[Chapter 24]
Hati Baekhyun hancur saat sang Ayah mengatakan bahwa ia akan membawa Luhan untuk tinggal di Mansion mereka tadi pagi. Namun itulah yang harus ia hadapi. Sudah seharusnya ia berhenti bersikap egois. Ia sudah tumbuh semakin dewasa, dan ada yang lebih penting lagi dari semua itu… yaitu bagaimana ia bisa menjadi orang yang berguna untuk Perusahaan di masa depan.
Baekhyun melangkah keluar dari Kamar barunya untuk menuju ke Kantor karena Paman Lee sudah menunggunya. Ya, Baekhyun kini memiliki Kamar baru, setelah ia meminta pada sang Ayah untuk memisahkan Kamar mereka. Tentu sang Ayah memenuhi permintaannya tersebut.
Helaan nafas ia keluarkan dengan lemah saat dirinya memasuki Mobil sedan mewah milik sang Ayah. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang mungkin bisa berbagi kesedihan dengannya.
Sehun mungkin adalah orang yang tepat.
Pip… pip… pip…
Baekhyun menunggu Sehun menerima panggilannya sembari melihat jam yang saat ini menunjukkan pukul 7 pagi. Ia tahu bahwa jam pelajaran Sehun dimulai pukul 8 pagi, jadi tidak ada alasan bagi Sehun untuk tidak menerima panggilannya kali ini.
"Ahh Hyung, ada apa?"
"Sehun… pulang Sekolah nanti, apa kau bisa bertemu denganku?"
"Apa ada sesuatu yang terjadi padamu, Hyung?"
"Aku ingin bercerita banyak denganmu."
"Um… sepertinya jadwalku padat sepanjang hari ini. Dan aku tidak yakin bisa datang ke Kantormu. Bagaimana jika kita bertemu di suatu tempat nanti malam?" ucap Sehun.
Baekhyun terdiam sejenak untuk berpikir.
"Kau bisa datang ke Mansion Ayahku malam ini?"
Ya, lebih baik ia mengundang Sehun untuk datang ke Mansionnya daripada ia harus mencari alasan pada sang Ayah yang sudah jelas melarangnya untuk pergi.
"Apakah tidak masalah jika aku datang ke sana?"
"Kau adalah Adikku, Sehun."
"Baiklah, baiklah. Aku akan datang ke sana. Tunggu aku Hyung."
Setelah menyetujui ucapan Sehun, panggilan itu pun terputus. Baekhyun kembali pada kehidupannya dan memikirkan tentang tugas pekerjaan yang menunggunya hari ini. Ia harus kembali fokus, jika ia ingin menjadi seseorang yang lebih baik.
Tak terasa ia telah tiba di Kantornya. Dan saat ini ia sedang menuju ke Ruangan Kai untuk meminta tugas dari Lelaki seksi itu, seperti yang biasa ia lakukan. Namun saat ia baru saja memasuki Ruangan milik Kai, ia melihat sosok Kyungsoo yang sedang mengantarkan secangkir kopi untuk Kai. Tidak biasanya Kai meminta dibawakan secangkir kopi oleh Kyungsoo, biasanya Lelaki itu akan membeli kopi sendiri di food court.
Menyadari kedatangan Baekhyun, Kyungsoo segera bergegas keluar dari Ruangan itu. Tentu sebelumnya ia mengucapkan selamat pagi pada Penerus tunggal Perusahaan tempatnya bekerja tersebut.
Tepat setelah kepergian Kyungsoo, Baekhyun tersenyum lebar ke arah Kai dan segera mendekati Lelaki itu. Sebelum Kai berhasil menyeruput kopinya, Baekhyun lebih dulu merebut cangkir itu dari tangan Kai lalu meminumnya dengan santai.
"Hey, apa yang kau lakukan?" protes Kai.
Baekhyun tetap menyeruput kopi tersebut, sambil menatap Kai dan berusaha untuk menggodanya.
"Kopi dengan rasa cinta yang tulus di dalamnya," ucap Baekhyun.
"Ck! Apa-apaan itu?" acuh Kai.
"Hei Tuan Kim yang terhormat, kenapa kau masih tidak menyadarinya? Kyungsoo itu menyukaimu."
Kai tertawa menanggapi ucapan Bocah manis tersebut. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Menyuruhnya untuk berhenti menyukaiku, begitu maksudmu?"
Baekhyun pura-pura terkejut atas ucapan Kai. "Ada yang aneh pada dirimu, Tuan Kim. Baru pertama kali aku melihatmu menyuruh Kyungsoo untuk membawa kopi. Kau mulai menyukainya, ya?"
"Tuan muda Park Baekhyun, aku terlambat datang ke Kantor hari ini dan tidak sempat untuk membeli kopi. Apa yang salah jika aku menyuruhnya untuk membuatkanku kopi?"
