POLARIS (Northern Star)

.

.

.

"Kau tau Polaris?"

"Aku pernah mendengarnya."

"Sebuah bintang di langit Kutub Utara. Sebuah bintang yang tidak akan pernah berpindah dari tempatnya."

"Lalu?"

"Aku telah menemukan Polaris-ku."

.

.

.


- sebelumnya -

Ia tak menyangka, hubungannya dengan Chanyeol akan sesulit ini. Apa yang ia hadapi tahun lalu, nyatanya belum seberapa dengan yang kini harus ia hadapi.

Pria pemilik mata biru itu berbalik untuk mendekap si mungil dalam hangatnya pekukan. Hatinya ikut terluka dengan apa yang baru ia dengar dari neneknya sendiri, "Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap disini." bisikan penenang serta dekapan hangat prianyalah yang saat ini benar-benar ia butuhkan.

Entah apa yang akan terjadi padanya, pada bayinya dan pada Chanyeol kedepannya. Ia terlalu takut untuk menerka masa depannya, dan memilih untuk menyerah pada kepasrahan.

== == == ==

.

Mata birunya terpejam.

Ia duduk bersandar pada sofa, sementara si mungil tengah berada didapur untuk segelas air mineral. Demi menangkan debaran jantung yang beberapa waktu lalu menyesakkannya, "Baekhyun?"

"Ya?"

"Kemari sebentar." langkahnya perlahan mendekati si pemilik mata biru, ditangan kanannya ia membawa segelas air sementara di tangan kiri ia membawa secangkir teh manis hangat, "Duduklah disampingku." pinta Chanyeol.

Baekhyun meletakkan kedua gelas dan cangkir diatas meja, kemudian ikut bersandar pada sofa sembari melepaskan nafas panjang yang entah sejak kapan ia tahan, "Maaf soal tadi."

"Apakah dia –"

"Ya. Maaf jika dia membuatmu takut."

"Aku tidak apa-apa. Chanyeol, apa kau sudah minum obatmu?" ia balik bertanya, "Ya, sudah."

Keduanya memilih untuk tetap diam, menenangkan diri dan memikirkan jalan keluar terbaik yang sayangnya berujung pada peningnya kepala si mata biru. Jika pun ia memilih untuk lari bersama Baekhyun, tak menutup kemungkinan neneknya itu akan menemukan mereka dengan mudah.

Dan hal terburuknya adalah, Baekhyun bisa saja dalam bahaya apabila mereka tetap bersama.

Si mata biru seakan berdiri diambang tebing dimana dia harus memilih untuk terjun bebas bersama Baekhyun atau mengambil langkah mundur dan meninggalkan Baekhyun. Tak dibenarkan memang untuknya meninggalkan si mungil dalam keadaan berbadan dua seorang diri. Ia tak sampai hati.

"Ayo kita pergi."

"Apa? Maksudmu apa Chanyeol?" terperanjat dari lamunannya, Baekhyun membetulkan duduknya menghadap si mata biru, "Pergi, kemana?"

"Kurasa papa tidak ada masalah dengan hubungan kita berdua, terlebih dia pernah bertemu langsung dengamu. Masalahnya ada di wanita tua itu."

"Memang bukan ide yang baik untuk lari darinya, tapi kita berdua tidak punya pilihan lain. Aku akan bicara pada Papa, tunggu disini."

Dan benar. Pria itu menarik keluar telepon genggamnya dari dalam saku, mencari kontak nama yang di tuju kemudian melakukan panggilan keluar. Sementara si manis tetap duduk tenang, dengan gemuruh di dada yang tak kunjung reda.

Lebih kurangnya 30 menit, Chanyeol kembali dengan wajah pasi. Bak mendengar suatu kabar yang tak mengenakan, dan benar saja, Baekhyun merasakannya, "K-Kita harus pergi."

.

Dini hari keduanya bergegas pergi meninggalkan kediaman mereka, dengan mobil pribadi milik Chanyeol. Dua malam lalu, saat dirinya berada dalam sambungan telepon dengan sang ayah, sebuah kalimat yang sontak hampir mengambil seluruh nafasnya tertanam di benaknya.

"Nak. Papa akan selalu ada untukmu dan Baekhyun, tapi kau tau nenekmu tidak akan tinggal diam."

Sedikit cerita masa lalu sang ayah berikan pada Chanyeol. Selama hidupnya yang ia tau bahwa ibunya meninggalkannya dan ayahnya demi pria lain namun kenyataannya tidak.

Sang ibu pergi karena ulah sang nenek yang terus-menerus memberikan luka pada wanita itu. Tak tahan dengan siksa batin, wanita itu memilih pergi meninggalkan suami dan anak semata wayangnya yang akhirnya diambil alih hak asuhnya oleh ayah dan neneknya.

