Who is He?

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance

Rating : T+

Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?

.

Enjoy guise~

.

.

Kiba mengerjapkan matanya saat sinar matahari sudah membumbung tinggi di langit. Ia melirik ke ranjang di sebelahnya, kosong. Ah benar, mungkin karena Ino biasa bangun pagi, sekarang ini orangnya sedang ada di luar kamar. Menonton tv mungkin.

Berniat mengikuti jejak Ino untuk menonton tv di akhir pekan ini, Kiba melangkahkan kakinya keluar kamar. Tapi betapa terkejutnya ia saat menemukan ada dua lelaki duduk mengapit Ino di sofa ruang tamu.

Salah satunya memegang laptop, mengetikkan sesuatu di sana sembari diawasi Ino. Satu yang lain tengah memainkan ponselnya seorang diri.

Kiba berdiri diantara batas ruang tamu dan dapur yang tidak bisa para tamu itu lihat karena posisi duduk yang menyamping. Tangan Kiba disilangkan, matanya tak bisa lepas dari pemandangan di ruang tamu. Ia benci sekali saat mereka curi-curi pandang ke arah Ino dan Ino sendiri juga tersenyum tak kalah manisnya.

Posisi duduk Ino yang sesekali mendekat ke punggung si lelaki berwajah datar itu pun makin membuat Kiba gerah.

Entah karena dia marah atau karena belum mandi.

"Pagi pak manajer," Hinata baru saja melewatinya sambil membawa nampan berisi tiga gelas teh.

Kiba tidak menjawab karena Hinata dengan cepat berlalu menuju ruang tamu. Bawahannya itu tengah menyuguhkan teh di meja.

"Ah, terimakasih Hinata. Aku baru mau mengambilnya sendiri tadi, malah jadi merepotkanmu." Ino menatap kaget pada Hinata yang membawa teh.

Hinata menggeleng maklum. "Tidak apa-apa, lagipula aku tidak sedang sibuk, Hinata. Lanjutkan saja pekerjaan kalian."

Si lelaki yang tadi sibuk itu juga ikut melempar senyum ke Hinata. "Terima kasih tehnya, nona."

"Tentu, minumlah selagi masih hangat."

Lelaki itu tersenyum lagi.

Ino yang melihat Hinata dan teman kerjanya langsung akrab, berinisiatif mengenalkan ketiganya.

"Oh iya Hinata, kenalkan ini Shikamaru teman kantorku, dan dia Konohamaru, adiknya."

Dengan segera Shikamaru dan Konohamaru membungkuk sopan, begitu pula Hinata.

Hinata yang merasa urusannya mengantar teh sudah selesai segera beranjak kembali ke dapur untuk mengembalikan nampan kosong. Dilihatnya Kiba yang tidak berpindah tempat sedari tadi.

Maka dari itu Hinata bernisiatif untuk berdiri di situ juga. Ia melirik si atasan beberapa kali, wajahnya kelewat serius.

"Ada masalah pak manajer?"

"Lihatlah mereka. Memangnya Ino itu selir mereka sampai diapit begitu?" Kiba menunjuk-nunjuk kesal pada mereka yang ada di ruang tamu.

Hinata terkekeh mendengarnya. "Anda baik-baik saja melihatnya?"

Kiba menggeleng, jelas ia tidak sedang baik-baik saja. "Siapa mereka?" Ia justru balik bertanya.

"Dua lelaki itu? Yang satu teman kerja Ino, dan satu lagi adiknya." Hinata menjawab seadanya.

"Sebenarnya saya sudah dengar tadi begitu mereka masuk ke rumah. Yang bernama Shikamaru bilang dia tidak bisa mengendarai mobil sendiri jadi dia meminta diantarkan adiknya ke sini." Hinata menambahkan.

Kiba mengangguk sebagai jawaban. "Lalu ada urusan apa mereka ke sini?"

Hinata menggeleng. "Entahlah, saya sempat mendengar pembagian tugas dan semacamnya. Tapi saya tidak begitu yakin juga."

Kiba mengangguk lagi, ia makin semangat mengamati karena sudah mendapatkan sedikit informasi yang ia harapkan.

"Eumm, pak manajer. Bolehkah saya bertanya sesuatu?"

"Ya, apa?" Kiba berharap Hinata tidak banyak tanya karena ia sedang sangat fokus pada objek tatapannya saat ini.

"Sejak kapan anda masuk ke sini?"

Kiba dan Hinata saling bertatapan, membuat si atasan kehilangan kata-kata untuk menjawab.

.

.

.

"Berarti nanti kita akan berbagi shift tiap dua hari sekali? Atau tergantung para pengacara itu mau ditemani siapa?" Shikamaru sesekali menatap Ino dan beralih ke jadwal tugas yang ia susun di laptopnya.

Ino balas menatap Shikamaru serius. "Aku sudah bicarakan ini dengan pak manajer, mereka menyuruhku untuk membuat jadwal harian saja. Lagipula repot urusannya kalau para pengacara hanya memilih ditemani sekretaris yang mereka sukai, nanti akan muncul isu nepotisme dan semacamnya. Aku tidak mau itu terjadi."

Shikamaru mengangguk setuju. "Baiklah, nanti aku akan rundingkan ini dengan anak-anak baru yang lain."

"Ah iya begitu saja. Kalau bisa aku hanya akan diskusi denganmu, nanti kau yang menyebarkan informasi ini ke temanmu."

Mereka mengangguk lagi untuk kesekian kali, menyetujui tiap ide baru yang muncul. Diskusi berdua begini memang harus sering-sering mereka lakukan untuk berbagi dua pikiran yang berbeda, dan juga mengakrabkan diri antara senior dan junior.

"Kalau ada apa-apa hubungi saja aku, oke?"

Shikamaru tersenyum tipis pada Ino hingga matanya menyipit. "Siap ibu kepala."

Ino terkekeh melihatnya, ia lantas menepuk pundak Shikamaru beberapa kali.

"Kalau begitu aku pamit sekarang saja ya, ibu kepala."

"Hei, panggil saja aku Ino kalau di luar kantor." Protes Ino yang hanya ditanggapi kekehan ringan.

"Baiklah Ino, sampai jumpa lagi." Shikamaru berjalan keluar rumah, diikuti Konohamaru dari belakang.

"Sampai jumpa lagi kak Ino." Konohamaru melambaikan tangan sambil tersenyum lucu, untuk kemudian mengikuti kakaknya ke mobil.

"Dah, hati-hati di jalan kalian." Ino mengantarkan Shikamaru dan Konohamaru sampai depan gerbang, memandangi mobil mereka yang segera menghilang dari pandangan.

Ino berjalan kembali ke dalam rumah, tatanan rambutnya yang sempat berantakan ia rapikan di depan kaca besar depan rumah sebelum masuk.

Begitu pintu depan sudah ia tutup, Ino membalik badan dan mendapati Kiba berdiri sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Tatapan datarnya membuat Ino bingung.

"Oh Kiba, kau sudah bangun? Mau makan siang?"

Kiba menggemeletukkan giginya, ia marah pada Ino yang seolah tidak sadar apa yang sudah ia lakukan di depan matanya. Kiba melihat sendiri bagaimana Inonya menepuk gemas pundak laki-laki tadi, dan itu sangat menyakitkan untuk dilihat.

"Jadi ini yang membuatmu tidak mau membalas pernyataan cintaku?"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : hehehe, apdet lagi dong.