A Namjin's Fanfiction
.
Kim Namjoon | Kim Seokjin
.
#RMusic.
Pernah berpikir tentang alasan dibalik lagu-lagu rekomendasi dari Rap Monster di Twitter?
.
.
.
.
.
RM's song recomendation on 16th June 2016 via BTS_twt
.
.
.
.
Warning: descriptions of domestic violences and references of self-harm (not explicit)
.
.
.
.
Namjoon dan Seokjin bersekolah di sekolah menengah pertama yang sama, tapi baru saling mengenal dan berteman dekat saat mereka memasuki sekolah menengah atas yang sama juga. Sejak saat itu mereka tidak terpisahkan seperti sepasang potongan puzzle yang saling melengkapi. Lalu Namjoon menyadari perasaannya yang menyukai Seokjin lebih dari sekedar teman saat beberapa minggu lagi mereka lulus sekolah dan akan memasuki universitas yang berbeda, Namjoon mengambil jurusan music production sementara Seokjin menuruti pilihan orangtuanya mengambil jurusan management business. Kehilangan momentum untuk menyatakan perasaannya, Namjoon pilih memendamnya jauh di dasar sana, tapi tak pernah ingin menghilangkannya.
Bertahun-tahun kemudian pertemanan mereka masih terjaga, meski tentu saja sudah jauh berbeda dengan masa sekolah dulu. Tak ada telepon atau sms rutin setiap hari, apalagi pertemuan kecil sekedar makan siang bersama di restoran favorit mereka dulu. Kehidupan orang dewasa mengambil itu semua dari mereka. Setelah lulus, Namjoon mendirikan studio musik bersama teman kuliahnya dulu, Min Yoongi, dimana mereka menciptakan lagu-lagu yang lumayan laku dijual di pasaran. Ia juga membantu Yoongi mengurus cafenya, sesekali juga perform lagu-lagu mereka disana. Lalu Kim Seokjin.. kabar terakhir yang Namjoon terima, sebentar lagi ia akan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya.
"Sepertinya tadi aku sudah menyuruhmu pulang."
Suara Yoongi menghentaknya dari lamunan. Namjoon meletakkan ponsel yang ia genggam terlalu erat ke atas meja, masih berusaha memproses apa yang terjadi di sekitarnya. Saat sorot matanya bertemu milik Yoongi, barulah Namjoon menemukan kembali suaranya. "Umm, yeah.. sorry, tadi Seokjin menelpon."
"Lalu?"
"Sambungannya diputus begitu saja," getar di suaranya terlalu ketara, jadi Namjoon pilih diam beberapa detik sebelum melanjutkan, "dan yang terakhir kudengar suara tunangannya yang meneriakan namanya dengan nada marah."
"God! Seokjin benar-benar definisi malaikat yang tinggal di lubang neraka." Yoongi, yang telah berganti pakaian dan bersiap pulang dengan tas ransel di punggung, malah menarik bangku di hadapan Namjoon untuk diduduki. Rasa kesal dan frustasi di wajahnya seperti menjadi cerminan ekspresi Namjoon saat ini.
"Apa yang harus kulakukan, Yoongs?" Dalam hati Namjoon mengumpati suaranya yang pecah, karena jika dirinya selemah ini bagaimana ia akan melindungi Seokjin.
Giliran Yoongi yang mengambil jeda diam dengan sorot mata yang masih fokus pada Namjoon di depannya. Berteman dekat dengan Kim Namjoon rasanya mustahil jika ia tidak mengenal baik siapa Kim Seokjin itu, meski pertemuan mereka masih bisa dihitung dengan jari. Yoongi lebih banyak mengenal Seokjin dari ocehan-ocehan Namjoon yang terkadang ia ceritakan tanpa sadar, seolah Seokjin memang hal yang biasa menjadi bagian hidupnya. Berada di posisi Yoongi, entah siapa yang harus lebih ia kasihani, Seokjin atau Namjoonnya sendiri. Keduanya menjadi bukti nyata kejamnya permainan takdir.
