Padahal ini sudah memasuki tahun ke-5, tapi Jae masih mengutuk dan menyesal mengapa ia masuk ke Hogwarts.
Tidak bisakah ia bersekolah di tempat lain saja? Yang lebih normal, mungkin? Jae juga tidak meminta dilahirkan untuk jadi penyihir, lebih baik ia jadi muggle seumur hidupnya.
Ah perkenalkan, namanya Park Jaehyung. Lahir di dunia muggle, kedua orang tuanya sudah meninggal sehingga ia harus ikut dengan keluarga pamannya.
Jangan berpikir ia mempunyai nasib seperti Harry Potter, tidak tentunya. Pamannya orang baik, tenang saja.
Terbiasa hidup menjadi muggle selama 10 tahun, sampai ada surat dari Hogwarts yang menyatakan kalau namanya sudah terdaftar menjadi siswa disana.
Jae bahkan tidak tahu kalau orang tuanya ternyata penyihir, bahkan ia sempat berpikir apakah dia benar-benar anak mereka?
Beruntung keluarga Pamannya mengizinkan, dan berakhirlah ia di Hogwarts.
Selain mengutuk hidupnya, ia juga mengutuk sorting hat yang menempatkannya di Gryffindor. Bagian mana dari dirinya yang bersifat pemberani?
"Jae hyung? Apa yang kau pikirkan? Cepat masuk ke kelas! Professor Snape sudah di ujung koridor!" Jae tersentak ketika Younghyun memanggilnya, ia setengah berlari masuk ke kelas.
"Bodoh! Apa yang kau pikirkan, hyung? Untung saja Professor tidak melihatmu!" Wonpil, anak Hufflepuff yang juga tergabung dalam grup mereka, mengomel.
"Maaf, aku tidak sengaja melamun." Jae menjawab sembari terkekeh, Younghyun mendengus. Anak Gryffindor bermata rubah itu menginjak kaki kanan Jae sampai sang empu-nya nyaris menjerit layaknya orang kesurupan.
"Maaf, aku tidak sengaja menginjakmu."
"Brengsek kau, Brian."
"Terima kasih kembali, Jae Park."
Lupakan, ia memang ditakdirkan untuk menjalani kesialan sejak dalam rahim Ibu-nya.
"Ehmm, maaf sunbaenim. Jangan berisik, sebentar lagi pelajaran akan dimulai." Mereka bertiga sontak menoleh pada dua orang anak, yang satu berwajah polos, dan yang satu berwajah manis.
"A-ah iya, maafkan kami." Jae tersenyum kikuk, merasa bersalah. Pemuda yang berwajah manis itu balas tersenyum, ia menggenggam tangan pemuda yang berwajah polos itu.
"Kami permisi dulu."
"T-tunggu sebentar!" Jae sontak setengah berteriak, menahan kedua orang itu untuk pergi. "Maaf telah berteriak pada kalian berdua, tapi maukah kalian bergabung dengan kami?"
Yang berwajah manis mengerjap pelan, lalu tersenyum kecil. "Tentu, sepertinya Dowoon juga tidak akan keberatan untuk bergabung dengan kalian."
"Eyy, hyung. Bukankah kau yang lebih sering menyendiri dibanding aku?" Dowoon mencibir, seolah tidak terima dengan perkataan pemuda tadi.
"Berisik, Yoon." Pemuda manis tadi ikut mencibir, lalu ia mulai mengenalkan diri. "Ah, maaf. Namaku Park Sungjin, dan di sebelahku Yoon Dowoon. Dia dari Hufflepuff, dan--"
Percayalah, Jae tidak pernah se-terkejut ini ketika mendengar perkataan Sungjin selanjutnya.
"Aku dari Ravenclaw!"
Mulut Jae menganga lebar, Brian terbelalak, Wonpil hampir menjatuhkan pena bulu yang sedang digenggamnya. Sedangkan dua orang di depan mereka hanya tertawa kecil.
Demi janggut Merlin yang sudah berwarna pink neon, Jae mana tahu kalau anak Ravenclaw ada yang semanis ini? Boleh kenal dekat, tidak?
Kini, Jae tidak menemukan alasan apapun untuk menyesali kehidupannya di Hogwarts.
myday6
"Hyun, astaga. Dia dari Ravenclaw! Aku bahkan tidak pernah melihat anak Gryffindor ada yang secantik dirinya!"
Ini bahkan baru 10 menit dari waktu istirahat, tetapi Jae sudah seperti orang gila setelah bertemu Sungjin 2 jam yang lalu. Younghyun memutar bola matanya malas.
"Hyung, sungguh, aku tidak heran kalau tiba-tiba kau jatuh tergelincir dari tangga karena tingkahmu yang seperti cacing kepanasan itu." ujarnya sambil mendengus, mata rubahnya mendelik tajam.
Jae menatapnya malas, ia menoyor kepala Younghyun. "Kau anak tolol yang kejam, aku heran kenapa sampai sekarang jiwamu belum dihisap Dementor[1]."
"Dementor tidak akan tega menghisap jiwaku, aku terlalu tampan untuk dihadapinya."
Baru saja Jae ingin membalas perkataan Younghyun, tiba-tiba ia merasa seseorang menabraknya dari belakang. Untung saja ia tidak jatuh.
"A-ah! Maafkan aku!"
"S-Sungjin? Kenapa kau membawa pot sebanyak itu sendirian?" Jae berbalik dan menemukan Sungjin yang wajahnya tenggelam dalam tumpukan pot yang dibawanya.
"Professor Sprout meminta tolong padaku, maaf ya Jae hyung." sesalnya, ia mencoba berjalan tetapi ia tergelincir. Sontak saja ia memekik tertahan dan memejamkan mata, siap-siap merasa sakit.
Beberapa menit kemudian, Sungjin tidak merasa sakit. Ketika ia membuka mata, ia menemukan wajah Jae yang sangat dekat dengannya. Bahkan, hembusan napas mereka berdua bisa terdengar.
"K-kau tidak apa-apa?" tanya Jae khawatir, Sungjin mengangguk pelan. Pantas saja ia tidak merasa sakit, Jae menahannya agar tidak jatuh dan merengkuh pinggangnya.
"Ehmm, maaf Sungjin hyung. Pot-nya.." Sungjin berbalik dan menghela napas melihat keadaan pot yang sudah hancur, kepalanya mendadak pening.
"Reparo[2]!" Dengan sekejap, pot-pot tersebut kembali ke bentuk asalnya. "Jae hyung, Younghyun-ah, bisakah kalian membantuku membawa pot-pot ini?"
"Dengan senang hati."
Oh ayolah, Jae mana mungkin menolak permintaan calon kekasihnya?
TBC
-; Dementor : makhluk setinggi manusia dewasa dengan tampang mengerikan tanpa mata, berkerudung, dan hanya terlihat tangan hijaunya yang menyeramkan. Penjaga penjara Azkaban.
-; Reparo : mantra untuk mengembalikan atau memperbaiki objek yang rusak.
Cocok nggak sih nanti dijadiin cerita sendiri? Kalo mau, aku siap-siap bikinin nih:')
