.
.
.
Namjoon menggosok-gosok sarung tangannya usai memarkir sepeda di petak tanah Jiwoo & Bi. Hari terakhir di kampus sebelum sisa penghuni asrama pulang sejenak ke rumah masing-masing untuk merayakan Natal. Meski tak religius, Namjoon selalu antusias mendekorasi batang cemara dan menemani ibunya menjejalkan adonan isi ke perut kalkun. Jungkook ikut ke Daegu demi urusan yang Namjoon tak ingin tahu, sementara Jimin berangkat ke Busan sore nanti. Sisa liburan akan digunakan panitia untuk rapat mingguan setelah tahun baru, dan Namjoon punya cukup waktu untuk beristirahat sebelum kembali memeras otak.
Seokjin, yang juga berniat pulang ke Gwacheon selama dua hari, menyanggupi ajakan pergi ke kafe milik kakak perempuan Hoseok tersebut. Tak banyak menuntut, Namjoon hanya ingin minum dengannya sambil menghabiskan siang, tipikal kencan sederhana yang diimpikannya semenjak sang senior mulai melunak, sekaligus membayar lunas apa yang sempat tertunda nyaris dua tahun silam—mengungkit sakit hatinya yang harus menyaksikan Seokjin meninggalkan tempat itu bahkan sebelum mereka bertemu, dan membuat Namjoon terpaksa menyesap kopi di dekat jendela seorang diri.
Aku harus ke rektorat sebentar, akan kususul secepatnya. Kau bisa menungguku di luar atau langsung pesan sesuatu. Tak akan lama.
Atau setidaknya begitulah yang diucapkan pemuda berkulit putih itu saat Namjoon menawari boncengan di sepeda kayuh yang disewanya dari rental fakultas. Seokjin melirik penuh penilaian dan berujar menyelidik, tentang apakah tujuan membawa satu sepeda hanyalah modus Namjoon supaya pinggangnya dipeluk sebagai pegangan.
"Bukan kok, hyung."
"Yakin?"
"Tanpa dipegang hyung pun, aku tak akan kemana-mana. Masih di hatimu."
"..."
Sejatinya terbersit keinginan belajar mengemudi untuk mendapatkan lisensi, agar suatu hari Namjoon bisa menaiki kendaraannya sendiri dan tak melulu mengayuh pedal atau naik taksi. Namun karena Seokjin terlanjur mengamuk kala mendapatinya keliru membedakan injakan rem dan pijakan gas, Namjoon terpaksa mengurungkan niat demi keselamatan nyawa. Baru resmi menyandang status kekasih kurang dari sebulan, dia tak mau mati muda akibat kecelakaan.
"Sendiri, Namjoon-ah?"
Paras cantik yang familiar menyapanya dari bingkai jendela lantai dua diikuti lambaian tangan. Namjoon membungkuk sekilas serta balas menyahut agak kencang ketika wanita itu mengangkat alis, "Menunggu seseorang, nuna!"
"Kukira mau pesan kopi pahit lagi."
Tertawa kecil seraya menggelengkan kepala, Namjoon menambahkan, "Kuharap tidak."
Sebab Seokjin tak akan meninggalkannya seperti dulu.
Benar kan?
Memeriksa arloji di tangan kiri, Namjoon tak sengaja melirik temali biru bekas pelatihan yang masih melingkar di pergelangan. Nyaris pudar menyedihkan, namun enggan ditanggalkan oleh sang pemilik. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan di dalamnya dan Namjoon sangat berhutang budi. Jika bukan karena benda tersebut, keteguhan untuk tetap menjaga hati demi seniornya bisa goyah di tengah jalan. Tidak mudah mempertahankan rindu agar senantiasa menyala dari seberang benua. Di negeri orang, sendirian, dan masih berusia sembilan belas tahun kala itu—sangat wajar untuk sedikit bermain-main. Namjoon tak akan menampik bahwa dirinya sempat tergoda hingga hendak mencoba. Tapi bagai sebuah mantra ampuh, gelang usang itu seolah mengingatkannya agar tak berbuat lebih jauh. Ada sesuatu yang harus dituntaskan diantara mereka, dan kenyataan bila Seokjin memilih tak berkencan selama Namjoon pergi, semakin menguatkan hasratnya untuk segera kembali.
