[Chapter 22]
Chanyeol POV
Aku menyaksikan beberapa orang suruhanku sedang menghajar Kai saat ini. Tepat di hadapanku. Kai nampak tidak berdaya menerima pukulan-pukulan itu. Aku hanya ingin ia merasakan sakit yang aku rasakan setelah aku mengetahui ia telah menyentuh Puteraku.
Aku sama sekali tidak menyangka ia memiliki keberanian sebesar itu untuk menyentuh Baekhyun. Ia adalah orang yang paling aku percayai, tetapi ia menghancurkan kepercayaanku begitu cepat. Hanya karena nafsu.
Sementara tak jauh di sampingku, aku melihat Baekhyun hendak mendekati Kai namun Paman Lee lebih dulu menahannya sehingga Baekhyun tetap bertahan di tempatnya. Aku tidak habis pikir, apa yang membuat mereka melakukan hal begitu jauh di belakangku. Sehingga aku ingin sekali memberikan mereka pelajaran. Ah, lebih tepatnya Kai. Aku ingin sekali memberinya pelajaran, karena tidak mungkin aku melukai Puteraku sendiri.
"Hentikan Ayah!" isak Baekhyun sambil berteriak padaku.
Ia menangis. Sementara Kai sudah tak berdaya karena pukulan keras yang ia dapati di sekujur tubuhnya. Amarahku sedikit teredam karena Kai tidak melakukan perlawanan yang berarti. Mungkin karena ia tahu bahwa ia telah berbuat kesalahan yang besar. Dan hanya rasa sakitlah, balasan yang setimpal untuknya.
Aku bangkit dari posisi dudukku dan menghampiri Kai yang tersungkur penuh luka di hadapanku. Aku mengepalkan satu tanganku dan melayangkan tinjuku ke wajahnya sekuat tenagaku. Aku sangat marah pada si brengsek ini. Aku benar-benar marah dan aku tidak mungkin memaafkannya.
"Brengsek!"
BUGH!
Satu kali lagi, aku meninju wajahnya. Kali ini lebih keras. Ia tidak pantas menyentuh Puteraku.
"Ayah!"
"DIAM DI TEMPATMU PARK BAEKHYUN!" Aku berteriak pada Puteraku. Aku tidak memperdulikan tangisannya, karena saat ini aku sedang menyelesaikan urusanku dengan Kim Keparat Kai ini.
"Bunuh aku jika itu bisa membuatmu puas, Park!" ucap Kai.
Aku berjongkok di hadapannya dan menarik kerah bajunya guna menatap wajah sialannya itu. Ia meringis kesakitan, tapi ia masih mampu untuk tertawa.
"Kau mengkhianatiku, Keparat!"
Aku tidak tahu apa yang membuatku meneteskan airmataku. Dadaku tiba-tiba terasa sesak, membayangkan Baekhyun Puteraku kecilku yang sangat aku cintai, bercinta dengan Lelaki lain. Terlebih Lelaki itu adalah orang yang amat sangat kupercayai. Hatiku terasa sakit.
Tiba-tiba Kai menyingkirkan tanganku dengan keras dan berdiri di hadapanku. Ia berusaha untuk bangkit meskipun tertatih. Lagi-lagi ia tertawa dan membuatku semakin ingin menghancurkannya.
"Kau akan berterima kasih padaku setelah ini, Park Chanyeol," ucapnya. Lalu ia melenggang pergi dari hadapanku begitu saja.
Aku memutuskan untuk bangkit dan berjalan ke arah Puteraku yang masih terisak di samping Paman Lee. Tidak ingin Paman Lee mengetahui hubungan terlarangku dengan Baekhyun, aku segera menarik Baekhyun menuju Kamar kami. Meninggalkan sejuta pertanyaan bagi Paman Lee dan juga semua orang yang menyaksikan kejadian tadi.
"Lepaskan tanganku Ayah!"
Baekhyun terus meronta, dan tak jarang aku mendapati perlawanan darinya. Namun aku tidak bisa melepaskannya begitu saja saat ini, setelah apa yang telah ia lakukan terhadapku.
"Kau tidak seharusnya melakukan hal itu pada Kai! Hiks!"
"Apa yang kau tahu Park Baekhyun?!"
Brakk!
