[Chapter 23]
Baekhyun menyaksikan banyak orang penting yang hadir di acara Pernikahan sang Ayah. Wajah-wajah baru, yang ia pikir adalah kolega Perusahaan sang Ayah. Sempat ia bertanya pada Kai, mengenai siapa orang-orang itu. Kai menjelaskannya dengan detail, dan ia dapat memahami penjelasan Kai dengan cepat.
Sepanjang hari, Baekhyun berusaha untuk menunjukkan senyuman palsunya pada semua orang. Menyapa dengan sopan orang-orang yang tersenyum padanya. Tak jarang orang-orang beranggapan bahwa ia dan Kai adalah sepasang Kekasih. Namun dengan cekatan, Kai menjawab bahwa mereka masih memiliki hubungan Keluarga.
Entah kenapa apapun yang dilakukan oleh Kai, semakin membuat dirinya terkagum pada sosok Lelaki berkulit tan tersebut. Kai adalah Lelaki yang cerdas dan juga berwibawa. Sama seperti Ayahnya. Apakah sosok Lelaki seperti mereka adalah sosok yang dibutuhkan oleh Bisnis Perusahaan besar?
"Ow, kau adalah Putera dari Park Chanyeol?"
Baekhyun terpaksa menolehkan kepalanya ke arah suara yang tertuju kepadanya. Dan ketika ia menoleh, ia melihat ada seorang Lelaki yang terpostur tidak terlalu tinggi, memiliki kulit yang sangat putih dan juga senyuman bak malaikat. Karena Baekhyun terlalu takut untuk berbuat kesalahan, Baekhyun menyenggol lengan Kai yang senantiasa berdiri di sampingnya dan bertanya siapa sosok Lelaki ini.
"Ahh, lama tidak berjumpa denganmu, Tuan Kim Suho. Bagaimana kabarmu?" sapa Kai mengabaikan tatapan Lelaki yang bernama Suho tersebut yang terus tertuju kepada Baekhyun.
"Tentu aku selalu baik. Bagaimana dengan kabarmu, Tuan Kim Jongin?" Suho terus tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Kai.
Kai menerima jabatan itu dan tersenyum tak kalah dari senyuman Suho. "Aku baik. Dan aku sangat senang kau menghadiri acara Pernikahan Park Chanyeol ini."
Sementara Baekhyun, ia merasakan keganjilan yang terjadi di antara Kai dan Suho. Mereka memang saling melemparkan senyum, tetapi tatapan mereka mengartikan sebaliknya. Baekhyun tidak mengerti, tetapi ia memutuskan untuk membungkuk hormat pada Suho dan Suho kini kembali menatapnya.
"Kehadiranmu sudah aku tunggu sejak lama, Park Baekhyun."
Deg!
Siapa sebenarnya orang ini?
Kenapa ia berkata demikian?
Berkata seolah ia telah mengincarnya sejak lama dan kini menjadikan dirinya sebagai target utama.
Apakah ada hal lain yang tidak ia ketahui?
"Ahh, Baekhyun… sepertinya sudah saatnya kita mengurus hal lain. Dan… Tuan Kim Suho, maafkan aku karena kami masih memiliki urusan yang mendesak saat ini," potong Kai sambil menarik tangan Baekhyun menjauh dari hadapan Suho.
Suho memiringkan kepalanya melihat kepergian Kai dan Baekhyun dari hadapannya. Mereka nampak ketara sekali ingin menjauhinya.
"Apa yang salah pada mereka? Padahal aku masih ingin sedikit bermain-main dengan Putera tunggal Park Chanyeol itu," gumamnya.
.
.
.
Kai teringat kejadian itu. Kejadian dimana orang-orang suruhan Suho menghajarnya hingga babak belur. Di hari yang sama, saat ia dipertemukan oleh Park Baekhyun untuk yang pertama kali. Ia tidak tahu apa alasan Suho mengirim beberapa orang untuk menghajarnya. Karena sebelumnya, ia maupun Chanyeol tidak memiliki masalah apapun.
Dan hal itulah yang membuatnya segan untuk menemui atau berhadapan dengan Kim Suho. Terlebih saat ini, ia sedang bersama dengan Baekhyun. Seseorang yang sangat penting untuk keberlangsungan Perusahaan Park Corp.
