Judul : Otonari-San

Chapter : 18

Crossover : Naruto x LoveLive

Pairing : Naruto x (Rahasia) :v

Genre : Ecchi, lemon, romance, drama, dll.

Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto dan LoveLive punya Sakurako Kimino

Rating : M

A/N :

Pas UAS, ulangan bunpo lucky sekali soal-soalnya gak terlalu susah :)

.

.

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ :)

.

.

.

.

.

.

.

.

WARNING (Langsung adegan 18+, back jika tidak suka)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Langit biru nan cerah, terik matahari, di atas pasir putih akhirnya telah berakhir hari ini. Dan tergantikan oleh langit malam dengan bintang-bintang sebagai penghiasnya. Setelah makan malam kami berencana uji nyali, tapi karena terlalu banyak minum alkohol salah satu teman kita bernama Kiba yang merencanakan hal tersebut sudah tertidur pulas. Aku melihat Honoka yang berulang kali mencubit pipi pacarnya tersebut yang sama sekali tidak merespon.

"Katanya mau uji nyali, tapi dia sendiri tidur duluan.." jelas Honoka yang membuatku tertawa.

"Tapi, hari ini memang cukup melelahkan.. kenapa kita tidak istirahat saja?" Saran Shii yang disetujui oleh lainnya.

Sama halnya denganku, hari ini terasa sangat melelahkan karena aku harus mengalami kejadian yang luar biasa menyusahkan. Aku memandang Nozomi yang mulai bersiap tidur di samping Honoka. Dia lagi-lagi bersikap seperti tak terjadi apapun. Kami menyewa satu ruangan yang cukup luas untuk 6 orang. Barisan di atas laki-laki adalah tempat para wanita untuk tidur.

Akhirnya kami menyiapkan futon di ruangan penginapan yang kami sewa. Shii mematikan lampunya sehingga gelap. Aku menatap langit-langit kamar sebelum mataku benar-benar tertutup untuk tidur pulas.

Tak berapa lama, aku melihat suatu mimpi dimana aku sedang berlarian di padang rumput dengan 5 ekor anjing pomeranian. Aku terjatuh ketika anjing-anjing itu mendorongku, aku tertawa-tawa ketika lidahnya menjilat-jilat wajahku. Tapi kemudian aku membeku ketika anjing itu mencium bibirku. Aku mulai memberontak ketika cengkeraman anjing pomeranian itu yang berubah menjadi kuku jari serigala.

Aaaaaaah!

Mataku langsung terbuka dari mimpi aneh yang aku rasakan, aku merasakan tubuhku tertindih oleh orang lain. Juga benda lembut yang menekan pada bibirku. Seketika aku tersadar apa yang sedang terjadi setelah lidah seseorang memasuki rongga mulutku, mengajak lidahku menari-nari dengannya. Aku mencengkram pinggangnya untuk berhenti, seketika dia melepaskan ciuman itu yang tercipta benang saliva atas permainan lidah kami.

"Ah, kau bangun.."

"Ko.. kotori-chan?"

Kali ini dapat kulihat wajah cantiknya yang merona setelah ciuman panas yang dia lakukan padaku. Dari wanginya aku tahu gadis ini adalah pacarku, aku tidak terkejut kalau yang menciumku adalah Kotori. Tapi, mengingat kami tidur bersama yang lainnya membuatku agak panik. Dia mengurung pergerakanku, tanpa sadar mataku tertuju pada baju jenis off-shouldernya yang terbuka dan melihat belahan dadanya.

Aku menelan ludahku sendiri dan berharap tidak ada darah keluar melalui hidungku. Oke, aku harus berpikir tenang. Ini bukanlah saat yang tepat untuk berpikiran kotor. Kotori-chan bukan tipe cewek yang menyerang tanpa ada sebabnya.

"Tunggu, Kotori-chan.. apa yang kau laku-huehh?!" Aku terkejut ketika dia menarik bajunya ke atas, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang telanjang tanpa apapun, oke kali ini hidungku benar-benar mengeluarkan darah.

"Naruto-kun tidak perlu memikirkan itu.." Kotori mulai menurunkan tubuhnya ke bawah sehingga dirinya tertutupi selimut, "..aku akan memberikanmu kenikmatan, jadi kau tenang saja.." lanjutnya yang menarik celanaku ke bawah sehingga langsung terpampang penisku yang sudah tegang.

"Aha~ sudah sebesar ini, aku tahu kau menahannya, 'kan..?"

"K-kotori..agh.." Aku langsung tak bisa berkata-kata ketika penisku memasuki rongga mulut Kotori, sial, ini hangat dan enak. Membuatku ingin meleleh.

