[Chapter 25]
"Chanyeol, apa kau tidak lelah?"
Chanyeol menolehkan kepalanya pada Luhan, saat Lelaki cantik yang kini berstatus menjadi Istrinya tersebut baru saja keluar dari Kamar mandi.
"Aku terbiasa tidur jam 2 pagi," singkat Chanyeol.
Memang benar, Chanyeol hanya memerlukan waktu 4 jam untuk tidur. Selebihnya, ia gunakan waktunya untuk bekerja.
Luhan yang sudah mengganti pakaiannya menjadi piyama, mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidur mewah milik Chanyeol dan menunggu Suaminya tersebut menyusulnya.
"Aku tahu kau sangat sibuk, tapi… apakah kau tidak memiliki waktu 1 jam saja untuk memelukku?" ucapan Luhan otomatis membuat jemari Chanyeol yang sedari tadi menari di atas keyboard, terhenti seketika.
Ia segera berdiri dan menghampiri Lelaki cantik tersebut.
"Kau ingin aku memelukmu atau menyentuhmu, hm?" goda Chanyeol.
Ia berusaha untuk menjadi normal di hadapan Luhan, karena ia tidak mau Luhan sakit hati dan menghancurkan usaha yang selama ini telah ia bangun.
"Aku ingin… kau memulainya dengan mencium bibirku terlebih dahulu," ucap Luhan sebelum ia menarik leher Chanyeol dan dengan cepat mempertemukan bibir mereka.
Chanyeol tentu membalas ciuman itu. Siapa yang tidak tertarik oleh sosok Luhan yang cantik dan juga sempurna? Luhan pun sangat cerdas dan kecerdasan yang dimiliki oleh Luhan itu mampu menarik perhatian Chanyeol.
Terlebih saat ini status yang dimiliki oleh mereka adalah suami istri. Dan semua orang bahkan sudah mengetahui hal itu. Sudah sepantasnya mereka melakukan hal yang lebih intim daripada sekedar ciuman.
"Jadi… apa aku sudah bisa menyentuhmu sekarang?" bisik Chanyeol setelah ciuman mereka terlepas.
Pertanyaan Chanyeol membuat Luhan merona. Apakah Chanyeol benar-benar ingin menyentuhnya? Benarkah Chanyeol ingin memilikinya seperti ia ingin memiliki Chanyeol?
"Jika kau bisa melakukannya… tentu aku bersedia," jawab Luhan dengan lirih.
Luhan tidak bodoh dan ia ingat betul bahwa Chanyeol mencintai Puteranya sendiri. Kejadian saat ia memergoki Chanyeol sedang bercinta dengan Baekhyun pun bahkan masih jelas di ingatannya.
"Bisakah aku mencobanya?" tanya Chanyeol yang kini mulai melepaskan kancing piyama yang dikenakan Luhan satu persatu.
Luhan mengangguk sebagai jawaban. Kemudian ia memejamkan kedua matanya saat merasakan bibir Chanyeol kembali, dan memilih diam dengan apa yang Chanyeol lakukan terhadapnya. Jujur, ini adalah pengalaman pertama untuknya. Ia bahkan tidak pernah berpikiran untuk bercinta dengan seseorang sebelumnya.
Sementara Chanyeol, ia berusaha mati-matian untuk tidak membayangkan Baekhyun saat bercinta dengan Luhan. Karena dengan membayangkan Baekhyun, sama saja dengan menambah luka perasaan sang Putera.
Untuk hal ini, Luhan begitu polos dan itu membuatnya sangat manis di mata Chanyeol. Jika biasanya ia dihadapkan oleh sikap nakal sang Putera, kali ini ia harus lebih hati-hati karena Luhan adalah seseorang yang sangat berharga.
Nafas mereka saling beradu. Bibir manis Luhan, tak cukup membuatnya puas. Sehingga tangannya mulai bergerak untuk mengusap lembut lengan Lelaki cantik itu, kemudian beralih pada bokong milik Luhan. Ia remas bokong itu perlahan, dan ia tersenyum saat mendengar lenguhan kecil terlontar dari bibir tipis Luhan.
"Aku siap melakukannya," ujar Luhan.
Chanyeol mengecup dahi Luhan. Setelahnya, ia mulai meneroboskan miliknya ke dalam lubang perawan milik Luhan. Chanyeol melakukannya dengan sangat hati-hati dan tidak terburu-buru, karena ia tahu bahwa saat ini Luhan sedang merasa kesakitan. Ia merasakan cengkraman kuat di bahunya, mengingatkannya dengan cengkraman tangan Baekhyun setiap kali mereka bercinta.
Mencoba untuk mengusir bayangan Baekhyun, Chanyeol membuka matanya dan menatap lekat-lekat wajah cantik Luhan sembari menggagahinya. Ini tidak normal. Ia merasa sangat tidak normal. Ia tidak merasakan kenikmatan apapun saat ia tengah menyetubuhi Luhan.