Hal tersebutlah yang memantik ketakutan di diri Chanyeol, mengetahui betapa neneknya ini punya cukup kuasa atas dirinya. Kalau bukan karena nama sang nenek, ia tak mungkin dapat masuk ke Universitas tempatnya bertemu pujaan hatinya, Baekhyun.

Keadaannya kini tak begitu jauh dari si mungil yang sedari tadi hanya melihat keluar jendela sembari membelai halus perutnya yang mulai membuncit. Kalau bukan karena obat yang ia konsumsi beberapa jam lalu, mungkin saat ini dia sudah tak sadarkan diri akibat serangan panik.

"Chanyeol?"

"Ya?"

"Kita, akan kemana?" terdengar ragu untuk sekedar bertanya, Baekhyun sadar, pertanyaan itu sama sekali tidak membantu menenangkan si pria Demaury, "Entahlah."

Perjalanan yang mereka tempuh cukup panjang. Berbekal uang tunai yang jika ditaksir mampu menopang hidup mereka untuk beberapa minggu kedepan, dengan nominal simpanan di bank yang jumlahnya bisa menghidup keluarga kecilnya hingga lebih dari 12 bulan nampaknya cukup.

Satu akun bank yang tak diketahui neneknya telah Chanyeol siapkan, berbekal persetujuan ayahnya.

Untuk sementara, Chanyeol mungkin bisa bernafas lega.

Dan beruntunglah ia, dirinya yang lain tengah tertidur pulas dialam paling bawah. Tak habis pikir ia bila dirinya yang lain bangkit dan mengambil alih dirinya ditengah kemelut yang ia dan keluarga kecilnya hadapi.

Mengganti nomor telepon adalah hal pertama yang Chanyeol dan Baekhyun lakukan sesampainya mereka di Savona, Italia. Setelah menempuh perjalanan hampir 12 jam karena beberapa kali mereka harus berhenti untuk beristirahat sejenak.

Keduanya memilih untuk bermalam disebuah penginapan dekat pantai, hanya untuk satu malam sebelum kembali melanjutkan perjalanan esok hari lepas makan siang.

Baekhyun memilih untuk merebahkan tubuhnya kala rasa letih tiba-tiba ia rasa karena perjalanan mereka yang cukup panjang, dengan Chanyeol yang setia menemani disisinya. Secangkir kopi hitam digenggamannya.

Mata cantik itu terpejam erat, meninggalkan sejenak dunia yang membuatnya lelah. Meninggalkan sementara kekasihnya yang masih tak kunjung tidur, malah, kini ia bangkit untuk menyesap sebatang rokok.

Memang tidak dibenarkan untuknya tetap menikmati rokok ditengah keadaannya yang sesungguhnya tidak dapat dikatakan stabil. Kalau bukan karena obat-obatan yang ia rutin konsumsi setiap hari.

Stress membuatnya tak mampu berpikir.

Tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dialami Baekhyun, kalau bukan karena obat tidur yang ia minum sebelum tidur, mana mungkin ia dapat memejamkan matanya.

Cukup terasa ketika hari terus berlalu, meninggalkan ketakutan tersendiri pada diri mereka. Tidak menutup kemungkinan wanita tua itu akan menemukan mereka, cepat atau lambat. Walaupun keduanya telah cukup jauh meninggalkan Paris.

Menetap disebuah rumah sederhana berlantai dua di daerah Bergamo, Italia.

Untuk sementara Chanyeol dan Baekhyun memanfaatkan cadangan saldo dalam tabungan untuk hidup sembari Chanyeol berusaha mencari pekerjaan. Tidak mudah baginya memang, namun harus ia lakukan demi Baekhyun dan calon buah hati mereka.

Nampaknya hari ini adalah hari keberuntungan baginya.

Sebuah rumah makan sederhana baru dibuka tak begitu jauh dari rumahnya dan pria tua pemilik rumah makan itu dengan senang hati menerima Chanyeol untuk bekerja, mulai besok ia resmi menjadi karyawan disana.

Malam datang dan pria Demaury itu menceritakan apa yang telah ia alami pada Baekhyun, sejenak menghabiskan waktu untuk bicara satu sama lain selepas makan malam. Raut wajah bahagia terpancar dari wajah cantik Baekhyun.

Rasa percaya dan optimis perlahan mulai ia rasakan setelah 2 pekan tinggal di Bergamo. Begitupula dengan rasa aman, karena ayah dari kekasihnya telah menjamin bahwa mereka akan baik-baik saja. Ia pastikan dua sejoli itu aman dari ibu kandungnya.

"Chanyeol, besok aku akan kerumah sakit untuk memeriksa baby."

"Oh, aku akan ikut bersamamu."

"Tidak perlu, aku akan baik-baik saja sendiri. Bekerjalah esok dengan baik, akan kubari saat aku tiba disana."