Baekhyun mengangguk takjub atas jawaban Kai.
"Pertama, kau tidak mungkin datang terlambat ke Kantor. Dan kedua, setahuku kau lebih menyukai kopi di food court Kantor ini ketimbang buatan Kyungsoo."
Kai tertawa kecil atas kejelian Bocan manis tersebut.
"Kau benar-benar orang yang teliti dan observatif, Park Baekhyun."
"Jadi… apa aku benar?"
"Benar apa?"
"Kau mulai tertarik dengan Kyungsoo," final Baekhyun.
.
.
.
Sehun baru saja keluar dari Sekolahnya. Ia nampak sedang sibuk dengan ponselnya. Ya, saat ini ia tengah menghubungi sang Ibu untuk mengabari bahwa ia akan pulang terlambat, karena harus menemui sang Hyung.
"Bu, aku pulang terlambat malam ini, karena Baekhyun Hyung ingin aku berkunjung ke Mansion-nya."
"Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Entahlah Bu, sepertinya ia sedang memiliki masalah."
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Jangan melewatkan makan malammu. Ahiya, dan Ibu yakin bahwa Park Chanyeol akan memperlakukanmu dengan baik."
"Aku harap begitu. Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan Paman Park Chanyeol."
"Sampaikan salam Ibu untuknya. Ibu akan mengatakan pada Ayahmu bahwa kau tidak ikut makan malam ini bersama."
"Tentu. Terima kasih Bu."
Sehun segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana Sekolahnya dan menunggu Bus datang. Jika biasanya ia akan menaiki Bus Sekolah, kali ini ia menaiki Bus umum agar bisa sampai ke Mansion tempat Hyungnya tinggal tersebut. Tidak terlalu jauh memang, dan ia semakin tidak sabar untuk melangkahkan kakinya di tempat yang belum pernah ia kunjungi tersebut.
"Hyung, aku sudah tiba di Mansion-mu," ucap Sehun melalui ponselnya.
"Tengoklah ke belakang, kau bisa melihat Mobilku?"
"Ahh tentu."
Sehun memutuskan sambungan telepon tersebut, dan melihat Mobil yang kini berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela Mobil tersebut terbuka dan wajah Baekhyun muncul dari sana.
"Naiklah."
Sehun mengangguk dan menaiki Mobil mewah itu. Sehun merasa takjub dengan Mobil ini, meskipun Keluarganya juga memiliki Mobil, tetapi Mobil mereka tidak semewah Mobil ini.
"Sehun… kau masih mengenakan seragam Sekolahmu?" tanya Baekhyun.
"Aku tidak sempat pulang ke Rumah untuk mengganti baju Hyung."
"Baiklah. Sepertinya kau nampak lebih tampan dengan seragammu itu," canda Baekhyun.
Tak lama, setelah memutari Taman utama Mansion tersebut, Mobil mereka berhenti di pintu utama. Mereka segera masuk dan Sehun disambut dengan sopan oleh para Pelayan yang bekerja di sana.
"Hahaha aku merasa seperti seorang Pangeran," bisik Sehun pada Baekhyun saat mereka berjalan menaiki tangga menuju ke Kamar Baekhyun.
"Kau ini. Ikutlah ke Kamarku."
Sehun mengangguk dan mengikuti langkah sang Kakak. Sesekali bibirnya terbuka karena takjub akan dekorasi mewah Mansion tersebut. Tempat ini benar-benar seperti Istana!
"Masuklah."
"Sebenarnya… apa yang ingin kau ceritakan Hyung?" tanya Sehun langsung ke inti.
"Tentang Ayah."
Sehun duduk di tepi ranjang milik Baekhyun, sementara Baekhyun melepaskan pakaian kerjanya dan menggantinya dengan pakaian yang lebih santai. Baekhyun menyusul duduk di samping Sehun, dan ia mengerucutkan bibirnya dengan helaan nafas yang berat.
"Ayah sudah Menikah dengan Luhan."
Sehun tahu itu. Meskipun ia terkejut bahwa Baekhyun masih belum bisa menerima Pernikahan sang Ayah, padahal Pernikahan itu sudah berlalu cukup lama.
"Jadi, apa kau bertengkar lagi dengan Ayahmu?" tanya Sehun. Dan ia mendapati gelengan dari Baekhyun.
"Aku tidak lagi mempermasalahkan tentang Pernikahan itu. Lagipula, Ayah hanya mencintaiku. Aku hanya harus bertahan hingga waktu menjadi tepat. Aku harus menjadi Penerus Perusahaan Ayah, karena Ayah menaruh harapan besar padaku. Aku tidak mungkin mengecewakannya."