Dia berhenti mengulum penisku lalu menempatkannya diantara kedua buah dadanya, aku tidak tahu Kotori bisa melakukan hal ini. Dia menahan dadanya dengan tangannya lalu bergerak menggesekkan penisku diantara buah dadanya. Dadanya menjadi licin berkat air liurnya dan cairan penetrasiku, sambil terus menggesekkan buah dadanya dia mengulum kepala penisku pada mulutnya.

"Mmnn.. hnmmn.. ah~ bagaimana Naruto-kun? Apa oppaiku enak..?" Kotori bertanya di sela kegiatannya yang semakin kencang menekan penisku, "Katakan sejujurnya atau aku akan melakukannya lebih keras lagi..hnm..mnmm.." dia mempercepat gesekan dan kembali mengulum penisku

"Ugh..ah! Kotori-chan! Kau terlalu kuat.." aku tak bisa menahannya ketika dia mempercepat gerakannya, aku kemudian duduk dan memandu kepalanya agar bergerak lebih dalam lagi, aku mulai merasakan akan mencapai puncak sedikit lagi.

"Agh..!" Aku langsung mengeluarkan cairan spermaku yang mengotori dada Kotori yang wajahnya yang memerah, aku terengah karena sudah mencapai puncaknya.

"Fuh.. akhirnya selesai~" jelasku merasa lega setelah selesai mengeluarkan hasratku, "..geh?!" Aku kembali dikejutkan dengan Kotori yang ingin mengulum penisku lagi.

Buru-buru aku langsung menghentikan Kotori lalu menariknya wajahnya agar bertatapan denganku. Tentu saja, ini terasa aneh. Kotori yang biasanya memulai hubungan seks dengan agresif itu tidak biasa. Meskipun aku senang sih. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya hari ini. Tapi, sebagai pacarnya aku harus tahu apa yang sedang dipikirkannya.

"Ada apa Kotori-chan? Kau tidak biasanya seperti ini.."

Seketika aku melihat wajah Kotori yang memerah menatapku tajam dengan bola matanya, itu terlihat manis seandainya saja itu bukan kemarahan yang ditujukan padaku. Aku yakin dia sedang marah meski aku tidak tahu apa sebabnya. Aku tersenyum canggung lalu mendapat dirinya yang memeluk tubuhku.

"Kotori.."

"Seharusnya hari ini menjadi kencan kita.."

"Eh?"

"Tapi kau malah menghilang.."

"Mau bagaimana lagi.. kau harus menemani Honoka-chan.."

"Aku melihatnya.. kau dan Nozomi-chan.." kepalanya merangsek ke atas menatapku dengan wajah cemberutnya.

Dia melihatnya..?!

Mataku langsung melebar mendengar ucapannya, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain tak berani menatapnya. Aku yakin sebentar lagi aku keringat dingin karena tak bisa mencari alasan lagi. Aku mulai menggaruk bagian belakang kepalaku. Tentu saja, aku masih syok ketika mendengar bahwa Kotori mengetahui apa yang aku lakukan dengan Nozomi di loker.

Aku mulai tertawa canggung menanggapinya, "Ahaha.. kau melihatnya..?"

"Kalian terlihat akrab sekali, membuatku berpikir sebenarnya apa hubungan kalian.."

Sialan, ini terlihat seperti aku sungguhan telah berselingkuh..

"Aku melihatmu bermain ciprat air di pinggir pantai bersama wanita lain padahal seharusnya itu aku..!"

Heh?

Aku terdiam sejenak mendengar alasannya yang sangat sepele, "Hanya itu?"

Kotori mengangguk, "Aku cemburu tahu.."

Oh jadi begitu, dia cemburu dengan ciprat air itu. Oh syukurlah, itu berarti dia tidak tahu aku melakukan hal yang lebih buruk dari itu. Sejujurnya aku merasa bersalah pada Kotori karena harus berbohong tentang kejadian di loker.

Maafkan aku, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu.

Ini pertama kalinya ada wanita yang cemburu ketika aku dekat wanita lain. Sejujurnya melihat reaksi berlebihan Kotori membuatku senang. Kalau dia cemburu, bukankah itu berarti dia memang menyukaiku?

Aku langsung melingkari tanganku pada pinggangnya lalu menempelkan keningku pada keningnya, kami saling berpandangan untuk beberapa saat. Rasanya sangat aneh bersikap romantis, aku seperti bukan diriku saja. Aku tertawa ketika melihat wajah Kotori yang cemberut.

"K-kenapa tertawa..?" Dia terlihat marah ketika bertanya, ini pertama kali aku melihatnya cemburu, memikirkan sifatnya yang manja membuatku senang.

"Ah, tidak.. aku hanya tidak menduga, ini untuk pertama kalinya aku melihat sisi lain Kotori-chan.." dia nampak terkejut dan salah tingkah, tangannya mengerat ketika memegang pundakku.

"Kau tidak menyukainya..? Sisi burukku.." Matanya melirik-lirik padaku.

