Setelah kejadian tabrakan kemarin, bisa dibilang hubungan mereka semakin dekat karena Jae yang entah bagaimana bisa berpapasan dengannya di setiap waktu.

Sungjin tidak mau berharap terlalu tinggi, bisa saja pemuda itu hanya merayu-nya. Padahal selama ini, Jae selalu memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari pagi hingga malam.

Wajar jika Sungjin berkata begitu, mantan dan teman perempuan Jae sangat banyak. Bagaimana tidak minder?

Sungjin bukan perempuan, ia tidak memiliki rambut yang halus, wajah yang cantik, mata indah, hidung mancung, bibirnya terlalu kecil, kulitnya terlalu pucat, dan tubuhnya bahkan tidak langsing sama sekali.

Intinya, ia merasa tidak pantas untuk Jae.

Itu sih pemikirannya sendiri. Kalau menurut Jae sendiri, Sungjin sudah lebih dari cukup untuk melengkapi hidupnya. Bisa dikatakan, Sungjin melebihi kata cukup.

Sebelum ia bertabrakan dengan pemuda manis itu, Jae adalah siswa yang tingkahnya benar-benar melampaui batas. Bahkan guru-guru pun sepertinya sudah angkat tangan mengurusnya.

Buku poinnya sudah dirobek guru BK karena sang guru muak menghadapi Jae, ia bahkan terancam benar-benar di blacklist di berbagai sekolah.

Jae sendiri tidak peduli, ia hanya memikirkan kesenangannya. Sampai akhirnya, ia tidak sengaja bertabrakan dengan Sungjin. Ketua OSIS manis yang kini menjadi pujaan hatinya.

Jae merasa, ia harus sukses, ia harus bisa membahagiakan Sungjin. Senyum manis Sungjin benar-benar mengubahnya 360 derajat.

"Kak Jae? Kenapa diem? Kakak sakit?" Jae tersentak, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Di hadapannya ada Sungjin yang memasang raut muka khawatir.

"Nggak kok, saya gapapa."

Semenjak bertemu dengan Sungjin juga, cara bicara Jae berubah. Ia yang biasanya serampangan jika berbicara dengan orang lain, sekarang menggunakan bahasa yang lebih halus.

"Yakin? Kalo sakit, Kak Jae pulang aja. Kakak nggak perlu nemenin saya di perpustakaan sampe malem-malem gini."

Ah, iya. Sejak siang tadi kan Jae menemani Sungjin yang ingin mengerjakan tugas, jadi pemuda manis itu harus mencari referensi dari buku di perpustakaan.

Jae tidak merasa bosan, marah, apalagi mengeluh. Ia hanya ingin memastikan pemuda manis itu baik-baik saja, ini sudah malam. Hampir jam setengah 9.

"Saya anter kamu pulang, lagian saya nggak bosen kok disini." Jae menghela napas, lalu tersenyum dan mengacak-acak rambut Sungjin.

"Bahaya kalo malem-malem pulang sendiri, apalagi kamu yang pulang sendiri. Nanti pada salah sangka kalo kamu perempuan, kamu cantik soalnya."

Rona merah mulai menghiasi pipi Sungjin, ia memalingkan wajahnya dan mencoba fokus ke bukunya. "A-apaan sih Kak, nggak mungkin dong mereka salah sangka."

"Iya iya bercanda, jangan ngambek ah. Nanti saya makin sayang."

Kini wajah Sungjin benar-benar merah sempurna, ia menenggelamkan wajahnya pada buku. Jae yang melihatnya tertawa kencang, lalu mencubit pelan telinga Sungjin.

"Eyy, disamping saya ada tomat." Jae menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Sungjin, lalu ia menusuk pelan pipi chubby milik Sungjin.

"Sungjin, kamu masih inget perkataan saya di UKS?" Sungjin mengangkat wajahnya, rona merah di wajahnya sudah memudar meskipun masih bersisa.

"Yang mana, Kak?"

Jae menggenggam tangan Sungjin, lalu menatap dalam pemuda manis itu, membuat yang ditatap salah tingkah.

"Sungjin, saya serius tentang ini. Terserah kamu anggap perkataan saya main-main atau nggak, yang penting kamu tau." Jae menarik napas, lalu menghembuskannya kembali.

"Sungjin, kamu mau nggak jadi pacar saya?" Sungjin meremas pelan tangan Jae yang sedang menggenggamnya, jelas sekali kalau ia kebingungan dan gelisah.

"Kenapa Kakak suka sama saya? Banyak perempuan cantik diluar sana, yang lebih pantas jadi pacar Kakak."

"Nggak ada perempuan yang pantas jadi pacar saya, cuma kamu doang. Saya nggak suka sama orang yang gila materi." Jae mengecup punggung tangan Sungjin dengan lembut.

"Kamu mau, apa enggak? Saya nggak peduli, seratus kali kamu tolak saya pun, saya masih ada di sisi kamu. Saya bakal terus berjuang, dapetin hati kamu bagaimana pun caranya."

Sungjin menggigit bibir bagian bawahnya, ia bimbang. Ia menatap mata Jae, berusaha mencari kebohongan disana. Tapi tidak ada, hanya ada mata yang menatapnya tulus dan penuh kasih sayang.

"M-maaf, saya nggak bisa Kak.."

"Iya gapapa, saya tau kok kalo ini mendadak--"

"Nggak bisa nolak maksudnya, hehe." Detik berikutnya Jae tersenyum lebar seperti orang bodoh, lalu menerjang Sungjin dengan kecupan dan pelukan hangatnya.

"Please, ini mau tahun baru, nggak lucu kalo kamu nge-prank." Sungjin menggeleng sembari tertawa kecil, ia balik mengecup Jae. "Saya serius."

"Nggak bercanda kan ini??"

"Iyaaa serius ih." Jae tertawa lalu memeluk Sungjin lagi, ia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher yang lebih muda. "Makasih udah mau nerima saya yang penuh kekurangan ini, makasih."

"Makasih juga buat Kakak yang suka sama aku yang nggak cantik sama sekali ini."

"Apa sih, kamu cantik kok." Jae mengecup bibir Sungjin, lalu tersenyum lembut sembari menatap yang lebih muda. Sungjin sendiri balas tersenyum manis.

"Thank you, sweetheart."

Kisah cinta mereka memang sederhana, tidak mewah sama sekali. Tidak ditembak di taman atau di restoran mewah, hanya di perpustakaan yang menjadi saksi bisu berseminya cinta mereka.

Tapi cinta mereka? Bermakna.

TBC

Spesial nih di akhir tahun kyk martabak:)