Full House


Chapter 22. Melepas Rindu.

"ABANG TAUFAN?!" seru FrostFire, Glacier, dan Supra nyaris bersamaan. Ketiganya seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Ka-Kapan Abang Taufan pulang?" tanya FrostFire selagi ia mendekati Taufan yang tengah dipeluk oleh Thorn dan Blaze.

Secara refleks FrostFire langsung mengamit tangan kanan kakak sepupunya yang bernetra biru safir itu dan menyentuhkan keningnya pada punggung tangan kakak sepupunya. Glacier dan Supra bergantian menyentuhkan kening mereka pada punggung tangan Taufan sebagai rasa hormat kepada kakak sepupu yang dituakan.

"Belum lama sih, sekitar sepuluh menit lalu." jawab Taufan. Kedua netra biru safirnya itu bergerak-gerak naik turun, mengamati keadaan ketiga adik sepupunya itu yang bertelanjang dada dan basah kuyup karena kehujanan. "Kalian banyak berubah juga..."

"Uh... Maksud Bang Ufan?" tanya FrostFire.

Taufan tersenyum sembari mengedikkan kepalanya ke arah FrostFire. "Badanmu itu lho, Frost... Ngga heran Supra kepincut denganmu." ucap Taufan dengan bibir yang berkedut menahan tawa. "Kamu juga, Supra. Kamu imut sekali seperti itu."

Kontan wajah FrostFire dan Supra memerah. "Bang Taufan resek ah!" ketus FrostFire yang salah tingkah dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya yang memang sedikit berotot.

"Yah, aku aktif ikut Wushu, bang." jawab Supra dengan suara yang jauh lebih lembut daripada biasanya. "Kendo seperti Abang Taufan terlalu lambat buatku."

"Astaga kalian bertiga!" Terdengarlah suara yang berasal dari dalam dapur.

FrostFire, Glacier dan Supra langsung menengok ke arah dapur dan melihat seorang lagi kakak sepupu mereka yang berambut panjang, walaupun tidak berlebihan seperti Taufan.

"A-Abang Halilintar?" Supra mengerenyitkan dahi ketika melihat penampilan Halilintar yang berbeda daripada biasanya.

"Siapa lagi?" ucap Halilintar dengan menyungging senyuman tipis. Ia mengedikkan kepalanya yang sekaligus menyibakkan poni rambutnya yang panjang ke samping.

Baru saja FrostFire, Glacier dan Supra sendiri mendekati Halilintar ketika si kakak sepupu yang bernetra merah rubi itu menghentikan mereka. "Nanti." ujar Halilintar yang langsung menunjuk ke arah tangga rumah. "Sana mandi dulu, ganti baju... Sebelum kalian masuk angin."

"Ah, iya Bang Hali." Dengan itu FrostFire berlalu menuju kamarnya dengan diikuti oleh Glacier dan Supra.

"Wah, jadi penuh nih rumah." ucap FrostFire sembari menaiki tangga rumah. "Mau tidur dimana mereka nanti?"

"Abang Taufan paling nanti tidur sama Kak Blaze dan Kak Thorn... Abang Gempa pasti dengan Kak Ice... Abang Hali? Aku ngga tau, kan Abang Taufannya tidur dengan Kak Blaze dan Kak Thorn." jawab Supra yang membuat kesimpulan berdasarkan analisanya.

"Dengan kita mungkin? Atau Kak Solar." Glacier menawarkan jawaban.

"Rasanya ngga deh. Kamu ngga tahu ya, Glacy?" Supra menghentikan langkahnya. "Abang Taufan itu cemburuan lho..."

"Eh? Iyakah?" tanya Glacier yang menghentikan langkahnya juga.

"Info dari mana lagi nih, Sup?" Bahkan FrostFire ikutan berhenti dan menengok ke arah Supra.