"Kau sudah melakukan semua yang kau bisa, Namjoon. Musuh Seokjin sekarang bukan lagi si brengsek itu, tapi dirinya sendiri. Dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan seseorang dari dirinya sendiri."
"Jadi kita hanya menunggu dan melihat?! Yoongi, setiap kali dia datang menemuiku pasti ada luka baru di wajahnya, kau pikir itu tidak menyakitiku?!"
"Lalu, mau melapor ke polisi? Sedangkan Kim Seokjin sendiri menolak mengakui dirinya sebagai korban!"
Namjoon mengepalkan tangannya siap menghantam apa saja yang bisa melampiaskan rasa marahnya saat ini. Tapi akal sehatnya yang masih berfungsi mengatakan kalau hal itu akan membuatnya tak jauh beda dengan orang yang Yoongi sebut brengsek. "Aku harap aku bisa membunuhnya."
"Aku harap kau senekat ini saat sekolah dulu, saat Seokjin masih satu langkah jaraknya untuk diraih dan dijadikan milikmu."
Min Yoongi dan mulut kecilnya yang tajam. Entah Namjoon harus sakit hati atau malah berterimakasih karena kembali diingatkan pada sisi pengecut dalam dirinya. Ingin membunuh katanya? Mengakui perasaannya secara terang-terangan saja ia masih tidak mampu meski sudah bertahun-tahun lamanya.
"Aku pulang duluan. Silakan jika ingin menginap disini, asal jangan lupa kunci pintu depan." Yoongi pergi setelah memberikan satu dua tepukan di bahu Namjoon dan memberi remasan kecil disana. Sebuah gesture dimana ia menginginkan Namjoon untuk tetap kuat dan bertahan pada apapun yang menjadi pegangannya saat ini.
"Yoongs, terimakasih."
"Anytimes, Joon. Salam untuk Seokjin kalau bertemu."
.
.
.
Dan salam Yoongi masih belum tersampaikan bahkan hingga lima hari kemudian, karena memang Namjoon belum bertemu Seokjin. Pertemuan mereka akhir-akhir ini bukan Namjoon yang mengatur. Seokjin yang memutuskan kalau mereka bisa bertemu atau tidak. Namjoon sudah menyerah mengambil inisiatif, karena Seokjin pasti menolak dengan alasan tunangannya yang ada di rumah. Pernah suatu hari Namjoon nekat mendatangi rumah Seokjin dan yang membukakan pintu tentu bukan Seokjin. Kenekatannya hari itu berakhir dengan besok harinya Seokjin datang menemuinya lengkap dengan sudut bibir yang sobek dan menyisakan bercak darah, hanya untuk melarangnya agar tidak pernah datang lagi ke rumahnya. Saat itu Namjoon hancur untuk yang kedua kalinya, setelah yang pertama ketika mengetahui bahwa Kim Seokjin resmi menjadi milik orang lain.
Hari Jumat malam Namjoon memiliki jadwal perform di cafe. Jadi yang biasanya ia datang sejak pagi, kini ia bisa lebih santai untuk datang sekitar jam empat sore. Sebenarnya Namjoon tidak terlalu suka tampil sebagai penghibur, apalagi saat dirinyalah yang sedang sangat butuh dihibur mengingat lima hari ini rasa kantuk seperti bermusuhan dengannya. Tapi ia bisa apa jika sudah berurusan dengan Min Yoongi yang beralasan hal tersebut adalah bentuk lain promosi lagu-lagu mereka.
"Ah. Ah. Tes. Tes. Ehem.." Namjoon masih sibuk mengotak-atik microphone agar suara yang dihasilkan sesuai dengan keinginannya. Pengunjung cafe hari itu lumayan ramai karena besok sudah memasuki akhir minggu, membuat gugup mulai menghampiri Namjoon tidak peduli sesering apapun ia tampil. "Oke, ehem, selamat malam semua. Tepuk tangan untul kalian yang memutuskan tetap pergi keluar menikmati makanan dan minuman kalian setelah ramalan cuaca pagi tadi yang mengatakan bahwa hujan lebat akan turun malam ini."
