Everything I Need
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
Hanya pagi biasa dimana Kiba yang baru saja bangun dan cuci muka keluar rumah mengenakan kaos dan celana pendek. Dipakainya sandal rumah dan ia akan mengunjungi rumah tetangganya seperti biasa. Matanya mengedip beberapa kali, ingin memperjelas penglihatannya bahwa yang ia saksikan saat ini bukanlah halusinasi semata. Ino sedang menyirami tanaman di depan rumah bersama Hinata, Naruto duduk sendirian di teras.
"Kau beli bunga?" Kiba menatap Ino penuh tanda tanya.
"Bukan aku, Hinata yang membelinya. Bagaimana? Bagus?" Ino masih fokus menyemprotkan air ke bunga mawar merah yang beberapa kuncupnya masih mengatup.
"Bagus kok,"
Menengok ke samping kiri, Kiba beralih mendekati Hinata yang sedang menyirami bunga serupa. Dua perempuan ini entah kenapa bisa fokus sekali ketika sedang menyiram bunga, seolah bunga adalah segalanya bagi mereka.
"Kenapa beli yang warnanya berbeda?" Kiba menunjuk mawar kuning yang sedang disemprot oleh Hinata.
"Supaya berwarna warni pak manajer, kalau hanya satu warna pasti membosankan."
Kiba mengangguk, ia mau berhenti bertanya saja daripada pusing. Ia tidak terlalu mengerti tentang bunga, jadilah ia bergabung dengan Naruto yang sedang sibuk memotret Hinata dan Ino dari belakang.
"Sedang apa kau? Kenapa mengambil foto Ino?" Kiba menatap tak suka pada Naruto.
Naruto berdecak. "Santai lah kawan, aku hanya sedang mengabadikan momen yang mungkin tidak akan terulang lagi."
"Maksudmu, potret Ino dan Hinata yang merawat bunga adalah hal langka?" Kiba tidak sadar bahwa ia langsung ditatap nyalang oleh kedua makhluk yang ia sebutkan.
Hanya masalah waktu sampai wajahnya lah yang kena semprot air.
"Bukan," Naruto menggeleng keras.
"Maksudku, momen indah sudah seharusnya diabadikan."
"Kenapa harus? Seperti anak kecil saja."
Naruto tertawa mendengar Kiba yang begitu cuek pada hal-hal kecil di sekitarnya. "Setiap hari, orang-orang selalu membuat kenangan. Kita semua pasti akan merindukan kenangan ini di masa depan, jadi mengabadikan momen adalah suatu keharusan."
"Tapi kan mengambil foto atau video seperti itu tidak mungkin bisa tiap hari." Kiba kembali menyanggah.
Naruto menggetok kepala Kiba. "Aku juga tidak bilang harus setiap hari, minimal luangkan waktu untuk orang yang kau cintai selagi kalian bersama. Terutama kau sih Kiba, karena waktumu untuk berduaan dengan Ino tinggal sedikit. Sebentar lagi ada makhluk lain diantara kalian, dan pasti akan super sibuk nantinya."
Bersamaan dengan kalimat Naruto yang serasa jadi sengatan listrik di kepala, Kiba segera menatap kekasihnya yang masih menyemprot bunga di spot lain. Hanya Ino yang muncul di kepalanya begitu Naruto berhasil mencuci otaknya.
"Hinata, aku mau mengisi ulang air dulu." Ino berbalik masuk ke rumah.
"Oke," Hinata menyahut singkat.
Mata Kiba yang tidak bisa berpindah dari tubuh indah Ino langsung saja beranjak dari duduknya, ia mengikuti masuk ke dalam rumah.
"Hei Kiba mau kemana?" Naruto menatap bingung Kiba yang sudah sampai di ambang pintu.
Kiba mengerling singkat. "Mau membuat kenangan."
Meneruskan misi sucinya, Kiba segera mendekati Ino yang sedang mengisi air di wastafel. Ia langsung saja memeluk pacarnya itu dari belakang.
Ino sudah tidak kaget lagi kalau sekarang ini ada lebah raksasa yang menemplok di punggungnya. Lagipula ia dengar pembicaraan Kiba dan Naruto dari tadi.
"Kau kenapa, Kiba?"
Kiba justru menggeleng sambil mengusak-usakkan kepalanya. "Ingin membuat kenangan denganmu."
Ino berdecak. "Kau jangan terlalu percaya dengan bualan Naruto, dia itu tidak waras."
"Kenapa? Menurutku benar kok." Kiba tersenyum seorang diri, tidak peduli kalaupun Ino melewatkannya.