"Baik, kalau begitu. Sampai jumpa dirumah, mau kubawakan apa nanti?"

"Tidak perlu. Hanya, pulanglah dengan selamat, aku menunggumu."

Kehamilan yang telah memasuki trimester ke-3 membuatnya mudah lelah dan tentu, seringkali ia merasakan kantuk yang teramat sangat. Lebih banyak waktu ia habiskan untuk beristirahat, atau mengerjakan hal-hal ringan, seperti membersihkan kamar tidur, mencuci pakaian dan lain sebagainya sembari menunggu Chanyeol pulang.

Jam kerjanya dimulai pada pukul 9 pagi hingga 4 sore, dari Senin hingga Kamis.

Kembali pada Baekhyun yang tengah bersantai dengan secangkir teh dan sepotong kue strawberry sembari menikmati lantunan musik yang ia mainkan dari telepon genggamnya. Dalam ketenangan ia menikmati udara musim gugur bulan Mei.

Balkon lantai dua menghadap ke taman belakang yang terhubung langsung dengan sebuah hutan yang telah dipenuhi pepohonan yang mulai gugur dedaunannya. Nuansa yang begitu Baekhyun rindukan.

Ia meletakkan kedua telapak tangannya pada permukaan perutnya yang membuncit, mencoba merasakan pukulan dan tendangan halus sang jabang bayi. Sesekali ya, benar ia rasakan itu. Membawa aliran kebahagiaan tatkala ia tak sabar untuk langsung menimang buah cintanya dengan Chanyeol.

Kandungannya akan tepat berusia 7 bulan 2 pekan dari sekarang, dan ia tak sabar untuk mengetahui jenis kelamin anak pertama mereka. Tidak masalah jika nanti anak pertamanya adalah perempuan ataupun laki-laki, asal bayinya kelak lahir dalam keadaan sempurna dan sehat.

Tapak kaki ia dengar menaiki tangga kayu, begitu familiar sehingga tak perlu ia untuk berbalik dan melihat siapa yang datang. Ia tau, suara itu berasal dari kekasihnya, "Baekhyun, I'm home."

Baekhyun perlahan bangkit dari kursinya, ia kemudian menghampiri Chanyeol. Menghamburkan diri dalam sebuah pelukan erat, mengalungkan kedua lengannya pada tengkuk yang lebih tinggi. Mengunci bibir tipis merah mudanya pada belah bibir yang ia rindukan.

Dalam pelukan dan ciuman penuh cinta, keyakinan akan masa depan yang lebih baik semakin besar.

Berharap hari esok akan jadi lebih baik dari hari kemarin dan hari ini, "Mandilah dulu, akan ku siapkan makan malam untukmu."

"Aku akan mandi dulu, kau tunggulah disini. Nanti, aku yang akan membuat makan malam untuk kita berdua."

Perlahan, keduanya menyembuhkan diri mereka masing-masing dengan kehadiran satu sama lain.

Bipolar yang Chanyeol idap memang sesekali akan datang, namun dalam durasi lebih singkat dari yang sebelum-sebelumnya sementara serangan panik yang dialami Baekhyun berangsur hilang. Pemicunya tak ada lagi, jadi kepanikan tersebut tak lagi ia rasakan.

.

"Apa kau yakin akan pergi sendiri nanti?"

"Iya, tenanglah Chanyeol. Aku akan baik-baik saja, oh aku sudah janji padamu bukan setibanya disana akan aku telepon?"

"Hm, okay. Telepon aku bila ada masalah atau jika kau berubah pikiran dan ingin ku temani, aku akan minta ijin pada Oliver."

"Baiklah, Mr. Chanyeol Demaury-ku. Sudah, segera pergi kalau tidak kau akan terlambat."

Chanyeol pamit, tak lupa memberikan kecupan hangat di kening, kedua pipi dan bayinya yang tengah tidur dalam kehangatan Baekhyun. Oh, dan tak lupa ia akhiri dengan sebuah kecupan dibibir tipis merah muda si mungil, "Aku pergi dulu, hati-hati nanti."

"Bye, love you." balas Baekhyun.

"I love you more." sahut Chanyeol tak mau kalah.

"I love you even more than you love me."

"Baiklah-baiklah, kau yang menang, my love." tawa renyah si mungil jadi penghantarnya pergi, sungguh menggemaskan hingga berhasil membuat Chanyeol tersenyum sepanjang perjalanannya ke tempat ia bekerja.

Baekhyun masuk kembali kedalam rumah untuk bersiap pergi.

Jadwal pemeriksaannya adalah pada pukul 11, ia berencana untuk datang lebih awal. Setidaknya 30 menit lebih awal, karenanya ia tentu harus bersiap dari sekarang.

