Tenten X Hyuuga Neji
Characters belong to Kishimoto.
.
.
.
Heavenly Heaven
Purest feeling you can get from a family
.
.
.
.
.
.
.
.
Sejak kecil Hanabi sudah terbiasa berada di tempat dengan suasana yang beragam. Baik tempat yang memiliki budaya dan bahasa sama dengan tanah kelahiran, maupun ke luar batas kewarganegaraan. Ia selalu menikmati ketika menemukan informasi keanekaragamannya, meski jangka waktu kunjungan tak pernah terlalu lama.
Pengalaman kali ini berbeda. Waktu untuk bereksplorasi di tempatnya singgah sekarang terhitung lebih dari tiga tahun, dan nampaknya masih akan berjalan untuk waktu yang belum ditentukan. Ia sudah pernah datang ke sana sebelumnya, namun saat itu masih terlalu kecil untuk mengingat. Kali kedua ia tiba untuk menetap, perasaan familiar langsung bersatu dengan keberadaannya. Hanabi tak membutuhkan waktu lama menyesuaikan diri dengan adat yang ada.
Apalagi pilar pendukungnya juga sudah lama tinggal di negara dengan sistem pemerintahan ganda itu. Neji, dan bahkan Shino, sudah seperti pulang kampung.
Hanya nenek Chiyo saja yang sempat Hanabi khawatirkan. Kecintaan pada tanah kelahirannya terlalu kental.
Wajar saja. Hingga masuk usia senja, nenek Chiyo tak pernah meninggalkan Jepang untuk waktu yang lama, karena harus menemani Hanabi atau Hinata yang sudah tak berbeda dengan cucu kandung, kemanapun mereka pergi. Di tahun awal mereka menetap, hampir tiap hari ada saja perbandingan yang ia keluhkan, terutama bahasa. Meski begitu, banyaknya pengalaman hidup nenek Chiyo tak membuatnya dilanda homesick. Ada kalanya justru orang - orang yang nenek Chiyo temui, dibuat kagum dengan budaya yang beliau bawa.
Selalu ada penemuan baru di sana. Keseharian Hanabi tak membosankan. Apalagi sekarang dia bisa mendapat bimbingan dan berkumpul dengan ahli musik yang berbakat.
Kecuali untuk satu hal ini.
Sejak terlahir di keluarga Hyuuga, rutinitas ini selalu membuatnya jenuh.
Tak berbeda dengan saat di Jepang. Demi membawa kebanggaan sebagai bagian dari warga negara, nenek Chiyo selalu memberitahu pelayan yang bertugas menyiapkan pakaian Hanabi agar menyediakan kimono, untuk setiap acara formal yang harus ia hadiri. Jadilah meski sudah ada di negara yang terkenal akan model pakaian terusan dengan rok yang melambai, Hanabi tetap harus menggunakan segala jenis kimono ketika acara formal.
Bukannya ia tidak suka, sama sekali bukan. Pola serta jenis kain dari semua koleksi kimononya indah, dan selalu berhasil membuat Hanabi tampak dewasa. Hanya saja, ornamen yang ada di pakaian ini membuat Hanabi pegal. Terutama obi yang mengikat pinggang, membuatnya harus terus bersikap tegak, bahkan ketika duduk.
Ia menyandarkan punggung pada kursi berlapis kain satin putih yang ia tempati sejak lima belas menit lalu, terlega karena akhirnya bisa meregangkan otot. Neji yang tadi duduk di sampingnya, sudah berpindah tempat, mengabulkan ajakan rekan bisnisnya karena ingin mendiskusikan hal yang tak Hanabi pahami.
Bosan mengedarkan pandangan pada orang - orang yang sibuk berbasa - basi, ia kembali menemukan sosok sang kakak. Tengah bercakap serius di meja bundar yang tak jauh darinya. Ditemani asisten pribadi yang berdiri kokoh tak jauh di belakang Neji.
'Mau dimana juga, dikelilingi orang seperti apa pun, tetap saja kelihatan gagah.' pujinya dalam hati, bias.
Dia menelaah situasi sekitar Neji untuk beberapa saat.
