Tenten X Hyuuga Neji
Characters belong to Kishimoto.
.
.
.
Heavenly Heaven
Purest feeling you can get from a family
.
.
.
.
.
.
.
.
Osaka, pertengahan musim semi.
Hembusan angin yang sesekali berpapasan dengan arah langkah membuatnya menghela nafas. Dengan lembut menyapu kulit leher yang terasa agak lembab, terasa melegakan. Keputusan yang ia ambil dua hari lalu menyingkirkan perasaan menyesal. Memiliki helaian rambut panjang memang terlihat menarik, tapi saat - saat seperti ini, ketika hembusan angin menyingkirkan helaian itu dari garis leher, memberikan kesejukan di sela - sela pergumulan dengan hawa yang mulai menghangat.
Ah, angin di musim semi memang yang terbaik.
"Suhu Tokyo hari ini dua puluh tiga derajat," suara di ujung panggilan yang sempat terjeda kembali bergema, membuatnya kembali pada kenyataan, "tak heran tubuhku terasa cepat lelah."
Menaikkan sebelah alis, dalam bayangan tergambar wajah berkulit pucat yang sedikit menampilkan rona, membuatnya terlihat lebih sehat dari biasa.
"Di sini malah dua derajat lebih tinggi dari Tokyo, dan kurasa cuaca hari ini yang terbaik," balasnya, setengah serius, setengah mencibir, "ah, tapi manusia salju memang tidak bisa kena matahari, ya?"
Yang ada di seberang sana berdeham, seperti berusaha menahan tawa kecil. Kebiasaannya.
"Ya," ucapnya singkat, "sekarang paham kan, mengapa aku selalu mencair saat kamu di sini?"
Kalimat itu membuatnya memutar bola mata, meski meringis.
"Gombal," kalau orang yang biasa menilai lelaki dingin itu mendengar kalimat tadi, mungkin akan tersentuh. Tapi, ia sudah terbiasa, meski usaha bercandanya masih terdengar canggung, "sudah selesai memeriksa ulang barang bawaan? Sudah dicocokkan belum dengan daftar yang kubuat?"
Merasa sedikit lelah, ia berbelok dari jalan setapak yang sedari tadi dilalui, berhenti di salah satu sisi pagar pembatas yang membentangi jembatan di atas sungai Okawa. Punggungnya membuat kontak dengan besi pembatas itu, berdiri menyandar dan menumpukan sebagian beban tubuh, menelaah pemandangan yang biasa ia lewati ketika berangkat dan pulang bekerja.
"Hmm," suara dalam itu mengamini, "ada beberapa yang tak kupunya. Akan kucari sesampainya di sana nanti."
Tenten menghela nafas, ia masih sama tak acuh seperti dulu, "Di daftar sudah ditandai, barang yang sudah ada dan belum? Coba kirim balik daftarnya, aku mau lihat itu penting atau tidak."
Sedetik jeda ia terima, mengerti kalau lelaki bersurai merah itu tak akan merasa terganggu meski Tenten mulai menuntut. Demi kebaikannya juga.
Benar saja, setelahnya Tenten malah disambut oleh sekilas tawa.
"Tawaran untuk ikut denganku belum kadaluarsa."
Terdengar ringan.
Namun, Tenten tahu ia menyelipkan keseriusan di sana.
Pun begitu dengan Tenten.
Diamnya bukan karena gamang, tapi karena jawaban yang sudah pasti akan diulang, membuatnya khawatir akan melukai perasaan untuk kedua kali.
Sang penawar pun tahu itu. Sudah kebal dengan kecewa, meski jera bukan menjadi pilihan.
"Aku akan kesepian," lanjutnya, berharap bisa menggoyahkan keyakinan, "kamu tidak?"
Sejuknya angin yang berhembus pelan kali ini tidak memberikan kelegaan yang sama, malah terasa mengganggu.
