*Satu hari menjelang Pertarungan*
.
.
.
Satu hari lagi
Satu hari, adalah masa pembuktian.
Hit fokus.
*Hup!*
Saat ini, mereka sedang di Bumi. Vados melatih Hit dengan gerakan pukulan yang ringan, hanya sekedar tehnik kecil sebagai pemanasan latihan.
Mereka berada di tengah lapangan Baseball yang besar. Dari bangku penonton, Champa melihat latihan tersebut sembari memakan popcron, soda dan Pizza.
"Oy! Besok kau melawan si Daishinkan itu! Jangan sampai kalah!" teriak Caulifla
dari bangku cadangan. Sementara Kale melambaikan mini Bendera merah ke atas.
"Ayo Hit-san!" Kau bisa!" sambung dengan seru Cabba, memberi semangat.
3 anak Saiyan itu sangat bersemangat, padahal yang bertarung adalah Hit. Tapi mereka tidak ragu memberinya kepercayaan.
"Lihat Hit, mereka kagum padamu" ucap Vados.
"Hehh, Itu bukan apa-apa" jawab Hit.
Dan dia berhasil menangkis serangan Vados.
*SIAAAYT!*
"Wooaaaaahhh!?"
3 Anak Saiyan terkejut melihat refleks Hit yang begitu sempurna menangkis tinju dari Vados, sementara Champa sampai tersedak.
"Aku menang" jawab Hit.
Vados menyeringai santai.
"Baiklah, kita sudahi saja latihan ringan ini. Simpan tenagamu untuk besok" kata Vados.
Sebenarnya, karena mereka malas pergi ke pantai, lapangan Baseball jadi pilihan yang tepat. Ini idenya Vados, sama seperti pertandingan baseball yang pernah mereka adakan di Alam semesta 7.
"Oy! Hit! Yang tadi itu terlihat kurang, kau mau bertarung denganku?!" Tanya Caulifla.
"Caulifla-san, dia tidak bisa berlatih lama-lama hari ini" sambung Cabba.
Caulifla berkerut heran. "Lalu kenapa, heh?"
"Bertarung dengan Daishinkan bukan sesuatu yang mudah" jawab Vados.
"Eeh? Hanya karena si Daishinkan itu kau berlatih setengah-setengah? Itu nanggung tahu! Kau kan punya Time Skip!" ketus Caulifla, ekspresinya langsung cemberut.
"Anoo kira-kira sekuat apa ya Daishinkan-sama?" Tanya Kale.
Hit menyilangkan kedua lengan ke dada. memejamkan mata, menunjukkan gestur berpikir. "Daishinkan memang paling terkuat dari seluruh semesta ini, tapi dia tidak pernah bertarung serius"
Pasang mata Onyx si Gadis Saiyan tersebut melebar. "Apa!? Dia sekuat semesta yang di katakan semua orang sampai tidak pernah bertarung sungguhan!?"
Hit mengangguk. "Iya"
"Hmmmm! Aku jadi penasaran" gumam Caulifla.
"Anoo.. ku harap kau berhati-hati, Hit-san" sambung Kale.
"Hit-san pasti bisa!" seru Cabba, matanya berbinar-binar. "Kalian juga percaya kan Hit-san bisa bertarung dengan Pendeta Agung? Itu kan sesuatu yang langka!"
"Kalau aku sudah bisa menguasai SSJ3, aku mampu bertarung dengan si Daishinkan itu!" Caulifla berucap penuh bangga, tertawa.
Kale sampai gugup. "Ta-tapi.. Daishinkan-sama pasti berbahaya"
Memang tidak ada yang bisa memprediksi kemungkinan gaya bertarung Pendeta Agung. bagaimanapun nanti jadinya, Hit harus bertahan dalam arena.
"Jangan khawatir, Hit tahu apa yang dia akan lakukan nanti saat pertarungan" jawab Vados, tersenyum yakin.
"hmph, ngomong-ngomong kalian sendiri bagaimana?" Tanya Caulifla.
Hit berkedip heran. "Apa?"
"Kau dan Vados! maksudku... kalian sendiri bagaimana? Masih jalan kan? Tidak pernah bertengkar kan? Apa masih sering tidur bareng?" kata Caulifla lagi.