"Tuan Kim… apakah Tuan Kim Suho adalah saingan Bisnis kita?" Baekhyun memberanikan dirinya untuk bertanya pada Kai, saat Lelaki itu membawanya untuk menjauhi acara Pernikahan yang baru saja selesai tersebut.
"Lain daripada itu, dia adalah musuh di dalam selimut."
Jawaban Kai sudah cukup jelas bagi Baekhyun. Dan ia akan memasukkan nama Kim Suho sebagai orang yang harus ia waspadai mulai saat ini.
Jika memang benar Suho adalah sosok yang jahat, maka ia harus bisa melawannya dan melindungi Perusahaan besar sang Ayah. Ia berjanji, ia tidak akan menjadi Anak yang pembangkang lagi. Ia akan menuruti apa perintah sang Ayah dan juga Kai.
"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Kau menemukanku di samping Gedung dalam keadaan babak belur. Nyatanya aku baru saja dihajar oleh orang-orang suruhan Kim Suho," jelas Kai. Tentu Baekhyun mengingat kejadian itu. Dan hal itu bahkan belum terlalu lama terjadi.
"Apa alasannya? Lalu… apakah Ayah tidak melakukan sesuatu?" tanya Baekhyun sedikit khawatir.
"Aku tidak tahu. Tetapi Ayahmu sudah menyuruh orang untuk melenyapkan orang-orang yang telah menghajarku tersebut."
"Melenyapkan?" gumam Baekhyun. Kai mengangguk.
"Ayahmu adalah orang yang kejam, Baek."
Baekhyun tidak tahu jika persaingan Bisnis akan semengerikan itu. Bagaikan mata rantai yang terus tersambung tanpa ujung. Persoalan-persoalan akan selalu datang padanya dengan silih berganti.
Ia kira, kehidupannya akan mudah hanya dengan menuruti perintah sang Ayah. Tapi nyatanya hidup tidak semudah itu. Kita tidak tahu siapa yang akan berbuat jahat terhadap kita.
"Dan… Kim Suho adalah alasan utama kenapa Ayahmu menikahi Xi Luhan. Kau sudah mengerti sekarang, Park Baekhyun?"
Baekhyun menghela nafasnya dan menggeleng. "Aku masih tidak mengerti, Tuan Kim. Lalu… apa yang harus aku lakukan saat ini?"
Kai tersenyum dan mengusak rambut Baekhyun dengan lembut.
"Kau tidak perlu khawatir. Ada banyak orang yang akan menjagamu… termasuk aku."
.
.
.
Acara Pernikahan besar itu telah usai. Mereka kembali beraktivitas di Kantor dengan normal. Begitupun dengan Chanyeol maupun Luhan. Chanyeol tetap bekerja di Kantornya, dan Luhan pun melakukan hal yang sama. Meskipun mereka adalah Pengantin baru, tetapi sepertinya itu tidak berlaku bagi mereka. Lebih daripada berbulan madu, nyatanya urusan pekerjaan jauh lebih penting.
Chanyeol bisa bernafas lega saat ini. Setidaknya, Perusahaannya mendapatkan dukungan dari Perusahaan Luhan. Kendala-kendala yang sempat menghambat operasional Perusahaannya sebelumnya, kini kian lama kian teratasi.
Chanyeol melirik ke arah jam tangannya. Sudah waktunya untuk makan siang. Mau tidak mau, ia harus meninggalkan Pekerjaannya sejenak. Tidak bohong, ia merindukan Putera kecilnya. Maka dari itu, ia berniat untuk mengajak Baekhyun makan siang di Ruangan Puteranya tersebut.
Kini ia sudah berada di depan Ruangan Baekhyun. Ia masuk ke dalam dengan cepat, dan melihat ada Kyungsoo yang sepertinya sedang mengambil berkas yang baru diselesaikan oleh Baekhyun. Setelah tersenyum pada Kyungsoo yang memberinya penghormatan, matanya kini tertuju pada Baekhyun dan senyuman seketika merekah di wajah tampannya.
"Apa kau tidak merindukan Ayahmu, Park Baekhyun. Tinggalkan tugas itu, dan datanglah pada Ayah."
Sialan! Baekhyun tidak bisa menolak pesona sang Ayah yang selalu berhasil meluluhkan hatinya dan mengosongkan pikirannya. Ia bahkan segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri sang Ayah. Memeluk erat tubuh tinggi itu, lalu menerima kecupan manis yang selalu menjadi candunya tersebut.
