~Darker Than Night

Chapter Sebelumnya

.

.

"Kau sudah kembali, tuan Madara?" tanya Zetsu.

"Hnn." Pria bermarga Uchiha itu menatap Zetsu sebentar sebelum akhirnya masuk ke sebuah lorong menuju ruangan bawah tanah. Sementara makhluk bernama Zetsu itu mengekor dari belakang.

"Dimana Tobi?" tanyanya sembari mengedarkan matanya ke penjuru lorong.

"Dia sedang keluar." Jawab makhluk hijau itu.

"Kemana?" Madara menyelidik.

Zetsu mengangkat bahu. "Entahlah, orang itu tidak mengatakan apa-apa. Ke kuburan, mungkin? Menziarahi makam pacarnya?"

Mendengarnya, pria Uchiha itu menghela nafas panjang.

Tobi, adalah salah satu anggota Akatsuki yang dia rekrut sendiri. Kehadirannya nyaris tidak terendus oleh para anggota Akatsuki lain. Kecuali Pein dan Konan –mantan ketua sekaligus wakilnya yang kini telah terbunuh. Awal pertemuan Madara dan Tobi sekitar 10 tahun yang lalu.

Saat itu Madara tanpa sengaja menemukan sosok Tobi yang tengah sekarat. Tertimpa reruntuhan batu besar. Andai bocah itu tidak memiliki 'mata sharingan' tentu Madara tidak akan repot-repot berusaha menolongnya. Oleh Madara, bocah yang diketahui satu klan dengannya itu ia pungut. Kemudian ia beri nama Tobi. Meskipun luka di wajah Tobi tidak bisa hilang, setidaknya bocah itu bisa selamat dari maut.

Melihat sosok Tobi saat itu, mengingatkan Madara akan dirinya sendiri. Terutama setelah ia mengetahui perasaan Tobi yang hancur setelah mengetahui gadis yang dicintainya mati terbunuh. Satu alasan yang besar, mengapa akhirnya bocah tersebut ikut serta membantu Madara demi bisa membangkitkan Juubi.

"Jadi Kuro-sama benar-benar sudah pergi?" tanya Zetsu lagi.

Madara mengangguk, mengingat perpisahannya dengan Kuro di hutan Terlarang.

Kini setelah Kuro pergi, tidak ada yang bisa menghalangi tujuannya. Misi itu sudah ia serahkan pada Sasuke. Tinggal menunggu kabar dari bocah pantat ayam itu dengan kelompoknya. Pria Uchiha itu duduk diatas kursi kamar. Melepaskan topeng yang ia kenakan. Disampingnya Zetsu muncul sambil menyalakan sebuah lilin.

"Madara-sama ini…." ujarnya pelan sembari menyerahkan sesuatu.

Pria itu menatap datar kearah Zetsu kemudian meminum pil obat yang diberikan. Wajahnya yang semula pucat berangsur-angsur membaik.

"Madara-sama. Sampai kapan kau akan merahasiakan kondisimu dari yang lain?"

"..."

Tapi Madara tidak menjawab, pandangannya ia alihkan menatap lukisan yang terpajang di ruangan rahasia. Sesosok wanita berambut indigo panjang. Dengan senyum yang mempesona.

Melihat keadaan tuannya itu, Zetsu hanya bisa menunduk sedih.

"Zetsu." Panggil Madara. Matanya masih senantiasa mengamati lukisan tersebut.

"Bagaimana keadaan di Konoha?"

"Semua tengah bersiap dengan pasukan mereka. Hari ini, kudengar Hachibi juga datang ke Konoha."

Pria Uchiha itu mengerutkan alisnya. "Hachibi, mau apa dia?"

"Orang itu bermaksud mengajari Naruto, cara mengendalikan Kyuubi."

"!"

"Begitu ya, pintar sekali." Madara menyeringai. "Mereka benar-benar bersatu untuk melawan kita."

"…"

"Bagaimana dengan persiapan kita?"

"Semua sudah selesai, tinggal menunggu Sasuke membereskan gadis itu saja." Zetsu menjelaskan.

"Baiklah, kau boleh pergi."

Anggota Akatsuki itu kemudian beranjak keluar. Sebelumnya ia sempat melirik kearah Madara. Pria itu berdiri dari kursinya dan mendekati lukisan wanita misterius itu kemudian menciumnya. Wajahnya terlihat begitu sedih dan kesepian.

"Seandainya kau masih hidup, kau pasti akan membunuhku sekarang."

Dipandanginya wajah wanita yang sangat ia cintai. "Karena aku berniat mencelakai putri kesayanganmu."

"Sayang..." Madara berbisik.

"Maafkan aku. Semua ini kulakukan agar kita bisa bertemu. Aku ingin bersama denganmu selamanya. Meskipun jalan yang kulakukan itu salah. Semuanya kulakukan agar kita berdua bisa bersama lagi. Meskipun harus tinggal di dunia ilusi, aku tidak keberatan. Asalkan kita bisa bersama. Karena aku mencintaimu. Aku sangat merindukanmu.

Air mata Madara mengalir dari balik topengnya. "Aku ingin bertemu denganmu."

"Hitomi…"

.

.

(-)

Inspirasi dari berbagai sumber :

Warning : Canon, Reverse Harem, Typo dll!

Catatan –Khusus hanya untuk Hinata centric

Pairing akan berubah-ubah tergantung dengan alur cerita

Don't Like Don't Read

~Darker Than Night by Lightning Chrome

Rate T

I do not own Naruto

.

Xxxx

.

Happy Reading

.

Xxxx

.

.

~Darker Than Night~

Chapter 22 : Kakashi and Hinata Past

(-)

Hinata tidak bisa tidur. Semalaman ia terus terjaga, memikirkan nasib Kuro. Apa yang akan terjadi pada senseinya itu nanti. Ya, semenjak mengetahui kalau senseinya itu pergi. Hinata tidak bisa berhenti untuk khawatir. Apalagi setelah ia tahu, identitas Kuro sudah terkuak oleh Kakashi dan juga ayahnya. Gadis itu merasa cemas, apa yang akan terjadi jika Kuro kembali ke desa.

Iblis itu sudah ditetapkan oleh desa sebagai buronan kelas atas.

Kami tidak akan segan-segan memburunya jika iblis itu ketahuan masuk ke desa kita.

"A-apa yang harus kulakukan?" Gadis itu mengepalkan jemarinya. Hinata ingin bertemu kembali dengan Kuro. Tapi jika itu terjadi sama saja membiarkan Kuro terbunuh. Kakashi dan para Anbu desa tidak akan membiarkannya begitu saja. Mereka pasti akan berusaha melenyapkan Kuro. Jika dia berani muncul menemuinya.

Hinata tidak mau itu terjadi. Apalagi setelah ia tahu keadaan senseinya itu yang terus memburuk dari hari ke hari. Hinata tidak ingin lagi kehilangan senseinya itu. Ia tidak boleh membiarkan Kuro sampai bertemu dengannya. Tidak boleh! Ini semua demi keselamatan Kuro-sensei! Hinata berkata dalam hati. Meskipun jauh didalam lubuk hatinya, gadis itu sangat merindukan pria tersebut.

"Kenapa semuanya jadi begini?"

Hinata menjerit frustasi. "Padahal aku sangat merindukannya…."

Aku ingin bertemu denganmu….

Kuro-sensei….

TOK TOK TOK!

Terdengar suara pintu kamar Hinata yang diketuk. Setelah dipersilakan masuk, Neji Hyuuga datang membawa secangkir teh dan madu untuk sang gadis souke. Melihat kedatangan sepupunya itu, tidak membuat raut wajah Hinata berubah.

"Hinata-sama, kenapa kau jadi begini?" Neji bertanya dengan nada sedih. Didepannya, terlihat wajah Hinata yang murung dengan kantung mata menghitam. "Jangan bilang semalaman kau tidak tidur?"

Gadis Hyuuga tersebut tidak menjawab, justru memalingkan muka.

Melihat keadaan sepupunya tersebut, Neji menghela nafas panjang. Ia mendekat kemudian duduk disebelah ranjang milik Hinata. Menyodorkan secangkir teh. "Minumlah, Hinata-sama. Teh ini akan membuatmu lebih tenang." Kata Neji tulus.

Hinata hanya memandang datar teh tersebut, sebelum memilih meminumnya.

"Te-terima kasih." Bisik Hinata pelan usai menandaskan tehnya.

Neji meraih cangkir kosong tersebut dan menaruhnya di atas meja.

"Hinata-sama. Aku ingin bicara denganmu."

"…"

"Aku sudah mendengar semuanya dari Hokage-sama. Soal pria yang bernama Kuro itu." Neji menggertakkan giginya. Emosinya mendadak naik. "Katakan Hinata-sama! Kenapa? Kenapa kau bisa bersama dengan dia? Apalagi dia seorang iblis!" Pemuda Bunke itu bahkan tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Kenapa kau harus berguru dengan dia? Jawab aku Hinata-sama! Tolong jawablah!"

Hinata tidak bisa menjawab. Air matanya justru turun melihat kemarahan dari sepupunya itu.

"Hinata-sama. Aku minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tapi ini semua demi kebahagiaanmu. Tolong menjauhlah dari iblis itu!" pinta Neji.

"Neji-nii…"

"Aku sudah tahu semuanya. Luka-lukamu selama ini, semua berasal dari iblis itu bukan?"

"…"

"Kenapa kau masih terus melindunginya padahal dia sudah mencelakaimu! Dia itu monster yang-"

"NEJI-NI!" Hinata berteriak.

"!"

"Tolong hentikan." Hinata menatap Neji dengan sorot mata dingin.

Untuk sesaat pemuda itu membatu

"Hi-hinata-sama?"

Belum pernah ia melihat Hinata memandangnya dengan sorot mata dingin semacam itu. Meski sebentar tapi tindakan gadis itu barusan, sanggup membuat Neji ketakutan. Aura disekeliling mereka berdua berubah gelap. Untuk sesaat pemuda itu merasa bukan sedang berbicara dengan Hinata.

Masih memandang tajam pada Neji, Hinata bersuara.

"Berhenti memanggil Kuro-sensei dengan sebutan monster. Nii-san."

Bola mata Neji membulat seketika. Mengaktifkan byakugan miliknya. Ia melihat cakra Hinata mulai bergerak aneh. Cakra Hinata yang biasanya biru keunguan mulai berubah warna menjadi kehitaman. Tampak begitu menyeramkan.

Apa yang terjadi?

Peluh menetes dari kening sang bunke Hyuuga. Hawa ini, pernah ia rasakan sebelumnya. Persis sama ketika ia melawan Naruto dulu. Ketika pemuda pirang itu mengeluarkan cakra kyuubi di tengah pertarungan. Apa yang sebenarnya terjadi pada sepupunya itu?

Melihat ekspresi Neji yang terkejut itu segera membuat Hinata tersadar.

A-apa yang kulakukan?

Kenapa aku marah pada Neji-nii?

"Ma-maafkan aku." Hinata segera membungkuk –meminta maaf.

