What About Us?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
"Jadi ini yang membuatmu tidak mau membalas pernyataan cintaku?"
"Kiba," Ino melongo menatap Kiba yang berucap demikian.
Ada sebagian dari dirinya yang merasa tergores ketika Kiba dengan seenaknya menyimpulkan hanya dari apa yang ia lihat. Ia sendiri tidak tahu kalau Kiba akan semarah ini hanya karena ia mempersilahkan temannya datang ke rumah. Tapi begitu melihat sorot mata Kiba yang terluka, ia jadi mengabaikan luka di dalam dirinya sendiri.
"Kau manis sekali padanya tadi, aku jadi iri."
"Kiba, dia hanya teman sekantorku, kami baru berdiskusi tentang pembagian jadwal kerja."
Kiba membuang muka. "Aku tidak ingin tahu apa yang kalian diskusikan, aku hanya bertanya kenapa sikapmu manis sekali kepadanya."
Ino menutup mata sejenak, ia harus berkepala dingin untuk mengatasi semua ini. Tapi ia tak menemukan solusi sama sekali karena Kiba begitu menyeramkan sekarang.
Tak ada cara lain, Ino mulai melangkah mendekati Kiba. Ia harap dengan memeluk Kiba maka pria itu akan segera luluh dan menghentikan pembicaraan ini.
Tapi belum sempat Ino menjulurkan tangannya, Kiba sudah mundur lebih dulu. Hati Ino kembali tergores.
"Jelaskan dulu padaku, kenapa kau seperti itu padanya tadi?"
Ino jelas tidak punya alasan atas apa yang ia lakukan. Ia selalu baik ke semua orang di kantor, apalagi Shikamaru yang sangat menyenangkan di matanya, seperti seorang adik lelaki yang sudah lama ia inginkan kehadirannya.
Andai orangtuanya tidak pergi lebih dulu saat itu, sekarang ini Ino pasti sudah punya adik yang ada di sampingnya tiap waktu.
"Aku tidak bermaksud apa-apa tadi."
"Tidak bermaksud apa-apa? Tapi kau menepuk-nepuk pundaknya sambil tersenyum? Wah, bukankah jelas kalian sedang jatuh cinta?"
Nah kan, Ino salah bicara. Diam salah, menjawab pun salah.
"Aku tidak jatuh cinta padanya Inuzuka Kiba, dia sudah seperti adikku sendiri."
Kiba menggeleng, masih tidak percaya. "Bukankah dia si karyawan baru yang kau bicarakan waktu itu? Kalau begitu sudah berapa lama kalian kenal sampai kau menganggapnya adik?"
Ino menghela napas, ia tiba-tiba kehilangan emosi yang biasa ia semprotkan pada Kiba kalau mereka sama-sama sedang ribut begini. Perutnya agak nyeri ketika marah, jadilah ia pilih bicara pelan saja.
Huft, harusnya tadi ia bilang ke Shikamaru untuk bertemu di cafe saja.
"Kenapa kau harus semarah ini? Aku kan sudah jelaskan dia hanya teman dan bahkan aku tidak menyukainya."
"Kenapa memangnya? Tidak boleh? Kau sendiri selalu marah-marah saat aku dekat dengan gadis -gadis di bar."
Emosi Ino kembali tersulut mendengar Kiba mengungkit-ungkit kejadian itu. "Kau sendiri tahu alasannnya!"
Kiba berjingkat, ia heran kenapa justru Ino yang lebih marah sekarang. Napas keduanya naik turun, sama-sama tak mau kalah berdebat.
"Hanya karena kau orang yang ku tiduri? Oke, maaf untuk semua itu. Semua memang salahku. Tapi sekarang aku sudah sepenuhnya memberikan hatiku padamu, dan kau tidak mau menjawabnya."
"Aku bukannya tidak mau menjawab!" Suara Ino makin meninggi, membuat Hinata mengintip di dapur.
Naruto juga baru saja lari pontang-panting dari rumah Kiba ke rumah Ino hanya untuk menonton prahara rumah tangga dari balik kaca.
"Sudahlah, aku sudah tahu sekarang. Kau memang tidak mau menjawab cintaku. Kau terlalu sibuk dengan lelaki rekan kerjamu itu." Ucapan Kiba cukup membuat Ino tersentak dan buru-buru berjalan menuju kamarnya sendiri.
"Kau saja tidak pernah memintaku jadi pacarmu, lalu bagaimana aku harus menjawabmu?!" Ino lantas membanting pintu.
Kiba meraup wajahnya kasar, ia menendang bantal sofa yang sudah jatuh ke lantai sedari tadi.
Sementara itu, Naruto sibuk berkirim pesan dengan Hinata. Mereka sedang taruhan, Naruto di pihak Ino dan Hinata di pihak Kiba.
Naruto : Kiba kalah bicara.
Kau yang traktir hari ini, sayang.
Hinata : Huft, baiklah. Aku akan keluar rumah dalam sepuluh menit.
.
.
.
Malam ini Kiba sedang duduk termenung di ruang tamu rumahnya, sedang menatap kosong televisi yang menyala. Di sampingnya ada Naruto yang sedari tadi menggonta-ganti channel, tapi itu tidak mengganggu si tuan rumah sama sekali.
"Kau harusnya berhenti jadi orang yang emosian. Kasihan Ino harus memahamimu terus-menerus, apalagi dia sedang hamil, kan?"
Kiba menatap Naruto tak suka. "Kau pikir aku tidak pernah memahaminya selama ini?"
