidak lagi meneliti hal seperti perjalanan ke ruang angkasa atau sebagainya, semua pengetahuan yang tersisa dikerahkan untuk bertahan hidup. Membuat mesin daur ulang polimer canggih, bangunan super megah dengan keamanan tingkat tinggi, mesin anti hama untuk seluruh distrik, bahkan alat transportasi antarkota yang ramah lingkungan dan bisa melayang di udara.

Seluruh mobil di Distrik 8 menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar. Minyak bumi sudah menjadi hal yang langka sejak puluhan tahun lalu, pun batu bara yang sekarang hanya digunakan pada kereta api mahal khusus untuk wisata. Semua tambang itu didapatkan dari Distrik 1, dengan puluhan jiwa yang bekerja rodi di bawah bayang-bayang pemerintahan ketamakan manusia dan para Mafia. Namun Dazai tidak bisa menyalahkan perbudakan yang terjadi karena karena itulah ia masih bisa hidup disini, bertemu dengan sosok beraroma cherry kesukaannya, memandang padat dan gemerlap Distrik 8 di malam hari.

Rumah Chuuya jauh lebih nyaman dari apartemen tinggi menjulang tempatnya bisa melihat ujung kelipan lampu Distrik 8. Lebih hangat dari mesin pegatur suhu bertenaga air yang diciptakan khusus untuk para orang berpunya. Dia tidak butuh segala teknologi masa kini untuk membuatnya nyaman, cukup dengan Chuuya ada disana, dengan google mekanik dan sarung tangan penuh minyaknya, berkata seakan Dazai adalah entitas yang merugikan, namun merawatnya seakan bunga bakung yang paling rapuh. Dazai rela mengarungi Padang Pasir Hitam sebagai syarat bersama Nakahara Chuuya selama-lamanya.

"Kalau kau lelah, pergilah ke kamar. Jangan buat aku kerepotan menyeretmu." Tanpa mengalihkan fokus dari skrup sebuah kipas angin, ia menyadarkan Dazai dari kantuk.

"Aku punya banyak pertanyaan untukmu," gumam menjawab, "tentang Fyodor Dostoyevsky dan kedatanganmu ke Distrik 1."

"Apa itu perlu?"

"Mungkin.. Untuk misi?" Dazai membuat kalimatnya menjadi pertanyaan.

Chuuya bangkit dari bangkunya. Meletakkan ikat pinggang kulit yang penuh obeng dan kunci. "Aku tidak ingin membicarakan masa lalu."

"Walaupun padaku?"

"Terlebih padamu." Chuuya menarik senyum miring, "Aku tahu kau pasti akan dongkol dengan kecemburuan manis menyebalkanmu itu, jadi lebih baik tidak usah."

Dazai memajukan bibir, mendecih kecewa. Memang ia penasaran bagaimana hubungan Chuuya dan si Teroris dengan nama Rusia menyebalkan, tapi ia juga ingin tahu asal muasal Fyodor Dostoyevsky dan apa sebenarnya yang ia rencanakan. Menjadi pemalas bukan berarti Dazai akan membiarkan siapapun menghancurkan dunia ketika ia sudah bertemu dengan si manis Chuuya.

"Saranku, lebih baik kau kembali ke kamar. Udara mulai dingin disini."

Dazai mendesah. Chuuya tampak tidak menghargai usahanya untuk mengintrogasi, tapi membayangkan tempat tidur beraroma Chuuya yang hangat membuat Dazai segera berbalik arah dan berjalan sesuai saran si tuan rumah, walau tetap meninggalkan aura sebalnya di tiap langkah hingga memancing helaan napas dari lawan bicaranya.

Lingkaran angka di kalender hampir tiba di pertengahan desember, Dazai menanti hari dimana ia bisa menikmati natal dan tahun baru tanpa kesepian. Memang, perayaan Tahun Baru di Distrik 8 disanjung-sanjung adalah yang paling megah di seluruh dunia, bahkan dunia sebelum Perang Besar tidak bisa menyainginya. Ketika natal, tidak banyak yang bisa dinikmati karena sebagian besar penduduk tidak lagi memiliki agama. Tapi terkadang teman sekantor sering membuat perayaan walau bukan tepat pada malam natal. Semuanya menyenangkan, tapi bagi Dazai ia tetap merasa hampa.

Karenanya, kali ini, tanpa-basa basi ia langsung mengatakan telak pada Chuuya yang baru saja membuka pintu kamar, "malam natal nanti, kencan yuk?"

Si mekanik berhenti bergerak. Pintu terjeda untuk tertutup kembali.

"Tiba-tiba sekali kau meminta," ucap Chuuya beralih ke westafel untuk mencuci tangan seraya mengabaikan Dazai yang berguling manja di tempat tidur.

"Chuuya sudah ada janji?"

"Hampir. Aku berencana menghabiskan natal di rumah Anee-san." Sebuah nampan berisi kue selai dijajakan di atas meja bundar mungil. Tempat dimana mereka sering duduk berhadapan, bertautan kaki dan tangan, makan cemilan dan coklat hangat. "Kalau kau ingin kencan mungkin aku akan terima."

Dazai belum beranjak dari tempat tidur, duduk di sana seperti raja— atau seorang bocah yang merasa dirinya raja. "Aku tidak menyangka Chuuya menerimanya langsung."

"Memang kau mengharap apa? Kita sudah sering jalan berdua, jadi tidak ada bedanya, kan?"

'Benar juga,' Dazai berpikir demikian. Semua hal yang mereka lewati berdua tidak berbeda dengan kencan. Tapi, itu bukan kencan. Karena Dazai belum mengkonfirmasi satu hal wajib sebagai syarat sebuah kencan dapat terjadi.

