Si kembar beruntung kali ini karena Ibu Sakura baru saja membuat spaghetti macaroni yang menjadi makanan kesukaan keduanya. Yupiter makan dengan lahap, sedangkan Mars sudah menambah sepiring lagi. Sakura memperhatikan keduanya di sofa ruang tengah dengan keberadaan Sasuke, Akio dan Hanabi. Jika dipikir-pikir, adik cowoknya satu ini tidak berguna sama sekali. Mirip anak perawan yang malu-malu kambing menyatakan cinta, tidak seperti Sakura dulu yang dengan santainya memanggil gebetan Bebs sesuka hati. Maklum, urat malunya sudah putus. Tahu sendiri kelakuan Sakura? Sasuke kala itu sampai jengah menghadapi.
"Lo berdua ini ribet banget tahu nggak sih? Sama-sama suka tapi nggak mau ngakui."
"Aku sudah ngakui kok, Tante."
Sakura masih cantik loh, masih seksi aduhay meski sudah berojol dua kali. Itu panggilan Tante bisa dihilangkan tidak sih? Taek!
Siapa yang menduga ketika keluarga kecil Sasuke datang bertandang ke rumah orangtuanya, mereka dikejutkan dengan keberadaan Hanabi dan Akio yang tengah berbicara berdua. Sebenarnya Akio sempat bungkam karena tidak ingin ketahuan, tapi Ibunya yang sejak tadi menguping di balik tembok langsung meluruskan situasi. Sasuke menghela napas, pun Sakura juga demikian.
"Lo tuh Han, labil banget jadi cewek. Bilang suka sama laki gue lah, bilang suka sama adek gue lah. Terus habis ini lo mau bilang suka sama siapa lagi? Anak gue?"
Mau tertawa tapi tidak etis, bagaimana sih?
"Hana tuh cuma ngefans Bang Sasuke, tapi cintanya ke gue Kak." Weh, Akio berani juga.
Ngefans?
Sakura ingin tertawa sekarang. Tampang seperti Sasuke ada pula yang mengidolakan, sudah seperti artis saja. Nah, suaminya kan ganteng. Wajar. Lalu, apa kabar Naruto yang tampangnya gelap kayak habis maghrib?
Sakura diam-diam menahan tawa selagi yang lain mulai memperdebatkan sesuatu. Hanabi masih mengatakan apa yang dia rasa selama ini, jujur dari dalam hatinya. Akio cukup tersentuh, lain lagi Sasuke yang tampak kalem memperhatikan take gay out di televisi. Bangsattt itu kan homo! Sakura langsung merebut remot dan menekan tombol power agar Sasuke bisa fokus pada pembicaraan mereka. Sebenarnya, lebih etisnya adalah pembicaraan Hanabi dan Akio. Tapi sebagai yang lebih tua, Sakura merasa harus turum tangan demi kelangsungan hidup keluarga mereka. Iyalah, biar tidak digosipkan diselingkuhi suaminya lagi.
"Bedanya cinta sama suka apa sih?"
"Kalau suka tuh cari senangnya saja, tapi kalau cinta tuh karena nyaman."
Sakura salah besar nih karena selama ini selalu menyebutnya Otan, pemikiran Hanabi bisa seperti itu. Ini nih, yang salah sudah pasti Akio. Akibat dari terlalu banyak rebahan di rumah dan hobi menghujat orang lain.
"Lo suka sama Sasuke karena apanya?"
Kalau Sakura sih suka karena anu-nya gede.
"Sasuke-nii kan polisi. Ganteng, keren, terus punya wibawa. Ya aku terus terang suka lihatnya. Tante Sakura juga pasti sependapat. "
Namanya juga Sasuke, dipuji seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak doi berojol dari perut Ibunya. Hanabi mungkin mengatakannya dengan malu-malu, tapi Sasuke pura-pura tidak dengar dan memilih bermanja di bahu Sakura seperti di ruangan ini hanya ada mereka berdua, mengelus perut rata Sakura seolah sengaja membuat kedua lajang di hadapannya panas dingin. Cok! Gak tahu malu! Astagfirullah Akio misuh mulu.
"Gak penting apa pendapat gue, yang jelas gue nggak suka ya elo ngegoda suami gue."
Hanabi menaikkan satu alisnya heran. Tidak ada sejarahnya loh dia pernah menggoda Sasuke, tapi jika memberi perhatian lebih sih iya. Murni seperti fans ke idolanya.
Pfft idola? Sudah tua begitu.