Hingga pada satu titik, sebelah alisnya sedikit mengernyit.
Bergerak mendekati pemuda, yang sesuai perintah Neji, masih setia duduk di sebelahnya, Hanabi berbisik, menghalangi gerakan bibir dengan satu telapak tangan, "Cliff," panggilnya, yang langsung diikuti oleh si pemilik nama, "yang di sebelah ni - san itu siapa?"
Cliff Westwood, asisten yang juga merangkap murid Shino, sarjana penerima beasiswa yang brilian. Tak banyak bicara, namun bisa memiliki banyak kepribadian untuk kepentingan tertentu. Kesialan yang ia miliki hanya terlahir dari keluarga yang kurang beruntung saja.
Shino menaruh perhatian padanya ketika pemuda itu mengajukan pertanyaan kepada Neji yang berdiri di atas podium, memberikan seminar di depan ribuan mahasiswa junior tempatnya menganut pendidikan. Secepat momen itu datang, Shino meminta izin kepada Neji untuk mengambil Cliff di bawah bimbingannya.
Tidak, Shino tak mungkin meninggalkan Neji. Hanya, mungkin jika suatu saat ia terlibat kecelakaan dan tewas di tempat, atau mungkin jika Neji memiliki penerus, Shino sudah mempersiapkan asisten pengganti yang handal.
Benar saja, dalam waktu kurang dari satu tahun, Cliff sudah mendapat kepercayaan dari Neji.
Lensa cokelat terang yang biasa terhalangi oleh rambut merah - kini ditata dengan rapi -, mencari objek yang dimaksudkan oleh atasannya. Salah, adik atasan, yang sudah lebih terasa seperti teman sekarang.
"The blonde lady?" tanyanya balik, yang Hanabi jawab dengan sekali anggukan, "Alana Baker. Konsultan hukum yang ditunjuk kaichou untuk urusan legal Hyuuga di Inggris." jelasnya dalam bahasa Jepang dengan aksen asing yang masih kental.
Hanabi bergumam sekali, "Have I met her before? She looks familiar."
"She works for us not too long ago, and if I recall correctly, you met her at the end of year party," terawang Cliff, "she also visited your house, but I don't remember whether you're home at that moment."
"She did?" lanjutnya tanpa mengembalikan pandangan Cliff, "Ni - san jarang sekali membawa urusan kantor ke rumah, kecuali jika benar - benar penting."
"Technically speaking, yes, she is important,"
"Hmm," gumam Hanabi. Perasaan aneh yang tak rasional terasa setelah mendengar penjelasan Cliff.
Oh, bukan tak beralasan.
Lihat saja, sikap tubuh wanita langsing berambut pirang yang tergerai halus itu.
Posisi duduknya berada di jarak yang aman, tidak berbuat yang aneh - aneh juga terhadap Neji.
Tapi Hanabi bukan lagi anak perempuan yang naif.
Wanita itu tetap mempertahankan pandangan mata biru terangnya ke arah Neji.
Secara halus, mencari kesempatan agar lensa Neji bertemu dengan miliknya.
Ketika akhirnya, wanita itu berhasil mendapatkan sekali lirikan Neji, sorot matanya berubah. Tak kentara, tapi Hanabi tahu arti di balik cerahnya.
Neji sendiri juga…
Tunggu dulu, kenapa Neji juga ikut tersenyum?
Tenggelam dengan observasi, membuat Hanabi tidak menyadari perhatian yang dijuruskan dari pria yang lebih tua empat tahun darinya. Ikut merasa penasaran, meski pada objek yang berbeda.
Cliff belum lama mengenal Hanabi, tapi baginya gadis itu bukan orang yang rumit untuk dibaca. Beda dengan atasannya.
'Curigaannya kumat,' pikir Cliff.
Membuat rasa usilnya tergali.
"Ngomong - ngomong," usaha mengambil perhatian Hanabi, tak disambut, "beliau dijadwalkan untuk mengikuti rapat konsolidasi."