"Kamu sudah lama mendambakan pergi ke sana," ia akhirnya menjawab. Lugas. Meski dalamnya, melankolis, "mengejar impianmu. Dan aku yakin kamu sendiri bisa menerka, kecil kemungkinan kamu akan merasa bosan atau kesepian di sana. Banyak agenda yang sudah lama ingin kamu jadikan kenyataan."
Ingatan Tenten kembali pada setahun lalu, ketika pria bersurai merah yang ditinggalkan untuk menetap di persinggahannya yang dulu, tiba - tiba muncul di depan pintu masuk rumah orangtua asuh tempatnya kini tinggal. Dengan sumringah yang entah kenaoa selalu tak ditampilkan secara sia - sia, tapi Tenten tahu sekali, apa yang dia rasakan.
'Aku akan berangkat ke Vienna.' kata suara yang biasa rendah, kini sedikit meninggi.
Tentu saja, Tenten menyambut kegembiraan itu dengan perasaan yang mutual.
Sama bersemangat untuk mengantar kepergian, tapi bukan berarti harus ikut dengannya, bukan?
"Sudah waktunya kamu memikirkan dirimu sendiri, Gaara." lanjutnya memberikan keyakinan, "Aku akan baik - baik saja."
.
.
.
.
Sudah terlalu banyak sakit yang kau dapat.
Ironisnya, sebagian besar aku yang menyebabkan rasa sakitmu.
Aku harus tahu diri.
.
.
.
.
Perjalanan yang biasa hanya memakan waktu tak lebih dari tiga puluh menit, menjadi hampir dua kali lipat. Ia tiba tepat di depan pintu masuk kediaman keluarga Maito ketika matahari sudah digantikan oleh bulan. Tak apalah, sesekali berjalan santai sepulang kerja bisa mengobati lelah setelah seharian bergumul dengan anak sekolah dasar yang energinya seperti tidak pernah habis.
Baru saja helaan nafas lega dikeluarkan, terganti lagi dengan penyadaran lain. Ketika usaha mencari kunci rumah berhiaskan gantungan yang biasa tersimpan di saku bagian dalam tas tangan, tak juga ia temukan.
"Aaah," gerutunya sendiri, "jangan bilang kunci masih di saku jaket yang kemarin."
Apa boleh buat, kenyataan memang begitu.
Dari penerangan rumah keluarga Maito yang hampir nihil, kecuali penerangan dari lampu taman, Tenten tahu ia menjadi penghuni yang tiba pertama.
Sang kepala keluarga, biasa menghabiskan kegiatan di dojo yang ia pimpin hingga larut malam. Kebiasaan itu tertular pada putra semata wayang yang mulai beranjak remaja. Sedangkan, ibu dari keluarga Maito yang berprofesi sebagai perawat, jadwalnya sering tidak menentu. Seingat Tenten, kemarin beliau sempat memberitahu bahwa mulai hari ini dinas malam di rumah sakit.
Meraih ponsel yang dari saku blazer, ia segera memberi panggilan pada salah satu penghuni.
"Anko - san? Sudah di rumah sakit?" sang ibu asuh memberikan jawaban yang dilanjutkan dengan kalimat lain, membuatnya tertawa canggung, "kunciku ketinggalan. Hari ini Anko - san dinas malam, ya? Gai - san pulang dari dojo masih lama tidak?"
Di seberang sana menjawab lagi.
"Oh iya, mereka menginap di dojo ya, malam ini. Aku lupa sama sekali." ia tertawa canggung sekali lagi, saat si ibu asuh mengingatkan betapa pelupanya dia, "Kalau begitu aku ke rumah sakit saja, boleh? Lebih dekat dari rumah."
Entah protes macam apa yang dilontarkan Anko, membuatnya meringis tak henti.
"Anko - san terlalu khawatir, deh. Jalan kaki tidak sampai dua puluh menit, apalagi jalanan masih ramai," ia kembali membalas protes itu, dengan nada lebih rendah tentunya, menambahkan nada canda agar si ibu tidak tegang.