Riuh tepuk tangan yang disertai sorakan-sorakan kecil menyambut pembukaan Namjoon sore itu. Hal yang cukup menjadi alasan senyum pertama Namjoon muncul hari itu. Ia sempatkan menatap satu persatu setiap pasang mata disana, termasuk Yoongi yang meninggalkan meja kasirnya sementara dan pilih berdiri di salah satu sudut ruangan bersama pacarnya, Jung Hoseok, yang memeluk erat dari belakang. Satu senyum tercipta disana, meski Namjoon sedikit menduka itu hanya sekedar ingin menguatkan Namjoon agar menyelesaikan penampilannya malam itu.
Namjoon duduk di kursi bar stool yang tingginya telah disesuaikan dengan stand mic di depannya, lalu meraih gitar akustik coklat yang menjadi benda wajib saat tampil. Namjoon sangat jarang menggunakan gitar saat menciptakan lagu, ia lebih memilih piano atau midi keyboard di studionya, jadi gitar yang ia pakai adalah yang memang disediakan oleh Yoongi di panggung kecil cafenya.
"Lagu pertama adalah permintaan dari teman, sekaligus partner producer, sekaligus atasan saya, Min Yoongi. Talk by Khalid. Well, yeah Hoseok, I think you guys really need that talk." Kalimatnya diakhiri dengan satu kedipan mata, dibalas acungan jari tengah oleh Min Yoongi yang masih nyaman dalam pelukan Hoseok. Namjoon tertawa, begitu juga para pengunjung cafe yang sempat melirik ke arah Yoongi.
Perlahan tapi pasti suara gitar yang dipetik jemari Namjoon mendominasi cafe, menarik penuh perhatian para pengunjung pada sosoknya di atas panggung. Kemudian menyusul suaranya yang melantunkan lembut lirik-lirik lagu. Sesekali melemparkan satu dua senyuman di tengah lirik yang ia nyanyikan. Kontak mata dengan para pengunjung cafe juga masih ia jaga. Yoongi pernah bilang kalau sebenarnya Namjoon itu seorang penampil yang hebat, jadi tak ada yang perlu diragukan saat ia sudah di atas panggung dan bernyanyi.
Lagu yang Namjoon nyanyikan sudah hampir menuju akhir saat pintu depan cafe terbuka dan satu lagi pengunjung bertambah disana. Seorang pengunjung yang berhasil menghentikan nafasnya sejenak, bahkan melupakan satu dua kata lirik lagunya. Kim Seokjin berdiri disana, mengenakan celana training hitam dan kaos putih tipis yang terlihat kebesaran di tubuhnya yang sekarang jauh lebih kurus dibanding dengan masa sekolah dulu, pandangannya bergerak mengelilingi ruangan. Namjoon sudah hampir melepas gitarnya dan meninggalkan panggung saat menyadari Seokjin bahkan tak mengenakan alas kaki apapun. Namun Yoongi lebih dulu tiba di hadapan Seokjin, lalu dalam sekejap tubuh tinggi Seokjin sudah berada dalam pelukan eratnya. Melihat hal itu, Namjoon putuskan untuk tetap di atas panggung, berpikir kalau ia bisa menenangkan Seokjin dengan cara lain selain pelukan hangat.
"Maaf sedikit mengacaukan lagunya. Saya harap lagu berikutnya bisa membayar kekacauan tadi." Namjoon berdiri dengan membawa mic-nya, membungkuk dalam pada para pengunjung cafe yang tentu saja merasa terganggu karena penampilan kacaunya tadi. Saat kembali berdiri tegak, matanya menemukan Seokjin yang masih dipeluk Yoongi. "Ehem. Lagu kedua ini khusus saya nyanyikan untuk orang yang selalu meminta saya untuk meninggalkannya, tapi tidak pernah sanggup saya lakukan, orang yang tidak pernah berhenti saya cintai tapi juga tidak pernah mampu memilikinya."