Tak banyak perubahan yang terjadi meski julukan keduanya bukan lagi lawan dalam orientasi. Seokjin masih gemar berteriak dan menegurnya tiap melihat Namjoon bermanis-manis dengan calon panitia. Beralasan tak boleh lunak terhadap anak buah karena jabatan sebagai ketua tim kedisiplinan, Namjoon tahu pemuda itu menyimpan maksud tertentu.
"Hyung cemburu ya?"
"ENAK SAJA! SIAPA?"
"Tenang saja. Walau sudah lulus nanti, cintaku pada hyung tak akan terganti."
"Diam kamu!"
Seokjin bukan tipe pasangan yang akan membawakanmu makan siang di kotak lucu berlauk warna-warni, bukan seseorang yang mendatangi kelasmu sekadar berucap selamat pagi, juga bukan jenis yang menjejali notifikasi berbekal pertanyaan apakah kau sudah sarapan hari ini. Seokjin adalah pemuda yang mencurahkan perhatiannya lewat tatapan mata dan sentuhan penuh rasa. Juga sangat menghargai jarak pribadi dan tak banyak menyelidik, kecuali jika gerak-gerik Namjoon mulai tampak mencurigakan. Seperti mendadak cuek tanpa sebab dan bersikeras mengantar Seokjin hingga pintu kamar asrama, pun menolak menjawab sewaktu ditanya ada apa. Tak memiliki pikiran buruk, Seokjin membiarkan pemuda itu membukakan pintu serta berujar sampai jumpa, hanya untuk dikejutkan oleh sentakan lengan dan sebuah kecupan di pipi kanannya.
"Seharian ini hyung manis sekali, pikiranku jadi tidak fokus."
Dan Seokjin langsung meninju perutnya.
Mohon maaf, bukan mau Namjoon terpesona, salahkan seniornya yang terlalu indah. Sudah tak terhitung berapa pasang mata yang, baik disengaja maupun tidak, mencuri-curi pandang ke arah kakak angkatan bertubuh semampai tersebut. Kendati Mingyu sudah memberitahu jika mantan ketua pengawas tak perlu repot menghadiri sesi latihan, yang bersangkutan tak menggubris dan kian serius menopang dagu di seberang aula. Kadang ikut berpanas-panas di lapangan, mencermati bagaimana anggota komisi baru menghayati tugas mereka.
Jungkook sewot, sebab kehadiran Seokjin mengandung arti bahwa mereka tak boleh berlaku lengah barang sekejap. Padahal hanya simulasi, tapi bentakan Seokjin soal posisi serta kelantangan suara kerap terlontar kencang bak orientasi sungguhan. Tak ada yang boleh menyentuh meja ransum sebelum berhasil memenuhi level oktaf yang diinginkan Seokjin. Yoongi sampai terbatuk-batuk sambil mengumpat. Sudah dijemur, disuruh menjerit pula. Mujur alergi mataharinya sudah membaik setahun belakangan.
"Namjoon."
"Ya?"
"Bawa pacarmu pulang dan gagahi dia supaya diam."
Sebutir kerikil dilempar dari jarak jauh mengenai kepala Yoongi, sumpah serapah Seokjin ikut bergema diikuti tawa Namjoon yang membahana. Tak lagi punya jadwal kuliah dan hanya menunggu wisuda tak menyurutkan semangat pemuda itu untuk memantau adik-adiknya. Hoseok dan Chanyeol bergantian membawa konsumsi seraya bergurau kalau juniornya harus patungan membayar tagihan, sementara Taehyung yang baru-baru ini mulai menemani dosen kalkulus sebagai asisten, lebih suka melipir menjahili remaja bongsor yang makan seperti kesurupan.