Jantungnya tidak berdegup sekeras saat ia tengah menyetubuhi Baekhyun. Apa yang ia lakukan saat ini amat sangat hambar. Tidak ada gejolak nafsu ataupun dorongan untuk melakukan hal ini lebih lama. Ini sungguh aneh. Amat sangat aneh.
"C-chanh…" lirih Luhan saat Chanyeol mendorong miliknya lebih dalam, bermaksud agar ia bisa merasakan kenikmatan yang sama. Namun nihil. Ia tidak mendapati kenikmatan apapun saat ini.
"Kau sangat nikmat, Lu."
Kebohongan besar baru saja terucap dari bibir Chanyeol. Ia terus melakukan gerakannya, berharap agar ia dapat memuaskan Luhan. Kepuasannya sudah tidak penting lagi saat ini. Ia hanya tidak ingin mengecewakan Luhan lebih dalam lagi.
Ia kecupi permukaan kulit tubuh Luhan yang halus. Sesekali menjilatinya dan bahkan menciptakan beberapa tanda cinta di sana. Ia terus memandangi wajah Luhan dan menunggu Luhan tiba pada orgasmenya. Terus melakukan kebohongan pada Lelaki cantik itu.
Entah sampai kapan ia harus membohongi Luhan bahkan membohongi dirinya sendiri. Tak pernah ia merasakan kebimbangan seperti yang saat ini ia alami. Tujuan hidupnya hanyalah untuk membuat sang Putera hidup dengan baik dan bahagia. Tapi kenapa ia harus membohongi banyak pihak yang tidak berdosa?
"Chanh… la-lakukan lebih cepath," pinta Luhan. Chanyeol tentu segera mengabulkan permintaan itu.
Hingga dengan beberapa dorongan terakhir, Luhan tiba pada orgasmenya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Ia bahkan menyempatkan dirinya untuk menghapus airmata Luhan yang entah sejak kapan mengalir. Ia biarkan Luhan merasakan kenikmatannya lebih lama, dan membiarkan miliknya masih bersarang di dalam lubang hangat nan sempit itu.
Saat ia merasa Luhan sudah lebih baik, ia segera menarik miliknya dengan perlahan dan membiarkan Luhan terlelap. Tak lupa ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Luhan, dan berjalan menuju ke Kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.
Cklek
Pintu Kamar mandi itu tertutup rapat. Chanyeol memandangi dirinya sendiri di depan cermin besar yang berada di sana. Ia nampak sangat kacau. Padahal ia tidak melakukan hal yang aneh. Ia hanya menyetubuhi Luhan. Hanya itu.
Tatapannya mendadak kosong. Rambutnya yang biasa terlihat rapih, kini nampak berantakan karena ia mengusak rambutnya berkali-kali. Pergerakannya nampak gusar. Ia bahkan tidak tahu apa yang membuatnya kacau seperti ini.
Chanyeol segera meraih bathrobe yang tergantung rapih di sana, lalu keluar dari Kamar mandi itu. Ia terus berjalan menuju pintu Kamar, dan bahkan ia sempat menyaksikan Luhan yang sudah benar-benar terlelap di atas tempat tidurnya. Tanpa ragu, ia keluar dari Kamarnya dan berjalan cepat menuju suatu tempat.
Dan di sinilah ia berada.
Tepat di depan Kamar sang Putera, menunggu pintu itu terbuka.
Cklek
"Ayah? Kau belum ti–"
Grep
Ucapan Baekhyun terpotong karena sang Ayah tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Padahal di jam seperti ini, seharusnya sang Ayah sudah tidur. Tetapi kenapa Ayahnya justru mendatanginya dengan raut wajah yang sangat kacau?
"A-ayah… apa yang terjadi padamu?" ulang Baekhyun.
"Ayah sangat mencintaimu, Baekhyun."
Ini aneh. Ia mendengar suara sang Ayah yang sangat bergetar. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada sang Ayah?
"A-aku juga mencintaimu Ayah," gumam Baekhyun.
Setelahnya, Baekhyun merasakan kedua tangan besar sang Ayah menangkup wajahnya dengan erat, lalu sang Ayah mempertemukan bibir mereka dengan cepat. Sang Ayah bahkan mendorong tubuhnya untuk memasuki Kamarnya dan mengunci pintu yang baru saja mereka lewati dengan tergesa-gesa.
Nafas sang Ayah terdengar memburu dan Baekhyun tidak mengerti kenapa sang Ayah bersikap aneh saat ini.
"Ayah? Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun cepat saat ciuman mereka terputus. Ia terduduk di atas tempat tidurnya, sementara sang Ayah masih berdiri di hadapannya.
"Apa kau ingin bercinta dengan Ayah saat ini, Baekhyun?"
Bukannya menjawab, Chanyeol justru melemparkan pertanyaan padanya.
Sebenarnya, Chanyeol tidak perlu meminta izin karena nyatanya ia bebas melakukan apapun terhadap Puteranya sendiri. Baekhyun pun tidak pernah keberatan akan hal itu. Namun dengan kondisi Chanyeol seperti ini, membuat Baekhyun bertanya dalam hati apa yang membuat Ayahnya tersebut terlihat sangat kacau.