"Kalau begitu, Chuuya dan aku sudah jadi sepasang kekasih ya?"

Chuuya menyembur coklat panasnya, Dazai sudah menduga.

"H-hah?" ia mengelap mulutnya gugup. "Kenapa tiba-tiba kau bicara hal konyol lagi sih?"

"Oh bukan?"

Nakahara Chuuya menatap manik kopi yang polos itu dengan bingung. Antara kesal, tapi juga senang, ia tidak menolak, tapi begitu malu untuk menerima. Yang ia tahu hanya ia senang bersama Dazai, walau pria itu hobi mengganggu dan mengacaukan waktu-waktu idealnya. Perasaan yang timbul ketika dia ada di sini seperti candu.

"Sesukamu," jawabnya demikian dengan rona pudar di wajah. "Aku yang menentukan pun kau tidak akan puas sampai sesuai keinginanmu."

Senyum tumbuh begitu cerah di wajah Dazai Osamu, segera ia melesat untuk duduk di sebelah si surai senja. Membenamkan Chuuya di dadanya dengan sangat manja, "nah istriku Nakahara Chuuya.."

"HAH? Istri apa?!"

Tanpa menjeda Dazai tetap membungkus tubuh kecil omega itu dalam pelukan yang kian lama kian menyesakkan, "Chuuya sendiri yang bilang sesukaku kan?"

Intrupsi Chuuya terhenti. Tangannya yang siaga ingin mendorong si alpha malah jatuh ke meja. "Terserah kau sajalah, Dazai."

-000-

Lalu, timbul sebuah pertanyaan.

Apa yang dilakukan seorang teroris dan agen pasukan khusus kedamaian dunia untuk berkencan di malam natal?

Chuuya benar-benar tidak ingin ada orang yang mengatakan kebenaran tentang gilanya agen itu dan betapa malunya sang teroris sebagai jawaban.

"Oi mumi, tanganmu." Sang teroris mengancam.

"Legalisasikan, sayangku." Sang agen pasukan khusus tersenyum bahagia dan menempelkan tangannya di kulit paha si teroris.

Chuuya berjanji akan membakar hidup-hidup orang yang membuat mereka berada dalam satu selimut, berpelukan, tanpa busana— sebagai agenda kencan di malam natal.

Wajah Chuuya tidak bisa dihindarkan terbakar. Sebuah perjanjian yang ia ucap sebelumnya adalah bahwa Dazai tidak boleh melihat wajahnya. "Dazai—"

"Hm?"

"Kau benar-benar tidak apa dengan ini?"

"Hm.." Dazai merapatkan wajahnya di dagu Chuuya. Mencium lehernya, membelai tengkuknya.

"Bukankah kencan seharusnya pergi keluar menikmati lampu-lampu kota?"

"Chuuya mau pergi ke kota?" Sepasang manik hazel melirik ke mata, Chuuya menahan wajah itu untuk tetap bertatapan dengan dadanya. Dazai tidak keberatan dengan larangan, setelah lenguhan yang timbul akibat kecupan, ia berucap, "Di luar dingin, dan aku benar-benar senang dengan kegiatan ini."

Chuuya bersemu ketika pria itu sekali lagi menenggelamkan wajah ke lehernya. Pelukan mengerat, ia bernapas seakan menghirup seluruh roh kehidupan yang Chuuya miliki. "Kenapa harus begini? Kau tidak kedinginan?"

"Chuuya, kau sangat hangat." Pun ucapan Dazai yang berhasil mendidihkan darahnya di kepala. Berputar-putar akibat panas ketika tangan Dazai membelai punggung polosnya.

Dazai mengetahui Chuuya menelan ludah ketika jakunnya bergerak. Ia memagut, Chuuya melenguh. "Hh.. Kau buang-buang perayaan sekali setahun hanya untuk tidur nh?"

Ada sunyi yang menjawab sampai Chuuya berpikir telah mengajukan pertanyaan yang salah. Ia meminta maaf dengan belaian di surai kopi.

"Bagiku natal bukan hari yang penting, kau tahu?" Chuuya merasakan sepasang bibir mendarat di tulang lehernya. Ia tidak mendapat penjelasan kenapa Dazai begitu suka menjamah leher dan bahunya.

Kemudian si brunette melanjutkan, "Berjalan di kota, bertemu keluarga, mengharap hadiah, aku sama sekali tidak merasa itu penting untukku. Kota membosankan, aku tidak punya keluarga, dan aku bisa beli apa saja dengan uangku sendiri." Frasa terakhir membuat Chuuya sedikit tersindir, tapi merasakan wajah yang semakin dalam terbenam di pelukannya, Chuuya termenung. "Karena itu, sekali saja aku ingin buat hari ini berarti, dengan keberadaanmu. Kehangatanmu, Chuuya. Sampai aku tertidur."

Chuuya mendengar jawaban yang membuat belaiannya terjeda sejenak. Lalu ia tersenyum, mengecup puncak kepala si brunette, dan memeluknya lebih erat.

"Dasar orang kesepian bodoh."

Dazai terkekeh, "Chuuya kau juga."

Dazai terbangun dengan lengan kurus yang masih melingkar di lehernya. Hal pertama yang ia hirup adalah matahari, dan niatnya untuk kembali terlelap sirna saat sebuah suara sampai ke telinga.

"Selamat pagi."

Lenguh menjawab. Dazai menguap dan menaikkan selimut menutup kepalanya. "Ini sudah jam sepuluh, Dazai."