Bicara mengenai saingan, Namjoon cukup sibuk membagi konsentrasi agar tak terpecah tiap kali melihat Seokjin dicegat di tengah koridor atau diajak menepi ke sudut kantin oleh seseorang. Dua mahasiswa tahun pertama mengutarakan ketertarikan di minggu awal Desember. Satunya mengaku menaksir cukup lama, satu lagi terpikat semenjak ditolong Seokjin menyelesaikan makalah. Seorang penghuni fakultas psikologi semester empat menyodorkan tiket bioskop di pekan yang sama, berkata ingin menguji peruntungan usai menguping rumor bila Seokjin menggemari pria berusia lebih muda.
Kesal? Jelas. Namjoon bukan malaikat yang tak bisa marah. Walau Seokjin sudah berkali-kali menegaskan statusnya yang tak lagi sendiri, beberapa orang malah berlaku pura-pura tuli serta terus berupaya merebut perhatiannya tanpa memperdulikan keberadaan Namjoon. Akan tetapi, saat keluh kesahnya diutarakan, sosok pujaannya hanya memutar mata jengah sembari menghentikan langkah, kemudian menoyor dahi Namjoon yang mengerjap tak paham.
"Menggerutu terus, kau kira aku tidak keberatan melihat para mahasiswi itu memanggilmu ke perpustakaan dengan dalih minta bantuan?"
"Tapi aku menolak mereka semua, hyung!"
"Aku juga sama, bodoh! Manusia sinting macam apa yang menyanggupi tawaran saat masih punya pacar? Aku juga tak minta ditaksir banyak orang."
"Soalnya hyung cantik."
"...tutup mulutmu."
Namjoon suka melihat raut Seokjin merona akibat perkataannya. Namjoon suka menyaksikan bagaimana Seokjin berusaha menghalau rayuannya dengan ancaman kosong atau sebuah pukulan di bahu. Cara keduanya mengungkapkan kekaguman pun bak dua sisi mata uang. Seokjin tak pandai menggubah kalimat pujian dan hanya berkomentar gamblang ketika merasa terpukau, tidak seperti isi kepala Namjoon yang puitis bercampur diksi-diksi hiperbolis. Ada kebanggaan tak terkatakan tiap kali dia berhasil membuat telinga Seokjin memerah sampai pemuda itu harus menangkupkan tudung baju rapat-rapat, menjegal betis Namjoon, diikuti gerung sebal karena mereka masih di koridor dan orang lain bisa mendengar. Seokjin malas melewatkan siang dengan diledek junior atau rekan sejurusan.
"Nanti jalan ke pusat perbelanjaan saja, ada festival makanan Thailand. Hoseok sempat pergi kemarin lusa dan katanya enak."
"Tidak ah, takut."
"Takut antri panjang?"
"Takut kehilangan hyung."
Giliran rambut Namjoon dijambak kali ini.
Kendati belum bebas membawa Seokjin ke banyak tempat seperti impiannya karena urusan kampus dan sejumlah wawancara kerja, Namjoon tak lantas meracau kecewa. Ada kejutan kecil yang ingin diberikan sebagai kado tahun baru, segera setelah pemuda itu berujar akan menjanjikan waktu kosong selama Januari. Tak masalah dibilang boros atau berlebihan. Asal bisa menghabiskan liburan berdua, Namjoon rela menyediakan segalanya.
"Jangan melamun, nanti kerasukan."
Tersentak kaget, Namjoon buru-buru mengibaskan kepala saat memergoki teguran itu bukan imajinasi semata. Seokjin benar-benar ada di hadapannya dan tengah melipat tangan di depan dada, kening tertekuk tujuh, bingung mengapa Namjoon mematung menyerupai manekin di pelataran kafe, "Kenapa tidak masuk?"
