Title : Tears in the Thorn

Author : Elle Riyuu

Main Cast : Chanbaek

Genre : Romance, hurt/comfort

Rate : M

Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.

.

.

[CHAPTER 34]

.

.

.

Pintu sebuah ruangan terbuka dengan sangat kencang, mengagetkan orang-orang di sana. Tao keluar dari ruangan itu dengan wajah yang nampak panik.

"Dimana dia?" Tao bertanya dengan perawat yang juga ikut panik.

"Oh, Chanyeol!" Tao tiba-tiba memanggil Chanyeol yang menunggu Baekhyun dalam cemas. Tadi ia terlihat seperti mencari seseorang dan rupanya Chanyeol yang ia cari.

"Bagaimana-"

"Dengar! Dengar aku, kau harus menyetujui apapun yang aku anjurkan." Tao memotong pembicaraan Chanyeol. Pria tinggi itu terdiam, terhipnotis dengan perintah dokter kandungan yang menangani Baekhyun.

"Apa sesuatu terjadi?" Chanyeol tiba-tiba ikut merasa panik.

"Ya! Sesuatu terjadi dan aku harus mengambil sebuah tindakan. Baekhyun kehilangan banyak darah, kita seharusnya mencari seorang pendonor-"

"Aku akan mencarinya. Aku akan melakukan apapun agar Baekhyun selamat, kau tahu aku akan melakukan itu." Chanyeol memotong perkataan Tao dan hampir saja memerintahkan Jongdae untuk pergi kalau saja Tao tidak segera berteriak.

"Tapi kita tidak lagi memiliki waktu untuk menunggu!"

"Apa maksudmu?" Chanyeol terkejut setengah mati.

"Detak jantung bayimu melemah, kita harus segera melakukan operasi." Tao menjelaskan maksudnya dan itu membuat Chanyeol semakin terkejut.

"Tapi Baekhyun kehilangan banyak darah! Kau tidak boleh melakukan operasi terhadapnya! Aku tidak pernah mengizinkan!" Chanyeol meneriaki dokter kandungan itu, tidak peduli pergulatan lidah mereka menjadi bahan tontonan di sana.

"Jika tidak, kau akan kehilangan bayimu! Kau mungkin merasa itu lebih baik, tapi tidak untuk Baekhyun! Dengar, bagimu Baekhyun adalah segalanya. Tapi bagi Baekhyun bayi kalian berdua adalah segalanya. Semua ibu dan istri mencintai dengan cara seperti itu. Ia mencintai anaknya lebih dari dirinya sendiri karena anak itu mengandung darah dari orang yang dicintainya. Kau mengerti?" Tao memberi pengertian dan ia juga ikut berteriak. Ia tidak bermaksud untuk menyakiti Chanyeol, tapi ia tidak mau Baekhyun merasakan hal yang sama seperti apa yang Yixing dahulu rasakan. Dan ia tidak mau Chanyeol merasakan perasaan berdosa seperti yang ia rasakan di seumur hidupnya.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Nada suara Chanyeol terdengar putus asa. Matanya menampakkan kebimbangan dan kesedihan yang membuat nyeri hati Jongdae dan Tao yang melihatnya.

"Izinkan aku untuk melakukan tindakan operasi sementara kau mencari darah untuk Baekhyun. Aku akan melakukan pembedahan dengan hati-hati agar Baekhyun tidak banyak berdarah." Tao melunakkan nada bicaranya. Jika boleh jujur ia juga takut.

"Baiklah jika itu yang terbaik." Chanyeol hanya berbicara seperti itu dan Jongdae telah bergerak. Jongdae tidak perlu diperintah untuk mencari darah itu. Ia akan melakukan apapun agar Baekhyun dan keponakannya selamat.

"Tapi aku memohon satu hal padamu, Chanyeol." Tao melanjutkan perkataannya setelah Jongdae pergi dan perawat menyiapkan persiapan operasi.

"Aku mohon ampuni aku jika nanti aku membuatmu kehilangan salah satunya. Maafkan aku jika nanti aku membuat Baekhyun kehilangan banyak darah dan tidak sanggup bertahan. Maafkan aku juga jika nanti karena kehati-hatianku membedah Baekhyun, bayimu jadi tidak lagi sanggup untuk menunggu lama. Aku mohon ikhlaskan jika itu yang harus terjadi." Tao melanjutkan, kepahitan di nada suaranya meremas hati Chanyeol dan menggugurkan harapannya sedikit demi sedikit.