"Hm…"

Dengan paksa tangannya diangkat. Dazai menolak namun kantuk membuatnya lengah dan kini ia sudah terbaring menghadap atap dan kekasihnya duduk di sebelah menutup sinar matahari sampai padanya. Oh bukan, Chuuya hanya menggantikan sinar matahari sebab bagi Dazai ia adalah surya yang mengusir gelap.

"Chuuya….." Ia memanjakan diri dengan kembali merengkuh pinggang si senja, kini wajahnya tepat mengendus kulit paha si mungil sampai Chuuya memekik dan berakhir menarik helai kopinya.

"Bangun dasar pemalas!"

"Masih terlalu pagi. Aku mau tidur sebentar lagi." Dazai berguling ke arah berlawanan. Memberi punggungnya pada Chuuya dan melindungi mata dari kilau cahaya pagi. Ia meringkuk dan semakin dalam masuk ke selimut.

Lalu Chuuya mengecup pipinya. "Bangun."

Dazai spontan membuka mata, menoleh dan mendapati Chuuya begitu dekat dengannya. Tersenyum dengan sangat indah. "Dazai, bangun."

Teriakan Dazai bergema di seluruh kepala, darahnya mengalir lebih derasa ketika Chuuya kembali mendaratkan kecupan di dahi. Ya ampun, Dazai merasakan sesuatu di bawah sana menegang.

Tidak. Dia tidak boleh menyerah demi harga diri seorang alpha. Ditariknya wajah Chuuya, kini bibir mereka bertemu. Dazai tidak memaksa Chuuya menerima, namun kenyataan kalau omega itu malah mambuka mulut membuatnya bahagia.

"Mmph…" Chuuya bertahan dengan siku sementara satu tangan yang lain bergenggaman dengan Dazai. Ia bergetar ketika merasakan belaian di sepanjang tulang punggung. "Ah-mpp.."

Seluruh saliva yang mengalir jatuh ke mulut Dazai, ia tidak keberatan menelannya dan membuat Chuuya semakin panas. Dazai mencapai bokong si mungil ketika kaki Chuuya tepat berada di antara selangkangan Dazai. Entahlah itu ketidaksengajaan atau mungkin Chuuya memang berniat menggoda dengan menekan pahanya yang berisi ke milik Dazai yang meronta di balik celana dalam.

"Chuu…" Ketika pagutan terlepas, Dazai memelas. Yang ia lihat adalah wajah bersemu kesukaannya, ia menelan ludah dan melakukan ciuman kesekian. Dazai memutar posisi ketika Chuuya kelewatan dengan menggesekkan kaki ke milik Dazai yang mengeras.

Kini Chuuya berada di bawah tindihannya. Suasana sepi dan hangatnya ruangan melindungi mereka dari udara membekukan musim dingin. Mereka berhasrat, mereka tidak lagi dibentengi busana, dan Dazai tahu bagaimana memulai permainan. "Mekanik kecilku yang nakal." Belaiannya dibalas senyum menantang dari si omega, Dazai tergoda "jangan membuatku melakukan itu lagi, Chuuya."

"Tidak ada salahnya bercinta dengan kekasih."

Sebuah api bersinar di mata Chuuya. Api yang berkobar dan membakar seluruh samudra, api yang menimbulkan rasa suka di benak Dazai pertama kali mereka bertemu.

"Ya Tuhan, kau indah.."

"Aku tahu." Chuuya tidak mengakui dirinya indah, tapi ia merasa yakin di mata Dazai sosoknya bagai bidadari surga. "Ayo bangun.."

Dazai tercengang.

Tepat, alasannya menggoda hanya untuk membangunkan. "Jahat." Tubuhnya jatuh ke sisi Chuuya, mereka berhadapan.

"Aku ingin memakanmu."

Chuuya tidak menjawab selain dengan rona yang menguar. "Kau kanibal." Dazai memejamkan mata. Chuuya dengan segala godaan manisnya jelas mengerti niat itu dan masih menjawab dengan kalimat polos yang akan membuat orang salah sangka.

"Ayo bangun dasar pemalas!" Chuuya kembali bangkit dan mengguncangkan tubuh Dazai yang lebih besar darinya. "Sarapan! Jangan tutup matamu lagi!"

Dazai menagkap tangan mungil itu lalu menariknya untuk jatuh ke dada. "Astaga! Jangan berbaring lagi! Ayo!"

"Chuuya mau buatkan sarapan kan?"

Ocehannya berhenti ketika Dazai melepasnya untuk duduk kembali. Kali ini Dazai ikut bangkit, namun merangkul Chuuya dengan rapat. "Hh? Tentu saja. Memangnya kau bisa masak?" Chuuya membiarkan tangan Dazai memainkan rambutnya, "kau mau apa?"

"Kau.." tubuh pria itu maju mendekat sampai memeluk si mungil.

"Dazai.." Chuuya mendengus. "Serius."

"Sup kepiting."

Chuuya terdiam sejenak. Tidak menolak ketika si brunette membaui rambutnya. "Aku tidak punya kepiting, aku beli dulu."

"Kalau begitu sekalian saja ke rumahku." ia menarik diri.

"Hm?"

"Kau belum pernah ke rumahku kan? Ayo.. Apartemenku ada di lingkar dalam kota, tidak terlalu jauh."

Mata Chuuya canggung, tapi tidak menepis belaian Dazai. "Sekarang?" angguk menjawab sebelum ia kembali tersenyum.

"Baiklah." ucapnya seraya bangkit. Meninggalkan Dazai setelah kecupan di pipi dan beralih ke lemari pakaian. "Aku akan bersiap."

Kaki jenjang itu mengikuti Chuuya yang hanya mengenakan hot pants hitam. Memeluknya dan kembali merasakan kulit hangat yang bersentuhan. Dazai benar-benar candu.

