Darker Than Night

Chapter Sebelumnya~

(-)

"Hinata, aku mohon jauhi orang itu." Kakashi menepuk pundak gadis yang diam-diam disukainya itu. Mencoba memberikannya pengertian. "Dia berbahaya untuk desa ini.".

"...!"

"Aku mengerti sifatmu itu Hinata. Kau muridku yang berhati lembut. Karena itu aku mengingatkanmu akan hal ini. Apa kau tahu, ayahmu juga sadar akan keberadaan Kuro?"

Hinata merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak.

A-ayahku? Sudah tahu?

"Benar, tidak lama lagi para ninja di desa ini berikut para Anbu akan bergerak untuk memburu iblis itu."

A-apa?

Memburu Kuro?

"Karena itu aku disini memperingatkanmu untuk menjauhinya. Ini semua demi kebaikanmu."

"Aku..."

"Jangan buat kami menjadi musuhmu hanya gara-gara iblis itu, Hinata." Pria tersebut memohon.

"Aku tidak ingin kau bernasib sama seperti Rin ataupun Obito." Ujar Kakashi sedih. Manik hitamnya melirik foto almarhum teman-temannya yang terpasang di bingkai foto. Tampak wajah mereka berempat termasuk gurunya Minato yang tengah tersenyum.

Rekan-rekan Kakashi yang telah lama tiada.

"Hinata ingatlah satu hal ini, kami adalah teman-temanmu. Kami tidak akan pernah mengkhianatimu. Berbeda dengan iblis itu. Kau tidak akan tahu kalau ia adalah musuh."

Musuh?

Hinata terdiam membisu. PIkiran mengenai Kuro adalah musuh benar-benar membebaninya. Selama ini meskipun berlaku kasar, tapi tidak pernah sekalipun gadis tersebut menganggap kalau iblis tersebut adalah musuh. Tidak sama sekali. Bahkan didalam mimpi buruknya sekalipun.

Tapi sekarang, entah kenapa ia merasa tidak yakin.

Kenapa?

"Sekarang katakan, Hinata. Dimana iblis itu sekarang?" Pandangan Kakashi berubah tajam.

Melihatnya, membuat gadis itu sedikit takut. Jounin tersebut tidak mempedulikan dan kembali menginterogasi Hinata. "Kuharap kau mengatakan dengan jujur Hinata, kau tidak ingin dicap sebagai pengkhianat desa ini, kan?"

Hinata meneguk ludahnya. "A-aku…"

Pandangannya tertunduk, sorot matanya terlihat sayup. Gadis itu akhirnya mengaku.

"Di-dia sudah pergi."

"Pergi?"

Gadis Hyuuga itu mengangguk.

Didepannya Kakashi menurunkan maskernya sedikit, dan mengaktifkan sharingan miliknya. Setelah memastikan Hinata tidak berbohong, jounin tersebut menutupnya kembali.

"Kau bilang pergi? Apa dia memberitahumu kemana?"

Hinata meremas lututnya, masih menundukkan kepala. "T-tidak, Kuro-sensei tidak mengatakan apapun. Dia hanya mengatakan kalau dirinya tidak bisa tinggal disini lagi. Karena semua orang mungkin sudah mengetahui identitasnya."

Sesaat gadis itu sempat berpikir untuk memberikan surat Kuro pada Kakashi. Tapi setelah berpikir sejenak, gadis itu menolak memberikan. Dan memilih memberitahu Kakashi, garis besarnya saja. Meskipun Hinata tahu, jounin di depannya ini pasti mencurigainya. Gadis Hyuuga itu memilih untuk menutup mata.

"…Begitu."

Hinata tidak menjawab dan memilih untuk diam.

"Jika apa yang kau katakan itu benar, berarti iblis itu sudah meninggalkan desa ini. Jikapun kembali, kami para ninja dan ANBU desa Konoha tidak akan segan-segan untuk membunuhnya. Itu adalah perintah langsung dari godaime-sama. "

Hinata membulatkan matanya. "Ti-tidak…"

"Orang itu sudah ditetapkan sebagai penjahat kelas-S oleh desa. Kau sebagai salah seorang ninja Konoha, tidak diijinkan untuk bertemu dengannya. Dan mulai sekarang akulah yang bertindak sebagai pengawasmu. Aku harap kau mengerti, Hinata."