Kesabaranku telah habis. Aku membanting pintu Kamarku dan mendorong tubuh mungilnya dengan kasar. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sekasar ini pada Puteraku sendiri. Aku merasa… telah kehilangan kendali atas diriku sendiri.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Apa yang kau tahu tentang perasaanku selama ini?! Kau yang lebih dulu mengkhianatiku, Ayah!"
Baekhyun membentakku. Ternyata ia masih tidak mengerti kenapa aku melakukan hal ini padanya.
"KAU LEBIH DULU MENGHANCURKANKU KARENA MENIKAHI LELAKI JALANG ITU!"
Plakk!
"JAGA BICARAMU PARK BAEKHYUN!"
"Hiks! Kau menamparku Ayah?"
Tanganku masih mengambang di udara dan aku sontak menatap tanganku yang baru saja menyakiti wajahnya. Aku benar-benar tidak sengaja melakukan hal itu padanya.
"Baekhyun maafkan Ayah."
Baekhyun menghapus airmatanya sendiri dan terisak hingga nafasnya tersengal-sengal. Lalu aku menatap mata indahnya yang juga menatapku. Aku merasa hancur melihatnya menangis seperti itu.
"Kailah yang selama ini menyemangatiku. Membuatku bertahan dengan segala pikiran burukku. Ia yang selalu ada saat aku membutuhkan seseorang untuk berada di sampingku. Ia sangat memahamiku. Tapi apa yang telah Ayah lakukan kepadaku? Ayah hanya diam dan bahkan akan Menikah dengan Lelaki jalang itu tanpa sepengetahuanku!"
"Kau tidak mengerti, Baek."
"BUAT AKU MENGERTI, AYAH!"
Tubuhnya melemas. Kuraih tubuh mungil itu lalu kupeluk erat. Beruntung ia tidak menolakku dan justru terisak di dadaku.
"Kau hadir di dalam hidupku tanpa terduga, membuatku jatuh cinta dan kini… kau tiba-tiba meninggalkanku tanpa satu patah katapun. Tidakkah itu terlalu menyakitkan untukku, Ayah? Hiks!"
Aku tahu ini kesalahanku. Aku terpaksa melakukan hal ini karena aku tidak ingin kehilangannya. Aku terpaksa menikahi Luhan karena aku tidak ingin Baekhyun menjalani kehidupan yang berat.
"Ayah tidak pernah menyentuh siapapun kecuali dirimu, Baek. Tapi kau lebih dulu mengkhianati Ayah dengan membiarkan tubuhmu disentuh oleh Kai. Kau bahkan tahu bahwa Kai adalah orang kepercayaan Ayah."
Baekhyun melepaskan pelukanku dan mempertemukan pandangan mata kami kembali.
"Aku yang memintanya untuk menyetubuhiku. Ia bahkan sudah ratusan kali menolakku, tapi aku tidak menyerah dan akhirnya aku berhasil mengajaknya untuk bercinta."
Aku mengepalkan kedua tanganku dan Baekhyun melihatnya. Ia tersenyum dan airmata masih setia menetes deras membasahi wajah cantiknya.
"Dan apa Ayah tahu apa yang Kai katakan sebelum mengabulkan permintaanku?"
Baekhyun meraih kedua tanganku dan menautkan jemari kami dengan lembut. "Ia memohon padaku untuk menghadiri acara Pernikahan Ayah."
Aku mengikuti arah pandangan Baekhyun dimana terdapat sebuah kotak di samping tubuhnya. Nyatanya sedari tadi Baekhyun menenteng kotak tersebut tanpa kusadari.
"Dan ia bahkan menyiapkan pakaian yang harus aku kenakan untuk acara Pernikahan Ayah," lanjutnya.
Jika memang itu benar, apakah aku sudah melakukan kebodohan? Kebodohan-kebodohan yang semakin lama semakin sering aku lakukan terhadap orang-orang yang berada di sekitarku?
Bibirku terasa kelu. Aku masih tidak mampu untuk mengeluarkan suaraku. Aku bingung dan sulit menerima situasi ini.
Hingga aku merasakan kedua tangan Baekhyun menangkup wajahku dengan lembut. Sontak aku menatapnya kembali, dan tatapanku perlahan beralih pada belah bibir tipisnya.
