Tenten X Hyuuga Neji
Characters belong to Kishimoto.
.
.
.
Heavenly Heaven
Purest feeling you can get from a family
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hyuuga Hinata tou moushimasu," gadis itu membungkuk dalam, membuat helaian rambut halus jatuh menirai sebagian sisi pundak, "selama satu tahun ke depan, saya akan berada di bawah bimbingan Yakushi - hakase untuk departemen neurologi. Saya berharap, bisa membangun kerjasama yang baik dengan anda semua."
Beberapa petugas yang hadir di ruang jaga menyambut perkenalan si dokter muda dengan beragam cara. Ada yang membalas sapa, sekedar membungkuk tanpa kata, ada juga yang hanya mengangguk. Terkesan apa adanya, namun tetap sambutan yang cukup hangat.
Namun, wanita yang berpangkat sebagai perawat senior bukan salah satu di antara mereka.
Mendengar namanya saja, Anko bernostalgia dengan perasaan mengancam yang sementara ini sempat hilang.
'Lagi?' pikirnya.
Ketika wanita muda itu kembali menegakkan tubuh, lensa lavender yang menjadi ciri itu bertemu langsung dengan tatapan Anko. Tak melepas senyum ramah walau tak mendapat respon.
Sama sekali tak ada tekanan dari aura yang diberikan anak itu.
Berbeda jauh dengan orang yang memiliki ciri unik dan garis darah yang sama dengannya.
Tapi tetap saja,
Sejarah yang mengikuti di belakangnya tak mampu memperbaiki kesan Anko terhadap Hyuuga Hinata, atau lebih tepatnya pada seluruh keturunan mereka.
.
.
.
Tetap bersikap profesional saja. Secukupnya.
Usahakan tidak berhubungan dengannya di luar batas pekerjaan.
Toh, dia punya urusannya sendiri di sini.
.
.
.
.
.
Siapa sangka, ternyata resolusi Anko secepat itu pula diuji.
Karena belum ada satu minggu sejak dokter muda itu datang, dokter bedah yang biasa ia dampingi saat pemeriksaan rutin pasien rawat inap, hari ini digantikan oleh dokter muda yang tengah menjalani masa bimbingan.
Kerja sama mereka sangat minim percakapan. Anko hanya membuka suara pada Hyuuga Hinata ketika memberi informasi rekam medis masing - masing pasien. Sesekali dokter muda itu bertanya, bukan pertanyaan sia - sia.
Meski kesal, ia tak bisa menampik kenyataan bahwa memang keturunan dari keluarga itu memiliki intelektual di atas rata - rata.
Karena dia dokter? Tidak sedangkal itu. Anko sudah sering mendampingi dokter muda, banyak juga yang daya tangkap kurang cepat, atau tak bersikap selayaknya seorang dokter. Perilaku dan mental anak ini lolos tahap awal penyaringan calon dokter yang mumpuni menurut penilaian Anko.
Dia juga punya kebiasaan unik, yang selama ini belum pernah dilakukan dokter bedah yang ia dampingi, kecuali satu orang yang sudah lama pensiun.
"Kurang lebih delapan tahun lalu," pertama kali Anko mendahului percakapan, tak mengalihkan pandang pada lorong yang tengah mereka lewati, "ada dokter senior yang punya kebiasaan sama denganmu."
Berbeda dengan Anko yang belum meliriknya, Hinata memandang kepala perawat itu dengan raut penasaran, senang juga akhirnya sang senior mau sedikit bercakap.
"Benarkah?" tanya Hinata, "Kebiasaan saya yang mana ya, shichou?"
Anko menautkan kedua telapak tangan miliknya, memberi gestur seperti berjabat tangan, "Menyentuh tangan pasien selama berbicara dengan mereka," balasnya, "kamu orang pertama yang melakukannya selain dokter itu. Tak ada dokter senior yang sekarang tugas di sini punya kebiasaan seperti dia."
Hinata masih menatap Anko. Agak was - was, "Seharusnya tidak boleh, ya?"
Anko mengangkat bahu sekali, "Kalau ini departemen yang mengurusi penyakit menular, kamu sudah kumarahi dari tadi." peringatnya, berandai.