"A-aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. A-aku tahu Neji-nii hanya mengkhawatirkanku. Tidak seharusnya aku marah. Sekali lagi gomen…"

"Hinata-sama…."

"…." Gadis itu masih membungkuk.

Neji menaikkan sudut bibirnya dan mengusap puncak kepala Hinata.

"Neji-nii." Gadis tersebut menaikkan wajahnya. Didepannya ia melihat wajah tersenyum Neji.

"Tidak apa-apa, Hinata. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak tahu apa-apa tapi sudah berani menghakimimu secara sepihak. Jangan menangis. Aku tidak akan melakukannya lagi." Neji memeluk gadis tersebut mencoba menenangkannya. "Apapun jalan yang kau pilih Hinata-sama. Meskipun itu berbahaya, aku janji akan melindungimu."

Neji-nii…

Kenapa kau baik padaku…?

Padahal karena aku, Paman Hizashi…

Hinata menggigit ujung bibirnya. Perasaan bersalah terus menggerogoti hati dan pikirannya saat ini.

"Hinata-sama, aku memang bukan berasal dari golongan souke. Tapi aku sudah menganggapmu seperti saudara sendiri. Karena itu jika kau dalam masalah, ceritakanlah padaku. Aku janji akan membantumu sebisaku."

"Neji-nii…"

"Karena itu aku mohon jauhi iblis itu. Aku tidak ingin kau sampai terluka, Hinata. Di keluarga ini, aku hanya memilikimu dan Paman Hiashi. Aku tidak ingin sampai kehilanganmu juga."

Hinata mengeratkan pelukannya pada Neji. "Maaf sudah membuatmu khawatir nii-san."

"Hinata-sama." Terdengar suara panggilan dari luar pintu.

"Kou, ya? Ada apa?"

Neji langsung melepaskan pelukannya, membiarkan Hinata membuka pintu. Dan benar saja, pria yang merupakan penjaga Hinata dari klan Hyuuga itu datang untuk memberikan kabar mengenai kedatangan teman-temannya dari kelompok delapan.

"Kiba-kun dan Shino datang?" Hinata tampak terkejut.

Pria Hyuuga itu mengangguk. "Benar, saat ini teman-teman nona sedang menunggu di depan."

"Baiklah, aku segera kesana."

Sebelum pergi, Hinata sempat berbalik dan bertemu mata dengan Neji.

"Tidak apa-apa. Pergilah! Mereka berdua sudah menunggumu." Neji tersenyum.

Hinata menaikkan sudut bibirnya. "Arigatou, nii-san." Ujarnya sambil lalu.

Neji membiarkan Hinata menemui kawan-kawannya. Melihat punggung Hinata yang telah menjauh, Neji merasakan hal yang ganjil. Kenapa? Meskipun gadis itu telah kembali seperti semula, cakra gelap itu tetap tidak mau hilang. Masih sama seperti sebelumnya –bahkan semakin menguat. Neji yang dari tadi mengaktifkan byakugannya, tersenyum takut. Bahkan saat ini, tangannya tidak mau berhenti bergetar. Mungkinkah cakra Hinata yang sekarang berasal dari iblis bernama Kuro itu? Jika benar, ini benar-benar berbahaya untuk Hinata-nya.

0-0-0-0

"Hinata! Ohayou!" Kiba menyapa gadis itu dengan semangat yang berapi-api. Diikuti dengan gonggongan anjingnya –Akamaru. Disebelahnya, Shino berdiri diam. Tapi anggukan kepala dari pemuda berkacamata itu membuktikan kalau ia senang bertemu dengan Hinata.

"Kiba-kun, Shino-kun, ohayou!" Hinata memberikan salam balik. Gadis itu terlihat senang. Entah sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan kedua orang sahabatnya dari tim delapan. Sungguh, Hinata sangat merindukan mereka berdua. Tapi angin apa yang membawa keduanya datang tiba-tiba ke kediaman Hyuuga? Gadis tersebut berpikir.

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Hinata. Bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja." Kiba kemudian menceritakan bagaimana dirinya dan Shino terus-terusan mendapatkan misi di luar desa. Akamaru yang mendengar cerita tuannya itu pun sesekali menggonggong. Terakhir, Kiba menceritakan kalau dirinya dan Shino baru pulang dari misi tengah malam kemarin.

"Aku dan Shino baru saja pulang. Dan sekarang Hokage-sama menyuruh kami bersiap-siap untuk misi berikutnya. Yang benar saja!" oceh Kiba kesal.

Kali ini Shino yang dari tadi diam, bersuara. "Apa boleh buat, sekarang desa dalam keadaan darurat perang. Percuma saja kau merajuk seperti itu, Kiba."

Hinata tertawa. Mendengar pertengkaran kedua sahabatnya itu. Entah sudah berapa lama, ia tidak mendapatkan misi bersama mereka berdua. Terakhir karena situasi Kuro dan kegagalan misi Sasuke sebelumnya –gadis itu belum diberi misi lagi oleh Hokage kelima. Jujur hal itu membuat Hinata sedikit kecewa.

"Hinata…" gadis itu menoleh kearah Kiba yang dari tadi memanggilnya.

"I-iya, Kiba-kun?"

Kini Kiba yang menatap heran HInata. "Kenapa kau masih belum bersiap? Sebentar lagi kita akan berangkat?"

"Eh, berangkat?"

"Ya, kita ada misi ke Suna. Hokage kelima belum memberitahumu?"

Misi ke Suna?

"A-aku belum dengar soal itu."

"Benarkah? Padahal waktu kami menghadap, beliau mengatakan dengan jelas 'misi untuk kelompok delapan' bukankah begitu Shino?"

Pemuda dari klan Aburame itu mengangguk. "Tsunade-sama, menyebutkan misi untuk empat orang. Satu orang lagi akan segera datang. Membawa gulungan penting untuk diserahkan pada Kazekage Suna."

"Sa-satu orang lagi? Siapa?"

Kiba mengangkat bahu. "Entahlah, hokage kelima tidak menyebutkan namanya. Mungkin dia adalah ketua baru kita?"

Gadis itu tampak berpikir. Jika apa yang dikatakan Kiba dan Shino itu benar. Berarti Hokage menyuruh kami semua –termasuk dengannya untuk menjalankan misi ke luar desa. Tapi apakah itu mungkin? Karena kemarin, ayahnya menyebutkan dengan jelas kalau ia tidak diijinkan keluar dari rumah. Apakah itu berarti ayahnya berubah pikiran?

"Oh ya, Hinata. Tadi aku sempat melihat Naruto sebelum kemari."

DEG

Hinata merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. "Na-naruto-kun?"

Kiba menjelaskan. "Ya, aku melihatnya bersama dengan para ninja dari desa Kumo. Kalau tidak salah, salah seorang dari mereka adalah jinchuriki Hachibi. Kudengar mereka sengaja datang kemari untuk mengajari Naruto cara menaklukkan kyuubi."

"Oh."

"Aku tidak tahu mereka membawa Naruto kemana. Tapi yang jelas, si biang onar itu akan pergi dari desa. Kau yakin tidak ingin menemuinya, Hinata?"

A-aku….

"Kalau kau menyusulnya sekarang sepertinya belum terlambat. Bagaimana?"

Hinata tampak bimbang. Ia ingin menemui Naruto. Tapi ingatannya tentang peristiwa tadi malam benar-benar menghantui pikirannya. Ia telah menolak pernyataan cinta dari Naruto. Belum lagi, ia sempat berkata kasar padanya. Gadis itu sangsi, Naruto mau melihat wajahnya lagi.

"Ma-maaf tapi aku…" Hinata ingin minta maaf langsung pada Naruto. Tapi dirinya belum memiliki keberanian untuk bertemu sekarang. Ia takut Naruto akan mengusirnya. Lebih buruknya lagi, ia takut Naruto tidak mau berteman lagi dengannya.

Melihat kegelisahan Hinata, Shino yang seolah mengerti -berjalan lebih dulu. "Tidak baik membuat rekan kita yang lain menunggu. Hinata, cepatlah bersiaplah!"

Gadis itu meneguk ludahnya. Kemudian tersenyum lega.

"B-baik."

Terima kasih Shino-kun.

0-0-0-0

Sakura terlihat kesal. Baru saja ia diberitahu oleh Hokage-senseinya mengenai kepergian mendadak Naruto dengan ninja dari Kumo. Baik, Kakashi maupun tim lainnya sudah tahu soal Naruto tapi kenapa dirinya tidak? Gadis bersurai merah muda itu keluar dari ruangan Hokage dengan perasaan marah. Bahkan kehadiran Sai yang notabene salah satu timnya sekarang pun tidak mampu mengenyahkan perasaan kesal di hatinya itu.

Pertama Sasuke kemudian sekarang Naruto. Kenapa? Kenapa semua orang suka sekali meninggalkannya? Tanpa memberinya kabar. Padahal ia salah satu teman mereka! Tanpa sadar Sakura mengepalkan jemarinya.

"Kau kelihatan kesal." Ujar seorang wanita berambut merah.

Menoleh kesamping ia mendapati wajah seorang wanita yang dulu satu tim dengan Sasuke.

"Kau, Karin?" Sakura menaikkan alisnya. Kebetulan sekali bertemu dengannya disini.

Wanita itu terlihat bersender di dinding ruangan dengan ekspresi cemberut. Sepertinya ia tengah menunggu seseorang. Jounin yang biasa mengawasinya sedang pergi ke toilet dan Karin terpaksa menunggunya dengan tangan yang terikat. Tali yang digunakan untuk mengikat Karin tersebut, mampu menahan pergerakan cakranya secara total.

"Cih, benar-benar menyedihkan." Karin mengumpat dalam hati.

Hanya gara-gara tali bodoh ini, ia kehilangan kesempatan untuk kabur.

Sakura menatap tajam sosok Karin. Ya, wanita didepannya itu adalah salah satu mantan anak buah Orochimaru sekaligus rekan satu kelompok Sasuke. Dari berita yang ia dengar, wanita itu merupakan salah satu fans fanatik dari pemuda tersebut. Lihat saja -meskipun tangannya terikat, wanita itu masih sempat-sempatnya menggenggam foto Sasuke ketika masih menjadi genin dulu.

Tunggu dulu!

Jadi wanita itu sudah mengenal Sasuke selama itu? Mata Sakura membelalak lebar.

"Kau, darimana mendapat foto Sasuke?" Gadis Haruno itu merasa curiga.

"Hah, dapat darimana. Aku tidak perlu memberitahumu, j*lang!"

Kening Sakura berdenyut. Ia nyaris menghancurkan tembok yang ada didepannya. Sebelum akhirnya ia tahan. Sementara itu Karin menatap Sakura datar. Terlihat membandingkan.

"Jadi kau, rekan Sasuke sewaktu di akademi dulu?" Pertanyaan dari wanita itu membuat emosi Sakura sedikit menurun. Gadis dari klan Haruno itu menekuk alisnya. "Benar, lalu kenapa?"