"Menunggu hyung."
"Di dalam juga tak apa."
"Maunya begitu, tapi..." Namjoon mengambil koma sekilas, lalu melirik penampilan seniornya yang mengenakan sweater putih berbalut syal pemberiannya di leher. Sarung tangan beserta celana warna senada kian menjadikan Seokjin seperti bantal bulu raksasa. Gemas, Namjoon tertawa ringan, "Aku lebih suka menunggu di sini."
Iseng mengganti kaitan panjang tali ransel, Seokjin menyahut santai, "Kenapa?"
"Memastikan hyung tak dicegat sesuatu."
Gerakan Seokjin reflek terhenti di udara, kepalanya berpaling ke arah Namjoon yang terdiam setelahnya. Dia yakin sang junior hanya melontarkan keresahan batinnya secara spontanitas, bukan mengungkit apalagi menyindir. Namun denyut tak nyaman di dadanya membangkitkan rasa bersalah yang belum sepenuhnya dilupakan Seokjin. Tidak satu kali dirinya membiarkan pemuda itu menanti di tengah kesunyian dan mengingkari pertemuan mereka demi seseorang. Seokjin sangat mengerti jika tindakannya menorehkan sedikit trauma di benak Namjoon hingga saat ini.
"Maaf, aku tak bermaksud..."
"Aku tahu," potong Seokjin cepat, air mukanya melunak seketika, "Aku akan masuk ke sana, bersamamu."
Mengangguk cerah, Namjoon segera menyodorkan telapaknya yang juga terbungkus sarung tangan, meminta kesediaan menggandeng Seokjin yang balas merutuk tersipu, "Apa sih."
"Boleh?"
Banyak omong, sok tahu, pintar membual, keras kepala, tapi romantis. Perpaduan yang amat menyebalkan dan Seokjin heran mengapa dirinya tak bisa membangun pertahanan. Harusnya mudah melempar komentar pedas atau menolak uluran tangan itu jika dia mau, tapi sorot hangat dari tatapan Namjoon menelan balik segala hal yang bersiap lolos dari mulutnya.
"Baiklah, a..."
"Jinjin."
Jemari Seokjin terpaku di atas telapak tangan Namjoon yang terbuka. Mata membola terkejut seperti halnya Namjoon yang langsung berpaling begitu mendengar panggilan tersebut. Dua pasang mata terpaku mendapati sosok yang menjulang dua langkah di depan, berbalut setelan coklat tua dan cekatan menyambangi tujuannya tanpa basa-basi, "Jinjin."
Tak lekas menjawab, Seokjin menggenggam tangan Namjoon lebih dulu seraya menurunkan tautan mereka ke balik punggungnya. Mata menyipit mendapati tamu tak diundang yang sekonyong-konyong muncul seperti hantu. Inderanya bahkan tak menyadari derap sepatu menghampiri mereka sejenak tadi, atau mungkin Seokjin terlalu sibuk mengaburkan kecemasan Namjoon tentang Hyosang.
Sekarang pria itu betul-betul hadir menyela percakapan tanpa diundang, di tempat dan waktu yang hampir serupa. Sungguh tak masuk akal dan Namjoon tak bisa menahan diri untuk menghakimi.
"Ada maumu?"
"Aku ingin bicara dengan Jinjin."
"Tak ada lagi yang perlu didiskusikan," Namjoon menjawab cepat, "Masalahmu sudah selesai sejak lama."
"Masalahku?" Hyosang bertanya lebih sarkastis, mengambil satu langkah mendekat tepat di depan hidung Namjoon, lantas mengeja kata-katanya berbaur asap samar dari napas yang menguar, "Ini masalah kami, Kim Namjoon. Kami."