Sasuke tahu apa yang ada di kepala istrinya, jadi ia sejak tadi memilih diam tanpa mau ikut campur. Toh Sakura sedang hamil, hormon dan emosinya meningkat. Kalau salah sepatah kata saja, Sasuke tidak bisa memikirkan apa pun lagi.
"Lo berdua jadian saja deh."
Mata Akio berbinar, Hanabi juga. Tetapi cewek itu tiba-tiba mengatakan suatu hal yang memicu perang dunia. "Tapi nanti Tante izinin aku sering ketemu Sasuke-nii ya?"
Taekmu cok!
- 0 -
Seharusnya, Yupiter dan Mars sudah terlelap sejak pukul delapan. Tapi mereka berdua tidak juga masuk ke kamar, malah sibuk menyusun lego di depan televisi dengan Sasuke yang menonton pertandingan bola. Besok hari senin, waktunya kerja. Sakura berkecak pinggang di dekat sofa melihat ketiganya. "Nggak ada yang mau tidur nih?"
"Sebentar yang, lagi tanggung nih."
"Papa lagi asyik lihatin Leonel Meses Ceres."
"Meses Ceres nya yang rasa cokelat ya?"
"Uuh, Mars jadi lapar." Tepok jidat.
Sakura menghela napas berulang kali. "Yang, ini sudah malam. Anak-anak besok sekolah dan kamu harus nugas."
"Sebentar, setengah jam lagi deh."
Apa senangnya menonton pertandingan bola? Sakura lebih memilih menonton video di Youtube tentang tutorial make up. Baiklah, ada cara jitu agar Sasuke menurut. Sakura tersenyum simpul kemudian mendekati suaminya, duduk tepat di sebelahnya demi menciptakan jarak intim. Ini serius? Ada anak-anak di lantai, di depan mereka. Sasuke langsung merasakan miliknya yang tiba-tiba diremas kuat oleh Sakura di balik celana pendek yang ia kenakan. Ketika Sasuke menoleh, istrinya tampak menyeringai nakal dan melayangkan tatapan menggoda.
Ya ampun.
"Mau tidur nggak yang?"
Sasuke menggulirkan pandangannya pada si kembar, lalu kembali terfokus pada Sakura. "Mau, tapi nanti susuin ya?"
Geli dengarnya, anjirrr.
"Anak-anak, ayo sudahan mainnya. Masuk ke kamar terus tidur, kalian besok sekolah!"
Tuh, langsung tancap gas. Sakura hanya perlu bersendekap tenang duduk di sofa melihat Sasuke mulai mengangkut anaknya satu persatu masuk ke dalam kamar, mereka sempat merengek tidak mau tapi Sasuke acuh saja. Sakura kira suaminya akan langsung menariknya ke kamar pula, tapi ternyata tidak. Lima menit kemudian dia baru muncul dari dapur dengan membawa segelas susu putih hangat. Alis Sakura berkerut, ia langsung menyadari jika susu yang dibawa Sasuke adalah susu kehamilan untuknya.
"Kamu minum ini dulu nih."
Hanya dengan sebuah perhatian sederhana, Sakura merasa menjadi istri paling bahagia sedunia. Sasuke membantunya meminum susu, memegang gelasnya hingga Sakura selesai. Ada cahaya yang kadang-kadang memenuhi ketemaraman ruangan karena televisi masih menyala. Sasuke lantas mengambil remot dan mematikannya.
"Sebenarnya pengen makan sesuatu, tapi aku lebih pengen meluk kamu." Gembel deh Sakura.
Gigi Sasuke terlihat seluruhnya saat dia tersenyum. "Ya sudah ayo."
"Ayo ke mana? Aku nggak bawa helm."
"Helmnya kan sudah ku pakai yang, ayo deh ku kasih lihat di kamar."
"Helm motor?" Ya kegedean Sakura kalau helm yang itu, ada helm lain lagi. Titttt...
Tidak terbayang jika istrinya sudah hamil besar nanti, Sasuke mencoba menggendong Sakura tapi punggungnya terasa luar biasa nyeri. Dipicu faktor umur, tidak mau coba-coba lagi deh menggendongnya ala bridal style begini. Sasuke menghela napas lega begitu berhasil menurunkan tubuh Sakura di tengah-tengah ranjang, dan ia langsung mengungkungnya penuh kuasa.
"Sebentar saja ya yang? Jangan lama-lama, soalnya kamu kan besok harus nugas."
Sasuke mengangguk antusias. "Oke Moms."
To be continue...