"T-tapi bukankah Ayah—"
Mata Baekhyun membulat kala sang Ayah menarik tangannya, lalu mengarahkannya pada kejantanan milik sang Ayah yang sudah sangat mengeras di balik bathrobe yang dikenakannya.
"Buka kedua pahamu dengan lebar dan puaskan Ayah malam ini," perintah Chanyeol.
Baekhyun mengernyitkan dahinya saat sang Ayah kembali melumat bibirnya, bersamaan dengan kedua tangan sang Ayah yang bergerak untuk membuka kedua pahanya dengan lebar dengan posisi terduduk di tepi kasur. Terpaksa Baekhyun mengangkat kedua kakinya, dan membuka pahanya lebar-lebar, menunggu milik sang Ayah melesak masuk memenuhi tubuhnya.
Baekhyun menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan, selagi Chanyeol menyetubuhinya dengan keras dan kasar. Tubuh Baekhyun bergerak tak beraturan dan ia hanya mampu menerima rasa nikmat yang tengah Chanyeol berikan padanya.
Ayahnya ini sungguh gila!
Bagaimana mungkin sang Ayah dapat menyetubuhinya dengan begitu keras seperti ini? Ia bahkan tidak sanggup menerimanya. Sehingga ia menjerit keras, dan meminta sang Ayah untuk tidak terlalu kasar meskipun ia menyukainya.
Baekhyun meringis, merintih dan merengek pada Chanyeol karena Chanyeol nampak ingin menghabisi tubuh mungilnya. Chanyeol bahkan terus mengubah posisi bercinta mereka, yang membuat Baekhyun benar-benar kewalahan. Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Nafas mereka saling beradu dan membuat malam mereka menjadi malam yang panjang.
Chanyeol tidak pernah berpikir akan menyetubuhi Puteranya sendiri sekeras ini. Terlebih saat ini ia berstatus sebagai Suami dari Luhan. Apa yang dilakukannya saat ini sangatlah bejat. Ia rasa kelainannya sudah berjalan terlalu jauh. Ia menjalani kehidupannya di luar dari kata normal.
"A-ayah akan sampai, Baekhh~ Ahh!"
Bersamaan dengan kalimat itu, Chanyeol menyemburkan spermanya di dalam tubuh Baekhyun. Membiarkan cairan hangat miliknya, memenuhi lubang kecil itu bahkan ada yang menetes keluar. Chanyeol memandang takjub ke arah sang Putera yang terkulai lemas di hadapannya. Wajah Baekhyun sangat merah dan nafasnya tersengal-sengal.
Setelah mencabut miliknya dari lubang Baekhyun, Chanyeol berbaring di samping tubuh sang Putera dan memeluknya dengan sangat erat. Tak lupa ia mengecup kening Baekhyun sebagai ucapan penghantar tidur.
Menanti pagi menjelang, menyambut mereka dengan hari yang baru.
.
.
.
Meskipun Luhan sudah tinggal di Mansion milik Chanyeol, tak ayal membuatnya selalu bertemu setiap hari dengan Suaminya tersebut. Chanyeol tidak pernah ada saat ia membuka matanya di pagi hari, maupun terlelap di malam hari. Ia tahu bahwa Chanyeol memang sesibuk itu. Dan ia pun tidak mempermasalahkannya.
Namun ada sebuah perasaan yang mengganjal di hatinya. Dan itulah yang menjadi alasan, kenapa ia bisa berada di Gedung Kantor Park Corp saat ini. Bukan untuk menemui Chanyeol, melainkan kedatangannya di sini adalah untuk mencurahkan isi hatinya pada Kai. Sahabatnya.
Seluruh Karyawan di Gedung ini menyapanya dengan sopan. Cukup membuat paginya menjadi lebih cerah, karena suasana hatinya sedikit membaik.
Tak terasa ia sudah berdiri di depan pintu Ruangan Kai. Tanpa menunggu lama, ia segera mengetuk pintu itu dan masuk ke sana setelah mendengar suara Kai.
"Ow Luhan? Apa yang membawamu ke sini sepagi ini?" sambut Kai dengan kalimat tidak percaya.
"Setidaknya, biarkan aku duduk lebih dulu," singkat Luhan.
"Ah silahkan duduk. Um… apa kau sedang memiliki masalah?" tebak Kai sambil berjalan mendekati Luhan.
Luhan mengangguk. "Aku sudah menikah dengan Chanyeol. Tapi aku merasa tidak memilikinya."
Baiklah, Kai mengerti bagaimana perasaan Luhan saat ini. Ia pun akan sedih bila berada di posisi Luhan. Bagaimana tidak? Ia baru saja menikahi laki-laki yang mencintai Puteranya sendiri. Dunia ini cukup kejam baginya.
"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu? Bukankah itu karena kalian sama-sama sibuk?" ujar Kai.
Luhan menghela nafasnya lemah. "Sibuk bukan berarti tidak memiliki waktu bersama sama sekali. Jujur, aku membutuhkannya untuk berada di sampingku."
Kai tertawa. "Oh ayolah. Kau adalah Xi Luhan si cantik yang mandiri. Dan ini… bukanlah gayamu."