Jakun Namjoon bergerak tertahan, rahang mengeras seraya meremas kaitan di sela-sela jari Seokjin yang melirik dengan terpana. Kiranya menebak betapa kuat genggaman pemuda itu sampai ruas-ruasnya memutih. Kenyataan bila pandangan Hyosang terpancang lurus menuju wajah Seokjin, semakin memantik amarah Namjoon yang berusaha tak terpancing emosi. Pria ini, pria yang selama ini menjadi tembok tebal di sekeliling Seokjin, menghalanginya dari segala cinta yang datang dan sulit disingkirkan.
Kini setelah Namjoon berhasil menghancurkan dinding tersebut, Hyosang kembali menyusup diantara mereka tanpa sungkan, tanpa rasa bersalah. Juga terang-terangan membusung di samping Seokjin serta menudingkan telunjuknya ke arah Namjoon yang sontak mengernyit.
"Ini tak ada hubungannya denganmu, jadi sebaiknya kau tutup mulut."
"Hal yang menyangkut Seokjin-hyung adalah urusanku juga," tukas Namjoon enggan menepi, "Jangan bertingkah seperti diktator di sini, senior. Hyung bukan boneka yang bisa kau buang dan kau pungut sembarangan. Tak perlu besar kepala hanya karena pernah disukai olehnya."
"Oh ya? Lalu kenapa?" Hyosang menyahut congkak, satu alis menukik tak senang, "Aku cinta pertamanya, tipe idealnya, dan satu-satunya pria yang diharapkan Seokjin sampai kapanpun. Dia tak mungkin mengatakannya padamu, tapi aku yakin dadanya selalu berdegup kencang tiap kami berada sedekat ini."
"Sekali pembohong tetap pembohong."
"Aku berbohong untuk Seokjin dan masa depan kami. Tidak sepertimu yang memelas seperti pengemis."
"Kau—"
"Namjoon," sebuah usapan mendarat di lengan kanannya, mengelus sekilas seraya perlahan melepas tautan jemari. Tercengang, Namjoon mengerutkan dahi serta memandang heran pemuda di sisinya penuh tanda tanya, "Masuklah, biarkan kami bicara."
"Hyung?"
"Masuklah," pinta yang bersangkutan sembari menggerakkan dagu ke pintu kafe, "Pesankan aku Cappuccino."
"Tapi..."
"Aku tak akan kemana-mana," sahut Seokjin, menatap lekat matanya yang berpendar gusar, memastikan Namjoon menangkap kalimatnya sebelum menambahkan, "Akan kususul sepuluh menit lagi, aku janji."
Mengaburkan kondisi sekitar dan menyatukan fokusnya dalam ekspresi serta ucapan Seokjin, Namjoon membisu beberapa saat sebelum mengambil langkah mundur. Ekor mata menilik sekelebat kepuasan di mimik Hyosang yang menanggapi katup rapat mulut Namjoon diiringi dengus remeh. Tak mau membantah permintaan Seokjin, Namjoon berbalik menelusuri sisa langkah dan menaiki tangga ke lantai atas. Sempat dilihatnya pria itu mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi, kendati sigap ditampik oleh Seokjin yang berdecak risau.
"Masih memblokir nomorku?"
"Yep."
"Jinjin, tolonglah."
"Kau yang harus berhenti terobsesi, hyung," ujar Seokjin mencela, "Jangan mengira aku akan terus terkungkung dalam bayang-bayangmu selamanya. Aku memang pernah menyukaimu, berharap kita bisa bersama dengan segala jenis khayalan konyol lain yang membuatku ingin muntah. Kau malu mengakui ketertarikanmu pada lelaki dan penolakanmu membekas bertahun-tahun," geram pemuda itu, tak berkenan paragrafnya disela, "Tindakanmu membangun persepsi bodoh di ingatanku bahwa segala bentuk perhatian dari sisi manapun akan berujung sama. Termasuk mengabaikan sosok yang berjuang total memulihkan instingku untuk berdamai dengan sekeliling, melunakkan Kim Seokjin yang sekeras batu, dan membantuku melupakanmu."