"Abang Fang." jawab Supra sembari mengedikkan bahunya. "Aku 'kan lumayan dekat dengan Abang Fang. Informasinya mengenai kakak sepupu kita itu lengkap lho."

"Kamu terlalu dekat bergaul dengan Abang Fang, Supra..." keluh FrostFire dengan raut wajah yang terlihat khawatir. Wajar saja apabila FrostFire khawatir dengan adiknya yang paling ia sayangi itu dekat dengan Fang. Apalagi FrostFire sering melihat Supra berduaan dengan Fang apabila teman kakak sepupu mereka itu datang ke kedai.

"Hey, kalian sudah puas menggosipi aku dan Taufan? Ayo mandi sana." ketus Halilintar sambil menengokkan kepalanya dari anak tangga terbawah. "Atau perlu kumandikan?" ujar Halilintar lagi yang melihat adik-adik sepupunya yang basah kuyup itu dan telanjang dada itu malah mengobrol di tangga.

"Ah ngga! Ngga perlu!" FrostFire langsung mengamit tangan Glacier dan Supra.

"Bagus. Nanti kalau sudah selesai cepat turun ya? Ada oleh-oleh buat kalian semua."

"Oleh-oleh? Dari Australia?" FrostFire memandangi kedua adiknya. "Buruan mandi!" seru si kakak sebelum berlari menuju kamarnya.

"Hoi curang!" Glacier dan Supra langsung menyusul FrostFire. "Tunggu! Mandi sama-sama saja!" sahut Supra yang mengejar FrostFire.

"Tunggu aku!" Glacier yang tak mau kalah pun langsung berlari sekuat kedua kakinya mampu membawa tubuhnya.

"Mandi bersama?" Halilintar mengedip-ngedipkankan kedua netra merah rubinya, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Blaze? Mereka sering begitu?" tanya Halilintar kepada adiknya yang bernetra merah terang.

Blaze terkekeh melihat reaksi Halilintar. "Yap. Mereka memang sering begitu." jawab Blaze sembari melepaskan Taufan yang dipeluknya. "Memang Kak Hali bawa oleh-oleh apa?" tanya Blaze setelah ia berdiri dari sofa yang ia duduki.

Halilintar memandangi adiknya yang dahulu terkenal super bandel dan jahil itu. Si kakak tertua merasa terkesan dengan Blaze yang kini berdiri di hadapannya. Pembawaan diri si adik yang biasanya urakan itu tetlihat jauh lebih kalem. Tutur katanya juga lebih tegas dan lebih halus daripada dahulu. "Blaze... Sudahkah kubilang kalau kamu banyak berubah?" tanya Halilintar dengan sebuah senyuman tipis.

"Belum sih. Mungkin karena aku mengganti peran Kak Hali dan Kak Gempa sekaligus sejak kalian semua pergi." jawab Blaze dengan senyuman penuh kebanggaan. "Kak Hali juga banyak berubah... Selain rambut maksudku."

Halilintar secara refleks mengedikkan kepalanya, melemparkan poni rambutnya yang melebihi hidungnya itu ke samping. "Aku merasa sama saja..."

"Kak Hali lebih gampang tersenyum sekarang."

"Ah... Mungkin karena jauh dari adik-adik yang membuat sakit kepala." jawab Halilintar sekenanya sembari berbalik badan dan melangkah kembali menuju dapur. "Aku mau lanjut masak oleh-oleh untuk kalian... Mau bantuin aku, Blaze?"

"Okee." jawab Blaze yang langsung mengikuti Halilintar masuk ke dapur. Namun Blaze masih sempat melingkarkan lengannya pada pinggang Halilintar. Dipeluknya sang kakak tertua dan langsung digigitnya daun telinga sang kakak tertua itu dengan bibir.

"Wuaaaa! Blaze!" teriak Halilintar yang wajahnya langsung merah padam. Jangan lupakan seluruh tubuh Halilintar yang bergidik dan rambut-rambut halus yang langsung tegak berdiri di sekujur tubuh Halilintar.