"….."

Hinata tidak menyanggah, tapi anggukan pelan dari kepalanya menandakan kalau gadis itu mengerti.

Kakashi menaikkan sudut bibirnya keatas. "Baiklah, sekarang akan kuantar kau pulang."

"…Ti-tidak apa-apa, sensei. Aku bisa pulang sendiri." Tolak Hinata langsung.

Kakashi tampak kecewa. Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali normal.

"Tidak Hinata, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri. Kau ingat, mulai sekarang akulah yang bertugas sebagai pengawasmu. Dan memastikan kau pulang dengan selamat adalah salah satu tanggung jawabku. Aku mengerti, masalah ini pasti membuatmu tertekan. Aku memaklumi. Tapi ingat Hinata. Ini semua kami lakukan semata-mata demi kebaikanmu." Jelas jounin tersebut.

"Ta-tapi meskipun begitu…"

"Kau pulang bersamaku." Kakashi memberikan penekanan pada kata-katanya. Wajahnya yang biasa tersenyum berubah gelap.

"!"

"Maaf Hinata, tapi kali ini aku tidak menerima penolakan." Jounin tersebut memberikan pernyataan tegas.

.

.

(-)

Inspirasi dari berbagai sumber :

Warning : Canon, Reverse Harem, Typo dll

Catatan –Khusus hanya untuk Hinata centric

Pairing akan berubah-ubah tergantung dengan alur cerita

Don't Like Don't Read

~Darker Than Night by Lightning Chrome

Rate T

I do not own Naruto

.

Xxxx

.

Happy Reading

.

Xxxx

.

.

~Darker Than Night~

Chapter 21 : Regret

(-)

Hinata berjalan dengan gontai menuju ruangan utama. Setelah bertemu dengan Kakashi, gadis itu seolah kehilangan semangatnya. Terutama setelah mengetahui kalau ayahnya juga mengetahui perihal sang iblis –Kuro. Dan menyuruh gadis itu untuk datang menghadap.

"Ayah." Hinata membungkuk memberi hormat.

"Duduklah."

Keduanya duduk diatas tatami.

"Aku yakin kau sudah mendengarnya dari Kakashi. Tentang alasanku memanggilmu malam ini."

Hinata mengangguk.

"Langsung saja ke intinya. Apa hubunganmu dengan iblis bernama Kuro itu?" tembak Hiashi langsung.

"A-aku. I-itu…" Hinata bersusah payah menyusun kata-kata.

"Kudengar kau berguru secara rahasia dengannya. Kapan itu terjadi? Dan bagaimana bisa kau bertemu dengan iblis itu?"

"..."

"Tidak mau menjawab ya."

BRAKK!

Hiashi menghantam meja kayu tersebut hingga hancur berantakan.

Tubuh Hinata langsung bergetar.

"Katakan yang sebenarnya." Hiashi mengancam. Byakugan miliknya mendadak aktif.

Akhirnya, dibawah segala ancaman dan terror dari ayahnya. Gadis Hyuuga itu menceritakan segalanya.

Hiashi tertegun, seusai mendengar cerita Hinata.

"Jadi kau membiarkan makhluk itu bersamamu selama bertahun-tahun dengan alasan ingin mengajarimu?" tanya ketua klan itu blak-blakan.

"I-iya." Hinata menjawab dengan jujur.

Hiashi menepuk keningnya, "Bodoh sekali."

Gadis itu hanya bisa menunduk malu.

"Ada begitu banyak jounin terkuat di desa ini. Tapi kau justru memilih untuk menjadi murid dari iblis itu? Apa kau sudah kehilangan akalmu sebagai seorang Hyuuga?"

"Ma-maaf."

"Tidak dapat dimaafkan."

"A-ayah."

Hiashi terlihat marah. "Apa kau tahu kalau iblis itu pernah membantai banyak orang? Dulu, ratusan tahun yang lalu, iblis bernama Kuro Karasu itu pernah melenyapkan sebuah negeri berikut para penduduknya. Tidak hanya itu, ia juga membunuh anak-anak kecil berikut para wanita yang tidak bersalah. Dia itu berbahaya, Hinata! Dia itu monster!"