"Aku tidak melarangmu mengabadikan kenangan, hanya saja apa kau akan melakukannya tiap saat? Kalau begitu kau hanya akan sibuk mengambil foto, bukannya benar-benar menghabiskan waktumu bersamaku."
Kiba kembali mengusakkan kepalanya, ia tersenyum misterius. "Memang siapa yang mau mengambil foto?"
Ino mengernyit bingung. "Lalu?"
"Aku ingin membuat setiap momen bersamamu terasa istimewa. Jadi bagaimana kalau pagi ini kita- aw"
Tangan Ino langsung saja diangkat ke atas mengarah ke kepala Kiba, memberi geplakan sayang pada pacarnya agar sadar. Ia benci sekali kenapa mulut Naruto lebih licin dari mulutnya dalam hal membodohi Kiba.
"Kenapa kau memukulku?"
"Kau sudah gila ya? Pagi-pagi begini mau berbuat mesum? Ini hari libur, Kiba. Gunakan waktumu untuk sesuatu yang bermanfaat."
Kiba merengut. "Tapi berduaan saja denganmu juga bermanfaat."
"Tutup mulutmu." Ino emosi lagi.
Kiba lagi-lagi terkejut oleh makian Ino yang tengah hamil ini. Ia pun lantas cengengesan sambil menciumi punggung tangan Ino berkali-kali. "Aku bercanda, sayang. Jangan marah lagi ya. Ingat kan sekarang ini kau tidak hanya membawa beban satu orang saja."
Dari yang tadinya merengut kesal, Ino mengubah ekspresinya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu perihal kehamilannya. "Kiba, kau ada waktu besok pagi?"
"Kenapa?"
"Mau temani aku ke dokter kandungan?"
Ino takut-takut menatap Kiba. Entahlah, dia sendiri ragu kalau Kiba mau menerima anak dalam kandungannya ini. Mengingat usia mereka yang masih sama-sama muda. Padahal sudah jelas-jelas Kiba selalu ada di sini, tidak pergi kemana-mana. Bahkan saat Ino jujur tentang kehamilannya, Kiba tetap ada di sampingnya.
"Kau bercanda? Kenapa masih tanya mau atau tidak? Aku adalah ayahnya. Aku pasti mau. Demi kau, dan demi bayi kita."
Ino tadinya hampir kaget, tapi ia langsung lega mendengar jawaban Kiba. Ditambah lagi elusan tangan Kiba pada perutnya. Lucu sekali, padahal perutnya saja masih kecil.
Ino dan Kiba mungkin terlalu masuk ke dunia sendiri sampai tidak tahu kalau di teras depan, ada dua manusia yang kembali mengintip mereka. Naruto mengarahkan kameranya ke dalam rumah, ia ubah jadi mode video.
"Ayo taruhan, mereka pasti akan masuk ke kamar sebentar lagi." Tawa mesumnya tidak terkendali.
Hinata yang mendengarnya lantas mendorong tubuh pacarnya hingga tersungkur ke lantai. "Aku tidak mau taruhan lagi. Terakhir kali aku mentraktirmu, kau makan banyak sekali. Mengesalkan saja."
Naruto mencebikkan bibirnya. "Kenapa kau jahat sekali padaku sayang?"
"Sayang sayang kepalamu!" Hinata melemparkan penyemprot bunga pada Naruto dan merebut ponsel milik pacar itu.
Ia lantas berlari menjauh, ingin merekam Naruto yang sedang tersungkur. Tawanya tak terbendung lagi.
Kedua pasangan itu sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing ketika sebuah mobil tiba-tiba saja terparkir di depan gerbang rumah Kiba.
Hinata yang lebih dulu sadar langsung berlari ke dalam rumah untuk memanggil Kiba. "Pak manajer, ada yang datang ke rumahmu."
Kiba dan Ino segera melepaskan diri ketika mendengarnya. Mereka dengan gesit melongok dari balik pintu. Sedetik kemudian Kiba membelalak, begitu pula Ino.
"Kiba, itu Matsuri-"
"Iya, aku tahu." Degup jantung Kiba berpacu kembali. Ia mungkin tahu hari ini pasti datang, tapi kenapa harus sekarang?
"Dia datang dengan siapa?" Ino bertanya lagi, mengabaikan Kiba yang sedang menatap sedih pada objek di depan rumahnya.
"Sakura."
.
.
.
TBC
.
.
A/N : ku usahakan sebelum tahun baru sudah selesai. Hehe. Semoga suka dengan ceritanya. Maaf kalau scenenya nggak sampe Ino melahirkan ataupun nikah sama Kiba. Karena sejak awal, ide cerita ini sederhana. :D