Dengan sigap Halilintar menyambar benda terdekat yang bisa ia gunakan untuk menghalau adiknya itu.

-Bletak!-

Sebuah sendok sayur pun jadilah. Alat masak itu dijadikan senjata oleh Halilintar untuk menghalau Blaze. Pukulan sendok sayur Halilintar itu dengan mulusnya mendarat di atas batok kepala Blaze sebelum si empunya kepala sempat melarikan diri.

"Adaw!" geram Blaze sembari memegangi batok kepalanya yang dijitak sendok sayur oleh Halilintar. "Masih sama saja tsunderenya... Kelemahan daun telinganya juga sama!"

"Hanya Taufan yang boleh menyentuh ini." sahut Halilintar seraya menunjuk daun telinganya yang digigit bibir oleh Blaze.

"Kalau begitu boleh dong." mendadak terdengar suara Taufan di belakang Halilintar.

"Eh?" Halilintar tidak sempat bereaksi. Ia yang lengah tidak mempergatikan Taufan yang kini sudah memeluk pinggangnya dari belakang. "Ta-Taufan?!" cicit Halilintar ketika ia merasakan hembusan napas Taufan berada sangat dekat dengan daun telinganya.

"Hoy! Geli!" cicit Halilintar lagi dengan suara yang nyaris melengking ketika lidah Taufan mendarat di pinggiran daun telinganya.

"Bisa cari kamar dulu kan kak..." Suara Solar yang baru saja pulang langsung menghentikan aksi Taufan.

Solar tiba di rumah setelah menerobos hujan, persis seperti ketiga adik sepupunya. Baju seragam sekolahnya yang basah total segera ia lepaskan setelah ia melangkah masuk ke dalam rumah.

"Wah. Solar. Kamu jadi rajin olahraga ya sekarang?" tanya Taufan sembari melepaskan Halilintar yang dipeluknya. "Badanmu jauh berbeda daripada dulu." komentar Taufan yang melihat Solar hanya mengenakkan celana pendek dan kaus singlet yang nyaris transparan karena basah oleh hujan.

"Ya. Hampir setiap hari Sabtu atau Minggu aku jogging. Kadang bersama FrostFire dan Supra." jawab Solar sembari berjalan mendekati Taufan dan Halilintar.

Solar dan Halilintar bertukar tatapan. Netra keemasan Solar menatap netra merah rubi Halilintar. Kedua kakak beradik itu terdiam untuk beberapa saat.

"Kak Hali!" dengan bibir yang gemetaran dan suara yang tercekat, Solar melemparkan dirinya dan memeluk sang kakak tertua erat-erat. "Aku kangen kak..." ucap Solar diantara sesegukannya yang ditahan-tahan.

"Alamak! Solar! Tunggu! Badanmu basah semua!" jerit Halilintar ketika Solar memeluknya semakin erat.

Namun Solar tidak peduli. Walaupun sering berselisih paham mengenai siapa yang lebih populer, tetap saja Halilintar adalah kakak yang paling Solar sayangi.

Solar tahu dibalik pembawaan diri Halilintar yang dingin, bersemayam sebuah jiwa penyayang yang sangat besar. Halilintar selalu ada untuk melindungi dan membela Solar yang paling kecil bahkan ketika Solar sudah menginjak usia remaja.

Begitu pula dengan Halilintar. Ia selalu bisa mengandalkan Solar apabila menemui masalah. Si adik terkecil itu selalu bisa memikirkan jalan keluar bagi hampir seluruh masalah Halilintar berkat otaknya yang berbeda dari yang lainnya.

Oleh karena itu Halilintar akhirnya membiarkan Solar memeluk dirinya. "Aku... Juga kangen kamu, Solar..." ucap Halilintar dengan suara yang diirit-irit seakan tidak mau didengar oleh orang lain.

"Ah... Bajumu jadi basah semua kak." ucap Solar sembari terkekeh dan mengusap air matanya yang menitik dengan punggung tangannya.

