CAST
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Han Eunsoo
- Oh Sehun
- Xiao Lu
- Lee Jonghyun
- Kim Jongin
GS/CHANBAEK/DRAMA/MARRIAGE LIFE/ROMANCE/ANGST/HURT/RATE M
DON'T LIKE - DON'T READ!
Bersama Byul dalam dekapan, Baekhyun berjalan mengikuti Kris yang kini berada selangkah di depannya. Dibalut pakaian serba hitam, ia melangkah menyusuri sebuah lorong lengang yang dipenuhi rangkaian bunga krisan yang berjajar rapi, rangkaian bunga yang berisi ucap kehilangan atas kepergian tuan Park yang kini telah berisirahat dalam damai.
Langkahnya kini terhenti, tepat di depan potret seorang pria yang tengah tersenyum hangat dari balik bingkai. Mungkin, ini adalah jawaban atas doa tulus yang tak lelah ia rapalkan. Sebaris doa tentang pintanya yang sederhana, untuk berjumpa dengan sosok pria yang seharusnya ia panggil ayah.
Namun, tak ada seorangpun menginginkan pertemuan seperti ini, sebuah pertemuan haru di depan peti mati berisi raga yang kini telah terbujur kaku. Aroma dupa dan bunga krisan yang semerbak memenuhi ruangan, seolah kian menegaskan jika ini nyata terjadi.
Bukankah ini terlalu cepat?
"Ayah...Aku datang untuk bertemu ayah..."
Baekhyun duduk bersimpuh, memberikan penghormatan terakhir pada sang ayah yang telah lebih dulu pergi tanpa sempat ia temui. Beliau pergi begitu cepat. Pergi tanpa sempat memberinya sebuah pelukan hangat, dan tanpa sempat menimang cucu pertamanya. Satu-satunya pengobat kecewa yang ia terima adalah potret sang ayah yang kini ia pandangi. Kini ia tau mengapa Kris dan Chanyeol memiliki wajah yang menawan dan postur tubuh yang rupawan , ternyata sang ayah yang mewariskannya.
"Ayah...Ini Park Baekhyun...Dan ini Park Byul, cucu ayah..."
Kris melagukan sebuah intro, memperkenalkan eksistensi Baekhyun yang kini telah sah menjadi bagian dari keluarga Park. Karena cepat atau lambat, Baekhyun harus berbesar hati menerima kenyataan, jika dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengan Kris dan Chanyeol. Satu lelaki yang ia cintai, dan satu lelaki yang pernah ia cintai.
"Saat ayah masih hidup, ayah selalu bilang jika ia ingin memiliki seorang cucu laki-laki...Andai ayah sempat bertemu dengan Byul..."
Kris yang semula mencoba tegar, nyatanya kini mulai berkaca-kaca. Mulai terbawa suasana sebab kenangan perihal ayahnya kembali membayang di pelupuk mata. Beruntung, Baekhyun lekas menggenggam tangannya, memberinya sedikit kekuatan agar tak jatuh lebih dalam karena duka dan kehilangan.
"Lihatlah...Gege dan Chanyeol terlihat sangat mirip dengan ayah...Tapi kenapa aku tidak? Jangan-jangan, aku bukan anak ayah..."
Meski protes darinya terdengar sebagai sebuah guraian, namun sejujurnya, Baekhyun masih berharap jika hubungan darah ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Ia masih berharap untuk menjadi bagian dari keluarga Park bukan sebagai anak kandung, melainkan sebagai istri seorang Park Yifan.
"Itu karena kau mirip dengan eomma...Jika kau melihat foto eomma, kau akan tau, darimana kau mendapatkan mata bulan sabit dan hidung mungil ini..."
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar ingin melihat foto eomma..."
"Kau akan melihatnya sebentar lagi...setelah kita pulang ke rumah...Karena mulai hari ini, kau dan Byul akan tinggal di kediaman keluarga Park..."