-000-

Sungguh prihatin, walau rumah itu seperti apartemen pejabat, Dazai sama sekali tidak mengurusnya. Makanan di kulkas hanya sarden dan sereal, keranjang pakaian menumpuk dan katanya akan diantar ke loundry hari minggu padahal dia punya mesin cuci super besar. Masuk ke kamar, selimutnya harum tapi berantakan, pun gorden jendela yang terbuka sebelah dan tertutup sebelah. Chuuya dapat menyatakan dengan bangga rumah mungilnya lebih menawan daripada ini.

Dengan kalimat, "ini menjijikkan!" Chuuya mulai memasukkan pakaian di keranjang baju ke mesin cuci, merapihkan kamar mewah yang berantakan, mencuci segala macam piring di westafel, mengumpulkan sampah makanan instan ke kantong hitam lalu membuangnya. Kemudian ia kembali dan mendapati sebuah kesimpulan, "jangan-jangan kau membawaku ke sini untuk menjadi pembantu?!"

"Aku tidak menyuruhmu melakukan apapun," Dazai tanpa mengalihkan pandangannya dari acara talkshow menjawab namun menarik lengan Chuuya untuk duduk di pangkuannya. Chuuya tidak sering menonton televisi, tapi acara seperti ini tidak jelek.

Entah sampai kapan Dazai akan meremas-remas tangannya, kadang memainkan jemari kurusnya, lalu Dazai akan menciumi punggung kepalanya. "Kau malaikat," Dazai membelai pipi yang memerah. "Aku ingin menyentuhmu, tapi menodai malaikat adalah sebuah dosa."

Chuuya terdiam sejenak. Ia tahu bagaimana Dazai bersikap seharian ini karena ia selalu memberinya service, lalu pergi. Chuuya merasa jahat.

"Kalau begitu malaikat ini yang akan menodaimu." ia mengecup tangan si brunette. "Walau sering menunjukkan afeksi di luar nalar, tapi kau pengecut juga ya, Dazai."

Mencium, membelai, mengatakan hal-hal vulgar yang membuat Chuuya bersemu manja, "apa kau hanya berani sebatas tidur tanpa pakaian, hm?"

Oh, malaikat nakal. Malaikat yang suka menggoda, "aku mengerti kenapa kau diusir dari surga." Dazai membawa bibir itu ke pagutannya. Manis hangat yang selalu membuat darahnya berisik ketika naik ke ubun-ubun.

"Kau ingin menodaiku hm? Kau ingin di sini atau di kamar? Atau kita bisa mandi bersama? Aku punya bak mandi yang cukup untuk berdua, air hangat, dan sampo aroma lavender. Kalau kau nekat, kita bisa lakukan di balkon sekaligus memandangi gedung-gedung besi Distrik 8."

"Jangan promosi, dasar orang kaya." Chuuya yang cuma punya shower di rumah merasa tersindir. Tapi ia ingin mandi air hangat, di bak keramik putih, dengan sampo aroma lavender.

"Baiklah."

Chuuya memekik ketika tubuhnya diangkat di bahu si alpha. Siap diculik, ia tidak ingin meronta dan berakhir jatuh, jadilah hanya diam dalam posisi yang membuatnya merasa tinggi. Dazai membawa ke kamar mandi kemudian mempreteli pakaiannya dengan tatapan lapar, mulai dari outer hijau army lalu kaos hitam polos. Chuuya tidak melarang tali pinggangnya dibuka, jeansnya diturunkan, lalu Dazai berlutut dan tersenyum dengan raut paling bahagia yang pernah ia lihat.

"Kau mesum." Chuuya bersemu ketika mata predator itu menatapnya. Coklat mengilap seperti permata carnelian yang selesai dipoles dan dipasang dalam pahatan wajah tampan seorang pangeran.

Kaki berjinjit ketika hidung itu sampai ke kulit paha. "Ahh—" mencium dan menggigitnya. Menyisakan bercak merah dan rasa geli membuai.

Dazai tahu cara melayani, ia tahu cara memuaskan, ia tahu cara membuat Chuuya mendesah dan mengerang. Terlebih Dazai sudah sering membayangkan bagaimana cara memanggil suara surgawi dari sang makhluk surga, hanya butuh sebuah tindakan dan Dazai akan mengajaknya terbang ke nirwana.

"Dazai... hhn-"

"Hm?" Lidah yang basah menyapu kulit, Chuuya hampir terjatuh jika tangan kekar itu tidak meremas gumpalan daging bokongnya yang kencang. Sekali lagi ia mengerang ketika kejantannya yang masih dibalut celana dalam disapa oleh lidah sang alpha.

"Ah, Dazai.."

Demi bintang-bintang di atas Padang Pasir Hitam yang mati, Chuuya malu! Ia tidak bisa menatap wajah itu ketika pertahanan terakhir tubuhnya dilepaskan. Dazai di sana berhadapan dengan kepemilikannya yang mengencang. Walaupun mereka pernah saling menatap tubuh telanjang, dan walaupun Chuuya yang mengibarkan bendera perang, tetap saja ia tidak kuasa.

"Kau memang manis, Chuuya." Panggilan itu memanggil, Chuuya mengintip dari pelarian mata birunya. Ia memekik ketika Dazai memulai permainan dewasa.

"Ahnn... Hng—" sesekali berjinjit, geli itu membuat saraf meremang dan lemah. Chuuya hanya menarik-narik kemeja si brunette yang bisa ia raih ketika rongga hangat mengurung kepemilikannya. "Dazai hh..." Jari-jari panjang bermain di pinggulnya. Meraba bekas bara yang menjadi cendera mata dari Distrik 1. Darahnya mendidih, Chuuya tidak pernah melakukan dan membayangkan hal seerotis ini seumur hidup.

