Ketiga raja dunia akhirat melihat kedua inti itu menghilang dan sebuah inti kehidupan munul kembali di tempat awalnya. Mereka melihat Kannan tertawa lebar dan penuh dengan kesenangan.

Narendra adalah yang paling pertama berbicara. "Kemana inti kematian? Apa yang terjadi?!"

Kannan menjawab ringan. "Aku iseng mencurinya dan penasaran apa yang akan terjadi jika mereka disatukan. Itu saja."

Indra tidak begitu peduli dan langsung menghampiri inti kehidupan. Setelah melihat inti itu baik-baik saja, ia menghela nafas lega lalu memarahi Kannan. "Kau gila! Kau masih berani bercanda di umurmu yang sekarang?! Candaanmu tidak lucu."

Indra dan Narendra mulai menyerang Kannan. Kannan tertawa dan membalas seluruh serangan mereka dengan hati yang ringan.

Prabangkara berdiri diam. Ia tidak percaya bahwa Kannan benar-benar bercanda dan melakukan hal ini atas dasar keisengan. Ia menggeram marah dan melempar busurnya. Ia bergabung dengan keributan dan bermain seperti anak kecil. Pukul-pukulan dan mencakar. Mengejek satu sama lain dengan kesal.

Di dunia manusia, hujan berlangsung selama setengah tahun. Setelahnya cuaca kembali normal dan lima tahun berlalu dengan cepat sementara di dunia surga dan neraka baru saja terlewat lima hari. Selama lima hari itu, keempat raja dunia akhirat bercanda dan bertengkar sepanjang hari. Mereka menikmati hari santai mereka dan berbincang dengan senang.

Selama lima tahun di dunia manusia, Gyandev tidak banyak berubah. Ia mempunyai Hafeez yang menemaninya setiap hari dan ia tidak kesepian lagi. Mereka sering berjalan-jalan dan berburu di hutan. Gyandev hampir saja lupa pada Kannan kalau saja ia tidak mempunyai Hafeez dan cincin di jarinya. Baginya, hari yang begitu singkat bersama raja Neraka Utara itu berlalu seperti mimpi.

Gyandev tengah menyiram tanamannya ketika sebuah ketukan di gerbang terdengar. Ia berniat meminta Hafeez membuka pintu tapi ia baru saja meminta serigala itu pergi ke pasar untuk membeli kue.

Gyandev melap tangannya dan mengambil jalan memutar. Ia muncul dari halaman belakangnya dan melihat sosok pemuda yang sudah lima tahun tidak ia lihat.

Senyum lebar terulas di wajah tampan pemuda itu. Wajahnya penuh dengan ekspresi jenaka dan tidak ada sedikit pun aura iblis menyeramkan di tubuhnya. Di depannya, Kannan yang ia pikir hanya mimpi berdiri di hadapannya.

Kannan menatap Gyandev yang tidak banyak berubah. Rambutnya sudah jauh lebih panjang namun penampilannya masih setampan dulu. Kedewasaan terpapar jelas di aura tubuh serta wajahnya. Kannan menahan nafas melihat penampilan menakjubkan Gyandev dan tersenyum.

"Halo, Gyandev. Lama tak berjumpa."

Gyandev merasakan matanya memanas. Iblis yang ia tunggu selama lima tahun lebih ini akhirnya muncul di hadapannya. Berdiri di depan gerbangnya menunggu persetujuan untuk masuk dengan senyum yang menawan. "Kenapa lama sekali?"

"Ah, kau menungguku?"

"Siapa lagi yang harus kutunggu? Orang tuaku sudah tidak ada,"

"En. Maafkan aku. Aku telah kembali, Gyandev. Aku di sini."

Gyandev keluar rumah dan melempar dirinya ke pelukan Kannan. Ia menangis keras. "Aku hampir saja lupa padamu. Mungkin jika kau baru kembali 50 tahun kemudian, aku sudah benar-benar lupa akan keberadaanmu dan menganggap dirimu hanyalah mimpi."

"Sudah, sudah. Jangan menangis. Kenapa kau cengeng sekali?"

"Aku tidak akan cengeng kalau kau tidak kembali. Coba kau lihat orang tuaku. Mereka tidak pernah kembali jadi aku tidak pernah memikirkan mereka."

"En, en. Tenanglah." Kannan tersenyum lembut. "Aku sudah selesai bercandanya. Aku di sini."