"Huh, aku hanya bersyukur. Kau tidak secantik kelihatannya." Karin mencibir.

"APA?!"

Pertama Sai kemudian Karin. Kenapa mereka semua senang sekali mengolok-oloknya tidak cantik?!

"Kau buruk. Dan dahimu lebar!" Wanita merah itu menyindir untuk kedua kalinya.

Dahi Sakura kini membentuk siku-siku. Gadis tersebut benar-benar marah!

Ia baru saja ingin mengambil ancang-ancang untuk menghajar Karin –jika saja perkataan Karin selanjutnya tidak memupuskan niatnya barusan.

"Setidaknya kau beruntung, masih memiliki teman yang peduli padamu."

Sakura kehilangan emosinya, didepannya Karin tersenyum sedih.

"Apa maksudmu?"

Karin mengulangi kalimatnya. "Kubilang kau beruntung, masih memiliki teman yang sayang dan peduli padamu. Lihat saja bocah bernama Naruto itu! Dari wajahnya aku bisa melihat dia sangat sayang padamu dan Sasuke. Lebih lagi bocah itu dengan mudahnya berkata ingin membawa Sasuke kembali ke Konoha. Kami-sama, lihatlah Sasuke yang sekarang! Siapa orang bodoh yang berani mengatakan ingin membawa Sasuke kembali setelah laki-laki itu mencoba membunuhnya?"

"…"

"Orang bernama Naruto itu benar-benar bodoh. Tapi-"

Pandangan Karin tiba-tiba saja melunak.

"Sasuke sebenarnya beruntung, memiliki Naruto sebagai temannya. Hanya sedikit orang di dunia ini yang tulus seperti Naruto. Andai laki-laki Uchiha itu sadar-"

"Karin…" Sakura memotong. "Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"

"Tidak ada. Aku hanya sedikit iri mungkin. Kau dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan tulus padamu. Sementara aku tidak." Karin mengingat dirinya yang tidak memiliki keluarga. Sampai dirinya diangkat oleh Orochimaru sebagai anak buah. Hingga pertemuannya dengan Sasuke. Yang berakhir dimana dirinya hampir dibunuh oleh pemuda itu karena dianggap –sudah tidak berguna.

Dan sekarang ia ditawan oleh Konoha, dan tidak ada satupun yang berusaha menolongnya.

Ck, menyedihkan sekali.

"Karin, kau…."

"Ngomong-ngomong, aku ingin berterima kasih padamu." Karin mengubah pembicaraan.

"Saat itu, kalau saja kau tidak menolongku. Aku pasti sudah mati sekarang."

Sakura tertegun mendengarnya. Ia tidak mengira wanita kasar seperti Karin, tahu caranya berterima kasih. "Bukan apa-apa. Aku hanya melakukan tugasku sebagai dokter."

Karin mendengus. "Begitu, kau bisa menjadi dokter yang hebat."

"Tentu saja, karena Tsunade-sensei adalah guruku." Kata Sakura bangga.

"Kau –hokage kelima itu adalah gurumu?"

"Yup."

"Pantas kau memiliki tenaga raksasa."

"KAU!"

"Kau kan Haruno-san?" ujar seorang jounin tiba-tiba.

Melihat kedatangan jounin yang bertugas mengawasinya itu, Karin akhirnya bernafas lega. Ia tidak perlu menunggu lebih lama lagi dan bisa kembali ke kamar tercintanya. "Akhirnya kau datang juga, cepatlah! Aku sudah lama menunggumu!" Wanita itu kemudian pergi bersama dengan jounin tersebut.

"Aku perlu waktu menyendiri dengan pacarku yang tercinta." Sambungnya lagi masih menggenggam erat foto Sasuke.

"Karin!" Panggil Sakura dari belakang.

"Ternyata kau tidak seburuk yang kubayangkan."

Karin mendengus, kemudian melambaikan tangannya. "Dan kau masih berjidat lebar!"

"Syannaroo!" Sakura berkomentar dalam hati, menyembunyikan kekesalannya.

Tapi sedikit banyak ia berterima kasih pada Karin. Karena mengingatkannya, meskipun Naruto tidak terbuka padanya. Tapi pemuda itu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kebahagiaannya. Seperti janji Naruto padanya, untuk membawa Sasuke kembali ke Konoha. Janji yang ia sendiri tidak akan sanggup menepatinya.

0-0-0-0

"Sudah jam segini, apa benar ketua baru itu akan datang?" tanya Kiba gelisah.

Saat ini mereka bertiga dan Akamaru tengah menunggu kedatangan ketua baru mereka di depan gerbang Konoha. Sudah hampir tengah hari, dan mereka belum bertemu dengan rekan terakhir yang dimaksud. Akamaru bahkan sudah menggonggong dari tadi.

Dilain pihak Hinata merasa gugup.

Apakah benar, kepergiannya ini diijinkan oleh ayahnya? Sebelum keluar dari rumah, gadis itu sempat berpapasan dengan Hiashi. Meskipun melihat Hinata berpakaian lengkap ninja, tapi pria tersebut tidak menegurnya. Dan membiarkan Hinata pergi bersama dengan timnya dari kelompok delapan.

Benarkah tou-san berubah pikiran?

"Sudahlah, kita tinggalkan saja orang itu. Dan pergi ke Suna bertiga!" kata Kiba mulai kehilangan kesabarannya.

GUK! GUK! GUK!

"Ki-kiba-kun, tunggu dulu!" Hinata mencoba menahan.

"Wah wah, sepertinya ada yang sudah tidak sabar untuk pergi menjalankan misi." Kata seseorang tiba-tiba. Menengok ke belakang, mereka mendapati seorang pria yang sudah tidak asing lagi.

"Hai!" Jounin bermasker itu menyapa ramah tim barunya.

"KA-KAKASHI-SENSEI?!" Semuanya berteriak kaget, kecuali Shino.

"Hmm, kau mengatakan sesuatu?" Kakashi pura-pura bertanya.

"Seharusnya aku sudah tahu, kalau orang yang dimaksudkan itu adalah kau Kakashi-sensei!" Kiba menunjuk-nunjuk Kakashi. "Satu-satunya jounin Konoha yang suka membuat timnya menunggu lama, hanya kau! Dasar tukang telat!"

Kakashi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, maaf. Tadi aku membantu nenek yang tersesat di desa. Jadi-"

"HENTIKAN ALASANMU YANG SOK POLOS ITU! KAU KIRA KAMI PERCAYA?! KENAPA TIDAK SEKALIAN SAJA KAU KATAKAN 'SEDANG TERSESAT DI JALAN YANG BERNAMA KEHIDUPAN?" Kiba melampiaskan emosinya.

Mendapati kemarahan tim barunya itu, Kakashi justru tertawa geli. Pandangannya yang semula menatap Kiba dan Shino beralih pada HInata. Gadis Hyuuga itu meneguk ludahnya. Merasakan tatapan Kakashi itu, membuat Hinata tidak nyaman. Ia menundukkan kepalanya.

Kakashi sedikit kecewa melihat respon dari gadis Hyuuga itu. Namun memilih untuk mengabaikan dan fokus terhadap misinya kali ini.

"Jadi kalian semua sudah berkumpul." Kakashi memperhatikan satu per satu dari mereka sebelum mulai memberikan instruksi.

"Seperti yang sudah kalian ketahui. Namaku Kakashi Hatake, ketua baru di tim delapan. Kesukaanku banyak tapi tidak ada yang khusus. Yang harus kuberitahu kalian juga tidak ada. Rumahku –tidak penting juga kalian tahu. Ada pertanyaan?"

KIba merasakan darahnya naik hingga ke kepala.

Siapapun juga sudah tahu soal itu! Jounin yang bernama Kakashi tidak akan pernah mau membeberkan rahasia pribadinya pada orang lain. Terutama anak didiknya! Apalagi yang harus ia tanyakan?

"A-ano, Kakashi-sensei." Hinata malu-malu bertanya. "Sensei bilang ketua tim delapan? Bagaimana dengan tim tujuh? Bukankah seharusnya Kakashi-sensei bersama dengan Naruto-kun dan yang lain?"

Kakashi dengan lembut menjawab. "Tidak perlu khawatir, tim tujuh sudah memiliki Yamato sebagai ketua."

"Kalau begitu, aku juga. Boleh aku bertanya sensei?" Kiba mengangkat tangannya.

"Apa itu?"

Kesempatan.

"Apa kami boleh melihat wajah sensei tanpa masker?"

Kali ini bukan hanya Kiba yang tertarik, tapi juga Shino. Bahkan mata Akamaru juga berbinar. Sementara Hinata menatap gugup teman-temannya.

Kakashi tersenyum dari balik maskernya. "Tidak."

Satu penolakan yang singkat, padat, jelas dan menusuk.

Kiba dan Shino membatu seketika. Jangankan tim tujuh dengan Naruto sebagai biang onar. Bahkan Kakashi juga menolak membuka maskernya didepan tim delapan! Adakah orang disini yang pernah melihat Kakashi tanpa penutup wajah?

Hinata melirik wajah kecewa teman-temannya. Ia tidak sampai hati, memberitahu keduanya kalau dirinya pernah melihat wajah asli Kakashi sekaligus mengetahui alamat tempat tinggalnya. Sungguh, gadis itu tidak ingin ada orang yang menggosipkanya lebih dari ini.

Apa jadinya jika teman-temannya itu tahu?

Hinata tidak ingin diberondong dengan berbagai pertanyaan memojokkan seperti 'kenapa Kakashi sensei pilih kasih dengan Hinata atau seseorang yang bertanya padanya mengenai hubungan mereka. Alasan mengapa Kakashi yang dikenal sangat cuek itu sampai bersedia menunjukkan wajah aslinya pada Hinata sementara tim tujuhnya sendiri tidak tahu?'

"Baiklah, kalau tidak ada yang bertanya lagi. Sekarang akan kujelaskan misinya pada kalian. Hari ini kita akan pergi ke Suna untuk memberikan gulungan penting ini pada Kazekage. Ini adalah misi tingkat S. Karena isi gulungan ini, berpengaruh terhadap aliansi Negara." Jelas Kakashi sambil membawa sebuah gulungan berwarna putih.

"Kita harus sampai ke Suna paling lambat besok siang."

"APA BESOK SIANG?" Kiba membelalakkan matanya.

"Apa maksudnya ini sensei? Jarak Konoha –Suna itu sangat jauh. Perlu waktu setidaknya 3 hari 2 malam untuk mencapainya. Dan kau menyuruh kami sehari?!"

"Maksudnya, kalian sebagai chunin tidak mampu begitu?" tanya Kakashi setengah menyindir.

"Bukan begitu sensei! Tapi kalau saja sensei tadi tidak terlambat. Kita bisa sampai lebih cepat!"

"Kalau tidak sanggup kalian mundur saja." Kakashi menyarankan. "Tidak usah banyak alasan."

"Ap-" Kiba tertohok. Menoleh kedua orang timnya yang lain dan juga Akamaru, Kiba tidak boleh sampai kehilangan muka.