Halilintar menunduk dan melihat bagian depan bajunya yang basah dan bercetakan bentuk tubuh Solar yang baru saja memeluknya. "Yah, ngga banyak. Nanti juga kering. Sana kamu mandi dulu. Nanti masuk angin." ujar Halilintar sambil menunjuk ke arah tangga rumah.

"Cukup handukan dan ganti baju saja lah." Solar berlalu meninggalkan ruang tengah dan menaiki tangga menuju kamarnya.

Halilintar menghela napas panjang dan menengok kepada Taufan yang berdiri di sampingnya. "Adik-adik kita banyak yang berubah ya Fan?" tanya si kakak tertua.

Ekspresi wajah Taufan yang biasanya ceria mendadak bertukar serius. "Wajar. Mereka jadi lebih dewasa sepeninggal kita." jawab Taufan sembari membuka kepangan surai putihnya yang panjang.

"Yah, aku merasa jauh lebih lega." ujar Halilintar sembari mengedikkan poni rambutnya. "Tadinya kukira rumah bakal kebakaran atau hancur." tambahnya lagi seraya melangkah masuk ke dalam dapur.

"Pasti ngga lah. Blaze mungkin bandel, tapi rasa bertanggung jawabnya itu besar juga lho." Sebuah kebanggaan tersendiri terdengar dibalik kata-kata Taufan itu. Memang Blaze dan Thorn adalah yang paling dekat dengan Taufan dibandingkan yang Ice atau Solar.

"Kamu masak apa sih?" Taufan lanjut bertanya kepada Halilintar.

"Ingat kan waktu adik-adik kita membuat acara candlelit dinner untuk perpisahan kita?" tanya Halilintar sembari mengeluarkan potongan-potongan daging yang terbungkus plastik kedap udara. "Nah, aku mau membalas mereka. Daging ini sengaja kubawa dari toko Woolworths (*1) sebelum kita berangkat tadi."

"Astaga... Niat amat." Taufan menggelengkan kepalanya. Ia mengerenyitkan dahinya ketika melihat potongan daging yang tengah disiapkan Halilintar. "Itu... Sepertinya aku kenal..."

"Yap, daging kalau kita lagi melarat." Sebuah senyuman tipis mengulas di wajah Halilintar. "Sudah sana. Kamu temani Blaze dan Taufan. FrostFire, Glacier, Supra juga pasti kangen denganmu."

"Ya sudah. Panggil aku kalau kamu perlu bantuan." ujar Taufan sebelum meninggalkan dapur dan kembali berkumpul dengan Blaze dan Thorn di ruang tengah.

Halilintar melanjutkan acara memasaknya. Potongan-potongan daging yang berat total mentahnya hampir mencapai satu setengah kilogram itu dijajarkan di atas sebuah nampan.

Pertama-tama potongan dua jenis daging yang berbeda itu dibumbui. Sejumput garam dan merica ditaburkan secara merata di atas potongan-potongan daging itu. Menyusul minyak zaitun extra virgin dituangkan secara merata di atas semua potongan daging itu. Untuk menguatkan aroma wangi daging yang hendak dibuat steik, Halilintar menaburkan potongan daun rosemary dan thyme diatas potongan daging yang sudah dibumbuinya.

Lanjut Halilintar mengeluarkan dua buah kotak dari sebuah kantung plastik. Dari dalam kotak-kotak itu Halilintar mengeluarkan pie yang merupakan salah satu makanan ciri khas Australia. Memang pie daging yang berukuran hampir sebesar tangan Halilintar sendiri itu masih dalam keadaan beku, namun seharusnya tidak akan makan waktu yang lama untuk memanggangnya di dalam oven.

"Ehm... Abang Hali masak apa?" Sebuah suara asing yang memanggil membuat Halilintar menengok ke arah ambang dapur.