Setelah memasang kembali mic pada stand mic-nya, Namjoon juga kembali duduk bersama gitarnya. Pandangannya bertemu milik Seokjin yang masih nyaman berada dalam pelukan Yoongi. Lalu ada sensasi menggelitik yang nyaman di perutnya saat Seokjin memberikan sedikit senyumnya. Tuhan, Namjoon berjanji akan melakukan apapun agar tetap bisa melihat senyum itu menghiasi wajah Kim Seokjin.
"So, ladies and gentlemen, this is Fragile by gnash."
Sesaat fokus Namjoon hanya ada pada lantunan suara gitar yang ia petik, tapi saat lirik lagu mulai ikut ia suarakan, sorot matanya segera mencari sosok Kim Seokjin lagi. Karena lagu ini memiliki semua hal yang ingin Namjoon katakan padanya.
I'm sorry I saw you shaking
Stay with me for a day
You've got no one to hold you
'Cause you, you turn them all away
You don't wanna be alone
But you're better on your own
'Cause you're fragile
God, you're fragile
Seokjin disana sudah melepaskan diri dari pelukan Yoongi meski tangan pemuda yang lebih mungil tetap melingkari pinggangnya. Tatapannya lurus pada Namjoon yang sedang menyuarakan seluruh pikirannya saat ini tentang permintaan maafnya, tentang perasaan yang terus berusaha ia pendam, tentang Kim Seokjin.
I'm sorry I saw you breaking
But stay with me don't stray
God, I wish I would hold you closely
Don't think you don't feel the same
You're better on your own
But you don't wanna be alone
'Cause you're fragile
God, you're fragile
Namjoon menyadari buliran air yang mulai menggenangi mata Seokjin seperti ia menyadari air yang mengalir menuruni pipinya sendiri. Di sisi lain otaknya sekarang sibuk menyuarakan makian demi makian pada dirinya di masa lalu yang dengan bodohnya memilih melepaskan Seokjin dan memendam dalam-dalam seluruh perasaannya. Dirinya yang dulu seolah sedang mengambil peran menjadi seorang pahlawan, yang dalam kenyataannya justru malah menjadi monster pembawa mimpi buruk bagi orang yang terpenting dalam hidupnya.
God, I wish you could love you
God, I wish you could love you
God, I wish you could love you
God, I wish you could love you
Namjoon selalu berharap ada cara yang lebih mudah untuk mencintai seorang Kim Seokjin, tanpa perlu rasa takut kalau ia justru akan menggoreskan luka lebih dalam, tanpa keraguan yang membuatnya memilih mundur dan mengalah. Mungkin semuanya memang akan jauh lebih mudah jika dulu Namjoon bukanlah seorang pengecut. Tapi sesulit apapun cara yang ada sekarang, Namjoon rasa adalah hal yang mustahil untuk berhenti mencintai Seokjin.
Setelah petikan terakhir jarinya pada gitar menutup lagu, Namjoon segera menundukan kepalanya untuk bergegas menghilangkan sisa airmata yang turun tanpa permisi. Beberapa detik kemudian baru menyadari suara tepukan tangan dari para pengunjung yang hadir. Namjoon menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebagai bentuk penenangan diri di tengah gempuran degup jantungnya yang terlalu cepat, juga diam-diam mempersiapkan diri untuk menghadapi cara sorot mata Seokjin memandangnya setelah ini.
Saat ia kembali menegakkan kepala, Yoongi sudah berdiri tepat di depan panggung. Namjoon yang dilanda panik mendadak, refleks mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan begitu takut kehilangan Kim Seokjin untuk yang kesekian kali.