"Si-siapa yang bilang kami tidak sanggup? Kami tidak akan mundur! Lihat saja! Kita pasti akan sampai besok siang!" seru Kiba dengan semangat membara. Menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Apalagi yang kalian berdua tunggu? Cepatlah atau kalian tertinggal! Ayo Akamaru!"

GUK! GUK! GUK!

KIba maju lebih dulu. Disusul oleh Akamaru dan Shino.

"Apa benar ini tidak apa-apa?" tanya Hinata ragu.

Disebelahnya Kakashi tersenyum lembut pada Hinata. "Tidak apa-apa. Selagi bersamaku, Hokage-sama akan mengijinkanmu keluar dari desa. Kau bisa percaya padaku." Jounin itu kemudian mengusap puncak kepala Hinata. Secara langsung menjawab beban pikirannya selama ini.

"Ka-kakashi-sensei?"

"Ayo, yang lain sudah menunggu."

Untuk sesaat gadis Hyuuga itu tertegun melihat senyum Kakashi. Amarahnya kemarin pada jounin tersebut berangsur-angsur menghilang. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan berlari menyusul teman-temannya yang sudah jauh di depan.

0-0-0-0

Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Suna. Demi memperlihatkan kemampuan terbaiknya pada Kakashi, Kiba dan Akamaru mempercepat tempo gerakannya. Melompat dari satu pohon ke pohon yang lain dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan ketiga orang rekannya dibelakang. Di lain pihak Hinata merasa seolah kehabisan oksigen. Pandangannya mulai kabur. Tanpa sadar dia salah menginjak ranting pohon dan jatuh terpeleset.

"KYAAAAA!"

"Hinata!" Dengan insting yang cepat dan gerakan refleksnya salah satu dari mereka melompat turun dan menyelamatkan Hinata agar tidak jatuh dari ketinggian.

Gadis indigo itu membuka matanya. Tampak di depannya wajah pria yang menjadi penolongnya itu.

"Ka-kakashi-sensei." Gumamnya rendah.

Ternyata Kakashi-lah yang menolongnya.

"Kau baik-baik saja, Hinata?" tanya Kakashi cemas.

Untuk sesaat gadis itu teringat akan sosok 'Anbu-san'.

Kedua orang timnya yang lain, Kiba dan Shino turun segera untuk melihat kondisi Hinata.

"Hinata, kau baik-baik saja? Hinata?" tanya Kiba dan Shino tidak kalah panik.

"A-aku baik-baik saja." Jawab Hinata lemah berusaha untuk bangkit. Dibantu oleh Kiba dan Shino.

GUK! GUK! GUK!

Hinata tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Akamaru. Dan terima kasih Kakashi-sensei."

"Kau yakin tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat." Tanya jounin itu lagi.

"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan. Ayo, kita lanjutkan perjalanan lagi." Hinata memaksa dirinya untuk tersenyum.

"Tapi Hin-"

"Sudah, sudah. Sekarang kita lanjutkan perjalanan! Sebentar lagi malam, kita harus mencari tempat berkemah." Kakashi memberikan perintah.

"Tapi Hinata dia-"

"Aku yang akan mengurusnya. Kalian pergilah dulu! Aku dan Hinata akan menyusul"

Kiba dan Shino saling berpandangan kemudian mengangguk. "Baiklah, tolong jaga Hinata-chan. Kakashi-sensei!"

Melihat kepergian kedua sahabatnya itu, Hinata merasa sedikit murung. Lagi-lagi ia menjadi beban di tim ini. Kapan dia bisa menjadi kuat dan melindungi teman-temannya?

"Naiklah."

"Eh?"

"Aku akan menggendongmu." ujar Kakashi tiba-tiba.

BLUSH

Wajah Hinata langsung memerah. Ge-gendong?

"Ti-tidak apa-apa sensei. Aku bisa sendiri." Gadis itu menolak.

"Hinata, cepat naik. Atau kita akan tertinggal semakin jauh." Kakashi beralasan. "Kau masih belum pulih benar. Bagaimana kalau kau jatuh lagi dan terluka?"

K-kakashi-sensei? Kau mengkhawatirkanku?

"Aku mengkhawatirkanmu, Hinata." Ujar Kakashi secara otomatis menjawab pertanyaan dalam benak gadis itu.

"!"

Angin kencang tiba-tiba berhembus, mengitari keduanya. Mata keduanya saling bertemu. Untuk sesaat Hinata merasa kembali lagi ke masa itu. Dimana dirinya pertama kali bertemu dengan Kakashi-sensei yang ia kenal sebagai Anbu-san. Seorang Anbu penjaga sekaligus teman terpercayanya untuk berkeluh kesah.

"Ba-baik."

Gadis itu berubah pikiran. Dengan malu-malu Hinata meraih punggung Kakashi. Mengalungkan tangannya ke pundak jounin tersebut. Melihat wajah Hinata yang memerah seperti kepiting rebus, membuat jounin tersebut tertawa kecil. Hanya karena sentuhan kecil seperti itu, entah kenapa membuat dada pria tersebut terasa hangat. Sepanjang perjalanan mereka berdua, Kakashi tidak bisa berhenti tersenyum.

0-0-0-0

"Kau serius ingin melakukannya, Sasuke?" tanya Suigetsu ragu-ragu.

Saat ini mereka bertiga tengah berada di puncak tebing. Dibawahnya terdapat jurang raksasa yang membatasi wilayah tersebut dengan desa Konoha. Pandangan ketiganya fokus menatap satu tempat dari puncak ketinggian. Desa Konoha yang saat ini diselimuti dengan kabut gelap.

"…" Sasuke tidak menjawab, tapi mata sharingannya yang menyala menandakan kalau pemuda itu serius.

"Kita benar-benar akan menyerang Konoha?" tanya Suigetsu lagi tidak habis pikir.

Setelah penyerangan Konoha oleh Pein beberapa waktu yang lalu. Penjagaan desa tersebut semakin diperketat. Tanpa surat ijin dari Hokage, siapapun orang diluar penduduk desa tidak diperbolehkan masuk. Bahkan penjaganya pun saat ini berasal dari kalangan Anbu dan jounin. Bukan chunin maupun ninja dengan kalangan menengah seperti sebelumnya.

Dan kini Sasuke berniat menyerang kembali Konoha? Mereka bertiga? Melawan ratusan ninja elit dan Kage yang merupakan salah seorang dari Sannin? Apa laki-laki Uchiha ini sudah gila?

"Suigetsu, kalau kau merasa tidak mampu lebih baik mundur! Aku tidak memerlukan seorang pengecut dalam timku!" ujar Sasuke dingin. Pemuda tersebut kemudian berbalik dan melanjutkan perjalanan ke Konoha. Diikuti oleh Jugo.

Suigetsu mengepalkan jemarinya. Ia mengikuti langkah Sasuke.

Pengecut? Cih, yang benar saja! Berani sekali orang itu mengatainya!

"Siapa bilang aku akan mundur? Aku bukanlah pengecut! Aku hanya ingin memastikan! Bukankah tujuan misi kita kali ini adalah membunuh gadis Hyuuga itu? Kenapa sekarang tujuannya berubah menjadi menyerang Konoha?"

Sasuke berhenti melangkah. Tatapan tajam ia arahkan pada Suigetsu.

"Karena tempat tinggal gadis Hyuuga itu ada disana. Selain itu aku masih memiliki hutang yang harus kubayar di Konoha."

"Hutang? Hutang apa?"

Sasuke menyeringai. Senyum keji tersungging di bibirnya. "Janjiku pada si tua Danzou yang sudah mati itu. Lihatlah pak tua, desa yang kau banggakan itu akan kuhancurkan sampai berkeping-keping."

'Kalian Konoha harus membayar mahal, apa yang sudah kalian lakukan pada Itachi!'

0-0-0-0

Hari sudah malam ketika mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat di hutan. Setelah menyantap makan malam seadanya yaitu ikan bakar dan beberapa buah. Mereka bergegas untuk tidur. Masing-masing dari mereka memiliki giliran untuk berjaga. Khusus untuk Hinata, gadis itu tidak diijinkan untuk bergadang. Hinata hendak protes, tapi teman-temannya memaksanya untuk istirahat dengan alasan perjalanan masih jauh. Mereka tidak ingin melihat gadis tersebut pingsan karena kelelahan.

Hinata tidak memiliki pilihan lagi selain mematuhi. Meskipun dalam hati ia merasa bersalah karena tidak bisa membantu timnya. Tapi setidaknya, ia bersyukur memiliki teman-teman yang sangat perhatian. Tidak menunggu waktu lama gadis Hyuuga itupun tertidur.

Beberapa jam telah berlalu, kini adalah giliran Kakashi yang berjaga menggantikan Shino. Setelah memastikan semua timnya tertidur, jounin tersebut menurunkan maskernya. Menghirup udara dalam-dalam. Saat ini ia tengah duduk di tepi sungai tidak begitu jauh dari tenda. Waktu sudah menginjak pukul dua dini hari. Beberapa jam lagi fajar menyingsing dan mereka akan melanjutkan perjalanan ke negara Suna.

"Ka-kakashi-sensei?" terdengar suara lembut dari belakang.

Kakashi berbalik mendapati wajah manis salah satu muridnya.

"Kau belum tidur, Hinata?" Sorot mata Kakashi terlihat melunak.

"Aku haus jadi terbangun." jawab Hinata jujur. Mata bulannya bergerak mencari-cari dimana ia menyimpan tempat minumnya. Karena berada paling dekat, Kakashi membantu mengambilkan gelas tersebut pada Hinata. "Ini minumlah.".

Dengan sekali tegukan, gadis itu menghabiskan airnya. "Te-terima kasih."

"Tidak masalah."

"T-tapi…" Mata Hinata membulat ketika melihat Kakashi mengisi kembali gelas tersebut dengan air kemudian meminumnya dari tempat yang sama dengan Hinata.

"!"

"Kenapa? Aku juga ingin minum." Entah kenapa suara Kakashi terdengar serak- menggoda.

Hinata meneguk ludah. Wajahnya memerah. Entah kenapa ia terbayang kata-kata dari Ino yang pernah bercerita tentang 'ciuman tidak langsung' dari gelas. Apa mungkin hal ini juga termasuk?

Bodoh, apa yang kupikirkan? Ciuman tidak langsung dengan Kakashi-sensei? Memang apa salahnya jika minum di gelas yang sama? Toh kenyataannya kami adalah satu tim. Tapi…tapi, tidak seharusnya dia meminumnya langsung bukan? Kakashi-sensei seharusnya bisa mencucinya lebih dulu! Tunggu, apa yang kupikirkan?

Hinata memaki dirinya sendiri. Berusaha menenangkan gejolak batinnya.

"Hinata?" Kakashi menaikkan alisnya. Tangannya masih memegang gelas.

"Kenapa kau melamun?"