"Aku akan memaafkanmu, aku mungkin akan memaafkanmu. Tapi untuk mengikhlaskan, kurasa aku perlu waktu seumur hidupku." Ia tidak bisa ikhlas karena ia mencintainya, karena ia sangat mencintai istrinya dan bayi yang bahkan belum pernah ia lihat dan sentuh rupanya. Karena ia tidak bisa mengikhlaskan meski ia pernah belajar untuk ikhlas. Ia tidak bisa jika hidup tanpa Byun Baekhyun yang tersenyum bersama bayinya.

Ia tidak akan pernah sanggup, mungkin sampai mati. Karena ia mencintai dan jatuh terlalu dalam. Karena mereka berbagi napas yang sama.

.

.

"Chanyeol, cobalah untuk sedikit lebih tenang." Joonmyeon yang baru saja datang segera menghampiri Chanyeol. Chanyeol terlihat sangat cemas dan berantakan, Joonmyeon jadi khawatir. Hanya satu yang membuatnya sedikit lega, Chanyeol sudah mengganti pakaiannya. Itu berarti Jongdae menuruti perkataannya saat Jongdae datang ke rumahnya dan Yifan.

"Joonmyeon." Chanyeol menggumamkan nama Joonmyeon dalam sebuah bisikan. Ia tidak terkejut, hanya heran bagaimana Joonmyeon bisa berada di sana saat ia tidak mengabari siapapun.

"Ia datang bersama Yifan, aku yang meminta mereka kemari. Kita perlu darah, hanya Yifan, Sehun dan Luhan yang memiliki golongan darah yang sama dengan Baekhyun hyung. Tapi aku tahu kau pasti melarang aku memberitahu Sehun agar Luhan baik-baik saja di sana. Jadi aku memberitahu Yifan dan memintanya untuk mendonorkan darahnya." Jongdae menjawab pertanyaan yang tidak Chanyeol utarakan. Ia hidup bersama Chanyeol selama hampir di seumur hidupnya sehingga menjadi sangat mengenal perangai pria itu.

"Oh, astaga. Terima kasih, Joonmyeon. Aku tidak tahu bagaimana lagi harus mengungkapkannya padamu." Chanyeol segera menghampiri Joonmyeon dan memeluknya dengan erat.

"Chanyeol, bukan aku yang mendonorkan darah. Kau seharusnya mengatakan itu pada Yifan." Joonmyeon membalas pelukan Chanyeol dengan senyuman yang bahkan terdengar dari nada suaranya. Ia menepuk pundak lebar Chanyeol dengan hangat, menyadari banyaknya beban dan rasa khawatir yang harus pundak kokoh itu pikul.

"Tapi aku tahu kau adalah orang pertama yang memaksa Yifan untuk pergi. Kau mengerti kekhawatiranku. Kau juga telah percaya bahwa aku sudah berubah." Chanyeol benar-benar berterimakasih. Ia tahu Joonmyeon adalah salah satu orang yang menentang perjodohannya dan Baekhyun serta sangat membencinya, tapi Joonmyeon juga yang lebih dahulu mempercayainya untuk menjaga Baekhyun.

"Ya, aku tahu kau sudah berubah, Chanyeol. Kau sangat mencintainya dan aku akan selalu berusaha membantu agar kalian terus bersama. Baekhyun bahagia denganmu sekarang, karena itu aku meminta Yifan untuk mendonorkan darahnya agar Baekhyun dapat merasakan apa yang dimaksud hidup dengan bahagia di sisa kehidupannya." Joonmyeon menjelaskan dengan lembut, tangannya mengelus punggung Chanyeol dengan penuh kehangatan. Hingga suara deheman mengusik dan membuat mereka memilih untuk saling menjauhkan tubuh.

"Istrimu sedang berjuang di dalam dan kau malah berpelukan dengan milik orang lain." Itu Yifan yang berbicara. Ia tidak benar-benar cemburu sebenarnya, hanya saja ia rasa ia ingin sedikit menghibur Chanyeol.

"Ya, begitulah." Dan Chanyeol menyahut sekadarnya setelah terkekeh kecil.

"Sudah selesai?" Suara lembut Joonmyeon mengalun untuk bertanya. Yifan tetap terlihat baik meski segumpal kapas berada di lipatan lengannya.

"Sudah, jangan khawatir. Sebentar lagi darahku akan diberikan untuk Baekhyun." Yifan menyahut, menenangkan hati orang-orang di sana.

"Terima kasih, Yifan. Jika bukan kau, aku tidak tahu ke mana lagi harus mencari." Chanyeol menghampiri Yifan dan memeluknya singkat. Ia merasa bersyukur dikelilingi orang-orang yang luar biasa baik meski ia sendiri adalah seorang berengsek.