Hyosang berkedik skeptis, "Tidak, kau tak akan bisa."
"Sulit, tapi bukan berarti mustahil," giliran Seokjin terpelatuk, kesal argumennya direndahkan, "Jika ada yang mampu menaklukkan ego dan menerima perangai ketusku dengan sabar, kenapa aku harus berkata tidak? Kau kira kau siapa, hyung?" ucapnya sembari memiringkan kepala, "Ada banyak pria yang berbaris menanti persetujuanku dan aku bisa mendapatkan siapapun jika mau."
"Tapi kau tetap berjalan sendiri," celetuk Hyosang, mendesis tak percaya, "Kalau benar ingin melupakanku, kenapa tak dilakukan dari dulu?"
"Karena aku tolol," pemuda itu mengutuk kelengahannya dua tahun belakangan, "Harga diri dan kesombongan membuatku nyaris kehilangan seseorang. Dia, junior yang antusias bekerja keras, menarikku dari kemurungan serta rasa pesimis berkepanjangan. Pemuda penuh semangat yang tak lelah mengejar agar semua memori burukku terhapus dan rela menanti walau kusakiti terus menerus. Menyebalkan, tapi sangat setia."
Bola mata Hyosang melipir ke selusur tangga diikuti ejek pelan bernada cibiran, "Bocah itu?"
"Bukan bocah, tapi pria jantan yang tak segan menyatakan perasaannya di hadapan semua orang," celetuk Seokjin, menjawab lengkap penuh kebanggaan, "Kim Namjoon, kekasihku."
Sepotong kata terakhir memaksa pupil Hyosang melebar, berpendar terkejut seraya mencari-cari kebohongan yang tak dia temukan di pantulan mata Seokjin. Lawan bicaranya bungkam sejenak, menggali lubuk ingatan tentang mengapa dia harus hinggap di romansa yang salah. Terbersit sedikit permohonan agar masa bisa berulang dan kebimbangannya menghilang. Namun Seokjin menyadari bila alur asmaranya telah digariskan sedemikian rupa hingga sampai di titik ini.
Atau mungkin dia harus berterima kasih pada pengalaman pahit yang menjadi palang rintang tersulit bagi siapapun yang ingin mendekati. Sebuah seleksi alami untuk membuktikan kesanggupan mengenal pribadi Seokjin lebih jauh, menyaring lidah-lidah penuh omong kosong yang memuja wujud tanpa kemauan memperjuangkannya, serta menyisakan satu kepala yang bernyali sekuat baja.
"Senior Eunkwang mengabarkan perceraianmu sebulan lalu, dan sepertinya dia tak membual sebab alumnus lain ikut prihatin," cecarnya, menggeleng-gelengkan kepala, "Jika ini termasuk senjata andalanmu supaya aku mengiyakan, maka kau salah besar. Sekeras apapun mencoba, aku tak akan terbujuk."
"Visiku dan Dasom tak lagi sejalan, kami bahkan tak serumah cukup lama," Hyosang berkelit, menyibak rambutnya resah, "Hak asuh putra kami jatuh ke tangannya dan aku resmi jadi pria lajang. Tak ada lagi yang menghalangi kita bersama."
"Hatiku," sanggah Seokjin lantang, "Hatiku sudah tak berdebar untukmu, hyung."
"Bohong."
"Silakan mengukir delusi di kepalamu selamanya. Aku tak keberatan mengeja ulang agar kau mencermati ini baik-baik," delik yang bersangkutan. Keberaniannya bergelora seperti gemuruh ombak, tak limbung apalagi gentar, "Kau bukanlah prioritas yang perlu kukhawatirkan. Selama satu setengah tahun ini, hanya satu nama yang memenuhi pikiranku seperti anomali, mengenalkanku dengan rindu serta dorongan untuk bertemu. Namjoon mengajarkan padaku arti kesabaran dan pentingnya sebuah kejujuran. Kepergiannya membuatku menyesal dan meski tak sempat berterus terang, aku berharap dia tetap menyimpan rasa sampai kami diijinkan berjumpa."