Didepan matanya ia melihat Kakashi dengan mudahnya melepas masker. Memperlihatkan wajah tampan nan rupawan yang tidak pernah dilihat oleh seorang pun di desa kecuali Hinata. Kenapa? Kenapa gurunya itu memperlihatkan wajahnya kepada Hinata? Bukan kepada yang lain? Gadis itu benar-benar tidak mengerti.

"Ka-kakashi-sensei…"

"Hmm?"

"Kenapa kau memperlihatkan wajahmu padaku?" Tanya Hinata penasaran.

Pertanyaan sederhana itu hampir membuat Kakashi tersedak. Pria bersurai perak itu mencoba bersikap tenang. Menghela nafas panjang, pria tersebut bertanya. "Kenapa kau bertanya soal itu?"

"Ka-karena kau tidak pernah mau membuka maskermu didepan teman-teman lainnya. Jadi aku penasaran kenapa kau mau memperlihatkan wajah aslimu di depanku?"

"Kenapa ya? Mungkin karena kau membuatku nyaman."

"Eh?" Iris Hinata tiba-tiba membulat.

Nyaman? Apa maksudnya itu?

Untuk sesaat jounin bermata sharingan tersebut merasa gugup. Ia bahkan tidak sadar telah menggunakan suara aslinya.

"Karena setelah apa yang terjadi dalam hidupku selama ini, kau adalah orang pertama yang mampu membuatku tersenyum lagi."

DEG

Jantung Hinata berdentum dengan kencang. Wajahnya terlihat merona.

"Ya, lebih tepatnya bersama denganmu membuatku lebih tenang. Seperti itulah. Hahahaha!" Pria itu tertawa menyembunyikan rasa gugupnya. Ia tidak mau Hinata sampai tahu dirinya menyimpan perasaan berlebih pada gadis tersebut.

Kali ini Hinata yang memandang Kakashi dengan penuh rasa ingin tahu.

"K-kakashi-sensei, suaramu tadi?"Hinata tertegun mendengarnya. Suara Kakashi barusan, terdengar begitu bening dan merdu. Jauh berbeda dibandingkan biasanya. Apa mungkin? Ini adalah suara Kakashi Hatake yang asli? Gadis itu terlihat tidak percaya.

Wajah Kakashi sedikit memerah, ia menutup mulutnya dengan punggung tangan. Terlihat malu. Karena sudah ketahuan, apa boleh buat. Sepertinya ia memang tidak memiliki bakat untuk menyembunyikan sesuatu dari Hinata.

"Ya, benar. Ini adalah suara asliku." Pria tersebut akhirnya mengaku. "Dan ini adalah wajah asliku yang selama ini kusembunyikan dari semuanya. Hahahaha maaf, kalau wajah asliku ini kau sudah pernah melihatnya di kedai Ichiraku, bukan?"

Benar, Hinata melihat wajah Kakashi pertama kali ketika sedang makan di kedai ramen Ichiraku. Gadis itu terkejut, melihat wajah asli Kakashi ternyata jauh lebih sempurna dari apa yang digosipkan orang-orang. Terlihat begitu tampan dan rupawan. Hampir menyaingi Kuro-senseinya. Gadis itu bahkan sempat terpesona ketika pertama kali melihat wajah asli Kakashi.

Dan hari ini ….kebetulan sekali ia bisa melihat wajah itu lagi.

"Kenapa? Padahal wajahmu sangat tampan. Kenapa kau sembunyikan?" Hinata malu-malu bertanya.

Kakashi menaikkan sudut bibirnya. Melempar pandangannya ke sungai. "Aku sudah pernah bilang sebelumnya bukan? Aku tidak ingin orang-orang menilaiku hanya dari segi fisik dan penampilan. Karena bagiku yang terpenting adalah kemampuan. Apalagi dulu aku sempat mengalami kesusahan karena wajah ini."

"Ke-kesusahan?"

"Ya, sewaktu di akademi dulu. Banyak gadis-gadis yang mengincarku. Mereka tidak henti-hentinya mengikutiku kemana-mana. Bahkan sampai ke toilet." Kakashi yang mengingatnya kembali merinding. "Untung saat itu ada Obito. Dia yang menyuruhku untuk mengenakan masker. Agar gadis-gadis gila itu tidak kembali menguntitku."

"Obito?"

Pria tersebut tersenyum sedih. "Dia adalah almarhum sahabatku."

"Ma-maaf aku tidak bermaksud." Hinata turut berduka. Memang, gadis itu sempat mendengar desas desus tentang kematian rekan-rekan Kakashi dari Kurenai-sensei. Tapi baru kali ini ia mendengar langsung dari orangnya.

"Tidak apa-apa Hinata. Kejadian itu sudah lama sekali. Aku bahkan hampir lupa." Terlihat tatapan Kakashi yang menerawang. Seperti mengingat kenangan manis dengan sahabatnya dulu.

"Mungkin kau sudah tahu, tapi aku ingin memberitahumu lagi. Dulu aku memiliki dua orang sahabat. Mereka bernama Rin dan Obito. Dan guru sekaligus ketua kelompok kami, adalah Minato Namikaze. Pria yang dijuluki 'Si Kilat Kuning Konoha' –seorang ayah dari Naruto sekaligus Hokage Keempat."

DEG

Jantung Hinata berdentum lebih kencang.

Ho-hokage keempat?

Ja-jadi ayah dari Naruto itu adalah Hokage Keempat dan juga guru dari Kakashi-sensei?

"Melihat wajahmu itu sepertinya kau juga baru tahu, ya?" Kakashi mendapati gadis Hyuuga itu menganggukkan kepala. Benar, informasi tersebut hanya diketahui oleh segelintir orang. Tak terkecuali dengan Hinata.

"Minato-sensei mengorbankan nyawanya dan istrinya demi melindungi desa dari Kyuubi. Dengan kemampuan dari ibunya –seorang wanita dari klan Uzumaki. Kushina menyegel siluman rubah tersebut dalam diri Naruto. Sayangnya, para penduduk desa mengira Naruto sebagai biang keladi dari semua ini. Padahal justru karena Naruto-lah desa Konoha kembali menjadi damai."

Hinata kemudian teringat pertemuannya dengan Naruto bertahun-tahun silam. Saat itu tanpa sengaja ia melihat seorang bocah laki-laki bersurai pirang tengah bermain sendirian di ayunan. Jadi begitu rupanya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Mengingat sikapnya pada Naruto kemarin.

A-aku benar-benar jahat! Seharusnya aku tidak boleh bicara begitu pada Naruto-kun. Apalagi memanggilnya dengan sebutan monster. Dari dulu Naruto sudah sangat menderita. Aku tidak boleh membuatnya menderita lagi. A-aku harus minta maaf padanya. Harus!

Hinata kemudian berjanji akan menemui Naruto setelah ia selesai menjalankan misi. Ia akan minta maaf padanya. Ia tidak mau hanya karena kejadian tersebut, pertemanan diantara keduanya berakhir.

Tanpa minta ijin sebelumnya, Kakashi menyandarkan kepalanya diatas paha Hinata. Secara tiba-tiba. Sontak saja, hal itu membuat wajah Hinata semakin memerah.

"Ka-kakashi-sensei? A-apa yang kau lakukan?" Tanya Hinata malu. Ia khawatir kedua temannya itu terbangun dan memergoki keadaan mereka berdua.

Tapi Kakashi pura-pura tidak mendengar.

Ia terlihat begitu nyaman tidur di pangkuan gadis tersebut.

"Ka-kakashi-sen-"

"Kau tahu Hinata?" Kakashi memotong lebih dulu.

"Sejak kecil, aku telah kehilangan sosok ibu. Sementara ayahku meninggal karena bunuh diri. Kedua rekanku yang lain, Rin dan Obito juga tewas karena pertarungan. Bahkan yang terakhir, guruku Minato juga turut wafat demi melindungi desa ini. Saat itu terjadi aku benar-benar kehilangan harapan untuk hidup."

Di luar dugaan Hinata, Kakashi menceritakan masa lalunya. Hal itu membuat Hinata terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Kakashi-sensei yang terkadang bersikap konyol dan kelihatan tanpa beban itu ternyata memiliki masa lalu yang pahit.

"Saat itu terjadi, aku benar-benar sendirian. Aku kehilangan semuanya. Keluarga, teman, guru, semua orang yang kucintai. Mereka semua pergi meninggalkanku. Tidak ada lagi yang tersisa. Selain aku sendiri."

Masih teringat dalam benaknya, peristiwa itu. Setelah kehilangan semua orang yang dicintainya, hidup Kakashi menjadi jatuh terpuruk. Ia tidak memiliki semangat untuk hidup. Sorot matanya terlihat layu, kosong dan hampa. Bahkan kehadiran Maito Guy yang notabene adalah rivalnya sekalipun tidak bisa mengobati luka dan kesepian di hatinya. Kakashi kemudian berakhir menjadi sosok yang dingin dan tidak peduli dengan sekitar.

Oleh Hokage ketiga, beliau memasukkan Kakashi ke salah satu pasukan khusus miliknya yaitu Anbu. Karena kemampuannya yang diatas rata-rata itulah, Kakashi sempat diberikan amanah untuk menjadi Ketua Anbu. Meskipun begitu, hal itu tidak membuat pria bersurai perak itu senang. Ia justru terlihat semakin dingin dan tidak berperasaan. Hal itu terbukti dari misi-misi yang Hokage berikan padanya. Dengan mudahnya ia membunuh dan menghabisi para musuh. Tidak jarang dari rekan-rekannya sesama Anbu yang sempat mencap Kakashi sebagai 'pembunuh berdarah dingin'.

Sampai akhirnya Kakashi menerima sebuah misi dari Hokage untuk melindungi Hinata. Saat itulah hatinya yang semula beku mulai mencair. Pertemuan dirinya saat itu dengan Hinata yang akhirnya menjadi titik balik dalam hidup Kakashi.

"Hinata, apa kau ingat pertemuan pertama kita waktu itu?" Tanya Kakashi kemudian.

Gadis Hyuuga itu mengangguk. "Ya, aku ingat. Saat itu aku memanggilmu sebagai Anbu-san."

Kakashi menghembuskan nafas lega. Ternyata gadis itu masih ingat. Untuk sesaat pria itu sempat khawatir Hinata melupakannya. Namun perasaan takut itu akhirnya sirna setelah mendengar jawaban dari Hinata. Masih memandang langit pada malam hati, pria berwajah tampan itu mengingat masa lalunya bersama gadis tersebut.

Flash Back

"Misimu kali ini adalah melindungi calon penerus dari Hyuuga. Putri sulung dari Hiashi Hyuuga dan Hitomi Hyuuga." Sarutobi Hiruzen menyodorkan secarik foto pada Kakashi. Pemuda berusia belasan tahun itu meraih foto tersebut dengan ekspresi datar.

Tampak wajah Hinata kecil yang tersenyum malu-malu.

"Jadi aku harus melindungi anak ini?" tanya Kakashi dingin.

"Benar."

Tanpa bertanya lebih jauh, Kakashi mengenakan topeng Anbunya dan beranjak dari kantor Hokage.