"Ca-Caulifla-san!" Cabba terkejut, Caulifla seenaknya berkata seperti itu.
Vados tertawa. "hahahaha! Kalau soal itu sih kami masih...-"
"Vados! Hentikan!" Hit langsung menyanggah, dia berharap Vados tidak blak-blakkan.
"hahahaha!" Vados semakin meledek. Lihatlah, muka Hit mulai memerah.
Champa meluncur ke lapangan, meninggalkan cemilannya di kursi penonton. Dia berjalan menghampiri mereka yang berdiri Disana.
"Dengar, besok kita ke arena Eksibisi Zeno-sama. dan untuk kalian bertiga!" Champa langsung menunjuk tajam-tajam ke 3 anak Saiyan. "Jangan buat masalah! Awas ya kalau bikin malu!"
"Ehh!? Kau ini takut sekali kalau kita berbuat sesuatu disana! Tenang saja! Aku takkan berbuat nakal!" ketus Caulifla.
"Kau masih ragu padaku?" Tanya Hit.
Champa tidak menjawab, dia tahu Tatapan merah dari si Assasin seolah-seolah berharap sekali 'dapat di percaya sang Hakaishin' .
Tapi Champa membuang muka, masalah Hit adalah masalah dia.
"Sudah ku bilang, bertarung saja semampu-mu. Kau sudah belajar dari Turnamen kan? kau pasti mengerti bagaimana jalannya nanti. Jika Daishinkan mengatakan sesuatu padamu, coba lah untuk patuh dulu"
Hit mendengus acuh. "Mana mau aku patuh? Dia kan lawanku"
"SUDAH KU BILANG YANG PENTING KAU NURUT SAJA!" teriak Champa.
Hmph, dasar Hakaishin, Champa memang mudah di tebak sikapnya.
Satu hari lagi, adalah pembuktian.
Hit akan membuktikan, bahwa dia mampu memandangi Pendeta Agung itu dengan kedua tangannya sendiri.
Dia pasti bisa...
...
*Kembali ke Planet Champa...*
.
.
.
"Hit-san, kenapa tidak sekalian menikah dengan Vados-san saja?" Tanya Cabba.
Sambil mengunyah potongan semangka, pasang mata si Assasin melirik ke anak Saiyan tersebut, membuat ekspresi heran.
"Apa maksudmu?"
Sepulang dari Bumi, mereka pun kembali ke Planet sang Hakaishin. Vados, Champa, Caulifla dan Kale berada di dapur sementara Hit dan Cabba berada di meja makan.
"Aku tidak punya niat merayakan hal itu" gumam nya.
"Semua sudah tahu kalau kalian saling mencintai"
"Itu memang benar"
"Maksudku, apa Vados-san tidak merasa menunggu terlalu lama?"
Hit agak terdiam.
Dia ingat kata-kata Vados soal 'dia ingin menjadi istrinya', menyimpulkan bahwa Vados sebenarnya ingin merasakan tema pernikahan layaknya mortal.
Tapi Hit sadar, derajat mereka berbeda.
"Biarkan Vados tetap menjadi Vados. Dia adalah Angel, dia adalah utusan Zeno" jawab Hit.
"Jadi, kau tidak memiliki niat apapun untuk Vados-san?" Tanya Cabba lagi.
Hit menggeleng. "Tidak, mencintai saja sudah cukup. Tapi aku tidak menginginkan pernikahan"
"Begitu ya" gumam Cabba.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Pernikahan bukan sesuatu yang merepotkan. Pernikahan itu bertujuan menguatkan jalinan cinta untuk selamanya" jawab Cabba.
Hit tetap diam.
"Kau dan Vados-san layak merasakan itu" tambahnya lagi.
"Entahlah, aku hanya tidak tertarik. Aku mengerti apa yang Vados minta, tapi... sejak awal, Aku dan Vados sudah seperti suami istri tanpa melalui pernikahan" jelas Hit, matanya menatap ke Vados dari tempatnya ia duduk.
"Aku mengerti saranmu, tapi aku harus mempertimbangkan-nya. atau nanti akan jadi masalah untuk angel lainnya"
"Oh..?" Cabba berkedip dengan ekspresi sedikit heran, tapi dia mencoba untuk mengerti.