"Eh? Jangan seperti itu, Kotori-chan. Ini bukan berarti aku mengkritikmu.." aku tersenyum padanya yang menatapku, "Aku hanya berpikir semakin menyukai Kotori-chan, karena aku percaya kau menyukaiku apa adanya dan bukan karena hal lain.. karena ini memang rasanya dicintai Kotori-chan.."

Kotori tiba-tiba menunduk menyembunyikan wajahnya dariku "I-ini.. kau mulai bertingkah seperti penggombal, itu yang kupikirkan.."

"Eh?! Benarkah?"

"Naruto-kun baka! Baka! Baka!"

"O-oy, kenapa kau menyebutku bodoh? Padahal aku sudah cukup malu mengatakan isi hatiku tadi.."

Dia menangkup wajahku dengan tangannya, "Naruto-kun, kau benar-benar bodoh.." setelah mengucapkan kalimat itu, hal yang kulihat dari Kotori hanya wajah memerahnya yang merona malu. Matanya seakan dia alihkan dariku, setelah itu dia melingkari tangannya di leherku lalu menyembunyikan wajah di perpotongan leherku.

"Apa yang sudah kau lakukan padaku, Naruto-kun..?" Bisiknya dengan suara kecil.

Apa ini? Tiba-tiba, dia jadi manis sekali. Dadaku langsung berdegub kencang hanya dengan ekspresi manis yang dia tunjukkan. Aku mulai menyentuh pinggangnya lalu turun ke bawah, meremas bongkahan bokongnya yang masih terhalangi celana pendek yang dia pakai.

"Kotori-chan, ayo lakukan itu.."

Sial, melihat betapa cantik dan manisnya pacarku membuatku tak tahan ingin menyentuhnya. Aku langsung mengangkat tubuhnya untuk terbaring di bawahku. Aku melihatnya yang terbaring pasrah di bawahku dengan setengah telanjang, aku mulai turun dan mencium keningnya.

"Kau ingin melakukannya di sini?" Kotori bertanya dengan guratan khawatir.

"Iya, tiba-tiba kau jadi manis sekali.. aku jadi tidak bisa menahan diriku lagi.."

"Jangan, nanti kita ketahuan.. Aku tidak ingin bertanggung jawab lho~"

"Baiklah, aku yang bertanggung jawab.. jika kita melakukannya dengan suara pelan, kurasa akan baik-baik saja.." jelasku mencoba meyakinkan Kotori, "ah, tapi aku tidak punya kontrasepsi.." betapa bodohnya diriku karena melupakan hal kecil itu.

"Aku tahu kau akan melupakannya, jadi aku membawanya.." ucap Kotori yang menunjukkanku sebungkus kecil dari benda itu.

"Memang yang diharapkan dari pacarku.."

Aku langsung memakai kontrasepsi pada penisku, sedangkan Kotori sedang melepas celana yang dia kenakan. Aku melihat pada sekitar, teman-temanku semuanya sudah tertidur pulas. Aku melihat Kiba yang tertidur di sampingku dengan dengkurannya. Aku tidak perlu takut dia bangun, dia sangat pulas saat tidur setelah mabuk. Shii terlihat tak akan terganggu saat berada di pojok sana. Honoka keliatannya sangat lelah jadi aku tidak perlu khawatir.

Lalu kalau Nozomi, aku memperhatikan tepat pada wajahnya yang terlihat jelas. Aku terkejut dalam diam ketika melihatnya yang ternyata masih terjaga, dia menatap dengan bola matanya dengan intens. Dia mengemut jari telunjuknya sambil menatapku dengan wajah polosnya. Nozomi tersenyum ketika pandangan kami bertemu, aku langsung membuang wajahku darinya.

Sial, dia masih bangun. Entah bagaimana ini membuatku tertekan. Apa dia berniat mengintipku dengan Kotori juga?! Sudah kuduga, ada yang tidak beres dengan otak wanita ini. Tapi, sekarang aku tidak bisa tiba-tiba mengubah pikiranku, 'kan? Apa-apaan seks yang dilihat orang lain, ini menggelikan.

"Naruto-kun, ada apa?" Kotori menatapku dengan khawatir lalu dia menyentuh pipiku, "Apa ada yang mengganggumu?"

"Ah, tidak.. tiba-tiba, aku hanya merasa gugup.."

Aku tidak bisa mengatakannya pada Kotori di saat seperti ini. Dia sudah berpikir bahwa semua orang telah tertidur. Tapi, melakukannya saat dilihat orang lain itu membuatku terlihat bejat. Aku mengetahuinya tapi tak bisa bilang padanya. Kotori, maafkan aku.

"Ehehe~ benar juga ya.." Kotori tiba-tiba tertawa membuatku memandangnya.

"Kenapa..?"