"Tapi, tou-san. Dia sekarang sudah berubah. Dia tidak seperti dulu lagi. Kuro-sensei, dia-"

"Cukup dengan alasanmu itu, Hinata."

"Tou-san-"

"Apa kau sudah pernah bertanya, kenapa ia membunuh orang-orang itu? Apa kau sudah pernah bertanya kenapa ia ingin mengajarimu? Diantara sekian banyak manusia disini, kenapa justru kau yang dipilih? Apa kau sudah pernah bertanya tentang alasannya? Dan kenapa ia bisa keluar dari Hutan terlarang waktu itu?"

DEG

"I-itu..." Jantung Hinata berdetak kian cepat.

Tidak, Kuro-sensei tidak pernah menceritakannya.

"Sudah kuduga, iblis itu sejak awal hanya ingin mempermainkanmu Hinata."

Mendengarnya, Hinata langsung terpancing emosi. "Kau salah, tou-san. Kuro-sensei tidak seperti itu! Kau sudah salah menilai."

"Apa, salah menilai?"

"Iya salah menilai!" seru Hinata terang-terangan. Anehnya kali ini gadis itu berani menentang ayahnya sendiri. Semua itu karena ia tahu Kuro-senseinya telah berubah. Dan Hinata percaya itu.

"Kuro-sensei sekarang tidak seburuk yang kalian pikirkan. Dia sudah berubah!" Gadis itu bersikeras. "Mungkin memang benar dia sempat melukai para penduduk dengan genjutsunya. Tapi Kuro-sensei juga sudah menghilangkannya. Kau bisa bertanya pada Naruto-kun maupun paman Teuchi. Mereka-"

"Itu tetap tidak menjelaskan kalau hal yang dia lakukan adalah benar."

"Tou-san!"

Kenapa ayahnya tetap tidak mau mengerti?

"Kalau begitu bisakah kau jelaskan kenapa Kuro-senseimu bisa bertemu dengan anak buah Madara, yaitu Zetsu?" Hiashi bertanya dengan nada dingin.

Hinata tersentak kaget mendengar pertanyaan tersebut.

Senseinya bertemu dengan Zetsu?

"A-apa?"

"Salah satu anak buahku tanpa sengaja melihat iblis itu. Dia bersama dengan Zetsu, anak buah Madara didalam hutan. Dari ekspresinya, mereka berdua terlihat saling mengenal."

"..."

Gadis itu diam seolah kehilangan suaranya.

"Hinata katakan padaku. Apa kau pernah bertanya pada iblis itu apakah ia sungguh-sungguh ada di pihakmu? Karena jika ia mengenal Zetsu, ada kemungkinan juga kalau dia mengenal Madara. Yang berarti adalah musuh kita. Apa kau punya bukti kalau ia bukanlah musuhmu? Musuh Konoha? Apakah ia pernah mengatakan padamu dengan jelas kalau kau adalah temannya?"

Hinata mempererat cengkraman di jaket ungu miliknya.

"Itu..."

"Pikirkanlah Hinata, mungkin bagimu sekarang iblis itu telah berubah. Tapi berbeda dengan kami, para penduduk desa. Sebagai ninja kau tidak boleh mementingkan perasaanmu sendiri. Kau juga harus memikirkan desa berikut keselamatan para penduduk. Dan peristiwa di kedai ramen Ichiraku membuktikan dengan jelas kalau iblis itu berbahaya." Pria itu bangkit berdiri.

"Dan jangan sampai lupakan ini Hinata. Salah satu tugas kita sebagai klan Hyuuga adalah melindungi para penduduk di desa Konoha. Kau harus ingat itu."

"…."

"Sampai ada keputusan dari Hokage Kelima dan para tetua kau tidak diijinkan untuk keluar dari rumah ini. Camkan itu baik-baik!" Hiashi pergi meninggalkan Hinata yang duduk membatu seorang diri. Diliputi dengan keheningan dan perasaan bersalah.