Ia lebih mengkhawatirkan kapan sang ibu asuh bisa kembali memercayakan untuk melepasnya hidup sendiri seperti dulu.
.
.
.
.
Sesuai pesan Anko, setelah dua puluh dua menit melangkah melintasi ramainya jalan raya, Tenten sampai, hanya tinggal memasuki lobi rumah sakit dan berbelok menuju deretan kursi di ruang tunggu.
Ia menempati salah satu kursi yang tak jauh dari pintu masuk utama. Menghela nafas dan berusaha menyamankan diri. Lelah juga sejak tadi berjalan kaki.
Lensa matanya beralih, mengamati suasana dan situasi sekitar. Orang - orang berlalu lalang dengan kegiatan dan tujuan masing- masing, meski ramai dengan kehadiran, suaranya tidak bising, ruangan besar itu terasa dingin.
Keheningan itu terusik, ketika suara - suara yang mendadak muncul dari pintu utama menggema, terdengar tergesa.
Di sana, sekitar dua atau tiga orang setengah berlari, seraya menuntun ranjang darurat. Satu di antara mereka, yang Tenten asumsikan bukan bagian dari petugas rumah sakit, terlihat tak berhenti berkata, entah apa, Tenten tak bisa dengar dari jarak sejauh itu, namun dari raut wajah, mungkin ia berusaha mengambil kesadaran dari orang yang terbaring tak berdaya di atas ranjang itu.
Ia tak bisa melihat siapa yang tengah bertarung melawan kematian yang hampir menjemput.
Tanpa sadar, mata Tenten terus mengikuti, hingga akhirnya objek pandangnya menghilang ke dalam ruang gawat darurat. Meninggalkan pertanyaan bagi siapapun yang melihat kejadian sedetik lalu.
Apa yang terjadi?
Akankah orang yang terbaring itu, siapapun dia, tetap hidup?
Pertanyaan itu terus berbuah, hingga menimbulkan pertanyaan dari kenangan lama.
Apakah yang terjadi padaku saat itu, sama mengerikannya?
Ia menutup mata, tak berusaha melupakan kejadian yang selalu membuat perasaan jatuh.
Sudah berapa lama?
Tiga tahun?
Tiga tahun lalu, saat dimana ia tak tahu apa yang terjadi di dunia sadar. Yang ia tahu hanya wajah kacau sang ibu asuh, dimana ia bersumpah tak ingin lagi melihat wajahnya seperti itu. Mata yang bengkak dan sembab, suara yang serak, tak melepas genggaman tangan Tenten yang terasa tak bertenaga, serta bisikan penenangan dan syukur yang tak henti ia ucapkan di telinga Tenten.
Anehnya, Tenten masih ingat kalimat pertama yang ia ucapkan sekembalinya ke alam sadar dan ia yakini sebagai salah satu penyebab kenapa Anko bersikap begitu.
Ada ibu di seberang sungai…
...aku mau ikut ibu…
Meski begitu, Tenten sendiri tidak ingat dengan jelas bagaimana pertemuan dengan ibu kandung yang rindunya sudah tak terhitung, meski mungkin hanya sebatas mimpi.
Patah hati dan kehilangannya tak berhenti sampai situ.
Ditambah dengan kenyataan bahwa… saat itu ia…
Terlalu banyak,
yang datang dan pergi, begitu saja.
Terlalu banyak kehilangan.
Dosa apa yang sudah-
"Tenten?"
.
.
.
.
Dari jarak yang semakin menipis, meski belum menyapa, Anko tahu apa yang membuat anak - salah - wanita muda itu, terduduk di antara barisan kursi sembari berpangku tangan, menyembunyikan wajah, seolah tengah menghilangkan keberadaan. Entah keberadaan semua orang yang ada di sana, dirinya sendiri atau justru cuma pikiran yang berusaha tak ingin ia hiraukan.
Membuatnya melebarkan langkah, meski tidak meningkatkan kecepatan. Bagaimanapun, agar tubuhnya bisa berada di hadapan wanita muda yang tak akan pernah rela ia lepas sampai kapanpun.