Selesai mengungkapkan kalimat, Cliff akhirnya bertemu pandang dengan Hanabi. Melihat raut wajah yang semakin skeptis, membuatnya menyeringai bangga pada diri sendiri.
"Which means, she's going with you to Japan."
.
.
.
.
.
Dengan berakhirnya tangga nada yang direpresentasikan oleh lincahnya jemari, jiwa Hanabi yang sempat terlepas kembali. Menghela nafas, perasaannya belum merasa puas. Sekilas menggaruk pucuk kepala yang tidak terasa gatal, membuat rambut yang dikuncir kuda sekenanya terlihat tak beraturan. Ia mengambil pena yang tergeletak di samping partitur, mencoret dan memberi tanda pada bagian yang sampai kini masih membuatnya frustasi.
Rachmaninoff - Piano Concerto No. 3 in D Minor
Entah sudah berapa lama yang Hanabi habiskan dengan duduk di sana, membiarkan jemarinya mendapatkan refleks dan ritme yang sesuai dengan keinginan. Beberapa kali hampir berhasil, namun belum membuatnya puas.
Menghembuskan nafas, ia mengistirahatkan kelopak mata sejenak. Menenangkan hati, mencari apa yang membuat sinergi otak dengan jemarinya tidak sinkron.
Hanya beberapa detik berlalu, sebelum penenangan terusik. Ketika studio latihan di salah satu bagian mansion tempatnya tinggal, menggemakan suara yang bukan berasal darinya.
Sudut mata melirik agak tajam pada pintu yang berjarak tak sampai lima meter dari letak piano.
Hanabi tak suka jika konsentrasinya diganggu ketika sedang latihan.
Seluruh penghuni rumahnya tahu itu. Bahkan Neji sekalipun, menghormati privasinya. Karena itu ia tidak membutuhkan penanda "do not disturb" di depan pintu.
Kini ia perlu mempertimbangkan.
Di sana, wajah yang pernah ditemui meski tak familiar, tersenyum kagum seraya mempertemukan kedua telapak tangan tanpa menimbulkan suara.
"I'm not expecting a guest," gumamnya dingin, memastikan wanita bersurai matahari itu mendengar, "especially during practice."
Wanita itu menunjukkan bagian dalam kedua telapak tangan, berpose seperti kriminal yang menyerah, meski senyum tak berdosa masih terpaut di wajah.
"Forgive me," pertama kali ia memperdengarkan suara bernada rendah, Hanabi refleks menebak jenis vokalnya, "I just can't hold myself after listening to such a brilliant play."
Hanabi tidak merasa tersanjung akan hal itu. Justru semakin sebal, melihat rautnya yang seolah tak berdosa.
Dan wanita itu semakin memberanikan diri, bukan, malah seperti tak berpikir dua kali.
Dengan ringan melangkahkan kaki jenjang yang beralas sepatu hak tinggi hitam. Terusan formal yang didesain khusus untuknya, membentuk lekuk tubuh, menutupi hingga tempurung lutut, membuatnya terlihat anggun. Kepercayaan diri dengan lantang bersuara dari auranya.
Ia berhenti persis di samping Hanabi.
"I've been expecting when I could speak with you properly," sapanya dengan nada yang sama. Basa - basi seperti sudah mendarah daging. Lensa biru terang menatap Hanabi lekat, terlihat jelas mengobservasi, "if I didn't know that you're real, maybe I would misunderstand you as a doll."
Hanabi mengernyit sekilas ketika jari telunjuk yang kukunya diukir secara profesional itu menekan salah satu tuts piano kesayangannya. Menahan diri agar tidak menyumpah.
"Neji tidak membual ketika bercerita mengenai dirimu. Bahkan seorang amatir sepertiku paham bakatmu itu anugerah."
Mau berapa lama lagi wanita itu berbasa - basi, Hanabi tak mau peduli. Ia beralih pada piano di hadapannya, meski belum menyentuh, dalam hati membuat catatan untuk menyeka bagian yang tadi sempat disentuh tanpa izin oleh jari lentik itu.
"Ni - san biasa menerima tamu di ruang utama," jawabnya tanpa beralih, "silakan anda menunggu di sana."