Pukul 10 ia mengunci seluruh pintu dan jendela rumah, tak lupa pagar rumahnya.

Jeep hitam milik Chanyeol tentu pria itu bawa, lagipula tidak mungkin ia mengendarai kendaraan sebesar itu untuk tubuhnya yang hanya 5 kaki 7 inch.

Jalan satu-satunya adalah naik kendaraan umum. Kediamannya tak begitu jauh dari pemberhentian bus terdekat, hanya butuh waktu 15 menit ia akan sampai pada sebuah bus stop.

Earphone putih terpasang dikedua telinga, mendengarkan lagu-lagu bernada pelan sembari menunggu datangnya bus.

A Thousand Years by Christina Perri adalah lagu yang paling sering ia putar. Lantunannya yang indah membuatnya mudah untuk lebih rileks.

Sebuah lagu yang kelak akan dimainkan ketika ia menikah dengan Chanyeol kelak. Suatu hari nanti, ia akan menikah dengan Chanyeol dan ia akan hidup bahagia bersama Chanyeol dan anak-anaknya nanti.

Perjalanannya memakan waktu 20 menit, tidak begitu lama namun tidak dapat dikatakan sebentar.

Bus berhenti tepat di depan rumah sakit. Baekhyun turun perlahan dengan berpegangan pada handle dan tangan kanan berada diatas perutnya.

Ia datang lebih awal 20 menit dari waktu yang telah dijadwalkan, karenanya ia masih punya cukup waktu untuk duduk dan bernafas sebelum masuk kedalam ruang pemeriksaan. Dan tentu ia harus melakukan panggilan singkat untuk mengabarkan keadaannya pada kekasihnya.

Siang ini, Dokter Elio yang akan memeriksa keadaannya dan keadaan bayinya.

Seluruhnya berjalan lancar hingga pada waktunya ia diminta merebahkan tubuhnya di ranjang dekat dengan Ultrasonography.

Sang dokter memberikan jel khusus pada perutnya, dengan sebelumnya meminta pada Baekhyun untuk menaikkan pakaiannya hingga sebatas dada. Sang dokter muda begitu sabar dan telaten, tutur bahasanya pun sangat baik. Ia begitu ramah.

"Baik, sekarang akan ku arahkan kebagian ini untuk mendengarkan detak jantungnya, apa kau siap mendengar detak jantungnya?"

Ta thump… ta thump… ta thump

Tanpa ia sadari, setetes air mata mengalir dari pelupuk mata kanannya. Untuk pertama kalinya ia mendengar detak jantung bua hatinya. Perasaan hangat dan rindu memenuhi dirinya. Ia sungguh tak sabar untuk memeluk bayi mungilnya.

"Dan sekarang, akan ku arahkan ini untuk mendapatkan… ah! Well, lihat ini… a baby boy indeed."

Seorang bayi laki-laki yang akan jadi anak pertama mereka.

Sang dokter muda mencetaknya menjadi 3 untuk Baekhyun. Dengan resep yang harus ia tebus untuk vitamin dan obat-obatan yang harus ia konsumsi hingga kelahiran bayinya nanti.

Sempat ia ditanya mengapa baru sekarang ia pergi ke dokter, seharusnya ia pergi lebih awal. Hanya berkata bahwa ada alasan keluarga yang membuatnya harus menunggu untuk beberapa bulan.

Memang benar, namun lebih kepada keamanan. Ia tak ingin pergi tanpa Chanyeol ketika tau bahwa wanita tua itu sewaktu-waktu akan menemukannya. Namun sekarang keduanya kira sudah cukup aman, mungkin.

Pukul 1 siang ia menyempatkan diri untuk membeli kue kering kesukaannya di sebuah toko roti sebelum ia kembali pulang.

Trotoar siang itu nampak lengang dengan hanya beberapa orang yang lalu-lalang.

Sekantung kue kering dan obat ditangan kiri sementara tangan kanan memainkan telepon genggam, ia berhenti sejenak untuk membalas pesan singkat yang Chanyeol kirimkan padanya.

Tak menyadari, seseorang tengah berdiri 2 meter didepannya.

.

"Well, rupanya selama ini kau disini?"

.

.

.

- tbc -

.

.

HEWOOO! LONG TIME NO SEEE

Apa kabar kalian? Semoga selalu baik yaa ^^

Well, nan balik dengan Polaris chap 19 (semoga masih ada yang nungguin :")) . Anyway, I'm sorry di section ini ga sempat tulis reply reviews dari kalian but for sure! Di emai tuh reviews kalian aku baca satu-satu and ofc aku kasih ' star ' biar kalau kangen bisa dibaca ulang :"))

Maaf juga kalau di chap ini kalian nemuin typos, dan maaf kalau gantung lagi doong hehe 3

See you on chapter 20~

.

.

Salut!

- axxnans