"Melakukannya di saat teman kita yang tertidur memang menegangkan.." tangannya mengelus wajahku, "Aku juga sama takutnya, tapi karena ini sudah terlanjur aku juga jadi tak bisa menahannya.. yang harus Naruto-kun lakukan sekarang hanyalah menatap padaku seorang.."

Kotori-chan, kau memang cantik hari ini.. aku tersenyum padanya lalu mengelus kepalanya, "Gomen, aku membuatmu khawatir.."

Aku tidak peduli bagaimana Nozomi melihat kami, mataku hanya harus tertuju pada wanita di depanku. Aku mendekat pada wajahnya, lalu menempelkan bibirku pada bibir Kotori-chan. Kami terjatuh dalam ciuman yang lembut. Tangannya merangsek pada kepalaku, menekannya membuatku memperdalam ciuman manis itu.

Ketika bibir Kotori terbuka, aku langsung melesakkan lidahku memasuki rongga mulutnya, kami saling bersilat lidah hingga menimbulkan suara decapan. Tanganku turun pada dadanya, lalu meremasnya dengan cara memutar. Ciumanku berpindah pada leher Kotori, mencium wangi keringatnya yang memabukkan. Kedua tanganku mulai meremas kedua buah dadanya yang putingnya sudah mengeras.

"Ah.. mnn.." desahan kecil dapat kudengar, aku berpindah lalu menangkup buah dada sebelah kanannya dan menjilat putingnya yang mencuat, wajah Kotori mulai menunjukkan ekspresi kenikmatan dengan nafasnya yang mulai terengah.

"Aah.. hnnm.. ahn~ ah!" Aku berinisiatif mengemut puting dadanya di dalam mulutku, sedangkan tanganku yang satunya memainkan puting dada sebelah kiri Kotori dengan jariku.

Sambil terus mengemut putingnya, aku melirik ke atas untuk melihat ekspresi erotis dari wajahnya yang memerah dengan pandangan sayu. Beberapa kali bibirnya memanggil namaku dalam desahannya.

"Ahm.. N-naruto-kun.. uumn.. ah!" Dia mengeluarkan desahan erotisnya saat aku sengaja menggigit putingnya, reaksinya memang sangat bagus.

"Suaramu.." Kotori menatapku ketika aku mulai bicara, wajahnya terlihat kebingungan ketika kami saling menatap.

"Gomen, Naruto-kun.. suaraku terlalu berisik, 'bukan?" Aku tersenyum padanya dan menggeleng.

"Tidak, bukan begitu.." aku memasukan jari tanganku pada sela jari Kotori yang tepat ada di samping kepalanya, kami saling berpandangan dengan wajah memerah.

"Justru aku ingin mendengarnya lagi.." Kotori terlihat terkejut mendengar jawabanku, "Itu terdengar sexy.. aku tidak bisa menunggu lagi, aku ingin cepat-cepat memilikimu.." aku mengatakan hal yang terdengar seperti putus asa, meskipun hal ini akan dilihat oleh Nozomi. Entah bagaimana aku sudah tidak peduli dengan itu lagi.

Wajahnya terlihat merona malu, "Naruto-kun, kau juga terlihat sexy untuk malam ini.."

"Eh?"

Kotori tersenyum lembut padaku, seperti gula entah bagaimana itu bisa saja membuatku diabetes. Wanita ini bahkan terlalu baik untukku, membuatku merasa beruntung karena memilikinya. Dia menarik diriku dalam pelukannya yang terasa tulus itu, rasanya aku ingin berada dipelukan untuk waktu yang lama.

Aku kembali mencium bibir basahnya yang entah bagaimana membuatku merasa candu, Kotori melebarkan selangkangannya ketika aku mulai berusaha menempatkan penisku pada lubang vaginanya. Melakukan seks saat dilihat orang lain, tidak terlihat seperti diriku sama sekali.

Tapi, saat ini aku membutuhkannya..

Kami sama-sama menguatkan genggaman pada tangan kami. Aku bergerak mendorong penisku yang perlahan memasuki lubang vagina Kotori yang sudah basah secara perlahan. Ini sangat ketat, berapa kali aku menyentuhnya. Penisku terasa dibungkus oleh benda hangat yang membuatku ketagihan.

"Ah.. mnm... ahn~ aku merasakannya.. aahmm.. Naruto-kun di dalamku.." Aku berhasil memasukan penisku pada vaginanya, aku memandang lagi wajah manisnya yang tersenyum.

"Aku bergerak.." aku meminta izin sebelum mulai bergerak dengan perlahan untuk merasakan kenikmatan bersama, penisku yang bergesekan di dalam vagina Kotori terasa dimanjakan dengan betapa basah, lentur, dan licinnya di dalam sana.