"Kalau begitu aku permisi dulu."

"Tunggu dulu, Kakashi!" Hokage Ketiga menghentikan. "Sampai kapan kau akan terus begini?"

"…."

"Menjalankan seluruh misi tanpa ekspresi."

"Aku hanya mengikuti perintah."

"…"

"Tugasku saat ini hanyalah menyelesaikan misi yang diberikan. Itu saja." Kakashi membungkukkan badannya kemudian menghilang. Meninggalkan sang Hokage tua sendirian di ruangan.

Usai kepergian Kakashi, pria tua tersebut menghembuskan nafas panjang. Sorot matanya terlihat sedih. Melihat kondisi dari salah satu murid dari Minato.

"Kakashi…" lirihnya.

Semenjak anak itu kehilangan semuanya, hatinya sekarang seolah membeku. Dia tidak peduli lagi tentang hidup matinya. Bahkan nyawanya sendiri.

"Semoga suatu hari nanti, kau bisa bertemu dengan seseorang yang mampu membuatmu hidup kembali." Hokage ketiga diam-diam berdoa. "Saat ini kau tidak lebih seperti mayat hidup. Kuharap kau segera menemukannya. Seorang yang sangat berharga untukmu. Yang mampu mengeluarkanmu dari kegelapan. Aku yakin kau akan segera menemukannya, Kakashi."

"Jadi kau yang ditugaskan oleh Hokage ketiga untuk melindungi putriku?" Tanya Hiashi –sang ketua dari klan Hyuuga. Sorot matanya terlihat tajam mengawasi kedatangan seorang Anbu yang diutus oleh Hokage ketiga ke rumahnya.

"…Ya,"

"Siapa namamu?"

"Hatake Kakashi." Jawab pemuda Anbu.

"Hatake Kakashi? Jadi kau adalah putra dari 'Konoha no Shiroi Kiba' itu?" Kakashi tanpa sadar bereaksi mendengar nama ayahnya disebut. Namun sedetik kemudian sorot matanya kembali dingin. Pemuda bertopeng Anbu itu menganggukkan kepalanya, masih dalam keadaan berlutut.

"Aku tidak peduli kau putra dari siapa. Tapi satu yang jelas, aku ingin kau memastikan Hinata dalam pengawalan yang ketat. Anak itu adalah calon pewaris dari klan Hyuuga selanjutnya. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan muncul di sekitarnya. Kuharap kau melaksanakan tugasmu ini dengan sebaik-baiknya." Hiashi memerintahkan.

Pria tersebut kemudian mengajak Kakashi ke sudut terdalam rumah. Sebuah ruangan kosong yang hanya berisikan tatami dan meja. Hyuuga Hiashi menunjuk kearah seorang anak perempuan yang tengah duduk disana.

Dia….

"Dialah putriku Hyuuga Hinata. Anak itu baru saja kehilangan ibunya. Kuharap kehadiranmu bisa sedikit membantunya." Hiashi menceritakan. Dari wajahnya terlihat dengan jelas kesedihan yang kentara akibat kehilangan sang istri. "Tugasmu sekarang adalah mengawasinya."

Dengan itu sang Ketua Hyuuga pun pergi. Meninggalkan sang Kakashi Anbu bersama dengan putri kecilnya Hinata, berdua.

Kakashi mendekat memandangi gadis kecil itu dengan tatapan dingin. Didepannya ia melihat seorang anak perempuan berambut indigo pendek dengan perban yang melingkari matanya. Tengah meminum secangkir teh.

"Anda mau?" Di luar dugaan anak perempuan itu menawarkan pada Kakashi.

"…."

Pemuda itu tidak menjawab, hanya berdiri mengawasi gadis kecil itu dari pojok ruangan.

"Ini adalah minuman teh kesukaanku dan kaa-san. Setiap malam, kami selalu minum teh bersama sambil memandangi langit." Gadis kecil itu kemudian bercerita tidak mempedulikan tamu misteriusnya itu mendengarkan atau tidak. "Dan sebelum tidur, kaa-san selalu bercerita padaku soal hari esok yang cerah."

Masih terbayang dalam ingatannya kenangan bersama mendiang ibunya, Hitomi. Gadis kecil itu tersenyum kemudian mengesap tehnya kembali. Berpura-pura tegar.

"Kau pasti kehilangan." Entah kenapa Kakashi akhirnya merespon.

"!"

"…."

"Be-begitu ya?" Hinata kecil pura-pura tertawa. Tapi mimiknya berkata lain. Air mata yang lama dipendamnya akhirnya tumpah. Dari kedua matanya yang tertutup oleh perban, gadis kecil itu menitikkan air mata. Ia menangis. Menyesali kepergian ibu yang sangat dicintainya itu. Pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Mendengar tangisan Hinata, tanpa sadar Kakashi melangkahkan kakinya menuju sang gadis kecil. Diraihnya tubuh anak perempuan itu untuk kemudian ia peluk. Hal itu sungguh mengagetkan Hinata. Pemuda bertopeng Anbu itu memeluk Hinata dalam diam. Ia tidak bersuara juga tidak berusaha menghibur sang gadis kecil. Hanya diam disana sambil mengelus puncak kepala Hinata. Menemani gadis kecil itu sampai terlelap dalam tidur.

Keesokan harinya, Kakashi kembali mengawasi Hinata. Tidak ada perubahan yang berarti, selain wajah gadis kecil itu yang semula sembab dan muram karena air mata perlahan mulai membaik. Sebagai Anbu yang ditugaskan untuk melindungi bocah itu. Kakashi tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti gadis kecil itu diam-diam.

Karena sudah terbiasa memperhatikan itulah Kakashi jadi tahu, seperti apa sesungguhnya sifat dari Hinata. Meskipun orang-orang mengenal Hyuuga sebagai klan terkuat, tapi hal itu ternyata berbanding terbalik dengan Hinata. Anak perempuan itu ternyata begitu lemah, pemalu dan sangat ceroboh. Jauh dari kata pewaris Hyuuga yang terkenal itu.

Entah sudah berapa kalinya, Kakashi menyelamatkan Hinata yang tersesat masuk ke hutan. Meskipun tidak menolong secara terang-terangan tapi pemuda dari Anbu itu berusaha keras melindungi gadis kecil itu dari bahaya yang mengancam. Contohnya seperti ular, kadal, ninja dari desa lain, tanaman beracun dan sebagainya. Agar gadis kecil itu selamat tanpa adanya luka yang berarti.

Sampai akhirnya, kehadiran Kakashi yang selalu bersembunyi dalam bayangan itu diketahui oleh Hinata sendiri.

"Aku tahu kau disana." Kata Hinata kemudian.

Saat ini ia tengah berjalan menyusuri taman di belakang rumah. Gadis kecil itu pun berhenti melangkah. Matanya masih terlilit perban, tapi indera pendengarannya berfungsi dengan normal. Gadis kecil itu tahu ada seseorang yang mengawasinya belakangan ini.

Mengetahui kehadirannya sudah diketahui oleh Hinata, Kakashi buru-buru bersembunyi. Ia melompat ke salah satu dahan pohon tinggi. Masih berpakaian Anbu lengkap dengan senjatanya. Sorot matanya datar memandang anak perempuan itu dari jauh.

"A-ano," Hinata tampak malu-malu. Ia menyodorkan sebuah bungkusan kecil. Meskipun tidak bisa melihat penjaga misteriusnya itu. Gadis kecil itu yakin, orang itu pasti mendengar suaranya.

"A-aku membawa sesuatu untukmu. Sebuah bento. Mung-mungkin ini tidak begitu berarti. Tapi ini sebagai balas budi dariku karena kau sudah menolongku selama ini. Ja-jadi terimalah." Ujar anak perempuan itu.

Rupanya gadis kecil itu sadar, ada seseorang yang diam-diam diutus ayahnya untuk melindunginya. Meskipun belum pernah melihat sosoknya –karena matanya masih terlilit oleh perban. Hinata yakin orang itu adalah orang yang sama yang dulu sempat memeluknya malam itu.

Merasakan tidak adanya pergerakan dari orang tersebut, Hinata menghembuskan nafas panjang. "A-aku akan meletakkan bentonya disini. Kau bisa memakannya kalau lapar. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu." Gadis kecil itu pun membungkuk. Kemudian mencari jalan pulang dengan tongkat yang dibawanya.

Sepeninggal Hinata, Kakashi kemudian melompat turun dari atas pohon. Ia mengambil bento tersebut. Pada saat bersamaan perutnya mendadak berbunyi. Sial! Kakashi menoleh memastikan tidak ada yang mendengar suara perutnya itu. Namun naas, ternyata suara perutnya itu sempat didengar oleh Hinata. Gadis itu tertawa kecil. Sebelum akhirnya berbalik untuk pulang menuju kediaman Hyuuga.

Huf, benar-benar memalukan.

Wajah sang Anbu yang terbiasa dingin itu kini terlihat memerah. Rona pink mucul di kedua pipinya. Meskipun berlangsung sebentar, tapi kejadian tersebut sangatlah memalukan bagi Kakashi. Diraihnya onigiri yang ada dalam kotak bento tersebut kemudian ia makan.

Kakashi berhenti mengunyah. Entah kenapa onigiri itu mengingatkannya pada mendiang ayah dan ibunya. Dulu ketika dia masih kecil, ibunya sering membuatkannya bekal onigiri untuk dibawa ke akademi. Namun semenjak ibunya meninggal, Kakashi tidak pernah terlihat membawa bento lagi. Pernah sesekali ayahnya membuatkannya bento, tapi karena rasanya yang tidak enak -Kakashi menolak untuk memakannya. Baru setelah menyaksikan ayahnya meninggal secara tragis di depannya itulah Kakashi merasa sangat menyesal.

Tes.

Dari sudut matanya, Kakashi meneteskan air mata.

Menyadari ini adalah kali pertamanya semenjak kedua orang tuanya meninggal, ada orang yang membuatkannya bento lagi. Terlebih lagi rasa makanan itu persis menyerupai bento yang sering dibuat oleh ibunya.

"Ibu…" batin Kakashi rindu.

Pemuda itu kemudian melahap lauk dan onigiri yang tersisa dengan rakus. Baginya bento tersebut adalah makanan terbaik di dunia yang pernah ia rasakan. Meskipun telah bercampur dengan air mata.

End of Flash Back

Semenjak peristiwa bento itulah, lambat laun hati Kakashi yang tadinya beku kini mulai mencair. Sifatnya yang semula dingin dan cuek pada sekitarnya itu mulai mengalami perubahan. Kakashi yang semula jarang tersenyum kini mulai nampak ceria. Semua itu berkat anak perempuan bernama Hyuuga Hinata. Mereka pun terlihat semakin akrab ketika gadis kecil itu masuk ke Akademi Ninja.