"Ada apa Ayah?"
"Ingin makan siang dengan Ayah?" tawar Chanyeol.
Namun ekspresi Baekhyun berubah ketika matanya menangkap cincin Pernikahan yang melingkar manis di jari sang Ayah. Chanyeol yang mengerti arti tatapan Baekhyun, segera melepaskan cincin itu lalu menyimpannya di saku celana. Senyuman Baekhyun langsung mengembang dan ia menganggukkan kepalanya antusias.
"Aku ingin Pizza, Ayah!" ucap Baekhyun.
"Baiklah, Ayah akan pesankan Pizza untuk Putera Ayah yang sangat Ayah cintai."
Mereka memutuskan untuk duduk di sofa yang terdapat di Ruangan Baekhyun, sembari menunggu makan siang mereka datang. Sesekali mereka saling berbagi kecup dan mengobrolkan obrolan penting mengenai Perusahaan. Namun tidak pernah sekalipun Baekhyun bertanya mengenai Kim Suho pada sang Ayah, karena ia terlalu takut untuk menanyakannya. Biarlah sang Ayah sendiri yang memberitahunya. Ia yakin, pasti tidak ada satupun hal yang disembunyikan oleh sang Ayah darinya.
Sementara di sisi lain, Kai baru saja keluar dari lift berniat untuk mendatangi Ruangan Baekhyun. Namun ia melihat Kyungsoo keluar dari Ruangan itu dan ia memutuskan untuk bertanya.
"Do Kyungsoo…" panggil Kai.
Kyungsoo segera menghentikan langkahnya dan menghadap pada Kai. "Ada apa Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah ada orang lain di Ruangan Baekhyun?" tanya Kai langsung ke inti.
Kyungsoo menganggukkan kepalanya. "Ada Tuan Besar Park Chanyeol di sana."
Kai terdiam sejenak dan mengucapkan terima kasih pada Kyungsoo. Kyungsoo hendak beranjak dari hadapan Kai, tapi Kai lagi-lagi memanggil namanya.
"Ahh Do Kyungsoo. Bisakah kau bawakan Ayam goreng ke Ruanganku?" pinta Kai.
"Tentu Tuan."
"Baiklah, terima kasih."
Ketika Kyungsoo benar-benar beranjak dari hadapannya. Kai sempat memperhatikan Kyungsoo yang nampak kelelahan. Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Baekhyun, yang mengatakan bahwa Kyungsoo menyukainya. Tapi lagi-lagi, ia tidak mendapatkan clue apapun dari Kyungsoo karena Kyungsoo bertindak dan bersikap sebagaimana mestinya.
Kai menghela nafasnya dan mengikuti langkah Kyungsoo. Ia menyusul Kyungsoo memasuki lift dan Kyungsoo sudah tahu jika Kai akan kembali ke Ruangannya. Yaitu tiga Lantai di bawah Lantai ini.
.
.
.
Sesampainya di Ruangannya, Kai memutuskan untuk menghabiskan sisa kopi paginya sambil berdiri di dekat jendela kaca guna menghilangkan penat dengan memandang pemandangan yang tersaji di luar. Sembari menunggu makan siangnya datang, ia sedikit melakukan peregangan pada otot-otot tubuhnya yang kaku. Tepat setelah ia melakukan peregangan, pintu Ruangannya yang terbuka dan menampilkan sosok Kyungsoo di sana.
Tidak biasanya ia tersenyum karena kehadiran seseorang. Mungkin karena Kyungsoo saat ini membawakan makan siang yang sangat ia inginkan. Entahlah. Ia pun merasa canggung karena menunjukkan senyumannya pada Kyungsoo. Padahal Kyungsoo masih menunjukkan ekspresi wajah yang datar.
"Ini makan siang pesanan Tuan," ucap Kyungsoo sambil menunjukkan kantong kertas berisi Ayam goreng pada Kai.
"Letakkan di atas meja. Aku akan memakannya nanti."
"Baiklah Tuan."
Kyungsoo meletakkan kantong itu seperti perintah Kai dan segera keluar dari Ruangan itu. Lagi-lagi, Kai tidak bisa memalingkan pandangannya dari Kyungsoo hingga Asistennya tersebut benar-benar menghilang di balik pintu.
Kai menertawai dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Apa yang terjadi pada dirimu, Kim Jongin?"