"Simpan rasa terima kasihmu itu. Berikan pada Baekhyun dalam bentuk cinta dan kasih sayangmu padanya. Jaga ia sepenuh hati, kau harus yakin kalau kau pasti bisa." Yifan menepuk pundak Chanyeol. Ia tidak mau perbuatannya hanya hilang dalam ucapan tanpa pembuktian.

"Ya, Yifan." Chanyeol menyahut dengan yakin. Ia benar-benar berterimakasih dengan saudara berbeda darah dengannya itu.

"Sekarang kau bisa sedikit lebih tenang. Paramedis sedang menyiapkan darahku untuk Baekhyun. Aku berharap semoga darah itu membawa kebaikan untuknya." Yifan mengusap bahu Chanyeol yang sedikit melemas. Mereka yang ada di situ sama-sama berharap semoga Baekhyun bertahan bersama makhluk mungil yang telah mereka nanti kehadirannya sejak lama.

.

.

Operasi menjadi lebih lama dari biasanya. Operasi untuk pengangkatan bayi ini menjadi terasa sangat menyiksa. Chanyeol masih duduk dalam cemas setelah tadi dipaksa oleh Yifan yang bahunya digunakan untuk menyangga Joonmyeon yang tertidur. Sedangkan Jongdae pergi untuk mengantar Minseok dan mengambil pakaian ganti Chanyeol. Setidaknya ia tahu Chanyeol akan menginap melihat bagaimana kondisi Baekhyun dan bayinya.

"Chanyeol, apa yang kau pikirkan?" Yifan seperti membaca pikiran Chanyeol yang duduk diam di sebelahnya. Pria itu tidak bisa bergerak banyak, tapi ia masih bisa menggerakkan tangannya untuk mengusap bahu Chanyeol dan menolehkan kepalanya untuk memberikan tatapan lembut.

"Tidak ada, aku hanya takut. Ada banyak sekali kemungkinan yang berputar di kepalaku, tapi muaranya akan selalu menuju pada rasa takut itu. Aku tidak ingin berpikiran negatif, tapi kepalaku sangat penuh dengan itu." Chanyeol terdengar frustasi dan Yifan dapat memahami itu. Jika ia di posisi yang sama sepertinya ia juga akan melakukan hal yang sama.

"Semua akan baik-baik saja. Kau tahu istri dan bayimu sangat kuat. Mereka kuat, oleh karena itu mereka menjadi milikmu." Yifan menenangkan, memerankan posisinya dengan baik sebagai seorang sahabat.

"Ya, mereka cantik dan indah. Mereka yang membuatku merasa perasaan cinta dan ingin memiliki. Mereka kuat." Suara Chanyeol yang tadi dialiri oleh keraguan, kini menjadi terdengar optimis.

"Kau benar. Ngomong-ngomong, Chanyeol. Kau sudah menyiapkan sebuah nama?" Yifan sedikit mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Chanyeol kembali terjebak dalam perasaan negatif.

"Belum, kami tidak mengetahui jenis kelaminnya. Kami sengaja, makanya kami belum memanggilnya dengan nama khusus. Tapi kami sudah menentukan panggilannya untuk kami." Chanyeol tersenyum dengan tatapan yang menerawang. Dari senyum yang tersemat di pipinya, Yifan tahu Chanyeol tengah menggambarkan sosok bayinya dalam khayalan.

"Benarkah? Bagaimana?" Dan Yifan tertarik untuk melanjutkan pembicaraan ringan ini. Sangat jarang Chanyeol seperti ini, tenang saat masalah menerpanya. Yifan menjadi benar-benar senang karena Baekhyun dapat mengubahnya menjadi lebih baik.

"Papa dan daddy. Baekhyun adalah papa dan aku adalah daddy." Chanyeol kembali tersenyum. Ia belum pernah melihat rupa bayinya, tapi ia sudah begitu mencintainya.

"Panggilan yang bagus, kukira kau akan membiarkan bayimu memanggil Baekhyun dengan mama." Yifan sedikit menyisipkan senyum dalam perkataannya.

"Baekhyun memang benar melahirkannya, Baekhyun memang seorang mama. Tapi biar bagaimanapun Baekhyun tetap seorang laki-laki dan aku tidak mau membuatnya malu dengan membiarkan anaknya memanggilnya mama di depan teman-temannya." Mata bulat yang menerawang itu mengarah pada Yifan. Terlihat masih kekhawatiran yang tergambar besar meski ia ikut terkekeh kecil.

"Chanyeol! Bagaimana keadaan Baekhyun?" Sebuah suara menginterupsi mereka. Joonmyeon juga bahkan terbangun karena suara wanita itu.