"Ah.. ah.. ah..! Naruto-kun~ AH~!" Aku bergerak lebih cepat membuat dada Kotori yang bergoyang erotis di hadapanku, aku turun ke bawah pada dadanya lalu meremas dan menjilatnya, "Ahn~ Iya, lakukan ah! Dengan lebih kuat~~ ah! Ahmn..!" Aku menggigit putingnya lalu menariknya sedikit untuk menggodanya, aku melirik pada wajah Kotori yang terlihat sangat terangsang dengan perlakuanku.

Aku sedikit terbangun lalu menahan tubuhku dengan tangan yang ku gunakan agar tidak menindih tubuhnya, Aku menahan paha Kotori ke atas lalu menghujamnya dengan keras. Kotori terlihat kewalahan memegang bantalnya yang dia gunakan untuk menahan pergerakan tubuhnya. Suara tabrakan dari gesekan persetubuhan kami mungkin sudah terdengar meluas di ruangan ini.

"Ahn~ Naruto-kun! Ah! Ah! Aku akan keluar.. Ahn..! Hyah.. ah..!" Aku mempercepat gerakan pada pinggulku ketika merasa vagina Kotori yang mengetat dan mencengkram erat penisku.

"Agh.. Kotori-chan..! Ini luar biasa.. kau mencengkram erat penisku..! Ah.." aku bergerak lebih cepat ketika aku mulai merasa akan mencapai puncak juga, mataku tanpa sadar melirik pada Nozomi yang sedang melihat pada kami dengan wajah memerah dan menjilat jari telunjuknya sendiri.

Dia menatap tepat pada mataku, aku langsung mengalihkan perhatianku ke arah lain. Berhenti menatapku seperti itu, kenapa kau selalu mengganggu disaat hal yang penting. Aku tidak berharap untuk semua itu. Kenapa aku harus mengingatnya di saat aku mulai jatuh cinta pada wanita lain.

"Kotori-chan, aku akan datang..!" aku mencoba mengalihkan perhatianku pada Kotori.

Aku hanya perlu melihat pada Kotori seorang, "Aku juga..! ah! Kau bisa mengeluarkannya di dalam..ah! Ahn~ ah.." aku merasakan tangan Kotori yang mengelus wajahku, "Ah.. Naruto-kun~ ahnm.. ayo.. ah! Keluarkan bersama..! Ahn! Ah.. ah! Ah!"

Aku bergerak lebih cepat sambil menatap Kotori yang mendesah di bawahku, aku terus menatapnya agar tidak memikirkan Nozomi. Tangan kami kembali saling menggenggam dan menatap satu sama lain. Aku hanya mencintai Kotori. Aku hanya ingin memikirkan Kotori. Aku harus memonopoli pikiranku sendiri agar tak memiliki penyesalan apapun. Hanya Kotori satu-satunya yang aku kasihi saat ini. Nozomi tidak memiliki apapun untuk kembali ke dalam pikiranku.

"Aku mencintaimu, Kotori-chan.. ha.. agh.."

"Naruto-kun.. aku juga mencintaimu.. ah! Ah!"

Aku menutup mataku dan terus mengatakan bahwa aku mencintai Kotori, "Aku mencintaimu.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu.."

"Naruto-kun peluk aku..!"

Aku tersenyum dan kembali membuka mataku untuk menatap Kotori, "Aku mencin-" aku berhenti berucap ketika yang kulihat bukanlah Kotori.

Aku mencintaimu, Uzumaki-san..

Nozomi..

Yang kulihat adalah wajah Nozomi yang tersenyum kepadaku lalu menarikku ke dalam pelukannya..

Aku langsung bergerak dalam satu hentakan ketika akhirnya aku mengeluarkan spermaku yang menyembur keluar memenuhi kontrasepsi yang kugunakan, "AAAaahhhh~~!" Aku mendengar desahannya ketika kami sama-sama mencapai puncak, aku terdiam beberapa saat dalam pelukannya.

"Hah.. hah.. ha.. Akhirnya Naruto-kun mengeluarkannya.. itu terasa penuh, syukurlah aku bawa kondom.." aku kembali tersadar ketika mendengar suara Kotori, aku bahkan tak berani menatap wajahnya sekarang.

Aku menggeretakkan gigiku dan meremas futon di bawahku. Aku melakukannya lagi, aku lagi-lagi menyakiti Kotori. Aku melakukan seks dengannya tapi aku membayangkan oranglain. Betapa berengseknya diriku ini, aku tahu aku laki-laki yang paling buruk di dunia ini.

Maafkan aku, Kotori.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Normal pov*

Naruto melihat keluar jendela toko buku, terlihat hujan gerimis sedang mengguyur kota Tokyo hari ini. Sebentar lagi musim panca robah sehingga hujan beberapa kali turun. Hari ketika berlibur di pantai adalah hari yang sulit sekali, akhirnya Naruto tak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya pada Kotori. Naruto merasa bersalah untuk berbagai alasan tentunya.