Dokter muda itu menelan ludah, tak menghilangkan senyum yang canggung. Ia mengangguk, dalam hati membuat catatan untuk diri sendiri agar tidak bertindak ceroboh.
Sikap itu membuat Anko melirik.
Agak tertarik dengan reaksinya.
"Bukan sesuatu yang buruk," sambung kepala perawat yang sudah hampir tiga puluh tahun mengabdi di rumah sakit tempatnya bekerja sekarang, "sebaliknya, kurasa itu cukup membantu. Seingatku, kebanyakan pasien yang ditangani oleh dokter senior itu bisa lebih kooperatif dalam masa penyembuhan. Waktu persiapan operasi juga, tidak serewel pasien - pasien sekarang."
Mendengar penjelasan Anko, ketegangan Hinata mulai lepas.
Ia berpikir sebentar, menata kalimat.
"Ketika pertama kali berhadapan langsung dengan pasien, entah kenapa saya langsung membayangkan, bagaimana kalau saya yang ada di posisi mereka," kenang Hinata, memundurkan ingatan pada kali pertama praktikum, "stres bisa mengganggu kinerja imun dan organ tubuh yang sedang berusaha memperbaiki, jadi saya pikir dengan memberi keyakinan bahwa mereka tidak berjuang sendiri, saya harap bisa membantu meredakan ketegangan itu. Salah satu caranya dengan memberi sentuhan langsung."
"Di kurikulum sekarang diajarkan itu? Atau seminar?"
Hinata menggeleng, "Dari kebiasaan pribadi. Kalau boleh jujur, dulu sifat penakut dan mudah panik saya cukup parah. Bersyukur, kakak sulung saya tahu bagaimana cara mengatasi itu."
Hinata tidak tahu, bahwa orang yang ia sebut di tengah ceritanya mengakibatkan perubahan suasana dalam diri Anko.
Sedikit demi sedikit, tapi menyebar.
"Kakak saya selalu punya cara untuk mendorong saya keluar ketika tengah panik atau ketakutan akibat pikiran saya sendiri. Dia memang punya emosi yang stabil, pemilihan katanya juga selalu berhasil membuat saya bisa berpikir dengan tenang,"
Tidak bermaksud menyanjung, tapi mau bagaimana lagi, pesona kakaknya tidak bisa membuatnya tak menyumbar, "Dia tetap diam mendengar semua keluhan. Kalau kebetulan dia ada di sini, dia akan menatap mata saya, dan memastikan keberadaannya dengan sentuhan langsung."
Klausa Hinata membuat Anko mengerutkan kening, yang kali ini disadari oleh Hinata.
Tertawa pelan, ada rona merah di sisi wajahnya, "Kedengarannya seperti brother complex ya?"
Anko mengangkat bahu.
Ada penilaian ke arah situ, tapi tiap orang punya ungkapan kasih sayang yang beda - beda, kan?
"Kakakmu lebih terdengar seperti doting parent."
Penilaian Anko membuat dokter muda itu tertawa lagi.
"Adik saya juga sering bilang begitu," jelas Hinata, mengingat berapa kali Hanabi mengeluh tentang sifat Neji yang makin terlalu protektif, "mungkin karena usia kami yang terpaut cukup jauh, apalagi dia yang 'ketumpuan' sebagai pengganti orang tua untuk saya dan adik bungsu kami."
Jika fokus pembicaraan Hinata bukan mengenai kakaknya, dan tak ada yang membuat Anko mendapat kesan buruk tentang mereka, ia mungkin akan bersimpati dan bertanya lebih jauh.
Sayangnya, Anko tidak mau terlibat, sesuai janji yang ia terapkan untuk dirinya sendiri.
Mana mungkin Hinata sadar akan hal itu.
Senyum yang seperti dilanda kasmaran itu berubah samar.
"Dulu saya sempat berpikir, mungkin keadaan ini, kami, adalah beban baginya," tak biasanya Hinata jadi banyak bicara, tapi entah kenapa kali ini dia tidak bisa berhenti, "dia selalu bungkam, tak pernah bisa ditebak. Bertukar kalimat bukan hal yang rutin kami lakukan, apalagi leluasa memeluk seperti sekarang."