"Oh, hey..." Halilintar menatap bola mata si adik sepupu yang baru saja menegurnya. "Uhm... FrostFire ya?"

"Bukan. Aku Glacier." koreksi si adik sepupu sambil tersenyum. "Mataku warnanya cokelat agak hijau. Kalau FrostFire merah agak hijau."

"Kalau Supra merah campur kuning ya?"

"Iya." Glacier melangkah masuk ke salam dapur. "Waaah pie daging Australia ya?" Kedua netra cokelat hijau Glacier membelalak ketika ia melihat apa yang tengah dimasak Halilintar.

"Sssttt... Jangan keras-keras. Ini seharusnya jadi kejutan. Terutama untuk Blaze, Thorn, Ice, dan Solar." desis Halilintar sembari berharap tak ada yang mendengar kata-kata Glacier.

"Ah... Oke bang... Perlu bantuan? Dirumah ini biasanya aku atau Kak Ice yang memasak." Glacier menawarkan diri membantu Halilintar.

Halilintar mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia memeriksa tampilan waktu yang terlihat di layar ponselnya itu. "Hm... Akan kusuruh Gempa dan Ice untuk tutup kedai lebih awal kalau hujan sudah berhenti biar kita bisa makan malam bersama." ucap Halilintar sembari mengetik sebuah pesan pada aplikasi whatsapp untuk Gempa dan Ice. "Nah, Glacier, ambil panci satu lagi, bantu aku memanggang daging-daging ini semua." ujar Halilintar seraya menunjuk ke arah potongan daging berwarna merah dan putih di atas nampan.

Glacier langsung menuruti arahan kakak sepupunya itu. Ia langsung mengambil sebuah panci teflon dan memisahkan beberapa potong daging untuk dimasaknya.

"Seharusnya pakai penggorengan skillet besi cor... Tapi ngga mungkin aku bawa-bawa penggorengan dari Australia kan... Jadi ya pakai penggorengan biasa saja." ucap Halilintar sembari mengambil sekotak mentega dari dalam kulkas.

Tak lama terdengarlah bunyi desisan daging yang mendarat di atas penggorengan yang panas. Dengan api yang sedang, Halilintar bersama Glacier memanggang daging yang dibawa dari Australia itu. "Kecilkan lagi apimu, Glacier. Jangan sampai gosong. Ingat, kita hanya membalik daging ini satu kali, bukan berkali-kali." Halilintar lanjut memberikan instruksinya. "Nah, nanti bandingkan kenyal dagingnya dengan tanganmu. Jika sudah sama kenyalnya dengan bagian nadi di pergelangan tangan, artinya sudah cukup matang."

Glacier menganggukkan kepalanya dan langsung mengecilkan api kompornya. "Sejak kapan abang bisa masak begini?" tanya si adik sepupu sembari memasukkan mentega kedalam penggorengan yang ia gunakan untuk memanggang.

"Sejak tinggal di Australia." jawab Halilintar. "Aku belajar masak karena ngga mungkin mengandalkan Gempa saja. Ngga cuma aku, Taufan sekarang juga jago masak lho."

"Berdikari, ya bang?"

Kata-kata adik sepupunya itu membuat Halilintar bergidik. "Glacier..." geram Halilintar seraya melirik Glacier dengan tatapan netra merah rubinya yang tajam. "Jangan sebut kata-kata itu... Artinya berbeda buatku."

"Berdiri di atas kepala sendiri ya bang?" Glacier yang gagal menangkap arti lirikan Halilintar itu terkekeh kecil.

"Kamu mau coba?" Halilintar mencengkeram pundak adik sepupunya erat-erat. "Sini, kuikat kamu terbalik dari atas pohon... Cukup empat jam saja. Mau?"

Glacier meneguk ludahnya. "Ah, ngga! Terima kasih bang." sahutnya dengan tertawa gugup sembari mengibaskan kedua tangannya. "Aku masih sayang nyawa."