Dazai mencium dalam oral sebelum menarik diri. "jangan keluar dulu."

Itu permintaan sulit, perintah sulit. Chuuya hampir berada di ambang klimaks dan hanya bisa berharap Dazai membiarkannya keluar. Tapi Dazai tidak mengizinkan dan mengambil kesempatan untuk balas dendam, agar Chuuya tahu bagaimana selama ini perih yang ia derita menahan ereksi yang diakibatkan Chuuya.

"Jangan tatap aku seperti itu," kini kecupan mendarat di punggung tangan. Dazai bangkit dan melepas pakaian.

"Dazai.." Chuuya mengalihkan wajah ketika tubuh tegap sang alpha yang pernah menggagahinya kini tampak jelas di depan mata. Dazai masih dengan perbannya, perkasa, dan menawan. Chuuya sudah melihat tubuh itu beberapa kali, tapi melihatnya kali ini benar-benar membuat miliknya seperti terbakar, merasakan denyut menyengat di kejantanannya. "Kumohon.."

"Shh.."

"Ha-hh.." Dazai meminta. Chuuya menyerahkan lehernya agar si brunette puas menjamah. Entah sejak kapan jemari pemuda itu kembali bermain dengan miliknya. Chuuya mengerang ketika bekas gigitan menguar di bahu.

"Ahh Dazai..." Semakin gejolak itu ditahan, semakin Chuuya merapatkan tubuh pada pelukan. Semakin Dazai melarangnya, semakin ingin Chuuya dipermainkan. "Kumohon.."

Dazai mengerti peran submissive itu. Chuuya suka memohon, ia ingin diberi perintah, ia ingin mengais seperti anjing dan anak kecil lugu yang tidak mengerti apa-apa. Sungguh kebetulan yang tepat karena Dazai adalah dominan yang suka menuntut.

Tapi apa itu adalah hubungan yang sehat? Dazai tidak jarang menemukan submissive di petualangan seksualnya, tapi ia tidak tahu apa hal seperti itu berpengaruh pada petualangan cinta yang serius. Jika itu memberatkan Chuuya, ia siap menjadi seorang yang penurut.

"Hnn.. Dazai—" Chuuya menenggelamkam kepala, bergetar sampai kukunya bisa saja menembus kulit si brunette. "Izinkan aku lepas hha—"

Sebuah kecupan tiba di kening, Dazai melepaskan kekangan itu hingga Chuuya melakukan haknya. Deru napas Chuuya yang memburu diiringi wajah peluhnya merupakan tontonan suci untuk mata Dazai. Ia memagut bibir ranum itu beberapa saat.

"Ayo masuk ke bak mandi agar tidak kedinginan."

Dengan papahan, Chuuya mengurangi sakit di kepemilikannya dan masuk ke bak mandi. Ia bersemu seperti persik, menundukkan wajah karena malu, dan tetap menggenggam tangan si brunette.

"Kemari, aku basuh rambutmu."

Posisi hadap-hadapan berubah dengan pangku memangku. Dazai jelas merasakan kulit itu di tubuhnya. Bahkan air hangat tidak menghalangi sensor imajinasinya untuk menggambar lekuk pinggul dan bokong si omega.

Dazai sengaja menggoda, membelai bahu dan leher. Kecupan-kecupan kecil mendarat di puncak kepala Chuuya, belum menyentuh shampo namun malah bermain di dada mungil si omega.

"Ahh..." ketika puncak dada ditekan, Chuuya melepas desah. Ia tidak mengerti kemana semua tenaga yang sering ia gunakan untuk membanting Dazai di lantai. Kenapa kali ini bahkan untuk mengangkat tangan pun tak mampu. "Hnn..."

Ia membelalak ketika tengkuk dicium. Walau ia pernah mengajukan tawaran bonding dengan si brunette, namun tidak dapat dielak kalau Chuuya sendiri takut dengan hubungan mutlak itu.

"Kau mau aku menggigitmu disini, Chuuya?"

Chuuya mengangguk, mantap, cepat, tapi pikirannya ragu. Entah apa yang ia ragukan padahal sudah jelas Dazai akan hidup demi dirinya dan akan mati untuknya. Lalu, apa yang ia takutkan?

"Misi kita berbahaya." si brunette menghentikan keerotisannya dan memilih memeluk tubuh mungil. "Kalau aku mengklaimmu, kemudian aku mati di misi ini, Chuuya akan sulit menemukan pasangan lagi."

Satu kalimat itu segera membuat Chuuya naik pitam.

"Kau bodoh?" nadanya membentak tinggi. Ia membalik badan dan melihat Dazai terkejut atas tindakannya. "Itu tidak ada hubungannya! Kalau itu terjadi, bahkan kalau kau tidak mengklaimku, aku tetap akan sulit— bahkan tidak bisa menemukan penggantimu." Nada yang tinggi membulatkan manik hazel, tubuh bergetar itu sampai pada rengkuhan, Dazai mengecup pundaknya lembut seraya mengucapkan maaf.

"Aku tidak ingin kau bicara seakan kau mau pergi dariku. Aku tidak bisa menghadapi dunia dengan ketidakberadaanmu di hidupku, Dazai. Kumohon mengerti..."

"Aku mengerti." Karena ia pun merasa sama. Apapun yang diberi dunia untuk menyebut hubungan mereka, Dazai tau orang ini sangat berharga baginya lebih dari diri sendiri.

"Tidak keberatan kita lakukan di tempat tidur saja?"