Jangankan untuk tinggal dan menetap disana, bahkan untuk sekedar menginjakan kaki saja Baekhyun harus berfikir ribuan kali. Ia hanya tak ingin menghirup udara yang sama dan berada di bawah atap yang sama dengan Chanyeol.
"Tapi...Bukankah Chanyeol juga sekarang tinggal disana? Aku tidak mau... Tak bisakah aku dan Byul tinggal bersama gege? Aku benar-benar tidak ingin tinggal dengan Chanyeol..."
Baekhyun menggeleng cepat, mengiba dengan wajah memelas agar Kris berbaik hati membawanya pergi ke belahan bumi lain. Pergi jauh dari Chanyeol dan seluruh luka yang pernah ia beri.
"Bagaimanapun juga Chanyeol adalah ayah Byul...Jadi bukankah sudah seharusnya kalian tinggal bersama dan membesarkan Byul?"
"Kumohon jangan paksa aku untuk menerima Chanyeol kembali...Aku tidak bisa..."
"Jika kau tak bisa menerima Chanyeol sebagai ayah Byul, maka terimalah ia sebagai seorang adik...Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi belajarlah untuk menerimanya..."
Adik? Chanyeol adalah adiknya? Kenyataan ini benar-benar membuat Baekhyun nyaris gila. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa madam Lee begitu gigih menentang hubungannya dengan Chanyeol. Karena cinta yang pernah mereka agungkan ternyata telah melewati garis norma. Dan keadaan menjadi kian keruh saat ia dengan lugunya jatuh hati Kris, menciptakan segitiga darah yang lebih fatal.
"Aku benar-benar tidak bisa menerima Chanyeol sebagai apapun...Sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah dari putraku, ataupun sebagai seorang adik..."
...
Baekhyun memaksa kedua sipitnya tetap terjaga meski raganya benar-benar telah lelah. Ia nyaris terjaga sepanjang malam, menemani putra kecilnya yang seringkali terbangun dan merengek untuk sebab dan alasan yang belum ia fahami. Ia bahkan masih seringkali gagal mengartikan tangis putranya, belum cukup lihai untuk membedakan antara tangis yang berakar dari lapar, kantuk, atau merindukan peluk hangat dari ayahnya.
Detik ini Baekhyun akhirnya sadar, menjaga Byul seorang diri tidaklah semudah apa yang ia bayangkan.
Usap lembut yang ia berikan pada punggung sempit Byul, nyatanya tak cukup mampu untuk menenangkan. Ia bahkan sesekali bersenandung lirih, mencoba apapun yang ia bisa demi membuat Byul tak lagi menangis dan meraung.
Tangis si kecil yang terlanjur pecah tanpa sanggup ia jeda, membuat Baekhyun akhirnya tak memiliki pilihan lain selain mengadu pada Kris. Ia tergesa menyambar telepon genggamnya, membuat sebuah panggilan cepat yang seketika terhubung pada Kris yang kini berada di belahan bumi lain.
"Gege, apa yang harus aku lakukan? Byul terus menangis dan aku tak tau harus berbuat apa...Tolong aku..."
Tanpa intro apapun, Baekhyun langsung membebani Kris untuk menyelamatkannya, untuk mengubah tangis putranya menjadi sebuah gelak tawa.
Meski urung menjadi seorang suami, namun Kris tetap menepati janjinya untuk menjaga Byul seperti miliknya sendiri. Memerankan sosok ayah untuk sementara, setidaknya, sampai Baekhyun berdamai dengan hati kecilnya dan mengizinkan Chanyeol untuk memiliki Byul.
"Aku rasa Byul hanya lapar...Kau sudah menyusuinya?"
"Sudah...Aku juga sudah memeriksa popoknya, tadinya aku pikir dia tidak nyaman karena popoknya penuh..."
"Mungkin dia mengantuk...Kau hanya perlu menggendong dan menepuk bokongnya sampai tertidur..."
"Itu tidak berhasil,gege...Aku sudah menggendong dan menyanyikan lagu untuknya...Tapi dia tetap menangis..."