Meskipun hari itu berakhir menjadi buah kemanisan bagi hubungannya dengan Kotori. Tentu saja, Kotori berpikir bahwa Naruto sangat romantis mengatakan aku mencintaimu berulang-ulang ketika mereka melakukan itu. Walaupun sebenarnya Naruto membayangkan wanita lain saat itu. Bahkan, Naruto sempat berpikir untuk pindah dari apartementnya demi menghindari Nozomi.

Sekarang Naruto merutuki hal tersebut di pojok rak penjualan buku tanpa peduli orang-orang yang terganggu dengan kemurungannya. Dia merasa seperti pengecut jika pindah dari apartment itu. Salah satu pria botak berkacamata menghampiri Naruto. Pria itu adalah manager di toko buku tempat Naruto bekerja, dengan kata lain dia atasan Naruto.

"Uzumaki-kun, ada yang perlu saya bicarakan denganmu.." ucapnya pada Naruto yang fokus dengan kilauan pada kepalanya yang botak, Naruto sedang berusaha keras menahan dirinya agar tidak tertawa.

"Baik, ada apa Pak Manager?" Tanya Naruto ketika melihat seorang gadis bersurai pendek hijau-kecoklatan muncul dari balik Pak Manager.

Bersamaan itu Pak Manager mulai mengenalkannya dengan Naruto, "Anak ini pegawai baru, dia baru masuk hari ini.."

Gadis itu mulai memperkenalkan dirinya, "Saya pegawai baru hari ini, nama saya Hanayo Koizumi.. Yoroshiku onegaishimasu..!" Jelasnya yang menunduk pada Naruto.

Naruto ikut menunduk untuk meresponnya, "O-oh, Aku Naruto Uzumaki.. Y-yoroshiku onegaishimasu.."

"Begitulah, karena dia baru pertama kali bekerja di toko buku.. aku ingin kau membimbingnya, aku terlalu sibuk mengurus pesanan barang.." ucap Pak Manager yang menepuk punggung Naruto dengan tertawa sejenak, "Itu saja, tolong ya Uzumaki-kun.."

Eh? Tunggu, itu serius aku?!

Naruto jadi salah tingkah telah diberi kepercayaan oleh atasannya hanya bisa menangisi dalam hati kepergian Pak Manager. Naruto terdiam beberapa saat di sana, tidak tahu harus membicarakan apa dengan rekan kerjanya yang baru. Hanayo sang rekan kerja yang baru menghampiri Naruto dengan wajah penuh semangatnya.

"Baiklah, senpai.. pekerjaan apa yang harus saya lakukan?" Tanyanya penuh antusias pada Naruto.

"Sebelum itu, kau terlalu formal.."

"Ah, sumimasen.. Aku akan coba bersikap sewajarnya..!" Ucap Hanayo.

"Baiklah, sekarang ikuti aku.." Naruto mulai melangkah ke beberapa penjuru toko buku dengan diikuti oleh Hanayo, "Sebenarnya bekerja sebagai penjaga toko buku cukup mudah, kau hanya harus berkeliling dan mengecek persediaan stok barang yang berkurang lalu mendatanya bersama supervisor.." jelas Naruto pada Hanayo yang hanya mengangguk-ngangguk.

"Sebenarnya kalau dapat shift pagi ada kegiatan cleaning, kita akan mengelap barang yang kotor dari debu dan mengisi stok di rak.. tapi, karena sekarang sudah siang kurasa tidak perlu.." jelas Naruto yang melihat pelanggan nenek tua yang kelihatan mencari sesuatu tapi ragu bertanya, Naruto menghampiri seorang nenek itu.

Hanayo mengikuti Naruto dan melihat Naruto yang menanyakan apa yang coba di cari oleh si nenek yang menunjukkan gambar sebuah buku yang dia cari di ponselnya, Naruto kemudian menuntun nenek itu ke tempat buku itu di letakkan yang berada di atas rak. Naruto membantu si nenek untuk mengambilkannya. Si nenek tersenyum pada Naruto dan merasa senang bahwa buku yang dia cari ditemukan. Nenek itu kemudian pergi ke meja kasir.

"Senpai, kau sudah sangat ahli ya.." kagum Hanayo pada Naruto yang tersenyum padanya.

"Tentu saja, aku lebih dulu bekerja di sini.. pekerjaanmu hanya melayani mereka seperti tadi, jadi kau juga harus hapal seluk beluk di tempat ini.. ah, tapi karena Pak Manager menyuruhku membimbingmu berarti kau ditempatkan di rak buku pelajaran sama sepertiku.." Naruto kemudian mendengar beberapa teman kerjanya yang memanggilnya untuk mengangkut barang kiriman, "Barang kiriman sudah datang, kau mau membantu? Sepertinya itu pekerjaan yang cocok untuk pemula.." Hanayo langsung mengangguk dengan saran Naruto.