"Menikahlah dengan Lelaki itu. Tapi kumohon padamu…" Baekhyun mengecup bibirku dengan lembut dan cukup dalam.
"…tetap cintai aku, Ayah."
.
.
.
Setelah berhasil meyakinkan sang Ayah, Baekhyun berhasil kembali ke Apartemen Kai untuk memastikan kondisi Lelaki tersebut. Ia merasa amat bersalah karena luka yang Kai dapati adalah atas kesalahannya. Maka ia harus bertanggungjawab untuk itu.
Baekhyun berlari ke Kamar Apartemen Kai berada. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan penjaga Apartemen mewah tersebut mengingat saat ini sudah tengah malam. Namun ia tidak perduli, karena yang ia perdulikan adalah Kai. Ia sangat khawatir dengan Lelaki itu.
Tok tok tok!
"Tuan Kim, kumohon buka pintunya!" teriak Baekhyun dari balik pintu Kamar Apartemen Kai. Tak lama, pintu itu terbuka dan menunjukkan sosok Kai yang menatapnya dengan tatapan seolah tidak terjadi apapun.
"Untuk apa kau ke sini? Ini sudah malam Baek."
"Aku mengkhawatirkanmu. Biarkan aku masuk."
Kai tidak banyak berbicara dan membiarkan Baekhyun masuk. Dan Baekhyun cukup terkejut dengan keberadaan seorang Dokter di sana. Ya, nyatanya Kai memiliki seorang Dokter Keluarga yang siap kapan saja menolongnya.
"Oh hai Park Baekhyun," sapa Dokter berwajah manis tersebut kepada Baekhyun.
Baekhyun sedikit kikuk karena Dokter tersebut mengenalnya, padahal ia baru pertama kali bertemu dengan Dokter tersebut dan ia bahkan belum mengetahui siapa namanya.
Baekhyun tidak menjawab dan hanya membungkukkan tubuhnya sopan, menyapa Dokter tersebut.
"Dia adalah Kim Minseok. Dokter Keluargaku," ucap Kai menjawab pertanyaan di kepala Baekhyun.
Baekhyun menatap Kai dan menganggukkan kepalanya.
"Senang bisa bertemu denganmu Baekhyun. Ternyata kau adalah sosok yang sungguh manis," ucap Minseok bersahabat.
"T-terima kasih."
Baekhyun memutuskan untuk duduk di hadapan kedua orang itu, saat Kai melanjutkan perawatannya dengan Minseok. Ya, nyatanya saat ini Minseok sedang mengobati luka yang terdapat di wajah Kai. Bahkan mereka berniat untuk melakukan check up ke Rumah Sakit beberapa saat lagi, setelah Kai mendapatkan pertolongan pertamanya.
"Apakah ada tulang wajahku yang patah atau retak?" tanya Kai.
Minseok tertawa. "Lain dari wajahmu, sepertinya matamu yang patah karena terus menatap ke arah Baekhyun," goda Minseok.
Nyatanya Minseok salah satu orang yang cukup dekat dengan Kai dan sering mengontrol kesehatan Kai. Maka, tidak sedikit ia tahu aktivitas Kai, juga orang-orang yang sedang dekat dengan Kai saat ini.
"Kau ini… membuatku seperti anak kecil saja di depan Baekhyun," jawab Kai. Sementara Baekhyun hanya mampu mengeluarkan tawanya.
"Baiklah, aku sudah mengobati luka di wajahmu. Dan sepertinya lebih baik kita segera ke Rumah Sakit," ucap Minseok.
"Tunggu," potong Baekhyun saat Minseok dan Kai bangkit. Membuat kedua orang tersebut terdiam menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Apakah… Kai baik-baik saja? Aku hanya takut di mendapati luka yang parah," ucap Baekhyun takut-takut.
Kini giliran Kai yang tersenyum. "Lihatlah, aku baik-baik saja. Dan aku rasa… aku memang pantas mendapati luka ini karena perbuatanku."
"Tuan Kim… maafkan aku."
Kai mengusak rambut Baekhyun dan tersenyum hangat. "Kau tidak perlu meminta maaf. Aku tidak akan pernah bisa marah terhadapmu, Baekhyun."
Baekhyun hampir meneteskan airmatanya, tetapi Kai memeluknya lebih dulu.