Tanpa berniat kehilangan sedetik lebih lama, ia menyentuh pucuk kepala bersurai cokelat, helaian yang hanya sepanjang bahu, menirai wajah seutuhnya, membuat sekilas ingatan lama kembali.
Dulu sekali, ketika helaian itu juga sama panjangnya, baru selesai dipotong, terlihat segar. Tangannya menyisir halus pucuk kepala yang mungil, membuat anak itu mendongak, wajah tembam menampilkan senyum yang bersinar.
Tapi kini, semua itu cuma kenangan.
"Tenten?"
Wajah yang sudah kehilangan raut kekanakan nampak terkejut, nelangsa dengan pikiran yang tanpa perlu Anko tanya pun, sudah ia tahu.
'Nah, kan,' pikirnya.
Anko menghela nafas, menyisir sebagian helai yang menghalangi sisi wajah tirus anak perempuannya.
Sedetik itu juga ia merasa bangga akan dirinya sendiri, karena sorot mata yang tadi hampir hilang, kembali menemukan jalan. Seolah jika matanya bisa bersuara, ia akan mendengar kalimat; Aku aman.
Wanita muda itu kemudian mendesahkan sekilas tawa.
"Aku lapar, deh. Biarpun tadi siang makan banyak, kurang cukup menghasilkan energi untuk mengajar dan menemani anak sekolah dasar bermain." candanya, meracau, "Aku jadi mengerti kenapa stresnya Anko - san tidak hilang - hilang waktu Iwa - kun masih seusia itu."
Berusaha mengalihkan, kebiasaan. Anko tahu itu.
Tapi ia ikuti saja.
"Banyaknya makanmu itu seberapa, sih? Tak sampai setengah porsi Iwa juga," ia beralih sebentar, meraih kunci yang tersimpan dalam saku seragam serba putih, dan menjulurkan di hadapan Tenten, "cepat pulang dan makan. Jangan lupa supnya dihangatkan dulu. Gai dan Iwa tidak makan malam di rumah hari ini, jadi tak ada alasan ya, kamu sisa - sisakan makanan."
Omelan yang sudah biasa masuk ke telinga membuat Tenten mencibir, kemudian tertawa lagi, lebih ringan dari sebelumnya.
"Tahun depan usiaku tiga puluh, loh," setengah bercanda, setengah serius ia membalas, "yakin masih belum cukup dewasa?"
Anko menggeleng - geleng, senyum kecut, "Sampai kamu jadi nenek - nenek pun, selama aku masih hidup, kamu tetap anak - anak."
Sengaja Tenten mendengus, supaya didengar.
"Sakura sudah mau punya dua anak, Gaara siap berpetualang ke Vienna. Tenten? Masih tinggal sama Anko - san, tuh." protes Tenten, mulai beranjak kurang ajar, tapi tak apa. Anko sudah tahu, kok.
"Hhh," geram Anko, tidak mau termakan tuntutan Tenten, "kita lihat nanti kalau kamu sudah benar - benar tiga puluh. Kapan Gaara - kun berangkat?"
Tenten mendelik sebal, Sama saja seperti dirinya, Anko juga suka mengalih - alihkan pembicaraan.
"Dua minggu lagi," dijawab sekenanya.
"Kamu jadi ke Tokyo untuk mengantar?"
Tenten mengangguk, "Oh, ngomong - ngomong, lusanya, Sakura mengadakan baby shower. Dia minta aku ikut bantu untuk persiapan. Jadi nampaknya aku akan minta tambahan cuti."
Pengakuan itu membuat Anko menaikkan sebelah alis, meski rautnya tampak netral, "Lalu kamu tidur dimana?"
"Di hotel dekat rumah Sakura,"
"Kenapa tidak menginap di rumahnya saja?"
Tenten menghela nafas.
"Tidak enak sama keluarga Sakura, Anko - san," ia mencoba memberi pengertian dengan lebih pasrah, "aku akan segera pulang setelah semua beres. Anko - san tenang saja, ya."