"Meski begitu, akhirnya," samar, senyum nostalgia kembali hadir, "dia, bukan, tepatnya kami, dihadirkan seseorang. Kami tidak sadar saat itu, tapi ternyata, perlahan kami banyak berubah. Kalau digambarkan mungkin seperti pintu yang akhirnya terbuka kembali setelah kuncinya hilang."
Dokter muda itu terdiam sesaat, merenungkan topik yang sudah lama tak pernah dibahas, namun selalu mengganjal di hati dan membayangi pikiran.
"Kakak saya membuat batas meski kami keluarga. Tak hanya sekali saya berpikir, mungkin dia tak mengharapkan kami yang menjadi keluarganya. Namun saat pintu itu terbuka, ia membiarkan saya masuk dan berkeliling di dalamnya dengan bebas. Dari sudut ruang hati dia menjelaskan, bahwa bukan itu masalahnya. Sesungguhnya dia takut. Khawatir tak mampu menepati janjinya terhadap kami, tak mau membiarkan orang lain tahu kelemahannya. Ia melepaskan semua beban itu, meski…"
Ia tiba di hadapan batu besar yang mengganjal hati.
"...meski kesempatan itu… hanya sesaat."
Salah jika Hinata menceritakan hal itu pada orang yang baru beberapa hari ia kenal, tapi entah kenapa Hinata merasa bahwa ia harus meluapkannya pada orang ini. Wanita ini orang yang tepat.
"Pintunya sudah tertutup," ia menatap Anko sekarang, dengan raut sendu, dan akan membayangi untuk beberapa saat, "kuncinya hilang lagi, Maito - san."
.
.
.
Kenapa…
Hinata tidak bisa berhenti bicara?
.
.
.
.
.
Itu sudah terjadi beberapa hari lalu.
Sejak percakapan itu, Anko memutuskan untuk lebih banyak mengambil shift malam.
Menghindar?
Mungkin.
.
.
.
.
.
Anko baru saja selesai melakukan pemeriksaan rutin bagi pasien rawat inap. Meski tidak tertulis dalam standar operasional, kepala perawat yang sebelumnya lengser karena pensiun mengultimatum Anko agar tetap ikut serta saat pemeriksaan rutin pasien, terlebih saat shift malam hampir berakhir, dimana sebagian besar perawat pasti sudah tidak fokus karena ingin cepat selesai dan pulang. Anko tidak boleh membiarkan keteledoran terjadi.
Setelah memberi arahan pada perawat yang akan menjalani shift pagi, Anko mengambil barang bawaan dan mengenakan cardigan yang ia simpan di dalam loker, lalu meninggalkan ruang perawat dengan sapaan terakhir pada juniornya.
Belum sempat Anko melintas lorong, ia menemukan dua orang perawat yang bertugas di meja layanan, tengah asyik berbincang dengan suara berbisik. Pagi itu masih hening, sesembunyi apapun tetap saja suara sayup - sayup terdengar.
"...dokter muda yang dibimbing Yakushi - hakase itu," suara salah satu yang bertubuh lebih kurus, "kamu lihat bagaimana cara hakase memandangnya? Seperti tidak berkedip."
Rekan kerjanya menahan tawa seraya melanjutkan laporan yang tengah ia susun, "Yah, dengan asisten secantik itu sih, kalau aku laki - laki juga bisa gagal fokus," komentarnya ringan, "semoga saja ia tidak melakukannya di tengah operasi."
"Wah, bisa jatuh reputasi kalau sampai salah operasi," ia menimpali dengan nada jenaka, "sudah cantik, pintar, dari keluarga berada pula. Kamu tahu, kan? Kalau dia anak perempuan dari keluarga konglomerat properti itu."
Mendadak berhenti menulis, ia memberi perhatian pada temannya dengan sekilas keterkejutan di wajah, "Konglomerat yang mana?"
"Masa' tak tahu? Dia adik kandung dari pimpinan korporasi yang dikelola Hyuuga."
"Hyuuga? Yang punya apartemen mewah di pusat kota itu?"
Mengangguk antusias, ia menambahkan informasi, "Salah satunya itu, belum lagi hotel bintang lima di Shin-Osaka dan Tennouji. Kalau tidak salah, pusat perbelanjaan yang dekat sky building juga punya mereka, deh. Di Osaka saja sudah belasan properti, belum di wilayah Kanto dan daerah lain. Berita terakhir sih, mereka trade properti juga di luar negeri." ia menutup dengan komentar, "pertama kali dengar namanya aku langsung tahu dia siapa."