Respon Hanabi tidak membuatnya tersinggung, "Aku belum tahu kapan Neji pulang dan menunggu sendirian di sana membosankan," alibinya meminta perhatian, "lebih baik jika menghabiskan waktu dengan berbincang bersama gadis yang cantik, bukan?"
Kalau Hanabi yang dulu, tidak akan segan meluapkan emosi, apalagi ketika lawannya terus menambahkan kekesalan.
Tapi itu dulu, ia harus bisa mengendalikan diri sendiri, lebih baik daripada bersikap mengikuti perasaan.
"My pleasure," kilasnya tenang, meski belum menatap balik, "tapi aku sedang latihan. Mungkin lain kali."
Tolakan halus Hanabi sudah sampai sejak pertama kali ia menatap matanya, meski begitu tak membuat profesional muda itu berbalik langkah, "Then, allow me to stay here while listen to your practice."
Sesuatu dalam kepala Hanabi seperti terputus, dengan cepat ia mendelik pada wanita yang diperkenalkan Cliff sebagai Alana Baker.
Belum sempat Hanabi membiarkan kendalinya lepas, pintu masuk studionya kembali terbuka, mengalihkan fokus keduanya serempak.
"Baker," suara berat Neji sinkron dengan raut wajahnya yang terlihat keras, "go to the main room. I'll see you there."
Peringatan itu akhirnya berhasil membuat Alana Baker terdesak, meski begitu tetap saja ia terlihat tak tersinggung. Malah seperti terhibur. Ia mengangkat kedua telapak tangannya lagi, berniat mengalah. Namun sebelum beranjak, ia beralih pada Hanabi. Jemari lentik meraih sisi wajah yang nampak mungil di telapak tangan, sebelum mendekat dan mengecup singkat pipi yang merona merah muda.
"See you, princess," bisiknya di telinga Hanabi, "next time, let's have a nice, long chat."
Lensa lavender Hanabi melekat pada sosoknya yang berlalu, hingga tak melewati adegan singkat ketika tubuhnya sampai di tempat Neji berdiri. Hatinya berkilat menangkap bagaimana tangan itu menyentuh lengan Neji, meski sekilas lalu.
.
.
.
.
"I'm so sorry about her," ucap Neji ketika tiba tepat di samping kursi yang Hanabi duduki.
Tanpa mengembalikan perhatian pada sang kepala keluarga, Hanabi mengambil selembar kertas tisu dari kotak yang ada di meja samping piano, melaksanakan agenda yang sempat tertunda, dengan berhati - hati mengelap tuts piano yang tadi disentuh selain oleh jarinya sendiri.
"You don't have to. She is not your responsibility," balas Hanabi datar, "Siapa dia?"
Neji yang paham akan kegusaran adiknya, meraih selembar tisu yang tadi digunakan untuk menyeka tuts piano, merebutnya dari tangan Hanabi, sebelum menjatuhkan gumpalan yang tak bernoda itu di tempat sampah di sisi kaki meja.
"Our new consultant," jelas Neji, tak menggubris untuk mengidentifikasi nama karena Neji yakin Hanabi sudah tahu, "she was one of my classmate during college."
Hanabi bergumam sekali, memberikan perhatian pada partitur dari pada kakaknya, "Dia cantik." pujinya tanpa memberi makna harfiah, "and she must be quite smart, right? To think that you trust her such an important position."
Neji tak membalas pernyataan Hanabi.
Paham ke arah mana pembicaraan dan arti sikap yang ia tunjukkan.
"I heard that she's coming with us to Japan too," lanjut Hanabi seraya memulai nada yang diarahkan oleh not pada partitur, tak melewatkan satu nada pun, meski tak ada emosi di dalamnya, "meskipun orang asing, kurasa dia wanita yang dengan mudah diterima oleh ojii - sama,"
"In business term, kaichou has no reason to object her,"
Hanabi bergumam sekali lagi mendengar jawaban Neji. Satu not terlewat, tapi ia tak peduli.
"Mungkin," suaranya terdengar agak samar, "ojii - sama tidak akan keberatan kalau dia yang menjadi escort ni - san pada jamuan selanjutnya."
