*Masih 2 hari menjelang pertarungan*
.
.
.
Masih dua hari menjelang pertarungan.
Hit ingin berusaha tenang dan tidak berpikir gegabah di hari yang akan tiba. dia dan Vados memilih jalan-jalan, hanya keliling tempat di sekitaran Planet Champa.
"Kenapa si Champa pagi-pagi tadi berisik sekali?" Tanya Hit.
Vados terkikik. "Champa-sama kaget karena dia mengira, aku akan segera memberinya keponakan"
Hit heran. "Keponakan? Maksudmu?"
Vados memberinya senyuman manis, seperti sebuah kode. Hit mengerti maksudnya, dia langsung menghentikan langkah kakinya dan terdiam. pelan-pelan bola mata merahnya melirik ke arah perut Vados. jangan-jangan Vados sudah...
"Belum, Hit" Vados tertawa, dia melihat Hit sedang melirik ke arah perutnya.
"Vados, hentikan. kau benar-benar jahil" Hit mendengus kesal.
"Kita tidak pernah membicarakan soal ini. jadi... jawabanku adalah belum saatnya" kata Vados.
"..."
Benar, dia dan Vados belum pernah membicarakan soal 'itu'. Hit belum siap akan hal tersebut.
"Sepertinya akan menjadi bencana besar bagiku jika itu terjadi" gumam Hit, agak canggung.
Vados tertawa. "hahaha! Hit, nampaknya kau ketakutan ya?"
"Itu tidak lucu! jangan berpikir terlalu jauh!"
"hahahaha! Maaf! Maaf.. Tapi... Tentunya, kau juga tidak terlalu menginginkan hal ini kan?"
Hit memejamkan mata, menghembus nafas ringan. "Yahh... Karena aku orang yang buruk"
"Jadi, ada lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Vados
"Sebenarnya aku masih ingin tahu tipe kekuatan Ayahmu. Aku tahu dia Pendeta Agung, tapi mustahil baginya untuk menantang mortal biasa seperti aku. dan aku yakin, cara dia bertarung pasti tak jauh beda denganmu" kata Hit.
Vados melirik ke Hit, agak menyipit seolah Hit seperti menebak sesuatu.
"Jangan tatap aku seperti itu" Hit protes.
"hahahaha, Hit... Aku tidak curiga padamu. tapi kau pintar" kata Vados.
"Apa menurutmu 2 hari cukup untuk berlatih lebih serius?" Tanya Hit.
Vados menggeleng pelan. "Tidak, lebih baik simpan tenagamu untuk pertarungan nanti. kau akan membutuhkan banyak tenaga"
Hit langsung menoleh, membuat ekspresi agak terkejut. "Apa maksudmu? Apa Ayahmu juga berniat bertarung habis-habisan?"
"Bukan, maksudku kau perlu tenaga untuk fisik dan pikiranmu. Seperti yang ku katakan, Ayahku tidak pernah mengerahkan se-persen pun kekuatannya" Vados menjelaskan.
Hit jadi ragu.
Kekuatan Daishinkan sulit si prediksi sifatnya. apa yang harus di lakukan saat pertarungan nanti?kalau tidak mengetahui karakter pertarungan lawannya, Hit akan kesulitan mencari sisi kelemahannya.
"Vados" Hit memanggil. "Pokoknya, saat pertarungan nanti, jangan khawatirkan aku. Biarkan aku dan Daishinkan bertarung, sampai aku tinggal setetes darah, kau tidak boleh mendekatiku"
"..." Vados agak terkejut dengan pernyataan Hit.
"Aku ingin mengukur sejauh mana kekuatanku untuk bertahan. akan ku buat pertarungan nanti akan berkesan bagi ayahmu" ucapnya lagi.
Vados tidak percaya apa yang Hit katakan, dia terlalu mendorong batasnya untuk pertarungan 2 hari lagi.
"Kenapa kau sampai tidak mau di tolong jika kondisimu di arena makin memburuk?' tanya Vados.
"Aku ingin buktikan bahwa aku pantas untukmu" jelas Hit.
Yang mencintai si Assasin lebih dulu, adalah Vados. dan Hit rela melakukan ini semua hanya demi seorang Vados yang telah di cintai.
"Tidak apa-apa kau mau menuruti permintaanku untuk kali ini saja kan?" Tanya Hit.
"Hit, berhenti melukai diri sendiri" ucap Vados.
"..."
Sepertinya ini keputusan yang salah. Tapi Hit sudah punya niat.
"hehm, Aku tahu, keputusan yang bodoh ya?" Hit tertawa pahit.
Vados menggeleng pelan. "Bukan, itu bukan keputusan yang bodoh. Tapi kau terlalu nekat"
"Bagaimana aku tak bisa nekat kalau lawanku adalah Pendeta Agung?"
"..."
Dan keduanya sama-sama hening.
"Hit... kau sudah berjanji, kau melakukan ini untuk diriku. pastikan kau tidak akan lenyap" jawab Vados, berusaha menunjukkan ekspresi yang meyakinkan.
Hit mengangguk "Ya, benar"
"Aku pernah bilang padamu sebelumnya kan? Aku berharap bisa menjadi istrimu" kata Vados.
"Vados, belum saatnya kau bisa menjadi istriku. Kau ini Angel, Daishinkan tidak menjamin kehidupanmu untuk mortal seperti aku" gumam Hit.
"Yah.. Aku tahu" pasang Violet si Angel semesta 6 itu terlihat sendu.