Mereka pergi menuju belakang toko yang terlihat truk yang membawa kiriman, Naruto memberikan satu dus peralatan tulis yang tidak terlalu berat pada Hanayo. Hanayo mengantarnya pada gudang penyimpanan yang diarahkan oleh Naruto. Mereka terus bolak balik mengangkat barang kiriman bersama pegawai yang lain hingga selesai. Beberapa saat kemudian, semuanya tepar di gudang penyimpanan.

Bekerja mengangkut barang adalah pekerjaan paling melelahkan dari pegawai toko buku. Ini pertama kalinya Hanayo bekerja sekeras itu dalam hidupnya. Gadis berumur 18 tahun itu merasa telah mengerti kerasnya menjadi orang dewasa saat mencari uang. Naruto muncul di hadapan Hanayo dengan membawa sebotol teh olong dingin pada Hanayo.

"Gokurosama~" ucap Naruto menempelkan teh olong itu pada pipi Hanayo, kemudian ikut duduk di samping Hanayo.

"Hah.. bekerja angkut barang itu melelahkan, tapi aku harus bertahan dengan pekerjaan ini.." Hanayo mulai bergumam tentang pekerjaan barunya.

"Tidak juga, ini hanya terjadi saat ada barang kiriman setiap 3 minggu sekali.. selebihnya kita hanya melayani pelanggan atau mengecek barang saja.." jelas Naruto yang sedang membuka tutup botol minumannya lalu meminumnya.

"Sou ka? Kalau begitu aku akan berjuang.."

Naruto melirik pada Hanayo di sampingnya yang sedang menggenggam botol teh olong dengan wajah murung, Naruto merasa canggung jika tak memulai pembicaraan. Terutama pada juniornya yang baru dikenal itu akan terasa canggung. Naruto berusaha keras mencari topik pembicaraan yang cocok pada situasinya ini.

"Omong-omong Koizumi-san, apa kau ke Tokyo untuk kuliah?" Tanya Naruto pada Hanayo yang menggeleng.

"Tidak, aku ke Tokyo dengan niat mencari pekerjaan.. lagipula, orangtuaku tidak mampu untuk mencukupi biaya kuliah.." jelas Hanayo yang melihat pada Naruto yang menatap takjub padanya.

"Itu berarti kau ingin berkarir ya, itu hebat.." Naruto menggaruk kepalanya dengan tertawa lepas, "Aku sih masih dibiayain orangtua, meskipun pada akhirnya aku bekerja karena tidak enak hati.."

Setelah itu, mereka mulai berbincang soal karir yang ingin dituju. Naruto akhirnya tahu kalau Hanayo datang dari Hokkaido setelah menyelesaikan kursus penata rambut di sana. Setelah itu, Hanayo bertekat untuk pergi ke Tokyo dan mulai mencari pekerjaan sampingan untuk kebutuhan hidupnya. Hanayo juga masih mencari pekerjaan sebagai penata rambut di beberapa salon.

Mendengar cerita Hanayo membuat pandangan Naruto terbuka dengan orang-orang yang kesulitan dalam kebutuhan ekonomi keluarganya, meskipun Naruto tidak tega mendengar cerita Hanayo yang berkata harus melunasi sebuah hutang dan membiayai rumah sakit karena Ibunya mengalami stroke.

Tanpa terasa hari sudah larut, semua pegawai di toko buku miyamori shoten mulai berbenah merapikan toko buku yang akan di tutup. Sebelumnya semua pegawai berkumpul di dalam ruang penyimpanan buku-buku. Para pegawai yang sudah mengganti bajunya itu duduk mengelilingi meja di ruangan itu lalu mulai memegang sekaleng bir dan terdapat makanan kecil beserta pizza di meja tersebut.

"Baiklah, bersulang untuk teman baru kita sekarang..!" Jelas gadis bersurai biru dengan kulit kecoklatan bernama Fuu, semua orang mulai bersulang dengan sekaleng bir mereka. Kecuali pegawai di bawah umur meminum jus jeruk.

"Eeh, sebenarnya kalian tak perlu merayakan kedatanganku.." ucap Hanayo yang merasa tak enak dengan keramahan rekan kerjanya.

Fuu menepuk pundak Hanayo, "tidak apa-apa, ini sudah jadi tradisi biar akrab, dulu Naruto juga kami sambut.." Hanayo hanya tertawa garing menanggapinya, "Lagipula, ini hanya alasan kami yang ingin ditraktir oleh Pak Manager, benarkan Pak Manager yang murah hati~?" Tanya Fuu meledek Pak Manager yang kepalanya berkilauan dengan memasukan uang kembalian ke dompet, hasil membeli pizza untuk para pegawainya.

"Hah~ dasar kalian ini suka sekali memerasku ya~" semua orang tertawa mendengar ucapan Pak Manager yang menyindir mereka, baginya para pegawai itu sudah seperti anak sendiri, jadi dia tak begitu memikirkannya.