Tawaran yang lari dari topik memunculkan semu ceri di pipi Chuuya. Ia bahkan lupa kalau sejak awal yang ia harapkan adalah sebuah jamahan dari sosok penuh perban itu. "Tidak."

Walau rasa bersalah tidak sepenuhnya hilang dari benak, Dazai benar-benar mengucap syukur kepada siapa saja yang meletakkan Chuuya duduk di tepi tempat tidur dengan kimono mandi, tengah mengeringkan rambut dengan sebuah handuk. Paha putih yang tersibak memacu jantung Dazai yang seandainya bisa berbicara pasti sudah keluar dari mulutnya dan berkata pada Chuuya untuk menaikkan kain itu dan memperlihatkan bagian yang lebih sensual. Dazai melangkahkan kaki, tidak menunggu izin untuk membaui leher jenjangnya.

"Ah.. Jangan tiba-tiba—nh..." Tangan Chuuya yang ragu memilih maremat bahu kokoh Dazai dan memberi seluruh bagian lehernya untuk dijelajah. Dazai memeluk pinggulnya, kain yang menuruni lengan menampilkan dada bidang dilengkapi sepasang puncak merah delima. "Anh..."

Chuuya mengalah setelah lidah sampai ke sana, terbaring di atas ranjang berbalut busana yang tidak melakukan tugasnya dengan baik. Di mata Dazai hanya ada keindahan. Semua pancaran menggoda dari tiap inchi kulit Chuuya, kabut gairah yang menguar dari tatapan matanya seakan berkata Dazai adalah Raja dan Chuuya merasa terhormat disetubuhi olehnya.

Langkah awal Dazai setelah memposisikan diri di antara kaki Chuuya yang ramping, adalah mengangkatnya. Mencium betisnya sebagai permulaan untuk mengantar desiran lembut nan panas. Chuuya merapatkan bibir, menahan lenguh dan malu walau mereka melakukan hubungan intim kali ini atas dasar persetujuan satu sama lain.

"Kau cantik." Jemari yang sesaat membelai pelipis membuat ronanya merekah lebih. Chuuya mengerang ketika Dazai mencium lutut ke pahanya. Mendengus dan meninggalkan gigitan-gigitan kecil sehingga timbul bercak kemerahan di dasar putihnya.

Belaian melaju dari kaki yang satunya, menarik tali kimono sehingga kedua sisinya tidak lagi bersatu. Dazai melihat Chuuya dengan sempurna, seutuhnya, seluruh bagiannya. "Mendebarkan?"

Chuuya tidak menjawab. Sedikit kesal karena Dazai berhenti menyentuhnya dan malah memandang dengan tatapan terpesona, membuatnya malu. "Tidak akan terjadi apa-apa kalau kau hanya melihat, Dazai bodoh."

Si brunette terkekeh kecil. Taring yang muncul di celah bibir tipis ketika itu sungguh menawan. Chuuya tahu Dazai adalah alpha yang tampan, bahkan sangat tampan, tapi rasanya dia tidak pernah setampan itu. Chuuya ingin dia melihatnya lagi, Chuuya ingin ia tersenyum dan tertawa lebih banyak.

"Dazai?" ucapnya, memberi sinyal kalau ia menunggu gerakan selanjutnya. Dazai tidak perlu diingatkan kalau Chuuya adalah omega yang tidak pernah melakukan hal-hal berbau seksualitas. Ia benar-benar bersih dari segala macam nafsu dan Dazai telah mengambil semua keluguan itu untuk dirinya. Katakan dia serakah, tapi siapa yang tidak mau memiliki Chuuya untuk pribadi?

"Baik mekanik kecil. Untuk memuaskanmu, apa yang bisa hamba lakukan?"Pertanyaan itu adalah pertama kali Dazai bercanda saat berhubungan dan pertama kali juga ia menawarkan diri untuk melayani walau ia tahu Chuuya memiliki pengalaman zero dalam dunia persetubuhan. Dibuktikan dengan jawaban malu bercampur kesal, "mana aku tahu bodoh!"

Sekali lagi ia tertawa, sekali lagi Chuuya terpesona, sekali lagi gelombang hasrat mengalir seperti magnet dengan kutub negatif dan positif di antara mereka.

Dazai memulai dengan memagut bibir yang sedia manis dan ranum. Chuuya melenguh, segera menutup mata dan memberi akses untuk putaran yang lebih bergairah. Dazai selalu tahu cara berciuman yang ampuh untuk membuat tubuh mungil Chuuya tegang lemas dan tangan kecilnya menarik-narik surai coklat Dazai. Tangan nakal menyelip ke paha yang dirapatkan, Chuuya melenguh di tengah ciumannya. Kakinya dipaksa terbuka dan naik ke pinggul Dazai.

Chuuya merasakan miliknya mengencang hanya dengan ciuman yang membuat saliva tumpah dari sudut bibir. Dazai menambah dengan jari yang menari di perut, lalu naik dan bertemu sepasang bagian menggoda nomor urut dua setelah bibir Chuuya. Desiran timbul dan Chuuya hampir tidak bisa mengontrol napas, namun Dazai sejenak menggenggam tangannya yang berada di sisi kepala dan Chuuya sadar kalau semua yang akan mereka lakukan adalah kebahagiaan.

"Daz-mmph.. Nhh—" Penolakan datang dengan salah satu tangan Chuuya menggenggam tangan Dazai yang memainkan putingnya. Tapi ia tidak mengusir, hanya merasa resah karena bagian itu terlalu sensitif untuk disentuh. "Haah...—"

Pagutan terpisah, tapi bibir mereka masih dihubungkan jembatan saliva, Dazai memagutnya kembali untuk menghisap semua cairan manis itu sebelum memberi gigitan yang memancing pekikan menggoda.

