Saya tidak mengharapkan ada yang membaca novel ini. Saya cuma iseng aja publish ini hahaha. Terima kasih untuk yang sudah baca sampai epilog ini.
Fang as Kannan
Gempa as Gyandev
Untuk pertama kalinya Kannan begitu membenci perpisahan. Ia sudah melihat banyak anak buahnya meninggal dan miliaran jiwa menjalani hukuman mereka namun, tidak ada satu pun dari mereka yang membuatnya sedih. Baginya perpisahan dan kematian adalah hal yang wajar dan harus dihadapi setiap insan yang ada di dunia.
Neraka adalah tempat menyedihkan dan teriakan penuh amarah dan penderitaan terdengar setiap saat. Caci maki hingga doa agar lepas dari siksaan telah ia dengar ribuan kali seperti nafas yang keluar masuk dari hidungnya.
Gyandev dan Kannan berdiri berhadapan di ujung tebing dimana Kannan telah membuka gerbang menuju neraka di belakangnya. Mereka menatap ke kejauhan di belakang masing-masing individu yang dihadapinya. Tidak ada yang berani membuka percakapan. Suara rumput yang saling bergesekan di belakang Gyandev dan teriakan pendosa di belakang Kannan mengisi keheningan mereka.
Gyandev tidak tahu berapa lama waktu yang telah ia lalui untuk mengobservasi gerbang neraka utara namun, saat ia sadar langit telah berubah wara menjadi oranye.
"Kannan," panggil Gyandev lembut.
Kannan mengerjapkan mata merahnya dan menatap Gyandev. "Ya?"
"Kamu tidak mau pulang?" Tanya Gyandev.
Ekspresi Kannan berubah menjadi gelap. "Kau mengusirku?"
Gyandev buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Tolong jangan salah paham. Hari sudah malam dan gerbang nerakamu telah terbuka."
"Kau." Kannan menyembunyikan ekornya yang tergantung sedih. "Kau benar-benar ingin melepaskan kontrak dengan raja iblis begitu saja?"
"Kannan, kamu adalah raja iblis sedangkan aku hanya seorang penyihir biasa."
"Lalu kenapa kalau kalau kau hanya penyihir?"
"Ketika kamu terluka dan mengikat kontrak denganku, kau hanyalah iblis terluka yang membutuhkan asupan spiritual dariku tapi, tapi sekarang kau jauh lebih kuat dariku."
Gyandev meraih tangan Kannan dan tersenyum. "Temui aku di rumahku jika kau merindukan masakanku. Kau tidak perlu izin atau yang lainnya karena aku tidak akan meninggalkan hutan."
Kannan menatap tangannya yang digenggam oleh Gyandev dan berkata, "kalau kamu tidak ada, aku harus apa?"
"Aku pasti tahu saat kau memasuki teritoriku."
Kannan mengerutkan dahinya mendengar ini. "Boleh aku memberimu sesuatu?"
Gyandev terkekeh. "Kenapa bertanya?"
Kannan menggeleng kecil lalu meletakkan jari telunjuk kanannya di atas dada Gyandev tepat dimana jantung berada. Ia menggerakkan jarinya seperti saat ia menggambar lambang sihir. Gyandev merasakan panas di tempat Kannan menulis namun ia tidak menjauh. Ia tahu, Kannan tidak akan menyakitinya.
Selesai dengan Gyandev, ia meraih tangan Gyandev dan meletakkannya di atas dadanya sendiri. Gyandev dapat merasakan rasa panas di dada Kannan dengan suhu yang sama seperti yang ia rasakan.
Kannan tersenyum puas dan melepaska tangan Gyandev. "Ini mirip dengan kontrak. Hanya saja segel ini hanya untuk memberi tahu keberadaan satu sama lain dan jika kita ingin, kita bisa berkomunikasi."
Gyandev mengangguk. "En. Tidak masalah." Ia melanjutkan dalam hati, 'Kau telah menghabiskan sepuluh tahun denganku jadi aku bisa menerima kepergianmu.'
"Aku benar-benar harus pergi. Hukumanku telah menantiku." Kannan berbalik dan masuk ke dalam gerbang neraka. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. "Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya."
Gyandev melambai. "Sampai jumpa."