"Aku mengerti posisimu Hyung. Aku rasa, kau harus membuang sifat egoismu dan fokus pada masa depanmu. Masalah Pernikahan… bukankah kita semua tahu bahwa Pernikahan itu terjadi hanya untuk mengangkat derajat Perusahaan Park Corp?"
Sehun benar. Selain Ayahnya tidak pernah mau menjalin komitmen dengan orang lain, ia pun sangat yakin bahwa sang Ayah memiliki cinta yang besar untuknya.
"Sehun… apakah aku aneh jika aku meminta bantuan darimu?" cicit Baekhyun.
Sehun mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya Baekhyun meminta bantuan darinya. Lagipula, apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Baekhyun?
"Bantuan… dariku?" ulang Sehun.
Baekhyun mengangguk antusias. "Apakah menurutmu Xi Luhan itu mempesona?"
Sehun memiringkan kepalanya bingung. Kenapa Baekhyun tiba-tiba membahas soal Luhan?
"Bukankah semua orang kaya itu mempesona, Hyung?" jawab Sehun tidak yakin.
"Aisshh bukan itu maksudku. Yang aku maksud adalah… umm… kau belum mempunyai Kekasih kan?"
Lagi-lagi Baekhyun melemparkan pertanyaan yang lebih aneh.
"Kau lupa? Aku sekarang bersekolah di Sekolah khusus laki-laki."
Baekhyun menggigit bibirnya sendiri dan nampak berpikir.
"Jadi, kau tidak punya Kekasih kan?" ulang Baekhyun. Dan Sehun hanya mengangguk.
Namun tak lama Sehun tersadar kemana arah pembicaraan Baekhyun. Sehun segera membulatkan kedua matanya dan hendak pergi dari hadapan Baekhyun. Namun Baekhyun lebih dulu menahannya, dan kini Hyungnya tersebut menunjukkan ekspresi wajah yang memelas.
"Aku tahu apa rencanamu, Hyung. Dan aku tidak mau!"
"Sehun… kumohon bantu aku," rengek Baekhyun.
"Tidak Hyung, kau gila!"
"Ayolah Adikku yang manis dan tampan. Bantulah Hyungmu yang sedang kesusahan ini," Baekhyun masih merengek.
Sehun menghela nafasnya keras dan duduk kembali di tempat semula. Ia masih menatap tangan Baekhyun yang memegang tangannya erat.
"Hyung, dengarkan aku. Pertama, aku tidak mungkin mampu melakukannya. Kedua, dia sudah tergila-gila pada Ayahmu. Dan ketiga, aku belum memiliki pengalaman dalam hal itu."
"Aku tidak menyuruhmu untuk memperkosanya. Aku hanya menyuruhmu untuk mendekatinya dan buat dia melupakan Ayahku. Sehun, kau sangat tampan. Aku yakin Luhan akan jatuh cinta padamu," ujar Baekhyun meyakinkan Adik tirinya tersebut.
"Apakah aku setampan itu?" goda Sehun.
"Sehun aku serius."
"Baiklah. Tapi… bagaimana jika aku gagal?"
"Kau tidak akan gagal."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Karena kalian begitu cocok," jawab Baekhyun cepat.
"Ck! Apa-apan itu?"
"Aku berjanji akan memberikan apapun yang kau inginkan. Ayolah Sehun, kumohon."
Sehun akhirnya mengalah, karena ia tahu, ia tidak dapat menolak permintaan Hyungnya tersebut.
"Untuk kali ini, aku akan membantumu. Ucapkan terima kasih padaku, Hyung."
"TERIMA KASIH BANYAK, SEHUN!"
Setidaknya, Baekhyun masih memiliki harapan agar sang Ayah tidak jatuh hati pada Luhan. Ia harap Sehun mampu menarik perhatian Luhan, sehingga Luhan akan berpaling dari sang Ayah.
Semoga saja rencananya kali ini berhasil.
Ya, ia harap seperti itu.
.
.
.
Malam telah tiba, beberapa menit lagi sudah waktunya Kai untuk pulang dari Kantornya. Kai tidak mengerti kenapa ia bersikap aneh seperti yang tengah ia lakukan saat ini. Ya, nyatanya ia berdiri di balik pintu Ruangannya, menunggu Kyungsoo datang untuk mengunci pintu Ruangan itu.
Kai tidak pernah merasa seaneh dan sebingung ini. Padahal biasanya ia akan meninggalkan Ruangannya begitu saja, tanpa memperdulikan siapa yang akan mengunci Ruangan itu. Namun kali ini sungguh berbeda, ia seperti sedang menunggu seseorang yang begitu penting untuknya.