0-0-0-0

Kakashi berdiri sendiri menatap kediaman Hyuuga dari kejauhan. Meskipun mengaku percaya pada Hinata, tapi jounin tersebut tetap menaruh curiga. Ia khawatir jika suatu saat iblis bernama Kuro itu kembali dan menemui Hinatas. Saat ini mengawasi gadis tersebut diam-diam merupakan pilihan terbaik.

"Kau disini Kakashi?" tanya suara yang sudah tidak asing lagi.

"Kau, Hiashi?" Jounin tampan itu menengok.

Pria separuh baya itu mengangguk. Kemudian berjalan mendekati Kakashi. Berdiri di sampingnya. Berdua menatap kamar Hinata dari jauh. Kepala keluarga dari klan Hyuuga itu akhirnya memilih untuk membuka percakapan lebih dulu.

"Jadi, Tsunade menyuruhmu menjadi pengawasnya?"

Kakashi tersenyum. "Ya, lebih tepatnya aku yang menawarkan diri pada Godaime-sama untuk melindungi Hinata."

"Dari iblis itu ya?"

"Jadi memang kau sudah tau. Kau tidak keberatan kan?

"…." Hiashi tidak menjawab.

"Begitu, kau pasti kecewa karena dulu kehadiranku tidak bisa membantu anak itu."

"Kakashi, kau-"

Pria bermasker itu menggeleng. Kemudian menengadah, menatap kearah langit yang penuh bertaburkan dengan bintang. Mengingat kenangan yang sudah lama. Masa lalu dirinya dengan seorang bocah dari klan Hyuuga.

"Pertama kalinya, aku bertemu anakmu adalah sekitar sepuluh tahun yang lalu. Dimana kau merekrutku untuk menjadi ANBU khusus bagi Hinata. Itu adalah misi pertamaku setelah perang besar terjadi. Saat itu aku begitu terpukul akan kepergian teman-teman setimku. Sampai secara tidak sadar aku selalu bersikap dingin pada orang-orang. Dan menutup diri. Tapi misi yang kau berikan itu. Pertemuanku dengan Hinata saat itu -benar-benar mengubah hidupku. Lambat laun kesepianku mulai lenyap. Dan aku kembali bisa tersenyum pada orang lain. Semua itu karena putri sulungmu itu Hiashi."

Pria separuh baya itu tidak menjawab. Hanya berdiri diam disamping Kakashi.

"Karena itulah aku benar-benar geram. Setelah mengetahui apa saja yang sudah kau perbuat pada Hinata. Aku benar-benar sangat marah." Kakashi menatap tajam Hiashi. Tanpa sadar mangekyou sharingan miliknya aktif.

"Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa pada bocah itu, kau berlaku kasar seperti itu. Pada anakmu sendiri." Jounin tersebut mengepalkan tangannya. Mencoba menahan diri untuk tidak menyerang ayah dari Hinata.

"Itu karena kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Kakashi." jawab Hiashi lemah.

"Apa?"

"Kau tidak tahu siapa sebenarnya gadis yang bernama Hyuuga Hinata itu."

"Apa… maksudmu?" Kakashi menatap bingung kearah pria Hyuuga.

Namun Hiashi tidak menjawab. Tapi justru berbalik pergi.

"Suatu saat nanti kau akan tahu jawabannya. Dan disaat kau tahu itu Kakashi, aku ragu kau masih akan menatapnya sama seperti sekarang atau tidak."

0-0-0-0

Hinata duduk terdiam di depan jendela rumahnya. Setelah pertengkarannya dengan sang ayah, Hinata memilih untuk kembali ke kamar. Memikirkan segalanya.

Tugasmu sebagai klan Hyuuga adalah melindungi para penduduk desa. Kau harus ingat itu!

Mulai besok, kami para ninja dan Anbu ditugaskan untuk memburunya.

Dia telah masuk sebagai buronan kelas atas.

Bagimu dia adalah guru, tapi bagaimana dengan kami?

Kuro bertemu dengan anak buah Madara.

Kau tidak akan tahu kalau dia sebenarnya adalah musuh.

Apa kau pernah bertanya kenapa dia melatihmu?

"Aku...aku… apa yang harus kulakukan?" Hinata bertanya dalam hati.

Jujur saja, ia merasa bingung. Perasaan cemas dan khawatir terus saja datang di pikirannya. Apalagi setelah identitas asli Kuro terkuak. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa?