Kris mulai memijit pelipisnya yang berdenyut, nyaris berada pada titik buntu dan tak memiliki ide apapun untuk menolong Baekhyun. Sama halnya dengan Baekhyun, ia juga sebenarnya awam dalam hal parenting dan tak memiliki pengalaman apapun. Namun sialnya, Baekhyun terlanjur percaya jika ia adalah satu-satunya sosok yang mampu menyelamatkannya.
"Kau sudah memeriksa suhu tubuhnya? Mungkin dia demam karena akan segera tumbuh gigi..."
"Gege, Byul baru tiga bulan...Bagaimana mungkin dia bisa tumbuh gigi secepat itu? Aku sudah memeriksa suhu tubuhnya dan itu normal..."
Kris tersenyum bodoh di ujung sana, menertawakan sebaris jawaban konyol yang ia ujarkan sedetik lalu. Ia sama sekali tidak ingat, jika keponakan mungilnya bahkan masih belajar tengkurap dengan susah payah. Masih sedikit kepayahan mengangkat bokong montoknya untuk tengkurap dengan baik dan benar.
"Mungkin Byul bosan di dalam kamar... Bawalah jalan-jalan ke taman belakang...Ajak dia untuk menghirup udara segar dan melihat bunga-bunga cantik..."
"Lalu kapan gege akan pulang? Byul merindukan gege..."
Tentu saja itu alibi. Bukan Byul yang sedang merindukan Kris, melainkan ia sendiri. Ia yang selama ini terlalu banyak bergantung pada Kris dalam hal menjaga Byul. Kris selalu hadir bagai oase yang menyegarkan, tampil saat ia mulai kewalahan menjaga Byul yang seringkali merengek untuk sebab dan alasan yang tak ia pahami.
"Gege baru akan pulang minggu depan...Jika kau butuh bantuan, kau bisa memintanya pada Chanyeol...Jangan terlalu keras kepala...Bagaimanapun juga, Chanyeol adalah ayah Byul..."
"Gege tak perlu khawatir, aku bisa menjaga Byul sendiri..."
Kris telah berulang kali mengetuk hati kecilnya, membujuk agar Baekhyun lekas menyudahi keras kepalanya dan berbaik hati memberikan kesempatan kedua pada Chanyeol. Namun agaknya, Baekhyun tak kunjung sepakat dan tetap mengabaikan Chanyeol. Bahkan, setelah keduanya tinggal dibawah atap yang sama.
Demi mengukir tawa di wajah si mungil kesayangannya, Baekhyun mengiyakan saran Kris untuk membawa Byul melihat bunga-bunga cantik di taman belakang. Ia melenggang perlahan, menuruni puluhan anak tangga yang telah berjasa memisahkan dunianya dengan Chanyeol. Sejak pertama kali menginjakan kaki di kediaman keluarga Park, ia memilih untuk tinggal di lantai atas, sengaja membentang jarak agar ia dan Chanyeol tak saling bertemu satu sama lain.
Langkah kakinya seketika terhenti saat ia melihat Chanyeol tengah duduk seorang diri menikmati sore, menatap kosong ke arah air mancur yang gemericik airnya sesekali membasahi kulit. Tubuh jangkungnya masih dibalut setelan jas lengkap, hanya simpul dasinya yang telah mengendur dengan beberapa butir kancing atas yang telah terurai.
"Sampai kapan kau akan terus menghindariku, Park Baekhyun?"
Chanyeol tergesa bangkit dari duduknya, menahan gerak Baekhyun yang kembali mencoba kabur darinya dengan sebuah pelukan hangat. Memenjarakan tubuh mungil Baekhyun dengan sepasang lengan kekarnya yang kini melingkar posesif di pundak.
"Lepaskan,Chanyeol...! Kau membuat anakku menangis!"
Usai selesai dengan keterkejutannya, Baekhyun mencoba meronta dengan tenaga yang tak seberapa. Ia hanya terlalu takut jika Chanyeol bisa mendengar detak jantungnya yang berisik dalam jarak sedekat ini.