Hanayo sempat berpikir kehidupan di Tokyo akan sesulit apa, tapi setelah menerima perlakuan baik dari teman-teman kerjanya dia merasa hal ini tidak seburuk yang dia pikirkan. Naruto tersenyum ketika melihat Hanayo yang mulai akrab dengan pegawai lainnya. Naruto masih ingat jelas kalau pertama kali dia datang, dia beberapa kali di kerjai oleh para senpai di tempat itu. Bahkan, Fuu selalu saja menggodanya dengan mengatainya perjaka. Padahal saat itu Naruto sudah melepas keperjakaannya.

Setelah selesai dengan pesta penyambutan itu, semua orang berpisah di pintu belakang toko. Naruto berjalan beriringan dengan Hanayo yang membawa sepedanya. Hingga persimpangan Hanayo izin pamit pada Naruto.

"Senpai, terima kasih untuk membimbingku hari ini.. setelah ini, aku akan bekerja keras.." jelas Hanayo yang menunduk hormat pada Naruto.

"Hm.. semangat ya.."

Hanayo mengangguk antusias, lalu mulai menaiki sepedanya melalui jalan yang berbeda dengan Naruto yang menuju arah stasiun. Jam telah menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Pada jam pulang kantor seperti ini biasanya kereta akan di penuhi orang-orang, Naruto sudah membayangkan betapa sulitnya jam pulang kantor di Tokyo.

Menempelkan kartu untuk membayar pintu masuk yang otomatis terbuka, Naruto langsung pergi ke peron yang di tuju. Matanya agak mengantuk karena kelelahan, beberapa kali Naruto hampir tertidur sambil berdiri. Tak butuh waktu lama kereta muncul sesuai jadwal kedatangannya. Naruto lega karena di dalamnya masih belum terlalu penuh oleh orang-orang.

Sambil berdiri di depan pintu kereta Naruto melihat keluar jendela yang terdapat pemandangan kota dengan kerlap-kerlip lampu-lampu. Tiba-tiba kereta mulai berhenti di stasiun yang akan menjadi neraka penuh kesesakan. Naruto sudah tahu dan mulai bersiaga dengan hal tersebut dan benar saja puluhan orang-orang memasuki gerbong kereta dengan brutalnya hingga Naruto langsung tergencet di pojok.

Seharusnya tadi meskipun lama aku naik bis saja.. Naruto menyesali keputusannya naik kereta.

Naruto tiba-tiba di desak oleh seseorang di depannya yang terdorong oleh kerumunan orang, "Ah gomennasai.." ucap wanita yang menggencet Naruto.

"Ah tidak apa-apa.." ucap Naruto menatap wanita di depannya yang bertemu pandang dengannya dengan senyuman yang sering Naruto lihat dari penghuni di sebelah rumahnya, "Konbanwa, Uzumaki-san.." jelasnya yang membuat Naruto melebarkan matanya dengan pandangan jengkel.

"Ka-kau.. kenapa ada di sini?! Ugh-" Naruto kembali tergencet ke pojok.

"Kenapa kau terkejut? Kita kan tinggal di tempat yang sama.." jelas Nozomi yang membuat Naruto merutuki pertanyaannya, "Kya..!" Nozomi berteriak ketika bokongnya tak sengaja tersentuh kaki seorang om-om kantoran yang di dorong massa, dia langsung terdorong ke depan pada Naruto.

"Ah gomennasai nee, Ojou-san.." ucap om-om itu yang meminta maaf pada Nozomi yang langsung di tarik Naruto ke pojok di dekat pintu.

Naruto tersenyum pada om-om itu, "Tidak apa, Ojisan.. maafkan kami juga ya.." ucap Naruto pada om-om tersebut, lalu kereta tiba-tiba berdecit hingga Naruto menahan dirinya pada pintu kereta yang membuatnya mengurung Nozomi pada kungkungannya.

Mereka tanpa sadar saling berpandangan dengan jarak yang terlalu dekat, Naruto melihat langsung kedua bola mata hijau Nozomi yang mendongak padanya. Wanita itu tersenyum pada Naruto yang membuang wajahnya melihat keluar jendela. Naruto merasakan tangan Nozomi yang mencengkeram erat jaket yang di gunakannya.

"Arigatou, kau melindungiku.." Jelas Nozomi yang menunduk lalu tersenyum tipis.

"A-aku melakukannya bukan untuk melindungimu.."

Ke-kenapa hal seperti ini selalu terjadi padaku?! batin Naruto frustasi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC itu indah..

Hayoo ada apa ini? Muncul lagi satu heroin yang bikin cerita makin ruwet.. AHAHAHA!

Setelah ini kalian mendukung yang mana? :v

Erocc sih memilih hmm.. yeh, pokoknya masih panjang beud ceritanya wkwk