"Kai, aku sedang tidak bercanda."
Tawa Kai perlahan pudar. Lalu ia memandang Luhan dengan tatapan yang serius.
"Apakah ini berhubungan dengan Baekhyun?" tanya Kai.
"Aku rasa Pernikahan kami tidak ada artinya. Dan aku tidak bisa memaksakan Chanyeol untuk mencintaiku," ucap Luhan lemah. Entah kenapa, ia tidak seantusias saat ia mengejar Chanyeol dulu. Banyak hal yang telah terjadi, dan ia tidak yakin apakah ia mampu bertahan dengan perasaannya atau tidak.
"Hey, jangan berpikiran seperti itu. Kalian hanya perlu mengambil cuti beberapa hari untuk berbulan madu. Tidakkah kau menginginkan waktu yang romantis bersama Suamimu?" saran Kai.
"Aku tidak yakin ia mau."
"Dia pasti akan memenuhi apa yang menjadi keinginanmu, Luhan."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
Kai tersenyum atas jawaban Luhan dan mengacungkan kedua jempolnya pada Lelaki berparas cantik itu. Setelahnya, mereka melanjutkan perbincangan mereka, namun kali ini mengenai urusan Pekerjaan.
Hingga ada sebuah panggilan masuk di ponsel milik Kai, yang memaksanya untuk menjeda perbincangannya dengan Luhan.
Setelah cukup laam berbicara melalui ponselnya, Kai melemparkan tatapannya pada Luhan.
"Kim Corp memajukan Rapat yang seharusnya dilaksanakan lusa, menjadi hari ini. Aku harus memeriksa dokumen itu sekarang juga. Kau tidak keberatan jika aku tinggal?" ucap Kai.
"Ahh tidak masalah. Aku akan kembali ke Kantorku. Dan um… kenapa Kim Suho meminta melakukan Rapat hari ini? Aneh sekali. Padahal dia adalah orang yang sangat terjadwal," gumam Luhan.
"Entahlah. Mungkin ada hal yang mendesak."
Luhan mengangguk dan beranjak keluar dari Ruangan Kai. Sementara Kai, ia mengikuti Luhan keluar Ruangan dan berjalan menuju Ruangan Kyungsoo. Ya, daripada ia menunggu Kyungsoo datang ke Ruangannya, lebih baik ia ke sana untuk mempersingkat waktu.
Tok tok tok…
"Kyungsoo?"
Dengan cepat ia membuka pintu Ruangan Kyungsoo dan menangkap sosok Kyungsoo yang sedang duduk di depan layar laptop-nya. Dan ia tahu, Kyungsoo pasti sangat terkejut dengan kehadirannya saat ini.
"Ada apa Tuan Kim?" tanya Kyungsoo yang saat ini sudah berdiri, berjalan mendekati Kai.
"Apa kau sudah menyelesaikan tugas yang kuperintahkan dua hari lalu?" tanya Kai.
"Tugas untuk Rapat bersama Tuan Kim Suho?"
"Ya."
"Aku sudah menyelesaikannya tapi… aku tidak membawa dokumen itu saat ini."
Salahkan Kai karena ia yang menyuruh Kyungsoo untuk membawa dokumen itu besok. Namun ini di luar kendalinya, karena Kim Suho membatalkan perjanjian awal mereka.
"Kau bisa mengambilnya sekarang?" tanya Kai.
"Baiklah Tuan. Aku izin untuk mengambil dokumen itu terlebih dahulu."
"Biarkan aku mengantarmu," ucap Kai cepat.
Kyungsoo sangat terkejut, namun ia kembali teringat bahwa ia berjalan kaki dan tidak memiliki kendaraan pribadi. Yang mana akan memakan waktu lama jika ia harus mengambil dokumen itu seorang diri. Mungkin itulah alasan kenapa Kai menawarkan diri untuk mengantarnya ke Apartemen, karena ada hal yang mendesak.
Tanpa basa-basi atau bisa menolak, Kyungsoo mengikuti langkah kaki Kai yang kini memimpin langkahnya menuju ke parkiran Mobil. Kyungsoo harus berjalan cukup cepat untuk menyusul langkah Kai. Hingga kini mereka berada di samping Mobil milik Kai. Kai lebih dulu masuk ke dalam Mobil itu setelah sebelumnya mengatakan 'masuklah' pada Kyungsoo.
"Apakah kau tinggal di Diamond Apartemen?" tanya Kai.
"Iya Tuan."
Tak memakan waktu yang lama, mereka tiba di Apartemen Kyungsoo dan Kyungsoo terkejut karena Kai justru mengikutinya.
"T-tuan ikut masuk ke dalam?" tanya Kyungsoo.
"Kau pikir untuk apa aku mengikutimu?"
Tak banyak bicara, kini Kyungsoo bergantian memimpin langkah Kai menuju dimana Kamarnya berada. Mereka masih harus menaiki lift karena Kamar Kyungsoo terletak di Lantai 10. Beruntung Apartemen sedang sepi di jam seperti ini, sehingga tidak banyak orang yang menggunakan lift itu.
