"JAE BANGSAAAAAT! MAKANAN GUA WOI!"

Tersangka yang namanya dikumandangkan itu hanya tertawa kencang sembari berusaha berlari dari kejaran sahabatnya yang berasal dari Toronto itu.

"YA MAAP NYET, GUA KAN GATAU!" teriak Jae, ia bahkan sibuk melarikan diri sembari menengok ke belakang tanpa menyadari di depannya ada seseorang.

BRUK!

"A-aww.." Yang ditabrak hanya bisa terduduk dan meringis kesakitan karena kakinya terkena ujung buku, Jae sendiri juga meringis sebentar lalu terkejut melihat seseorang di depannya.

"E-eh?! Sungjin?! Lu gapapa?!" Pemuda bername-tag 'Park Sungjin' itu mengangguk pelan, ia mencoba berdiri namun sulit.

"Lu beneran gapapa? Itu kakinya memar-memar loh." Jae membantu Sungjin untuk berdiri, yang ditanya hanya bisa meringis pelan karena kakinya sakit sekali.

Tentu saja Jae tahu siapa orang yang ditabraknya ini, seisi sekolah bahkan patuh kepadanya. Sungjin adalah ketua OSIS, terkenal karena katanya ia manis.

"S-saya gapapa kok.." Sungjin menjawab pelan, Jae menatapnya panik. "E-eh itu kaki lu berdarah loh! Maaf ya, abis ini lu boleh nampar gua sepuas-puasnya di UKS."

"Hah? Emangnya mau-- AHH!"

Wajar saja Sungjin berteriak kencang, bagaimana tidak? Jae menggendongnya dan lari menuju UKS yang ada di ujung koridor, Sungjin yang tidak ada persiapan ya terkejut.

"J-jangan lari-lari!" Sungjin sontak mengalungkan lengannya pada leher Jae, lalu menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jae karena malu.

"Bodo lah! Gua nggak mau ada berita kalo ketua OSIS jadi lumpuh gara-gara anak kelas XII - 2 yang lari-lari nggak jelas di koridor."

'Ya iyalah Saipul, ini kan salah lu juga.' Sungjin menggerutu dalam hati, lalu ia melepas lengannya pada leher Jae. Tangannya gatal ingin menampar Jae, dan untungnya ia sudah duduk manis di bankar dengan bantuan Jae.

"Gini ya, karena gua nggak tau gimana caranya ngobatin orang, mending lu kasih tau aja alat apa sama obat apa yang harus gua bawa kesini."

"Emhh nggak usah repot-repot, Kak. Nanti saya--"

"Ahh bacot! Buruan nih, keburu lukanya infeksi!" Sungjin panik sendiri ketika Jae marah, ia sendiri tidak bisa menenangkan orang. "E-eh, revanol, betadine, kapas pembalut, kasa, sama micropore. K-kalo ada pinset sama bengkokan, d-dibawa aja, Kak."

"Pfft, lu ternyata lucu ya kalo lagi panik hahaha. Yaudah tunggu ya, jangan kangen, gua tau kok kalo gua tuh bikin kangen."

Jae pergi untuk mengambil obat-obat dan alat yang disebutkan Sungjin tadi, sedangkan sang ketua OSIS hanya termangu mendengar kata-kata Jae tadi.

By the way, tadi Jae merayu-nya dan memuji-nya ya?

myday6

"M-maaf ya Kak, saya jadi ngerepotin." Jae melirik dan mendengus, ia mengacak-acak rambut Sungjin. "Harusnya gua yang minta maaf dong, kaki mulus kayak gini gua bikin luka."

Setelah Jae berbicara, hening melanda mereka. Karena tidak terbiasa dengan suasana yang sunyi, Jae memecah keheningan. "Btw, lu.. manis juga ya."

Rona merah muncul di wajah Sungjin, ia menunduk dalam. "A-ah, enggak kok. M-muka saya biasa aja. K-kakak sendiri juga ganteng." balasnya.

Jae terdiam, ia menatap intens kearah Sungjin. Alis tebal, mata bening dan bersinar, pipi chubby, hidung besar, bibir merah merekah, kulit putih bagaikan porselen.

Cantik.

"Sungjin, lu.. cantik." Keduanya terdiam, suasana begitu sunyi sampai-sampai hanya suara jam, suara angin dan suara napas mereka yang terdengar.

"Sungjin."

"E-eh, a-apa Kak?"

"Jadi pacar gua, mau nggak?" Sungjin terbelalak, wajahnya memerah layaknya tomat matang. "K-kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu?"

"Lu manis, gua gemes."

Tuhan, doakan semoga nasib Sungjin ke depannya baik-baik saja ketika berhadapan dengan kakak kelas tukang rayu bernama Jaehyung ini.

TBC