Halilintar melepaskan pundak Glacier. "Bagus. jangan sebut kata berdikari lagi." Jelas terlihat bahwa Halilintar bergidik ketika mengucap kata yang awalnya terlontar dari ayahnya. "Ayo, kita lanjut memasak. Coba periksa ovennya, apa sudah panas atau belum."

Sementara Glacier memeriksa oven yang akan digunakan untuk memasak pie daging, Halilintar membuat salah satu resep andalannya semasa kuliah di luar negeri.

Didalam sebuah panci besar, Halilintar sudah lebih dahulu merebus kentang yang dipotong-potong kecil. Dengan sebuah garpu Halilintar memeriksa tingkat kematangan yang dimasaknya itu.

Setelah puas dengan kentang rebus yang sudah empuk itu, Halilintar langsung meniriskan kentang rebus itu. Potongan-potongan kentang yang sudah matang dan ditiriskan langsung dimasukkan ke dalam sebuah mangkuk sayur besar. Sedikit minyak zaitun dibubuhkan pada potongan kentang itu sebelum dihaluskan dengan menggunakan garpu.

Memang sebetulnya ada alat khusus untuk menumbuk kentang namun karena keterbatasan, jadilah Halilintar menumbuk dan menghaluskan kentang itu dengan garpu.

Tidak lupa Halilintar membalik steik yang tengah dimasaknya supaya tidak gosong. Potongan daging yang tengah dimasak itu telah berubah warna menjadi kecokelatan, namun bagian dalamnya terlihat masih agak memerah ketika diiris oleh Halilintar. "Sempurna." gumamnya dengan penuh kepuasan.

Halilintar melanjutkan proses menumbuk kentangnya sampai halus. Setelah yakin tidak ada lagi gumpalan yang besar, barulah Halilintar membumbui resep kentang tumbuknya itu dengan garam, merica, dan kuning telur. Setelah semua bumbu dimasukkan, barulah Halilintar mengaduk kentang tumbuknya supaya bumbu-bumbunya bercampur merata.

"Wuaaaahhh! Wangi masakan Kak Hali hebat, sampai tercium kemari lho." komentar Thorn yang berada di ruang tengah bersama Taufan, Blaze, FrostFire dan Supra.

"Padahal yang dimasak Hali itu makanan sehari-hari kita disana, Thorn..." komentar Taufan. "Atau kamu memang lapar?"

Thorn menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Iya, aku lapar. Tadi pagi ngga sarapan."

"Lho? tumben? Biasanya Ice yang sering kelewatan sarapan."

"Tadi pagi aku buru-buru kak. Ada tugas yang harus kukerjakan di kampus."

"Ah... Ngga heran. Nanti kita makan sama-sama, tunggu Gempa dan Ice pulang." ucap Taufan sembari tersenyum manis kepada adiknya yang bernetra hijau tua itu.

Beruntung bagi Thorn karena pintu depan rumah dibuka setelah tidak lama berselang. Terlihatlah Gempa bersama Ice tiba di rumah. Ekspresi wajah Ice pun terlihat jauh lebih ceria daripada biasanya karena bisa bersama lagi dengan kakak yang ia sayangi.

Bagaimana tidak, Ice terlihat menebar senyuman sumringah didalam rangkulan lengan Gempa yang kokoh. Begitu pula dengan Gempa yang sesekali membenamkan wajahnya dalam rambut Ice.

"Abang Gempa!" pekik FrostFire dan Supra ketika melihat seorang lagi kakak sepupu mereka tiba. Tanpa disuruh, FrostFire dan Supra berlomba-lomba menghampiri kakak sepupunya yang baru saja tiba. Dari dalam dapur menyusullah Glacier berlari menghampiri Gempa.

"Waaaah FrostFire, Supra, Glacier." ucap Gempa sambil tersenyum girang ketika punggung tangan kanannya disentuhkan ke kening oleh ketiga adik sepupunya secara bergantian. "Bagaimana? Kalian betah disini kan?"