Ting!
Mereka tiba di Lantai 10. Tatapan Kai hanya terfokus pada punggung Kyungsoo dan membiarkan Karyawannya itu membuka pintu Kamar Apartemennya. Kyungsoo melirik Kai dan Kai mengerti arti lirikan itu.
"Aku akan menunggu di sini."
Kyungsoo mengangguk dan masuk ke dalam Kamar Apartemennya. Tak lama, Kyungsoo kembali keluar dengan berkas dokumen di tangannya. Itu adalah berkas yang dibutuhkan oleh Kai saat ini.
"Maaf telah merepotkanmu, Do Kyungsoo."
"Itu bagian dari tugasku, Tuan Kim."
Kai tersenyum lalu mengajak Kyungsoo kembali ke Mobilnya.
"Jam tiga sore ini, kita harus menghadiri Rapat Tuan Kim Suho. Ia meminta Rapat itu dilaksanakan hari ini karena ada keperluan yang mendesak," jelas Kai.
"Baik, Tuan."
Entah harus senang atau perasaan lain yang harus Kyungsoo tunjukkan saat ini karena lebih sering menghabiskan waktunya bersama Kai. Jika Kai tidak membalas perasaannya pun tidak apa-apa. Lagipula, hal itu adalah ketidakmungkinan akan terjadi di dalam hidupnya.
Cukup dengan bisa melihat Kai setiap hari, sudah membuat hari-harinya menjadi lebih baik.
.
.
.
"Tidak, aku akan menjemputmu. Tunggu aku, okay?"
Chanyeol berbicara melalui ponselnya, karena Luhan baru saja menghubunginya dan mengatakan bahwa Mobilnya tiba-tiba mogok. Namun Luhan bersikeras untuk pulang sendiri dan tidak ingin dijemput olehnya.
"Chanyeol, apa kau tidak lelah? Lagipula, aku akan baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkanku."
Chanyeol segera memakai mantel bulunya dan meraih kunci Mobilnya untuk menjemput Luhan meskipun ia sudah lebih dulu berada di Rumah.
"Tunggu aku di sana. Kau mendengarku, Luhan?"
Belum sempat Canyeol membuka pintu Kamarnya, tiba-tiba pintu Kamar itu terbuka dan menampilkan sosok Baekhyun. Chanyeol bungkam seketika kala Puteranya tersebut memeluknya dengan erat. Padahal sambungan teleponnya dengan Luhan masih terhubung.
"Chanyeol, kumohon kali ini saja biarkan aku pulang sendiri. Hal seperti ini tidak seharusnya dipermasalahkan. Aku akan mengakhiri panggilan ini."
Pip.
Tubuh Chanyeol terdiam kaku dan Baekhyun dengan perlahan meraih ponselnya lalu meletakkannya di atas meja. Tanpa mengatakan kalimat apapun, Baekhyun langsung menciumannya dan menuntutnya untuk membalas ciuman itu. Tak banyak yang dapat Chanyeol perbuat, ia menuruti keinginan Puteranya tersebut dan membalas ciuman itu dengan dalam.
"Ayah…" bisik Baekhyun tepat setelah ciuman itu berakhir.
"Aku tidak suka melihat Ayah terlalu mengkhawatirkan Luhan," lanjutnya.
Chanyeol mengernyitkan dahinya karena melihat wajah Baekhyun yang memerah. Dan juga, sikap aneh yang Baekhyun tunjukkan saat ini, membuatnya curiga. Apa yang terjadi pada Puteranya ini?
"Baekhyun, kau sakit?" tanya Chanyeol panik.
Ia menempelkan punggung tangannya di dahi Baekhyun dan terkejut bukan main. Tubuh Baekhyun sangat panas, dan sepertinya Baekhyun mengalami demam. Beberapa detik setelahnya, tubuh Baekhyun ambruk ke dalam pelukannya.
"Shit!" umpat Chanyeol.
Ia segera menggendong tubuh Baekhyun keluar Kamar dan berlari menuju Mobil yang selalu terparkir tepat di depan pintu utama Mansion tersebut. Ia memerintahkan Paman Lee untuk mengantarkan mereka ke Rumah Sakit secepat mungkin.
Ia tidak ingin terjadi hal yang buruk pada Putera yang sangat dicintainya tersebut.
"Bisakah kau percepat laju Mobil ini Paman? Demi Tuhan, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Baekhyun."
Paman Lee menganggukkan kepalanya dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Chanyeol. Namun ada satu hal yang membuatnya cukup terkejut, saat ia melirik ke arah Ayah dan Anak itu melalui kaca spion tengah Mobil mewah tersebut. Suatu hal yang sangat aneh dan tidak seharusnya dilakukan oleh Majikannya tersebut.
Ya, ia melihat Chanyeol mencium bibir Baekhyun dengan dalam di tengah kepanikannya.