Namun sialnya, semakin keras ia meronta, Chanyeol semakin erat memeluknya. Chanyeol bahkan sengaja membenamkan wajah di ceruk lehernya, menabur nafas hangat yang membuat Baekhyun tak tau harus bereaksi seperti apa.
"Aku sudah cukup menderita,Baekhyun...Jangan membuatku semakin menderita dengan memisahkanku dari darah dagingku sendiri..."
Suara Chanyeol yang terdengar parau, seolah menyiratkan luka yang kentara. Luka yang harus dia hadapi seorang diri, dalam rentan waktu yang silih berganti.
"Kita harus bicara,Baekhyun...Berhentilah menghindariku..."
"Apalagi yang harus kita bicarakan? Tak ada lagi..."
Chanyeol memutar tubuh mungil Baekhyun dengan kedua telapak tangan yang kini menapak pada pundak. Netranya menatap hangat, ke arah mata bulan sabit Baekhyun yang kini tak lagi terlihat sendu.
"Aku merindukanmu...Sangat merindukanmu..."
Baekhyun tak dapat berbuat banyak saat Chanyeol tiba-tiba mencuri sebuah kecupan singkat di kening. Tak kuasa untuk memukul atau menampar bibir kurang ajar Chanyeol sebab kedua tangannya tengah sibuk mendekap erat si kecil.
Dalam jarak sedekat ini, Chanyeol bisa leluasa memandang duplikat dirinya untuk kali pertama. Ia mengusak pipi gembul putranya dengan gemas, menatap lekat ke arah sepasang mata bulat serupa dirinya yang kini mengerjap menggemaskan. Dihinggapi bahagia berlebih saat ia melihat si kecil sesekali menguap dengan pandang mata yang perlahan berangsur sayu.
"Hei...Jagoan...Ini appa..."
Dan bahagianya menjadi kian sempurna, saat tangan mungil Byul tiba-tiba meraih jemarinya, menggenggamnya erat seolah ia baru saja menemukan sebuah harta karun yang tak ingin ia lepaskan.
"Kau lihat? Byul mengenaliku sebagai ayahnya...Dia menggenggamku dengan sangat erat..."
"Jangan terlalu senang...Dia juga melakukan hal yang sama pada Kris..."
Chanyeol sama sekali tak peduli dengan sikap Bekhyun yang seolah sengaja merusak bahagianya. Ia hanya ingin menikmati detik berharganya bersama Byul, sebelum Baekhyun kembali berulah dan memisahkanya dari malaikat mungilnya.
"Lepaskan tanganmu dari Byul...Sebentar lagi gelap...Byul harus segera masuk dan tidur..."
Sejujurnya, ia sama sekali tak berniat untui bersikap sejahat ini. Ia hanya belum siap, jika pada akhirnya Byul terlanjur nyaman dan perlahan candu dengan kehadiran ayahnya.
"Sebentar saja...Aku masih ingin bermain-main dengan Byul..."
Bekhyun harus susah payah menahan tawa saat Chanyeol mulai membuat expresi-expresi aneh di wajahnya. Tak ragu bersikap konyol demi mengukir gelak tawa di wajah putra kecilnya. Ia bahkan sesekali bersenandung dengan suara ala kadarnya, mengenalkan Byul pada keluarga baby Shark dan tiga beruang.
"Hentikan,Chanyeol...Byul harus segera masuk dan tidur...Lihatlah, dia bahkan sudah berkali-kali menguap..."
"Tapi aku masih merindukannya..."
"Yak, Park Chanyeol! Apa yang kau lakukan? Kembalikan Byul padaku!"
Hanya butuh skill dan sedikit keberanian dan untuk mencuri Byul dari dekapan ibunya. Chanyeol bergegas menjauh, menyembunyikan Byul dari Baekhyun yang terlanjur murka dan kini sibuk memukul punggungnya.
"Hanya sampai Byul tertidur,Okey? Percayalah...Aku tidak akan menyakiti putraku sendiri..."