"Betah kok bang." jawab Glacier setelah menyentuhkan punggung tangan Gempa pada keningnya. "Disini enak, selalu ramai, ngga pernag sepi seperti di KL."

"Semoga saja kalian ngga ikutan sengklek seperti kakak sepupu kalian ini..." dengus Gempa seraya melirik ke arah Blaze, Thorn, dan Solar secara bergantian.

"Tinggal pasung saja seperti Kak Solar, beres." ucap FrostFire sembari mengedikkan alis matanya kepada Solar.

Gempa langsung mendelik ke arah Solar. "Kamu ngintip FrostFire mandi lagi ya, Sol?" tanya Gempa dengan tatapan mautnya. "Atau Supra?"

Solar langsung meneguk ludahnya, apalagi kini bertambah dua orang lagi yang menatapnya yaitu Blaze dan Thorn. "Ah ngga! Ngga kok! Aku ngga pernah ngintipin mereka mandi." cicit Solar dengan nada yang sebetulnya jauh dari meyakinkan.

"Semoga benar begitu." Blaze tersenyum manis sembari merangkul pundak Solar yang sebelah kanan. Memang seyuman Blaze manis, namun sorot tatapan netra merah terangnya jauh dari kata lembut.

"Makan malam sudah siap." terdengarlah suara bernada rendah ciri khas Halilintar dari dalam dapur. Si kakak tertua melangkah keluar dari dalam dapur dengan membawa sepuluh buah piring makan beserta sendok garpunya. Semua piring makan itu ditumpuk oleh Halilintar di atas meja makan sebelum ia menghilang ke dalam dapur lagi.

"Sebaiknya kubantu Abang Hali." Glacier langsung menyusul Halilintar masuk ke dalam dapur. Dengan cekatan ia membantu kakak sepupunya itu menyajikan semua makanan yang sudah siap ke meja makan.

"Wuaaaahhh." Dengan mata terbelalak Blaze, Thorn, Ice, Solar, FrostFire, dan Supra memandang meja makan yang penuh dengan hasil masakan Halilintar. Belum pernah mereka melihat masakan yang otentik dari negara lain apalagi mencicipinya. Aroma wangi gurih dari pie daging, steik daging, dan kentang tumbuk buatan Halilintar itu begitu menggugah selera.

Halilintar berdehem beberapa kali dan memandangi keempat adik-adiknya yang ia tinggalkan enam bulan yang lalu. "Blaze, Solar, Ice, Thorn... Sebelum aku, Gempa dan Taufan pergi enam bulan lalu, kalian membuat kejutan untuk kami yang akan kami kenang seumur hidup."

"Candlelit dinner (Fanfic Di Bawah Rembulan) persembahan kalian tidak akan kami lupakan sepanjang masa." ucap Halilintar dengan bibir yang sedikit gemetaran. "Nah sekarang, aku hendak membalas persembahan kalian waktu itu. Inilah... Hidangan khas Australia yang sengaja kubawa dari sana untuk kalian semua. Jadi... Selamat menikmati."

Thorn yang pertama kali mengambil pie daging yang besarnya melebihi ukuran tangannya dan tebalnya hampir setinggi jari jempolnya. Tidak lupa ia mengambil sepotong steik daging dan beberapa beberapa sendokan kentang tumbuk.

Blaze tidak langsung mengambil untuk dirinya sendiri, ia bersama dengan FrostFire mengambilkan porsi makanan untuk adik-adiknya yang lain. Taufan dan Gempa adalah yang terakhir mengambil porsi untuk mereka berdua.

Sepuluh kakak beradik bersaudara duduk saling berdesakan mengelilingi sebuah meja makan. Bagi mereka duduk berdesakan tidaklah masalah, yang terpenting adalah rasa kebersamaan yang tidak akan bisa mereka dapatkan dimanapun. Hanya di rumah itu mereka bisa merasakan nikmatnya bersama saudara-saudara kakak beradik yang saling menyayangi.