Naruto langsung saja mengangguk dan mendapat pukulan di kepalanya.
"Kau ini kenapa suka sekali memukulku sih? Asal kau tahu saja, di dunia ini hanya ada sedikit orang yang mau memberi nasihat pada teman baiknya sepertiku." Naruto menepuk-nepuk dadanya bangga.
"Terserah, aku juga berhak marah. Dia saja marah saat aku sedang dengan orang lain."
"Lalu kau membalasnya? Bukankah itu kekanak-kanakkan? Ingat ya, kau sebentar lagi jadi ayah, jangan coba menyamai sifat anakmu sendiri." Pertanyaan sekaligus pernyataan Naruto kali ini membuat Kiba terdiam.
Memang benar ia kekanakkan, tapi bukankah Ino sama saja? Selama ini mereka berdua selalu saja meributkan hal kecil yang tidak berguna. Tapi pada akhirnya mereka damai kembali dan menjadi tetangga yang rukun. Hanya itu keahlian mereka berdua selama ini, sama-sama menjadi orang bodoh yang keras kepala.
Tapi benar juga, kali ini Ino berbeda, dia sering marah karena sedang hamil. Kiba harus damai lagi dengan Ino. Kalau tidak, bisa-bisa Ino menolak menikah dengannya nanti. Tapi bagaimana caranya berdamai dengan si kepala batu itu?
"Halo sayang, ada apa?"
Kiba melirik sekilas pada Naruto yang baru saja menerima telepon dari Hinata. Berlebihan sekali pasangan ini, hanya bertetangga rumah saja harus berkomunikasi lewat telepon.
Kiba berdecih melihatnya.
"Apa? Ino tidak mau keluar kamar sejak tadi? Apa dia sudah makan?"
Mengikuti naluri, telinga Kiba bergerak mendekati sumber suara. Ia menguping pembicaraan Naruto dan Hinata.
"Baiklah, aku mengerti."
Begitu panggilan sudah berakhir, Naruto segera mendorong Kiba ke arah pintu, membuat orangnya berdecak sejak tadi.
"Cepatlah sedikit, Kiba."
"Iya iya, kenapa juga harus buru-buru? Ino pasti sedang tidur sekarang." Kiba memakai sandal malas-malasan, padahal hatinya sudah tidak tenang sejak tadi.
"Kalau Ino sakit bagaimana? Ini semua salahmu! Cepat ke sana!"
Begitu Naruto menutup pintu, Kiba langsung lari secepat kilat. Pintu depan rumah Ino yang tidak dikunci juga langsung ia terobos.
Di depan kamar Ino, Kiba melihat Hinata yang sedang berdiri sambil menggigiti kuku.
"Masuklah, dia pasti membutuhkan anda sekarang."
Kiba mengangguk, dengan pelan-pelan ia membuka pintu kamar Ino yang ternyata tak dikunci.
Sejauh mata memandang, Ino sedang tidur menghadap tembok berbalutkan selimut tebal. Makanan yang sepertinya ditaruh Hinata di atas meja juga tidak disentuh sama sekali.
"Ino,"
Kiba tahu Ino tidak sedang tidur, terbukti dari selimut yang makin perempuan itu naikkan menutupi kepala begitu mendengar suaranya.
"Hei, kau kenapa? Sakit?"
Ino diam tak menjawab.
"Ayolah Ino, aku tahu kau tidak sedang tidur sekarang. Jawab aku sebentar."
Masih tidak mendapat jawaban, Kiba mengalungkan lengannya ke pinggang tetangganya yang sedang ngambek ini. Ia kemudian tiduran di atas bahu Ino.
"Minggir, panas." Ucap Ino ketus.
"Tidak mau."
"Kenapa kau selalu saja seenaknya sendiri sih? Pergi sana, aku sedang tidak ingin melihatmu!"
"Tapi aku selalu ingin melihatmu, jadi aku punya alasan berada di sini."
Ino bangkit saking gerahnya, ia lantas menatap tajam pada Kiba yang justru memamerkan senyum menawannya. Ino ingin pingsan saja rasanya.
"Kenapa kau ke sini?"
Kiba meraih tangan si cantik untuk ia genggam. "Untuk minta maaf tentu saja."
"Memangnya kau sudah tahu salahmu dimana?"
Kiba mengangguk tanpa ragu. "Ino," Panggilnya.
Ino hanya memperhatikan tangannya yang dielus-elus oleh Kiba.
"Aku mungkin bukan orang yang mudah memahami isi hati orang lain, dan juga tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Tapi karena hatiku sudah sepenuhnya ku berikan padamu, bukankah kau harus menerimanya?"
Ino diam saja, namun tangannya balas menggenggam tangan Kiba.
"Hei, masih tidak mau menjawab?"
Ino menaikkan dagunya, pura-pura masih marah. "Ulangi lagi."
Pffft, Kiba tertawa dalam hati. Kenapa Ino yang malu-malu jadi menggemaskan begini sih? Padahal di malam-malam itu, si tetangga ini sangat nakal dan liar dalam kendalinya.
"Baiklah Yamanaka Ino, maukah kau menjadi pacarku?"
Ino mengangguk, dan Kiba langsung membawanya ke dalam pelukan hangat.
"Bersiaplah saat aku melamarmu nanti."
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : semoga selalu terhibur dengan tulisanku ya teman-teman yang budiman. :D
Dan terima kasih atas semangatnya, dear Dee-chan~ :')
Aku nggak yakin ada banyak yang baca fanfikku, tapi komentarmu moodbuster sekali buatku. :D
Well, itu saja. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
