Mereka telah sepakat bersama sejak janji suci kala itu, mengucapkannya dengan tegas dan lantang. Dulu, seorang Haruno Sakura bukanlah impian Uchiha Sasuke. Cewek dengan kepribadian buruk dan ratunya pembuat masalah di sekolah. Tetapi kini, justru Sakura lah yang paling didambakan Sasuke. Sayang seribu sayang, tabiatnya yang sering mengumpat sembarangan tidak juga bisa hilang. Doi sebagai suami terkadang sampai jengah sendiri mengingatkan. Disandingkan dengan Akio, Sakura sangat klop dengan adik cowoknya itu. Sasuke tersenyum tipis karena menyadari kekeliruannya, di keadaan seperti ini pun dia masih sempat memikirkan. Heran juga, itu nya di bawah sana sedang diurut Sakura namun Sasuke kelihatan tetap kalem.
Tangan istrinya terasa hangat sekali.
"Ganti posisi yang."
"Nggak ah, enakan juga begini."
"Kalau begini doang kurang nikmat." Hmm. Sasuke menatap raut Sakura dengan datar, mencoba tidak menghiraukan ucapannya yang menjurus ke hal-hal intim. "Kamu banyak banget bulunya yang."
Mereka mungkin kelihatan seperti sedang melakukan ehem. Suami istri, berduaan di kamar, pencahayaan minim, lalu masing-masing hanya mengenakan dalaman saja. Sementara Yupiter dan Mars tertidur, Sasuke meminta Sakura memijat kakinya yang tiba-tiba keseleo ketika mereka baru memulai pemanasan. Meski nafsu sudah mencapai ubun-ubun, Sakura tetap menuruti Sasuke yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kapan itunya kalau mijat terus? Dedeknya nggak sabar mau ketemu Papa nih."
Mulai deh alasan 'Dedek'.
Sasuke melirik jam dinding yang mengarah pukul sembilan lebih sepuluh menit, lalu beranjak untuk meraih Sakura tiduran di atas tubuhnya. "Makasih ya sudah mau mijitin?"
"You're welcome."
Tidak luput dari senyum mengembang Sakura, Sasuke menyentuh kulit di sekitar lesung pipit istrinya itu, menyerbu bibirnya dengan ciuman hangat. Sakura mengerang pelan, membiarkan lidah Sasuke mulai menelusuri setiap rongga mulutnya hingga ia merasa salivanya akan menetes keluar. Dada Sasuke yang keras tanpa sadar Sakura tekan dengan kedua telapak tangannya, sedang tangan laki-laki itu meraba-raba pantatnya, meremasnya. Sakura semakin meleleh, dan ia juga butuh oksigen untuk bernapas.
"Wajah kamu memerah."
Apa dia tidak menyadari hal serupa juga terjadi padanya? Sakura tersenyum singkat ketika Sasuke merubah posisi mereka menjadi ia yang berada dalam kuasanya. Kemudian, Sasuke menciumnya lagi. Tangannya bergerak ringan, naik turun mengelus bahu, pinggang rampingnya, dan berakhir di payudara Sakura. Ada tekanan yang kian menggila saat Sasuke melakukan itu, ditambah dengan kuluman bibir yang memabukkan. Sakura tidak bisa berhenti mendesah, puncak payudaranya menegang. Sasuke membentangkan telapaknya di sana, mengangkat payudara bagian bawahnya ke atas hingga terlepas dari bra hitamnya.
"Kamu cantik."
Sakura selalu menyukai suara seksi itu.
Sasuke merasa vitalitasnya kian melambung tinggi. Sembari masih berciuman panas, ia menempatkan tangan kirinya di bawah sana untuk melepaskan celana dalam Sakura.
"Sayang, Papa datang."
"Yang datang Papa langsung dong, jangan cuma jarinya doang." Sakura sialan!
Sasuke terkekeh mendengarnya, dengan cepat melepas boxer dan celana dalamnya sesuai kemauan si istri. "Oke, Papa datang."
Dari belakang, punggung Sasuke terlihat luar biasa kokoh, otot yang terbentuk di sana sini. Sakura memeluknya erat saat Sasuke menghujami dirinya di area tervital, ada dorongan aneh yang membuatnya menggelinjang nikmat. Karena gerakan itu serta hisapan di ujung payudaranya, Sakura membalas Sasuke dengan meremas rambut dan mencengkeram punggung putihnya. Selalu, sudah beratus kali melakukan tapi ia tetap tidak mampu mengontrol. Sasuke bergerak di atas Sakura kian cepat, tangannya tanpa tahu diri menarik dan menjepit ujung payudara istrinya di antara dua jarinya.
"Ahh!"
Sakura mengatakan jika mereka harus melakukan sebentar, Sasuke menyimpannya dengan baik di dalam memori. Sampai puncak itu datang, tubuh keduanya bergetar hebat. Napas Sakura masih putus-putus, Sasuke bisa merasakan aroma peluh tubuh mereka ketika hidungnya mencium leher Sakura.
"Kamu selalu luar biasa buat aku."
Hanya perlu waktu sebentar untuk mengatur napas, Sakura tersenyum tipis kemudian mendorong tubuh Sasuke agar bangun dari atas tubuhnya. Mereka harus membereskan diri, dan setelah itu tertidur lelap.
- 0 -
Kalau bukan karena ajakan Sakura, Karin malas sekali sebenarnya datang ke acara hajatan Bu Temari hanya dengan si tuyul Kaka. Suaminya ada di luar kota, dan Kaka sejak tadi tidak bisa diam. Masih ingat dong dia kemarin-kemarin pernah adu mulut dengan Bu Shion, alhasil jadi terkucilkan begini. Mmm, sebenarnya bukan terkucilkan. Memang dasarnya Karin saja yang malas berbaur, tapi begitu ia menghindar ada saja Ibu-ibu yang menyapa. Bertanya ini, bertanya itu. Ampun deh, Karin pusing!