"Wah masakan Kak Hali sedap." puji Thorn ketika ia mencicipi steik daging buatan Halilintar setelah ia menghabiskan pie dagingnya.

"Aku lebih suka pie dagingnya. Rasanya gurih agak pahit... Steiknya aneh. Dagingnya kering sekali. Hampir ngga ada lemaknya." komentar Solar yang juga mencicipi steik daging.

"Punyaku aneh... Rasanya seperti ayam, tapi kok potongannya besar sekali?" ujar FrostFire yang mencicipi steik daging yang bagian dalamnya berwarna putih.

Taufan dan Halilintar saling bertatapan. Bibir keduanya nampak berkedut-kedut sementara Gempa yang melihat kedua kakaknya itu langsung memutar bola matanya.

"Daging apa ini bang?" tanya Supra yang memperhatikan Halilintar dan Taufan. Ia mulai merasa curiga bahwa ada yang tidak beres dengan masakan Halilintar.

"Pfffttt! Bwaahahahahah!" Meledaklah tawa Halilintar bersama Taufan. Keduanya tertawa terpingkal-pingkal sampai bersandar satu sama lain supaya tidak terjatuh.

"I-Itu... Bahahahahaha!" Taufan kembali tertawa tanpa bisa menyelesaikan kata-katanya.

"Kaaaak?!" ketus Thorn yang semakin kebingungan. Apalagi setelah ia melihat Halilintar bisa sampai tertawa lepas dengan riangnya. Biasanya kakaknya yang tertua itu paling irit suara.

"Itu steik... Bwahahahahahah!"

"Kak Hali!" sahut semua adik-adiknya secara bersamaan.

"Daging yang merah. Itu daging kangguru."

-Klontang-

Terdengarlah suara sendok dan garpu berjatuhan di atas meja makan. "Ka... Kangguru? Bi-Binatang yang... Loncat-loncat itu?" tanya Thorn dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah.

Taufan menjawab mewakili Halilintar. "Yap, steik langganan kita disana kalau lagi melarat... Disana daging kangguru lebih murah dua Dollar daripada daging sapi."

"Yang putih ini?" tanya Supra sambil menunjuk steik daging yang dirasanya seperti daging ayam.

"Mau tebak?" Sebuah senyuman jahil melintas di wajah Halilintar.

Semua adik-adik dan sepupunya menjawab dengan gelengan kepala.

"Buaya."

Sebuah keheningan yang memekakkan langsung melanda di rumah itu. Jawaban Halilintar membuat semua adik-adiknya terdiam, membisu seribu bahasa.

"Yah rasanya seperti ayam." Solar dan Supra melanjutkan menyantap makan malamnya.

"Uh... Aku permisi dulu." Thorn dan FrostFire langsung meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamar mandi. Wajah keduanya terlihat menghijau.

Ice dan Glacier menyingkirkan steik daging yang tengah mereka nikmati dan beralih pada pie daging yang tersisa.

"Oh, itu pie daging rasa beer." tambah Halilintar sembari tersenyum tipis.

"... Ah sudahlah, toh cuma rasa beer, bukan beer betulan." Ice mengedikkan bahunya dan lanjut menikmati makan malamnya.

"Terima kasih Kak Hali. Makan malam kali ini eksotis." ujar Solar yang dibarengi dengan cengiran khasnya.

.

.

.

Bersambung.

Terima kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia singgah. Bila berkenan bolehlah saya meminta saran, kritik atau tanggapan pembaca pada bagian review untuk peningkatan kualitas fanfic atau chapter yang akan datang. Sebisa mungkin akan saya jawab satu-persatu secara pribadi lewat PM (aplikasi FFN Mobile) atau di chapter berikutnya.

Sampai jumpa lagi pada chapter berikutnya.

"Unleash your imagination"

Salam hangat, LightDP.