Chanyeol mengusakkan ujung hidungnya pada pipi Byul dengan gemas. Tak dapat menahan diri untuk menghujani pipi bulat Byul dengan kecupan-kecupan sayang yang membuat Byul terkikik geli. Tertawa lepas seolah ia baru saja menemukan bahagia yang sempurna karena kedua orangtuanya kini bersama.
"Lihatlah...Dia benar-benar mirip denganku...Dia bahkan memiliki lesung pipi sepertiku...Anak appa benar-benar tampan..."
"Kumohon kembalikan Byul padaku! Park Chanyeol...! Kau tak mendengarku?"
Chanyeol benar-benar menguji kesabarannya. Tubuh jangkungnya bahkan melenggang menjauh, membentang jarak agar Baekhyun tak bisa merebut Byul dari dekapannya.
"Aku ayahnya, kau tak bisa menyebut ini sebagai sebuah penculikan,Park Baekhyun..."
Baekhyun mencebik kesal, mengutuk punggung lebar Chanyeol perlahan menjauh dari pandangan dan kemudian menghilang, menghilang bersama putra kecilnya yang terlanjur nyaman dalam dekap hangat ayahnya.
...
"Kau yang mendekor ruangan ini? Bukankah seharusnya kau memilih warna biru untuk seorang babyboy..."
Pandang mata Chanyeol menyapu seluruh sudut ruangan, mengamati setiap jengkal kamar putranya yang bernuanasa merah-kuning lengkap dengan box mungil yang diselimuti kelambu.
"Kenapa aku harus membuatnya menjadi biru? Bukankah merah dan kuning juga terlihat keren untuk seorang anak laki-laki?"
"Warna ini mengingatkanku pada Ironman...Apakah kau ingin putra kita menjadi seorang jagoan seperti Tony Stark? Kau benar-benar memiliki selera yang bagus,Baek..."
"Tidurkan Byul dalam boxnya dan kembalilah ke kamarmu sendiri...Terimakasih telah menjaga Byul..."
Meski telah berceloteh panjang x lebar, nyatanya, Baekhyun sama sekali tak tertarik menanggapi basa-basi yang ia ujarkan. Baekhyun tetap menunjukan raut wajah yang dingin, tetap bertekad untuk mematahkan usaha Chanyeol yang ingin memperbaiki retak yang terlanjur berakhir cacat pada hubungan keduanya.
"Kau sedang mengusirku? Kau jahat sekali..."
"Apalagi yang kau tunggu? Byul sudah tidur, jadi kau tak lagi memilki alasan untuk tetap disini...Kembalilah ke kamarmu...Tempatmu bukan disini..."
"Tak bisakah malam ini aku tidur disini? Aku rasa ranjangmu terlalu lebar untuk ditempati sendirian..."
Chanyeol memberanikan diri untuk memulai sebuah negosiasi, nekat mengujarkan sebuah pertanyaan retoris yang sebenarnya ia tau hanya akan berakhir penolakan. Namun setidaknya, Baekhyun perlu tau jika ia sungguh-sungguh ingin kembali.
"Kembalilah ke kamarmu sebelum aku mengadukanmu pada gege...! Aku akan bilang pada gege jika kau terus mengangguku dan mencoba untuk menculik Byul dariku..."
Dengan tenaga yang tak seberapa, Baekhyun menarik tubuh jangkung Chanyeol yang sudah terlalu nyaman duduk di pinggiran ranjangnya. Berusaha keras mengusir Chanyeol agar lekas enyah dan kembali ke habitatnya. Namun sialnya, Chanyeol justru sengaja menarik pergelangan tangannya. Merampas keseimbangan hingga membuat tubuh mungilnya limbung dan berakhir jatuh di pangkuan.
"Lepaskan aku,Chanyeol! Jangan bersikap kurang ajar!"
Baekhyun memukul pundak Chanyeol dengan segenap tenaga dalam, mencoba meloloskan diri dari Chanyeol yang kini memeluk pinggangnya dengan erat. Dengan sisa jarak yang tak seberapa, ia benar-benar merasa canggung saat Chanyeol tak henti menatapnya tanpa berkedip. Sebuah keadaan yang tidak baik untuk kesehatan jantung.