Tok tok tok…
Tubuh Kai sedikit menegang setelah mendengar ketukan pintu Ruangannya. Ketika ia baru saja meraih kenop pintu tersebut, pintu itu terbuka dan langsung menunjukkan sosok Kyungsoo tepat di depannya. Mata mereka saling beradu untuk beberapa detik dalam situasi yang sangat canggung.
Hingga Kyungsoolah orang pertama yang memutuskan kontak mata itu, lalu membungkuk hormat meminta maaf pada Kai.
"Maafkan aku Tuan. Aku kira Ruangan Tuan sudah kosong."
Kai menghela nafasnya mencoba untuk merileksasikan dirinya. Kemudian ia tersenyum dan mempersilahkan Kyungsoo untuk mengunci pintu Ruangannya.
"Kyungsoo… apa kau pulang berjalan kaki lagi malam ini? Maksudku… apa kau tidak lelah? Setelah bekerja seharian, kau masih harus berjalan kaki lagi?" tanya Kai.
Kyungsoo merasa sangat sungkan karena tidak biasanya ia mengobrol dengan Kai, terlebih Atasannya tersebut terlihat ingin mengetahui tentang dirinya. Meskipun sedikit canggung, Kyungsoo memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Aku hanya senang berjalan kaki di malam hari. Terlebih setelah seharian bekerja dan hanya duduk di depan layar monitor. Aku rasa sedikit berolahraga membuat tubuhku tetap sehat," jawab Kyungsoo.
Penjelasan Kyungsoo sangat masuk akal bagi Kai. Dan ia menyukai jawaban seperti itu.
"Kau benar. Lalu… apakah Rumahmu tak jauh dari Kantor ini?" tanya Kai lagi.
Kyungsoo mengangguk. "Aku menyewa sebuah Kamar Apartemen yang berjarak tidak jauh dari Gedung Kantor ini. Hanya melewati beberapa Gedung saja."
Kai mengangguk paham. "Sebenarnya aku ingin melakukan seperti yang kau lakukan. Tapi kau bahkan tahu jarak Apartemenku sangatlah jauh. Aku bisa saja berjalan kaki jika… aku sudah bosan hidup hahaha."
Kai melemparkan guyonannya lengkap dengan tawa renyahnya, yang mana membuat Kyungsoo ikut tertawa.
"Baiklah, selesaikan tugasmu Kyungsoo-ssi."
Kai berjalan lebih dulu meninggalkan Kyungsoo yang tengah mengunci pintu Ruangannya. Dalam langkahnya, Kai bergumam, "Nyatanya kehidupan orang lain nampak lebih menyenangkan daripada kehidupanku. Haruskah aku mencoba hal-hal yang baru agar aku tidak mati kebosanan karena bekerja setiap hari?"
.
.
.
"Park Baekhyun Putera Park Chanyeol…" gumam Suho seorang diri di dalam Ruangan pribadi di Rumahnya.
Raut wajah Suho tidak terbaca kala sepasang matanya menatap ke arah ponselnya, yang mana terdapat foto Baekhyun di sana.
"Ternyata kau begitu mirip dengan Ayahmu," lanjutnya.
Suho menghela nafasnya. "Kenapa kau muncul? Kau bahkan seharusnya tidak terlahir ke Dunia ini."
Tanpa sadar airmata Suho menetes membasahi wajahnya. Lama kelamaan, dadanya terasa sesak dan ia terisak menangis seorang diri di sana.
"Bagaimana mungkin Park Chanyeol jatuh cinta pada Puteranya sendiri? Haruskah aku menghancurkanmu lebih dulu, Park Baekhyun?"
Tangis Suho semakin keras. Ia bahkan melempar ponselnya dengan keras ke atas lantai karpet yang mewah. Suho meremas kuat rambutnya sendiri dan menangisi dirinya yang menyedihkan.
"Dan Park Chanyeol, kenapa kau bisa menikahi Xi Luhan? Apa tujuanmu sebenarnya? Apa kau sengaja ingin menghancurkanku?"
Suho tertawa di tengah tangisannya.
Ia berjalan ke arah laci kaca yang terdapat beberapa foto yang terpajang rapih di sana. Ia meraih salah satu bingkai foto tersebut dan mengecupnya dengan lembut. Airmatanya bahkan membasahi bingkai kaca foto tersebut.
"Kau hanyalah Lelaki keparat, Park Chanyeol!"
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
Maafkan aku semuanya, karena ceritanya jadi weird dan gajelas begini T.T
Dan ceritanya juga gak selesai-selesai T.T
Semoga kalian gak bosen. Dan Yuta janji bakal bikin Chapter depan jdi lebih panjang, biar FF ini gak sampe ratusan Chapter wkwkwk :'v
OKEH! YUTA MINTA REVIEW DARI KALIAN.
YUTA TUNGGU!
TERIMA KASIH! SARANGHAE BBUING~!