Sementara di tempat lain, Luhan berjalan keluar Gedung Kantor Perusahaan miliknya, setelah menitipkan Mobilnya pada orang-orang suruhannya. Sebenarnya, Mobilnya tidak mengalami mogok dan dalam kondisi yang baik-baik saja. Hanya saja, entah kenapa ia bosan mengendarai Mobil setiap harinya. Dan ia memutuskan untuk menaiki Bus untuk bisa tiba di Mansion milik Chanyeol.
Cukup beresiko memang, mengingat ia adalah orang yang sangat penting untuk perusahaan. Tetapi ia tidak pernah khawatir karena pasti ada beberapa orang suruhan Ayahnya yang akan menjaganya, atau lebih tepatnya, mengikutinya kemana pun ia pergi.
Luhan mendesahkan nafasnya kala ia sudah berhasil menaiki salah satu Bus yang lewat di depannya. Mata rusanya mencari kursi kosong dan hanya ada tersisa satu di pojok kanan. Mau tidak mau, Luhan duduk di sana meskipun ia sedikit merasa tidak nyaman dengan suasana ramai Bus ini.
Setidaknya, ia berhasil merasakan suasana baru dan tidak membuatnya mati karena rasa jenuh. Tidak apa-apa jika ia pun harus duduk di samping Bocah Sekolah yang tidur dengan lelap sambil menutupi wajahnya ini.
Tubuh Luhan kaku saat merasakan sesuatu di bahunya. Dan saat ia menoleh, ternyata kepala Bocah ini baru saja bersandar pada bahunya. Luhan hendak menyingkirkan kepala Bocah ini, namun tangannya lebih dulu ditahan.
"Izinkan aku tidur di bahumu sebentar saja."
Apa?
Apa yang baru saja ia dengar dari Bocah ini?
"Hai, Tuan Xi Luhan. Kau mengingatku? Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini," ucap Bocah itu.
Luhan membulatkan kedua matanya terkejut setelah mengetahui siapa Bocah ini. Bukankah ia adalah… Adik tiri dari Baekhyun?
"K-kau… Adik tiri Baekhyun?" gumam Luhan.
Bocah itu mengangguk cepat dan menunjukkan senyumannya. "Namaku adalah Sehun. Oh Sehun."
Luhan tidak merespon perkenalan dari Sehun dan justru menghadapkan wajahnya kembali ke depan. Tidak bohong, ia masih menyimpan rasa benci pada Baekhyun yang cukup besar. Ditambah bertemu dengan Adik tiri Baekhyun saat ini, membuat mood -nya semakin buruk.
Lelaki cantik itu melirik ke arah jam tangannya, dan ia pun melihat dua orang Bodyguard-nya masih berada di dalam Bus itu bersamanya. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Sepertinya, tidak ada salahnya jika ia mampir sejenak ke Club malam milik seorang temannya yang terletak tak jauh dari Mansion Chanyeol.
Sementara Sehun, ia memperhatikan gerak-gerik Luhan dan membuka mulutnya otomatis, saat Luhan tidak berhenti di Halte dekat Mansion milik Chanyeol. Apakah Luhan memiliki tujuan lain?
"K-kenapa kau tidak turun di Mansion Paman Park Chanyeol?" tanya Sehun.
"Bukan urusanmu," desis Luhan.
Sehun mengerucutkan bibirnya karena merasa terabaikan oleh Lelaki ini. Kemudian ia memikirkan tentang permintaan Baekhyun padanya beberapa hari lalu, yaitu membuat Luhan tertatik padanya.
Meskipun terdengar mustahil, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?
Alhasil, Sehun mengikuti Luhan dan turun di Halte yang sama dimana Luhan turun. Sehun pun melihat dua orang Bodyguard yang membututi Luhan, namun ia tidak terlalu memperdulikannya.
Kini, ia berjalan beberapa meter di belakang Luhan. Dan lagi-lagi ia dikejutkan saat Luhan memasuki sebuah Club malam yang cukup ramai. Luhan dapat masuk dengan mudah, sementara dirinya harus bernegoisasi dengan penjaga di Pintu Club tersebut, mengingat dirinya yang masih mengenakan seragam sekolahnya.
"Pelajar dilarang masuk ke dalam," ucap seorang Penjaga pintu dengan nada dingin.
Sehun mendesis dan berinisiatif untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu di celah dua sisi Gedung yang saling berhimpitan. Setelah ia melepas seragamnya, dan kini hanya mengenakan kaos putih, ia kembali mencoba untuk masuk ke dalam Club itu kembali. Tentunya untuk menyusul Luhan.
"Kau harus membayar 20 ribu won."
"Ah sial, kenapa mahal sekali?" umpat Sehun. Beruntung ia masih memiliki uang di atmnya. Sehingga rencananya kali ini bisa berjalan dengan lancar.
Setibanya Sehun di dalam, matanya segera menelisik ke seluruh penjuru Ruangan dan mencari keberadaan Luhan. Cukup lama ia mencari, namun ia tak kunjung menemukan Lelaki cantik itu. Hingga tak sengaja, ia menabrak tubuh seseorang dan terkejut bukan main, saat menyadari bahwa sosok yang baru saja menabraknya tersebut adalah Luhan.