Perubahan raut wajah kini tampak, ia tak menjawab Tenten.
Mulai gusar.
Sampai ia merasa sentuhan pada tangannya, menggenggam lembut.
"Dia sudah tidak di sana, Anko - san," tahu apa yang mengganggu ketenangan ibu asuhnya, Tenten berusaha menenangkan, "hampir tak ada kemungkinan aku akan berpapasan dengannya."
Ia membalas sentuhan itu, dengan intensitas yang lebih. Seolah takut kehilangan.
Dulu juga, kupikir begitu. Semua akan baik - baik saja,
Kamu tak mungkin bertemu dengan kesialan yang lebih dulu dialami orang tuamu,
Ternyata, apa?
Seumur hidupmu, kamu akan terus dibayangi luka itu,
Entah kapan akan sembuh, tapi Anko tak akan berhenti mendoakan.
"Jangan lagi kamu menahan sakit," ia meminta ikrar, "janji padaku?"
Dan Tenten menyepakati.
.
.
.
.
.
Di sudut dunia yang lain, dengan perbedaan sembilan jam lebih lama.
Dia sudah sangat terbiasa, sekarang.
Mengenakan pakaian yang lebih formal untuk dikenakan sehari - hari, mengikuti budaya dari lingkungan sekitar. Mengucap sapa dan berbincang dengan bahasa dan tatanan kata yang sama sekali berbeda dengan bahasa yang diingatnya sejak lahir.
Peralatan makan pun kini didominasi oleh garpu dan pisau, tak lagi sepasang sumpit.
Ia sedikit takut akan meninggalkan dan lupa pada kebiasaan yang dibawa sejak kecil.
Untung saja, pengasuh yang usianya sudah hampir delapan puluh tahun, yang Hanabi kenal sepanjang hidup, tetap menghadirkan budaya aslinya.
Ia menahan tawa ketika selesai menelan suapan yang masuk.
"British beef stew ala Jepang," ia berkomentar tanpa menyembunyikan suara, sengaja agar didengar oleh pria kesayangan yang rutin menemaninya di meja makan, "Chiyo baa - san sepertinya benar - benar kangen rumah."
Si kepala keluarga menyunggingkan senyum samar, "It's better in so many ways, though. Mengganti red wine dengan mirin. You're still underage, afterall."
Hanabi menaikkan bahu, "You still don't believe that I had white wine on our company's party months ago."
"I do," bantahnya, mengikuti nada bercanda,"I'm going to let that one go. Only for that one."
Si bungsu hanya mengangguk sembari memberi isyarat 'okay' dengan lingkaran telunjuk dan ibu jari.
Keduanya melanjutkan kegiatan di atas meja makan dalam hening untuk beberapa saat.
"Ni - san sudah lihat belum?" si bungsu memecah kesunyian, tak tahan dengan sepi, "Foto rumah sakit tempat Ne - san akan menjalani masa ko-asisten?"
Hyuuga Neji bergumam sekali, "Salah satu dokter bedah di sana satu almamater denganku," jelas Neji, "and he was also a member of the equestrian society. We practiced together couple of times."
Hanabi membulatkan bibir sembari kembali mengangguk, "Hebat juga ne - san bisa diterima kerja praktik di sana," sambung Hanabi, "tadinya kukira ne - san akan melamar di Tokyo bareng kakak kelasnya itu."
"Mereka justru beruntung mendapat Hinata sebagai dokter muda," sanggah Neji.
Balasan kakaknya yang terlalu membanggakan membuat Hanabi mencibir.
"Nanti sempatkan mampir ke rumah sakitnya ne - san, yuk," ajak Hanabi ringan, tahu sang kakak tak akan membantah, meski ia berniat mengganggu si putri pertama di tengah kerja praktiknya, "tapi kalau rapatnya ni - san sudah selesai saja. Di jadwal cuma empat hari, kan? Berarti kita punya sisa tiga hari sebelum kembali ke sini."