Dua not terlewat. Bertambah menjadi empat, tujuh, bahkan satu paranada diacuhkan. Meski begitu, tangannya tak berhenti.
Justru Neji yang membuatnya berhenti.
Telapaknya yang lebih besar merangkum tangan Hanabi.
Kepalanya menunduk, belum menatap Neji.
Menghela nafas, Neji meraih pundak, mengelusnya pelan sebelum membimbing Hanabi hingga bersandar pada tubuh kokohnya.
"You're tired," suaranya terdengar lebih rendah sekarang, "Chiyo - san bilang kamu tidak keluar dari studio hampir satu hari ini."
Suara Neji sampai ke telinga Hanabi, seketika kehangatan tubuhnya pun tersalur. Hanabi menautkan jemari panjang Neji yang masih merangkumnya.
Neji membiarkan keheningan menyelimuti sementara, menyediakan waktu agar gadis di dekapannya menata pikiran.
"I'm not good enough," bisiknya lirih.
Tubuhnya membungkuk, menyesuaikan dengan tinggi pucuk kepala Hanabi yang dalam posisi duduk hanya mencapai paruh torsonya, sebelum menetapkan bibir di helaian yang terasa halus, menyesap harum bunga.
"Professor offered you to participate in his concert because he believes in you," gumam Neji dari balik helaian rambutnya, "and I, too, believe you can do this. So, why don't you do the same?"
Neji tersenyum samar, ketika lengan kurus melingkari pinggangnya, membenamkan diri pada lapisan setelan jas yang dikenakannya. Kebiasaan sejak kecil.
Lagi, keduanya menikmati keheningan.
Tanpa berkata pun, Neji sudah menerima informasi bahwa perasaan adiknya mulai tenang.
"I'm not serious when I said she's suitable as your escort," Hanabi memecah kesunyian setelah beberapa saat, belum melepas pelukan, "but if you think she's fine, then…"
Pendapat itu membuat Neji menyeringai.
"That time may come when you're tired of being my escort," jemarinya meraih dagu Hanabi, membimbing agar lensa lavender bertemu dengan identik milik Neji, "for now, my eyes only set on you."
Hanabi menepuk belakang pinggang Neji dengan sebagian tenaga, "Kalau orang lain dengar, mereka bisa paksa ni - san untuk ketemu psikiater."
Peringatan itu membuat Hanabi sukses mendengar tawa tertahannya.
Sekali lagi, ia membiarkan diri terbenam dalam kehangatan Neji.
Dengan setiap detik yang terlewat, ia mulai bisa menata apa yang menjadi resahnya. Mengapa otak dan jemarinya mendadak menolak untuk bekerja sama.
Ada pikiran lain yang merasuk, perlahan dan halus, tapi dengan kuat menolak ditampik.
Karena pesan singkat yang ia terima malam sebelumnya, dari kakak perempuan yang rutin bertukar kabar. Sebagai cara untuk meminimalisir rindu sebagai konsekuensi tak saling bertemu raga.
Kalimat yang terkandung dalam pesan itu lain dari biasa.
Berita itu…
"Ni - san," gumamnya dari balik jas Neji, menggenggam sebagian kain, "let me keep your heart for a while?"
Lengan kokoh yang melindungi bahunya mengerat, menyepakati perjanjian.
Setidaknya, sampai...
.
.
.
Aku bertemu dengannya, Hanabi.
Dia ada di sini.
.
.
.
.
.
.
.
Fokus Hinata yang tadi masih berpusat pada pasien dengan kruk yang nyaris jatuh seketika teralih, saat nama kecilnya terdengar.
Oleh suara yang sempat terlupa dari ingatan, tapi melekat di hati. Tak bisa dikatakan dengan jelas apa rasanya.
Berlebihan memang, tapi Hinata mengakui kalau emosinya masih labil.
Karena saat mata Hinata menangkap sosok itu, yang suaranya langsung membuka ingatan dan perasaan yang sensitif, namun juga memberikan rasa lega.
Terserah orang mau menilainya emosional, tapi Hinata tak menjamin kabut tak menghalangi pandangannya.