Terlebih saat ini Luhan hampir tak sadarkan diri dan terus meracau tidak jelas. Sehun segera meletakkan botol wine yang dipegang oleh Luhan di atas meja di sampingnya. Ia membopong tubuh Luhan untuk duduk di salah satu sofa kosong di sana, dan memastikan kondisi Luhan.
"Kenapa dia mabuk? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sehun pada dirinya sendiri.
Selain dirinya baru pertama kali menginjakkan kakinya di Club malam, ia pun buta dengan daerah di sini.
"Hey, siapa kau? Apa yang kau lakukan terhadap Tuan Besar Luhan?" tanya salah satu Bodyguard Luhan yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Aku adalah Adik tiri dari Tuan Muda Park Baekhyun. Jadi… apakah kalian bisa membiarkanku untuk mengantarnya ke Mansion?" jawab Sehun.
Tidak ada pilihan lain. Sehun terpaksa berkata seperti itu agar kedua Bodyguard Luhan tidak terlalu mencampuri urusan Majikannya, karena sesungguhnya ia ingin melakukan apa yang Baekhyun perintahkan padanya.
Hanya waktu ini yang ia miliki untuk melakukannya. Ia tidak memiliki kesempatan lain, mengingat Luhan adalah orang yang sangat sulit untuk ditemui.
"B-baiklah Tuan."
Sehun menghela nafasnya lega setelah kedua Bodyguard Luhan beranjak dari hadapannya. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Luhan yang setengah sadar, dan mencoba untuk menepuk-nepuk pipi Lelaki cantik itu.
"D-dingin…" racau Luhan.
Tanpa menunggu lama, Sehun segera melepaskan ransel sekolahnya dan mengeluarkan jaket olaharaga yang kebetulan ia bawa. Ia pakaikan jaket itu pada tubuh Luhan,agar Luhan tak kedinginan.
"Apa masih dingin?" tanya Sehun. Luhan menggelengkan kepalanya, dan tersenyum padanya.
Untuk yang pertama kali, Sehun melihat Luhan tersenyum seperti itu. Ia tidak menyangka Luhan akan semanis ini saat tersenyum. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia sempat terpaku akan senyuman dan kecantikan wajah yang dimiliki oleh Luhan. Benarkah, makhluk secantik ini benar ada di permukaan Bumi?
Lebih daripada itu, saat ini makhluk cantik itu sedang berada di pelukannya?
"Sial!"
Sehun mengumpat pada dirinya sendiri. Ia tidak yakin pada menguasai keadaan saat ini atau tidak.
"Baekhyunie Hyung… bantu aku," gumam Sehun.
"Jangan sebut nama Bocah itu di hadapanku."
Ow, sepertinya Sehun baru saja melakukan kesalahan. Meskipun Luhan sedang mabuk, tetapi Lelaki cantik itu masih memiliki sedikit kesadaran dan masih dapat memahami perkataannya.
Senyuman Luhan luntur seketika. Ia menjauhkan dirinya dari Sehun dan duduk menghadap ke arah lain. Ia berniat untuk memanggil Pelayan untuk memberikannya minuman lagi. Namun Sehun lebih dulu mencegahnya.
"Dilihat dari reaksi tubuhmu, sepertinya kau bukanlah seorang peminum yang baik."
Luhan tertawa. "Kau tahu apa tentangku, Bocah kecil?"
Apa Luhan tidak salah bicara?
Sehun sungguh ingin tertawa setelah mendengar ucapan Luhan yang menyebutnya dengan Bocah kecil. Tidakkah Luhan sadar dengan perbedaan ukuran tubuh mereka?
"Setidaknya aku sudah cukup dewasa untuk membaca karakter orang lain," jawab Sehun.
Ia menatap langsung ke dalam mata Luhan, saat ia berbicara dengan Lelaki cantik tersebut. Dan tidak bohong, Luhan sedikit terintimidasi oleh tatapan itu.
"Untuk apa kau mengikutiku? Kita bahkan tidak saling mengenal," sinis Luhan.
Sehun sedikit berdeham untuk melegakan tenggorakannya. Alasan apa yang harus ia gunakan kali ini? Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia diperintahkan oleh Baekhyun.
Tanpa berpikir panjang, Sehun segera menarik dagu Luhan dan mempertemukan bibir mereka dengan lembut untuk yang pertama kalinya. Tak lupa ia menautkan satu tangannya pada tangan Luhan, berharap agar Lelaki cantik ini tidak menolaknya.
Luhan masih membuka lebar kedua matanya, sementara Sehun berusaha untuk menikmati ciumannya. Ia memang tidak pandai dalam hal ini, tapi ia berusaha untuk mengikuti nalurinya.
Cukup lama ciuman itu berlangsung, akhirnya Sehun mengakhirinya dan mendapati wajah Luhan yang memerah sempurna.
"Manis sekali," bisik Sehun.
"A-apa… yang baru saja k-kau lakukan?"
Luhan tidak dapat bereaksi lebih karena ia sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya.
"Umm… menciummu?" enteng Sehun.