"Nhh!" Dagunya dijamah bibir yang basah. Dazai meninggalkan aroma mint dari pasta giginya di sepanjang jakun Chuuya yang hanya bisa menahan teriakan ketika pangkal lehernya digigit, benar-benar puas akan sakit yang timbul. Dazai melakukannya lagi, meninggalkan bercak merah setiap pengarungannya di kulit Chuuya. Lidahnya tiba di salah satu puncak merah, Dazai menciumnya dan Chuuya mendesah manja.

Merasa jika suara yang dikeluarkan sangat memalukan, Chuuya menggunakan satu tangannya untuk menutup mulut. Dazai tahu aksi itu, lalu ia kembali menghampiri wajah Chuuya, menyisihkan tangan dan memagutnya kembali.

"Aku suka suaramu, tolong sebut namaku." Dazai berkata dengan lembut, namun Chuuya merasakan hasrat yang sangat besar sampai padanya. Ia bersemu, malu bercampur senang.

"Dazai," ucapan lemahnya cukup menarik senyum lebar di wajah si alpha. "Lakukan apapun, Dazai."

Dazai mengulum daun telinganya yang paling merah. Memberi jilatan hingga Chuuya terpejam geli. Sedikit saja ia mencengkram lengan kokoh pemuda itu, dan Dazai membalas dengan cubitan di puting kecilnya.

"Ahh.. Dazai—" Seruan Chuuya membuat kepemilikan si brunette berdenyut. Ia sudah ereksi sejak pertama Chuuya tampil dengan kimono putih yang hanya terikat di pinggang. Melihat bagian yang lain dan mempermainkan Chuuya dengan jamahan semakin menyiksa, namun Dazai punya mimpi yang amat kuat untuk melakukan ini sejak dulu.

Mencumbu bukan hanya tentang memasukkan sesuatu ke sesuatu, tapi menginvasi seluruh harta karun yang tidak pernah habis. Dan kali ini Dazai akan melakukannya dengan sangat baik.

Hampir seluruh bagian dari tubuh Chuuya sudah menerima ciumannya. Beberapa jejak tertinggal dan sejenak Dazai bangga sudah menodai Chuuya dengan labelnya. Dazai ingin mengulang aksi yang menggetarkan tubuh mungil itu sekali lagi, namun ia terdesak ejakulasi. Dia belum melakukan apa-apa pada liang Chuuya, namun spermanya sudah mendesak untuk ditumpahkan dalam tempat sempit yang hangat.

"Wajahmu merah sekali, kau baik?" Setelah kalimat itu terucap tanpa sadar, Dazai terkejut ia bisa bertanya walau seluruh sel otaknya meminta untuk menusuk sekarang juga.

Oh iya, Dazai sangat mencintai Chuuya.

"Uh? Aku yang seharusnya tanya. …Kau baik?"

Chuuya paham dengan hasrat seksual yang bergemuruh di arteri Dazai, karena itu ia bertanya dan menyingkirkan segala rasa malu. "Kemari," tangan melingkar di tengkuk si alpha. Wajahnya begitu dekat dan menatap lurus ke manik kopi. Dazai menelan ludah ketika kejantanannya semakin menegang.

"Aku siap, jadi jangan menahan dirimu. Kau tahu aku sangat menyukaimu dan ingin perutku penuh akan benihmu. Walau aku tidak bisa hamil saat ini—"

"Chuu—"

"—tapi aku ingin kau."

Chuuya tidak sedang heat, karena itu tingkat kemungkinan hamil sangatlah kecil. Tapi Dazai benar-benar terkejut si omega akan membawa topik kehamilan saat ini. Dazai tidak pernah memikirkan memiliki anak, jadi dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika ia merasa Chuuya memberinya kode untuk menghamili.

"Aku—"

Ciuman membungkam mulut sang alpha ketika Chuuya tahu Dazai pasti akan memulai sebuah kalimat dengan pemikiran suicidal yang dalam. Pria itu gemar menghancurkan suasana dengan kalimat sedih dan sebuah keputus asaan. Entahlah kebiasaan, atau memang sebuah ketakutan. Chuuya tidak ingin hal itu terjadi dan Dazai akan berhenti di tengah jalan.

Chuuya bukan pencium sebaik Dazai, namun bagi Dazai ciuman Chuuya adalah yang terbaik. Walau hanya sedetik, walau hanya bibir yang menempel tapi karena Chuuya yang melakukannya Dazai merasa dunia berhenti berputar dan ia berada di surga.

Ketika pagutan itu lepas, sekali lagi Dazai terkejut ketika tangan Chuuya pergi dari tengkuknya dan berpindah ke kejantanannya. Chuuya dengan rasa malu atas keberanian kini menelan ludah merasakan bagaimana besar milik Dazai di genggamannya. Chuuya malu, namun takjub. Matanya bersinar, dan Dazai menyukai di dasar samudranya tertulis kalimat, "aku menginginkan ini."

Kemudian Chuuya kembali menatapnya. Meminta. "Dazai—"

"Aku mengerti."

Chuuya menyingkirkan tangannya ke lengan si brunette. Mengerang ketika liangnya kedatangan benda yang begitu panas dan keras. "Nn! ah—"

Ketika pertama kali benda itu di sana, Chuuya tidak ingat kalau rasanya seperti surga. Dazai menekan secara utuh, memenuhinya dengan dorongan lembut untuk menghindari Chuuya tersedak desahnya sendiri. Dazai tidak melakukan pemanasan dengan jari, ia tahu Chuuya juga tidak berharap demikian.