.
.
.
Tak terasa malam kembali menjemput. Kai membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya, lalu menyusunnya dengan rapih. Ia harap ia bisa melanjutkan pekerjaannya esok hari, karena saat ini ia benar-benar lelah dan ingin beristirahat.
Namun malam ini ada yang berbeda, karena ia baru saja mendapatkan pesan dari Baekhyun bahwa ia tidak akan lagi tidur di Apartemennya. Meskipun sedikit tidak rela, tetapi apa yang bisa ia perbuat? Chanyeol adalah Pemilik Baekhyun, bukan dirinya. Dan ia tidak berhak untuk memiliki Baekhyun selagi sepasang Ayah dan Anak itu masih saling mencintai.
Kai menghela nafasnya dan hendak berdiri, jika saja pintunya tidak lebih dulu diketuk oleh seseorang dari luar sana. Ia menyuruh orang tersebut untuk masuk, dan ia sedikit terkejut ketika sosok Kyungsoo muncul di hadapannya. Padahal hal ini sering terjadi, karena Kyungsoo yang bertugas untuk mengunci pintu Ruangannya.
"Tuan… tidak pulang ke Rumah?" tanya Kyungsoo yang juga sedikit terkejut mendapati Kai masih duduk di dalam Ruangannya.
Memang benar, nyatanya Kai melamun di Ruangannya dan tidak menyadari bahwa ia telah menghabiskan waktu setengah jam. Kalaupun biasanya Kai lembur, maka ia akan mengabarkannya pada Kyungsoo. Namun kali ini tidak. Dan hal itu membuat Kyungsoo bingung.
"Ahh aku hanya sedang membereskan berkas-berkasku dan akan segera kembali. Setelahnya, kau bisa mengunci Ruangan ini," ucap Kai. Dan Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban.
Setelah meraih tas kerjanya dan juga jas formalnya, ia bangkit dan berjalan menuju pintu. Tubuh tingginya bahkan melewati Kyungsoo yang masih terdiam di ambang pintu. Mata Kai tidak berhenti untuk menatap sosok Kyungsoo meskipun Kyungsoo tidak pernah menyadari hal itu. Entah kenapa ia merasakan ada sesuatu di dalam diri Kyungsoo yang sedikit berbeda, dan hal itu menariknya.
"Kyungsoo…" panggil Kai.
Kyungsoo yang baru saja selesai mengunci pintu tersebut, menghadap ke arah Kai yang memanggilnya. Tidak biasanya Kai memanggilnya di saat jam seperti ini. Terlebih jam kerja sudah usai.
"Ada apa Tuan?"
"Kau membawa kendaraanmu sendiri?" Kai melayangkan pertanyaan yang cukup aneh pada Kyungsoo.
Kyungsoo melirik ke sembarang arah sejenak, lalu ia kembali menatap Atasannya tersebut lengkap dengan senyumannya.
"Aku tidak memiliki kendaraan, Tuan."
Kai mengangguk dan tak lama setelahnya, ia membiarkan Kyungsoo meninggalkan tempat itu. Sementara dirinya pun ikut melangkah keluar dari Gedung ini.
Betapa terkejutnya Kai saat melihat Kyungsoo tidak berhenti di pinggir jalan untuk sekedar menunggu Bus atau Taxi, karena yang ia lihat saat ini adalah Kyungsoo berjalan kaki ke arah kiri sambil mengeluarkan sebotol minuman.
Jadi… apakah Kyungsoo benar-benar berjalan kaki untuk pulang ke Rumah?
Padahal jika dilihat dari gaji yang Kyungsoo miliki, itu sudah sangat cukup bahkan untuk membeli sebuah Mobil. Tapi kenapa Kyungsoo tidak memilih untuk membeli Mobil?
Ia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Asistennya tersebut. Menurutnya, Kyungsoo memiliki kepribadian yang unik.
"Kenapa dia aneh sekali?" gumam Kai.
.
.
.
Baekhyun sangat merindukan paginya bersama sang Ayah tercinta. Senyuman cerah langsung terlukis di wajah cantiknya, kala mendapati sang Ayah sedang berdiri di samping tempat tidur mereka sambil membaca surat kabar guna mengetahui bursa efek saham saat ini.
"Sepagi ini, tapi kau sudah sangat sibuk Tuan Park Chanyeol," sindir Baekhyun pada sang Ayah.