"Aku baru tahu," jawab perawat lain, "dari penampilannya, dia memang tidak terlihat seperti orang terpelajar biasa. Tapi tak kusangka dia sekaya itu. Sikapnya rendah hati, sih. Ramah juga. Aku sempat mengantri di belakangnya waktu mau ambil makan siang di Kantin. Dia malah suruh aku duluan."
"Beberapa hari lalu, aku sempat satu bus dengan dia setelah selesai shift pagi," rekan kerjanya menimpali lagi, "dua hari kemudian, waktu berangkat juga ketemu dia lagi di bus, tapi nggak aku sapa. Canggung. Meskipun aku tahu sih, dia ramah."
"Putri yang aneh," balas temannya, "sekaya itu, tak mungkin dia tak punya kendaraan pribadi, atau malah supir. Kok mau repot - repot naik-"
"Ehem."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, suara ketiga yang mendadak muncul menginterupsi.
Membuat keduanya berhenti, sebelum menunduk dalam. Tak berani menoleh ke arah penjeda yang sudah sangat mereka kenal.
Mengobrol selama bertugas sah - sah saja. Topiknya itu yang dilarang.
Meski masih dalam masa pelatihan, dokter muda tetap atasan yang harus mereka hormati. Menjadikannya bahan perbincangan merupakan tindakan lancang.
Anko baru saja mau membuka mulut, ketika suara lain menyapa ramah. Tak disadari kehadirannya.
"Selamat pagi,"
Dua perawat yang sebelumnya hampir menjadi korban omelan Anko, kompak membuka kelopak mata lebih lebar. Dalam hati kepanikan dan penasaran muncul, akibat perbuatan mereka yang sebelumnya, melibatkan dokter muda bersurai hitam panjang itu. Menunduk dalam, bermaksud membalas sapaan, sekaligus permintaan maaf di dalamnya.
Sedangkan Anko, menatap dingin. Mencerminkan apa yang ada di hati.
Beda dengan pertemuan mereka yang sebelumnya, kali ini Hinata sadar akan sikap Anko terhadapnya.
Tapi ia tak mau berburuk sangka. Toh, perawat senior ini memang terkenal dengan reputasinya yang tegas dan agak menusuk.
Hinata tersenyum ramah pada dua perawat muda yang masih terlihat gugup. "Mohon bantuannya untuk tugas hari ini," ucapnya sebelum beralih pada perawat yang jauh lebih senior, "Maito - san hari ini shift malam lagi, ya?"
Anko hanya menaikkan kening sekali, tak mengeluarkan suara untuk menjawab.
Harusnya anak itu tersinggung, karena memang Anko berniat membuatnya merasa begitu.
Malah Anko yang merasa makin aneh, karena anak itu justru tetap sumringah dengan wajahnya yang cantik itu.
"Oh iya, ngomong - ngomong," wanita muda itu merogoh ke dalam tas kain bermotif bunga yang ia bawa, sebelum mengeluarkan tiga bungkus kecil yang dihiaskan pita berwarna pastel.
"Saya iseng membuat ini semalam, ternyata hasilnya lebih baik dibanding biasa," ia menyerahkan bungkusan itu satu persatu kepada ketiganya, "silakan dicoba. Semoga rasanya cocok di lidah anda."
Dalam bungkusan bening itu, ada tiga potong chocolate loaf, bertabur kacang almond. Potongannya sedikit tidak beraturan, namun nampak cantik dan menggugah selera.
Anko menyetujui pendapat juniornya.
Anak yang aneh.
.
.
.
.
.
"Kok belum berangkat?"
Tenten mendongak sekali sebelum kembali memusatkan pandangan pada sepatu datar yang entah kenapa bagian tumitnya tidak terasa pas, "Dompetku ketinggalan, jadi balik lagi, deh," ia buru - buru mengenakan sepatu yang sebelah lagi, "oh, sarapannya Anko - san sudah kusiapkan di meja. Tadi hampir saja dihabiskan sama Iwa - kun."