"Eomma, appa..." Chanyeol menggumam dalam rasa terkejut. Ia tidak menyangka kedua orangtuanya akan datang. Tapi wajahnya mengeras saat melihat ibu dan kakak angkat Baekhyun bahkan juga datang. Ia tidak pernah mengharapkan kedatangan mereka, kurang ajar.

"Bagaimana Baekhyun? Kenapa kau tidak mengabarkan kami kalau ia di rumah sakit?" Ibunya mendesaknya.

"Baekhyun sedang ditangani. Aku sengaja tidak memberitahu orang-orang, aku bisa mengurus istriku bersama Jongdae dan Yifan. Kalian seharusnya tidak usah tahu dan pergi ke rumah sakit seperti ini." Chanyeol menjawab dengan nada suara yang keras. Ia tidak ingin orangtuanya tahu karena ia tidak mau ibu dan kakak angkat Baekhyun juga tahu.

"Tetap saja, Baekhyun adalah menantuku dan bayinya adalah cucuku-"

"Bayiku juga." Chanyeol memotong perkataan ibunya hanya untuk memberi sebuah koreksi.

"Baik, bayi kalian. Oleh karena itu, kau harus memberitahu kami, setidaknya aku." Ibunya tetap bersikeras. Ia begitu mencintai menantunya yang luar biasa baik dan cucunya yang begitu berharga. Ia tidak ingin apapun yang buruk terjadi pada mereka.

"Segalanya tengah ditangani oleh dokter. Kita hanya harus menunggu." Chanyeol berbicara dingin matanya seperti menelanjangi ibu dan kakak angkat Baekhyun yang tidak ia harapkan kedatangannya.

"Apa ada sesuatu yang bisa kami dapatkan untuk Baekhyun? Apa kata dokter ia membutuhkan sesuatu?" Ibunya kembali bertanya.

"Tidak, darah yang mereka minta telah Yifan berikan. Kita hanya harus menunggu di sini dan berharap semoga proses operasi di dalam berjalan dengan lancar." Chanyeol berusaha kembali menjelaskan dengan sabar.

Ibunya menjadi sangat berisik kalau sedang benar-benar cemas sehingga ia harus menjadi penyabar. Sabar adalah bukan salah satu dari sifatnya. Tapi semenjak ia bersama Baekhyun, ia menjadi mengerti apa itu kesabaran dan bagaimana menjadi salah satu orang yang penyabar. Baekhyun mengubah banyak aspek di kehidupannya.

"Yifan, oh astaga." Ibu Chanyeol berjalan cepat menuju Yifan lalu memeluk tubuh besar itu segera. Ia tidak lagi peduli dengan Joonmyeon yang terlihat menatap mereka dengan senyum kelembutan yang selalu ia pasang.

"Terima kasih, terima kasih banyak. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi baikmu." Ibu Chanyeol benar-benar merasa bersyukur.

"Bukan masalah. Kami memang selalu ada untuk satu sama lain, kau tahu itu." Yifan tersenyum lembut lalu mengusap punggung ibu Chanyeol dengan lembut. Matanya mengarah pada Joonmyeon yang terlihat bangga padanya.

"Ya, ya, aku tahu itu. Aku benar-benar bersyukur karena Chanyeol bersahabat denganmu. Kalian berdua adalah orang-orang baik." Ibu Chanyeol mengeratkan pelukannya. Punggungnya yang ringkih Joonmyeon elus dengan hangat.

Sedangkan Yifan dan Chanyeol terkejut. Benarkah? Benarkah yang dikatakan wanita itu jika mereka orang baik? Setelah tangan mereka terselimuti darah dan wajah mereka tertawa kesetanan karena kematian orang lain, masihkah mereka disebut orang baik? Mereka tidak baik, mereka banyak melakukan hal jahat. Satu-satunya hal baik yang pernah mereka lakukan dalam kehidupan keduanya hanyalah jatuh cinta dan mencintai dengan tulus. Apakah hanya karena itu mereka disebut orang baik?

.

.

Lampu ruangan operasi telah mati. Sebentar lagi Tao akan keluar, Chanyeol yakin itu. Ia yakin dan takut dengan apa yang akan dokter itu sampaikan. Ia takut terlebih saat ia tidak mendengar bunyi tangis bayinya.

Chanyeol meremas tangannya sendiri. Ia sangat takut sekarang. Ia takut bayinya tidak bertahan. Hingga saat ia melihat seorang perawat tengah mendorong sesuatu dan keluar dari ruangan operasi.

"Chanyeol." Tao keluar dengan wajahnya yang tampak lelah. Operasi ini sangat rumit dan menjadi lebih lama dari yang ia bayangkan.