"Kau boleh memukulku ataupun menamparku, lakukan sesukamu...Tapi aku tetap tidak akan melepasmu...Kita perlu bicara,Baekhyun...Terlalu banyak kesalahpahaman di antara kita yang membuat hubungan ini menjadi rumit..."
"Jika kau tetap tidak mau melepasku, aku akan berteriak dan memanggil Donghae ahjusshi untuk menyeretmu keluar..."
"Aku akan menciummu dengan kasar sebelum kau berteriak dan membuat Byul terbangun..."
"Jangan coba untuk menyentuhku!"
Baekhyun menangkis telapak tangan Chanyeol yang nyaris mengusap belah pipinya. Sebuah reflek dari pikiran naifnya yang terlanjur menyangka, jika Chanyeol benar-benar akan nekat membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman kasar. Ia bahkan tergesa memalingkan wajah, menghindari pandang mata Chanyeol yang sebenarnya tertuju pada sepasang lingkaran hitam yang tercetak di bawah matanya.
"Sejak kapan kau memiliki kantung mata seperti ini? Apakah kau tidur dengan baik? Atau mungkin...Kau terjaga sepanjang malam untuk menjaga Byul?"
"Bukan urusanmu..."
Butuh usaha keras bagi Baekhyun untuk menyembunyikan kedua belah pipinya yang merona malu, untuk menjaga nada bicaranya agar tetap ketus setelah gagal total menafsirkan arah pembicaraan Chanyeol.
"Jika kau lelah, aku bisa menggantikanmu untuk menjaga Byul..."
"Kau tidak perlu untuk melakukannya...Aku bisa menjaga Byul sendiri..."
Dan terjadi lagi, niat tulusnya pada Baekhyun kembali dibalas dengan sebuah penolakan yang melukai harga diri. Namun ia memilih untuk menuli, menganggap nada ketus yang Baekhyun ujarkan sebagai sebuah nyanyian merdu yang begitu ia rindukan.
"Berhentilah keras kepala,Park Baekhyun...Ini adalah tanda jika tubuhmu lelah dan butuh istirahat..."
"Kau benar...Tubuhku lelah dan butuh istirahat...Jadi kumohon pergilah...Biarkan aku beristirahat selagi Byul tertidur..."
Chanyeol merengkuh rubuh mungil Baekhyun dan membaringkannya di atas ranjang. Menarik selimutnya hingga sebatas dada sebelum kembali melabuhkan sebuah kecupan singkat di pucuk kepala.
"Tidurlah dengan nyenyak...Aku yang akan menjaga Byul malam ini...Kau tak perlu khawatir, aku bersumpah tidak akan menyentuhmu..."
Baekhyun tersenyum sinis, menertawakan omong Chanyeol yang sama sekali tak dapat dipercaya. Tak hanya sekedar sangsi, Baekhyun bahkan mulai dikuasai buruk sangka perihal kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.
"Haruskah aku mempercayaimu? Kau bisa saja memperkosaku jika aku tetap membiarkanmu disini...Jadi kumohon pergilah...Kau bisa membuat Byul terbangun jika kita terus bertengkar..."
"Aku sama sekali tidak memiliki pikiran kotor,Baekhyun...Aku hanya ingin menggantikanmu menjaga Byul...Itu saja...Aku juga tidak akan tidur di ranjangmu...Aku akan tidur di sofa bersama Mongmong..."
Mongmong, anjing kecil berjenis Welsh Corgi dengan bulu cokelat terang yang gemar mengekori Baekhyun kesana-kemari. Sekilas, Mongmong benar-benar terlihat seperti Baekhyun, berwajah menggemaskan dengan kaki-kaki pendek dan bokong yang menggoda.
"Kau yakin bisa menggantikanku menjaga Byul?"
"Tentu saja...Kau meragukanku?"
Teramat sangat ragu. Baekhyun bahkan sangsi apakah Chanyeol bisa mengganti popok Byul dengan baik?