Anko mengangguk, sebelum menepuk pelan punggung Tenten yang siap beranjak.
"Hati - hati."
Pagi ini, Anko sudah diberi banyak senyuman.
Tetap saja senyum yang dimiliki anak asuhnya menjadi favorit.
"Aku berangkat."
.
.
.
Anko menemukan sajian yang disiapkan Tenten di atas meja.
Di atas piring keramik, dipotong dan tersusun dengan rapi, jelas lebih terlatih dibandingkan yang ia terima pagi tadi.
Tiga potong chocolate loaf dengan butiran almond.
Membuatnya menghela nafas.
"Kebetulan, kan?" gumamnya pelan, entah kepada siapa.
.
.
.
.
.
Hari ini ia tiba di rumah lebih lambat dari biasa.
Tenten melepas tas bahu miliknya ke atas meja, sebelum kantung kertas berisi bahan masakan yang ia peluk di lengan lain menyusul, menghela nafas pelan, "Di supermarket telur sedang diskon, jadi aku beli juga deh."
Melirik sekilas pada kantung belanja, Anko bergumam sekali, sebelum kembali memusatkan pandangan pada sup yang tengah mendidih, mengaduknya sebentar. Dengan menggunakan sendok sup berbahan stainless, ia memindahkan sedikit kaldu ke dalam piring seukuran telapak tangan, meniupnya sekali sebelum berbalik pada Tenten, "Sudah pas belum?"
Menyeruput perlahan, Tenten mengangguk seraya menunjukkan ibu jari, yang disambut senyum puas dari sang ibu.
Tangan Tenten dengan cekatan mulai mengeluarkan barang dari kantung belanja, memilah dan menyusun di tempat yang mudah dijangkau, "Tumben Anko - san buat sup ayam ginseng?"
Mematikan pemantik dari kompor, Anko bergabung dengan Tenten menyusun bahan masakan, "Untuk Iwa, sebentar lagi kan turnamen," jelasnya singkat.
Bergumam sekali, Tenten berkomentar dengan tawa pelan, "Punya keluarga atlet, kita tertular diet yang sama juga, ya."
Anko terkekeh mengamini, "Kalau kamu, memang harus ikut diet atlet. Supaya ada sedikit daging di tulangmu itu."
Tenten mencibir, "Berat badanku sudah naik cukup banyak, Anko - san."
Ibu asuhnya memandang skeptis, memeriksa Tenten dari atas ke bawah, "Mungkin dosamu yang membuat timbangan tambah berat."
SIsi wajah merona, mulutnya terbuka, dan tawa mengikuti. Pun begitu dengan sang ibu, "Anko - sa-"
Brukkk!
Suara yang datang dari arah depan, menghentikan protes Tenten. Cukup keras, seperti ada sesuatu yang terjatuh.
.
.
.
.
"Tulang keringnya retak," jelas Gai, melepaskan tali panjang tas olahraganya dari bahu, menghela nafas, "dia lengah saat latih tanding. Itulah yang terjadi jika mengabaikan peringatan pelatih."
Memandang miris ke arah tangga yang mengarah ke kamar pribadi putra semata wayangnya, Anko ikut menghela nafas, "Perkiraan dokter berapa lama masa penyembuhan?"
Gai melipat kedua lengan, terlihat lebih santai dibandingkan sebelumnya, meski dalamnya juga sama khawatir, "Kalau dia tidak bertingkah aneh - aneh, paling cepat enam minggu," nadanya berubah kecewa, "yang artinya, dia harus mundur dari turnamen."
Tenten yang diam mendengarkan, beralih pada tas olahraga yang dibiarkan tergeletak di depan pintu masuk, seperti tak sadarkan diri setelah dilempar kuat - kuat oleh pemiliknya.
.
.
.
.
.
Alis tebal yang diturunkan sang ayah menukik tajam, tak satu katapun keluar dari mulut. Lengan yang terbilang kokoh untuk pemuda seusianya, melipat ke dalam dada.
Lain hal dengan wanita yang sudah tak ada bedanya dengan kakak kandung, memusatkan perhatian pada jalan yang tengah mereka lintasi, lengannya santai mengemudikan setir mobil yang biasa digunakan sang kepala keluarga.
