Beautiful Heart
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
Baru saja Kiba menggandeng tangan si tetangga untuk ia ajak masuk ke rumahnya, Ino justru hanya diam di tempat.
"Ayo ikut aku,"
Ino menggeleng. "Tidak mau. Kau dan Sakura harus bicara tentang orang tua kalian. Aku tidak mau ikut campur."
Kembali Kiba mengeratkan genggamannya. "Orang tuaku adalah orang tuamu, dan orang tuamu sudah pasti orang tuaku juga."
Dengan berakhirnya kalimat Kiba yang mampu membuat jiwa raga Ino melayang, mereka berdua berjalan beriringan untuk menemui Sakura dan Matsuri yang sedang mengetuk pintu rumah.
"Permisi, ada orang di rumah?" Sakura masih sibuk mengetuk pintu.
"Hei, kami di sini." Kiba melemparkan senyumannya, ia menarik Ino agar tidak beranjak dari sisinya.
"Ah kak Kiba, maaf mengganggumu." Sakura memperhatikan tautan tangan dua orang di hadapannya.
Pasti perempuan ini sangat berharga bagi kakaknya.
"Tidak apa, ayo masuk." Lagi-lagi Kiba membuka pintu masih dalam genggaman tangan Ino.
Saat duduk pun, tangan mereka tidak terlepas. Entah si tetangga ini melakukannya untuk dipamerkan kepada Matsuri atau murni karena meminta kekuatan dari Ino. Karena Kiba sendiri sempat bilang hatinya bisa kapan saja runtuh kalau-kalau Sakura datang lagi dan membicarakan ayahnya.
Maka dari itu, Ino tidak punya keinginan untuk melepaskannya.
"Mau ku buatkan teh?"
Baik Sakura dan Matsuri menggeleng.
"Aku akan bicara cepat saja, karena aku yakin kak Kiba tidak suka membicarakan ini terus menerus denganku."
Kiba mengangguk. Ia tersenyum di hadapan dua perempuan ini, berpura-pura melupakan rasa sakit yang sudah berlalu namun teramat sangat membekas kala itu.
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan?"
Belum sempat Sakura bicara, Matsuri sudah menginterupsi lebih dahulu. "Eumm, sebelum itu.. aku ingin minta maaf padamu Kiba. Soal masalah yang sudah ku perbuat saat itu, aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti siapapun."
"Tidak apa." Kiba tersenyum.
Ino tidak tahu kalau hati Kiba ternyata bisa seindah itu, dia berubah jadi pemaaf. Si pemarah yang sudah berkali-kali merusak barang-barang di rumahnya termasuk vas, remote tv dan bahkan ponselnya sendiri setelah patah hati dari Matsuri ini mau tersenyum dan berkata tidak apa-apa.
"Aku sungguh minta maaf." Matsuri mengulangi perkataannya.
"Aku sungguh tidak apa-apa, yang sudah berlalu jadikan pelajaran saja. Lagipula sekarang aku sudah bahagia." Kiba menoleh ke samping, tepat di mata Ino.
Ino sendiri hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Baiklah sekarang giliran Sakura. Kau mau mengatakan apa?"
Sakura sempat tersentak saat Kiba memanggil namanya. Ini yang pertama kali ia mendengarnya. "Kak Kiba,"
"Ya?"
Tapi belum sempat mengatakan apapun, Sakura sudah menitikkan air mata terlebih dulu. Kiba kaget karena ia kira Sakura tidak akan serapuh ini hanya karena membicarakan orang tuanya.
Tapi mungkin perempuan ini belum lama kehilangan kehadiran orang tuanya, beda dengan Kiba yang sudah bisa membiasakan diri sejak lama.
Ino yang tidak ada kerjaan langsung menyodorkan tisu. Sakura mengambilnya sambil mengucap terima kasih berkali-kali.
"Kau baik-baik saja? Kau yakin bisa melanjutkannya?" Matsuri menepuk-nepuk punggung Sakura.
"Tidak apa, aku hanya ingin masalah ini segera berakhir."