Neji menaikkan sebelah alis, "We also need to visit mother, you remember?"
"Iyaaa, ingat kok. Aku juga 'kan mau ketemu teman - teman di Tokyo."
Kening Neji semakin mengernyit, "Then, you will be so busy this homecoming."
Ia mengangkat tangan kanan, sebelum mengeluarkan telepon genggam yang sangat tabu kehadirannya di meja makan sesuai peraturan Neji. Tak sempat sang kakak menegur, Hanabi menyambung, menarasikan jadwal yang sudah ia tentukan untuk dirinya sendiri.
"Aku sudah cocokkan jadwal dengan Aburame - san, supaya jadwal ni - san nggak tabrakan." mulai Hanabi, menyuarakan tulisan di telepon genggamnya, "Hari pertama dan kedua di Osaka, aku mau main ke rumah oji - sama. Mumpung beliau lagi sibuk rapat sama ni - san, jadi di rumahnya aku nggak diganggu. Aku mau lihat koleksi lukisannya."
Neji memandang si bungsu dengan raut penasaran, terhibur dengan narasinya, "Kau menjadikanku tumbal?"
Hanabi meletakkan telunjuk di depan bibir, mengisyaratkan sang kakak agar tetap hening, "Deal with it. Hari ketiga dan keempat, aku mau ke Universal dan jalan - jalan bareng Kiba - san dan Chiyo baa - san. Kalau bisa sih, mau ajak ne - san juga, tapi di pesan singkat kemarin, dia bilang nggak janji karena sibuk."
Si sulung hanya mengangguk.
"Nah, hari kelima kan ni - san sudah tidak ada rapat, jadi kita ke rumah sakit ne - san hari itu saja. Lalu kalau masih ada waktu, hari yang sama kita bertiga mampir ke jembatan di Sungai Okawa. Katanya di sana salah satu tempat terbaik untuk melihat bunga Sakura."
Lagi, ia hanya menuruti.
"Hari keenam, sesampainya di Tokyo, aku janjian dengan teman - teman di SMP, ne - san kan ikut ke Tokyo juga, jadi ni - san seharian berdua saja sama ne - san, ya. Aku sibuk hari itu."
Kali ini ia menghela nafas pasrah, masih tak melepas senyum, "Will do."
Narasi yang semangat itu berjeda sebentar, auranya perlahan memudar.
Pun begitu dengan senyum samar Neji, ketika melihat perubahan pada Hanabi.
"Hari ketujuh," lanjutnya, pelan, "kita ziarah ke makam kaa - san. Tepat di hari kematiannya. Lalu menjenguk tou - san."
Sendu itu selalu ada, ia hanya berusaha menutupi.
Ia meraih sisi wajah cantik di seberangnya, mengusap lembut.
"We're going home," rayunya pelan, "let's enjoy the moment."
Bersyukur, Hanabi dikaruniai saudara yang sanggup menyandingi keberadaan kedua orang tua.
Neji pun tahu posisi, sehingga ia berusaha keras agar bisa mencapai itu.
Meskipun, bayarannya terlalu mahal.
.
.
.
Tidak,
Dalam hidup, tak mungkin mendapatkan semua keinginan,
Satu pengorbanan, demi pencapaian yang lebih penting,
Meski pengorbanan itu akan meninggalkan luka yang kesembuhannya diragukan.
.
.
.
"Aku tak sabar," gadis termuda Hyuuga kembali bersuara, riang.
"Dua minggu lagi."
.
.
.
.
.
Ketika tersesat,
Melewati jalan buntu sekalipun,
Jika Tuhan sudah menetapkan,
Ada saja jalan untuk kembali, bukan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ps. Last year ended, but we have a new one.
Mari tetap berjalan menyusuri lingkaran yang tak ada habisnya ini, yang kita sebut kehidupan.
Happy new year, dearest friends.
Nampaknya, ada kisah yang belum selesai.
With love,
Dinda308