"Tao. Bagaimana?" Chanyeol segera bertanya dan ia melihat Tao sempat tersenyum dan membungkuk pada orang tuanya.

"Selamat, Chanyeol. Istrimu memang luar biasa. Ia kuat, ia mampu melewati semuanya." Tao tersenyum hangat.

"Syukurlah, tapi bagaimana bayiku? Aku tidak mendengar suara tangisnya." Chanyeol bersyukur tapi masih merasa panik.

"Bayimu lahir secara prematur, fungsi paru-parunya masih belum sempurna. Itu yang menyebabkan ia tidak menangis. Tapi bayimu baik-baik saja, perawat masih mengurusnya di ruang NICU." Kata-kata Tao membuat Chanyeol lebih lega.

"Laki-laki atau perempuan?" Kali ini ayah Chanyeol yang berbicara. Nada suaranya datar tapi Chanyeol tahu ia sangat antusias berbicara tentang cucunya.

"Ia seorang anak laki-laki yang tampan. Seorang putra dengan tubuh yang mungil." Tao kembali berbicara, wajahnya yang lelah tampak meluntur dan terganti dengan wajah bahagia penuh ketulusan.

"Dan yang pasti sangat kuat." Chanyeol menambahkan. Nada suara haru tidak bisa ia sembunyikan.

"Ya, karena ia memiliki ayah yang kuat serta ibu yang tegar. Ia memiliki dua orang yang rela menjaganya dengan sepenuh jiwa."

"Untuk sekarang apakah boleh kami menemui Baekhyun dan melihat keadaannya?" Sekarang ibu Chanyeol yang berbicara. Ia adalah seorang ibu dan menjadi ada untuk menantunya yang baru saja menjadi ibu adalah keinginannya.

"Maaf, Nyonya. Untuk sekarang sepertinya tidak dulu. Baekhyun masih dalam pengaruh obat anastesi dan masih menerima darah donor. Ia masih di ruang pemulihan, nanti tunggu ia dipindahkan maka Anda dapat menemuinya. Untuk sekarang, Chanyeol, kau boleh menemui putramu. Perawat menunggu nama darimu untuk membuat sebuah kartu ucapan selamat datang." Tao berujar dengan wajah ceria. Ia masih ingat dengan putra Chanyeol. Sangat tampan dan membuat mereka merasa bersyukur berhasil menyelamatkan nyawanya.

"Oh, tentu, tentu." Wajah Chanyeol yang tadi kusut juga berubah ceria. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang terlihat berantakan. Ia benar-benar tidak sabar untuk melihat rupa putranya.

Tao tersenyum dan segera meminta Chanyeol untuk mengikutinya. Berjalan-jalan sedikit setelah bekerja sepertinya tidak buruk. Ia membungkuk hormat pada mantan nyonya dan tuan besarnya. Lalu berjalan bersama Chanyeol untuk melihat keponakannya. Tao tersenyum lagi, ia boleh memanggil makhluk kecil itu begitu, bukan?

.

.

"Jadi, Chanyeol, ini adalah putramu." Tao berhenti di dekat sebuah inkubator. Dua orang perawat yang melihat kedatangan mereka segera menjaga jarak seakan tahu Chanyeol sangat ingin memandangi wajah rupawan keturunannya.

"Sangat tampan." Chanyeol hanya mampu mengeluarkan dua kata itu. Ia sangat terpesona dengan rupa putranya. Meski berbagai alat medis terpasang di tubuhnya yang mungil, bayi itu tetap mempesona. Ia tidak menyangka bahwa bayi yang kini ia tatap adalah bayi yang berada di perut istrinya, bayi yang begitu ia idam-idamkan.

Tao terkekeh melihat keterpakuan mantan tuannya itu. Tangannya terangkat untuk menepuk bahu tegap Chanyeol. Ia sangat tahu bahwa pria itu tengah luar biasa terpukau dengan ketampanan putranya sendiri.

"Ia sangat tampan, mirip dirimu. Kau tahu, setelah mengangkatnya aku sempat terperangah. Bayi ini benar-benar kloning darimu. Ia memiliki bentuk dan fitur wajah yang sangat mirip denganmu." Tao berbicara lagi, ingatannya kembali terbang pada saat pertama kalinya ia melihat kehidupan kecil ini.

"Mirip aku? Apakah aku setampan ini? Bayiku sangat tampan." Chanyeol terkejut. Ia melihat bayinya sangat tampan dan Tao bilang itu mirip dirinya. Apa ia sangat tampan?

Tao tertawa lagi. Chanyeol memang seperti itu, terkadang memiliki sifat yang lucu. Sepertinya ia tidak ingat kalau ia dahulu sangat pintar memainkan hati banyak orang karena wajahnya.