Hyosang terdiam, lengan mengepal dan terbuka bergantian selagi mengamati Seokjin berujar. Betapapun bencinya akan situasi yang terpapar, namun binar jernih di kedua mata pemuda itu seolah menghantamnya dengan sebuah fakta, bila Seokjin telah menemukan alasan untuk kembali bahagia.
Dan bukan karena dirinya.
"Kau tak mencintainya, Jinjin."
"Belum," kilah Seokjin singkat, menghela napas panjang selagi menyusupkan masing-masing lengan dalam saku mantel, "Tapi aku sayang padanya."
Tak berkomentar, lelaki berjas gelap tersebut meneliti rautnya cukup lama. Teramat berhasrat bercampur harap jika Seokjin tengah menutupi kata batin akibat terlanjur menjalin hubungan. Namun semakin ditelaah, nyala kesungguhan di ekspresi Seokjin justru melemahkan bantahan yang hendak dilontarkan. Memaksanya menelan balik deretan kalimat di ujung lidah akibat delik tajam dari mantan juniornya.
"Sudah lewat sepuluh menit," pungkas Seokjin, menurunkan pergelangan selesai memeriksa arloji. Tali ranselnya dinaikkan terburu, "Maaf, waktu obrolan habis."
Memejamkan mata sekilas, Hyosang memastikan perlahan, "Apa kita masih bisa bertemu?"
"Kuharap tidak. Namjoon mudah tersinggung dan kami pernah berselisih akibat salah paham. Aku tak mau menyesal kedua kali, jadi sebaiknya hyung menghormati keputusanku," simpul Seokjin, mantap menorehkan tanda titik besar. Sudah cukup dengan ulah kekanakannya yang kerap plin-plan menanggapi keadaan. Giliran Seokjin untuk bertindak lebih tegas dan peka demi kebaikan mereka.
Sebentuk lengan menarik sikunya ketika akan beranjak. Menuntut, tak rela, diikuti mulut yang terbuka mencegah. Berdecak pelan, Seokjin menarik lepas gerutan tersebut sambil tersenyum datar.
"Kekasihku menunggu di atas, aku harus menghargai perasaannya."
Kegemingan Hyosang di petak halaman saat dirinya bergegas menaiki tangga tak mengusik Seokjin untuk mengintai ulang. Masa lalunya selesai di sini. Yang perlu dicemaskan sekarang adalah bagaimana dia memberitahu pemuda berkaki panjang di seberang sana, jika sebenarnya Seokjin tak suka Cappuchino.
Ah, sial, berlagak sok doyan kafein. Kalau Namjoon justru pergi dari pintu samping gara-gara jenuh menanti, Seokjin tak akan sungkan menggedor kamar asramanya dan meminta maaf kencang-kencang. Entah kemana raibnya logika serta harga diri setinggi langit di awal pelatihan—atau Yoongi benar. Kasmaran sanggup mengubah seekor singa menjadi domba.
Namjoon benar-benar tak ada di ruangan lantai dua sewaktu Seokjin masuk dengan tergesa, pun dilema ingin bertanya sebab kakak perempuan Hoseok sibuk membantu pegawai di meja konter. Pengunjung mondar-mandir di sekeliling, tak membantu penglihatan Seokjin yang terpaksa berputar menyelidik dari ujung kanan ke kiri. Pemuda itu bahkan tak tampak memilah-milah buku di sudut baca seperti perkiraannya. Lantas jika nihil di segala sisi, Seokjin harus mencari kemana?
Tiga karyawan kantor yang sedari tadi duduk berjajar di pojok barat bergerak menjauhi meja dan Seokjin spontan menekuk dahi. Satu celah pintu tunggal menuju teras terpampang jelas setelah punggung-punggung jangkung itu menyingkir. Tanpa pikir panjang, diseretnya ransel setengah berlari seraya menyerukan satu-satunya nama yang melintas di otaknya, sekaligus mencengkeram bingkai jendela begitu kakinya menapak di lantai beranda.