"Kau tunggulah di sini. Jika kau lelah, kau bisa tidur di Kamarku. Aku tidak akan lama di Rumah Sakit," ucap Kai. Dan dibalas anggukan oleh Baekhyun.
"Baiklah. Kami berangkat dulu, Tuan muda Park Baekhyun. Selamat malam," pamit Minseok dengan senyum ramahnya.
.
.
.
Three Days Later…
Pagi telah tiba. Baekhyun baru saja terbangun dari tidurnya. Di sampingnya, ia tidak mendapati Kai. Mungkin Lelaki itu sudah lebih dulu terbangun. Baekhyun menghela nafasnya, hari-hari indah yang ia rasakan bersama Kai nyatanya telah berlalu. Kini, ia harus menghadapi hari-hari berat yang akan dilaluinya seorang diri. Dan hari ini… adalah hari yang mungkin tak akan pernah ia lupakan di seumur hidupnya.
Yaitu, hari Pernikahan sang Ayah.
Pandangan Baekhyun kini tertuju pada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin itu adalah pemberian dari Kai. Meskipun tidak ada maksud yang berarti dari cincin ini, tetapi ia sudah cukup senang dapat memilikinya. Tanpa sadar Baekhyun mengembangkan senyuman lemahnya.
"Baekhyun, kau sudah bangun?"
Suara Kai membuyarkan lamunannya. Sepertinya Lelaki tampan itu baru saja selesai mandi karena Kai masih memakai bathrobe-nya.
"Um," gumam Baekhyun dengan anggukan.
"Sebaiknya kau segera bergegas. Satu jam lagi Pernikahan Ayahmu akan berlangsung," ucap Kai dengan hati-hati.
Lagi-lagi Baekhyun hanya mengangguk tanpa menjawab. Kemudian ia bangkit dan berjalan menuju ke Kamar mandi. Tak lupa ia raih kotak pemberian Kai, dimana terdapat pakaian yang harus ia kenakan hari ini.
Pandangan Baekhyun mendadak kosong, dan Kai menyadari sikap Baekhyun yang nampak tak bersemangat. Tetapi apa mau dikata? Meskipun kenyataan ini berat, Baekhyun tetap harus melaluinya dan tidak dapat menghindari semua ini.
Tak lama Kai menunggu, Baekhyun sudah nampak siap dan merubah kepribadiannya menjadi sosok yang tegas dan penurut. Karena memang sudah seharusnya seorang Penerus Park Corp bersikap seperti itu.
Kai mengikuti langkah Baekhyun saat mereka menuju ke parkiran. Menganggap tidak ada apapun yang telah terjadi padanya bersama Baekhyun semalam. Karena ia maupun Baekhyun, sudah berkomitmen untuk saling menepati janji masing-masing.
"Jadi… apa yang harus aku lakukan nanti?" tanya Baekhyun memecah keheningan.
Kini mereka sedang berada di perjalanan menuju Gedung yang akan menjadi saksi bisu berlangsungnya Pernikahan seorang CEO Park Corp dan relasinya yaitu Putera tunggal dari Xiao Corp.
"Kau hanya perlu duduk dan menyaksikan semua isi acara."
Baekhyun lagi-lagi menghela nafasnya dan membuang tatapannya ke arah jendela. Ia menatap kosong apapun yang dilewatinya. Pikirannya jauh melayang dan ia bahkan tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada kehidupannya selanjutnya setelah sang Ayah yang ia cintai, menikah dengan Lelaki lain.
Apakah ia masih bisa memiliki Ayahnya, atau tidak.
Mereka akhirnya tiba di lokasi. Mereka disambut oleh puluhan wartawan dengan jepretan kamera yang tertuju ke arah mereka.
Putera tunggal CEO Park Chanyeol, baru saja tiba di acara Pernikahan sang Ayah.
"Jangan menjawab satupun pertanyaan dari mereka. Kau hanya cukup tersenyum dan berjalan mengikutiku. Kau mengerti itu, Baekhyun?" ucap Kai sebelum mereka benar-benar berhadapan dengan media.
"Um, aku mengerti."
"Tuan muda Park Baekhyun, apakah anda turut bersuka cita atas pernikahan Park Chanyeol selaku Ayah anda sendiri?" satu pertanyaan dari wartawan yang berhasil Baekhyun dengar.