"Bu Karin, tumben hari ini hijabnya ada hiasan bunganya? Biasanya polos saja tuh."
Masalah buat lo?
"Iya Bu. Kan bosan ya kalau polos terus, sekali-kali lah bar-bar sedikit." Tuh kan.
"Omong-omong, Bu Sakura ikut ke sini nggak Bu? Dari tadi ku tengok nggak kelihatan."
Karin malas-malasan menanggapi, dia hanya mengedikkan bahu tidak tahu. Saat ini Sakura mungkin sedang bersiap-siap, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan istri muda cantik itu sebelum datang ke acara semacam ini. Katanya, biar Ibu-ibu kompleks panas dingin dan dia jadi bahan gunjingan karena hobi pamer. Memang dasar Sakura. Di mata Karin, tidak ada manusia paling nyeleneh di bumi selain sahabatnya itu.
"Eh tuh tuh, lihat. Bu Sakura datang."
Sudah mirip sekali seperti sepasang raja dan ratu keraton yang sedang viral itu. Apa namanya? Keraton Agung Sejagat. Itu orang senewen kali, halu banget. Karin melihat Sakura di pintu masuk dengan menggandeng Sasuke dan juga anak kembarnya, keluarga kecil bahagia. Seringnya, ia melihat Sasuke berseragam. Tapi malam ini bapak polisi tampil lain dengan celana kain berwarna hitam dipadukan baju batik berlengan pendek yang warnanya kontras dengan pakaian biru dongker Sakura. Uhhh, Karin juga pengen yang seperti itu. Sayang sekali suaminya keseringan bekerja di luar kota.
"Duh, Pak Sasuke cakep banget ya Bu?"
"Iya Bu, mirip bintang film."
Lah? Yang sering ngehujat Sasuke kemarin-kemarin itu siapa? Mereka ini tidak ingat sepertinya. Karin menghela napas, mengamati Sakura dan Sasuke yang sedang bersalaman dengan orang-orang serta si tuan rumah. Setelah itu, mereka berdua berpisah. Sasuke bergabung ke kumpulan bapak-bapak dengan diikuti Yupiter dan Mars, sedangkan Sakura langsung menghampiri Karin. Wajahnya yang memang selalu ceria segera Karin sambut dengan sebuah pelukan, cipika-cipiki. Hal itu juga dilakukannya pada Ibu-ibu yang berdiri di samping Karin.
"Bu Sakura kelihatan cakep banget malam ini, cocok sama Pak Sasuke." Makasehhh.
Baik sekali komentarnya, meskipun dalam hati Sakura mengatakan bodo amat. "Iya dong Bu, kan perawatan. Kalau nggak gitu nanti suamiku kecantol cewek lain loh."
"Ya jangan sampai lah itu Bu."
"Loh, dengar-dengar katanya Bu Sakura sama Pak Sasuke kan mau ce..." Mamposs! Kebiasaan Bu Lin, untungnya Bu Mei segera menutup mulutnya. Bocor sih.
"Ce apa?" Karin sengaja bertanya.
"Cemungut program punya anak lagi."
Eh? Mau tertawa dong.
Karin menahan tawanya sambil curi-curi pandang pada Kaka yang menikmati es krim di pojok ruangan. "Aku sama suamiku memang lagi program Bu, tapi untungnya nggak nunggu lama dikasih sama yang di atas. Sekarang sudah jalan dua bulan."
Sakura memang ratunya drama, Ibu-ibu itu sampai takjub. Kalau seperti ini, seharusnya ada Bu Shion agar semakin seru beradu mulut. "Wah, selamat kalau begitu. Kita doakan semoga semakin langgeng ya Bu dengan Pak Sasuke."
"Iya Bu, bahagia dunia dan akhirat."
Begitu baru benar, bukan malah menghujat. Sakura dengan senang hati memberikan senyum terbaiknya. "Terima kasih."
Semestinya sedari awal begini, Sakura harus lebih bisa menyesuaikan diri dan mampu memahahami sekelilingnya. Setiap manusia kan memiliki berbagai karakter, tentu saja menghadapinya pun akan lain. Karin tidak mengerti isi kepala Sakura, jadi ia mengajaknya mencari tempat duduk ketika MC mulai menginterupsikan sesuatu. Kurang seru sebenarnya, kalau ada Bu Shion pasti Sakura semakin berapi-api menyombongkan diri. Namanya juga Sakura, dari bocil sudah memiliki tabiat senang mengusili.
"Sak, Sasuke ngelihatin elo tuh."
Karin ini tahu saja. Sakura segera menoleh ke kanan dan menemukan senyum menawan Sasuke. Karena mereka berjauhan, Sakura berinisiatif sedikit menggodanya dengan memberikan satu ciuman jauh. Duh, tidak ingat umur. Tanpa diduga, Sasuke ternyata membalas melakukan hal sama. Tapi doi kurang mujur dong karena tingkahnya itu dipergoki oleh Yupiter. Tangan mungilnya dengan polos menggapai bibir Sasuke.
"Papa aneh deh, kayak mau minta cucu."
Rasain!
Sakura bersama Karin langsung tertawa terpingkal-pingkal. Meski sepele, seringkali kebahagiaan seperti ini yang paling ia dambakan. Mulai sekarang Sakura harus lebih bisa menanamkan percaya pada Sasuke.
Dan doanya, semoga keluarga kecilnya akan selamanya utuh.
The End.