Saat itulah untuk pertama kalinya, Hinata melihat Kakashi dalam sosok seorang Anbu. (Untuk lebih mengingatnya silakan baca chapter sebelumnya : Kakashi Side Story). Saat itu Hinata belum tahu siapa nama Kakashi yang sebenarnya. Oleh karena itu ia memanggilnya dengan sebutan, 'Anbu-san'.

"A-aku ingat saat itu aku memanggilmu, Anbu-san." Ujar Hinata kemudian. Mengingat masa lalu dirinya bersama dengan Kakashi.

"Kau tahu itu aku?" Tanya Kakashi sedikit terkejut. "Bagaimana bisa?"

Pria itu bangkit dari tidurnya sambil memandang wajah Hyuuga.

Gadis Hyuuga itu mengangguk. Karena malu tanpa sadar ia memainkan telunjuknya. "K-ketika sedang mencari berkas di kantor Hokage, tanpa sadar aku menjatuhkan sebuah dokumen. Begitu kulihat ternyata dokumen itu mengenai misi para Anbu. Salah satunya adalah misimu saat itu. Ja-jadi aku mengetahuinya."

"….Begitu ya."

"Maaf, Kakashi-sensei. A-aku tidak bermaksud-"

"Sudahlah tidak apa-apa. Ini juga bukan masalah besar. Kau tidak perlu memikirkannya." Senyum Kakashi hangat sambil mengusap puncak kepala gadis itu. Mendapati perlakuan dari Kakashi-sensei, membuat kedua pipi Hinata merona. Lagi-lagi gadis tersebut hanya bisa menundukkan kepala.

"Tapi jujur aku senang, kau mengetahuinya."

"E-eh?"

Kakashi tersenyum, kali ini tanpa masker. "Dengan begitu aku tidak perlu berpura-pura lagi menjadi orang lain di hadapanmu."

"!"

Hinata membulatkan matanya, terpana melihat senyuman asli dari Kakashi. Terlihat begitu tampan dan menyejukkan. Jadi ini alasan mengapa Kakashi selalu memakai masker kemana-mana? Jangankan perempuan yang melihat bahkan pria saja bisa terpana melihat senyum malaikat milik Kakashi.

"Hinata." Kakashi kembali memanggil gadis tersebut dengan suara aslinya.

Hinata mengangkat kepalanya. Hening sesaat sebelum mata mereka berdua kembali bertemu.

"Apa kau ingat janjiku padamu kala itu?"

Gadis itu terdiam sejenak. Seolah mengingat sesuatu. "Y-ya. Aku ingat."

Ingatannya kembali ke belasan tahun yang lalu. Saat itu Kakashi terlihat bingung. Hinata yang biasanya ceria terlihat murung. Setelah ditanya, gadis kecil itu akhirnya mengaku. Kalau hari itu adalah hari peringatan tepat setahun ibunya meninggal.

"Saat itu aku begitu sedih. Tapi Anbu-san datang dan mencoba menghiburku. Kau bahkan membawakanku hadiah bunga." Gadis itu akhinya tersenyum. Mengingat kembali kenangannya bersama Kakashi. "Aku benar-benar berterima kasih."

"Tidak, kau salah. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Hinata." Kakashi tiba-tiba menyanggah.

"Ke-kenapa?" Hinata tampak bingung.

Berterima kasih padanya? Memangnya dia sudah melakukan apa?

"Karena kehadiranmu saat itu benar-benar menyelamatkanku."

Apa?

"Aku tadi sudah cerita bukan. Sejak kecil aku kehilangan semua orang yang kucintai. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hidupku hanya bergantung pada misi dan misi. Bagiku jika suatu hari nanti aku mati dalam misi pun aku tidak akan keberatan. Karena aku tidak memiliki seseorang yang menungguku di rumah. Tapi-"

Kakashi kemudian mengingat kenangan mereka saat itu.

Malam itu adalah hari terakhir Kakashi sebagai penjaga Hinata. Seperti biasa, sebelum pulang pemuda tersebut memastikan kondisi Hinata baik-baik saja. Setelah dirasa aman, baru pemuda itu pergi. Namun suatu keanehan telah terjadi, gadis kecil itu mendadak hilang. Hal itu membuat seluruh klan Hyuuga panik dan mencarinya.

Demikian pula dengan Kakashi. Ia berkeliling mencari tahu keberadaan gadis kecil itu. Dengan indera penciuman yang tajam, Hinata kecil berhasil ditemukan. Mempercepat langkahnya, Kakashi akhirnya sampai ke tempat Hinata berdiam.

Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah peristiwa yang mencengangkan. Ternyata gadis itu tidak diculik seperti dugaannya semula. Hinata datang kepadanya membawakan sesuatu yang berkerlap kerlip. Pandangan Kakashi jatuh ke pakaian Hinata yang kotor. Tampak dengan jelas di mata sang Anbu kalau gadis itu mati-matian berusaha menangkap hewan tersebut.

"Anbu-san." Panggil sang gadis kecil. "Berikan tanganmu."

Kakashi diam tidak bergerak. Tapi Hinata memaksanya. Ia meletakkan hewan tersebut di jari jemari sang Anbu.

"Ini…"

"Benar, itu adalah kunang-kunang." Gadis itu tersenyum lebar.

Kakashi tercengang. Tanpa sadar, ia membuka tangannya dan membiarkan kunang-kunang tersebut lepas.

"AHHHHH!" Gadis kecil itu menjerit berusaha menangkap kembali kunang-kunang tersebut. Tapi terlambat, hewan bercahaya itu sudah terbang tinggi. Wajah Hinata berubah murung, cairan bening keluar dari sudut matanya.

"A-apa yang kau lakukan Anbu-san?" isaknya. "Padahal kunang-kunang itu sengaja kutangkap untuk kuberikan padamu sebagai hadiah perpisahan."

Apa? Hadiah perpisahan?

Gadis kecil itu menundukkan kepalanya. "Kudengar dari tou-san, hari ini adalah terakhir kalinya kau menjadi penjagaku. Ka-karena itu aku ingin memberikanmu sesuatu sebagai kenang-kenangan. Sebagai ucapan terima kasih dariku." Mata Hinata semakin berkaca-kaca.

"Karena itu kau menghilang dari rumah demi bisa memberiku hadiah?"

"Hmm." Gadis kecil itu mengangguk.

"Tapi kenapa harus kunang-kunang?"

"Ka-karena ibuku pernah bercerita padaku kalau kunang-kunang, adalah hewan yang istimewa. Ia mampu menyinari malam yang gelap sekalipun hanya dengan tubuhnya sendiri. Legenda Hyuuga mengatakan kalau kunang-kunang bisa membawa kebahagiaan bagi siapapun yang memilikinya. Semenjak pertama kali bertemu, Anbu-san selalu terlihat sedih. A-aku ingin memberikanmu sesuatu agar kau tidak sedih lagi. Agar Anbu-san bisa selalu tersenyum." Gadis itu menangis.

"A-aku ingin memberikan kunang-kunang itu agar Anbu-san bisa bahagia."

Kakashi nampak tertegun.

Sebuah jawaban polos dari seorang anak perempuan bertubuh kecil. Meski kedengarannya konyol tapi ia bisa merasakan ketulusan disana. Ternyata diluar sana masih ada seseorang yang peduli dengannya. Pemuda itu menaikkan senyumnya, kakinya ia gerakkan untuk menghampiri anak tersebut.

Gadis Hyuuga itu mengangkat wajahnya yang sembab karena air mata. Dihadapannya Anbu-san tiba-tiba datang dan memeluknya. "Terima kasih." Ucapnya tulus.

"A-anbu-san?" Wajah gadis kecil itu terlihat memerah.

"Aku memang tidak bisa memutar kembali waktu. Tapi aku bisa menjanjikan hal yang lain." Sorot mata Kakashi terlihat melembut. Ia begitu tersentuh. Dipandanginya anak perempuan tersebut dengan ekspresi lunak.

"Di negara Ame ada sebuah tempat diujung sana yang memiliki pemandangan bagus. Bunga-bunga yang bermekaran, hutan yang indah, sungai yang jernih dan juga kupu-kupu yang cantik. Ketika malam tiba banyak kunang-kunang yang beterbangan di desa tersebut." Hinata yang mendengarnya berhenti menangis. Kini ia justru memandang sang Anbu dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.

"Be-benarkah?"

Kakashi menganggukkan kepalanya. "Benar, suatu hari nanti ketika kau sudah dewasa. Aku akan menunjukkannya padamu."

"Aku ingat janji itu, saat itu Anbu-san berjanji padaku untuk mengajakku ke sana. Melihat kunang-kunang." Hinata akhirnya tersenyum. Mengingat kenangan tersebut.

"Saat itu aku benar-benar tidak sabar, rasanya ingin cepat tumbuh besar. Bisa keluar dari desa dan pergi melihat tempat menakjubkan yang sensei ceritakan." Mata Hinata terlihat berbinar. Mengingat masa lalunya dengan jounin tersebut.

"Kau benar-benar mau melihatnya?" Di luar dugaan Kakashi kembali bertanya. "Kalau begitu aku akan menepatinya."

"Eh…."

Jounin tersebut menangkup wajah Hinata dengan sebelah tangannya. "Ka-kakashi-sensei?"

Gadis itu meneguk ludahnya. Kedua pipinya kembali merona. Wajah Kakashi terasa begitu dekat dengannya. Masih setia menatap gadis tersebut, jounin sekaligus Anbu itu akhirnya bersuara. "Hinata…." Bisiknya halus. Matanya melunak memandang gadis tersebut dengan penuh rasa cinta.

"Setelah perang ini berakhir, setelah semuanya usai. Aku akan mengajakmu kesana. Aku janji."

Ke tempat yang penuh berisikan dengan kunang-kunang….

.

Chapter 22 Completed

To Be Continued

.

.

.

Hanya kita berdua

.

A/n : Ada tambahan omake di bawah pesan-pesan ini, Jangan lupa baca ya!

Terima kasih untuk para reader yang sudi membaca fanfic absurd ini. Saya sudah membaca komentar parareader sekalian. Mungkin ada diantara kalian yang menilai fic ini memiliki banyak kekurangan dari typo, bahasa, ooc, nyeleneh, jauh dari canon, dll. Yeah, saya akui itu memang benar. Karena saya bukan anak sastra tapi tata boga jadi menulis ya suka-suka saya. XDDDD. Cuma sebatas hobi. Mohon para reader memaklumi.

Khusus chapter ini, saya ingin membahas soal pairing selanjutnya, yaitu Kakahina. Adakah para Hinata centric disini yang menyukai Kakahina? Karena jika ada berarti sama dengan saya. Hohoho! Kibarkan satu bendera!

Mungkin diantara reader disini masih pro ke Kurohina dan Sasuhina. Tapi jujur saat ini saya sedang menggandrungi Kakahina. Kenapa? Karena Kakashi romantis gitu loh. Dimana lagi kalian bisa menemukan seorang pria yang setia seperti kakashi? Secara dia hanya memperlihatkan wajahnya kepada wanita yang dia cintai saja. Belum lagi tatapan matanya yang teduh dan suaranya yang bening. Dia juga tidak ingin disukai oleh banyak wanita. Kecuali Hinata. Karena itulah dia memakai masker. Masih ingat kan bagaimana reaksi pemilik kedai Ichiraku dan putrinya ketika melihat wajah asli Kakashi di balik topeng? Semuanya terpesona!