Sakura menghirup napas perlahan. "Kak Kiba, aku minta maaf karena kekacauan yang kami buat beberapa waktu lalu. Aku tiba-tiba mengaku sebagai adikmu dan kau harus mendengar cerita yang begitu menyedihkan itu."
"Tapi kenapa begitu aku mengatakan segalanya, kau justru tidak pernah datang lagi? Kenapa kau tidak datang dan menanyakan apapun agar banyak pertanyaan di kepalamu bisa ku jawab dengan lebih jelas? Apa kau membenciku karena semua itu?"
"Tidak. Tentu saja tidak." Kiba menggeleng cepat.
"Aku tentu sedih mendengarnya, tapi aku tidak pernah sekalipun membencimu. Aku diam karena tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Selama ini aku selalu memikirkannya tapi tidak menemukan solusi." Cengkeramannya pada tangan Ino menguat.
Ino hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggung Kiba, berusaha mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja lewat sentuhan tangan.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu lagi?" Sakura sudah berhenti menangis, ia kini menatap penuh harap pada Kiba.
Kiba mengangguk mengiyakan.
"Apa kau bersedia menganggapku adikmu?"
Kiba terdiam, ia butuh waktu untuk memikirkan yang satu ini.
Tidak mendapat jawaban, Sakura hanya tersenyum sambil membuang muka ke arah jendela, memandangi pekarangan Kiba yang agak gersang.
"Kiba," Ino berusaha meruntuhkan keraguan Kiba, ia menepuk-nepuk punggung si tetangga makin cepat.
"Tidak apa kak, aku juga tidak berharap terlalu banyak." Sakura tersenyum manis pada Ino.
Kiba masih diam, matanya sudah bergerak ke sana kemari sejak tadi.
"Meskipun begitu," Sakura berdehem.
"Ku rasa kita akan tetap sering bertemu secara tidak sengaja di luar rumah nantinya. Aku harap kak Kiba tidak akan pura-pura tidak melihatku nanti." Perempuan itu memaksakan tawa.
"Tidak akan." Balas Kiba yang membuat semuanya kaget.
"Aku akan selalu menyapamu saat berpapasan di jalan, aku juga akan menganggapmu adikku, karena memang seperti itulah kenyataannya." Ternyata kehadiran Ino bisa menjernihkan pikiran Kiba yang tadinya buram.
Ia menghela napas pelan. "Apakah aku boleh bertemu ibumu sebentar? Aku ingin minta maaf atas kesalahan ayahku."
Sakura kembali berkaca-kaca mendengarnya. "Tentu saja. Tentu saja kau boleh menemuinya."
Tak berselang lama, Kiba berganti baju dan keluar bersama Sakura. Mereka akan pergi berdua ke penjara, meninggalkan Ino dan Matsuri di ruang tamu.
Ino yang tadinya canggung duduk berdua dengan Matsuri jadi agak terbantu begitu melihat Naruto dan Hinata sudah ada di depan. Dua orang itu masuk dengan raut muka bingung.
"Kiba pergi dengan siapa?" Naruto duduk di samping Ino dan Hinata di samping Matsuri.
"Sakura. Dia adik Kiba." Jawab Ino pelan.
"Lalu mereka mau kemana?" Hinata gantian bertanya.
"Ke penjara menemui ibu Sakura." Matsuri yang menjawab sambil tersenyum manis.
"Oh astaga, kita belum berkenalan. Kenalkan aku Hinata, yang itu Naruto, dan satunya lagi Ino."
"Halo," Sapa Naruto ramah.
Matsuri memperhatikan satu persatu wajah yang ditunjuk oleh Hinata. "Ah iya, salam kenal semuanya. Aku Matsuri, teman Sakura. Kami tinggal satu kontrakan."
Ino tersenyum dalam hati. Ternyata Matsuri manis juga, ia jadi tidak tega pernah membenci perempuan yang pernah tidur di pelukan Kiba ini.
Tapi tetap saja, ia akan selalu waspada.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : maafkan aku kalau ada typo. :D