"Apa ia tidur? Matanya masih tertutup. Apa ia akan selalu tidur seperti ini?" Chanyeol mulai berbicara lagi dan Tao menyukai itu. Sekarang ini benar-benar Park Chanyeol, seseorang yang sejatinya sangat lembut.

"Ia merasa nyaman, suhu di dalam sana sama seperti suhu rahim ibunya. Aku rasa ia masih terlalu nyaman dengan itu. Setelah 24 atau 48 jam kau mungkin akan melihat matanya dan mendengar tangisan pertamanya." Tao kembali berbicara, ia terus tersenyum memandangi Chanyeol yang masih lekat menatap putranya.

"Pelukan rahim Baekhyun pastilah tempat ternyaman untuknya. Rahim istriku yang suci, yang selalu melindunginya dari kekejaman dunia." Chanyeol berbicara dengan sendu, mulai mengingat semua alasan hingga segalanya terjadi seperti ini.

"Dan sekarang itu menjadi tugasmu. Sekarang tugasmu lah untuk melindungi putramu serta istri yang banyak berjuang untukmu. Aku percaya kau bisa."

"Ya, aku harus bisa. Terima kasih, Tao. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika tidak ada kau. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi baikmu?" Chanyeol menatap mantan tangan kanan yang kini ia anggap lebih dari sahabat. Ia benar-benar berterimakasih hingga bersumpah akan selalu ada jika kelak Tao berada dalam kesulitan.

"Cukup cintai mereka dengan cara yang terbaik. Aku tidak meminta apapun. Cukup jangan sakiti mereka untuk alasan apapun." Tao mengeluarkan sebuah permintaan yang tulus.

"Tentu, pasti. Aku mencintai mereka, aku akan mencintai dengan caraku yang terbaik. Sekali lagi terima kasih."

"Nah, untuk sekarang. Bagaimana kita memanggil putramu? Kau telah memikirkan sebuah nama?" Tao mengalihkan pembicaraan mereka. Bukan karena apapun, tapi ia sudah benar-benar tidak sabar untuk memanggil keponakannya dengan sebuah nama.

Chanyeol terdiam sebentar lalu sebuah senyuman penuh kasih sayang kembali terukir di bibirnya.

"Park Jiwon, seorang pemimpin yang optimis dan cerdas. Untuk nama jalannya, kau bisa memanggilnya Edric. Seseorang yang jiwanya dipenuhi kekuatan dan keberuntungan." Chanyeol menyebutnya dengan khidmat. Beribu harapan mendesis di ujung lidahnya. Sedangkan Tao membisikkan nama itu berulang kali, seperti merapalkan doa.

.

.

Chanyeol mengusap wajahnya yang lelah. Ia baru saja terbangun dari tidur singkatnya. Matanya yang bulat menjelajah mengelilingi kamar rawat istrinya. Baekhyun masih di sana, masih terdiam dengan mata yang tertutup rapat. Perlahan Chanyeol bangkit dari posisinya, sekarang ia hanya sendiri. Jongdae tengah keluar bersama Minseok untuk membeli makanan dan sepertinya mereka pulang sebentar untuk menyiapkan peralatan Jongdae yang akan ikut menginap. Sedangkan ayah dan ibunya sudah pergi karena mereka memang sangat sibuk.

"Sayang, kenapa tidurmu lama sekali? Kau lelah?" Chanyeol mulai berbicara sendiri. Tangannya yang kasar dan kekar terangkat untuk mengusap kening dan rambut istrinya.

"Kau pasti lelah. Kau telah berjuang, sayang. Kau luar biasa, kau ibu yang hebat. Sekarang bayi kita telah lahir dengan sehat dan selamat. Terima kasih." Chanyeol kembali berbicara. Kali ini matanya terlihat berkaca-kaca. Ia benar-benar sangat bersyukur dan merasa begitu beruntung karena dipertemukan dengan seorang malaikat tanpa sayap yang mencintainya tanpa syarat.

"Aku minta maaf karena selalu menyakitimu. Aku tidak berguna. Semua yang bisa aku lakukan untukmu hanyalah menyakitimu. Sedangkan kau, dengan tubuhmu yang ringkih ini. Semua yang kau lakukan untukku adalah membahagiakanku. Terima kasih sudah bertahan, sayang." Chanyeol, seorang Ceo dari perusahaan besar. Phoenix, seorang pemimpin kelompok mafia yang kuat. Pria itu tengah menangis, membiarkan air mata mengaliri pipinya setelah sekian lama. Pria dengan hati yang dingin itu disentuh oleh cinta seorang malaikat dan menjadi bernyawa untuk tetap menjadi manusia. Ia menjadi manusia karena mencintai sosok yang berjiwa bunga daisy putih.