"NAMJOON!"
Tangan yang tadinya terangkat, sontak meletakkan benda yang dipegang ke tatakan cangkir. Pun segera bangkit dari duduk kala mendapati siapa yang baru saja memanggilnya. Mata mengerjap, menjulang seorang diri di naungan atap berisi dua kursi. Sorotnya menjelajah mimik terengah Seokjin dengan seksama, lesung pipi melekuk ramah menyikapi sepasang kaki yang bergerak menghampiri.
"Urusannya sudah se—OOOPS!"
Disambar mendadak, tubuh jangkungnya nyaris tumbang membentur meja jika tak buru-buru menguasai keseimbangan. Lengan kanan bertumpu di pinggiran dinding kayu, sementara lengan lain menopang punggung Seokjin yang merengkuh tanpa permisi. Memeluk lehernya, mendaratkan dagu di bahu Namjoon serta mendengus keras tepat di dekat telinga.
"Tidak bisa duduk di dalam saja, sialan? Kau membuatku khawatir."
Pemuda itu terbahak kecil, "Tempatnya penuh."
Baris gerutuan mengisi indera pendengaran Namjoon yang berusaha mengulum tawa, gemas bercampur pasrah. Hangat sentuhan di tengkuknya berisyarat jika Seokjin nyata berada di jangkauan, tak tergoda berbelok apalagi meninggalkannya. Menuntaskan pertimbangan negatif Namjoon tentang apakah dia butuh porsi besar espresso sebagai pengobat kecewa, juga sibuk menyalahkan diri atas asumsi yang tidak-tidak.
Lingkar tangan Seokjin merenggang kendati tak menjauh, melainkan beringsut menyamping untuk menyentuhkan pelipis mereka sambil berbisik gusar, "Maaf, lama?"
"Aku sudah terbiasa menunggu, hyung," celetuk pemuda itu, lugas, "Tergopoh-gopoh kemari, bukan demi menyampaikan salam perpisahan, kurasa?"
"Jangan konyol," Seokjin melengos, teringat seutas temali di saku mantel yang sedianya akan diberikan sedari tiba, "Sudah repot-repot meminta gelang orientasi ke bagian properti fakultas, mana mungkin kusia-siakan."
Kening Namjoon terlipat bingung, "Gelang?"
"Tali bekas pelatihanmu sudah terlalu usang, jadi kupesankan yang mirip."
"Oh."
"Tak mau dibuang?"
"Kenangannya banyak," tukas Namjoon, menjalarkan usapan sayang di bahu bidang Seokjin, tak terganggu kemungkinan diintip curiga sejumlah pengunjung yang kebetulan menilik teras. Benak beserta relungnya tengah diselimuti kelegaan yang tak mampu digambarkan oleh narasi, mendorong balik segala rayuannya dalam tenggorokan tanpa sempat diungkapkan. Membisukan keduanya yang abai pada riuh, bergeming menikmati degup masing-masing.
Seokjin di sini, batin Namjoon berulang kali. Di sini, bersamanya.
Jemari meremas punggung selagi hidung menyusup diantara helai rambut hitam beraroma beri, menghirup wanginya dalam-dalam berlatar hembusan semilir. Namjoon paham tautan ini harus diakhiri sebelum Dawon memergoki mereka sambil membawa kamera, tapi tiga menit tambahan tak akan merugikan siapapun.
"Biar kuganti kopinya dengan latte stroberi..." sergah Namjoon, membenamkan wajah di balik gundukan sweater diiringi gumam lirih, "Terima kasih sudah mau kembali, padaku."
Dan Seokjin mengeratkan pelukannya sembari tersenyum lembut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buat aku jatuh cinta sepenuhnya,
Namjooh-ah
.
.
.
.
.