Setelah mendengar masa lalu Kuro, Hinata merasa ingin menolongnya tapi di sisi lain semua orang tidak menganggapnya sama. Semua melihat Kuro, dengan tatapan monster. Kalau ia adalah musuh, iblis berbahaya yang harus dilenyapkan.

Hinata mencintai desa dan kawan-kawannya. Namun ia juga mencintai Kuro. Dilain pihak, Kakashi-sensei maupun ayahnya menginginkan iblis itu agar segera ditangkap. Haruskah ia diam saja, dan mengabaikan senseinya itu?

Aku ingin mempercayaimu Hinata. Setelah sekian lama aku ingin mempercayai seorang manusia lagi.

Kau tidak akan mengkhianatiku, kan?

Hinata menggertakkan giginya. "A-aku tidak ingin mengkhianati kepercayaanmu itu Kuro-sensei. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan keselamatan para penduduk."

Melindungi desa dan penduduknya adalah kewajiban kita sebagai ninja dan juga klan Hyuuga.

Meskipun harus mengorbankan nyawa, kita tidak boleh melupakan prinsip tersebut.

Kau dengar itu kan, Hinata-sayang?

"Kaa-san apa yang harus kulakukan?"

Sekarang ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Desa Konoha ataukah Kuro-sensei?

Seandainya, Kuro-sensei ada disini. Ia bisa bertanya langsung padanya…

Seandainya….

Kuro-sensei….

"Hinata-chan."

"…"

"Hinata-chan!"

Panggilan tersebut makin keras.

"HINATA!"

Gadis itu tersadar dari lamunannya. Dari bawah jendela ia melihat bayangan seseorang yang tidak asing. Seorang pemuda dengan mata safir. Melambaikan tangan ke arahnya.

"Na-naruto-kun?!" Hinata terlihat kaget.

Pemuda bersurai kuning itu tersenyum, ia kemudian melompat. Dan menghampiri Hinata di kamarnya. Jika dulu berdekatan dengan Naruto, gadis itu akan merona hingga pingsan, namun sekarang tidak. Melihatnya Naruto merasa sedih, entah kenapa ia ingin melihat Hinata seperti dulu lagi.

"Naruto-kun, apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinata panik. "Kau harus kembali! Bagaimana kalau tou-san maupun yang lainnya melihatmu menyelinap kesini? Kau bisa dalam masalah!"

"Ssst, Hinata-chan. Jangan berisik. Aku kemari atas permintaan Neji." Kata pemuda pirang itu sembari membungkam mulut Hinata.

"Neji-nii?" Hinata bertanya dalam hati.

Naruto melepas tangannya dari gadis tersebut. "Ya, karena itu bisakah kita bicara sebentar Hinata?"

Gadis itu terdiam. Memikirkan perintah ayahnya yang melarangnya keluar dari rumah. "Go-gomen, Naruto-kun bukannya aku tidak mau. Tapi tou-san melarangku untuk keluar dari rumah."

"Tidak masalah. Kalau begitu kita bicara di atap saja." Naruto memberikan usulan.

"E-eh?"

"Ayo!" Naruto menarik tangan Hinata. Mengabaikan protes gadis tersebut.

Melihat kekeraskepalaan Naruto, Hinata tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti.

Berdua mereka diatap, dipayungi oleh cahaya rembulan.

"Hinata-chan. Apa kau masih menyukaiku?"

Pertanyaan tiba-tiba dari Naruto itu membuat Hinata terkejut seketika.

"E-eh?" Wajah sang Hyuuga langsung merona hebat.

Pemuda pirang itu menundukkan wajahnya, tidak berani menatap kearah Hyuuga.

Hinata yang melihatnya juga ikut menunduk. Menyembunyikan rasa malunya.

Ada jeda yang panjang, sampai akhirnya Naruto menyambung.

"Maaf. Pertanyaanku ini membuatmu tidak nyaman."

"I-ie tidak, itu." Hinata gugup tanpa sadar memainkan telunjuknya. Kebiasaannya yang dulu.