"Aku meminta Seokjin menunggumu di samping cafe."
"Thanks, Yoongi." Namjoon melepaskan gitarnya dengan cepat, bahkan nyaris menjatuhkannya. Lalu dengan tergesa menuruni panggung.
"Namjoon?"
Ia berhadapan dengan Yoongi, lalu menjawab dengan sedikit unsur kesal karena langkahnya yang dibuat tertahan, "Ya?"
"I wish you could love him too."
Namjoon tersenyum dan mengangguk pasti, sebelum berlari kecil meninggalkan ruangan cafe.
"Because he always loves you, Joon."
.
.
"Lagu yang indah, Namjoonie."
Adalah hal pertama yang Seokjin katakan setelah Namjoon berdiri tepat di sampingnya. Sang lawan bicara tak membalas apapun, karena sibuk melepas jaket bomber merah tuanya untuk ia sampirkan di pundak lebar Seokjin. Udara menjelang malam yang diperkirakan akan hujan lebat nyatanya cukup kejam menembus kaos tipis yang ia pakai.
"Ya, tapi jelas bukan laguku."
"Lagu-lagumu dan Yoongi juga tidak kalah indah." Katanya lirih, Namjoon yang hanya bisa melihat wajah Seokjin dari samping kesulitan membaca ekspresinya sekarang.
"Oke terimakasih, akan kusampaikan juga pada Yoongi nanti."
Sekarang Namjoon dapat melihat jelas senyum kecil milik Seokjin yang begitu ia puja. Dulu sekali, senyum itu punya saingan besar, karena suara tawa bahagia Seokjin selalu menjadi favorit nomor satunya. Sampai Namjoon rela melakukan hal-hal bodoh yang bisa memancingnya.
"Aku memutuskan untuk tidak kembali." Saat Seokjin menoleh, pandangannya langsung bertemu dengan milik Namjoon yang sedang memproses apa arti dari kalimatnya barusan, "dan memberitahu orang tuaku yang sebenarnya."
Namjoon bisa merasakan beban tak kasat mata yang selama ini mendiami pundaknya luruh perlahan. Perasaan lega luar biasa yang menguasai penuh dirinya nyaris membuatnya menangis saat itu juga. Seokjin mungkin dapat melihat jelas bagaimana beban itu perlahan meninggalkan Namjoon, karena senyumnya semakin terlihat jelas bersama suara tawa yang begitu Namjoon rindukan. Walaupun begitu airmata tetap ikut menghiasi keindahan wajahnya.
"Boleh.. aku memelukmu?" Namjoon membisikan pertanyaannya, seolah takut suaranya akan menghancurkan sosok rapuh yang kini sedang menangis terisak di tengah senyumannya. Lalu pertanyaan Namjoon hanya di jawab dengan anggukan kepala.
"Jin-ah, aku akan selalu disini apapun yang terjadi, oke? Jangan takut lagi."
Seandainya memang benar tak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan seseorang dari dirinya sendiri, maka Namjoon akan tetap terus berada di samping Seokjin sampai dia memohon pertolongan. Saat hal itu terjadi nanti, Namjoon hanya berjarak satu uluran tangan untuk diraih olehnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hello~ dengan ini aku resmi mencoba kembali menulis. Kata mencoba perlu digarisbawahi haha jadi harap maklum kalau feelnya masih belum dapat dan part namjinnya sangat sedikit. Maaf karena menghilang dan mengabaikan semua hutang ff yang ada. Seriously, I really need every support that I can get right now. Jadi kalau kalian membaca ini, semoga bersedia mampir ke kotak review. Let's spread the love for namjin and bangtan~
P.s: lagu aslinya dinyanyikan dengan sudut pandang orang yang berbeda dengan yang aku masukan disini. Silakan sambil di dengarkan lagunya dan membayangkan our badass rapper kim namjoon yang menyanyikan sambil main gitar :')