Namun, setelah melewati pergolakan batin yang rumit, Baekhyun akhirnya menyerah. Tak peduli sebesar apapun ego dan setinggi apapun harga dirinya saat ini, ia benar-benar ingin memejamkan matanya sejenak. Sejenak mengistirahatkan tubuh lelahnya tanpa harus terusik oleh tangis nyaring putranya.
"Tidurlah...Kau bisa mempercayakan Byul padaku..."
"Pegang kata-katamu untuk tidak menyentuhku...Atau aku tidak akan mengijinkanmu untuk bertemu lagi dengan Byul..."
"Berhentilah mengkhawatirkan itu...Aku akan menjagamu dan Byul malam ini..."
Hanya dalam hitungan detik, Baekhyun benar-benar terbius lelap dengan hela nafas yang teratur. Tubuh mungilnya meringkuk di balik selimut, raut wajahnya yang teduh membuat Chanyeol menyesal telah mengikrarkan janji untuk tidak menyentuhnya.
Ia adalah sebuah pilihan yang rumit, ketika egonya tak henti merayu untuk mencuri sebuah kecupan singkat di bibir, namun akal sehatnya masih menyadarkan untuk tidak membuat Baekhyun murka dan kembali membentang jarak darinya.
Chanyeol merebahkan kepalanya di pinggiran ranjang, duduk beralaskan permadani beludru sembari mengagumi wajah teduh Baekhyun yang kini dibuai mimpi. Sepasang iris cokelatnya sesekali mengerjap lirih, menjaga kesadarannya agar tak turut terenggut meski ia telah berkali-kali menguap.
Namun sialnya, semakin keras ia menjaga kesadarannya, semakin berat kelopaknya terbuka. Chanyeol tertidur tepat di sebelah Baekhyun, dipeluk mimpi indah yang entah mengapa terasa begitu nyata.
Paras cantik yang sedetik lalu ia pandangi tanpa berkedip, kini turut hadir dalam mimpinya. Tersenyum manis di balik punggung dengan sepasang lengan ringkih yang memeluk pinggangnya dengan erat. Keduanya nampak bersuka cita menjemput malam, merayap di tengah padatnya jalanan Seoul dengan scootter biru kebanggaan Chanyeol.
Perjalanan mereka berakhir di sebuah flat sederhana yang berada di pinggiran kota, di sebuah bilik remang yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka yang terlarang. Keduanya melangkah beriringan, berbagi hangat dengan kedua tangan yang saling bertaut dalam sebuah genggaman hangat. Saling menatap satu sama lain dengan binar bahagia yang tersirat di pelupuk mata.
Meski hanya berukuran tak lebih dari setengah kamarnya, namun entah mengapa kamar ini terasa begitu nyaman dan hangat. Mungkin, karena hadirnya Baekhyun yang kini tersenyum menggoda setelah menyamankan diri duduk diatas pangkuannya. Jemari indahnya bergerak terbata menyusuri rahang, menatap sayu sebelum menggigit bibir bawahnya dengan sensual. Sebuah pemandangan erotis yang membuat darahnya berdesir hebat.
Tubuh mungil dalam pangkuannya kini bergerak sensual melucuti satu per satu kain yang membalut tubuhnya, mencampakkannya ke lantai dengan tega hingga tak menyisakan sehelaipun.
Chanyeol tercekat dalam mimpinya, sedikit tak percaya jika Baekhyun bisa bersikap seliar ini di depannya. Terlebih, saat Baekhyun tiba-tiba merangsek maju dan menggariskan sebuah kebasahan di daun telinganya dengan ujung lidah. Lidah nakal Baekhyun terus bergerak lincah, menyusuri leher sensitif Chanyeol dan menyesapnya hingga meninggalkan bercak cinta berwarna merah keunguan.
Nafas hangat Baekhyun pada ceruk lehernya benar-benar membakar gairah, menyulut pikiran kotornya yang terlanjur membayangkan betapa sexynya Baekhyun saat mendesah pasrah di bawahnya.
Namun ia masih mencoba menahan diri, mengikuti alur permainan Baekhyun yang kini sibuk mengurai satu per satu kancing kemejanya.