"Beberapa tahun yang lalu, saat kau menyatakan cinta padaku. Jujur aku merasa bingung namun juga senang. Senang karena akhirnya ada seseorang yang menyukaiku. Namun juga bingung, karena kau-lah yang menyukaiku."

"Ma-maaf."

"Hinata..."

"A-aku tahu, Naruto-kun menyukai Sakura-san. Tapi aku tetap menyatakan perasaanku. Gomenasai karena telah membuatmu bingung Naruto-kun."

"Hinata. Hahaha kau ini ya, benar-benar tidak berubah. Masih saja manis seperti dulu."

Gadis itu bersemu merah.

"Memang benar aku menyukai Sakura-chan dari dulu. Tapi cinta Sakura hanya untuk si teme. Semuanya tetap tidak berubah." Kata Naruto jujur.

Ya, dulu ia sempat menyukai Sakura. Tapi karena Sakura menyukai Sasuke –sahabatnya. Naruto memutuskan untuk mengalah dan merelakan gadis yang dicintainya itu. Apalagi semenjak ia tahu ada seorang gadis yang tulus menyukainya, seperti Hinata. Seseorang yang tidak segan-segan mempertaruhkan nyawanya dengan bertarung melawan Pein. Naruto tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanannya lagi.

Naruto berbalik, menatap Hinata dengan sorot mata tulus.

"Aku minta maaf karena lama tidak menjawabnya Hinata. Tapi untuk kali ini aku tidak akan membuatmu menunggu lagi. Aku akan menjawabnya." Menarik nafas panjang, sang pahlawan dari Konoha itu mengutarakan isi hatinya.

"Hinata, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi gadisku?" tanya Naruto serius.

Mata Hinata membulat lebar. "I-itu..."

"Aku…."

"Hinata, apa jawabanmu?" tanya pemuda itu lagi.

Untuk sesaat Hinata membayangkan wajah seseorang. Pria yang saat ini ia cintai.

Mengepalkan tangannya, gadis itu menjawab. "Maaf, tapi aku-"

Aku mencintai orang lain.

Naruto tersenyum sedih. "Sudah kuduga. Aku memang terlambat."

"Na-naruto-kun."

Pemuda itu tiba-tiba memeluk Hinata.

Gadis Hyuuga itu tersentak. Wajahnya memerah. "Naruto-kun?"

"Siapapun pria yang kau cintai adalah orang yang sangat beruntung." Naruto meluapkan perasaannya dengan cara memeluk sang Hyuuga.

Aku yang bodoh karena tidak menjawab pernyataanmu saat itu.

"Aku akan mendukung siapapun yang kau pilih itu Hinata. Tapi satu hal yang benar-benar kumohon tolong jangan mencintai pria iblis bernama Kuro itu. Dia tidak pantas untuk dicintai." Kata Naruto pada akhirnya. Sembari mengusap puncak kepala Hinata.

"Iblis itu benar-benar jahat. Dia adalah monster! Dia tidak pantas untukmu."

Tidak ada orang yang mencintaiku...

Semuanya menganggapku sebagai monster.

Hinata menepis tangan Naruto.

"Hinata-chan?"

"Ke-kenapa?" Hinata merasakan emosi meluap dari tubuhnya.

"Kenapa kau mengatakan hal itu Naruto-kun? Kenapa kau mengatakan Kuro-sensei sebagai monster yang tidak pantas untuk dicintai? Padahal kau sendiri juga monster yang sama!"

"!"

Hinata menutup mulutnya, ia sadar perkataannya itu sudah keterlaluan. "Go-gomen Naruto-kun. Aku tidak bermaksud-"

"Benar, aku juga monster. Kenapa aku sampai lupa hal itu? Kalau aku juga memiliki kyuubi ditubuhku." Naruto tersenyum tipis. Meskipun terlihat tegar tapi dari bola matanya, Hinata tahu. Kalau perkataannya barusan telah menyinggung Naruto. Membuatnya terluka.

"Na-naruto-kun. Tunggu-"

"Kuharap kau menemukan kebahagiaanmu Hinata. Aku ingin kau bahagia."

"..."

Pemuda pirang itu melompat turun, berbalik pergi. Meninggalkan Hinata sendiri berkutat dengan penyesalan. "Bodoh, apa yang sudah kukatakan? Maafkan aku Naruto-kun. Maafkan aku."