"Kau besar sekali hha—" sebenarnya komentar itu mengindikasikan kalau Chuuya merasa sakit, tapi Dazai hanya tersenyum dan menatap wajah indahnya melenguh di bawah tindihan.

Tubuh omega diciptakan dengan sebuah hakikat untuk mencintai semua penis alpha. Tidak terkecuali Chuuya. Walau wajahnya mengerang sakit dan walau kukunya mencengkram tajam ke kulit Dazai, tapi rongga yang sedang penuh itu tengah melakukan hal menakjubkan. Berdenyut, basah, dan menyelimuti Dazai dengan kelembutan yang menyesakkan.

"Kau cantik." Untuk kesekian kali Dazai mengatakannya setelah melihat air mata dan kilau laut di mata safir Chuuya. Ia memagut bibirnya kembali, lalu mulai bergerak.

Dazai tidak lagi memikirkan dosa dan hukuman, ia hanya ingin Chuuya berteriak dan menyebut namanya.

"Ahh! Ah— Daz-zai hh!"

Ketika tempo ditambah, Chuuya menangis. Tapi ia berjanji untuk bertahan walau sakit sangat mengiris. Ia berjanji menerima semua kesalahan seorang Dazai Osamu, karenanya ia hanya terisak dan mendesah seraya menenggelamkan wajah di bahu pria itu.

"Sakit—" ia mengaduh lembut ketika Dazai menabrak titik terdalamnya. Chuuya berusaha menahan isak, namun membiarkan lenguhan lolos karena ia merasa lebih baik ketika melepaskannya.

Giginya rapat, ia memejamkan mata dan membiarkan Dazai melepas rengkuhannya. Ia siap jika Dazai melupakan cinta dan dikuasai nafsu, ia menerima jika Dazai kembali buas dan menyenggama seperti binatang. Ia hanya tidak siap ketika Dazai kembali memagut bibirnya. Menarik diri untuk sebuah dorongan yang membuat Chuuya menjerit, namun Dazai di sana untuk membungkam sakitnya. Ia disana mencium bibir Chuuya dan pipinya.

Dazai mengerang, menyebut nama Chuuya ketika miliknya sudah tidak bisa ditahan.

"Ah.. Ahh—"

Ketika Chuuya mencapai klimaks, Dazai menjeda sejenak. Chuuya tahu pria itu menahan diri lagi karena telah memberi kecupan di kelopak matanya yang basah.

"Kau tidak harus—"

"Aku mencintaimu."

Pernyataan Dazai membulatkan mata Chuuya. Mengatakan dengan penuh kejujuran namun Chuuya melihat rasa sakit di manik kopi, kenapa?

"Aku mencintaimu, Chuuya."

Dazai mengulang.

'Lalu untuk apa mata yang penuh putus asa itu?'

Chuuya bertanya pada dunia ketika Dazai meletakkan kepala di tengkuknya. Ia melenguh kembali tatkala Dazai kembali bermain. Tubuh Chuuya kembali dipompa hingga ia merasakan cairan yang hangat keluar dari milik Dazai sebelum hentakan terakhir membuat seluruh perutnya penuh. Ia mengerang ketika Dazai menarik diri tanpa melepas pelukannya. Masih membenamkan kepala dan Chuuya membelai surai coklatnya.

"Aku mencintaimu."

Chuuya mendengarnya lagi. Menepihkan lelah dan sakitnya karena senang mendengar kata-kata itu. "Lalu kenapa kau seperi ini?"

Ia bertanya dan Dazai membiarkan angin yang menerbangkan gorden untuk menjawab terlebih dahulu.

"Aku melakukannya terlalu jauh." Tubuhnya bergetar, entah kenapa namun Chuuya tetap merengkuhnya. "Aku takut kau hancur di tanganku."

'Oh.'

Chuuya melihat langit-langit kamar yang temaram.

Chuuya melihat sebuah kesalahan yang dia lakukan karena mengusir Dazai dari ruangannya hanya karena alasan takut.

Chuuya melihat sebuah kehangatan yang diberi Dazai ketika ia merasa dingin dan sendiri.

Chuuya melihat seorang lemah yang menangis di tepi pantai musim gugur, mengoceh tentang bagaimana ia merasakan jantungnya kembali berdetak hanya dengan sebuah senyuman.

Chuuya tersenyum.

Setetes air mata bahagia jatuh karena ia merasa dicintai.

"Aku mencintaimu, Dazai."

Dazai menarik diri, kembali bertemu sepasang permata biru yang diiringi senyum tipis.

"Jangan berpikir terlalu banyak." Tangan Chuuya membelai pipinya, menepihkan surai coklat yang lengket karena keringat namun tetap lembut untuk disentuh. "Kau harus hilangkan kebiasaan overthinking-mu itu, suicidal maniac."

"Chuuya.."

"Kalau kau terlalu memikirkan masa depan, kau akan melewatkan masa ini. Nikmati saja, Dazai. Aku disini, bermain dengan rambut ikalmu yang basah." Chuuya akan berkata sebanyak apapun yang dibutuhkan untuk menghentikan Dazai dari ocehan pesimisnya. "Kenapa kau tidak berbaring disini dan kita akan berpelukan sepanjang malam?"

Tidak ada tanggapan. Dazai masih dalam pikirannya, dan Chuuya hanya memberikan sebuah senyum hangat hingga akhirnya sang alpha mengangkat kaki kiri Chuuya ke bahunya.

"Aku masih ingin.."

To Be Continued


Astaga. Udah lama ga ngetik sampai 6000 kata XD

So in next chapter we'll start the storm babe.

See You

Cylva~