Enam kotakan sexy yang semula tersembunyi di balik kemeja, kini telah tersuguh tepat di depan mata. Tangan halusnya bergerak terbata, mengusap dan menapaki setiap jengkal dada bidang Chanyeol sebelum akhirnya menghilang di balik celana. Sengaja mengusik batang berurat kebanggaan Chanyeol dengan remasan-remasan yang adiktif.
Chanyeol tak pernah menyangka, dibalik wajah yang terlihat lugu, ternyata Baekhyun begitu terampil memanjakan adik kecilnya. Melakukan sihir kecil dengan jemari lentiknya bak seorang profesional.
Seluruh atensi Baekhyun kini tertuju pada kejantanan Chanyeol yang telah mengacung tegak. Mengagumi teksturnya yang begitu keras dengan urat-urat menggoda yang akan segera mengoyak dan menumbuk titik sensitivenya tertubi-tubi.
"Jika dengan hadirnya Park junior bisa membuat keluargamu menerima hubungan kita, ayo kita lalukan..."
"Kau yang menggodaku,Baekhyun...Jadi aku tidak akan berhenti meski kau merengek dan memohon ampun padaku..."
"Shit! Aku sebentar lagi sampai...Arrgggghh..."
Baekhyun benar-benar merinding saat melihat Chanyeol tak henti meracau di dalam tidurnya. Sesekali melenguh dan menggeram dengan kata-kata kotor yang tak henti terlontar dari bibirnya. Tak hanya itu, tubuhnya banyak berpeluh meski AC dalam kamarnya berada pada suhu yang dingin, sebuah keadaan ambigu yang membuat Baekhyun semakin curiga dengan adegan yang tengah terjadi dalam mimpi Chanyeol.
"Lebih cepat,Baekhyun...Ya,seperti itu...Kau benar-benar membuatku gila..."
Kecurigaan Baekhyun kini benar-benar terbukti. Chanyeol ternyata sedang asik bermimpi kotor dengan dirinya sebagai objek fantasy. Pandang mata Baekhyun kini tertuju pada sebuah gundukan yang menggembung di antara pangkal paha, sebuah bukti otentik yang tak dapat lagi terbantahkan.
"Bangun,Chanyeol...Berhentilah bermimpi mesum seperti itu..!"
Baekhyun mengguncang pundak lebar Chanyeol, memaksa Chanyeol untuk menyudahi mimpi basahnya yang nyaris klimaks. Tak hanya itu, ia juga menepuk kedua belah pipi Chanyeol dengan gemas, berharap Chanyeol lekas sadar dan memberinya sebuah penjelasan masuk akal perihal namanya yang ikut terseret dalam mimpi basahnya.
"Baekhyun? Apa yang terjadi?"
Chanyeol terjaga dengan nafas yang terengah. Sepasang mata bulatnya menatap kosong, tertatih mengumpulkan kesadarannya yang separuh masih tertinggal di alam mimpi. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah tadi Baekhyun sedang menungganginya kejantanannya dengan binal?
"Apa yang sedang kau mimpikan,Park Chanyeol? Kau memimpikanku?"
"Kau berpakaian lengkap? Buebkankah tadi kita sedang..."
"Sedang apa? Sedang bercinta?"
TBC
A/N :
- Kepada Yth bapak PCY, habis mimpi basah jangan mandi junub.
- Ini termasuk chapter tersulit karena gue butuh 1bulan buat nyelesein Chapter aneh ini. Kenapa gue bilang aneh, karena saking putus asanya ngetik ini chapter yang nyaris buntu, gue justru kebawa karakter Chanbaek di When i was your man. Pokoknya gue sadar kalo Chapter ini feelnya embuh.
- Gue hanya mencoba menebus dosa setelah berchapter2 menabur bawang bombay dengan sesuatu yang sedikit manis, tapi ternyata jadinya aneh. ㅋㅋㅋㅋㅋ
- Pokoknya sampai jumpa di next Chapter. Salam Chanbaek is Real.