"Istirahatlah dengan baik, sayang. Nanti saat kau bangun, aku mohon jangan pernah bosan. Jangan pernah bosan untuk mendengar permintaan maafku dan memaafkanku. Terlebih jangan pernah bosan untuk mencintaiku dengan caramu. Jangan pernah bosan untuk selalu tersenyum. Dan jangan pernah bosan untuk berada di sisiku. Jangan pergi dariku karena kita berbagi napas yang sama. Jika nanti kau memilih pergi, itu artinya kau membunuhku secara perlahan. Karena aku kehilangan napasku seiring dengan kepergianmu. Untuk itu jangan pergi, jangan sekarang juga nanti." Air mata terus menuruni pipi itu. Ia merasa bersalah atas apa yang menimpa Baekhyun.

Tapi akhirnya ia diam. Ia masih ingin berbicara tapi ia sadar ia telah terlalu banyak bicara. Ia terlalu berisik dan ia akan membangunkan istrinya yang pasti masih sangat lelah.

"Selamat tidur, aku mencintaimu." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari belah bibirnya. Chanyeol mengusap wajahnya dengan kasar lalu memilih untuk keluar ruangan. Ia ingin menenangkan diri untuk nanti kembali menjadi seorang pria yang kuat.

.

.

Ini sudah lebih dari 24 jam sejak Baekhyun tertidur. Pria manis itu belum juga terbangun. Chanyeol sedari tadi hanya menunggu dalam diam. Ia benar-benar cemas tapi hanya bisa menunggu. Tao telah memeriksa Baekhyun tadi dan berkata itu adalah efek karena ia kehilangan banyak darah. Tidak parah, tapi memang memerlukan waktu untuk bisa sadar. Jadi untuk itu Chanyeol rela mengguinya dengan sabar.

"Chanyeol." Tao tiba-tiba datang dan menegurnya. Tao sedikit meringis saat menemukan Chanyeol masih di posisi yang sama sejak 2 jam yang lalu.

"Ada apa? Apa ada sesuatu?" Chanyeol bertanya dengan tangan yang masih menggenggam tangan istrinya. Ia tidak bermaksud untuk mengacuhkan Tao, tapi ia hanya sibuk memandangi istrinya.

"Tidak, aku hanya ingin mengatakan bahwa Jiwon menangis. Putramu menangis dan perawat di ruangannya mulai kewalahan untuk menanganinya. Mungkin kau bisa membantu." Tao menyampaikan maksudnya. Ia maklum dengan respon Chanyeol yang sekarang mungkin sedang gundah.

"Apa tidak apa-apa?" Tapi Chanyeol tiba-tiba bertanya.

"Apanya?" Tao mengerutkan keningnya.

"Aku menggendongnya." Chanyeol menyahut singkat tapi wajahnya yang menoleh ke arah Tao terlihat ragu.

"Tentu, kau ayahnya." Tao sempat terkekeh.

"Aku takut menyakitinya. Tanganku kasar dan kuat. Sedangkan putraku sangat mungil. Ia bisa remuk karenaku." Chanyeol kembali ragu.

"Tidak, perawat akan mengajarimu. Ayolah, memangnya kau tidak mau menggendongnya? Sampai kapan? Kau ayahnya, ia tidak selamanya bayi. Kesempatan ini tidak akan terulang." Tao membujuknya dan Chanyeol terlihat berpikir.

Tao benar, kapan lagi ia belajar menggendong bayinya? Ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Lagipula Jiwon adalah putranya, seburuk apapun ia, ia tidak mungkin menyakiti darah dagingnya sendiri.

.

.

Kini Chanyeol sudah di ruangan putranya. Memang benar, putranya menangis sangat keras. Sangat nyaring memekak telinga seakan-akan ia berteriak dari atas paru-parunya. Chanyeol merasa terharu karena ini adalah tangisan pertamanya. Tangisan yang seakan memprotes kenapa ia harus keluar dari pelukan rahim hangat ibunya. Chanyeol jadi ingin menggendongnya, ingin memberitahu bahwa tangan ayah dan ibunya masih sanggup memberikan pelukan hangat.

"Aku ayahnya. Mungkin ia akan lebih tenang jika bersamaku." Chanyeol membuka suaranya pada perawat di sana dan itu mengejutkan Tao karena Chanyeol yang berbicara dengan nada suara ramah.

"Oh, Tuan Park. Ini bayi Anda? Oh, baiklah." Perawat di sana tiba-tiba menjadi gugup. Ia tidak tahu kalau bayi di gendongannya rupanya adalah bayi pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.