"Apakah anda mempersiapkan suatu hadiah untuk Ayah anda?" susul pertanyaan yang lain.
"Setelah Ayah anda menikah dengan Luhan, apakah kalian akan tinggal di satu rumah yang sama?"
"Dan Tuan Kim Jongin, kenapa anda datang bersama Tuan muda Park Baekhyun?"
"Ya Tuan Kim, apakah anda memiliki hubungan dengan Tuan muda Park Baekhyun?"
Seperti itulah pertanyaan yang terlontar dari para wartawan yang menyambut kedatangan mereka di Gedung tersebut. Namun tak ada satupun pertanyaan dari wartawan tersebut yang mereka jawab, hingga mereka berhasil meraih Gedung tersebut dan pintu Gedung yang sangat tinggi itu tertutup kembali.
"Hah~ kita selamat," ujar Kai.
Kai melepaskan tautan tangannya dengan Baekhyun dan memperhatikan wajah Baekhyun yang nampak sangat datar. Baekhyun seperti sedang memikirkan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang membebani pikiran Bocah itu.
"Mereka sangat mengerikan," lirih Baekhyun.
"Oh Baekhyun, kau sudah tiba?"
Deg!
Jantung Baekhyun berdegup keras setelah mendengar suara itu. Ya, seseorang yang baru saja memanggilnya adalah Park Chanyeol. Ayahnya yang sangat ia cintai.
"Um… kau bisa ikut Ayah sebentar?" lanjut Chanyeol setelah melemparkan senyumannya pada Kai.
Kai tahu betul arti senyuman itu. Maka ia memerintahkan Baekhyun untuk menuruti perkataan sang Ayah dan Baekhyun menurutinya.
"Baik Ayah," jawab Baekhyun.
Chanyeol lagi-lagi tersenyum. Kemudian ia segera berjalan menjauh dari sana, membawa langkah Baekhyun pada suatu Ruangan yang terletak cukup jauh dari tempat acara berlangsung. Baekhyun sungguh terhanyut oleh pesona sang Ayah, terlebih sang Ayah saat ini berpakaian dengan sangat rapih dan nampak sangat tampan dari biasanya.
Chanyeol membuka pintu Ruangan itu dan masuk ke dalamnya. Setelah memastikan Baekhyun masuk, ia mengunci pintu itu dan mulai menatap ke arah sang Putera.
"Park Baekhyun, ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu."
Nada Chanyeol terdengar sangat dingin, berbeda pada saat Chanyeol menyapanya beberapa menit lalu. Kenapa Chanyeol bisa dengan mudah berubah secepat ini?
"Katakanlah Ayah."
Baekhyun memperhatikan Chanyeol terduduk di atas sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri melalui sudut matanya.
"Apa yang kau rasakan saat ini?"
Baekhyun tahu, Chanyeol melemparkan tatapan dingin ke arahnya saat ini. Maka dari itu, ia enggan untuk menatap sang Ayah dan memandang apapun yang ada di depannya.
Hening sesaat. Baekhyun tidak menjawab pertanyaan itu.
"Apakah Ayah pernah mengajarimu untuk mengacuhkan seseorang yang tengah mengajakmu berbicara?"
Baekhyun meremas kedua tangannya. Ia tengah menahan amarah juga kesedihannya saat ini.
"Baekhyun, jawab pertanyaan Ayahmu!"
Ia rasa ia tidak harus berada di situasi ini. Maka Baekhyun lebih memilih untuk beranjak dari Ruangan itu dan meninggalkan Chanyeol begitu saja. Ia tidak suka berdebat dengan sang Ayah. Ia tidak suka saat Ayahnya tidak memahami perasaannya dan juga memarahinya seperti ini.
"Park Baekhyun!"
"Lanjutkanlah Pernikahanmu. Dan jangan memperdulikanku, Ayah!"
Baekhyun membanting pintu Ruangan itu keras, dan berlari mencari keberadaan Kai. Dadanya terasa sesak, airmata bahkan sudah membasahi wajahnya dengan cepat. Baekhyun menangis terisak dan ia membutuhkan sandaran. Dan yang satu-satunya orang yang sangat ia butuhkan saat ini adalah Kai.
Ia mempercepat langkah kakinya, melihat siluet Kai berdiri tak jauh di depannya.