0-0-0-0

Naruto berjalan dengan gontai. Bodohnya dia baru menjawab pernyataan Hinata setelah semuanya terlambat. Dan Hinata tidak lagi memandang sama ke arahnya. Inikah yang dinamakan patah hati?

Pemuda tersebut berhenti di depan kedai Ichiraku. Anehnya, ia tidak memiliki semangat untuk mencicipi ramen kesukaannya seperti biasa. Ia kemudian mengambil arah memutar dan menuju tempat latihan tim tujuh. Disana ia mengingat dirinya, Sakura, Sasuke dan Kakashi-sensei. Dimana dirinya diikat. Dan pertama kalinya Sasuke menyodorkan makanan padanya disaat Naruto sangat kelaparan.

"Sasuke." Lirihnya.

Rival sekaligus sahabatnya. Sasuke Uchiha.

Naruto menatap sedih tempat itu. Bahkan kehadiran Sai yang sekarang tetap tidak bisa menggantikan posisi Sasuke sebagai teman baiknya. Pahlawan Konoha itu menunduk, berharap sahabatnya tersebut kembali ke desa dan berkumpul dengannya lagi.

"Wah, lihat siapa yang kita temukan disini? Bukankah dia adalah bocah yang disebut sebagai Pahlawan desa Konoha itu?" seru seorang wanita asing dari belakang.

Naruto membalikkan tubuhnya tiba-tiba.

Didepannya, ia bertemu mata dengan dua orang ninja dari desa lain.

"Ka-kalian?!" Bola mata Naruto membulat seketika.

"Jangan bilang kau lupa pada kami, bodoh! Namaku Karui dan dia adalah Samui. Kami datang kemari untuk mempertemukanmu dengan guru kami." Wanita tersebut menunjuk kearah pria besar yang bersandar dibawah pohon.

"Yo-yo Naruto, Apa kabar?" tanya pria itu sembari ngerapp.

"Kau kan, Killer Bee?!" Naruto memekik kaget.

Kenapa jinchuriki desa lain seperti Hachibi ada di Konoha?

0-0-0-0

"Jadi begitu, Kuro sudah pergi dari desa?" Tsunade bertanya untuk memastikan.

Kakashi mengangguk. "Ya, dengan begini, satu ancaman terbesar bagi desa sudah menghilang. Sisanya tinggal perang melawan Madara."

Tsunade menghela nafas lega. Kemudian menyerahkan sebuah gulungan khusus pada Kakashi.

"Ini?" Jounin tersebut menaikkan alisnya.

"Ini adalah misimu berikutnya Kakashi. Kau kutugaskan untuk pergi ke Suna besok pagi bersama dengan tim delapan. Dan serahkan gulungan penting ini pada Kazekage disana."

"Tim delapan? Kenapa bukan dengan tim tujuh?"

"Benar, tim delapan. Selagi Kurenai absen. Mulai sekarang, kaulah yang bertanggung jawab sebagai ketua mereka. Sementara Yamato tetap menjadi ketua tim tujuh. Jelas?"

"Lalu bagaimana dengan Hinata?"

Ada jeda sejenak sebelum Tsunade menjawab. "Soal Hinata, kuserahkan sepenuhnya pada keputusanmu Kakashi. Karena kaulah pengawasnya sekarang."

Jounin tersebut menaikkan senyumnya. "Baiklah, aku mengerti. Akan kupastikan Hinata tetap berada dalam pengawasanku, selama kami pergi ke Suna besok."

"Bagus. Kupercayakan bocah-bocah tim delapan itu padamu, Kakashi."

"Dengan senang hati, godaime-sama." Kakashi membungkuk.

"Kalau begitu aku permisi dulu-"

"Tunggu dulu Kakashi!"

"Satu hal lagi, bisakah kau bawa Naruto kemari? Karena sepertinya bocah itu sudah bertemu dengan Hachibi sekarang." Wanita itu melihat ke arah jendela. Tampak dibawah gedung, sosok Naruto terlihat bersama dengan tiga orang ninja dari desa Kumo. Salah satunya adalah Killer Bee. Sang Jinchuriki dari Hachibi. Mereka terlihat sedang berdebat akan sesuatu.