"Tenten - san."
Sialnya, nama pasien yang sempat terlupa kehadirannya, namun masih ditopang lengan kurus Hinata, digemakan oleh perawat yang bertugas. Memberi tanda bahwa kini gilirannya.
"Umm," Tenten yang masih belum menemukan sikap yang pantas, menanggapi panggilan, "giliranmu Iwa - kun."
Canggung, Tenten meraih sisi lengan Iwa yang lain, berganti peran dengan Hinata untuk menopang tubuhnya.
Ia tak melewatkan perhatian ketika Hinata tetap membantu, setidaknya dengan memposisikan kruk Iwa agar berdiri dalam posisi stabil.
Tenten menggumamkan terima kasih sekilas, yang diikuti oleh Iwa, sebelum beranjak meninggalkan Hinata yang juga masih menata pikiran.
Tapi Hinata tak mau melewatkan kesempatan begitu saja.
Maka ia membuka suara, bahkan ikut mengambil langkah agar tetap berada dalam jarak yang dekat.
"Aku akan menunggu di sini," ucapnya pelan, agak mendesak. Seolah jika kalimat itu tak terdengar, harapan sirna, "aku akan menunggu, jadi…"
Tenten belum bisa menemukan sikap yang sewajarnya.
Menyebabkan refleks yang mengambil alih, terlebih ketika menangkap sirat dari lensa lavender itu.
"Ya," suaranya terdengar lebih tenang sekarang.
.
.
.
Anko berjalan lebih cepat, memerintahkan kaki agar membawanya sampai ke tempat yang dituju sesegera mungkin.
Sejak tahu bahwa sang suami tidak bisa mengantar putranya untuk terapi hari ini, perasaan Anko mulai was - was. Apalagi ditambah kenyataan bahwa Tenten dengan siap menggantikan peran keduanya untuk mendampingi Iwa.
Itu bukan suatu masalah. Kenapa juga hal sepele ini harus dijadikan sesuatu yang rumit.
Situasi lain yang membuatnya menjadi pengecualian.
'Semoga anak itu tidak lewat sini,' pikirnya.
Apa daya, perasaan was - was justru menjadi kenyataan.
Ketika dari jarak yang masih cukup jauh, ia menemukan sosok Hyuuga Hinata, menatap langsung pada lensa cokelat Tenten.
'Semoga mereka tidak bertemu,' harapannya sampai beberapa saat lalu tak terkabul.
.
.
.
Dalam langkah yang lebih lambat, Anko menghampiri Hinata, masih berdiri memandangi pintu ruangan dimana Tenten dan Iwa menghilang ke dalamnya.
Anak itu tidak bersalah.
Tapi Anko tak bisa lagi membiarkan celah.
"Sensei," panggilnya tegas, membuat dokter muda yang masih minim pengalaman itu tersentak, berbalik menemui pandangan mata Anko dengan raut yang jelas terbaca.
"Tak seharusnya anda diam di sini, ini masih jam kerja."
Meski nampak tenang, Anko tahu Hinata tengah berusaha untuk mengendalikan diri. Ada kekhawatiran dan gamang yang terpancar di sana.
"Saya," ia beralih sekali lagi pada pintu ruangan yang tadi masih dipandanginya, sebelum kembali pada Anko, "ada yang harus…"
Kenapa Hinata tak bisa menemukan alasan? Ia tak bisa meninggalkan tempat itu. Tidak sekarang.
"Saya harus…"
Anko tak membiarkan Hinata menemukan alasan.
"Ini bukan tempat bermain," tambahnya lugas, perasaan kasih yang sempat terlintas untuk dokter muda itu hilang entah kemana, "bersikaplah profesional."
Hinata ingin bersuara, memberikan alasan, butuh pengertian dari Anko.
Meski begitu, teguran Anko tepat sasaran.
Jatuhnya perasaan harus direlakan.
"Ya," terdengar lemah, namun Anko tahu Hinata menyetujui tegurannya, "mohon maaf."
Punggung yang melangkah menjauhinya, terlihat lebih mungil dari ukuran sebenarnya.