Chanyeol yang tersadar, segera meletakkan surat kabar tersebut lalu menatap sang pujaan hati. "Kau sudah bangun sayang?"
Baekhyun segera turun dari tempat tidurnya dan menghampiri sang Ayah. Ia melingkarkan lengannya di leher sang Ayah dan menatap mata tajam itu.
"Hari ini adalah hari minggu. Apa Ayah tidak ingin melakukan sesuatu?" goda Baekhyun.
"Melakukan apa maksudmu?" tanya Chanyeol berpura-pura.
Baekhyun segera melepaskan piyama sang Ayah dengan cepat, sehingga tubuh atletis sang Ayah terpampang jelas di hadapannya saat ini.
"Aku merindukan Ayah," ucap Baekhyun sembari memeluk tubuh sang Ayah.
Chanyeol tersenyum atas perbuatan sang Putera, lalu membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Ayah juga merindukanmu, sayang. Apakah sebaiknya kita mandi bersama sekarang?"
Pipi Baekyun seketika merona atas ajakan sang Ayah. Tentu ia sangat ingin mandi bersama sang Ayah.
Dan di sinilah mereka berada, di dalam bath up yang dipenuhi oleh air hangat yang telah dicampur dengan cairan beraroma terapi, dengan Baekhyun yang duduk di atas pangkuan sang Ayah. Jangan lupakan keduanya yang sudah sama-sama bertelanjang bulat.
"Ayah…"
Baekhyun menggoda sang Ayah, dengan menggoyangkan bokongnya tepat di atas kejantanan sang Ayah. Ia terus menatap wajah tampan milik Ayahnya tersebut, dan sesekali memeluknya dengan erat.
"Kenapa Ayah tidak berbulan madu bersama Luhan? Kenapa Ayah justru menemaniku di sini?" ucap Baekhyun lirih.
"Bukankah sudah seharusnya seperti itu? Dengan begitu, kau tidak akan meragukan cinta Ayah lagi," jawab Chanyeol dengan santai.
"Tapi… apakah semudah itu Luhan menyerahkan Ayah padaku?"
"Ayah tidak tahu apa yang ada di dalam kepala Luhan. Tapi ada satu yang Ayah tahu… bahwa ia benar-benar mencintai Ayah. Ayah bahkan belum pernah menyentuhnya."
Baekhyun cukup terkejut atas perkataan sang Ayah. Benarkah Lelaki itu mencintai sang Ayah? Bahkan rela membiarkan Lelaki yang telah resmi menjadi Suaminya tersebut berhubungan dengan Puteranya sendiri?
Baekhyun terdiam sejenak memikirkan hal itu. Kemudian ia kembali mempertemukan pandangan mata mereka dan tersenyum kecil.
"Lakukan apapun yang Ayah inginkan. Jika memang Ayah harus tinggal bersama Luhan, aku tidak akan lagi melarang Ayah. Tetapi beri aku kesempatan terakhir untuk bercinta dengan Ayah kali ini…"
Baekhyun menenggelamkan milik sang Ayah ke dalam lubangnya secara perlahan, sambil menahan desahannya.
"Setelahnya… aku tidak akan mengganggu Ayah lagi."
Belum sempat Chanyeol berbicara, Baekhyun lebih dulu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang menuntut. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain menuruti keinginan sang Putera.
Jika memang itu yang Baekhyun inginkan, maka tidak banyak yang dapat ia perbuat. Karena ia berjanji akan melakukan yang terbaik demi Putera satu-satunya yang ia miliki tersebut.
'Ayah sangat mencintaimu, Park Baekhyun.'
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
Muncul cast baru yaitu Kim Suho~
Karena konsep comebacknya Suho yang ada tanduknya/? gitu, jadi Yuta putusin untuk jadiin Suho sebagai cast yang jahat. Bisa dibilang, Suho lah cast yang paling ditunggu-tunggu oleh semua cast yang ada di FF ini, karena Suho yang akan menghancurkan semuanya wkwkwkwk *digampar :'v
Okeh, benih-benih KaiSoo sudah mulai muncul di chapter ini. Dan akan Yuta perjelas di chapter selanjutnya. Semoga kalian gak bosan dengan FF ini.
Yuta minta REVIEW dari kalian.
Yuta tunggu~
THANK YOU!