"Baekhyun?"
Grep
"Hiks! Kai… a-aku tidak sanggup. Kumohon bantu aku… hiks!"
Baekhyun memeluk erat tubuh Kai, dan Kai reflek mencengkram bahunya.
"Baekhyun, bukalah matamu dan hadapi kenyataan."
Kai sama sekali tidak membantunya. Demi Tuhan, ia tidak sanggup menyaksikan Pernikahan sang Ayah dengan Lelaki Pelacur itu, terlebih saat mereka saling bertukar cincin dan berciuman di atas Altar nanti.
"Kai… kumohon," isak Baekhyun.
Kai menghela nafasnya dan melepaskan pelukan itu. Ia menatap Baekhyun dalam, dan mencoba untuk menguatkan Bocah itu meskipun ia tahu bahwa ini terlalu sulit untuk Baekhyun hadapi.
"Kuatkan dirimu, Baek. Kau harus menunjukkan senyumanmu hari ini pada semua orang. Kau tahu? Kau adalah Penerus Ayahmu. Semua mata pasti akan tertuju padamu. Tidak hanya Keluarga yang menghadiri acara ini, tetapi juga relasi Bisnis Ayahmu."
Baekhyun menggelengkan kepalanya, dan mengusap airmatanya sendiri. Hatinya terlalu sakit, dan ia tidak dapat menyembunyikan rasa sakit itu.
Kai menghembuskan nafasnya kuat dan memejamkan matanya. Lalu ia kembali menatap Baekhyun dan meraih dagu Bocah manis itu. Ia dekatkan wajah mereka, menghapus jarak yang ada. Kai menutup matanya tepat setelah bibirnya mendarat di atas bibir tipis Baekhyun. Ia sesap bibir itu sesaat, karena ia tahu Baekhyun sangat membutuhkan ciuman ini. Dan ia berhasil. Baekhyun sedikit lebih tenang dan menyandarkan dahinya di dada Kai.
"Kenapa kau melakukan hal ini padaku, Kai?" gumam Baekhyun.
Kai peluk tubuh itu satu kali lagi, lalu ia lepas dan berjalan meninggalkan Baekhyun.
"Aku percaya kau bisa melakukan apa yang Ayahmu inginkan, Baekhyun."
.
.
.
Chanyeol menghentikan langkahnya dan berdiri terdiam seorang diri. Menyaksikan sang Putera dipeluk oleh orang kepercayaannya, dan menangis terisak di sana. Ia ingin menghampiri Baekhyun dan merengkuh tubuh itu, tapi hal lain lebih dulu terjadi.
Kai… mengecup bibir Baekhyun tepat di depan matanya.
Dan perasaan aneh tiba-tiba muncul di dalam benaknya. Apakah hubungan Kai dan Puteranya sudah sejauh itu? Apakah setiap kali ia membuat Baekhyun menangis, Kailah orang pertama yang Baekhyun temui?
Jika memang seperti itu…
Apakah kehadirannya masih diharapkan oleh Baekhyun?
Ataukah, kini ia sudah tergantikan oleh Kai?
Chanyeol memilih untuk beranjak dari sana dan berjalan menuju Ruangan Pengantin. Dimana di sana sudah ada Luhan yang menunggunya, dan siap untuk melaksanakan Pernikahan mereka.
"Chanyeol? Kau darimana? Acara kita sesaat lagi akan segera dimulai," ucap Luhan yang nampak sangat cantik dengan jas berwarna putih yang dikenakannya.
Chanyeol tersenyum menanggapi ucapan Luhan. "Aku hanya berjalan-jalan sebentar."
"Apakah… Baekhyun sudah datang?" tanya Luhan hati-hati.
Chanyeol mengangguk. "Kau tidak perlu khawatir."
Luhan tersenyum dan memeluk tubuh tinggi Chanyeol. Chanyeol menerima pelukan itu, dan mengecup singkat bibir Luhan.
"Chanyeol… aku mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
Nambah cast baru lagi, yaitu Minseok yuhuuuu~
Bagaimana Pernikahan Chanyeol dan Luhan nanti?
Masih penasaran? Engga? Yasudah, baiklah/?
Yang penting REVIEW JUSEYO!
YUTA TUNGGU! TERIMA KASIH~!