Tenten melirik ke arah Iwa yang masih merengut, sebelum meraih bahu keras yang merapat ke dalam tulang dada, memijatnya dengan sebagian tenaga.
"Semakin lama kamu merengut, semakin susah sembuh, Iwa - kun," bujuk Tenten, "semangat sedikit, dong. Apalagi terapi ini bisa membantu penyembuhan."
Atlet muda itu meringkuk lebih dalam di atas kursi penumpang, kedua kaki jenjangnya merapat ke dalam dada, "Kok hari ini Tenten - chan yang antar?"
"Anko - san kan hari ini shift pagi, jadi tadi berangkat duluan sebelum Iwa - kun bangun," jelas Tenten, berusaha tetap konsentrasi mengemudi sekaligus menjawab Iwa, "Gai - san hari ini pulang malam."
Pemuda itu diam sebentar, sebelum mendecak, "Memang hari ini Tenten - chan nggak ngajar?"
Tak mungkin kekesalan Iwa tidak disadari Tenten, "Segitu tidak maunya diantar olehku, ya?"
Mata bundar pekatnya langsung menoleh pada Tenten, mencelos ketika melihat sekilas kekecewaan di wajahnya.
"Bukan begitu," ia kembali duduk meringkuk seperti awal, "cuma…"
Tenten mengernyit ketika pemuda itu tak melanjutkan kalimatnya.
"Cuma?"
Ia hanya dijawab oleh gerungan Iwa.
.
.
.
Terapi itu katanya untuk penyembuhan, tapi sakitnya minta ampun.
Iwa bisa kehilangan muka kalau Tenten melihatnya tengah meraung kesakitan.
Bagaimanapun juga, Iwa ingin terlihat kuat di mata Tenten.
.
.
.
.
Anko sudah mendaftarkan di registrasi rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter yang menangani Iwa, jadi mereka langsung saja menuju ruang tunggu hingga saatnya giliran Iwa tiba.
Iwa masih saja merajuk, sedangkan nomor antrian masih cukup lama.
Tak ada hal lain untuk membuang waktu, ia mengedarkan pandangan.
Tenten sudah beberapa kali mampir ke rumah sakit tempat Anko bekerja, tapi baru kali ini dia berada di departemen yang menangani ortopedi.
Fokus matanya tertuju pada papan yang menunjukkan bidang - bidang apa yang ditangani pada departemen tempatnya berada sekarang.
Selain ortopedi, departemen itu juga menangani penyakit dalam dan neurologi.
'Ada bedah saraf dan bedah trauma, rumah sakit ini lengkap juga ternyata." pikirnya.
Observasinya terputus ketika pemuda di sebelahnya berdiri.
"Mau kemana, Iwa - kun?" ucapnya seraya ikut berdiri.
Ia sudah lebih santai sekarang, sudah mau menatap balik Tenten, "Toilet."
"Kutemani-"
"Tenten - chan," peringatnya, "serius mau ikut aku ke toilet laki - laki?"
Ceplosnya itu membuat Tenten melongo, sebelum tertawa, menepuk punggung kokoh yang sudah lebih besar darinya, "Tidaklah, aku antar sampai depan saja."
Pemuda itu menyeringai, "Duduk saja, aku kan punya ini." ucapnya, merujuk pada kruk yang terhimpit di antara lengan kanan dan torso.
"Benar?"
Iwa hanya menaikkan kening sekali lagi, sebelum berbalik.
Sayang, ia tidak melihat anak kecil yang tengah berlari ke arahnya, menubruk langsung pada kruk.
Refleks Iwa kali ini sama buruknya dengan Tenten.
Bersyukur, ada tangan lain, dengan gesit menangkap tubuh Iwa yang limbung, mencegahnya jatuh.
"Iwa - kun-"
.
.
.
Pikiran Tenten berhenti sesaat ketika menemukan pemilik tangan dengan refleks yang baik.
Sepasang lavender pucat itu belum bertemu pandang dengannya, masih memusatkan perhatian pada Iwa.
Suara Tenten yang membuatnya beralih.
"Hinata?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ps. Selamat tahun baru imlek bagi teman - teman yang merayakan.
Review teman - teman adalah bentuk angpao untuk saya di tahun tikus logam ini.
Terima kasih banyaak.
With love,
Dinda308