Ia bernait untuk mencium bibir itu lagi, namun Luhan lebih dulu menahan dadanya dan menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca.
"Kenapa semua orang hanya ingin mempermainkanku?" gumam Luhan.
Ia kembali teringat saat ia memergoki Chanyeol sedang bercinta dengan Baekhyun di dalam Kamar mereka. Itu adalah hal yang aneh. Hal yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Mana mungkin seorang Ayah menyetubuhi Putera kandungnya sendiri?
Bodohnya, ia masih saja mencintai Park Chanyeol hingga detik ini.
Ia sangat terguncang akan hal itu.
"Apa kau… sudah mengetahui hubungan Baekhyun dengan Ayahnya?" tanya Sehun hati-hati. Ia kembali meraih tangan Luhan untuk digenggamnya.
Luhan menatap genggaman itu dan mengangguk. "Aku bahkan tak sengaja menyaksikan mereka bercinta."
"Apa?" kaget Sehun. Ia tidak pernah berpikir Luhan sudah mengetahui hal sejauh itu.
Luhan tertawa miris.
"Aku pikir dengan menikahi Chanyeol, aku dapat meluluhkan hatinya dan memilikinya seutuhnya. Tetapi sepertinya usahaku gagal. Chanyeol tidak pernah bisa mencintaiku."
Di tengah rasa keterkejutannya, Sehun merasakan genggaman tangan mereka mengerat. Luhan yang melakukannya. Lalu ia menatap Luhan yang kini kembali menatapnya.
"Seharusnya aku tidak bercerita tentang hal ini padamu," ucap Luhan.
Kini giliran Luhan yang terkejut karena Sehun tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat. Sangat erat. Bahkan Bocah itu menopangkan dagunya di bahunya.
"Bagaimana bila ada Lelaki lain yang tertarik padamu?" tanya Sehun.
"Apa maksudmu?" Luhan memperhatikan punggung lebar Sehun.
"Apa kau bisa membuka hatimu untuk Lelaki lain?"
Luhan tidak mengerti dengan ucapan Sehun.
"Bisakah aku memasuki hatimu? Aku harap kau tidak masalah dengan perbedaan usia," ucap Sehun cepat.
Luhan menghela nafasnya dalam-dalam dan memejamkan kedua matanya untuk memahami situasi ini.
Ia sedang patah hati karena cintainya bertepuk sebelah tangan, lalu tiba-tiba muncul seorang Bocah yang baru saja menyatakan perasaan padanya. Lebih daripada itu, nyatanya Bocah itu adalah Adik tiri dari Anak tirinya.
Ini sungguh rumit. Kepalanya sungguh sakit untuk memikirkan hal yang terjadi padanya saat ini.
"Aku tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki selain Chanyeol."
Sehun tersenyum. Menyembunyikan debaran kecil di dadanya yang mulai muncul.
"Itu berarti aku adalah orang yang beruntung. Beruntung bisa dekat denganmu, memelukmu seperti ini, bahkan menciummu."
"Aku sedang mabuk. Kau tidak seharusnya melakukan hal ini pada seorang yang sedang mabuk," ucap Luhan.
Sehun melepaskan pelukan itu dan meraih dagu Luhan kembali. Ia sungguh tidak dapat menahan dirinya untuk menatap wajah cantik ini.
"Aku hanya menyatakan perasaanku, apa itu salah?" lirih Sehun.
Luhan menggelengkan kepalanya dan terus menatap mata tajam itu. Entah kenapa, ia menyukai tatapan Sehun terhadapnya.
Sehun tersenyum dan kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini, Luhan membalas ciuman itu dan mereka berciuman dengan mesra.
Luhan sungguh merasa aneh. Tidak seharusnya ia berciuman dengan Sehun seperti ini. Tetapi hatinya berkata lain. Ia pun begitu menginginkan Sehun. Dan ciuman manis ini… ia membutuhkannya. Ia sangat membutuhkannya.
Sehun terpaksa mengakhiri ciuman itu sebelum berjalan terlalu jauh. Ia tidak ingin dianggap seseorang yang senang memanfaarkan situasi. Akhirnya ciuman itu terlepas, lalu ia mengusap lembut bibir basah Luhan dengan ibu jarinya.
"Sehun…"
Sehun menatap Luhan yang baru saja menyebut namanya.
"Apa kau keberatan jika aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman saat ini?"
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
WOW. Chapter ini Yuta buat jadi lebih panjang, biar gak kebanyakan Chapternya wkwk.
Sehun dan Luhan sudah dipertemukan, dan Kai pun sudah ada benih-benih sperma, eh maksudnya benih-benih cinta pada Kyungsoo :'vvv
Baekhyun tiba-tiba pinksun. Kira-kira apa yang terjadi pada Baekhyun?
Juga… Paman Lee baru menyadari keanehan hubungan Chanyeol dan Baekhyun
Suho belum beraksi di Chapter ini, sabar ya pemirsa.
KALO MAU LANJUT, REVIEW DULU.
OKE, YUTA TUNGGU.
TERIMA KASIH. SARANGHAE BBUING~!