"Kau sungguh-sungguh akan mempercayakan Naruto pada orang itu?"

"Kita tidak punya pilihan lain. Killer Bee adalah satu-satunya jinchuriki yang sanggup membuat Hachibi patuh pada tuannya. Untuk itu kita memerlukan bantuannya agar Naruto juga bisa melakukan hal yang sama. Semua ini demi kepentingan desa dan Naruto. Agar Naruto bisa mengendalikan Kyuubi secara utuh."

0-0-0-0

Jugo menatap tidak percaya pada Sasuke. "Maksudmu misi kita kali ini adalah melenyapkan gadis bernama Hyuuga Hinata itu?"

Sasuke tidak merespon namun pandangan matanya yang tajam kedepan itu menandakan kalau ia tengah serius.

Pria bersurai orange itu menggertakkan giginya. "Kau serius ingin melakukannya Sasuke? Bukankah kau dan gadis itu-"

"DIAMLAH JUGO!"

"!"

"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Tidak lagi." Jawab Sasuke pada akhirnya.

"Tunggu dulu, ada apa ini? Aku tidak mengerti. Apa maksudmu dengan hubungan, Jugo?! Kau mengetahui sesuatu yang tidak kutahu?" Suigetsu tampak bingung.

Jugo memilih untuk tidak menjawab. Di hadapannya, terlihat wajah Sasuke yang berubah kesal. Lebih baik tidak usah memancing emosinya. Pemuda keturunan Uchiha itu melompati pohon dengan langkah yang dipercepat. Meninggalkan kedua rekannya di belakang.

"Jugo! Beritahu aku, apa sebenarnya yang kau maksudkan itu, jika tidak akan kubongkar isi kepalamu dengan pedangku!"

Jugo menoleh pada Suigetsu berbisik dengan nada suara yang rendah. "Gadis yang akan dibunuh Sasuke adalah teman sepermainan Sasuke dulu. Sekaligus tunangannya."

"A-apa kau bilang?"

"Ssst! Aku tidak ingin membuat Sasuke-sama marah lebih besar lagi."

"Tunangan? Si pantat ayam itu? Dan disini, kupikir orang itu tidak suka pada perempuan! Hei, apa kau pikir Karin tahu soal ini?" tanya Suigetsu penasaran.

Jugo mempercepat langkahnya, meninggalkan Suigetsu di belakang.

"Hei-hei hei beraninya kau mengabaikanku, Jugo!" Pria air itu berteriak murka.

"Kau tidak lihat Sasuke sudah berada jauh didepan?"

"Ya, aku tahu. Dan aku tidak peduli. Jelaskan apa maksud kata-katamu itu!"

"Kau begitu memikirkan perasaan Karin ya?" tanya Jugo frontal.

"A-apa maksudmu?! Berhenti mengiraku yang tidak-tidak dengan wanita merah itu!" Wajah Suigetsu berubah merah. "A-aku hanya berpikir, apa jadinya jika ia tahu Sasuke yang disukainya, sudah bertunangan dengan orang lain? Pasti dia kesal sekali."

"Ya, bisa kubayangkan wanita itu pasti akan melampiaskan amarahnya kepadamu." Sindir Jugo.

"Hei, hei, hei! Kenapa justru aku yang dijadikan korban?!"

"Hahahaha!"

"Cih, kau benar-benar menyebalkan Jugo!" Suigetsu mengumpat kesal.

"Tapi-"

"?"

"Tapi ini membuatku heran."

"Kenapa?"

"Sasuke tidak peduli pada kawan-kawannya di tim tujuh dulu. Termasuk dengan Karin. Tapi kenapa dengan gadis itu? Dia terlihat begitu emosional?" Tatapan Suigetsu lurus memandang Sasuke yang berada didepan. Demikian pula dengan Jugo.

"Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu mereka berdua?" Jugo bertanya dalam batinnya.

.

Chapter 21 Completed

To Be Continued

.

A/n : Special thanks untuk para reader yang sudah mensupport fic ini. Maaf untuk cerita ini hanya saya publish di fanfiction dan tidak ada di wattpad. Terima kasih. Sampai jumpa chapter depan.

Lightning Chrome

01012020