"Ajari aku bagaimana harus menggendongnya." Chanyeol berujar cepat dan mengundang senyuman di wajah perawat itu.

"Lipat tangan Anda seperti saya." Perawat itu sempat tersenyum sekilas lalu menunjukkan lipatan tangannya dengan hati-hati mengingat masih ada bayi di gendongannya.

"Seperti ini?" Chanyeol terlihat serius dan Tao jadi tersenyum geli. Seorang pemimpin mafia paling ditakuti tengah belajar bagaimana cara menggendong bayi. Hanya kekuatan cinta yang mampu menurunkan gengsi orang yang seperti itu.

"Ya, benar, Tuan. Sekarang saya akan meletakkan bayi Anda, tolong pertahankan posisi tangan Anda. Jangan panik dan jangan lupa untuk sedikit memberi kekuatan agar bayi Anda tidak jatuh." Perawat itu secara perlahan meletakkan Jiwon di pelukan Chanyeol.

Chanyeol terlihat luar biasa gugup dan menjadi sedikit panik. Tapi kemudian ia menghela napasnya lega saat Jiwon sampai di pelukannya dengan selamat. Refleks Chanyeol mengayunkan tubuh mungil putranya dan secara ajaib Jiwon mulai berhenti menangis.

"Oh astaga." Chanyeol tercekat saat Jiwon membuka matanya yang bersinar karena sisa tangisnya. Matanya bulat dan yang paling membuat Chanyeol terkejut adalah warnanya. Warna matanya adalah cokelat seperti mata Baekhyun. Mata cokelat menenangkan istrinya diwariskan untuk putranya.

Jiwon terlihat seperti titisan dewa Yunani. Kulitnya tidak terlalu putih tapi juga tidak gelap. Hidungnya mancung tapi tidak terlalu tinggi. Matanya besar cokelat. Dan rambutnya hitam gagak. Putranya benar-benar menawan.

"Astaga, Chanyeol. Putramu benar-benar luar biasa. Semua kata-kata baik dan indah aku kerahkan untuk memujinya." Tao terpesona dengan sosok mungil yang rupawan itu.

Sedangkan hanya Chanyeol tersenyum seraya memandang wajah putranya.

"Baekhyun, putra kita sangat tampan. Sekarang ia baru saja menangis dan berada di gendonganku. Kau harus lihat bagaimana ia masih terlihat sangat tampan meskipun baru saja menangis. Sepertinya ia merindukanmu. Kau tahu, ia benar-benar keturunan kita. Matanya seperti dirimu tapi ia mirip aku. Cepatlah bangun, sayang. Biar kuajarkan bagaimana caranya kau harus memanggil putra kita, aku telah memberinya nama."

.

TBC/END

.

.

Aku update lagi, akhirnya. Bulan lalu aku nggak update, maaf, ya. Karena aku benar-benar sibuk. Bahkan aku nggak ada libur, maklum, mahasiswa semester akhir. Dan sepertinya aku akan update terlambat untuk chapter selanjutnya karena aku akan PKL lagi dari akhir bulan ini sampai bulan depan. Aku akan disibukan lagi dengan laporan PKL, bahkan laporan PKL yang kemarin aja ada yang belum. Terlebih tahun ini aku lagi nyusun dan akan segera sidang. Mohon bantuan doanya, ya. Dan sekali lagi aku minta maaf kalau aku terlambat update. Ini aja sebenernya tugas akhirku sudah ditagih untuk revisi pertama, tapi belum aku selesaikan.

But, thanks all for all your support. Aku bisa terus menulis meski nggak terlalu produktif itu karena kalian. Kalian nggak berhenti review dan memberikan aku semangat. Untuk chapter ini, jangan lupa review lagi.

Thankfull for:

baekh910 l dyobaekcy2711 l milkybaek l Guest217 l byunbaekhyun06 l ChanBaek09 l dudusky94 l ByunB04 l cheni l jsnoon l reall any l mariannullang l Light. Byun l Guest (I) l byankai (Guest)l bbyunny l Baekkiyood l beenthrough l n3208007 l zkdreal l Alietha doll (Guest) l Lusiii61 l chanchanb l every. mong l angelbear61

Aku terharu baca review kalian. Terima kasih atas doa dan sarannya. Aku akan berusaha untuk beristirahat dan membagi waktuku dengan baik seperti saran kalian. Aku senang sekali karena kalian mengerti kondisiku.

Makasih sudah review dan membaca chapter sebelumnya. Semoga kalian juga suka dengan chapter kali ini. Jangan lupa review, ya. Luv ya~

.

Last, you reviewing and I writing~