Mengembalikan perasaan kasih yang sempat hilang.
Anko belum siap.
Kamu tidak salah,
tapi aku harus melindunginya.
.
.
.
"Terapi ini benar - benar untuk penyembuhan, bukan sih?" gerutu pemuda yang suaranya mulai berubah lebih berat, terduduk di kursi tunggu pasien seraya mengelus betis yang terpasang gips.
Anko menghela nafas, tersenyum samar. Lengannya mengelus pucuk kepala Iwa sekali, "Kalau bukan untuk penyembuhan, dokter yang menanganimu bisa dituduh malpraktik."
Putranya hanya mendecak, masih konsisten mengelus, berharap cara itu memberikan kesembuhan lebih cepat dibandingkan terapi.
Sang perawat senior beralih, mendapati sosok putri asuh yang sudah dewasa menghampiri keduanya.
"Terapi selanjutnya minggu depan," ucap Tenten seraya menyerahkan surat rujukan yang tertera informasi jadwal konsultasi Iwa, "sepertinya aku tidak bisa mengantar."
Anko bergumam sekali, sementara Iwa menguapkan keluhan.
Tenten terkekeh ringan melihat reaksi Iwa.
Dan ia teringat…
Lensa cokelatnya mengedarkan pandangan pada sekeliling. Mencari sesuatu, atau lebih tepat seseorang.
Pemilik lensa lavender yang sorotnya seperti akan menangis itu tidak ia temukan.
Hanya sebentar Tenten terkejut dan ragu ketika kembali bertemu dengannya. Namun ketika ia bersuara, meminta kesempatan untuk lebih lama bertatap muka, perasaan itu terganti oleh rasa yang mungkin sama dengan yang dirasakan gadis itu.
Selama menemani Iwa, di dalam ruangan yang membatasi antara dirinya dengan si gadis, rasa penasaran juga ikut timbul.
Ia sempat menantikan juga.
Ternyata sia - sia.
Kamu menyerah?
"Kenapa?"
Suara Anko menghentikan pencariannya.
Tersenyum samar, Tenten menggeleng sekali, "Tidak."
.
.
.
Nah, kan.
Mulai lagi kebiasaanmu. Lemah jika melihat wajahnya yang murung.
"Dia sedang kerja praktik di sini," pencegahan yang tadi kuat entah bagaimana bisa lolos begitu saja, "shiftnya senin sampai jumat, pukul delapan pagi hingga empat sore."
Tanpa perlu dijelaskan pun, Anko yakin Tenten paham siapa yang ia maksud.
Dan Anko mengutuk diri, yang termakan oleh ucapannya sendiri.
Semua itu karena keajaiban Hyuuga Hinata, yang tak pernah disangka mampu menimbulkan kasih dalam diri Anko.
Kenapa Anko bisa luluh pada keberadaan Hinata? Hanya Tuhan yang tahu.
Mungkin Tuhan yang menggerakkan.
Toh, belum tentu Tenten menanggapi informasi dari Anko, dan dengan sengaja mempertemukan dirinya dengan Hinata.
.
.
.
Salah.
Karena kebaikan hati yang mendadak muncul itulah,
"Bagaimana kabarmu, Hinata - san?"
Tak sampai terlewat dua puluh empat jam, Tenten berdiri di hadapan Hyuuga Hinata, sengaja menunggu hingga jam kerjanya usai.
Hinata lagi - lagi terbawa perasaan, tak bisa menahan senyum hingga hampir menangis.
"Terima kasih, Tenten - san," ucapnya pelan, menggenggam tangan Tenten yang terangkum dalam dua telapak yang lebih mungil miliknya, "karena mau menemuiku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ps. Let's see what's coming next.
Slowly, patiently.
Because whether it will turns out good or not, love needs more time.
This chapter is dedicated for you, who are willing to be my friend even though we never met each other.
And for Hirate Yurina, whom recently decided to "withdraw" as she prefers it to be called. Though it hurts, but definitely fine. I believe future will be waiting for you. Brighter and happier.
Until next chapter,
Dinda308