Ya kan, Ya kan? Plak! Abaikan komentar ini.

Namun tetap saja, itu tidak berarti saya mengabaikan pairing lain. Hanya mood saya saat ini sedang jatuh pada Kakahina. Berbeda dengan kemarin, saya sedang menggandrungi Kurohina. Lalu bagaimana dengan Sasuke, Kuro dan Gaara? Tenang saja Gaara akan tampil setelah chapter ini. Untuk Sasuke tentu saja paling belakang kenapa? Karena yang terbaik selalu di belakang. Buahahahahah! Plak

Satu hal lagi, ada sedikit perubahan dalam ending cerita. Tadinya saya mau membuat satu ending saja, yaitu Sasuhina. Tapi berhubung banyak sekali yang menginginkan ending Kurohina, bahkan ada juga Kakahina dan Gaahina. Saya memutuskan untuk membuat ending dari masing-masing pairing. Sebuah terobosan terbaru dari Lightning Chrome para pemirsa sekalian!

Tapi meskipun begitu, saya tidak akan mengatakan ending mereka sad, happy atau justru menggantung. Karena itu masih menjadi rahasia terbesar di DTN.

Untuk tambahan saya ingin menuliskan sebuah omake khusus. Tentang Kakashi Hatake dan Buku Fenomenalnya yang selalu Kakashi bawa yaitu Icha-Icha Paradise.

Terakhir, terima kasih untuk dukungannya dan sampai bertemu pada chapter depan :)

Lightning Chrome

16012020

.

.

.

Special Omake :

Kakashi Hatake & Icha-Icha Paradise

Masa lalu Kakashi dan Bukunya yang selalu ia baca

.

.

Happy Reading

(-)

"Baiklah, dengan ini kunyatakan misimu untuk melindungi Hyuuga Hinata telah berakhir." Hokage ketiga mengumumkan. Orang tua itu memberikan cap stempel 'selesai' pada gulungan misi Kakashi. Pemuda bersurai perak itu membungkukkan badannya. Menaikkan senyumannya, pemuda itu berterima kasih pada sang Kage.

Melihat senyum dari Hatake, Sarutobi hanya bisa mematung.

Apa itu tadi? Kakashi tersenyum?

Kakashi yang biasanya cuek dan minim ekspresi itu….

Meskipun kecil tapi bagi Sarutobi itu adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Ini adalah pertama kalinya semenjak beberapa tahun ke belakang sang Kage melihat senyuman itu muncul kembali dari bibir sang Ninja Peniru. Untuk sejenak, Hokage ketiga tidak bisa berhenti untuk takjub.

"Sepertinya sekarang kau sudah memiliki tujuan hidup baru ?" Sarutobi menebak. Ia kemudian membalas senyuman Kakashi.

"Ya." Jawab Sang Anbu singkat.

Untuk sesaat, pikiran Kakashi kembali pada gadis kecil itu.

"Apa ini ada hubungannya dengan pewaris Hyuuga?"

"Eh?" Kakashi merasakan pipinya merona.

Orang tua itu bisa dengan mudah menebak jalan pikirannya?

Sarutobi tertawa, ia tidak peduli apapun alasan Kakashi, tapi yang jelas anak perempuan itu sukses membawa pengaruh yang baik pada anak buahnya. Itu yang terpenting.

"Syukurlah sekarang kau sudah memiliki seseorang yang berharga untukmu. Aku turut senang." Ujar sang Kage. "Tetaplah tersenyum dan lindungi orang yang paling berharga untukmu. Aku yakin suatu hari nanti, kerja kerasmu tidak akan berakhir sia-sia."

"Hokage-sama…"

"Kakashi, aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri. Ingat ini baik-baik. Meskipun jalan hidup yang kau lalui sekarang sangatlah berat. Tapi aku yakin setelah semua cobaan ini berakhir. Kau akan menemukan kebahagiaan. Seperti cahaya yang muncul di ujung kegelapan. Jika kau menemukan cahaya itu, jangan pernah kau lepaskan."

Cahaya?

"Cahaya tersebut berasal dari orang-orang yang berharga untukmu."

Orang yang berharga?

Kakashi menutup mata kembali mengingat kenangan bersama mendiang ayah dan ibunya. Kemudian bersama timnya, Obito, Rin dan Minato. Terakhir di ujung kegelapan itu, ia melihat cahaya yang muncul. Seekor kunang-kunang. terbang kearahnya kemudian menjelma menjadi seorang gadis cantik dengan bola mata menyerupai bulan.

Anbu-san –begitulah gadis cantik itu memanggil.

Kakashi membuka matanya kembali. Ia sudah memantapkan hatinya. Kini ia tidak sendiri lagi. Ia sudah memiliki orang berharga di dalam hidupnya. Gadis kecil itu. Ia akan menjaga dan melindungi gadis tersebut dengan segenap jiwa dan raga. Tidak akan ia biarkan hal yang sama terjadi dengan teman-temannya terjadi pula pada Hinata. Sejak itu Kakashi bersumpah, ia akan melindungi kebahagiaan Hinata meskipun nyawanya menjadi taruhan.

"Selanjutnya Kakashi. Aku akan memberikanmu sebuah misi baru." Sarutobi memberikan sebuah surat khusus pada sang Anbu. Pemuda itu membuka surat tersebut kemudian membacanya. Ia terlihat kaget.

"Aku… jounin?" Tanyanya heran.

"Ya, mulai besok kau tidak lagi bertugas sebagai Anbu melainkan Jounin. Aku ingin kau menjadi pembimbing dari para genin yang lulus dari Akademi Ninja." Sarutobi menambahkan. "Jadi kuharap kau siap menjadi guru dari mereka."

Aku….

Guru….?

Ditengah kebimbangannya itulah, tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu. "HEI, PAK TUA!"

"Kau, Jiraiya?" Sarutobi mendelik kaget.

Menemukan salah satu muridnya yang sudah lama menghilang dari desa itu kini telah berdiri tenang di hadapannya. Pria itu memiliki rambut berwarna putih panjang. "Darimana saja kau? Pergi dari desa tanpa permisi padaku? Kau tahu aku sampai mengutus para ninja lain untuk mencarimu!"

Jiraiya memasang wajah tidak peduli. "Kau masih sama berisiknya seperti dulu, pak tua!"

"Apa katamu?!"

Jiraiya kemudian mengeluarkan sebuah buku. "Aku sekarang adalah seorang penulis. Aku pergi dari desa demi mencari inspirasi tentang novelku. Dan lihatlah ini karya pertama perdanaku. Buku berjudul Icha- Icha Paradise."

Ninja yang termasuk dalam salah satu Sannin itu menyerahkan bukunya pada sang Guru Sarutobi -yang kemudian langsung dibaca oleh orang tua itu.

"A-APAAAAAA INI!"

Darah segar mengucur dari hidung sang Hokage Ketiga. Pria tua itu mimisan, membaca kalimat demi kalimat dari buku yang disusun oleh muridnya –Jiraiya.

"KAU BILANG INI NOVEL? INI HANYALAH SEBUAH CERITA MESUM!" Pria tua itu berkomentar sembari mengelap hidungnya yang berdarah. Saking marahnya pada Jiraiya, pria tua itu membanting buku tersebut ke lantai yang kemudian dipungut oleh Kakashi.

Melihat tulisan tangan -hasil kerja kerasnya selama ini dibuang begitu saja oleh sang guru, Jiraiya langsung emosi.

"APA-APAAN KAU PAK TUA? BERANI SEKALI KAU MEMBUANG NOVEL YANG SUSAH PAYAH KUBUAT! APA KAU TAHU AKU SAMPAI TIDAK TIDUR BERHARI-HARI DEMI MENYELESAIKAN CERITA TERSEBUT! KAU HARUS GANTI RUGI!"

"HAH, GANTI RUGI? APANYA YANG GANTI RUGI? KERJAANMU HANYA MENGINTIP WANITA DI PEMANDIAN!"

"APA?! AKU TIDAK HANYA SEKEDAR MENGINTIP! AKU SEDANG MENCARI INSPIRASI!"

Di tengah pertengkaran guru dan murid itu, tanpa disengaja Kakashi membuka novel tersebut dan kemudian membacanya. "Ini bagus." Bisiknya rendah. Pujiannya pada novel Icha-icha paradise, ternyata di dengar juga oleh Jiraiya.

Dengan wajah bangga, Sang Sannin Konoha itu merangkul lengan Kakashi. "Ternyata masih ada orang disini yang tahu apa itu karya seni. Tidak seperti orang tua dibelakangku itu." Hokage ketiga terlihat mengomel, tapi Jiraiya hanya memasang wajah cuek. Pandangannya kembali turun pada pemuda berpakaian Anbu. "Katakan siapa namamu, nak?"

"Hatake Kakashi." Jawabnya datar sementara matanya masih berfokus pada tulisan tersebut.

"Baiklah, Kakashi. Berapa umurmu?" Tanya pria tinggi itu lagi.

"19."

Senyum Jiraiya makin mengembang. "Baiklah, karena kau sudah menghargai karyaku. Dan umurmu sudah lebih dari 17 tahun, aku akan memberikan buku ini sebagai hadiah. Dan juga…" Pria itu membisikkan sesuatu ke telinga Kakashi. "Jika kau memiliki pacar atau gadis yang kau sukai, kau bisa mempraktekkan isi buku ini untuk mendapatkan gadis yang kau sukai itu."

BLUSH

"A-apa?"

Wajah Kakashi langsung memerah.

Jiraiya menepuk punggung Kakashi sambil tertawa. "Baiklah, semoga berhasil." Dengan itu Jiraiya kembali menghilang. Mengabaikan wajah sang Guru yang dari tadi terlihat kesal.

Sepeninggal sang murid, Hokage Ketiga menghela nafas panjang "Kakashi, omongan Jiraiya tadi tidak usah kau masukkan dalam hati. Seperti yang kau lihat, dia itu hanyalah muridku yang mesum. Jadi jangan sampai kau tertular dengan sifatnya itu. Hmm- Kakashi?"

Pemuda itu tidak menjawab, matanya masih setia terfokus pada buku yang ia baca. Tiba-tiba-

CUR!

Darah menetes dari hidung sang Anbu. Kakashi mimisan!

"A-APAAAAAA?!" Hokage ketiga menjerit histeris.

Tidak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa anak buahnya yang berwajah dingin itu bisa menampilkan ekspresi mesum seperti sekarang! Sungguh, Jiraiya apa yang kau sudah perbuat pada Kakashi?! Kau benar-benar sudah menularkan virus mesummu pada salah satu ninja paling jenius di seluruh desa!

Semenjak saat itu, Kakashi tidak pernah lepas dari bukunya Icha-Icha Paradise.

End of Omake