Tangan ungu si Assasin menggenggam kuat tangan si Angel. Terlalu kuat dan erat.
Hit tersenyum tipis. "Terkadang, aku tidak pernah tahu alasan kenapa kau sangat mencintai ku. Tapi.. kau membuktikan semuanya dengan nyata. aku berharap bisa hidup 1000 tahun lagi untuk dirimu"
"Bukan 1000 tahun" Sanggah Vados, Hit sampai berkedip heran.
"Tapi Abadi, seperti diriku. Aku takkan mencari orang lain. Hanya kau yang spesial bagiku" tambahnya lagi.
"Apakah pembunuh bayaran seperti diriku ini memang spesial di hatimu?" Tanya Hit.
Vados tertawa. "Aku ini netral, aku tidak ikut campur dengan pekerjaanmu"
"Intinya, jangan dekati aku di saat sekarat, aku menginginkan pertarungan yang serius dan mematikan" tegas Hit.
Vados menghembus nafas berat, keinginan Hit sudah mutlak untuk dirinya sendiri.
"Baiklah, aku akan menerima itu" ucapnya.
Hit tersenyum tipis. "Terima kasih"
*Cupp!
Vados langsung memberinya kecupan cepat ke bibir. Membuat Hit agak terkejut sampai ia sedikit terdorong ke belakang.
"Vados, apa maksudnya ini?"
Vados tersenyum lebar. "Agar kau semakin semangat"
Hit berkedip heran. "Ehh? Itu saja?"
"Anggap saja itu ciuman bonus, aku percaya kau akan memberi pertarungan yang paling berkesan untuk Zeno-sama" Vados menjelaskan sembari ia menepuk-nepuk pipi Hit.
Dahi si Assasin berkerut bingung. "Kalau begitu, beritahu aku sedikit saja skema pertarungannya"
"Intinya, kau harus berusaha. ayahku mungkin tidak akan mengeluarkan kekuatan aslinya, tapi dia punya cara untuk membuatmu kalah"
Hit menyeringai, memberi senyum sedikit meledek. "Hemph... Kalau begitu, aku yang akan membuatnya kalah"
Ya, Vados selalu tahu, Hit bisa percaya diri dimana ia merasa mampu memenuhi janjinya.
.
.
.
Usai santai sejenak dengan jalan-jalan, Hit langsung tidur ke kamarnya.
"Oy Vados, mana Hit?" Tanya Champa.
Vados dan Champa berada di ruang makan. Kebetulan, stok persediaan makanan mulai menipis, jadi besok mereka akan ke Bumi untuk berbelanja (atau tepatnya, memalak warga Bumi untuk memberi makanan mereka padanya)
"Hit sudah tidur, Champa-sama. dia harus mengumpulkan tenaga untuk pertarungan" jawab Vados sembari tersenyum.
"Ohhh.."
Champa hanya mengangguk paham.
"Ngomong-ngomong Champa-sama, kau yakin besok mau ke Bumi?" Tanya Vados.
"Iya! Memang! Aku ingin makanan sebanyak-banyaknya! Pokoknya kita besok kesana!" ujar Champa.
"Tapi, kenapa kau menanyakan soal Hit?" Tanya Vados.
"Eehh? Ehmm..." mata si kucing Alam semesta 6 tersebut membulat, dia memalingkan wajah sambil bersiul tak jelas.
"Champa-sama" Vados memanggil lagi.
"Eeh? Heehhh..." Champa menyerah, dia tidak pura-pura polos. "Aku sebenarnya ingin bicara dengan Hit, tapi karena kau bilang tadi dia tidur, ku pikir aku tidak jadi membicarakan sesuatu"
"Sungguh? Apa itu?"
"Hemm, Kau saja yang bilang deh, Pastikan si Hit tidak bertingkah memalukan di hadapan Daishinkan-sama" Jawab Champa.
"Aku bisa memastikan itu Champa-sama, Hit pasti akan membuatmu bangga"
"Bukan masalah bangga, tapi..."
Champa diam sejenak.
"Kita pernah lenyap, aku tidak mau Petarung seperti Hit lenyap untuk kedua kalinya. bagiku, Hit itu susah di cari! Kalau ada apa-apa, dia kartu as kita!" ucap Champa dengan nada meninggi.
Dia benci jika di anggap menjadi Hakaishin paling lemah (sebenarnya iya sih). pelenyapan saat turnamen tersebut sudah membuatnya agak trauma. tapi Champa berusaha bertingkah seolah-olah pelenyapan tersebut adalah hal yang kecil. Vados bisa melihat itu hanya dengan menatap ekspresi Hakaiashin semesta 6 yang seperti... khawatir?
Apakah Champa mengkhawatirkan Hit?
Vados mengangguk paham. "Ohhhhhh Champa-sama perhatian ya"
"Eh!? Memang aku peduli?! Masa bodoh dengan perhatian! Aku tak peduli! Aku cuma ingin Hit menjaga sikapnya!" omel Champa, kesal.
Walaupun sebenarnya sudah jelas, Champa saat ini sedang mengkhawatirkan petarung andalan seperti Hit.
"Besok kita ke Bumi ya!" Ujarnya terakhir kali dan Champa pergi ke kamarnya.
Vados tersenyum. dia punya Hakaishin gendut yang lucu dan bawel, dia punya pasangan dingin dan tampan seperti Hit, dan dia punya mantan petarung-petarung turnamen yang setia membela tim alam semestanya.
Alam Semesta 6 memang unik ya
To Be continued