"Baiklah Hit-san, kau mempunyai pilihan. Kau tahu mana yang terbaik"
Tangan ungu si Assasin langsung mengacak-acak rambut jabrik Cabba.
"Hit-san?"
Hit tersenyum. "Aku akan baik-baik saja besok, kau tidak perlu khawatir"
"Ahh? A-aku..." Cabba sedikit menunduk. dia mengepalkan tapak tangannya erat-erat dan menatap ke Hit.
"Aku yakin kau pasti bisa, Hit-san. Berjuanglah di Arena. Lakukan ini untuk Vados-san"
"Ya, aku bisa"
*BRAAKKHH!*
Satu sajian makanan di banting ke atas meja.
"Makanan datang! Hehehehe! Aku memasak Nasi goreng hitam!" ucap Caulifla.
Hit dan Cabba sampai melotot heran. Itu sajian Nasi goreng... hitam? Atau ini memang Nasi gosong?
"Ini kau yang masak?" Tanya Cabba.
"Tentu saja! Kau pasti mau coba kan? Sekarang buka mulut kalian!" si gadis Saiyan tersebut langsung menyendok nasi goreng dan menyodorkannya ke arah mereka berdua.
"Ehmmmm.. Vados! Mana yang harus ku suapi? pacarmu atau Cabba?!" Tanya Caulifla.
"Hit" jawab Vados.
Hit agak menjauh. "Eehh! Tunggu tunggu! Kau yakin akan menyuapi itu padaku!?"
" Heehh! Jangan banyak omong! Cepat MAKAN!"
HMPHPHPHPGP!?
Caulifla menyuap paksa ke Hit sampai sisa makanan berceceran di atas meja. Lihat, Hit sampai menitikkan air mata.
"HAHAHAHHAHAAHAHAHA!"
Ini sangat tidak lucu.
"A-aku kabur saja deh" Cabba beranjak dari kursi dan langsung kabur dari ruang makan.
"OY! JANGAN KABUR! Kale cepat tahan dia!" seru Caulifla.
Kale berubah menjadi Lssj, dia meluncur ke arah Cabba dan menghalangi pintu.
"APA!?" Cabba berteriak panik.
Dia langsung meringkup tubuh Cabba dengan menahan kedua lengannya. "Ayo kak! Sudah ku tahan dia!"
Caulifla tersenyum jahat. " Hehehe! Rasakan ini!"
"Tidak tidak tidak tidak tidak tidak!" Cabba semakin panik, dia langsung mengubah form menjadi Super Saiyan, Kale hampir saja terpental.
"Kalian ini memang pemaksa!" seru Cabba.
Caulifla jadi kesal. "Mau bertarung ya!? Ku terima tantanganmu, Cabbaaaa!"
*DUARR DUARR!*
Giliran Caulifla yang menjadi Super Saiyan. dan 3 anak tersebut saling kejar mengejar membuat seisi ruang makan berantakan.
"OY KALIAN! BERHENTI MERUSAK RUANGANKU!" Teriak Champa.
Hit mengusap-usap mulutnya, dia butuh minum.
"Bagaimana? Kau suka kan?" Tanya Vados.
"Heh, Konyol. kau pasti sengaja menyuruh Caulifla memasak nasi gosong ya" Hit mengetus kesal.
"Hahahaha! Habis kau gampang di kerjain sih!" Vados tertawa puas.
Hit menyendok nasi gosong tersebut. "Giliran kau yang mencobanya!"
"Eh aku?" Tanya Vados.
Hit menyeringai. "Kalau kau tidak mau makan, kau tidak dapat 'jatah' dariku di kamar malam ini"
"Coba saja!"
Vados langsung menjauh. Hit mulai mengejar nya.
3 Anak Saiyan itu masih membuat kekacauan, tingkah mereka sampai merusak perabotan ruang makan, di tambah Hit dan Vados yang mulai bergabung.
"AAAAAAA! TIDAK! RUANG MAKAN KU!"
Champa berteriak histeris.
Dan kekonyolan mereka berakhir dengan ledakan beam.
To be continued
